• Tidak ada hasil yang ditemukan

BANTUAN LUAR NEGERI AMERIKA SERIKAT KE INDONESIA DALAM BENTUK KONSERVASI HUTAN DI BAWAH TROPICAL FOREST CONSERVATION ACTION FOR SUMATERA TFCA SUMATERA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BANTUAN LUAR NEGERI AMERIKA SERIKAT KE INDONESIA DALAM BENTUK KONSERVASI HUTAN DI BAWAH TROPICAL FOREST CONSERVATION ACTION FOR SUMATERA TFCA SUMATERA"

Copied!
145
0
0

Teks penuh

(1)

BANTUAN LUAR NEGERI AMERIKA SERIKAT KE INDONESIA DALAM BENTUK KONSERVASI HUTAN DI BAWAH TROPICAL

FOREST CONSERVATION ACTION FOR SUMATERA – TFCA SUMATERA

(Studi Kasus : Sumatera Utara)

Disusun Oleh :

FARIDA HANNUM 130906011

Dosen Pembimbing : Drs. P. Antonius Sitepu, M. Si

DEPARTEMEN ILMU POLITIK

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN 2017

(2)

PERNYATAAN

Saya yang bertandatangan dibawah ini, menyatakan sesungguhnya :

1. Karya tulis ilmiah saya dalam bentuk Skripsi dengan judul “Bantuan Luar Negeri Amerika Serikat ke Indonesia dalam Bentuk Konservasi Hutan di Bawah Tropical Forest Conservation Action For Sumatera – TFCA Sumatera (Studi Kasus : Sumatera Utara)”adalah asli dan belum pernah diajukan untuk mendapat gelar akademik, baik di Universitas Sumatera Utara maupun di perguruan tinggi lain.

2. Skripsi ini murni gagasan, rumusan, dan penelitian saya sendiri tanpa bantuan dari pihak lain, kecuali arahan dari tim pembimbing dan tim penguji.

3. Didalam skripsi ini, tidak terdapat karya atau pendapat yang telah ditulis atau dipublikasikan orang lain, kecuali ditulis dengan cara menyebutkan pengarang dan mencantumkannya pada daftar pustaka.

4. Pernyataan ini saya buat dengan sesungguhnya dan apabila dikemudian hari terdapat penyimpangan dan ketidakbenaran didalam pernyataan ini, maka saya bersedia menerima sanksi akademik berupa pencabutan gelar yang telah diperoleh karena skripsi ini, serta sanksi lainnya sesuai dengan norma dan ketentuan hukum yang berlaku.

Medan, 27 April 2017 Yang Menyatakan

Farida Hannum NIM 130906011

(3)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

Halaman Pengesahan

Skripsi Ini Telah Dipertahankan Dihadapan Penguji Skripsi Departemen Ilmu Politik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.

Dilaksanakan Pada :

Hari :

Tanggal :

Pukul :

Tempat :

Tim Penguji :

Ketua :

( )

NIP

Anggota I :

( )

NIP

Anggota II :

( )

NIP

(4)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

Halaman Persetujuan

Hasil skripsi ini telah disetujuan untuk dipertahankan oleh : Nama : FARIDA HANNUM

NIM : 130906011 Departemen : Ilmu Politik

Judul : Bantuan Luar Negeri Amerika Serikat Ke Indonesia dalam Bentuk Konservasi Hutan di Bawah Tropical Forest Conservation Action For Sumatera – TFCA Sumatera (Studi Kasus : Sumatera Utara)

Menyetujui :

Ketua Departemen Ilmu Politik Dosen Pembimbing

Dr. Warjio Ph.D P. Anthonius Sitepu M.Si

NIP. 197408062006041003 NIP. 195207011985111001

Wakil Dekan I

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Husni Thamrin, S.Sos, MSP NIP. 197203082005011001

(5)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK DEPARTEMEN ILMU POLITIK

FARIDA HANNUM (130906011)

Bantuan Luar Negeri Amerika Serikat ke Indonesia dalam Bentuk Konservasi Hutan di Bawah Tropical Forest Conservation Action For Sumatera – TFCA Sumatera (Studi Kasus : Sumatera Utara).

Rincian isi Skripsi : xii + 117 halaman, 1 bagan, 6 tabel, 2 gambar, 2 peta, 16 buku, 2 e-book, 1 dokumen, 5 publikasi elektronik, 29 situs web, serta 10 wawancara.

ABSTRAK

Skripsi ini membahas mengenai bantuan luar negeri Amerika Serikat ke Indonesia dalam bentuk bantuan danah hibah untuk lingkungan dalam program TropicalForest Conservation Action for Sumatera (TFCA- Sumatera) atau lebih sering disebut dengan Aksi Nyata Konservasi Hutan Tropis di Sumatera. Bantuan dana hibah dari Amerika Serikat ke Indonesia dalam program TFCA – Sumatera merupakan kegiatan pengalihan hutang Indonesia kepada Amerika Serikat. Fokus penelitian ini adalah implementasi kebijakan program TFCA – Sumatera di Sumatera Utara yang dikelolah oleh Lembaga Swadaya Masyarakat yang bergerak dibidang biologi, kehutanan dan sejenisnya. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan implementasi dan menganalisis dampak kebijakan TFCA – Sumatera yang berbentuk dana hibah di Sumatera Utara. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori hubungan internasional yang mencakup bantuan luar negeri. Adapun untuk mengumpulkan data, penulis menggunakan metode wawancara dan studi pustaka.

Hasil yang diperoleh dari penelitian ini bahwa kebijakan bantuan berupa bantuan dana hibah TFCA – Sumatera terealisasi melalui kerjasama dengan Lembaga Swadaya Mayarakat yang telah mendapatkan dana hibah untuk konservasi hutan. TFCA – Sumatera telah memberikan kepercayaan kepada lembaga penerima donor untuk proses implementasi kebijakan TFCA – Sumatera dengan monitoring dari Oversight Committee (Badan Pengawas). TFCA – Sumatera sedang menjalankan Rencana Strategi TFCA tahun 2015 – 2020 dengan empat isu kunci, yang meliputi kelembagaan dan kebijakan, konsevasi dan perlindungan bentang alam, konservasi dan perlindungan spesies terancam punah, dan pengembangan masyarakat lokal.

(6)

Penelitian ini juga menemukan bahwa kebijakan bantuan dana hibah Amerika Serikat ke Indonesia dalam program bentuk konservasi hutan dibawah program TFCA – Sumatera telah berjalan optimal dan membawa perubahan kepada lingkungan dan masyarakat Sumatera khususnya di Sumatera Utara.

Kegiatan yang dilakukan dalam program ini memfokuskan wilayah yang mempunyai potensi yang luar biasa terhadap tumbuh kembangnya makhluk hidup di hutan. Argumen inti dari peneliti adalah bahwa kerjasama TFCA – Sumatera dan lembaga penerima donor merupakan kerjasama yang menguntungkan. Dalam artian, bahwa tanpa program TFCA – Sumatera dengan kebijakan penyaluran dana hibah, cendrung daerah – daerah yang terpencil tidak mendapatkan perhatian dan perubahan yang dapat mengarah kepada perbaikan hutan.Disisi lain, tanpa lembaga penerima donor sekaligus pelaksana program TFCA – Sumatera belum tentu dapat mengimplementasikan suatu kebijakan bantuan luar negeri berupa dana hibah dengan baik dan berhasil memanfaatkan dengan baik hibah dari Amerika Serikat. Penulis melihat bahawa bentuk saling menguntungkan dala kerjasama ini semakin jelas dengan banyaknya lembaga penerima donor yang mengimplementasikan program TFCA – Sumatera ke kawasan sumatera khususnya Sumatera Utara di wilayah yang terpencil.

Kata kunci : Bantuan Luar Negeri, TFCA – Sumatera, Lembaga Penerima Donor.

(7)

UNIVERSITY OF NORTHERN SUMATRA

FACULTY OF SOCIAL SCIENCE AND POLITICAL SCIENCE DEPARTMENT OF POLITICAL SCIENCE

FARIDA HANNUM (130906011)

US Foreign Assistance to Indonesia in the Forest Conservation Form Under the Tropical Forest Conservation Action For Sumatra - TFCA Sumatera (Case Study:

North Sumatra).

Description : xii + 117 pages, 1 scheme, 6 tables, 2 picture, 2 maps, 16 books, 2 e- book, 1 document, 5 e- publications, 29 websites, and interviews.

ABSTRACT

This study ficused on US foreign assistance to Indonesia in the form of grant aid for the environment in the Tropical Forest Conservation Action for Sumatera (TFCA-Sumatra) program or more commonly referred to as the Real Action of Tropical Forest Conservation in Sumatra. Grant aid from the United States to Indonesia in the TFCA - Sumatra program is an activity of Indonesian debt transfer to the United States. The focus of this research is the implementation of the TFCA-Sumatera program policy in North Sumatra, which is managed by Non-Governmental Organizations engaged in biology, forestry and the like. The purpose of this study is to describe the implementation and analyze the impact of TFCA-Sumatera policy in the form of grant funds in North Sumatra. The theory used in this research is the theory of international relations that includes foreign aid. As for collecting data, the authors use the method of interview and literature study.

The results obtained from this research that the aid policy in the form of TFCA-Sumatera grant aid is realized through cooperation with Non- Governmental Institution which has received grant fund for forest conservation.

