PELAKSANAAN MANAJEMEN ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN HALUSINASI DAN ISOLASI SOSIAL
2 Tindakan Keperawatan Spesialis
5.2 Hasil Pengkajian Klien Dengan Isolasi Sosial .1 Faktor predisposisi
5.2.3 Penilaian stressor
Respon terhadap stresor merupakan suatu proses evaluasi secara menyeluruh yang dilakukan klien terhadap sumber stres dengan tujuan untuk melihat tingkat kemaknaan dari suatu kejadian yang dialami (Stuart, 2009). Berdasarkan hasil asuhan keperawatan dan pemberian terapi pada klien yang memiliki masalah halusinasi dan isolasi sosial didapatkan hasil bahwa sebelum diberikannya terapi pada klien, rata-rata klien memiliki riwayat yang kurang adekuat dalam memberikan respon terhadap stresor yang dihadapi.
Pada respon kognitif klien dengan halusinasi dan isolasi sosial didapatkan penurunan rata-rata tanda gejala sesudah pemberian terapi CBSST sebesar 17,68. Pada respon afektif didapatkan juga penurunan tanda gejala sesudah pemberian terapi CBSST sebesar 9,27 Untuk respon psikomotor didapatkan penurunan rata-rata tanda gejala sesudah terapi sebesar 3,87 . Pada respon fisik juga terjadi penurunan rata-rata tanda gejala sesudah terapi sebesar 9,27. Sedangkan untuk respon sosial rata-rata klien mengalami penurunan tanda gejala sebesar 14,07. Berdasarkan data di atas dapat dikatakan terapi CBSST mampu menurunkan tanda dan gejala pada klien halusinasi dan isolasi sosial.
Klien secara kognitif menyatakan merasa mendengar suara-suara, sulit konsentrasi, tidak berguna dan menganggap hubungan dengan orang lain merupakan sesuatu yang tidak berarti. Secara afektif klien merasa takut, senang, sedih, bingung, kecewa dan malu. Secara fisik klien mengalami sulit konsentrasi, sulit tidur dan beberapa mengeluh mudah lelah. Secara perilaku klien menunjukkan penurunan motivasi dalam melakukan aktivitas di ruangan. Secara sosial klien jarang melakukan interaksi dengan orang lain dan cenderung menghindari interaksi.
Menurut Stuart (2009) penilaian kognitif merupakan suatu mediator bagi interaksi antara individu dan lingkungan. Individu dapat menilai adanya suatu masalah atau potensi yang dipengaruhi oleh persepsi individu, sikap terbuka terhadap adanya
perubahan dan kemampuan mengontrol diri terhadap pengaruh lingkungan. Respon kognitif memegang peran sentral dalam proses adaptasi, dimana faktor kognitif mempengaruhi dampak suatu kejadian yang penuh dengan stres, memilih koping yang akan digunakan, dan menghasilkan reaksi emosi, fisiologi, perilaku, dan sosial seseorang. Pada klien halusinasi dan isolasi sosial, jika mereka berpikir bahwa suatu situasi merupakan ancaman dan menimbulkan stres maka dirinya akan berperilaku menghindar atau menarik diri dari situasi tersebut.
Respon kognitif yang dilakukan sebagian besar klien halusinasi dan isolasi sosial adalah memiliki pengalaman yang tidak menyenangkan ketika berhubungan dengan orang lain, seperti merasa putus asa, kegagalan membina hubungan , adanya penolakan, merasa bodoh, tidak percaya diri, merasa orang lain tidak mendengarkan, merasa tidak mampu berbicara dengan baik. Klien merasa takut untuk mendapatkan pengalaman yang tidak menyenangkan lagi jika berinteraksi dengan orang lain . Hal ini yang memunculkan perilaku mengisolasi diri. Kenytaan yang ada pada klien halusinasi dan isolasi sosial sesuai dengan pendapat Townsend (2009); NANDA (2005); Keliat (2005) bahwa penilaian stresor secara kognitif klien isolasi sosial berupa merasa kesepian, merasa ditolak orang lain/lingkungan, merasa tidak dimengerti oleh orang lain, merasa tidak berguna, merasa putus asa dan tidak memiliki tujuan hidup, merasa tidak aman berada diantara orang lain serta tidak mampu menilai dan membuat keputusan.
