• Tidak ada hasil yang ditemukan

Konseptual Model Asuhan dan Pelayanan Keperawatan 2.4.1 Konsep Model Interpersonal Peplau

TINJAUAN PUSTAKA

2.5 Konseptual Model Asuhan dan Pelayanan Keperawatan 2.4.1 Konsep Model Interpersonal Peplau

Menurut Peplau, keperawatan adalah terapeutik yaitu satu seni menyembuhkan, menolong individu yang sakit atau membutuhkan pelayanan kesehatan. Keperawatan dapat dipandang sebagai satu proses interpersonal karena melibatkan interaksi antara dua atau lebih individu dengan tujuan yang sama (Alligood & Tomey, 2010). Model konsep dan teori keperawatan yang dijelaskan oleh Peplau menjelaskan tentang kemampuan dalam memahami diri sendiri dan orang lain yang menggunakan dasar hubungan antar manusia yang mencakup 4 komponen utama, yaitu:

2.4.1.1 Pasien

Pasien adalah subjek yang langsung dipengaruhi oleh adanya proses interpersonal. Sistem yang berkembang pada individu terdiri dari karakteristik biokimia, fisiologis, interpersonal dan kebutuhan serta selalu berupaya memenuhi kebutuhannya dan mengintegrasikan pengalaman yang didapatkan sebagai bagian dari proses belajar. Belajar menempatkan diri saat individu mendapat stimulus dalam lingkungan dan berkembang penuh sebagai reaksi kepada stimulus tersebut.

Setiap individu telah belajar dari lingkungan, adat istiadat, kebiasaan dan kepercayaan yang berbeda yang membentuk budaya individu tersebut. Setiap orang datang dari pemikiran sudut pandang yang berbeda sehingga mempengaruhi persepsi dan perbedaan persepsi ini sangat penting dalam proses interpersonal.

2.4.1.2 Peran perawat

Perawat berperan mengatur tujuan dan proses interaksi interpersonal dengan pasien yang bersifat partisipatif, sedangkan pasien mengendalikan isi yang menjadi tujuan. Ketika perawat dan klien pertama kali mengidentifikasi satu masalah dan mulai focus pada tindakan yang tepat, pendekatan yang dilakukan melalui perbedaan latar belakang dan keunikan setiap individu. Setiap individu dapat dipandang sebagai satu struktur yang unik meliputi aspek bio-psiko-spiritual dan sosial yang satu dengan yang lain tidak bertentangan. Hal ini berarti dalam hubungannya dengan pasien, perawat berperan sebagai orang asing, pendidik, narasumber, pengasuh pengganti, pemimpin dan konselor sesuai dengan fase proses interpersonal.

Perawat perlu memahami tentang teori perkembangan, konsep adaptasi kehidupan, respon konflik, memiliki wawasan yang luas tentang peran keperawatan professional dalam proses hubungan interpersonal. Perawat dan klien sebagai individu yang terus menerus berhubungan secara profesional, harus mengerti peran masing-masing dan juga memperhatikan faktor sekitar yang memiliki peluang untuk meningkatkan masalah hingga keduanya dapat saling berbagi atau berkolaborasi dalam mencapai tujuan bersama.

a. Peran Perawat Dalam Dimensi Hubungan Perawat – Klien

Peran Perawat Dimensi hubungan perawat – klien menurut Peplau ada 6 peran yaitu:

1) Peran Orang Asing (role of the stranger)

Peran pertama adalah peran dari orang asing. Peplau menyatakan karena klien dan perawat adalah orang asing bagi satu dan lainnya, maka klien harus diperlakukan secara sopan. Dengan kata lain, perawat tidak boleh melakukan penilaian terlebih dahulu, namun harus bersikap menerimanya apa adanya yang

dialami oleh klien. Selama fase nonpersonal ini, perawat harus memperlakukan klien secara penuh perasaan, perawat menerima klien secara obyektif. Tidak boleh ada rasa curiga pada perawat dan berbagai prediksi yang diasumsikan sendiri oleh perawat.