TFCA - Sumatra has given trust to donor agencies for the implementation process of TFCA - Sumatera policy with monitoring from Oversight Committee (Badan Pengawas). TFCA - Sumatra is implementing TFCA's 2015-2020 Strategic Plan with four key issues, including institutional and policy, conservation and protection of landscapes, conservation and protection of endangered species, and the development of local communities.

The study also found that the US grant aid policy to Indonesia in the forest conservation program under the TFCA - Sumatera program has been running optimally and bringing changes to the environment and the people of Sumatra, especially in North Sumatra. Activities undertaken in this program focus on areas that have tremendous potential for the growth of living things in the forest. The core argument of researchers is that TFCA-Sumatra cooperation and donor

(8)

agencies are a lucrative partnership. In the sense that without the TFCA-Sumatera program with grant disbursement policies, tending to remote areas is not getting attention and changes that could lead to forest improvements. Other contexts, without the donor agencies as well as TFCA-Sumatra program implementers, may not necessarily implement A policy of foreign aid in the form of grant funds well and successfully utilize grants from the United States. The author sees that this mutual benefit in cooperation is increasingly evident with the number of donor agencies implementing the TFCA-Sumatra program to Sumatra, particularly North Sumatra in remote areas.

Keywords: Foreign Assistance, TFCA - Sumatera, Donor Beneficiary Institution.

(9)

KATA PENGANTAR

Assalamu ‘alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Alhamdulillahirabbil’alamin – Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat, karunia dan hidayah – Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan waktu yang sudah direncanakan.

Penulis bersyukur karena ats berkat rahmat dan hidayh – Nya, skripsi berjudul “Bantuan Luar Negeri Amerika Serikat ke Indonesia dalam Bentuk Konservasi Hutan di Bawah Tropical Forest Conservation Action For Sumatera – TFCA Sumatera (Studi Kasus : Sumatera Utara)” disusun untuk melengkapi dan memenuhi persyaratan dalam memperoleh gelar Sarjana Ilmu Politik (S.IP) di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sumatera Utara.

Pembuatan dan penulisan skripsi ini tak lepas dari dukungan dan bantuan serta jasa dari seluruh pihak. Oleh karena itu, penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada :

1. Gozali Parinduri dan Mawarni Situmorang, orangtua tercinta yang selalu mendukung penulis dalam keadaan susah maupun senang, doa – doa yang tiada henti yang selalu dipanjatkan untuk penulis mulai dari kecil hingga detik ini sehingga penulis dapat menyelesaikan pendidikan hingga perguruan tinggi.

2. Bapak Prof. Dr. Runtung Sitepu, S.H, M.Hum selaku Rektor Universitas Sumatera Utara.

3. Dr. Muriyanto Amin selaku Dekan FISIP USU.

4. Prof. Warjio Ph.D selaku Kepala Departemen Ilmu Politik FISIP USU 5. Husnul Isa Harahap S.Sos, M.Si selaku Sekretaris Departemen Ilmu

Politik Fisip Usu

(10)

6. P. Anthonius Sitepu M.Si selaku Dosen Penasehat Akademik dan Dosen Pembimbing penulis dalam menyusun skripsi. Beribu – ribu terimakasih penulis sampaikan kepada Bapak karena telah membimbing penulis mulai dari awal sampai akhir perkuliahan penulis. Semoga Bapak selalu diberikan kesehatan dan umur yang panjang. Amin.

7. Seluruh Bapak/ Ibu staf pengajar Departemen Ilmu Politik, penulis mengucapkan termakasih atas ilmu yang telah diberikan kepada penulis.

8. Seluruh pegawai Departemen Ilmu Politik USU, penulis sampaikan terimakasih karena membantu penulis dalam urusan kelengkapan berkas dan administrasi.

9. Keluarga besar Lembaga Swadaya Masyarakat Perkumpulan Prakarsa Pengembangan Partisipasi untuk Rakyat (PETRA).

10. Keluarga besar Lembaga Swadaya Mayarakat Orangutan Information Centre (OIC).

11. Keluarga besar Dusun Simajambu, Desa Simangumban, Kec.

Simangumban dan Dusun Aek Matio Jae, Desa Andian Koting, Kec.

Andian Koting di Kabupaten Tapanuli Utara.

12. Keluarga besar Desa Halaban, Kec. Besitang, Kab. Langkat.

13. Narasumber yang telah memfasilitasi penulis dalam melakukan penelitian.

14. Arjuna, yang selalu menemani dan memotivasi penulis.

15. Sahabat – sahabat penulis, Dewi Mahrani Caniago, Suci Fajar Zahriyani, Tia Sandova Damanik, Mutiara Sari Amran, Sartika Ayu Manik, Aisyah Hayani Nasution, Fitri Sari Dalimunthe dan sahabat penulis lainnya yang tidak bisa penulis sebutkan satu persatu. Penulis ucapkan terimaksih atas dukungannya.

16. Rekan – rekan mahasiswa yang sama – sama berjuang di kampus Fisip USU, Ilmu Politik stanbuk 2013.

(11)

Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu.

Semoga kebaikan, jasa, dan doa yang telah diberikan kepada penulis dapat dibalas oleh Allah SWT. Amin . Akhir kata, semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi penulis dan masyarakat.

Lakukanlah, kamu pasti bisa!

Medan, 27 April 2017

Farida Hannum

(12)

DAFTAR ISI Halaman Judul

Pengesahan

Halaman Pengesahan Halaman Persetujuan

Abstrak i

Abstrack iii

Kata Pengantar v

Daftar Isi vii

Daftar Bagan , Tabel, Gambar dan Peta xi

Daftar Lampiran xii

BAB I : PENDAHULUAN

A. Latar Belakang 1

B. Perumusan Masalah 9

C. Batasan Masalah 10

D. Tujuan Penelitian 10

E. Manfaat Penelitian 11

F. Kerangka Teori 11

F. 1 Teori Hubungan Internasional 11

F. 2. Bantuan Luar Negeri 12

G. Metodologi Penelitian 18

G. 1 Lokasi Penelitian 19

G. 2 Teknik Pengumpulan Data 19

G. 3 Teknik Analisis Data 21

H. Sistematika Penulisan 22

BAB II : TINJAUAN UMUM TROPICAL FOREST CONSERVATION ACTION FOR SUMATERA

A. Tropical Forest Conservation Action 24

(13)

A. 1 Persyaratan Umum, Kriteria dan Prioritas Pendanaan

Hibah 37

A. 2 Besaran Hibah 53

A. 3 Fasilitas Wilayah 54

B. Gambaran Umum Kawasan di Sumatera bagian Utara 56

BAB III : ANALISIS KEBIJAKAN TROPICAL FOREST CONSERVATION ACTION FOR SUMATERA (TFCA – SUMATERA) DALAM KONSERVASI HUTAN DI SUMATERA UTARA 61

A. Konserbasi Hutan Indonesia 61

A. 1 Pengelolaan Dana Reboisasi 65 B. Bantuan Amerika Serikat Terhadap Indonesia 67

B. 1 USAID di Indonesia 68

C. Implementasi Kebijakan TFCA – Sumatera di Kawasan

Sumatera bagian Utara 74

C. 1 Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Perkumpulan Prakarsa Pengembangan Partisipasi untuk Rakyat

(PETRA) 79

C. 1. 1. Implementasi Kebijakan TFCA – Sumatera dalam konservasi hutan di Kawasan Batang Toru

(Kab. Tapanuli Utara) 82

C. 1. 2 Tantangan PETRA dalam Implementasi

Kebijakan TFCA – Sumatera 87 C. 2 Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM)

Orangutan Information Centre (OIC) 92 C. 2. 1 Implementasi Kebijakan TFCA – Sumatera

dalam konservasi hutan di KEL Karo – Langkat

(Kab. Langkat) 94

C. 2. 2 Capaian OIC dalam Program

TFCA – Sumatera 100

D. Dampak Kebijakan TFCA - Sumatera 101

(14)

D. 1 Capaian TFCA – Sumatera 103

BAB IV : PENUTUP 106

A. Kesimpulan 106

B. Saran 109

DAFTAR PUSTAKA 110

LAMPIRAN 118

(15)

DAFTAR BAGAN

Bagan 1 Struktur Organisasi TFCA – Sumatera 36

DAFTAR TABEL

Tabel 1 Hutang Pemerintah dan Swasta (1983 - 2001) 5 Tabel 2 Penerimaan Dana Hibah dari Program TFCA – Sumatera

(2010 - 2017) 43

Tabel 3 Kawasan Hutan Produksi yang perlu direhabilitas 43 Tabel 4 Priorias Kerja Indonesia – Amerika Serikat 72 Tabel 5 Daftar Penerimaan Dana Hibah di Sumate Utara 74

Tabel 6 Patroli Sei Betung Tahun 2015 95

DAFTAR GAMBAR Gambar 1 Nursery Centre Desa Halaban, Kec. Bsitang,

Kab. Langkat 96

Gambar 2 Aktivitas Orangutan ditangkap melalui

Camera Trap 99

DAFTAR PETA

Peta 1 Wilayah Program TFCA – Sumatera 42

Peta 2 Peta Lokasi Program Konsorsium OIC 101

(16)

DAFTAR LAMPIRAN

(17)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Hubungan Internasional merupakan suatu interaksi dari seluruh penjuru negara – negara yang ada di dunia. Seluruh penduduk dunia terbagi kedalam wilayah komunikasi politik yang terpisah namun secara bersamaan membentuk suatu sistem global. Pemisahan wilayah komunikasi politik suatu negara tidak serta merta menjadikan suatu negara terasing. Sebab, ketika suatu negara terasing, maka masyarakat akan menderita sebagai akibatnya.1

Hubungan Internasional sesungguhnya menjadikan Indonesia kehilangan jati dirinya. Sebab, di era globalisasi ini, studi Hubungan Internasional tidak hanya melayani kepentingan birokrasi pemerintah atau diplomat bagi Departemen Luar Negeri. Namun lebih luas diluar dari sektor negara, seperti, NGO Internasional (Non Government), perusahaan multinasional (MNC/TNC), media, bahkan dunia seni dan budaya merupakan realitas yang terjadi. Globalisasi untuk negara berkembang membawa dampak terhadap munculnya isu – isu yang bersifat intermestik, yaitu isu yang muncul antara domestik dan internasional. Isu – isu Dengan kata lain, tidak ada jalan lain kecuali hidup berdampingan dan berhadapan satu dengan yang lainnya.

