• Tidak ada hasil yang ditemukan

Konstruktivisme psikologis personal

Dalam dokumen BAB I PENGANTAR PSIKOLOGI BELAJAR (Halaman 34-37)

D. Konstruktivisme Piaget

1. Konstruktivisme psikologis personal

Konstruktivisme psikologis dimulai dari karya Piaget mengenai bagaimana seorang anak membangun pengetahuan kognitifnya. Piaget menyebut dirinya sendiri epistemolog genetik. Epistemologi genetik menjelaskan pengetahuan dengan melihat sejarah pembentukannya dan khususnya dasar psikologis dari pengertian dan operasi yang digunakan dalarn mendapatkan pengetahuan itu. Tetapi juga tetap memperhatikan formalisasi logis yang digunakan dalam struktur pemikiran serta transformasi pemikiran dari satu taraf ke taraf yang berikutnya dalam perkembangan pemikiran manusia. Dengan kata lain, epistemologi genetik menggunakan psikologi sebagai dasar penjelasan pembentukan dan perkembangan pengetahuan seseorang. Dalam teori pengetahuan Piaget, psikologi mengambil peranan penting dalam analisa.

Epistemologi genetik memikirkan pengetahuan dan validitas pengetahuan itu. Epistemologi harus bersifat interdisipliner karena menyangkut soal fakta dan validitas. Bila hanya menekankan soal validitas epistemologi akan menjadi logika saja. Bila hanya memperhatikan soal fakta, epistemologi akan menjadi psikologi belaka. Jadi, perlu ada kerja sama antara keduanya. Model pendekatan inilah yang digunakan Piaget dalam

epistemologi genetiknya. Yang juga menarik dari metode Piaget adalah bahwa dia membatasi epistemologinya agar tidak terlalu menjadi general. Dia membatasi diri dengan persoalan yang positif seperti bagaimana pengetahuan itu berkembang dari taraf seorang anak dan bagaimana seorang anak mulai mengerti sesuatu, membentuk pengetahuannya, dan mengembangkannya. Karena itu, Piaget tidak bicara soal “pengetahuan manusia” secara umum, melainkan secara nyata “bagaimana pengetahuan seorang anak berkembang”. Itulah sebabnya banyak penelitiannya dilakukan dalam lingkup anak.

Konstruktivisme psikologis bercabang dua, yaitu: a) yang lebih personal, individual, dan subjektif seperti Piaget dan pengikut-pengikutnya; b) yang lebih sosial seperti Vygotsky (socioculturaiism). Piaget menekankan aktivitas individual dalam pembentukan pengetahuan, sedangkan Vygotsky menekankan pentingnya masyarakat bahasa.

Piaget menyoroti bagaimana seorang anak pelan-pelan membentuk skema, mengembangkan skema, dan mengubah skema. Ia lebih menekankan bagaimana individu sendiri mengkonstruksi pengetahuan dari berinteraksi dengan pengalaman dan objek yang dihadapi. Ia menekankan bagaimana seorang anak mengadakan abstraksi, baik secara sederhana maupun secara refleksi, dalam membentuk pengetahuan fisis dan matematisnya. Tampak bahwa tekanan perhatian Piaget lebih pada keaktifan individu dalam membentuk pengetahuan. Bagi Piaget, pengetahuan lebih dibentuk oleh si anak itu sendiri yang sedang belajar.

Memang Piaget juga bicara soal pengaruh lingkungan sosial terhadap perkembangan pemikiran anak, tetapi tidak secara jelas memberikan model bagaimana hal itu terjadi. Bagi Piaget, dalam taraf-taraf perkembangan kognitif yang lebih rendah (sensori-motor dan pra-operasional), pengaruh lingkungan sosial lebih dipahami oleh anak sebagai sarana dengan objek-objek yang sedang diamati anak. Anak belum dapat menangkap ide-ide dari masyarakatnya. Baru pada taraf perkembangan yang lebih tinggi (operasional konkret, terlebih operasional formal), pengaruh lingkungan sosial menjadi lebih jelas. Dalam taraf ini, bertukar gagasan dengan teman-teman, mendiskusikan bersama pendirian masing-masing, dan mengambil konsensus sosial sudah lebih dimungkinkan. Namun, tekanan Piaget memang lebih pada pembentukan pengetahuan anak secara individual.

