• Tidak ada hasil yang ditemukan

PEMBAHASAN DAN HASIL PENELITIAN

A. Konstruk Kepemimpinan

A.1. Kepemimpinan Transformasional

Kepemimpinan transformasional adalah kemampuan pemimpin mengubah lingkungan kerja, motivasi kerja, dan pola kerja, dan nilai-nilai kerja yang dipersepsikan bawahan sehingga mereka lebih mampu mengoptimalkan kinerja untuk mencapai tujuan organisasi (Bolden, R., dkk, 2003). Konstruk kepemimpinan transformasi cenderung dilaksanakan di semua rumah sakit, kecuali di RSUD Dr. Pirngadi Medan, karena pimpinan rumah sakit sudah mengintegrasikan, karisma, ide-ide, motivasi inspirasional, stimulasi intelektual yang dikembangkan dalam pendekatan-pendekatan watak (trait), gaya (style) pimpinan (Bolden, R., dkk, 2003).

Pada saat penelitian ini di RSUD Dr. Pirngadi Medan terjadi 2 kali pergantian pimpinan secara beruntun, pimpinan yang terahir dirangkap oleh kepala dinas kesehatan Kota Medan, karena kesibukan beliau sebagai pimpinan, beliau jarang atau tidak selalu datang ke rumah sakit, sehingga pola kepemimpinan beralih menjadi kepemimpinan laissez faire.

A.2. Kepemimpinan Transaksional

Pemimpin transaksional pada hakikatnya menekankan kewajiban melalui

reward dan punishment untuk mencapai tujuan organisasi, memotivasi bawahan

melakukan tanggung jawab dengan mengandalkan pada sistem pemberian penghargaan dan hukuman kepada bawahannya (Burns dalam Golding, A.A, 2003).

Kepemimpinan transaksional di RS Bhayangkara dan Rumkit Dam II/BB Medan cenderung dilaksanakan bersama dengan gaya transformasional, hal ini

dimungkinkan terjadi karena spesifikasi dalam pelayanan HIV/AIDS. Responden merasa bahwa pimpinan unit kerja HIV/AIDS menekankan punishment dalam melaksanakan pelayanan.

Unsur pernyataan bahwa pimpinan menerapkan pengawasan yang ketat dalam pelayanan dan pernyataan pimpinan melaksanakan koreksi dan intervensi setiap saat, dimungkinkan karena pelayanan HIV/AIDS memungkinkan terjadi resiko terpajan dalam bekerja seperti diungkapkan informan berikut:

“Pengawasan di pelayanan HIV/AIDS sangat diperlukan tetapi bukan pengawasan yang ketat dalam pengertian harus apel pagi, siang, seperti layaknya pegawai negeri sipil. Pengawasan yang ketat dalam konteks manajemen risiko dimulai dengan identifikasi keadaan yaitu kegiatan mengindentifikasi tempat kerja yang mungkin menyebabkan pekerja terpajan HIV atau infeksi oportunistik. Cara mengindentifikasi adalah dengan melaksanakan pengawasan yang ketat terhadap pelaksanaan Protap indentifikasi potensi bahaya. Protap tersebut adalah: Prosedur pekerja pelayanan melapor potensi bahaya, prosedur meevaluasi laporan apakah telah terpajan atau tidak dan protap survei tempat kerja, cara kerja”.

Dari uraian tersebut hal ini berarti pimpinan di lingkungan unit pelayanan HIV/AIDS tidak melaksanakan proses transaksional dan pertukaran berdasarkan pertimbangan ekonomi yang melandasi gaya kepemimpinan transaksional, namun pimpinan unit menetapkan sejumlah aturan untuk ditaati, menetapkan pengawasan yang ketat, melakukan intervensi dan koreksi setiap saat menghindari resiko terpajan. A.3. Gaya Kepemimpinan Laissez Faire

Kepemimpinan laissez faire memilih peran yang pasif, bersikap permisif dengan prinsip setiap anggota organisasi boleh bertindak sesuai dengan hati

Henckle, 2004). Dalam penelitian ini ternyata terdapat dua rumah sakit yang menggunakannya yaitu RSUD Dr. Pirngadi Medan dan RSUP H. Adam Malik Medan.