1 Robert Jackson & Georg Soresen. 2005. Pengantar Studi Hubungan Internasioanal. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. hal. 2.

(18)

yang muncul seperti demokratisasi, HAM, civil society, konflik internal, lingkungan hidup dan sebagainya. 2

Aspek terpenting dalam Hubungan Internasional adalah kebijakan luar negeri yang dikeluarkan oleh suatu negara terhadap lingkungan internasional.

Kebijakan luar negeri merupakan alat atau istrumen yang dimiliki oleh negara untuk dapat berhubungan dengan aktor – aktor Internasional dengan tujuan kepentingan nasional.3 Aspek ini haruslah menyikapi isu politik global. Sebab pemerintah hanyalah salah satu dari sekian banyak aktor internasional yang memperjuangkan berbagai kepentingan Indonesia di dunia internasional. Aktor lain yang ikut memperjuangkan kepentingan Indonesia yaitu individu atau kelompok seperti organisasi non pemerintah atau perusahaan swasta.4

Salah satu bentuk dari kebijakan luar negeri adalah bantuan internasional (foreign aid). Bantuan Internasional pertama kali terbentuk setelah Perang Dunia II berakhir pada tahun 1945. Dimana George C. Marshall memberikan bantuan kepada Eropa berupa bantuan keuangan dan teknis. Bantuan ini dikenal dengan Marshall Plan. Komponen kunci kebijakan Luar Negeri Amerika Serikat adalah mendukung bantuan dan modal proyek – proyek teknis yang berhubungan dengan kebutuhan dasar manusia. 5

2 Aleksius Jemadu. 2014. Politik Global Edisi 2 dalam Teori dan Politik. Yogyakarta: Graha Ilmu. hal . 4- 5.

3Ibid., hal. 47.

4Ibid., hal. 6.

Pada tahun 2001 Amerika Serikat dibawah kepemimpinan George Bush telah memberikan peningkatan bantuan kepada

5 USAID.”USAID HISTORY” . Diakses melaluli https://www.usaid.gov/who-we-are/usaid-history pada 17 Desember 2016.

(19)

Internasional (dimulai dari pasca perang dingin 1990). Bantuan yang diberikan oleh Amerika Serikat berfokus kepada negara – negara berkembang/ miskin berupa kesehatan, pendidikan, serta kebutuhan dasar lainnya.6

Amerika Serikat yang dikenal dengan “Big Brother” yang memberikan bantuan luar negeri kepada bangsa – bangsa lain dengan dana – dana yang besar tidak menutup kemungkinan bahwa dana Amerika Serikat merupakan

“altrulisme” di mana bantuan yang diberikan berdasarkan kepentingan semata.7

Kebijakan luar negeri Indonesia yang dikeluarkan pada masa krisis mata uang (1998) adalah meminta bantuan IMF (International Monetery Fund), Pada saat itu, Indonesia mengalami penurunan kurs mata uang yang sangat signifikan yaitu dari Rp. 2000 per dolar turun drastis menuju angka Rp 17.000 per dolar. Hal ini dipengaruhi salah satunya dari penarikan modal asing secara besar – besaran di Negara Thailand yang berdampak ke negara – negara tetangga termaksud Indonesia. Krisis mata uang ini berubah menjadi krisis multidimensi yang Bantuan luar negeri yang di berikan oleh Amerika Serikat memiliki perbedaaan dengan bantuan di negara – negara lain. Bantuan Luar Negeri Amerika Serikat kepada institusi atau lembaga menyalurkan langsung bantuan luar negeri ke pada lembaga terkait di negara lain.

6 Carol Lancaster. 2008. George Bush's Foreign Aid: Transformation or Chaos?.Washington D.C : Center for Global Development. Hal vii. Diakses melalui

https://books.google.co.id/books?id=hgq0WacI5EC&printsec=frontcover&dq=George+Bush%27s+Foreign+

Aid:+Transformation+or+Chaos%3F.&hl=id&sa=X&redir_esc=y#v=onepage&q=George%20Bush%27s%20 Foreign%20Aid%3A%20Transformation%20or%20Chaos%3F.&f=false pada 16 Desember 2016.

7 Mochtar Lubis. 1922. Tajuk – Tajuk Mochtar Lubis di Harian Indonesia Raya . Jakarta : Yayasan Obor Indonesia. hal. 284.

(20)

semakin lama semakin mendalam. Sehingga, pemerintah mengambil kebijakan untuk meminta bantuan kepada IMF.8

Bantuan luar negeri kepada Indonesia merupakan salah satu perwujudan dari hubungan internasional. Amerika Serikat dalam hal ini di wakili oleh IMF memberikan bantuan pinjaman dana kepada Indonesia yang sedang mengalami krisis keuangan. Hal ini tentu menjadi peluang serta ancaman tersendiri bagi Negara Indonesia. Pada dasarnya pinjaman luar negeri memiliki dampak positif dan negatif. Dampak positifnya, dapat digunakan untuk membiayai pembangunan sdangkan untuk dampak negatif, dapat menjadi bumerang apabila tidak dikelolah dengan hati – hati.9 Hal ini terlihat ketika pinjaman luar negeri Amerika Serikat diperuntukan Indonesia untuk sumber dana bukan sebagai penunjang dana pembangunan yang menyebabkan pembengkakan hutang luar negeri. Pinjaman luar negeri yang berlebihan akan mempengaruhi kestabilan moneter dan kesinambungan pembangunan ekonomi dan pada akhirnya akan memperburuk kondisi keuangan negara menuju pada krisis ekonomi10.

Hal ini dapat dilihat dari besarnya hutang Indonesia yang di gabungan antara pemerintah dan swasta sampai tahun 2001 (dalam milyar US$) dalam tabel 1 di bawah ini.

8Menajemen Pinjaman Luar Negeri Swasta Indonesia. hal. 1. Diakses melalui

https://books.google.co.id/books?id=T9UDVH3n7v4C&pg=PA153&dq=hutang+luar+negeri&hl=id&sa=X&

redir_esc=y#v=onepage&q=hutang%20luar%20negeri&f=false pada 10 Desember 2016.

9Ibid., hal. 4.

10Ibid., hal. 151.

(21)

Tabel 1: Hutang Pemerintah dan Swasta (1983-2001)

Tahun Besaran Hutang (dalam miliar US$)

1983 28,8

1985 35,8

1992 83,7

1994 85,4

1991 89,7

1995 94,0

1996 110,17

1997 136,01

1998 150,88

1999 148,09

2000 141,69

2001 137,60

Sumber :CIFOR. 2013. “Pengalihan Hutang untuk Pelestarian Hutan” diakses melalui http://www.cifor.org/acm/download/pub/wk/warta10.pdf pada 11 Januari 2017.

(22)

Untuk Anggarn Pendapatan Belanja Negara (APBN) tahun 2002, pemerintah harus menyediakan kurang lebih Rp. 130 triliun (US$ 13 miliar) untuk membayar hutang pokok dan bunga yang diperkirakan telah mencapai 44 persen dari total penerimaan negara dibandingkan dengan anggaran pembangunan sebesar Rp. 47 triliun (US$ 4.7 miliar) atau setara dengan 2.8 persen dari PDB (Penerimaan Domestik Bruto).11

Melihat hutang Indonesia yang semakin lama semakin menumpuk, tidak menutup kemungkinan Indonesia akan kewalahan untuk melunasi hutang – hutang beserta bunganya kepada Amerika Serikat. Alternatif yang digunakan untuk menanggulangi hutang Indonesia yang semakin lama semakin menumpuk yaitu dengan pengalihan hutang. Pengalihan hutang ini merupakan bentuk bantuan Amerika Serikat dalam program bantuan hibah untuk konservasi hutan Indonesia.

Bantuan Luar Negeri ini merupakan pengalihan hutang terbesar yang diberikan Amerika Serikat. Hibah adalah bentuk pemberian negara maju kepada negara miskin di mana negara miskin tidak perlu lagi membayar bunga atau melakukan pembayaran kembali pinjaman yang sudah diberikan. 12

Pemerintah Indonesia dan Amerika Serikat menandatangi kesepakatan pengalihan hutang untuk konservasi alam di bawah Undang - Undang Konservasi Hutan Tropis (TFCA – Tropical Forest Concervation Action) yang dimulai pada tahun 2009 di Jakarta. Amerika Serikat yang diwakili oleh USAID dan Indonesia

11Ibid.

