• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III: ANALISIS IMPLEMENTASI BANTUAN LUAR NEGERI AMERIKA SERIKAT DALAM BENTUK HIBAH KEPADA INDONESIA

DI SUMATERA UTARA

C. Implementasi Kebijakan TFCA – Sumatera di Kawasan Sumatera bagian Utara

D. 2 Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM)Orangutan Information Centre (OIC)

Taman Nasional Gunung Leuser merupakan hutan yang membentang di dua provinsi Sumatera, yaitu Provinsi Nangro Aceh Darussalam dan Provinsi Sumatera. Peneliti akan mengkaji Taman Nasional Gunung Leuser yang berada di Provinsi Sumatera Utara, Kabupaten Langkat, Desa Halaban, Resort Sei Betung.

Narasumber yang digunakan untuk mendapatkan informasi terkait kegiatan OIC di Desa Halaban dalam kegiatan TFCA – Sumatera ada lima narasumber, yaitu : manager program TFCA – Sumatera LSM OIC, ketua tim patroli LSM OIC, bidang education LSM OIC, Kepala Desa Halaban, dan Ketua KETAPEL (Kelompok Tani Pelindung Leuser).

Yayasan Orangutan Sumatera Lestari – Orangutan Information Center (YOSL - OIC) dan Sumatra Rainforest Institute (SRI) adalah 2 lembaga membentuk Konsorsium OIC. Konsorsium OIC merupakan Lembaga Swadaya

109Kepala Dusun Aek Matio Jae., Loc. Cit.

Masyaraka yang berhasil menerima dana hibah TFCA – Sumatera di siklus kedua.

Progrm TFCA - Sumatera yang dilaksanakan Konsorsium OIC bertema “Program Pengembangan Kolaborasi Konservasi dan Perlindungan Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) berbasis masyarakat pada Blok Karo – Langkat di Sumatera Utara”.

Program ini akan terlaksana selama lima tahun dimulai dari 1 April 2012 sampai 31 Maret 2017. Dalam kegiatan ini, ada empat komponen kegiatan utama, yaitu:110

1. Penguatan Kelembagaan dalam Pengelolaan dan Perlindungan Hutan berbasis Kolaborasi Para Pihak di KEL Blok Kara – Langkat.

2. Pelibatan dan Penguatan Peran serta Pihak Swasta dalam Upaya Konservasi dan Perlindungan wilayah KEL Blok Karo – Langkat.

3. Perlindungan lahan – lahan Potensial Koridor Konektivitas Habitat Spesies Kunci dan Pemulihan Lahan – Lahan Terdegradasi

4. Peningkatan Ekonomi Petani Melalui Pengembangan Pertanian Ramah Lingkungan Serta Pemasaran Produk Pertanian.

Tujuan umum dari proyek ini adalah :111

1. Menguatkan peran kelembagaan para pihak di sekitar KEL Blok Karo - Langkat melalui pembagian peran kolaborasi dan pengelolaan kawasan

110Wawancara dengan Masrizal, Manager Proram TFCA – Sumatera, Kantor OIC – Medan, 2016.

111Ibid.

berdasarkan Renstra BBTNGL & BBKSDA serta Kebijakan Pembentukan UPT TAHURA BB

2. Meningkatkan peran swasta dalam keberlanjutan konservasi dan perlindungan KEL Blok Karo – Langkat untuk menekan laju kerusakan hutan

3. Melindungi lahan-lahan potensial koridor konektivitas habitat spesies kunci serta memulihkan kawasan-kawasan terdegradasi di KEL Blok Karo-Langkat.