2. Sosiokulturalisme

Vygotsky juga mulai meneliti pembentukan dan perkembangan pengetahuan anak secara psikologis. Namun Vygotsky lebih memfokuskan perhatian kepada hubungan dialektik antara individu dan masyarakat dalam pembentukan pengetahuan tersebut. Dia memperhatikan akibat interaksi sosial, terlebih bahasa dan budaya pada proses belajar anak. Menurut Vygotsky, belajar merupakan suatu perkembangan pengertian. Dia membedakan adanya dua pengertian, yang spontan dan yang ilmiah. Pengertian spontan adalah pengertian yang didapatkan dari pengalaman anak sehari-hari.

Pengertian ini tidak terdefinisikan dan terangkai secara sistematis logis. Pengertian ilmiah adalah pengertian yang didapat dari kelas. Pengertian ini adalah pengertian formal yang terdefinisikan secara logis dalam suatu sistem yang lebih luas. Dalam proses belajar terjadi perkembangan dari pengertian yang spontan ke yang lebih ilmiah.

Menurut Vygotsky, pengertian ilmiah itu tidak datang dalam bentuk yang jadi pada seorang anak. Pengertian itu mengalami perkembangan. Ini tergantung kepada tingkat kemampuan anak untuk menangkap suatu model pengertian yang lebih ilmiah. Dalam proses belajar, kedua pengertian tersebut saling berelasi dan saling mempengaruhi. Pengertian ilmiah seakan bekerja ke bawah, yaitu menekankan logika kepada pikiran anak, sehingga pengertian yang spontan diangkat atau dianalisis secara lebih ilmiah. Sedangkan pengertian spontan seakan bekerja ke atas, yaitu berusaha bertemu dengan pengertian yang lebih ilmiah dan membiarkan diri menerima segi logis formal dari pengertian ilmiah tersebut. Dengan demikian semakin seseorang belajar, ia akan semakin mengangkat pengertiannya menjadi pengertian yang ilmiah.

Vygotsky menggunakan istilah “zo-ped” yaitu suatu wilayah tempat bertemu antara pengertian spontan anak dengan pengertian sistematis logis orang dewasa. Wilayah ini berbeda dari setiap anak dan ini menunjukkan kemampuan anak dalam menangkap logika dari pengertian ilmiah.

Dalam meneliti bahasa anak-anak, Piaget menyimpulkan bahwa bahasa anak adalah egosentris sifatnya. Mereka berbicara keras kepada diri sendiri, daripada kepada orang lain. Menurut Vygostky, bahasa merupakan aspek sosial sejak awalnya. Menurutnya, pembicaraan egosentrik adalah permulaan dari pembentukan inner speech (kemampuan bicara yang pokok) yang akan digunakan sebagai alat dalam berpikir. Menurut Vygostky, inner speech berperan dalam pembentukan pengertian spontan. Pengertian spontan mempunyai dua segi, yaitu: suatu pengertian dalam dirinya sendiri dan pengertian untuk yang lain. Pengertian yang terakhir ini menjelaskan pengertian yang diletakkan dalam pembicaraan untuk dapat berkomunikasi dengan orang lain. Dua pengertian itu membentuk ketegangan dialektik sejak awal. Anak terus berusaha untuk mengungkapkan pengertian mereka dengan simbol yang sesuai untuk berkomunikasi dengan orang lain.