12 M.L. Jhingan. 1996.Ekonomi pembangunan dan perencanaan. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada. hal.

619.

(23)

yang diwakili oleh Mentri Kehutanan sepakat untuk mengalihkan hutang Indonesia untuk konservasi hutan di Indonesia. Hutang Indonesia sebenarnya 21,6 juta dolar AS ditambah dengan bunga hutang selama 8 tahun menjadi 29,91 juta dolar AS. Hutang 29,91 juta dolar AS merupakan hutang lama yang tidak mampu di bayar dan sudah melampaui jatuh tempo selama 8 tahun.13

13 Bappenas. “Utang Luar Negri 29,91 Dialihkan Untuk Konservasi “. Diakses melalui

perpustakaan.bappenas.go.id/lontar/file?file=digital/82567- utang LN 29,91 juta dolar dialihkan untuk konservasi.pdf pada 15 November 2016.

Sehingga Indonesai tidak perlu lagi untuk membayar hutang kepada Amerika Serikat sebab hutang tersebut akan dialihkan langsung kepada hutan Indonesia melalui rekening trust fund yang dalam hal ini dipegang oleh Hongkong and Shanghai Banking Corporation Limited (HSBC) yang merupakan bank lokal Hongkong yang berada di Singapura yang melayani kebutuhan Internasional, bukan melalui APBD atau pemerintah. Bantuan Luar Negeri Amerika Serikat kepada Indonesia berupa pengalihan hutang dalam bentuk program hibah untuk konservasi hutan di Indonesia berfokus kepada pulau Sumatera dan Kalimantan. Pulau Sumatera dan Kalimantan merupakan dua pulau yang memiliki deforestasi yang tinggi dibandingkan dengan pulau lainnya. Untuk mengefektifkan program hibah konservasi hutan di Indonesia, Dua Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) lingkungan yang menjadi swap partner yakni Conservation International dan Kehati dari Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia dipercaya untuk mengelolah program ini. Hibah ini akan disalurkan kepada LSM Lokal untuk dapat mengelolah hutan di Sumatera. Hutan hujan Sumatera adalah salah satu daerah yang tersisa di dunia dengan keanekaragaman hayati yang kaya yang

(24)

penting untuk dijaga jangka panjang untuk kesejaheraan manusia. Hutan hujan Sumatera berperan dalam pemasokan air untuk konsumsi, irigasi lahan, mitigasi untuk bencana alam, dan yang paling penting adalah pengaran iklim pada skala lokal dan global.

Program bantuan luar negeri untuk konservasi hutan dalam bentuk hibah di Sumatera disebut dengan TFCA – Sumatera. TFCA – Sumatera berfokus kepada 13 Kawasan yang menjadi titik deforestasi yang tinggi. Sumatera merupakan pulau terbesar keenam di dunia dengan luas 473.481 km2.14

Kebijakan TFCA – Sumatera berbentuk penyelenggaraan bantuan luar negeri berupa bantuan hibah telah diimplementasikan kedalam sejumlah upaya yang bertujuan untuk mengembalikan kembali hutan Indonesia khususnya Sumatera yang merupakan wilayah atau provinsi terbesar keenam di dunia.

Peranan hutan sangat penting untuk keberlangsungan hidup makluk hidup yang Salah satu provinsi yang menjadi prioritas program TFCA – Sumatera adalah Sumatera Utara.Beberapa kawasan yang menjadi titik deforestasi yang tinggi terdapat di Sumatera Utara adalah Taman Nasional Gunung Leuser, Taman Nasional Batang Gadis, DAS (Daerah Aliran Sungai) Toba Barat, Hutan Dataran Rendah Angkola, dan Batang Toru. Tingginya deforestasi (kerusakan) hutan di beberapa wilayah bagian Sumatera Utara, menjadikan Sumatera Utara salah satu fokus dari program TFCA – Sumatera.

14 TFCA – Sumatera. 2017. “Sumatera” diakses melalui http://tfcasumatera.org/bentang_alam/sumatera/ pada 12 Februari 2017.

(25)

ada di muka bumi. Baik itu manusia, hewan maupun tumbuhan. Indonesia yang disebut sebagai paru – paru dunia mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap dunia. Untuk itu, program TFCA - Sumatera diharapkan mampu menjadi solusi atas deforestasi (kerusakan) hutan di Indonesia khususnya Sumatera. Berdasarkan uraian diatas, maka penulis tertarik untuk menyusun suatu penelitian dengan judul : Bantuan Luar Negeri Amerika Serikat Ke Indonesia Dalam Bentuk Konservasi Hutan Di Bawah Tropical Forest Conservation Action For Sumatera – TFCA Sumatera (Studi Kasus : Sumatera Utara)

B. Perumusan Masalah

Indonesia merupakan negara yang memiliki hutang luar negeri yang cukup besar kepada Amerika Serikat. Besarnya hutang pokok beserta bunga hutang tersebut akan memakan waktu yang cukup lama untuk dilunasi. Amerika Serikat merupakan negara demokrasi dengan bantuan luar negeri sebagai instrumen terbesar dalam kebijakan luar negeri Amerika Serikat, sepakat untuk mengalihkan hutang Indonesia untuk konservasi hutan di Indonesia. Pengalihan hutang ini merupakan bantuan luar negeri Amerika Serikat dalam bentuk Hibah. Hibah yang akan disalurkan tidak melalui Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN).

Oleh karena itu, penting untuk diteliti bagaimana implementasi bantuan luar negeri dari Amerika Serikat kepada Indonesia dalam bentuk konservasi hutan melalui Program Trofical Forest Conservation Act – TFCA Sumatera di kawasan

(26)

provinsi Sumatera Utara dan dampaknya untuk hutan Sumatera khususnya Sumatera Utara.

C. Batasan Masalah

Dalam batasan masalah di penelitian ini, penulis akan membatasi beberapa masalah yang nantinya akan diteliti. Sehingga nantinya hasil penelitian mampu mengurai beberapa masalah tersebut secara sisrematis dan mendasar.

Adapun batasan masalah dalam penelitian ini, yaitu antara lain :

1. Implementasi bantuan luar negeri Amerika Serikat ke Indonesia dalam bentuk konservasi hutan di bawah program TFCA-Sumetera

2. Dampak program TFCA Sumatera untuk hutan Sumatera khususnya di kawasan Sumatera Utara.

D. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan penelitian ini, yaitu :

1. Untuk mendeskripsikan Implementasi Bantuan Luar Negeri Amerika Serikat ke Indonesia dalam bentuk konservasi hutan Sumatera.

2. Untuk menganalisa dampak implementasi dari program TFCA Sumatera untuk konservasi hutan Sumatera di Kab. Tapanuli Utara.

(27)

E. Manfaat Penelitian

1. Secara teoritis, penelitian ini diharapkan mampu menerapkan teori yang digunakan penulis sebagai pisau nalisis yaitu teori politik lingkungan.

2. Secara kelembagaan, penelitian ini diharapkan dapat menambah perbendaharaan referensi penelitian sosial bagi Departemen Ilmu Politik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, dan Universitas Sumatera Utara.

3. Secara masyarakat, penelitian ini diharapkan dapat menambah khazah pengetahuan masyarakat luas tentang politik lingkungan skema pengalihan hutang Indonesia kepada Amerika Serikat untuk lingkungan di Kawasan Batang Toru, Kab. Tapanuli Utara.

4. Secara Pribadi, penelitian ini diharapkan mampu menjadi karya ilmiah yang berguna bagi peneliti guna meningkatkan kemampuan menganalisis implementasi skema pengalihan hutang Indonesia kepada Amerika Serikat untuk lingkungan di Kab. Tapanuli Utara.

F. Kerangka Teori

1. Teori Hubungan Internasional

Hubungan Internasional (international relations) merupakan hubungan antar bangsa (politik, hukum, ekonomi, diplomasi). Politik dan hukum termaksud kedalam aspek yang domain. Untuk aspek politik, disebut sebagai aspek material, di mana yang terkandung didalamnya adalah kepentingan militer, ekonomi, dan kebudayaan. Sedangkan aspek hukum yang merupakan bentuk dari penyelesaian

(28)

prosedural dari berbagai macam kepentingan. Sehingga kepentingan tersebut dapat disimpulkan sebagai kepentingan politik. 15 Istilah hubungan internasional menurut K.J. Holsti merupakan hubungan interaksi antara masyarakat negara – negara, baik itu yan dilakukan oleh pemerintah maupun oleh negara – negara.

Hubungan interaksi ini merupakan kajian dari lembaga – lembaga internasional seperti misalnya Internasional Red Cross (IRC) . Ada 4 komponen yang merupakan keanggotaan internasionalisme. Yaitu : bangsa (nation), Negara (state), pemerintah (government) dan orang – orang (people).16

2. Bantuan Luar Negeri

Terdapat banyak komponen – komponen dalam hubungan internasional.

Dalam hal ini, peneliti akan menggunakan konsep bantuan luar negeri yang merupakan salah satu dari instrumen kebijakan luar negeri.