4. Meningkatkan perekonomian masyarakat melalui perbaikan pola pertanian dengansistem pertanian berkelanjutan sehingga berkurangnya tingkat kerusakan ekologis KELKaro – Langkat

D. 2. 1 Implementasi Kebijakan TFCA – Sumatera dalam konservasi hutan di KEL Karo – Langkat (Kab. Langkat)

Kegiatan Restorasi memberikan manfaat terhadap upaya perlindungan dan pemulihan kawasan terdegradasi menjadi terwujudnya pelestarian bentang alam di Kawasan Ekosistem Leuser. Resort Sei Betung merupakan resort yang berada di Kabupaten Langkat, Desa Halaban. Kegiatan ini mendapatkan pendanaan dari TFCA – Sumatera, diantaranya : Pembuatan Artifisial Tenggeran Burung,

Fenologi Tumbuhan, Penggunaan camera trap untuk memantau pertumbuhan keanekaragaman hayati serta pembangunan nursery training centre.112

Pada tahun 2013- 2014 aktivitas pembalakan (illegal logging) tertinggi terjadi di Resort Sei Betung. Resort Sei Betung merupakan bekas aktivitas perambahan. Di tahun 2015, aktivias ini menurun. Tim Patroli akan melakukan patroli di kawasan Taman Nasional Gunung Leuser untuk melakukan monitoring kawasan, dan juga tim patroli dapat melakukan tangkap tangan terhadap aktivitas ilegal di kawasan TNGL. Di resort Sei Betung telah dilakukan patroli sebanyak 3 kali pada bulan Juli, Agustus, dan Desember dengan total jarak 53,75 Km atau 4.760,37 hektar di tahun 2015.113

No.

Tabel 6 : Patroli Resort Sei Betung Tahun 2015

Waktu Jarak (km) Area (ha)

1 Agustus 22,99 2.235,79

2 September 12,57 749,58

3 Desember 18,19 1.775,00

TOTAL 53,75 4.760,37

Sumber : Laporan Tahunan OIC tahun 2015

112Ibid.

113Wawancara dengan Indra Kurnia, Ketua Tim Patroli, di Kantor OIC – Medan, 2016.

Selain Patroli, kegiatan yang merupakan salah satu komponen paling penting dalam restorasi adalah Nursery. Selama tahun 2015, telah dibangun 3 Nursery di restorasi Sei Betung . Jumlah bibit ditaman selama tahun 2015 sebanyak 34.810. Seluas 70 ha , produksi bibit tanaman dilakukan untuk restorasi pengkayaan di Areal terdegradasi Taman Nasional Gunung Leuser di Desa Halaban. 114

114Wawancara dengan Darsimah, bidang education OIC, di Desa Halaban, 2016.

Kegiatan ini melibatkan masyarakat setempat. Dalam pelaksanaannya, OIC dibantu masyarat setempat yang membentuk suatu kolompok yang disebut dengan KETAPEL (Kelompok Tani Pelindung Leuser) ikut berpartisipasi dalam proses menanam, merawat dan menjaga hutan TNGL yang berada di Desa Halaban. Kegiatan restorasi dan rehabilitasi di TNGL Resort Sei Betung telah memberikan dampak positif bagi upaya pemulihan kawasan – kawasan yang terdegradasi yang akan menjamin keberlanjutan kualitas ekologi di KEL blok Karo Langkat.

Gambar 1 : Nursery Centre Desa Halaban, Kec. Besitang. Kab. Langkat

Sumber : Diambil Sendiri

Tahun 2008 merupakan restorasi awal OIC dan dibantu oleh KETAPEL mulai melakukan restorasi di mulai dari pembibitan dan penanaman, kegiatan ini di donori dari banyak pihak. Pada program TFCA, dimulai di tahun 2012 merupakan program terbesar dalam bidang restorasi. Hasil dari restorasi yang dimulai dari awal sampek sekarang telah dirasakan banyak pihak salah satunya adalah masyarakat sekitar. Perubahan yang sangat dirasakan adalah sebelum adanya restorasi, air yang dikonsumsi warga sangatlah keruh, berwarna cokelat.

