B. Hakekat Strategi Pembelajaran Peningkatan Kemampuan Berpikir (SPPKB)Berpikir (SPPKB)
2. Konsep Umum dalam Strategi Belajar Mengajar
Secara bahasa, strategi bisa diartikan sebagai siasat, khiat,trik, atau cara. Sedangkan secara umum strategi adalah suatu garis besar haluan dalam bertindak untuk mencapai tujuan tertentu.
Adapun strategi belajar mengajar bisa diartikan sebagai pola umum kegiatan guru/murid dalam perwujudan kegiatan belajar mengajar untuk mencapai tujuan yang telah digariskan.
Menurut Mansyur dalam Pupuh Fathurrohman,(2010:3), bahwa:
Batasan balajar mengajar yang bersifat umum mempuyai tiga dasar strategi, yakni :
1. mengidentifikasi serta menetapkan tingkah laku dan kepribadian anak didik sebagaimana yang diharapkan sesuai tuntutan zaman .
2. mempertimbangkan dan memilih sistim belajar mengajar yang tepat untuk mencapai sasaran yang akurat.
3. Memilih presedur, metode, dan teknik belajar mengajar yang dianggap paling tepat dan efektif sehingga dapat dijadikan pegangan guru dalam menunaikan kegiatan mengajar.
a. Konsep mengajar
Menurut Muhammad Ali dalam Pupuh Fathurrohman, (2010: 7) mengatakan bahwa:
Mengajar merupakan suatu proses yang komplek, Tidak hanya menyampaikan informasi dari guru kepada siswa tetapi banyak kegiatan maupun tindakan hurus dilakukan, terutama bila diinginkan hasil belajar yang lebih baik pada seluruh siswa.
Oleh karena itu, rumusan pengertian mengajar tidaklah sederhana. Dalam arti, membutuhkan rumusan yang dapat meliputi seluruh kegiatan dan tindakan dalam perbuatan mengajar itu sendiri.
Sedangkan menurut Bohar Suharto dalam Sobry Sutikno, (2011:7) medefenisikan bahwa:
mengajar merupakan suatu aktivitas mengorganisasi atau mengatur (mengelolah) lingkungan sehingga tercipta suasana yang sebaik-baiknya dan menghubungkannya dengan peserta didik sehingga terjadi proses belajar yang menyenangkan.
Sementara Hasibuan dalam Sobry Sutikno,(2011:7) menyebutkan bahwa:
Konsep mengajar dalam proses perkembangannya masih dianggap sebagai suatu kegiatan penyampaian atau penyerahan pengetahuan”.
b. Hakikat proses belajar mengajar
Di dalam proses pendidkan kegiatan belajar dan mengajar merupakan kegiatan paling pokok. Hal ini berarti berhasil tidaknya pencapaian tujuan pendidikan banyak bergantung kepada bagaimana proses belajar mengajar dirancang dan dijalankan secara propesional.
Setiap kegiatan belajar mengajar selalu mengakibatkan dua pelaku aktif yaitu guru dan siswa. Perpaduan dari kedua unsur manusiawi ini melahirkan interaksi edukatif dengan memanfaatkan bahan ajar sebagai mediumnya, mengajar merupakan kegiatan dimana keterlibatan individu, anak didik mutlak adanya. Apabila tidak ada anak didik, objek didik, siapa yang diajar. Hal ini perlu sekali disadari guru agar tidak terjadi kesalahan tafsir terhadap kegiatan pengajaran. Karena itu, belajar dan mengajar merupakan istilah yang sudah baku dan menyatu dalam konsep pengajaran atau pendidikan.