Bantuan Luar Negeri merupakan salah satu instrumen atau alat dari Kebijakan Luar Negeri. Bantuan luar negeri diperuntukan terutama pada negera – negara miskin. Bantuan luar negeri bertujuan mendukung perdamaian, keamanan, dan pembangunan global serta untuk kegiatan kemanusiaan pada saat mengalami bencana alam maupun buatan. Bantuan Luar negeri pertama kali dibentuk oleh Menteri Luar Negeri George Mashall untuk membantu kondisi Eropa setelah Perang Dunia II. Bantuan ini di kenal dengan Marshall Plan. Untuk meningkatkan bantuan luar negeri Amerika Serikat, Presiden Kennedy

15 P. Antanius Sitepu. 2011. Studi Hubungan Internasional. Yogyakarta: Graha Ilmu. hal. 20.

16Ibid., hal. 21.

(29)

menandatangani Undang – Undang Bantuan Luar Negeri dan menciptakan USAID (United State Agency for International Development) yang merupakan lembaga bantuan asing yang berfokus pada pembangunan global.17 Bantuan luar negeri merupakan suatu konsep yang rumit. Hal ini terkadang di anggap sebagai sebuah kebijakan, namun bukan hanya sebagai kebijakan tapi alat kebijakan.18

Empat tujuan utama dari Bantuan Luar Negeri : diplomatik, perkembangan, bantuan kemanusiaan, dan komersial. Tujuan diplomatik melibatkan keamanan internasional, politik internasional, dan menajemen hubungan antar pemerintah. Tujuan diplomatik biasanya digunakan untuk menutupi hubungan antara negara – negara seperti pembangunan, bantuan kemanusiaan, intervensi budaya, dan sebagainya.19 Bantuan asing merupakan instrumen dari kebijakan luar negeri Amerika Serikat dan merupakan kebijakan domestik Amerika Serikat. Tujuan dari bantuan luar negeri mengejar tujuan nasional atau lebih tepatnya kepentingan nasional (khususnya keamanan dan politik kepentingan). 20

Pengertian Bantuan Luar Negeri diartikan oleh sejumlah pakar. Robert Gilpin dalam bukunya “The Political Economy of International Relations”

mengartikan bantuan luar negeri adalah sejumlah dana yang disalurkan oleh

17 Forign Assistance. Diakses melalui http://foreignassistance.gov/ pada 16 Desember 2016.

18Ibid.,hal. 9.

19Ibid., hal. 13.

20 Carol Lancaster. 2008. George Bush’s Foreign Aid :Transformation or choas. Washington, D.C. :Center For Global Development. hal. 3.

https://books.google.co.id/books?id=hgq0WacI5EC&printsec=frontcover&dq=carol+lancaster&hl=id&sa=X

&redir_esc=y#v=onepage&q=carol%20lancaster&f=false

(30)

negara maju atau kaya kepada negara yang ekonominya lebih rendah atau miskin.21

K.J. Holsti, mengartikan bantuan luar negeri sebagai instrumen kebijakan yang digunakan dalam hubungan internasional yang dapat berupa transfer uang, jasa, teknologi, ataupun nasihat-nasihat teknis dari negara donor ke negara penerima22. Bantuan luar negeri merupakan salah satu instrumen dalam interaksi internasional melalui kebijakan luar negeri yang sering digunakan dalam hubungan luar negeri. Holsti juga mengemukakan bahwa ada 4 tipe utama bantuan luar negeri23

1. Technical assistance/bantuan teknis, bertujuan untuk mendukun proyek- proyek dalam skema yang berupa penyediaan tenaga ahli dan atau konsultan untuk melaksanakan suatu proyek atau kegiatan tertentu. Bantuan ini umumnya berupa studi untuk persiapan, apparsial ataupun monitoring proyek- proyek pengadaan barang dan jasa yang dibiayai pinjaman. Pihak pemberi dana menyediakan tenaga ahli dan membiayai seluruh kegiatan yang dilakukan tenaga ahli. Bantuan ini tidak perlu dibayar kembali namun dalam pelaksanaannya menuntut persyaratan yang dituangkan dalam kesepakatan,

, yaitu sebagai berikut:

2. Grants / hibah, dalam skema ini sama dengan pinjaman luar negeri untuk proyek pembangunan namun sumber dananya tidak perlu dikembalikan,

21K. J. Holsti. 1992. International Politics: A Framework for Analysis. Englewood Cliffs, New

Jersey:Prentice-Hall, Inc. hal 180 , dalam repository.unand.ac.id/21697/3/bab%201.pdfdiakses pada 21 Maret 2017.

22Ibid., hal. 192.

23Ibid., hal. 194-196.

(31)

3. Pinjaman pembangunan, yang merupakan bantuan keuangan yang diberikan untuk mendukung pembangunan yang berfokus pada pengentasan kemiskinan dalam jangka panjang, daripada respon jangka pendek.

4. Bantuan kemanusiaan, yang sifatnya lebih merupakan bantuan darurat.

Perwakilan negara donor umumnya memiliki alokasi dana khusus untuk bantuan-bantuan kemanusiaan.

Bantuan luar negeri (foreign aid) didefenisikan sebagai semua jenis bantuan yang dibeikan oleh atau lembaga donor berupa pinjaman atau hibah dengan persyaratan – persyaratan tertentu yang harus diikuti.24

Bantuan luar nrgeri digolongkan kedalam tiga jenis bantuan, yaitu :

Bantuan ini terbagi atas bantuan terbatas yaitu hanya berbentuk benda materil, dan bantuan yang berbentuk jasa.

25

1. Bantuan Program (Program Aid)

Bantuan program adalah bantuan berupa dxevisa yang diperlukan oleh masyarakat untuk menutup kekosongan neraca pembayaran. Bantuan program ini seperti bantuan pangan dan komoditi.

2. Bantuan Proyek (Project Aid)

Bantuan Proyek adalah bantuan bantuan yang diberikan berupa valuta asing yang ditukar ke dalam mata uang penerima dan diperuntukan untuk membiayai kegiatan proyek – proyek pembangunan baik dalam rangka rehabilitasi, pengadaan barang, atau peralatan dan jasa.

24John D. White. 1974. The Politics of Foreign Aid. London : The Bodley Head.Hal. 188. dalam repository.unand.ac.id/21697/3/bab%201.pdfdiakses pada 21 Februari 2017.

25Biro Perencanaan Departemen Perindustrian dan Perdagangan Republik Indonesia. 1999.Peluang dan Prosedur Pemanfaatan Bantuan Luar Negeri.hal. 4 . dalam repository.unand.ac.id/21697/3/bab%201.pdf diakses pada 21 Februari 2017.

(32)

3. Bantuan Teknis (Tecnical Assistance)

Bantuan yang diberikan berupa tenaga ahli, pelatihan dan peralatan.

Bantuan teknis lebih merujuk kepada bidang – bidang keahlian tertentu dan memindahkan keahlian para tenaga ahli internasional kepada tenaga ahli dalam negeri.

Konsep dari padanan hibah menurut Pincus adalah sejenis pemberian dari negara maju kepada negara kurang maju di mana tidak perlu membayar bunga atau melakukan pembayaran kembali pinjaman yang diberikan kepada negara maju dengan syarat lunak seperti sukubunga rendah, periode bebas pajak dan lain – lainnya.26

Hibah menurut peruntukan dan penyalurannya.27

1. Hibah untuk pemerintah (government to government)

Hibah yang ditujukan kepada proyek – proyek pemerintah dan umum yang dilaksanakan oleh instansi – instansi pemerintah. Seperti Komnas HAM

2. Hibah untuk non pemeritah (government to private)

Hibah yang diberikan langsung oleh pemerintah atau lembaga donor kepada lembaga – lembaga non pemerintah. Kelemahan dari hibah ini adalah ketika pemerintah dituntun untuk memberikan informasi mengenai pengelolahan

26 M. L. Jhingan. 1996. Ekonomi Pembangunan dan Perencanaan Cetakan Keenam. hal. 619.

27BAPPENAS. “Hibah Luar Negeri, APBN, dan Grant Trap” . hal 6-7 . Diakses melalui

http://bappenas.go.id/files/6313/5185/0724/kurniawan__20091015125220__2355__0.pdfpada 05 Januari 2017.

(33)

hibah, padahal hibah tersebut diserahkan sepenuhnya kepada lembaga atau organisasi penerima.

3. Trust fund dan partnership

Trust fund adalah suatu mekanisme di mana beberapa donor (umumnya bilateral) menyalurkan hibah melalui satu donor lembaga multiratera (internasional/regional) seperti UNDP atau Uni Eropa yang bertindak sebagai pengelola. Terkait dengan trust fund merupakan pola yang dikenal dengan partnership. Hal berbeda adalah dana atau tenaga ahli yang dipercaya untuk membiayai atau mendukung suatu kegiatan tertentu yang sudah dibiayai yang sudah disepakati bersama oleh para donor.

Grant Trap menggambarkan kondisi pengelolahan hibah luar negeri di Indonesia.

Terdapat tiga faktor yang dapat mendorong ke arah grant trap. 28

1. Sebagai salah satu sumber dana dengan tidak ada kewajiban untuk mengembalikan, menggiring pemikiran bahwa hibah adalah sumber pembiayaan cuma – cuma sehingga kebijakan untuk menggunakan hibah tanpa ada timbanagan dan manfaat penggunaan dana hibah yang pada akhirnya akan menghilangkan peluang proyek lain untuk dibiayai mengingat negara – negara dan lembaga – lembaga penyedia hibah memilih sektor – srktor prioritas dan indikator jumlahnya hanya 7 – 11 % dari jumlah seluruh pledge.

28Ibid., hal. 8- 10.