2) Peran nara sumber pribadi (role of resource person)

Peran dari seorang narasumber, perawat memberikan jawaban-jawaban spesifik dari tiap pertanyaan, terutama mengenai informasi kesehatan dan menginterpretasikan kepada klien bagaimana perawatan dan rencana medis untuk hal tersebut. Pertanyaan-pertanyaan ini terkadang muncul dari konteks permasalahan yang lebar.

3) Peran Pengajaran (teaching role)

Merupakan kombinasi dari seluruh peran dan selalu berasal dari yang diketahui klien dan dikembangkan dari minatnya dalam keinginannya dan kemampuannya menggunakan informasi. Bentuk-bentuk pengajaran didasari oleh tehnik psikoterapi dengan metode konseling.

4) Peran kepemimpinan (leadership role)

Perawat membantu klien mengerjakan tugas-tugas melalui hubungan kooperatif dan partisipatif aktif.

5) Peran pengganti/wali (surrogate role)

Klien menganggap perawat berperan sebagai walinya. Sikap dan perilaku perawat dapat memberi perasaan tersendiri bagi klien yang bersifat reaktif yang muncul dari hubungan sebelumnya. Fungsi perawat untuk membimbng klien mengenali dirinya dengan sosok yang klien bayangkan. Perawat mebantu klien melihat diri perawat dengan sosok yang dibayangkannya. Perawat dan klien mendefinisikan area keterikatan, ketidakterikatan dan antar keterikatan.

6) Peran penasehat (counseling role)

Peplau mempercayai bahwa peran penasehat memiliki peran besar dalam hubungan perawat-klien. Penasehat berfungsi dalam hubungan perawat-klien melalui cara perawat merespon kebutuhan klien. Melalui peran konseling ini perawat mempromosikan pengalaman yang penting tentang kesehatan. Klien mempunyai kesadaran diri untuk meningkatkan kesehatan, mengidentifikasi adanya ancaman kesehatan, dan belajar dari kejadian interpersonal.

b. Dimensi hubungan perawat-klien dalam proses interpersonal Peplau.

Dimensi hubungan perawat-klien dalam proses interpersonal Peplau diuraikan menjadi 4 fase hubungan perawat klien yaitu: fase orientasi, fase identifikasi, fase eksploitasi, dan fase resolusi,

1) Fase orientasi.

Pada fase orientasi, perawat memfasilitasi klien untuk mengenali masalahnya dan apa yang diperlukan klien, dan apa yang bisa dilakukan oleh perawat untuk membantu klien. Pada fase orientasi ini kegiatan lebih difokuskan untuk membantu klien menyadari ketersediaan bantuan dan mengembangkan rasa percaya klien terhadap kemampuan perawat untuk berperan serta secara efektif dalam pemberian bantuan kepada klien. Tahap ini ditandai dimana perawat melakukan kontrak awal untuk membangun kepercayaan klien dan terjadi proses pengumpulan data.

Penerapan teori Peplau pada fase orientasi, difokuskan untuk membina hubungan saling percaya karena merupakan pertama kalinya klien bertemu dengan perawat dan peran perawat sebagai stranger (orang asing) bagi klien dan demikan sebaliknya. Langkah-langkah yang dilakukan perawat pada fase ini bertujuan untuk membina hubungan saling percaya, mengurangi kecemasan klien, memberi rasa aman dan nyaman bagi klien. Dalam membina hubungan saling percaya perawat-klien dilakukan sesuai dengan tahapan hubungan terapeutik, diharapkan perawat mempengaruhi klien melalui komunikasi yang dikembangkan dalam hubungan perawat dan klien sehingga kecemasan klien menurun (Fortinash, 2005). Faktor psikologis ini sangat mempengaruhi awal hubungan klien dengan perawat, sehingga sangat penting bagi perawat yang akan memulai hubungan dengan klien halusinasi dan isolasi sosial memahami latar belakang klien dalam aplikasi tahap prainteraksi hubungan perawat dengan klien. Peran lain yang dilakukan perawat pada fase ini adalah sebagai konselor dimana perawat menggali perasaan klien dan menanyakan kesiapan klien untuk berinteraksi.

