• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II STUDI KEPUSTAKAAN

2.2 Landasan Teori

2.2.6 Konteks Ekstralinguistik

2.2.6 Konteks Ekstralinguistik

Dalam buku Berkenalan dengan Ilmu Bahasa Pragmatik (Rahardi, 2003:18) menyatakan konteks situasi tuturan yang dimaksud menunjuk pada aneka macam kemungkinan latar belakang pengetahuan (background knowledge) yang muncul dan dimiliki bersama-sama baik oleh si penutur maupun oleh mitra tutur, serta aspek-aspek non-kebahasaan lainnya yang menyertai, mewadahi, serta melatarbelakangi hadirnya sebuah penuturan tertentu. Maka dengan mendasarkan pada gagasan Leech tersebut, Wijana (1996) dengan tegas menyatakan bahwa konteks yang semacam itu dapat disebut juga konteks situasi pertuturan (speech situational context).

Konteks situasi penuturan menurut Geoffrey N. Leech sebagaimana dikutip oleh Wijana (1996:10) seperti yang dikatakan di depan, dapat mencakup aspek-aspek luar kebahasaan seperti berikut ini: (1) Penutur dan lawan tutur, (2) Konteks tuturan, (3) Tujuan tuturan, (4) Tuturan sebagai bentuk tindakan atau aktivitas, (5) Tuturan sebagai produk tindak verbal.

1. Penutur dan Lawan Tutur

Konsep penutur dan lawan tutur ini juga mencakup penulis dan pembaca bila tuturan bersangkutan dikomunikasikan dengan media tulisan. Aspek-aspek yang berkaitan dengan penutur dan lawan tutur ini adalah usia, latar belakang sosial ekonomi, jenis kelamin, tingkat keakraban, dsb (Wijana, 1996:10). Rahardi (2003:19) menambahkan bahwa aspek-aspek yang mesti dicermati pada diri penutur maupun mitra tutur di antaranya adalah jenis kelamin, umur, daerah asal, dan latar belakang keluarga serta latar belakang sosial-budaya lainnya yang dimungkinkan akan menjadi penentu hadirnya makna sebuah tuturan. Dari kedua pendapat para ahli di atas, maka dapat disimpulkan bahwa penutur dan lawan tutur dalam berkomunkasi tidak terlepas oleh latar belakang sosial ekonomi, jenis kelamin, dan tingkat keakraban. Walau tidak menutup kemungkinan dapat juga aktivitas komunikasi tidak terikat dari tingkat ekonomi, jenis kelamin, dan tingkat keakraban. Tergantung situasi tuturan pada saat itu.

2. Konteks Tuturan

Konteks tuturan penelitian linguistik adalah konteks dalam semua aspek fisik atau seting sosial yang relevan dari tuturan bersangkutan. Konteks bersifat fisik lazim disebut koteks, sedangkan konteks seting sosial disebut konteks. Dalam pragmatik konteks itu pada hakikatnya adalah semua latar belakang pengetahuan (background knowledge) yang dipahami bersama oleh penutur dan lawan tutur (Wijana, 1996:11). Wijana menekankan bahwa konteks tuturan dipengaruhi oleh latar belakang pengetahuan. Maksudnya, latar belakang pengetahuan memegaruhi kelancaran sebuah komunikasi.

Adapun Rahardi (2003:20) menambahkan dengan menyatakan konteks tuturan dapat pula diartikan sebagai semua latar belakang pengetahuan (background knowledge) yang diasumsikan bersama-sama dimiliki dan dipahami bersama oleh penutur dan mitra tutur, serta yang mendukung interpretasi mitra tutur atas apa yang dimaksudkan oleh si penutur itu dalam keseluruhan proses bertutur. Geoffrey N. Leech (1983) dalam Rahardi (2003:20) telah menyatakan pandangannya sebagai berikut. “I shall consider context to be any background knowledge assumed to be shared by S dan H and which contributes to H’s interpretation of what S means by a given utterance.” Pengetahuan dan pemahaman jati dirinya adalah semua latar belakang pengetahuan yang sama-sama dimiliki oleh pelibat pertuturan, jelas-jelas akan dapat membantu para pelibat pertuturan itu untuk menafsirkan kandungan pesan atau maksud yang hendak disampaikan di dalam setiap pertuturan. Maksud dari pendapat Rahardi adalah kelancaran dalam interpretasi dari sebuah tuturan baik dari penutur kepada mitra tutur maupun mitra tutur kepada penutur, dipengaruhi oleh latar belakang pengetahuan masing-masing.

Mey dalam Nadar (2009) dan Cummings (2005) dikutip oleh Ida Bagus (2014:94) mengemukakan bahwa konteks adalah situasi lingkungan dalam arti luas yang memungkinkan peserta pertuturan untuk dapat berinteraksi, dan yang membuat ujaran mereka dapat di pahami. Maksud dari pendapat Mey adalah bahwa konteks merupakan aspek penting bagi penutur dan mitra tutur dalam berinteraksi untuk membantu pemahaman terhadap ujaran masing-masing.

