BAB II TINJAUAN KEPUSTAKAAN
2.12. Penatalaksanaan
Target terapi pada glaukoma sudut terbuka berbeda pada setiap individu.
Karena sensitivitas masing-masing pasien terhadap TIO berbeda-beda, maka menurunkan TIO hingga batas normal saja tidaklah cukup. Untuk mengobati pasien glaukoma, penentuan kapan dan bagaimana pengobatannya sangat penting.
Ada tiga aspek yang perlu diperhatikan oleh seorang dokter ketika mengobati seorang pasien glaukoma yaitu ekspektasi hidup pasien, tingkat keparahan penyakitnya ketika pasien datang dan progresivitas penyakit yang mungkin dialami pasien. Tujuan penatalaksanaan glaukoma adalah untuk mempertahankan
mencegah kerusakan lebih lanjut dari nervus optikus. Untuk itu, biasanya pasien penderita glaukoma ditargetkan untuk menurunkan tekanan bola matanya sekitar 30-50% dari TIO sebelum pengobatan. Penatalaksanaan pasien glaukoma terdiri dari pemberian medikamentosa dan tindakan pembedahan. Medikamentosa biasanya diberikan pada awal terapi, sedangkan pembedahan dilakukan bila medikamentosa tidak memberikan hasil yang diinginkan.7,14,49
Penanganan Non Bedah
Pengobatan non bedah menggunakan obat-obatan yang berfungsi menurunkan produksi maupun sekresi dari humor akuos.
a. -adrenregik bloker (selektif dan non-selektif)
-adrenregik bloker topikal dapat digunakan sendiri ataupun dikombinasikan dengan obat lain. Obat ini menurunkan tekanan intraokular dengan menginhibisi produksi siklik adenosin monofosfat (cAMP) pada epitel siliaris, sehingga menurunkan sekresi cairan akuos humor. Obat ini sering diresepkan untuk digunakan pada pagi hari.1,5 Sebelum diresepkan, penting ditanyakan kepada pasien apakah pasien memiliki gangguan pernafasan seperti asma, karena -bloker dapat menyebabkan bronkospasme pada pasien yang memiliki riwayat asma.
Adapun beberapa efek samping yang immungkin timbul adalah letargi, depresi, pusing, alergi bahkan sinkop.7,14
b. -adrenergik agonis
Obat adrenergik agonis yang diberikan pada pasien glaukoma adalah epinefrin dan dipivefrin, berfungsi untuk meningkatkan outflow trabekular dan uveoskleral. Akan tetapi, kedua obat ini sudah jarang digunakan dan diganti dengan apracolidine yang berfungsi untuk mengurangi produksi cairan akuos humor tanpa mempengaruhi outflow. Selain itu, brimonidine juga sering menjadi pilihan terapi tetapi obat ini lebih sering memunculkan reaksi alergi pada pasien.7,14
c. Carbonic Anhydrase Inhibitor
CAIs mengurangi produksi cairan akuos humor dengan menghambat aktivitas pada epitel siliraris. Enzim karbonik anhidrase terdapat pada beberapa jaringan seperti endotelium kornea, iris, epitel retina, sel darah merah, ginjal dan otak. Lebih dari 90 persen aktivitas karbonik anhidrase dihambat untuk mengurangi produksi akuos humor dan menurunkan tekanan intraokular.7
Contoh sediaan CAIs adalah dorzolamide dan brinzolamide, dapat diberikan secara oral atau topikal. Efek samping yang mungkin muncul adalah penglihatan yang kabur, miopia dan parasthesia.7,14,50
d. Agen Parasimpatomimetik