ltulah sebabnya Vygotsky menekankan pentingnya interaksi sosial dengan orang-orang lain terlebih yang punya pengetahuan lebih baik dan sistem yang secara kultural telah berkembang dengan baik. Ia menekankan dialog dan komunikasi verbal dengan orang dewasa dalam perkembangan pengertian anak. Dalam interaksi verbal dengan “orang dewasa”, anak ditantang untuk lebih mengerti pengertian ilmiah dan mengembangkan pengertian spontan mereka. ltulah sebabnya banyak implikasi pendidikan yang membuat siswa berpartisipasi dalam aktivitas para ahli. Dalam interaksi dengan mereka itulah, para siswa ditantang untuk mengkonstruksikan pengetahuannya lebih sesuai dengan konstruksi para ahli.

praktek-praktek kultural dan sosial dalam lingkungan pelajar. Menurut para sosiokulturalis, aktivitas mengerti selalu dipengaruhi oleh partisipasi seseorang dalam praktek-praktek sosial dan kultural yang ada, yaitu: situasi sekolah, masyarakat, teman, dll. Misalnya Minick mempertanyakan apakah belajar matematika itu proses pembentukan pengertian yang aktif atau proses inkulturasi dalam suatu praktek masyarakat. Bagi Minick, sosiokulturalisme meneliti seseorang dalam kegiatan sosialnya. Mereka menerapkan partisipasi individu dalam praktek dan kegiatan yang diorganisasikan secara kultural, misalnya dalam interaksi di kelas.

Cobern menyatakan bahwa konstruktivisme bersifat kontekstual. Siswa selalu membentuk pengetahuan mereka dalam situasi dan konteks yang khusus. Misalnya, dalam situasi tekanan udara yang rendah seseorang akan menemukan bahwa titik didih air berlainan dengan situasi tekanan udara sangat tinggi. Dalam situasi masyarakat yang berbeda, pengertian tentang kesehatan pun dapat berbeda.

Cukup lama dirasakan seperti ada konflik antara sosiokulturalisme dan konstruktivisme kognitif personal. Ada perdebatan tentang apakah pikiran itu terletak di kepala seseorang yang sedang berpikir atau dalam pribadi seseorang yang sedang berinteraksi dengan lingkungan dan situasi sekitarnya, apakah belajar itu merupakan suatu proses pengaturan kognitif seseorang sendiri atau lebih merupakan proses inkulturasi dalam masyarakat. Apakah proses konstruksi pengetahuan terjadi secara pribadi atau lebih bersifat sosial-kultural? Menurut Cobb, kedua perspektif itu sama-sama mengimplikasikan pentingnya keaktifan siswa dalam belajar, hanya saja yang satu lebih menekankan pentingnya keaktifan individu, sedangkan yang lain lebih menekankan pentingnya lingkungan sosial-kultural. Sehubungan dengan pendidikan matematika, Cobb menyarankan agar konstruktivisme personal dikombinasikan dengan perspektif sosiokultural. Bagi Cobb, dua perpektif itu saling melengkapi, yaitu bahwa belajar matematika harus dilihat sebagai baik suatu proses pembentukan individual yang aktif dan proses inkulturasi dalam praktek masyarakat matematika yang lebih luas.

Sesungguhnya seorang dilahirkan dalam suatu lingkungan sosial dan kultural di mana semua objek dan kejadian yang ditemukan mempunyai arti yang khusus yang juga dikonstruksikan. Melalui interaksi dengan unsur-unsur yang hidup dan yang tidak hidup dalam lingkungan semua cara belajar berlangsung secara sosial. Dengan cara seperti itu, dalam pengetahuan ada komponen sosial dan tidak dapat dilihat sebagai konstruksi individual melulu. Karena tidak mungkin seseorang memisahkan unsur-unsur sosiokultural dari apa yang ia ketahui, konstruktivisme tidak dapat dipikirkan sebagai suatu keyakinan yang lepas dari unsur sosial dan kultural. Oleh karena itu, studi tentang belajar dan mengajar perlu juga memperhatikan segi sosial dalam pembentukan arti.

Dalam dokumen BAB I PENGANTAR PSIKOLOGI BELAJAR (Halaman 34-37)