Respon afektif terhadap stresor yang muncul pada klien isolasi sosial adalah sedih, pasif, bingung kadang-kadang afek yang tumpul sehingga tidak ada motivasi untuk melakukan interaksi sosial dengan orang lain dan lingkungannya. Respon yang ditunjukkan klien sesuai dengan pendapat Townsend (2009); NANDA (2012), bahwa secara afektif klien dengan halusinasi dan isolasi sosial merasa bosan dan lambat dalam menghabiskan waktu, sedih, afek tumpul, dan kurang motivasi.Respon afektif menunjukkan suatu perasaan. Respon afektif dipengaruhi oleh kegagalan individu dalam menyelesaikan tugas perkembangan di masa lalu terutama terkait dengan pengalaman berinteraksi dengan orang lain.
Respon fisiologis yang dirasakan oleh sebagian besar klien adalah merasa lelah, lemah dan sulit untuk tidur. Respon fisiologis yang dialami klien sesuai dengan pendapat NANDA (2012) dan Stuart (2009). bahwa tanda dan gejala fisik klien halusinasi dan isolasi sosial adalah kurang energi, lemah, insomia/hipersomia, penurunan atau peningkatan nafsu makan. Sebagian besar klien merasakan lelah, lemah sehingga tidak termotivasi untuk melakukan kegiatan termasuk berinteraksi dengan orang lain dan lingkungan. Hal ini sesuai dengan pendapat Stuart (2009) bahwa kerusakan hipotalmus pada klien gangguan jiwa akan membuat seseorang kehilangan mood dan motivasi sehingga kurang akitifitas dan malas melakukan sesuatu termasuk motivasi untuk melakukan interaksi sosial. Penilaian fisiologis terhadap stresor, terkait dengan reflek dari interaksi beberapa neuroendokrin, dalam hal ini hormonal yang terkait pula dengan neurotransmiter pada otak Secara umum pada klien yang dirawat, menyatakan memberikan respon menghindar terhadap stresor yang dialaminya. Respon yang ditampilkan tersebut merupakan respon negatif, yang dilakukan akibat keterbatasan kemampuan dalam menyelesaikan masalah, dan penilaian bahwa stresor merupakan sesuatu yang harus dihindari, bukan sesuatu yang harus dihadapi atau diselesaikan.
Respon perilaku merefleksikan respon emosi dan fisiologis sebagai hasil analisis kognitif dalam menghadapi suatu situasi yang penuh stress Sebagian besar klien isolasi sosial menunjukkan perilaku menghindar dari orang lain, menarik diri, dan tidak mau berinteraksi dengan orang lain baik secara sukarela maupun atas instruksi perawat. Hal ini sesuai dengan pendapat Townsend (2009) bahwa klien dengan halusinasi dan isolasi sosial akan menunjukkan perilaku malas untuk merawat diri, tidak mempunyai tenaga melakukan aktivitas atau berinteraksi dengan orang lain, menyendiri. Biasanya posisi hanya pada satu tempat/tidak berubah walaupun sebenarnya posisi tersebut tidak nyaman bagi klien, pergerakan lambat, kemunduran perilaku dari usia yang sebenarnya (regresi). Ini juga dinyatakan oleh NANDA (2012) dan Keliat (2006) bahwa perilaku yang ditunjukkan klien halusinasi dan isolasi sosial meliputi menarik diri, menjauh dari orang lain, tidak atau jarang melakukan komunikasi, tidak ada kontak mata, kehilangan gerak dan minat, malas melakukan kegiatan sehari-hari, berdiam diri di kamar, menolak hubungan dengan orang lain, dan sikap bermusuhan
Respon sosial ditunjukkan dengan tanda ketidakmampuan dalam melakukan kegiatan sosial. Sebagian besar klien halusinasi dan isolasi sosial menunjukkan respon sosial yang tidak sesuai yaitu menghindar dari orang lain. Hal ini dapat diamati dari perilaku yang muncul pada klien yaitu menarik diri, tidak mau berinteraksi dengan orang lain baik secara sukarela maupun atas instruksi perawat