3. Strategi Belajar Mengajar Berdasarkan Konsep Islami
Jika kita kita ingin melakukan sebuah strategi dalam pembelajaran menurut konsep islam maka penulis membagi dalam beberapa bagian yaitu sebagai berikut:
a. Dasar Pendidikan yang Islami
Tauhid merupakan hal yang amat fundamental terhadap segala aspek kehidupan para penganut agama islam, tak terkecuali pada
aspek pendidikan. Dalam kaitan ini seluruh pakar sependapat bahwa dasar pendidikan islam adalah tauhid. Melalui dasar tauhid ini,
H. M. Quraish Shihab dalam Pupuh Fathurrohman,(2010;121) merumuskan hal-hal sebagai berikut :
a) kesatuan kehidupan. Bagi manusia ini berarti bahwa kehidupan duniawi menyatu dengan ukhrawinya. Sukses atau kegagalan ukhrawi ditentukan amal duniawinya.
b) kesatuan ilmu. Tidak ada pemisahan antara ilmu-ilmu agama dan ilmu-ilmu umum, karena semuanya bersumber dari satu sumber, yaitu Allah SWT.
c) kesatuan iman dan rasio. Karena masing-masing dibutuhkan dan masing-masing mempunyai wilayahnya sehingga harus saling melengkapi.
d) kesatuan agama. Agama yang dibawa oleh para Nabi kesemuanya bersumber dari Allah SWT, prinsip-prinsip pokoknya menyangkut akidah, syariah, dan akhlak tetap sama dari zaman dahulu sampai sekarang.
e) kesatuan individu dan masyarakat. Masing-masing harus saling menunjang.
b. Fungsi dan Tujuan Pendidikan Yang Islami
Menurut H Abuddin Nata dalam Pupuh Fathurrohman, (2012:121) menjelaskan bahwa:
fungsi pendidikan yang islami adalah sebagai penyiapan kader-kader khalifah dalam rangka membangun kerajaan dunia yang makmur, dinamis, harmonis, dan lestari sebagaimana diisyaratkan oleh Allah SWT.
Dengan demikian pendidikan islam mestinya adalah pendidikan yang paling ideal, karena kita hanya berwawasan kehidupan secara utuh dan multi diminsional. Tidak hanya berorientasi untuk membuat dunia menjadi sejahtera dan gegap gempita, tetapi juga mengajarkan bahwa dunia sebagai ladang, sekaligus sebagai ujian untuk dapat lebih baik di akhirat.
c. Kedudukan dan Tanggung Jawab Pendidik/Guru dalam Agama Islam
Pendidik dalam ajaran agama Islam kedudukannya sangat dihargai dan punya tanggunjawab dalam pembelajaran, sebagaimana sabdah Rasulullah yaitu:
Dari ibnu Umar berkata bahwa rasulullah bersabdah: “Setiap kamu bertanggung jawab atas kepemimipinanya, maka seorang imam adalah pemimpin dan dia bertanggung jawab atas kepemimpinanya, seorang laki-laki adalah pemimpin di dalam keluarganya dan dia bertanggung jawab atas kepemimpinanya, perempuan adalah pemimpin di rumah suaminya dan dia bertanggung jawab atas kepemimpinannya, pembantu adalah peminpin/penanggung jawab terhadap harta tuanya dan dia bertanggung jawab atas kepimimpinanya, seorang anak adalah pemimpin terhadap harta ayahnya dan dia bertanggung jawab atas kepemimpinanya, maka setiap kamu adalah pemimpin dan setiap kamu bertanggung jawab atas kepemimpinannya” (HR.
Oleh 5 Rawi. Imam Bukhari, Imam Muslim, Abu Daud, Tirmidzi, dan Ahmad).
Hal ini beralasan bahwa dengan pengetahuan dapat mengantarkan manusia untuk selalu berpikir dan menganalisa hakikat semua fenomena yang ada pada alam, sehingga mampu membawa manusia semakin dekat dengan Allah SWT dengan kemampuan yang ada pada manusia maka diharapkan dapat terlahir teori-teori yang
menyokong pada kemaslahatan manusia.Pupuh Faturrohman (2010:15).
Menurut Pupuh Faturrohman (2012:19 mengtakan bahwa:
Untuk melaksanakan tugas sebagai pewaris para Nabi, pendidik hendaklah bertolak pada kaidah amar makruf wa nahyu anil munkar, yakni menjadikan prinsip tauhid sebagai pusat kegiatan penyebaran misi iman, Islam dan Ihsan. Kekuatan yang dikembangkan oleh pendidik sendiri adalah individualitas, sosial, dan moral (nilai-nilai agama dan moral).
