BAB II STUDI KEPUSTAKAAN
2.2 Landasan Teori
2.2.5 Konteks Intralinguistik
Adapun konteks linguistik yang akan menjadi bahan yang mendukung penelitian ini adalah pilihan kata dan gaya bahasa. Adapun penjelasan mengenai pilihan kata dan gaya bahasa dapat dilihat di bawah ini.
2.2.5.1Pilihan Kata
Gorys Keraf (1984:22) menyatakan bahwa pilihan kata atau diksi jauh lebih luas dari apa yang dipantulkan oleh jalinan kata-kata itu. Istilah ini bukan saja dipergunakan untuk menyatakan kata-kata mana yang dipakai untuk mengungkapkan suatu ide atau gagasan, tetapi juga meliputi persoalan fraseologi, gaya bahasa, dan ungkapan. Fraseologi mencakup persoalan kata-kata dalam pengelompokan atau susunannya, atau yang menyangkut cara-cara yang khusus berbentuk ungkapan-ungkapan. Gaya bahasa sebagai bagian dari diksi bertalian dengan ungkapan-ungkapan yang individual atau karateristik, atau yang memiliki nilai artistik yang tinggi.
Gorys Keraf (1984:22) juga mengungkapkan bahwa suatu kekhilafan yang besar untuk menganggap bahwa persoalan pilihan kata adalah persoalan yang sederhana, persoalan yang tidak perlu dibicarakan atau dipelajari karena akan terjadi dengan sendirinya secara wajar pada setiap manusia. Dalam kehidupan sehari-hari kita berjumpa dengan orang-orang yang sulit sekali mengungkapkan
maksudnya dan sangat miskin variasi bahasanya. Namun, terkadang juga kita berjumpa dengan orang-orang yang sangat boros dan mewah mengobralkan perbendaharaan katanya dan tidak ada isi yang tersirat di balik kata-kata itu.
Dengan demikian, tiap anggota masyarakat harus mengetahui bagaimana pentingnya peranan kata dalam komunikasi sehari-hari. Selain itu, masyarakat juga harus memiliki kosa kata yang luas. Masyarakat yang memiliki kosa kata yang luas maka akan memiliki kemampuan yang tinggi untuk memilih setepat-tepatnya kata mana yang paling harmonis untuk memwakili maksud atau gagasannya.
Gorys Keraf memberi tiga kesimpulan mengenai pilihan kata (diksi). Pertama, pilihan kata atau diksi mencakup pengertian kata-kata mana yang dipakai untuk menyampaikan suatu gagasan, bagaimana membentuk pengelompokan kata-kata yang tepat atau menggunakan ungkapan-ungkapan yang tepat, dan gaya mana yang paling baik digunakan dalam suatu situasi. Kedua, pilihan kata atau diksi adalah kemampuan untuk membedakan secara tepat nuansa-nuansa makna dari gagasan yang ingin disampaikan, dan kemampuan menemukan bentuk yang sesuai (cocok) dengan situasi dan nilai rasa yang dimiliki kelompok masyarakat pendengar. Ketiga, pilihan kata yang tepat dan sesuai hanya dimungkinkan oleh penguasaan sejumlah besar kosa kata atau perbendaharaan kata bahasa itu.
Berdasarkan pendapat Gorys Keraf di atas, dapat disimpulkan bahwa pilihan kata atau diksi adalah kemampuan dalam memilih kata, membedakan nuansa-nuansa makna dan menemukan bentuk yang sesuai dengan situasi, dan
kemampuan sejumlah besar dalam penguasaan kosa kata seseorang dalam berkomunikasi.
2.2.5.2Gaya Bahasa
Beranjak dari pilihan kata atau diksi yang telah dipaparkan di atas maka perlu juga memaparkan gaya bahasa dalam penelitian „Jenis-jenis Tindak Tutur dan Makna Pragmatiknya atas Sabda-sabda Yesus dalam Injil Santo Lukas. Namun, tidak semua gaya bahasa dipaparkan oleh peneliti karena yang dipaparkan hanya yang ada kaitannya dengan penelitian. Adapun pemaparan gaya bahasa tersebut sebagai berikut.
Sudaryat dan Natasasmita dalam buku yang berjudul Ringkasan Bahasa dan Sastra Indonesia (hlm. 135) mengatakan bahwa gaya bahasa adalah pemakaian kata-kata kiasan dan perbandingan yang tepat untuk melukiskan sesuatu maksud untuk membentuk plastik bahasa. Yang dimaksud dengan plastik bahasa ialah daya cipta pengarang dalam membuat cipta sastra dengan mengemukakan pemilihan kata yang tepat memungkinkan “tenaga” yang sesuai dengan buah pikiran dan perasaan yang terkandung dalam karya itu.