Parasimpatomimetik, atau miotik, adalah pengobatan yang sudah diberikan pada glaukoma selama 100 tahun terakhir. Agen ini mengurangi tekanan intraokular dengan kontraksi otot siliaris, yang nantinya agak mempererat trabecular meshwork sehingga meningkatkan outflow akuos humor. Pilocarpin adalah obat golongan parasimpatomimetik yang sering digunakan. Efek sampingnya adalah miosis, pseudomiopia dan paling serius adalah retinal detachment.7,14,50
e. Prostaglandin Analog
Mekanisme pasti bagaiman obat golongan ini meningkatkan outflow akuos humor tidak jelas, tetapi penggunaan obat ini berkaitan dengan peningkatan ruang antara fasikel otot pada korpus siliaris, diduga meningkatkan outflow uveoskleral.7
Obat golongan ini adalah obat lini pertama yang paling direkomendasikan dalam penatalaksanaan glaukoma. Efek samping yang mungkin muncul ada hiperpigmentasi iris, pertumbuhan bulu mata yang cepat, reaktivasi uveitis, herpes keratitis dan makular edema pada individu yang rentan.1,5,15 f. Agen hiperosmotik
Obat golongan ini berperan dalam mengurangi volume vitreous. Contoh obat golongan ini adalah gliseril (gliserol). Efek samping yang mungkin
timbul adalah hiperglikemia, ketidakseimbangan elektrolit, dehidrasi, chest pain dan koma.7,14,50
Penanganan Bedah dan Laser
Laser Trabeculoplasty
Indikasi dari tatalaksana ini adalah pasien glaukoma dengan toleransi maksimum terhadap terapi medis dan dengan pemeriksaan gonoiskopi diperlukan tindakan secepatnya untuk menurunkan tekanan intraokular.7,14
Trabekulektomi
Trabekulektomi merupakan prosedur yang paling sering digunakan untuk membuat celah atau jalan pintas dari mekanisme drainase normal sehingga terbentuk akses langsung akuos humor dari COA ke jaringan subkonjungtiva/subtenon dan orbita. Dianggap sebagai gold standard dibandingkan tindakan bedah terbaru pada glaukoma. Flap sclera dapat memberikan resistensi dan membatasi keluarnya akuos humor sehingga dapat mencegah terjadinya hipotoni, bilik mata depan yang dangkal sampai datar, katarak, efusi koroid serosa, dan hemoragik, edema makula serta edema papil saraf optik. Prosedur ini bertujuan untuk menurunkan TIO yang tidak terkontrol sehingga mencapai target pressure yang diharapkan.8,14
Penyulit utama trabekulektomi adalah kegagalan bleb akibat fibrosis jaringan episklera. Hal ini lebih mudah terjadi pada pasien berusia muda, pasien berkulit hitam, dan pasien yang pernah menjalani bedah drainase glaukoma atau tindakan bedah lain yang melibatkan episklera.
Terapi adjuvan dengan anti metabolit misalnya 5-fluorouracil dan mitomycin C berguna untuk memperkecil resiko kegagalan bleb.7,49
2.13 Hubungan Kontrasepsi Oral dengan Terjadinya Glaukoma
Siklus menstruasi atau siklus uterus adalah rangkaian perubahan siklus yang ditunjukkan oleh sistem reproduksi wanita untuk durasi rata-rata 28 hari, yang biasanya bervariasi antar individu. Hal ini dipengaruhi
oleh hormon seks steroid Estrogen, Progesteron, FSH dan LH. Hormon-hormon ini juga dilaporkan memiliki peran dalam proses penyakit mata pada wanita.51
Hormon seks wanita dilaporkan memiliki pengaruh pada TIO.