(34)

2. Hibah yang diberikan donor khususnya donor bilateral. Hibah yang sebagian besar akan berujung pada rekomendasi pengadaan proyek yang mengarah pada penggunaan barang – barang produksi, tenaga ahli, dan kontraktor negara donor. Hal ini tentu disertai dampak negatif sebab instansi pelaksana akan mengusulkan proyek tersebut untuk dibiayai dari pinjaman luar negeri yang tidak salalu bersifat lunak.

3. 18Faktor ketiga terkait mengenai kebijakan anggaran. Kebijakan pemerintah bahwa dana pendamping proyek pinjaman/hibah luar negeri merupakan prioritas dalam pengalokasian anggaran pembangunan.

Namun, pada kenyataan hibah yang diterima departemen/LPND tidak berkorelasi positif dengan besarnya alokasi dan rupiah.

G. Metodologi Penelitian

Metode penelitian deskriptif merupakan suatu cara yang digunakan untuk memecahkan masalah pada masa sekarang berdasarkan fakta data-data yang ada.

Metode penelitian kualitatif, Creswell mendefenisikan sebagai suatu pendekatan dalam memahami suatu gejala sentral. Untuk memahami suatu gejala sentral, maka diperlukan wawancara terhadap peserta peneliti dengan pernyataan yang umum dan lugas. Informasi yang diterima tersebut biasanya dituangkan didalam kata – kata atau teks. Data yang berupa kata – kata atau teks tersebut kemudian dianalisis. Serta hasil analisi tersebut berupa penggambaran atau deskripsi atau

(35)

dapat pula dalam bentuk tema – tema.29

Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Metode penelitian kualitatif merupakan prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis maupun lisan dari orang- orang dan prilaku yang diamati.

Tujuan dari penelitian deskriptif ialah membuat deskripsi ataupun lukisan atau gambaran mengenai fakta, sifat ataupun fenomena yang diselidiki.

30

1. Lokasi Penelitian

pendekatan kualitatif diatas menjelaskan bahwa untuk memperoleh data, peneliti turun kelapangan untuk melakukan wawancara terhadap aktivitas dari objek yang diteliti serta dari dokumentasi-dokumentasi yang ada sebagai pelengkap data yang dibutuhkan. Penelitian ini dimaksudkan untuk menganalisi skema pengalihan hutang untuk lingkungan di kawasan Batang Toru, Kab. Tapanuli Utara.

Lokasi penelitian yang dijadikan sebagai sumber penelitian yaitu Kota Jakarta, Kota Medan,dan Kabupaten Tapanuli Utara, Kabupaten Langkat.

2. Teknik Pengumpulan Data

Dalam pengumpulan data dan informasi yang dibutuhan sebagai sumber penelitian maka penulis melakukan teknik pengumpulan data primer dan sekunder. Teknik pengumpulan data tersebut, yaitu :

29 J.R Raco. 2010. Metode penelitian kualitatif . Cikarang:Grasindo. hal. 7.

30Lexy J. Moleong .2000. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung : Remaja Rosdakarya. hal. 5.

(36)

a. Data Primer, yaitu data yang diperoleh dari objek atau lokasi penelitian.

Perolehan data primer dalam hal ini dilakukan dengan cara wawancara.

Wawancara adalah alat pengumpul data berupa tanya jawab antara pihak pencari informasi dengan sumber yang berlangsung secara lisan31

1. Direktur TFCA

. Adapun yang menjadi informan pada penelitian ini adalah:

2. Direktur Yayasan Kanekaragaman Hayati 3. Conservation International

4. Perkumpulan Prakarsa Pengembangan Partisipasi untuk Rakyat (Petra) sebagai Lembaga Swadaya Masyarakatpengelola kawasan batang toru.

5. Orangutan Information Centre (OIC) sebagai Lembaga Swadaya Masyarakat pengelola Taman Nasional Gunung Leuser

6. Kepala Dusun Simajambu, Desa Simajambu Jae, Kec.

Simangumban , Kab. Tapanuli Utara.

7. Kepala Desa Halaban, Kab. Langkat.

b. Data Sekunder

Disamping data sekunder, penulis juga melakukan metode library research atau studi pustaka. Metode Library reseach (studi pustaka) yakni dengan cara pengumpulan data dengan menghimpun buku-buku, makalah- makalah dan dokumen-dokumen serta sarana informasi lainnya yang tentu saja

31 Hadari Nawawi. 1987. Metodologi Penelitian Bidang Sosial. Yogyakarta : Gajah Mada University Press.

hal. 98.

(37)

berhubungan dengan masalah-masalah penelitian ini.32

3. Teknik Analisa Data

Adapun data sekunder yang dibutuhkan adalah dokumen – dokumen atau laporan – laporan resmi mengenai pengalihan hutang Indonesia kepada Amerika Serikat untuk Lingkungan, lembaga – lembaga yang berperan dalam pengalihan hutang, serta data mengenai program TFCA yang sudah berjalan dan dampaknya terhadap hutan khususnya Sumatera Utara.

Penelitian ini meggunakan analisis deskriptif yaitu, setelah data terkumpul maka diklasifikasikan sesuai dengan masalah yang dibahas, dianalisis isinya (content Analysis) dan dibandingkan dengan data yang satu dengan yang lainnya kemudian di interpretasikan dan akhirnya diberi kesimpulan.33

32Ibid., hal. 30.

33 Sumdi Surya Brata. 1992. Metode penelitian ilmiah.. Jakarta: Rajawali pers. hal. 87.

Analisa data kualitatif memberikan hasil penelitian untuk memperoleh gambaran terhadap proses yang diteliti dan juga menganalisis makna yang ada dibalik informasi data dan proses tersebut. Analisis data dilakukan secara deskriptif berdasarkan data- data primer maupun sekunder yang selanjutnya akan ditarik kesimpulan sesuai dengan permasalahan yang telah dirumuskan.

(38)

H. Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan merupakan penjabaran rencana penulisan agar proses penyusunan karya ilmiah lebih mudah dan terarah. Maka peulis membagi sistematika penulisan agar mendapat gambaran yang jelas dan terperinci kedalam 4 (empat) bab.

Adapun sistematika penulisan skripsi adalah sebagai berikut : BAB I : PENDAHULUAN

Pada Bab I terdiri dari Latar Belakang Masalah, Rumusan Masalah, Tujuan Penelitian, Kerangka Teori, Metodologi Penelitian dan Sistematika Penulisan.

BAB II: TINJAUAN UMUM TROPICAL FOREST CONSERVATION ACTION – SUMATERA (TFCA - SUMATERA)

Dalam Bab II terdiri dari gambaran umum program Tropical Forest Conservation Action – Sumatera (TFCA - Sumatera), penyaluran bantuan luar negeri berupa dana hibah kepada 13 kawasan di Sumatera, lembaga penerima dana hibah.

Gambaran umum kawasan Sumatera Utara dalam program TFCA – Sumatera.

BAB III: ANALISIS IMPLEMENTASI BANTUAN LUAR NEGERI AMERIKA SERIKAT DALAM BENTUK HIBAH KEPADA INDONESIA UNTUK KONSERVASI HUTAN PROGRAM TFCA DI KAWASAN SUMATERA UTARA

Pada bab III ini peneliti akan menyajikan hasil penelitian mengenai analisis implementasi bantuan luar negeri Amerika Serikat melalui Program TFCA di kawasan yang berada di Provinsi Sumatera Utara. Kemudian, analisis dampak

(39)

yang timbul setelah adanya program TFCA tersebut di Kawasan yang berada di Sumatera Utara ( 2 Kawasan sebagai laporan penelitian).

BAB IV : PENUTUP

Pada bab IV ini berisi kesimpulan yang diperoleh dari hasil pembahasan pada bab-bab sebelumnya. Pada bab ini juga akan terjawab pertanyaan apa yang dilihat dalam penelitian yang dilakuakan serta berisi saran-saran, baik yang bermanfaat bagi penulis secara pribadi maupun lembaga-lembaga yang terkait.

(40)

BAB II

TINJAUAN UMUM TROPICAL FOREST CONSERVATION ACTION FOR SUMATERA

A. Tropical Forest Conservation Action

Pulau Sumatera merupakan salah satu dari 34 wilayah di dunia yang memiliki keanekaragaman hayati yang luar biasa. Adanya sejarah pembentukan dan perkembangan geologi menjadikan Sumatera memiliki variasi topografi yang beragam dengan berbagai tipe ekosistem flora dan fauna yang hidup di dalamnya menjadikan Sumatera memiliki ciri khas tersendiri dibandingkan wilayah Indonesia lainnya. Habitat beragam flora dan fauna yang khas seperti Orangutan, Badak Sumatera, Mentok Rimba, bunga Raflesia dan lainnya telah terancam punah karena berbagai hal seperti laju deforestasi yang tinggi, tutupan hutan yang semakin sedikit dan lainnya. Upaya perlindungan dan penyelamatan keanekaragaman hayati telah dilakukan oleh Pemerintah Indonesia untuk pengelolahan kawasan konservasi. Pemerintah telah menetapkan 134 unit kawasan konservasi di Pulau Sumatera dengan total keseluruhan 5.742.196,17 ha.

