• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III: ANALISIS IMPLEMENTASI BANTUAN LUAR NEGERI AMERIKA SERIKAT DALAM BENTUK HIBAH KEPADA INDONESIA

DI SUMATERA UTARA

A. KONSERVASI HUTAN INDONESIA

Indonesia merupakan negara yang mempunyai hutan terbesar ketiga setelah hutan di Brazil dan Demokratik Cango.75

75Arnoldo Conteras – Hermosilla dan Chip Fay. 2006. Memperkokoh Pengelolaan Hutan Indonesia Melalui Pembaharuan Penguasaan Tanah. Bogor : World Agroforestry Centre. hal. 6.

Hutan Indonesia sebagian diberikan kepada sejumlah kecil perorangan ataupun perusahaan yang sangat berpengaruh dan memiliki kedekatan dengan kekuasaan. Hutan digunakan sebagai kendaraan politik. Hutan lambat laun dijadikan sebagai instrumen untuk pertumbuhan kekuasaan ekonomi dan politik sejumlah orang. Pada tahun 1998, 12 perusahaan yang mempunyai hubungan dekat dengan politik dan militer mengendalikan sekitar 60 juta konsesi hutan. ketiadaan transparansi dalam pengambilan keputusan menyebabkan kegiatan – kegiatan illegal dan korupsi terjadi di dalam sektor kehutanan. Deforestasi (kerusakan hutan) secara besar – besaran tentu berdampak kesemua pihak. Deforestasi dalam skala besar menyebabkan penyusutan keanekaragaman hayati dan juga erosi tanah,

pengancaman terhadap pemanfaatan ekonomi dan lingkungan dari hutan dimasa yang akan datang.76

Pada Masa Pemerintah Orde Baru pada tahun 1966 mengeluarkan izin Hak Pengusaha Hutan (HPH) untuk mengelola hutan selama 20 tahun yang menjadi sasaran adalah hutan produksi. Kebijakan atas dasar Undang – Undang Pokok Kehutanan membuka peluang kepada pengusaha untuk mengeksploitasi hutan secara komersial sehingga di tahun 1966 perusahaan menguasai 60 juta ha hutan.77Pada tahun 1997 – 1998 di pengaruhi oleh El Nino, kebakaran hutan terjadi dalam skala besar dengan luas hampir mencapai 10 juta hektar.78

Kawasan hutan negara merupakan kawasan hutan yang hanya dapat dikatakan sebagai Kawasan Hutan Negara jika tidak terdapat hak atas tanah di wilayah bersangkutan. Kawasan Hutan Negara Indonesia yang tersisa saat ini adalah 12 juta hektar. Sedangkan Kawasan Hutan yang tersisa 108 juta hektar dianggap sebagai Kawasan Hutan Non Negara.79 Dimana 10 % dari hutan adalah Kawasan Hutan Negara sedangkan 90 % adalah hutan hak atau hutan privat.80

Hutan bekas Hak Pengusaha Hutan (HPH) terdegradasi diklasifikasikan menjadi cadangan atau dikategorikan sebagai kawasan budidaya non hutan.

Departemen Kehutanan seringkali mengatakan bahwa HPH yang tidak jelas

76Ibid., hal. 10.

77Ani Adiwinata Nawir. 2008. Rehabilitasi hutan di Indonesia Akan kemanakah arahnya setelah lebih dari tiga dasawarsa? .Bogor : Center for International Forestry Research. hal. 52.

78Arnoldo Conteras, Loc. Cit .,hal. 11.

79Ibid., hal. 20.

80Ibid., hal. 21.

merupakan HPH yang direhabilitasi (tidak aktif) . Area bekas HPH yang diserahkan kepada Inhutan untuk direhabilitasi diberbagai propinsi.

Tabel3 : Kawasan Hutan Produksi yang perlu direhabilitasi Provinsi Total Wilayah

terindiksi

Hutan primer Lahan bekas penebangan

Bengkulu 3 95.774 26.920 28 55.720 58 13.134 14

Lampung 1 11.550 - - 1.600 14 9.950 86

Aceh 4 107.290 28.580 27 46.020 43 32.690 30 Sumaetra Utara 2 106.919 - - - - 106.919 100 Riau 11 212.547 30.816 14 48.218 23 133.513 63 Sumatera Barat 1 40.885 - - 37.438 92 3.417 8 TOTAL 112 5.728.170 625.564 11 2.498.242 44 2.591.184 45

Sumber : Departemen Kehutanan 2005Ani Adiwinata Nawir. 2008. Rehabilitasi hutan di Indonesia Akan kemanakah arahnya setelah lebih dari tiga dasawarsa? .Bogor : Center for International

Forestry Research. hal. 55.