Adapun Sudaryat dan Natasasmita memaparkan empat gaya bahasa, yaitu gaya bahasa perbandingan, gaya bahasa penegasan, gaya bahasa pertentangan, dan gaya bahasa sindiran. Gaya bahasa perbandingan meliputi: (1) Metafora adalah gaya bahasa perbandingan dengan memperbandingkan suatu benda dengan benda yang lain karena mempunyai sifat yang sama atau hampir sama. Contoh: Raja siang telah pergi ke peraduannya (=matahari). (2) Litotes adalah gaya bahasa perbandingan yang melukiskan keadaan sesuatu dengan kata-kata yang
berlawanan artinya dengan kenyataan yang sebenarnya guna meredahkan diri. Contoh: Datanglah ke gubuk orang tuaku. (3) Antonomasia adalah gaya bahasa perbandingan dengan menyebutkan nama lain terhadap seseorang yang sesuai dengan sifat orang tersebut. Contoh; Si Pincang itu kini telah tiada.
Gaya bahasa penegasan meliputi: (1) Gaya bahasa retoris adalah gaya bahasa penegasan dengan mempergunakan yang sebenarnya tidak memerlukan jawaban. Contoh: Mana mungkin orang mati hidup kembali? (2) Gaya bahasa repetsi adalah gaya bahasa penegasan dengan mengulang sepatah kata berkali-kali dalam kalimat yang lain dan biasanya dipergunakan oleh ahli pidato. Contoh: Cinta adalah keindahan. Cinta adalah kebahagiaan. Cinta adalah pengorbanan. Gaya bahasa pertentangan meliputi: Paradoks adalah gaya bahasa pertentangan yang hanya kelihatan pada arti kata yang berlawanan, padahal maksud sesungguhnya tidak karena obyeknya berlainan. Contoh: Hatinya sunyi tinggal di kota Jakarta yang ramai ini. Gaya bahasa sindiran meliputi: (1) Ironi adalah gaya bahasa sindiran yang menyatakan sebaliknya dengan maksud menyindir. Contoh: merdu benar suaramu, hingga terbangun aku.
Sementara itu, Tarigan (1984:195) menambahkan salah satu gaya bahasa perbandingan, yaitu perumpamaan. Gaya bahasa perumpamaan menurut Tarigan adalah gaya bahasa perbandingan dua hal yang pada hakikatnya berlainan dan yang sengaja kita anggap sama. Contoh: Seperti air di daun keladi. Selain itu, Tarigan juga menambahkan salah satu gaya bahasa pertautan, yaitu elipsis. Gaya bahasa elipsis menurut Tarigan adalah gaya bahasa yang di dalamnya dilaksanakan pembuangan atau penghilangan kata atau kata-kata yang memenuhi
bentuk kalimat berdasarkan tata bahasa. Contoh: Dia dan istrinya ke Jakarta minggu lalu (Penghilangan predikat: pergi, berangkat).
Adapun Ratna (2013:171) memaparkan salah satu gaya bahasa perbandingan simbol. Gaya bahasa simbol menurut Ratna adalah (Symballein, Yunani) berarti memasukkan, mencampurkan, dan membandingkan secara bersama-sama, sehingga terjadi analogi antara benda dengan objeknya. Oleh karena itulah, Ratna mengutip pendapat Wellek dan Warren (1989) mengatakan bahwa pada dasarnya simbol mengandung unsur kata kerja. Simbol bunga mawar, pakaian warna hitam, di samping bunga mawar itu sendiri, dengan warnannya yang cerah dan baunya yang harum, juga menunjuk seseorang gadis remaja, wanita cantik sebagai idaman banyak pemuda. Demikian juga pakaian hitam, di samping warnanya gelap, yang lebih penting adalah maknanya sebagai tanda berduka cita. Baik bunga mawar dan gadis remaja maupun warna hitam dan suasana berduka cita memasukan makna secara bersama-sama ke dalam sistem simbol, sehingga salah satu mewakili yang lain.
Sementara itu, Waridah (2014:26) menambahkan salah satu gaya bahasa penegasan, yaitu gaya bahasa ekslamasio. Gaya bahasa ekslamasio adalah gaya bahasa yang menggunakan kata seru. Contoh: “Amboi indah sekali pantai ini!” Adapun Haryanta (2012:19) menambahkan salah satu gaya bahasa sindiran, yaitu antifrasis. Gaya bahasa antifrasis adalah gaya bahasa sindiran yang menggunakan kata-kata yang bermakna kebalikannya dan bernada ironis.
Berdasarkan paparan gaya bahasa di atas, dapat disimpulkan bahwa gaya bahasa merupakan warna, cara, seseorang dalam berkomunikasi. Warna
dimaksudkan memberi warna pada aktivitas berkomunikasi. Sementara itu, cara berkomunikasi juga demikian, yaitu seorang penutur dan mitra tutur memiliki cara masing-masing dalam melakukan aktivitas komunikasi. Baik warna maupun cara terutama yang berkaitan dengan gaya bahasa, penggunaannya tergantung siapa penuturnya dan lawan tuturnya dan tidak terlepas pula dari konteks situasi tuturan yang diciptakan oleh penutur dan mitra tutur pada saat berinteraksi.