Tidak hanya melalui dana Pemerintah, bantuan juga datang dari donor Internasionl baik melalui kerjasama bilateral, kerjasama multilateral ataupun bantuan dari lembaga – lembaga non pemerintah baik nasional maupun internasional. Pemerintah dan dunia internasional menyadari bahwa perlu diselamatkannya kawasan hutan tropis kawasan bernilai penting

(41)

Tropical Forest Conservation Action for Sumatera (TFCA - Sumatera) atau yang disebut sebagai aksi nyatakonservasi hutan tropis Sumatera merupakan perjanjian pengalihan hutang Indonesia kepada Amerika Serikat untuk lingkungan Indonesia. Perjanjian pengalihan hutang Indonesia kepada Amerika Serikat melibatkan dua Lembaga Swadaya Masyarakat sebagai partner swap, yaitu Yayasan KEHATI dan Conservation International. Kesepakatan pengalihan hutang untuk lingkungan Indonesia ditandatangani pada tanggal 30 Juni 2009 bertempat di Manggala Wanabhakti, Jakarta.34Amerika Serikat sepakat untuk menghapus hutang luar negeri Indonesia sebanyak hampir 30 juta dolar AS yang termaksud didalamnya US$ 20 juta hutang pokok ditambah US$ 10 juta bunga hutang selama delapan tahun. Program TFCA – Sumatera, mulai beroperasi pada tahun 2010.35

Kesepakatan yang merupakan pengalihan hutang ini terlaksana karena melibatkan dua LSM sebagai mitra pelaksana kegiatan. Yaitu, Conservation International dan Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia yang masing – masing telah berkontribusi sebesar US$1 Juta sehingga program ini juga disebut sebagai subsidized debt for nature swap. Skema ini merupakan pengalihan hutang untuk lingkungan terbesar yang pernah dilakukan oleh Indonesia. 36

34 TFCA SUMATERA. “Sejarah TFCA” diakses melalui

Skema pengalihan hutang ini berasal dari kebijakan Undang – Undang Konservasi Hutan Tropis (Tropical Forest Conservation Act - TFCA) tahun 1998 yang menjadi

http://tfcasumatera.org/tentang-tfca/ pada 15 Februari 2017.

35Jatna Supriatna. 2015. TFCA – Sumatera Rencana Strategi 2015 – 2020. Jakarta : KEHATI. hal. 15.

36TFCA SUMATERA. “Sejarah TFCA” . Loc. Cit.

(42)

dasar pengurangan hutang luar negeri bagi negara – negara yang memiliki kekayaan hutan tropis yang tinggi bagi Negara Amerika Serikat.37 Indonesia merupakan negara ke 15 yang menandatangi Pakta UU Perlindungan Hutan Tropis, setelah Bangladesh, Belize, Botswana, Colombia,Costa Rica, El Salvador, Guatemala, Jamaica, Panama (dua kesepakatan), Paraguay, Peru (dua kesepakatan) dan Filipina.38

Pemerintah Amerika Serikat dan Pemerintah Indonesia pada tanggal 29 September 2014 telah menandatangani amandemen perjanjian pengalihan utang untuk lingkungan (debt for nature swap agreement) dibawah U.S. Tropical Forest Conservation Act (TFCA) tahun 1998 yang menjadi dasar pengurangan kembali pembayaran utang Indonesia kepada Amerika Serikat selama tujuh tahun berikutnya sebesar $12.6 juta.39

Untuk mendukung konservasi hutan sumatera, TFCA membuka peluang bagi Lembaga – Lembaga Swadaya Mayarakat yang bergerak dalam bidang Konservasi, Hutan, Orangutan dan sejenisnya untuk mengajukan proposal untuk mendapatkan hibah dari program TFCA. Adapun tujuan utama dari TFCA – Sumatera adalah :40

37Ibid.

38Dinas Kehutanan . “Hutan Indonesia Potensial untuk Pengalihan Hutang” . Diakses melalui

http://www.dishut.jabarprov.go.id/index.php?mod=detilBerita&idMenuKiri=334&idBerita=897 pada 20 Desember 2016.

39Jatna Supriatna., Loc. Cit. Hal. iv.

40Administrator TFCA – Sumatera. 2014. Undangan untuk menyampaikan proposl hibah khusus program fasilitas mitra TFCA – Sumatera. Hal. 7. Diakses melalui http://documentslide.com/documents/aksi-nyata- konservasi-hutan-tropis-sumatera.html# pada 17 fEbruari 2017.

(43)

1. Terpeliharanya ekosistem – ekosistem hutan pada tingka bentang alam melalui berbagai intervensi seperti perlindungan, pemeliharaan, perluasan, dan lainnya.

2. Terpeliharanya habitat hidupan liar

3. Peningkatan kapasitas manajerial, teknis, ilmiah bagi penggiat konservasi 4. Meningkatnya popilasi spesies kunci

5. Riset dan identifikasi kegunaan dan penggunaan medis bagi penyembuhan penyatit dan kesehatan

6. Meningkatkan taraf hidup masyarakat sekitaran hutan.

Program TFCA – Sumatera diarahkan untuk dapat mencapai – tujuan – tujuan utama dengan dampak yang nyata pada konservasi hutan di Pulau Sumatera. Sehingga , Visi dan Misi TFCA – Sumatera sesuai dengan Strategi Rencana TFCA Sumatera 2015 – 2020, Jatna Supriatna (2015: 34) yaitu :

“Konservasi Keanekaragaman Hayati HutanTropis Demi Mendukung Pembangunan YangBerkelanjutan Di Sumatera” MisiSejalan dengan Forest Conservation Agreement, misi dariTFCA-Sumatera adalah untuk “Fasilitasi kegiatan konservasi,perlindungan, restorasi, dan pemanfaatan hutan tropis yangberkelanjutan di Sumatera.”

(44)

Pengalihan hutang ini melibatkan LSM yang memberikan dana untuk mengurangi atau menghapus sejumlah hutang negara debitur. Ada tiga kesepakatan hukum untuk debt for nature swap.41

1. Kesepakatan pengurangan hutang antara Pemerintahan Amerika Serikat dan negara debitur

2. Kesepakatan pengalihan biaya antara Pemerintah Amerika Serikat dan LSM donatur untuk mengalihkan dana swata kepada Pemerintah Amerika Serikat

3. Kesepakatan pelestarian hutan antara negra debitur dan LSM donatur dengan membentuk pengawasan dan cara – cara pelaksanaannya.

Program ini dikelolah oleh suatu badan yang bernama Oversight Committee (OC) atau Badan Pengawas yang terdiri dari anggota tetap yaitu Pemerintah Indonesia yang diwakili oleh Kementrian Lingkugan Hidup dan Kehutanan, Pemerintah Amerika Serikat yang diwakili oleh USAID serta dua swap partners yaitu CI dan KEHATI. Anggota tidak tetap saat ini adalah Transparency International Indonesia, Indonesia Business Link dan Universitas Syiah Kuala. Oversign Committee merupakan lembaga tertinggi dalam pengelolaan dan hibah yang dalam pelaksanaan harian dibantu oleh Administrator

41Ibid.

(45)

dan merangkap sebagai Sekretariat OC (KEHATI). 42

a. Anggota Tetap (Permanent Members)

Berikut mengenai penjabaran anggota Oversign Committe adalah :

1. Pemerintah Republik Indonesia – Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan

Anggota tetap perwakilan dari Indonesia untuk Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutan (menlhk)adalah Novianto Bambang Wawandono. Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutan (menlhk) dahulunya adalah Kementria Kehutanan (Kemenhut) yang mempunyai tugas dan fungsi dibidang lingkungan hidup dan hutan untuk membantu Presiden dalam pemerintahan negara. Dalam melaksanakan tugas, Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menyelenggarakan fungsi, yaitu : perumusan dan penetapan kebijakan dibidang lingkungan hidup dan kehutanan, pengelolaan konservasi sumber daya alam dan kosistemnya, peningkatan daya dukung aliran sungai dan hutan, serta hal – hal yang berhubungan dengan lingkungan hidup dan kehutanan.43

2. Pemerintah Amerika Serikat – USAID

United States Agency for International Defelopment (USAID) adalah sebuah lembaga pemerintahan federal yang bersidat independen. USAID. USAID merupakan badan Pemerintah Amerika Serikat yang bekerja untuk mengakhiri

42TFCA SUMATERA. “Sejarah TFCA” . Loc. Cit.

43Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. “Profil” diakses melalui http://www.menlhk.go.id/profil- kami.html pada 20 Maret 2017.

(46)

kemiskinan global yang ekstrim serta mempromosikan masyarakat demokrasi.

Tujuan dari USAID adalah untuk memajukan negara – negara berkembang.

USAID menerima panduan kebijakan bantuan dari Sekretaris Negara (Kepala Departemen Luar Negeri Amerika Serikat).44. USAID tersebar di negara – negara Afrika, Asia, Eropa Timur, Eropa Tengah, Amerika Latin, Karibia, Timur tengah dan negara – negara yang pernah bergabung dengan Uni Soviet.45 Adapun misi dari USAID adalah bermitra untuk mengakhiri kemiskinan, memajukan keamanan dan kemakmuran untuk masyarakat demokrasi46. Tujuan – tujuan USAID secara detail adalah:47

1. Penguatan pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan pekerjaan 2. Memperkuat demokrasi dan tata pemerintah yang baik

3. Melindungi hak asasi manusia 4. Meningkatkan kesehatan global

5. Memajukan keamanan pangan dan pertanian 6. Meningkatkan kelestarian lingkungan

44Bappenas. 2012. Pengembangan Kerangka Dialog Kerjasama Bilateral dalam Rangka Optimalisasi

Sumber Pendanaan Luar Negeri Bilateral. hal 39 - 40. Diakses melalui

http://pendanaan.bappenas.go.id/index.php?option=com_rubberdoc&view=doc&id=122&format=raw&Itemi d=45 pada 25 Februari 2017.