Namun, setelah restorasi, terjadi perubahan kondisi air yang semula cokelat pekat lambat laun menjadi lebih jernih.115

Pada saat yang sama, proses pelibatan masyarakat dalam kegiatan ini juga memberikan insentif ekonomi dan dalam jangka panjang akan memberikan dampak bagi perbaikan kualitas lingkungan di sekitar daerah mereka.116Capaian program TFCA-OIC di Sei Betung Desa Halaban Kabupaten Langkat dengan upaya memperbaiki kondisi lahan yang rusak sehingga pada akhirnya berubah fungsinya sesuai dengan kondisi awal. Berkurangnya konflik antara orangutan dan masyararakat sekitar karena Hutan di derah tersebut sudah kembali pada fungsinya sehingga hewan yang biasanya mengganggu pemukiman warga tidak lagi keluar dari hutan.117

Dua perusahaan kelapa sawit yang tumbuh di sekitar gunung leuser yaitu perusahaan kelapa sawit Putri Hijau dan Rapala. Tidak dipungkiri jika perusahaan kelapa sawit membuka lowongan pekerjaan untuk masyarakat desa setempat.

Namun , ternyata pohon kelapa sawit telah memasuki area Gunung Leuser dan sangat fatal hal ini telah mendapatkan izin dari dinas kehutanan. Rapala mengambil 300 ha lahan gunung leuser dan putri hijau 200 ha. Terlihat bahwa perusahaan kelapa sawit telah melakuan lobi kepada dinas kehutanan. Hal inilah yang diperjuangkan oleh OIC dalam pengadilan dan hasilnya wilayah Gunung Leuser yang ditumbuhi pohon sawit ditebang dan diambil alih oleh Dinas

115Wawancara dengan Alex, Kepala Desa Halaban, di Desa Halaban, 2016.

116Ibid.

117Ibid.

Kehutanan dan OIC dipercaya untuk mengelolah hutan tersebut dan akan dilakukan restorasi. Restori sendiri adalah pemulihan seperti awal dengan kata lain restori hutan yang terdapat di daerah desa Halaban akan mencontoh hutan yang ada di depannya. 118

Gambar 2 : Aktivitas Orangutan ditangkap melalui Camera Trap

Sumber : Laporan OIC tahun 2015

Untuk memantau aktivitas pertumbuhan tumbuhan, melihat jenis satwa dan kegiatan manusia didalam hutan, OIC memang Camera Trap di lokasi resort Sei Betung.

118Wawancara dengan Jamil, Ketua KETAPEL, di Desa Halaban, 2016.

E. 2. 2 Capaian OIC dalam Program TFCA - Sumatera

Apabila rangkaian kegiatan yang telah disusun dalam kerangka kerja logis (logical framework) proyek ini secara teratur dijalankan berdasarkan rencana kerja (work plan) yang telahdisusun maka pada berakhirnya kegiatan akan menghasilkan dampak sebagai berikut:

1. Meningkatnya Peran kolaborasi para pihak untuk pengamanan dan perlindunganpartisipatif serta penegakan hukum dalam pengelolaan hutan di KEL Blok Karo –Langkat

2. Adanya kerjasama dan komitmen 5 (lima) pihak swasta (private sector) dalam upaya konservasi kawasan melalui skema Corporate Social Responsibility (CSR)

3. Terlindunginya lahan-lahan potensial koridor konektivitas habitat spesies penting, khususnya Orangutan Sumatera (Pongo abelii) dan ada penurunan luasan lahan terdegradasi dengan tanaman lokal (indigenous species) sehingga menjamin keberlanjutan kualitas ekologis di dalam kawasan

4. Terehabilitasinya 1.050 Ha lahan milik 660 petani mengalami proses rehabilitasi kualitas tanah, peningkatan jumlah penanam tegakan pohon (karet, kakao, saigon) melalui pola pertanian berkelanjutan sehingga dapat menurunkan kerusakan ekologis pada KEL Blok Karo – Langkat.119

119Laporan Akhir Tahun ke 1 Konsorsium OIC untuk TFCA Sumatera hal 3.

Peta 2 : wilayah konsorsium OIC dalam Program TFCA – Sumatera (Blok Karo - Langkat)

Sumber : Laporan OIC tahun 2013