Dengan demikian, maka tanggung jawab pendidik sebagaimana disebutkan oleh.
Al-Rahman al-Nahlawi dalam Pupuh Faturrohman (2012:20) mengatakan bahwa:
adalah, mendidik individu supaya beriman kepada Allah SWT dan melaksanakan syariatnya, mendidik diri supaya beramal saleh, dan mendidk masyarakat untuk saling menasehati dalam melaksanakan kebenaran, saling menasehati agar tabah dalam menghadapi kesusahan, beribadah kepada Allah SWT serta menegakkan kebenaran.
Jadi, di dalam Islam kedudukan guru adalah amat tinggi. Guru merupakan pembimbing dan penasehat umat. Jika tidak ada guru, maka manusia akan menjadi hewan lantaran tidak ada pengajaran dan bimbingan. Siapa yang memuliakan guru berarti ia secara tidak langsung telah memuliakan Rasul, siapa yang memuliakan Rasul berarti memuliakan Allah SWT,dan siapa yang memuliakan Allah syurgalah tempat keiamannya. Sebaliknya jika mendurhakai guru berarti ia mendurhakai Rasul. Siapa yang memurkai Allah SWT maka nerakalah tempatnya. Oleh karena itu peserta didik mestilah memelihara adab yang baik bersama guru, dan guru akan
mendapatkan pahala disisi Allah Sebagai Amal Jariyah, sebagaimana Sabdah Rasulullah Yaitu:
:مﱠﻠَﺳ َو ﮫﯾﻠﻋ ُﷲ ﻲﱠﻠَﺻ ﱡﻲِﺑﱠﻧَﻟا َلﺎَﻗ :َلﺎَﻗ ُﮫﻧَﻋ ﷲ َﻰﻠ ِﺿَر ٍسَﻧَا نَﻋ ِدﺑَﻌﻠِﻟ يِرﺟَﯾ ٌﻊﺑَﺳ
َنُھُرﺟَأ َأ اًرﺋَﺑ َرَﻔَﺣ وَأ اًرﮭَﻧ يَرﺟَأ وَأ ﱠﺎﻣﻠِﻋ َمﱠﻠَﻋ نَﻣ :ِﮫِﺗوَﻣ َدﻌَﺑ ِه ِرﺑَﻗ ﻲِﻓ َوُھ َو
َسَرَﻏ و
(رازﺑﻟا هاور) ِﮫِﺗوَﻣ َدﻌَﺑ ُﮫَﻟُرِﻔﻐَﺗﺳَﯾ اًدَﻟ َو َكَرَﺗ وَأ ﺎًﻔَﺣﺻُﻣ َثَر َو وَأ اًدِﺟﺳَﻣ ﻲَﻧَﺑ وَأ ًﻼﺧَﻧ
Artinya:
Dari Anas r.a berkata: Nabi saw. Bersabda: Ada tujuh hal yang pahalanya mengalir pada seorang hamba semenjak dia didalam kubur setelah kematianya, yaitu: Orang yang mengajarkan sesuatu ilmu, atau mengalirkan sungai (memberikan pengairan), atau menggali sumur, atau menanam pohon kurma, atau membangun masjid, atau mewariskan mushaf, atau meninggalkan anak yang memohonkan ampun kepadanya setelah kematianya.”(HR.Bazzar).
Hadis di atas memberikan kita pelajaran bahwa kebaikan yang menyangkut kepentingan orang lain lebih baik dari pada kebaikan individual, artinya kebaikan yang dilakukan untuk dirinya sendiri.