Sikap dan pemahaman terhadap stresor merupakan suatu proses evaluasi secara menyeluruh yang dilakukan oleh individu terhadap sumber stres dengan tujuan untuk melihat tingkat kemaknaan dari suatu kejadian yang dialaminya (Stuart, 2009). Dari hasil evaluasi penilaian terhadap stressor pada klien yang dirawat hampir semua klien memiliki respons negatif dalam menilai stresor secara kognitif, afektif, perilaku dan sosial. Ini menunjukan bahwa seluruh klien memandang sumber stressor nya adalah sebagai suatu ancaman bagi klien.
Melalui CBSST klien dibantu melakukan cara mengidentifikasi pikiran dan perilaku negative, cara melawan pikiran negatitf, mengubah perilaku negative, dan cara bersosialisai yang baik dengan menggunakan teknik perilaku bermain peran, praktik dan umpan balik untuk meningkatkan kemampuan menyelesaikan masalah. Klien belajar bagaimana belajar memberikan pujian dan hukuman, termasuk beberapa pujian dan model yang akan diberikan. Pembelajaran sosial meliputi motivasi, emosi, pikiran, penguatan sosial, penguatan diri. Penguatan sosial bisa berbentuk perhatian, rekomendasi, perhatian dan lainnya yang dapat membuat individu terus berperilaku ke arah yang lebih baik.
5.2.4 Sumber Koping
Berdasarkan hasil pelaksanaan pengelolaan klien didapatkan bahwa sumber koping yang dialami oleh klien diperoleh bahwa 9 klien (52,9%) tahu dan tidak mengatasi halusinasi dan isolasi sosial demikian juga dengan keluarganya sebanyak 70,5% tidak memiliki pengetahuan dan kemampuan merawat anggota keluarga dengan halusinasi dan isolasi sosial. Keseluruhan klien saat ini tidak memiliki penghasilan sendiri penghasilan keluarga yang mencukupi kebutuhan hidup sebanyak 58,8%. Keseluruhan klien dapat menjangkau puskesmas dan memiliki jamkesmas. Sebagian
besar klien (76,4%) memiliki keyakinan bahwa dirinya akan sembuh setelah menjalani perawatan di rumah sakit.
Pada klien kelolaan, didapatkan data bahwa sebagian besar klien sudah tahu bagaimana cara mengatasi halusinasi dan isolasi sosial secara kognitif. Hal ini terbukti saat klien dievaluasi kemampuan yang dimiliki sebagian besar sudah mengetahui tetapi tidak melatih dan menggunakan kemampuan yang sudah dilatih serta lebih sering memperlihatkan perilaku yang maladaptif. Hal ini terjadi karena ternyata sebagian besar keluarga belum tahu dan belum memiliki kemampuan dalam merawat klien dan membantu klien mengatasi masalahnya tersebut serta kurangnya dukungan sosial dari keluarga untuk membantu klien dalam mengembangkan kemampuan yang positif. Hal ini terbukti dari rendahnya kunjungan keluarga, motivasi yang rendah dari keluarga untuk merawat klien di rumah, rendahnya kelompok pemerhati gangguan jiwa di masyarakat dan belum terlibatnya klien pada kelompok-kelompok suportif. Oleh karena itu kurangnya sistim pendukung yang dimiliki oleh klien mengakibatkan perilaku yang diperlihatkan klien menjadi kurang adaptif. Hal ini sesuai dengan pendapat Friedman (2010) bahwa salah satu fungsi keluarga adalah fungsi perawatan kesehatan. Anggota keluarga sebagai orang terdekat dan selalu berdampingan dengan klien idealnya memiliki kemampuan dalam merawat klien (caregiver) secara optimal. Sehingga perawatan yang berkesinambungan dapat diberikan untuk mengurangi angka kekambuhan.