45Lisa Aulia. 2015. “Kepentingan Amerika Serikat Dalam Proyek Ifacs (Indonesia Forest And Climate Support) melalui Program Usaid (United States Agency For International Development) di Indonesia”. hal. 6.

Diakses melalui

http://download.portalgaruda.org/article.php?article=349506&val=6444&title=KEPENTINGAN%20AMERI KA%20SERIKAT%20DALAM%20PROYEK%20IFACS%20(INDONESIA%20FOREST%20AND%20CL IMATE%20SUPPORT)%20MELALUI%20PROGRAM%20USAID%20(UNITED%20STATES%20AGEN CY%20FOR%20INTERNATIONAL%20DEVELOPMENT)%20DI%20INDONESIA. pada 18 Februari 2017.

46USAID. “Mission, vision, and value” diakses melalui https://www.usaid.gov/who-we-are/mission-vision- values pada 19 Februari 2017.

47USAID. “Who we are” diakses melalui https://www.usaid.gov/who-we-are pada 19 Februari 2017.

(47)

7. Memajukan pendidikan lebih lanjut

8. Bantuan bencana alam ataupun buatan manusia 9. Pemulihan konflik kemanusiaan

USAID pada lingkungan hidup Lingkungan dan Perubahan Iklim Global telah mendukung penyusunan dan pelaksanaan kebijakan lingkungan, hukum, dan peraturan untuk melindungi lingkungan dan mendorong pengelolaan sumber daya secara berkelanjutan. Setiap negara sangat bergantung kepada alam disekitarnya seperti hutan, sungai, terumbu karang dan ekosistem lainnya. USAID membantu masyarakat untuk mngelola dan memanfaatkan sumber daya alam yang kita punya. Melindungi keanekaragaman hayati, memerangi deforestasi serta melakukan penanaman hutan. Pada tahun 2010, USAID setidaknya telah membantu 930.000 orang di seluruh dunia dalam kegiatan pengelolahan seumber daya alam dan konsevasi berkelanjutan. Dari tahun 2010 – 2016 telah berhasil membantu lebih dari 5 juta orang untuk dapat mengakses dan menggunakan informasi iklim dan cuaca untuk memprediksi dan mempersiapkan diri untuk menanggulangi resiko lingkungan.48 Heather D’ Agnes merupakan orang yang dipercaya sebagai perwakilan USAID dalam program TFCA – Sumatera.

48USAID “Enviroment and Global Clime Change”. Diakses melalui https://www.usaid.gov/what-we- do/environment-and-global-climate-change pada 18 Februari 2017.

(48)

3. Conservation International (CI)

Conservation International sejak tahun 1987 telah bekerja untuk meingkatkan kesejahteraan manusia melalui pemelihaaan alam. CI telah bekerja dengan lebih dari 2000 mitra di 30 negara. Hampir 30 tahun CI telah bekerja untuk melindungi alam. CI telah membantu mendukung 1.200 kawasan lindung dan intervensi di 77 negara, menjaga lebih dari 601 juta hektar lahan, laut, dan pesisir. Aspek terpenting CI adalah sebuah pendekat yang sangat sederhana namun transformatif yaitu49

4. Yayasan Keanekaragaman Hayati (KEHATI)

“we don’t focus on one sector or one issue. And we’re not interested in short-term fixes. Instead, building upon a foundation of science, partnership and field work, we find global solutions to global problems”

(Conservation International :2017 ). Jatna Supriatna merupakan perwakilan dari CI yang dipercaya untuk mengelolah TFCA – Sumatera

Erna Witoelar adalah orang yang dipercaya dari Yayasan KEHATI.

Yayasan KEHATI merupakan perwujudan dari pelaksanaan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Bumi di Rio de Janneiro tahun 1992 dan Deklarasi Tokyo tahun 1993 yang dipimpin oleh tiga negara yaitu Amerika Serikat, Indonesia dan Jepang yang sepakat untuk membantu program pelestarian keanekaragaman hayati berkelanjutan di Indonesia. Bantuan KEHATI dapat berbentuk dana hibah, tenaga ahli, konsultasi dan berbagai bentuk fasilitas bagi kegiatan yang sejalan dengan

49Conservation International. Diakses melaliui http://www.conservation.org/about/Pages/default.aspx pada 26 Maret 2017.

(49)

program KEHATI. KEHATI bertindak sebagai katalisator untuk menemukan cara – cara inovatif dalam mengelola, melestarikan dan memanfaatkan keanekaragaman hayati Indonesia secara berkelanjutan.50

b. Angggota Tidak Tetap : (Designated Members) 1. Transparency International (TI)

Anggota Tidak Tetep Oversign Committee Rezki Sri Wibowo.

Transparency International (TI) merupakan organisasi sipil global yang bergerak dalam perlawanan korupsi. Misi TI adalah menciptakan perubahan menuju dunia bebas dari korupsi. Didirikan tahun 1993, TI telah meningkatkan kehidupan jutaan manusia di seluruh dunia dengan membangun mometum bagi gerakan anti korupsi.51Transparency International Indonesia (TII) merupakan salah satu chapter Transparency International yang merupakan jaringan global NGO (Non Government) antikorupsi yang mempromosikan transparansi dan akuntabilitas kepada lembaga – lembaga negara, partai politik, bisnis dan masyarakat sipil.

Sebagai gerakan sosial, TII aktif terlibat dalam berbagai koalisi dan inisiatif gerakan antikorupsi di Indonesia.52

50KEHATI “Sejarah Yayasan KEHATI”http://www.kehati.or.id/tentang-kami/

51Transparency International. “Profil Transparency International” diakses melalui http://www.ti.or.id/index.php/profile/ti-indonesia pada 25 Maret 2017.

52Ibid.

(50)

2. Universitas Syiah Kuala

Universitas Syiah Kuala atau yang sering disebut dengan Unsyiah merupakan salah satu perguruan tinggi negeri yang ada di Sumatera tepatnya di Aceh. Perguruan tinggi negeri ini berdiri pada tanggal 2 September 1961.

Darusman Rusin merupakan perwakilan dari Universitas Syah Kuala sebagai anggota tidak tetap Oversign Committee.53

3. Indonesia Business Link

Indonesia Business Link (IBL) yayasan non profit yang bergerak dalam menangani krisis ekonomi Indonesia tahun 1998. Organisasi ini bergerak untuk menciptakan suara dan etika bisnis praktik di Indonesia. pada tanggal 9 Desember 1999 di Jakarta, IBL diresmikan oleh Duta Besar Inggris. Sejak pada tahun itu, IBL aktif mempromosikan praktek bisnis yang etis dengan mengorganisir lokakarya atau pembangunan kapasitas program usaha kecil dan menengah. IBL berkomitmen untuk meberikan pengetahuan mengenai CSR () kepada perusahaan dan pemangku kepentingan lainnya di Indonesia.54

Oversight Committee pada pelaksanaannya KEHATI bertindak sebagai administrator. Oversight Committee yang beranggotakan 7 anggota dari lembaga - lembaga yang berbeda sepakat menandatangani perjanjian untuk mempercayai

Tuti Hadiputranto merupakan perwakilan dari IBL.

53Universitas Syah Kuala. . “Universitas Syah Kuala” diakses melalui http://www.unsyiah.ac.id/ pada 23 Maret 2017.

54Indonesia Business Links. “About Us” http://www.ibl.or.id/en/profile/about-us

(51)

HSBC Bank of Singapore yang bertindak sebagai perwakilan dana (trustee).55Dalam plaksanaannya, Oversight Committee mendukung sepenuhnya Administrator TFCA – Sumatera dalam menjalankan program TFCA – Sumatera.

OC akan menjalankan peranannya untuk mengawasi perkembangan implementasi kegiatan dan kesigapan dalam mempertahankan akuntabilitas.56

Program TFCA – Sumateramemiliki 6 prioritas program, yaitu :57

1. Penetapan, restorasi, perlindungan, dan pemeliharaan kawasan konservasi dan kawasan lindung lainnya

2. Pengembnagan dan implementasi pengelolaan sumber daya alam yang berbasisimiah

3. Program training untuk meningkatkan kapasitas keilmuan 4. Restorasi

5. Penelitian dan identifikasi tanaman obat untuk menanggulangi penyakit manusia.

6. Pengembangan dan mendukung kehidupan masyarakat disekitar hutan.

OC dan Administrator akan menyalurkan dana hibah kepada lembaga – lembaga yang memenuhi syarat untuk aksi konservasi di Sumatera. Dimulai dari tahun pertama program TFCA – Sumatera 2010.Untuk lebih memahami mengenai TFCA – Sumatera, Perhatikanlah gambar dibawah ini :

55Jatna Supriatna., Loc. Cit .hal. iii.

56Ibid.

57TFCA – Sumatera. “Prioritas Program “ diakses melalui http://tfcasumatera.org/prioritas-program/ pada 23 Maret 2017.

Gambar

Tabel 1: Hutang Pemerintah dan Swasta (1983-2001)
Tabel 4: Prioritas Kerjasama Indonesia – Amerika Serikat

Referensi

Dokumen terkait