Sebab mengajar, menyalurkan air untuk kepentingan umum, serta mewariskan al-Quran untuk dibaca dan diamalkan banyak orang, semuanya itu merupakan amal sosial yang kemaslahatannya dapat dinikmati orang lain.
e. Strategi Belajar Mengajar Menurut Konsep Islami
Strategi belajar mengajar menurut konsep islami, pada dasarnya adalah sebagai berikut :
1. Proses belajar mengajar dilandasi dengan kewajiban yang dikaitkan dengan niat karena Allah SWT.
Menurut Lamudin Nasution dalam Sobry Sutikno, (2011:127) Yaitu:
Niat artinya menyengaja sesuatu serentak dengan melakukanya. Tempat dan pelaku niat itu adalah hati, namun sunnah menyertainya dengan ucapan lisan untuk membantu pernyataan sengaja yang di dalam itu.
Baihaqi A.K dalam Sobry Sutikno,(2011:127) mengemukakan bahwa:
Niat secara umum berarti qashad (maksud ,kesenjangan , kesadaran) hati untuk melaksanakan suatu perbuatan baik.
Sedang niat secara khusus berarti qashad hati untuk melaksanakan suatu amal (ibadah atau perbuatan baik lainya) yang bergandengan dengan amal itu.
Niat amat berperan dalam memberi makna dan hukum bagi pelaksanan suatu amal atu perbuatan. Ia adalah faktor penentu bagi menetapkan suatu perbuatan baik, apakah perbuatan tersebut termasuk ibadah atau tidak. Sebagaimana dalam Qur’an, (QS. al-Bayyinah:5)
“padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya dia menyembah Allah dengan menurunkan ketaatan-Nya dalam menjalankan agama dengan lurus.” Kemanag RI (2011:598)
Kewajiban seorang guru dalam menunaikan tugas dan melaksanakan tugas mengajarkan ilmu adalah karena niat untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT semata-mata. Dan ini dapat dipandang dari dua segi, yaitu : (1) sebagai tugas kekhalifahan dari
Allah SWT dan, (2) sebagai pelaksana ibadah kepaa Allah SWT yang mencari keridahannya dan mendekatkan diri kepada-Nya.
Tugas mengajar dan mengamalkan ilmu dalam proses belajar mengajar adalah kewajiban bagi guru, sedangkan murid mempunyai kewajiban menuntut ilmu dari guru tersebut. Hal ini merupakan fitrah manusia yang terjadi dalam proses belajar mengajar, di mana kedua-duanya saling berinteraksi untuk mencapai tujuan. Allah SWT telah memberikan potensi padadiri manusia berupa fitrah yang melekat pada dirinya, panca indera serta daya pikir (akal) untuk mendapat bermacam-macam ilmu pengetahuan melalui proses pembelajaran.
Sebagaimana firman Allah SWT dalam (QS,an-Nahl :78).
“dan Allah mengeluarkan kalian dari perut ibu-ibu kalian dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan dia memberi kalian pendengaran,penglihatan,dan hari agar kalian bersyukur. “ kemenag RI”(2011:206).
2. Konsep belajar mengajar harus dilandasi dengan niat ibadah
pengertian khusus, ibadah adalah segala kegiatan semua ketentuannya telah ditetapkan dalam al-Qur’an dan Sunnah Nabi,
serta tidak menerima perubahan, penambahan ataupun pengurangan.
Shalat misalnya, adalah ibadah dalam arti khusus yang tidak menerima perubahan. Dari segi pelaksanaannya, ibadah dapat dibagi menjadi tiga macam yaitu :
a. Ibadah Jasmaniyah Ruhiyah, yaitu ibadah yang pelaksanaannya memerlukan kegiatan dan ketentuan fisik disertai jiwa yang penuh ikhlas dan khus”yu kepada Allah SWT , seperti shalat.
b. Ibadah Ruhaniyah Maliyah, yaitu ibadah yang pelaksanaanya berkaitan dengan harta, seperti zakat.
c. Ibadah Jasmaniyah Ruhaniyah Maliyah, yaitu ibadah yang pelaksanaannya di samping memerlukan kekuatan fisik dan mental, juga memerlukan materi seperti haji. Sobry sutikno (2011:200).