Hutan bekas HPH yang terdegradasidikembalikan kepada badan usaha miliki negara Inhutani I sampai V. Pada tahun 1995/1996 , Departemen Kehutanan menugaskan perusahaan milik negara Inhutani I,II dan III membentuk Inhutani IV dan V merehabilitasi lahan bekas penebangan di Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi. Dephut menugaskan Inhutani I – V untuk merehabilitasi wilayah bekas HPH seluas 5,5 juta hektar. Inhutani I dibentuk dari Prum Perhutani di Kalimantan Timur dan Inhutani II dibentuk setelah Perhutani di Kalimantan Selatan dilikuidasi. Lebih dari 50% dari wilayah hutan di propinsi [sic!] Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Sumatera Selatan, Sumatera

Utara, Jambi, Lampung dan Riau merupakan lahan bekas penebangan yang terdegradasi.81

Berakhirnya Orde Baru tahun 1998 ditandai dengan kejatuhan Presiden Soeharto serta kebijakan – kebijakan yang sudah dibuat. Secara langsung maupun tidak langsung, berakhirnya Orde Baru dan dimulainya Era Reformasi diikuti dengan otonomi daerah (desentralisasi) mempengaruhi arah kebijakan dan program rehabilitasi yang dilaksanakan di lapangan.82

A. 1 PENGELOLAAN DANA REBOISASI

Selain pendanaan pemerintah, sejak tahun 1970 dana dari donor membiayai proyek – proyaek rehabilitasi di pulau Jawa dan pada tahun 1981, membiayai proyek – proyek di pulau Sumatera. Sebahagian dana bantuan memerlukan aggaran pendampingan dari negara – negara mitra yang kali ini adalah Dephut (pendanaan bersama). Donor utama dalam pendanaan adalah ADB, EU, FINNIDA, ITTO, JICA, dan GTZ. Donor yang menyumbang dananya melalui kerjama bilatera adalah JICA, USAID, GTZ, Biro Bantuan Pembangunan Internasional Australia (AIDB)/ Program Bantuan Luar Negeri Pemerintah Australia (AUSAID), Lembaga Pembangunan Internasionl Denmark (DANIDA), Lembaga Pembangunan Internasional Kanada (CIDA), dan Institut Internasional untuk Ilmu Geo – Informasi dan Pemantauan Bumi (ITC, Belanda). Dilain dari kerjasama bilateral, kerjasama multilateral yang terlibat kerjasama adalah Bank

81Op. Cit., Ani Adiwinata Nawir. hal. 54 - 55.

82Ibid., hal. 58.

Dunia, Bank Internasional untuk Rekonstruksi dan Pembangunan ( IBRD), Bank Pembangunan Asia (ADB), Bank Investasi Nordik (NIB), Dana Pembangunan Nordik (NDF), OECF, FAO/UNDP, Program Pangan Dunia (WFP), Dana Internasional untuk Pembangunan Pertanian (IFAD), Organisasi Perdagangan Kayu Internasional (ITTO), Pusat Penelitian Agroforestri Internasional (ICRAF), Pusat Kerjasama dan Kehutanan Internasional Jepang (JIFPRO), Yayasan Ford dan Mitra Global. Bentuk kerjasama mencakup bantuan teknis, bantuan proyek untuk dapat mentransfer teknologi yang berkaitan dengan rehabilitasi hutan, pengelolaan daerah aliran sungai, penguatan sumber daya manusia. Pendanaan yang diberikan oleh mitra bisa berupa bantuan ataupun pinjaman.83

Kebijakan Pemerintah Republik Indonesia untuk memungut dana reboisasi dengan tujuan memperbaiki pengelolaan hutan produksi. Pemungutan dana reboisasi tertuang pada Keputusan Presiden No. 24/ 1997; No. 53/1997; No.

32/1998 dan PP No.92/1999. Pemungutan Dana Reboisasi (DR) atas satu meter kubik kayu. Selain Dana Reboisasi, pemungutan retribusi antara lain:84

1. Iuran Pengusaha Hutan (IHPH) 2. Iuran Hasil Hutan (IHH) 3. Pajak Ekspor Kayu

Peraturan Pemerintah setelah PP No 92/1999, Dana Reboisasi PP No. 35 tahun 2002 tentang pengelolaan DR kepada pemerintah Kabupaten adan pusat.

83Ibid., hal. 58 – 59.

84Ibid., hal. 59.

Dana reboisasi disetor ke bank dibawah pengawasan walikota. Setelah pengalokasian, pemerintah provinsi berkoordinasi dengan pemerintah kabupaten untuk mngajukan kegiatan rehabilitasi di daerahnya kepada Departemen Keuangan.85

Pada tahun 2005, Departemen Kehutanan berdasarkan SK Menteri Kehutanan, menyusun lima prioritas strategi nasional untuk mengelola hutan nasional periode 2003 – 3005. 86

1. Penanggulangan pencurian kayu secara terkoordinasi 2. Revitalisasi industri kehutanan

3. Rehabilitasi dan konservasi sumberdaya hutan 4. Pemberdayaan ekonomi masyarakat sekita hutan 5. Pemantapan kawasan hutan