Penjelasan fase orientasi diatas memperlihatkan bahwa perawat tidak diperkenankan untuk memberikan atau mendiaknosa atau meraba-raba

bagaimana keadaan klien, apa yang sedang dialami oleh klien, sehingga perawat tidak salah dalam memutuskan dan memberikan tindakan keperawatan kepada klien dengan halusinasi dan isolasi sosial.

2) Fase Identifikasi.

Klien mengidentifikasi masalah dan kebutuhannya bersama orang lain yang dapat membantunya. Perawat membantu mengeksplorasi perasaan dan membantu klien dalam penyakit yang dirasakan sebagai suatu pengalaman yang mengorientasi ulang perasaannya dan menguatkan kekuatan positif pada kepribadiannya dan memberikan kepuasan. Proses identifikasi terjadi ketika perawat memfasilitasi ekspresi perilaku klien dan memberikan asuhan keperawatan yang diterima klien tanpa penolakan terhadap perawat.

Fase identifikasi merupakan fase yang paling tinggi kualitasnya pada hubungan interpersonal, karena pada fase ini terjadi proses menggali perasan–perasaan yang dialami klien, penkajian data-data, pengalaman klien, serta akan terlihat bagaimana klien mengatakan ketakutan, ketidakmampuan dan ketidak berdayaan dalam berhubungan dengan orang lain dan akibat halusinasinya. Fase ini merupakan tahap pengkajian dan dasar perawat menentukan tindakan apa yang akan dilakukan terhadap klien. Perawat menentukan keadaan klien pada tahap halusinasi dan isolasi sosial setelah mengidentifikasi kemampuan-kemampuan yang telah dimiliki klien.

Peran perawat pada fase identifikasi ini adalah sebagai wali atau pengganti, dimana pada fase ini perawat mengintepretasikan apa yang dirasakan terhadap topik dari komunikasi yang terjadi dan berkembang selama hubungan dalam fase ini.

3) Fase Eksploitasi.

Klien menerima penuh nilai yang ditawarkan oleh perawat melalui adanya proses hubungan. Fase eksploitasi merupakan situasi dimana klien dapat merasakan adanya nilai hubungan sesuai pandangan/persepsinya terhadap situasi. Fase ini merupakan inti hubungan dalam proses interpersonal. Dalam

fase ini perawat membantu klien dalam memberikan gambaran kondisi klien dan seluruh aspek yang terlibat didalamnya.

Fase ini perawat mendiskusikan lebih mendalam dan memilih alternative terhadap permasalahan yang dialami klien. Proses ini membutuhkan banyak energi agar dapat mentransfer energi klien dari yang negatif menjadi seorang yang positif dan produktif. Perawat berperan sebagai pendidik pada yang mengajarkan klien tentang apa yang harus dilakukan untuk mengatasi masalah halusinasi dan isolasi sosial, perawat mengajarkan dan memberikan informasi kepada klien tentang cara mengatasi dan penyelesaian masalah.

Peran perawat sebagai narasumber yang memberikan informasi kepada klien berbagai informasi dari pengobatan, tindakan keperawatan dalam membantu klien dan counselor juga dapat dilihat pada fase ini.

Selama fase ini klien akan mendapatkan semua yang dari perawat. Perawat memberikan semua informasi, dan kebutuhan klien terkait dengan penyembuhan dan kebutuhan perawatan klien. Pada fase inilah peran perawat secara keseluruhan terkait, selain sebagai peran pendidik, narasumber, pemimpin, pengganti dan juga peran sabagai penasehat.

4) Fase Resolusi.

Pada fase ini perawat mengakhiri hubungan interpersonalnya dengan klien. Tujuan lama yang akan dicapai dikesampingkan dan diganti dengan tujuan baru. Ini adalah proses dimana klien membebaskan dirinya dari identifikasi dengan perawat. Secara bertahap klien melepaskan diri dari perawat. Resolusi ini memungkinkan penguatan kemampuan untuk memenuhi kebutuhannya sendiri dan menyalurkan energi kearah realisasi potensi.