Allah SWT menciptakan manusia bukanya tanpa tujuan, akan tetapi Dia menciptakan manusia sesungguhnya dengan tujuan tertentu , yaitu untuk beribadah kepada-Nya tujuan tersebut di jelaskan oleh firman-Nya dalam QS.adz-Dzariyat:56:
Terjemahnya:
Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku (beribadah kepada-Ku)”Kemenag RI (2011:520).
melalui pribadahan banyak hal yang dapat diperoleh oleh seseorang muslim (guru dan murid) yang kepentinganya bukan hanya mencakup individual, melainkan bersifat luas dan universal serta tudak membuat dikotomi ilmu umum dan agama . akan tetapi semua ilmu pengetahuan berasal dan harus sesuai dengan nilaiuluhiyah.
3. Didalam proses belajar mengajar harus saling memahami posisi guru sebagai guru dan murid sebagai murid
Pendidik pada hakikatnya adalah bapak rohani (spiritual father) bagi anak didiknya, yang memberi santapan jiwa dan ilmu, pembinaan akhlak mulia, sekaligus meluruskannya. Oleh karena itu pendidik mempinyai kedudukan tinggi sebagaimana yang dilukiskan dalam hadis Nabi saw” tinta seorang ilmuan (ulama) lebih berharga ketimbang dengan para Rasul.Sobry Sutikno (2011:202
Untuk meningkatkan hasil belajar, seorang guru harus pandai memilih isi pengajaran serta bagaimana proses belajar tersebut harus dikololah dan dilaksanakan disekolah. Ada dua jenis belajar yang perlu dibedakan yaitu belajar konsep dan belajar proses. Belajar konsep lebih menekankan hasil belajar pada pemahaman fakta dan
prinsip. Sedangkan belajar proses menekankan bagaimana materi atau bahan pelajaran yang diajarkan dan dipelajari.
Zakia Daradjat ,(2008:132) megemukakan bahawa:
Setiap guru memiliki kepribadian sendiri-sebdiri yang unik. Tidak ada guru yang sama walaupun mereka sama-sama memilki pribadi keguruan, jadi pribadi keguruan itu pun bersifat unit pula, dan perlu dikembangkan secara terus-menerus agar guru itu terampil dalam mengenal, membina suasana sosial dan membina suatu perasaan saling menghormati, saling bertanggung jawab dan saling mempercayai antara guru dan murid.
4. Mendidik dengan ketauladanan yang baik.:
Al-Qur’an telah memberi contoh bagaimana manusia belajar lewat meniru. Kisah tentang Qabil yang dapat mengetahui bagaimana menguburkan mayat saudaranya, Habil, yang telah dibunuhnya. Yakni diajarkan oleh Allah SWT dari meniru seekor gagak yang menggali-gali tanah guna menguburkan bangkai seekor gagak yang lain (QS.Al-Maidah ;31)
“kemudian Allah mengutus seeokor burung gagak menggali tanah untuk diperlihatkan kepadanya (Qabil) bagaimana seharusnya ia menguburkan mayat saudaranya. Qabil berkata “,oh, celakalah aku!mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini,
sehingga aku dapat menguburkan mayat saudaraku ini ?”maka jadilah dia termasuk orang yang menyesal. Kemenag RI (2011:125)
5. Untuk memperoleh hasil yang maksimal, maka dibutuhkan pemisahan-pemisahan :
Dalam kehidupan sehari-hari pemisahan itu merupakan hal yang sangat penting, karena banyak kita lihat orang berbuat dan bertingkah laku hanya karena kebiasaan semata-mata. Tampa itu hidup kita akan berjalan lambat sekali; sebab sebelum melakukan sesuatu kita harus memikirkan terlebih dahulu apa yang akan dilakukan.Baihaqi A.K dalam Sobry Sutikno 2011:203).
Rasulullah sendiri telah memerintahkan kepada para pendidik agar mereka menyuruh anak-anak mereka mengerjakan shalat, tatkala berumur tujuh tahun.