Keseluruhan klien saat ini tidak memiliki penghasilan karena sudah tidak bekerja lagi. Mereka hanya mengandalkan penghasilan dari keluarga dan hanya 58,8% yang memiliki penghasilan keluarga yang mencukupi. Semua klien menggunakan jamkesmas dalam biaya pengobatan di rumah sakit dan keseluruhan klien memiliki tempat tinggal yang dapat menjangkau puskesmas ataupun pelayanan kesehatan dengan mudah. Adanya program pemerintah terhadap jaminan kesehatan bagi masyarakat ini merupakan peluang yang baik dalam mengatasi masalah kesehatan jiwa. Program pemerintah ini sebaiknya terus ada dan selalu disosialisasikan kepada masyarakat karena ada juga masyarakat yang belum mengetahui akan program pemerintah ini. Seseorang yang memiliki aset materi memungkinkan untuk
mengakses pelayanan kesehatan yang dibutuhkan sebagai solusi terhadap masalah kesehatan yang sedang dihadapi.
Mayoritas klien (76,4%) memiliki keyakinan positif terhadap kondisi penyakitnya. Keyakinan positif dapat meningkatkan motivasi klien dalam menyelesaikan stresor yang dihadapi. Pada pengkajian teridentifikasi bahwa klien sebenarnya memiliki keinginan besar untuk hidup lebih baik, dapat bekerja kembali,bisa mendapatkan pendamping hidup dan merasa optimis dengan bantuan perawat dan dukungan keluarga akan mampu mengatasi masalahnya. Dengan pemberian terapi CBSST, klien dibantu dalam mengatasi masalah kesulitan berinteraksi dengan cara mengajarkan cara mengidentifikasi pikiran dan perilaku negative, melawan pikiran negative dengan pikiran rasional, dan mengubah perilaku negative dengan perilaku yang positif dengan cara berbicara dengan orang lain, menjalin persahabatan, bekerjasama dalam kelompok dan berbicara dalam mennghadapi masa masa sulit sehingga klien dapat memilih perilaku yang akan ditampilkan secara adaptif walaupun dukungan dari keluarga belum maksimal didapatkan oleh klien dalam mengatasi masalahnya tersebut dan koping individu menjadi lebih adaptif dan efektif saat berhadapan dengan stressor yang ada. Tetapi kondisi ini akan lebih baik lagi apabila terapi ini dibarengi dengan pemberian psikoedukasi keluarga sehingga kemampuan koping klien yang sudah cukup baik akan menjadi lebih baik dengan adanya dukungan dari keluarga. Hal ini sesuai dengan Stuart (2009) yang menyatakan dengan adanya dukungan sosial sangat membantu seseorang dalam meningkatkan pemahaman terhadap stresor sehingga mampu mencapai ketrampilan koping yang efektif. Sehingga tercapainya koping adaptif yang maksimal pada klien yang berefek pada minimalisasi kejadian kekambuhan pada klien.
5.2.5 Mekanisme Koping
Mekanisme koping yang digunakan oleh klien dalam mengahadapi stresor adalah berfokus pada masalah. Mekanisme koping yang digunakan oleh klien rata-rata adalah mekanisme koping destruktif yaitu menarik diri dari pergaulan sosial, tidak melakukan kegiatan, banyak melamun, kurang minat dan aktivitas.
5.3 Efektivitas Pemberian Terapi Cognitive Behavioural Social Skills Training