Kridalaksana bertolak dari Leech (1991) dalam Ida Bagus (2014:94) menyatakan bahwa konteks adalah sebagai latar belakang pemahaman yang dimiliki oleh penutur maupun lawan tutur sehingga lawan tutur dapat membuat interpretasi mengenai apa yang dimaksud oleh penutur pada waktu membuat tuturan tertentu. Kridalaksana (1983:103) mengatakan makna adalah maksud pembicara atau pengaruh satuan bahasa dalam pemahaman, hubungan, dalam arti kesepadanan dan ketidaksepadanan, antara bahasa dan alam luar bahasa atau antara ujaran dan semua hal yang ditujunya. Inti dari pendapat Kridalaksana ini adalah alam luar bahasa yang disebut konteks ekstralinguistik. Pendapat Kridalaksana sangat jelas bahwa konteks mendukung sesorang dalam memahami makna dari sebuah tuturan. Alwasilah (1993) dalam Ida Bagus (2014:85) juga berpendapat bahwa ujaran bersifat context dependent (tergantung konteks). Hal tersebut berarti konteks merupakan syarat utama dalam memahami makna tuturan. Ida Bagus (2014:85) juga menyatakan bahwa ujaran atau tindak tutur sangat tergantung dengan konteks ketika penutur bertutur. Tuturan-tuturan baru dapat dimengerti hanya dalam kaitannya dengan kegiatan yang menjadi konteks dan tempat itu terjadi.

Berdasarkan pengertian dari konteks tuturan di atas, dapat disimpulkan bahwa konteks tuturan adalah salah satu aspek yang mendukung pemahaman atau penangkapan maksud dari sebuah tindak tutur antara penutur dan mitra tutur dengan melihat latar belakang yang melatari peristiwa tutur antara penutur dan mitra tutur.

3. Tujuan Tuturan

Bentuk-bentuk tuturan yang diutarakan oleh penutur dilatarbelakangi oleh maksud dan tujuan tertentu. Dalam hubungan ini bentuk-bentuk tuturan yang bermacam-macam dapat digunakan untuk menyatakan maksud yang sama. Atau sebaliknya, berbagai macam maksud dapat diutarakan dengan tuturan yang sama. Di dalam pragmatik berbicara merupakan aktivitas yang berorientasi pada tujuan (goal oriented activities) (Wijana, 1996:11). Berdasarkan pendapat Wijana, Rahardi (2003:21) menambahkan dengan menyatakan ihwal tujuan tutur berkaitan sangat erat dengan bentuk-bentuk tuturan yang digunakan seseorang. Dikatakan demikian, pada dasarnya tuturan dari seseorang akan dapat muncul karena dilatarbelakangi oleh maksud dan tujuan tutur yang sudah jelas dan amat tertentu sifatnya. Berdasarkan pendapat Wijana dan Rahardi menekankan pada sebuah maksud. Adanya sebuah tuturan pasti dilatarbelakangi oleh maksud dari tuturan tersebut. Berdasarkan pendapat kedua ahli tersebut, dapat disimpulkan bahwa tujuan tuturan adalah buah atau produk akhir dari sebuah tuturan yang didasari oleh maksud. Tidak mungkin seseorang bertutur tanpa adanya tujuan dan tujuannya pun bermacam-macam.

4. Tuturan sebagai Bentuk Tindakan

Tuturan sebagai bentuk tindakan atau aktivitas bila gramatika menangani unsur-unsur kebahasaan sebagai entitas yang abstrak, seperti kalimat dalam studi sintaksis, proposisi dalam studi semantik. Pragmatik berhubungan dengan tindak verbal (verbal act) yang terjadi dalam situasi tertentu dalam hubungan ini pragmatik menangani bahasa dalam tingkatannya yang lebih kongkret

dibandingkan dengan tata bahasa. Tuturan sebagai entitas yang kongkret jelas penutur dan lawan tuturnya, serta waktu dan tempat pengutaraannya (Wijana, 1996:12). Rahardi (2003:21) menambahkan bahwa tuturan sebagai bentuk tindakan atau wujud dari sebuah aktivitas linguistik, merupakan bidang pokok yang dikaji di dalam ilmu bahasa pragmatik. Karena pragmatik mempelajari tindak verbal yang sungguh-sungguh terdapat dalam situasi dan suasana pertuturan tertentu, dapat dikatakan bahwa sesungguhnya yang dibicarakan di dalam ilmu bahasa pragmatik bersifat konkret-aktual. Berdasarkan pendapat kedua ahli tersebut, dapat disimpulkan bahwa sebuah tuturan menghasilkan tindakan atau sebuah tuturan merupakan bentuk tindakan karena ketika seorang penutur dan lawan tutur dalam bertutur pasti menghasilkan tindakan, baik secara suara, mimik, dan gaya tubuh.

5. Tuturan sebagai Produk Tindak Verbal

Tuturan yang digunakan dalam rangka pragmatik seperti yang dikemukakan dalam kriteria keempat merupakan bentuk dari tindak tutur. Oleh karenannya, tuturan yang dihasilkan merupakan bentuk dari tindak verbal (Wijana, 1996:12). Berdasarkan pendapat Wijana tersebut, Rahardi (2003:22) menambahkan bahwa tuturan dapat dipandang sebagai produk tindak verbal di dalam aktivitas bertutur sapa. Dapat dikatakan demikian karena pada dasarnya tuturan yang muncul di dalam sebuah proses penuturan itu adalah hasil atau produk dari tindakan verbal dari para pelibat tuturnya, dengan berbagai macam pertimbangan konteks situasi sosial-kultural dan aneka macam kendala konteks yang melingkupi, mewarnai, dan mewadahinya.

Bertolak dari pendapat kedua ahli di atas tersebut, dapat disimpulkan bahwa tuturan sebagai produk tindak verbal seperti memerintah, menyuruh, memperingatkan, memberitahu, menyindir, dan menyarankan. Adanya tindak verbal, penutur dan mitra tutur telah melakukan selayaknya aktivitas berkomunikasi.

Dokumen terkait