Sebelum mengakhiri fase ini perawat mengevaluasi kemampuan klien baik secara subjektif maupun objektif (kognitif, afektif dan psikomotor) berdasarkan kriteria tujuan keperawatan pada tahap ini klien sudah menemukan problem

solving baru dalam mengatasi masalahnya dan mengaplikasikannya sehari-hari

sesuai dengan jadual yang telah disusun.

Untuk mengurangi rasa ketergantungan pada perawat, tindakan yang dilakukan perawat adalah mempersiapkan kemandirian klien dengan cara memaksimalkan sumber koping klien dan keluarga dalam mempersiapkan klien untuk pulang. Kemandirian klien dengan halusinasi dan isolasi sosial yang terpenting adalah klien selalu mengembangkan koping yang adaptif, memiliki sikap dan harapan yang positif sebagai implikasi dari pikiran positif yang dimiliki klien, sehingga tidak muncul pikiran tidak diterima oleh lingkungan, tidak mampu bersosialisasi, tidak mempunyai temn dan tidak mempunyai kelebihan. Dukungan keluarga sangat penting sehingga keluarga harus dilibatkan dari awal, perawat juga harus mempersiapkan lingkungan klien melalui keluarga untuk mempertahankan sikap dan pikiran positif klien ketika klien pulang.

Keempat fase tersebut merupakan rangkaian proses pengembangan dimana perawat membimbing klien dari rasa ketergantungan yang tinggi menjadi interaksi yang berfokus pada realita lingkungan sosial, artinya seorang perawat berusaha mendorong kemandirian klien.

Tahapan proses interpersonal yang dikembangkan Peplau dalan empat fase dinilai sangat relevan dengan penatalaksanaan klien dengan halusinasi dan isolasi sosial. Teori Peplau yang berfokus pada interpersonal relationship ini sangat sesuai bagi penerapan cognitive behavioral sosial skill training pada klien dengan halusinasi dan isolasi sosial. Proses interpersonal menjadi dasar atas hubungan partisipasi antara perawat dan klien yang mana perintah perawat mempunyai tujuan dan merupakan suatu proses, serta intinya adalah mengontrol klien untuk dapat berhubngan sosial dengan rang lain terutama dalam keluarga klien. Proses interpersonal merupakan gambaran secara operasional dalam menjelaskan empat fase yang berbeda yaitu orientasi, identifkasi, eksploitasi, dan resolusi (Fitzpatrick, 1989).

Skema 2.3.

Kerangka konsep penerapan latihan ketrampilan sosial terhadap masalah isolasi sosial dan halusinasi dengan pendekatan teori hubungan interpersonal Peplau

FASE IDENTIFIKASI

FASE EKSPLOITASI FASE RESOLUSI

1. KOGNITIF 2. AFEKTIF 3. PERILAKU 4. FISIK

Sesi 1: Identifikasi pikiran otomatis negatif dan perilaku menyimpang

Sesi 2 : Melatih memberi tanggapan rasional terhadap pikiran otomatis negatif

Sesi 3 : Melatih ketrampilan merubah perilaku negative. Sesi 4 : Melatih komunikasi untuk menjalin persahabatan

Sesi 5 : Melatih Kemampuan Berbicara Dalam Menghadapi Situasi Sulit

Sesi 6 : Melakukan evaluasi latihan kognitif dan perilaku/psikomotor

1. KOGNITIF 2. AFEKTIF 3. PERILAKU 4. FISIK KLIEN ISOLASI SOSIAL

DAN HALUSINASI (MANUSIA)

CBSST (KEPERAWATAN)

Melepaskan Klien dari ketergantungan perawat

FASE

ORIENTASI PERAN PERAWAT

SEBAGAI ORANG ASING

S

E

H

A

T

PERAN PERAWAT SEBAGAI: 1. NARASUMBER

2. PENDIDIK 3. PEMIMPIN 4. PENASEHAT 5. PENGGANTI/WALI

Model Praktik Keperawatan Profesional: Pilar 1: Pendekatan Manajemen

Pilar 2: Hubungan Profesional Pilar 3: Kompensasi dan penghargaan Pilar 4: Manajemen Asuhan Keperawatan

BAB 3

PELAKSANAAN MANAJEMEN ASUHAN KEPERAWATAN