Di RSUD Dr. Pirngadi Medan unsur memberikan wewenang secara penuh kepada Koordinator VCT dan CST, unsur putusan cukup diambil oleh Koordinator VCT dan CST, tidak mencampuri proses pelayanan di pelayanan HIV/AIDS, di RSUD Dr. Pirngadi terjadi karena Direktur tetap belum terpilih pada saat penelitian dan masih dijabat rangkap oleh kepala dinas Kota Medan sedangkan di RSUP H. Adam Malik Medan, wewenang penuh diberikan kepada karyawan di pelayanan HIV/AIDS karena sampai saat ini kepala unit kerja belum ditentukan oleh Direktur Utama.

A.4. Gaya Kepemimpinan di Lingkungan Rumah Sakit

Salah satu tujuan strategi nasional penanggulangan HIV/AIDS adalah menyediakan dan meningkatkan mutu pelayanan perawatan, pengobatan dan dukungan kepada penderita HIV/AIDS. Pimpinan tertinggi di rumah sakit menyiapkan fasilitas dan pelayanan tes yang bisa mendeteksi infeksi HIV, menetapkan tarif pelayanan, mencari lembaga swadaya masyarakat dalam dan luar negeri untuk mendukung pendanaan pelayanan, sedangkan pimpinan lapangan mengkordinasikan kegiatan penegakan diagnosa, pengobatan, nasihat dan informasi beserta dampaknya.

Dalam rangka menyiapkan infrastuktur pelayanan HIV/AIDS, pemimpin mempunyai gaya kepemimpinan khas yang disebut dengan konstruk kepemimpinan

yang karakteristik terdapat di lingkungan RSU Rujukan, adapun uraiannya yang didapat dalam penelitian ini sebagai berikut.

Anggota organisasi membutuhkan “idola” yang digambarkan secara instan mempunyai wibawa bagai seorang raja. Hal ini bisa dipahami karena faktor budaya terutama budaya batak sangat menjunjung tinggi arti raja, mereka menggambarkan raja tidak tertarik melaksanakan perilaku yang tidak terpuji terutama menyangkut masalah materi.

Banyaknya dukungan yang menyatakan peduli tentang pelayanan HIV, namun dukungan tersebut hanya di bibir saja tetapi tindakan belum terlihat sehingga informan merasa perlu pimpinan lebih berwibawa dengan menggunakan bantuan supra natural, sehingga semua pihak mempunyai komitmen untuk memerangi penyakit HIV.

Pada saat ini menjadi pimpinan menurut informan harus senantiasa mampu mempertahankan jabatan dengan segala cara, hal ini terutama sering terjadi di rumah sakit daerah. Upaya untuk memepertahankannya antara lain dengan cara: a). Pimpinan harus mampu menyelamatkan diri (jabatan) dengan pintar berpolitik, mengerti kemauan pemilik rumah sakit, b). Mencari dukungan dengan menempatkan atau mengusulkan kedudukan orang-orang yang terdekatnya di sekitar organisasi. Hal ini menurut informan timbul karena adanya issu yang sudah menjadi rahasia umum bahwa terpilihnya seseorang menjadi pejabat karena faktor-faktor kedekatan dengan atasan, c). Selalu meminta restu minta dukungan dari atasan, d). Didukung oleh pihak

Meningkatkan semangat kerja karyawan informan merasa bahwa pimpinan perlu melakukan hal berikut: a). Memberi perhatian dengan memberi pujian di tempat umum dibutuhkan informan karena mengurangi dampak rasa “risih” dalam pergaulan sesama karyawan, b). Mampu mencari dana sebab saat ini bantuan pelayanan HIV berasal dari Global Fund. Ada kekhawatiran jika suatu saat dana diberhentikan, maka pelayanan akan sangat terganggu, c). Beradaptasi dengan budaya dan adat lokal seperti ikut pesta.

Dokumen terkait