.Baihaqi A.K dalam Sobry Sutikno (2011:205) mengatakan bahwa:
Doa merupakan penyejuk dan penawar hati yang duka, melepaskan belenggu derita yang dialami manusia semasa hidupnya. Berdoa adalah ibadah yang khas yang menghubungkan hati dan pikiran manusia dengan tuhannya, yang mungkin dilakukan di awal, sewaktu atau sesudah sesuatu keinginan ataupun usaha dilaksanakan. Islam menganjurkan dan bahkan mewajibkan kepada umat muslim untuk berdoa dalam setiap kegiatan.anjuran tersebut.
terdapat didalam al-Qur’an dan Sunnah Rasul, di antaranya sebagaimana firman Allah SWT dalam (QS. al-Mu’min:60)
Terjemahnya:
“berdoalah kepadaku, niscaya akan kuperkenankan bagimu.
Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembahku mgasuk neraka jahanam dalam keadaan hina”.Kemenag RI (2011:342).
Syariat Islam tidak akan dihayati dan diamalkan orang kalau hanya diajarkan saja, tetapi harus didirikan melalui proses pendidikan, karena pendidikan Islam tidak hanya bersifat teoritis saja, tetapi juga praktis.
Menurut Sobry Sutikno (2011:230) mengatakan Bahwa:
Dalam pendidikan Islam, proses belajar mengajar akan lebih baik dan berhasil apabila diawali dan diakhiri dengan doa. Doa bukan berarti sekedar permohonan untuk memperoleh kebaikan dunia dan kebaikan akhirat, akan tetapi doa lebih bertujuan untuk menetapkan langkah-langkah dalam upaya meraih kebaikan yang dimaksud, karena doa mengandung arti permohonan yang disertai usaha.
Jika proses belajar mengajar selalu diawali dan diakhiri dengan doa, bukan hanya ilmu saja yang akan didapat, malainkan kemanfaatan dan keberkahan dari ilmu tersebut akan diperoleh.
Sebagai firman Allah SWT dalam (QS. Yunus:106)
“dan janganlah kamu berdoa kepada selain Allah, yaitu kepada sesuatu yang tidak mendapatkan manfaat kepda engkau dan tidak kuasa pula mendatangkan mudlarat kepaamu” Kemenag RI (2011:220).
Seorang guru, ketika proses belajar mengajar akan dimulai atau diakhiri harus bisa mengajar para muridnya agar berdoa terlebih dahulu, karena ilmu yang akan diperoleh merupakan nikmat dari Allah SWT. Ini merupakan tanda syukur kepadanya dan Allah pasti akan menambahnya apa yang telah diterimanya. Sebagaimana firman Allah SWT dalam (QS. Ibrahim:7)
Terjemahanya :
Dan ingatlah ketika Tuhanmu memaklumkan Sesungguhnya apabila kamu bersyukur pasti aku akan menambahnya dan apabila kamu kufur, sesungguhnya siksa-ku amat dasyat”
Kemenag RI (2011:256)
Adapun hadist yang menjelaskan tentang betapa pentingnya seorang pendidik dalam ajaran Agama Islam, bahwasanya seorang pendidik harus memiliki watak yang baik, karena seorang pendidik dikatakan seorang pemimpin, dan seorang pemimpin harus patut di teladani sebagaimana Rasulullah Saw, yang bersabda :
Artinya :
Abu Said (abdurrahman) bin samurah r.a. Berkata: rasulullah saw telah bersabda kepada saya :
Ya Abdurrahman bin Samurah, jangan menuntut kedudukan dalam pemerintahan, karena jika kau diserahi jabatan tanpa minta, kau akan dibantu oleh Allah untuk melaksanakannya, tetapi jika dapat jabatan itu karena permintaanmu, maka akan diserahkan ke atas bahumu atau kebijaksanaanmu sendiri. Dan apabila kau telah bersumpah untuk sesuatu kemudian ternyata jika kau lakukan lainnya akan lebih baik, maka tebuslah sumpah itu dan kerjakan apa yang lebih baik itu.(HR.Bukhari, Muslim).
37 A. Jenis Penelitian
Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas yang meliputi perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, refleksi, perencanan ulang dan seterusnya.