Reseptor estrogen dan progesteron ditemukan pada sel ganglion di retina dan sel epitel siliar ditemukan untuk memetabolisme estrogen, progesteron dan androgen. Subjek dengan glaukoma sudut terbuka primer (POAG) ditemukan dengan adanya penurunan kadar estradiol.16
Dilaporkan juga bahwa hormon estrogen dan adrenokortikal mempunyai kesamaan kimia. Reseptor glukokortikoid ditemukan di mata bersama dengan reseptor hormon seks lainnya. Subjek dengan glaukoma ditemukan memiliki peningkatan kadar kortisol dibandingkan individu normal. Dengan demikian, mendukung fakta bahwa hormon seks wanita mempengaruhi TIO.51
Sirkulasi estrogen juga dapat memainkan peran penting dalam patogenesis glaukoma. Paparan estrogen berkontribusi terhadap peningkatan kerentanan saraf optik terhadap kerusakan glaukoma.52 Dari teori sebelumya juga dijelaskan bahwa CCT merupakan salah satu faktor resiko glaukoma, dimana hormon gonadotropin dapat berperan dalam penyakit kornea dan CCT yang dipengaruhi oleh hormon seks wanita.18
2.14 KERANGKA TEORI
2.15 KERANGKA KONSEP
Kerangka konsep merupakan kerangka yang menggambarkan mengenai elemen yang akan diteliti. Berdasarkan rumusan masalah dan tinjauan kepustakaan maka kerangka konsep pada penelitian ini adalah sebagai berikut.
2.16 DEFENISI OPERASIONAL
Tabel 2-1. Defenisi Operasional
No Kategori Tolak Ukur Pemeriksaan Satuan Numerik /Normal/
Anamnesa Tablet Numerik
2. Glaukoma Suatu
Variabel Independen Variabel Dependen
Glaukoma
optikus dan
4. Pendidikan Status jenjang pendidikan
kontrasepsi oral 4. ≤ 6/60
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1. RANCANGAN PENELITIAN
Rancangan pada penelitian ini adalah studi retrospektif analitik observasional dan metode pengambilan data secara cross sectional. Data diambil dari subjek dengan pemakaian kontrasepsi oral ≥ 3 tahun dan dianalisa.
3.2. LOKASI DAN WAKTU PENELITIAN
Penelitian ini dilakukan di Rumah Sakit Universitas Sumatera Utara dan Rumah Sakit Jejaring.
Pengambilan sampel dilakukan sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan oleh Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.
3.3. POPULASI DAN SAMPEL PENELITIAN
Populasi penelitian adalah seluruh wanita yang mengkonsumsi kontrasepsi oral. Sampel Penelitian adalah seluruh wanita yang mengkonsumsi kontrasepsi oral di Rumah Sakit Universitas Sumatera Utara dan Rumah Sakit Mata Medan Baru yang memenuhi kriteria inklusi.
Sampel penelitian ditentukan sesuai rumus untuk penelitian ini :
dimana :
) 2 / 1 (
Z = deviat baku alpha. utk = 0,05 maka nilai baku normalnya 1,96
) 1 (
Z = deviat baku betha. utk = 0,10 maka nilai baku normalnya 1,282
P0= proporsi akseptor kontrasepsi oral, sebesar = 0,14 (14%)2
Pa= perkiraan akseptor kontrasepsi oral yang diteliti, sebesar = 0,29 (29,0%)
Pa
P0 = beda proporsi yang bermakna ditetapkan sebesar 0,15 Maka sampel minimal untuk penelitian ini sebanyak 71 orang.
3.4. KRITERIA INKLUSI DAN EKSKLUSI Kriteria Inklusi
Seluruh wanita yang mengkonsumsi kontrasepsi oral ≥ 3 tahun
Seluruh wanita yang mengkonsumsi kontrasepsi oral ≥ 3 tahun yang bersedia menjadi sampel penelitian
Kriteria Eksklusi
Pasien dengan riwayat glaukoma
Pasien dengan riwayat penyakit infeksi mata
Pasien dengan riwayat pemakaian steroid
3.5. IDENTIFIKASI VARIABEL Variable terikat adalah :
- Glaukoma Variable bebas adalah :
- Kontrasepsi Oral
3.6. BAHAN DAN ALAT - Alat tulis (kertas, pulpen) - Snellen Chart
- Trial Frame dan Trial Lens - Pantocain ED 0,5%
- Alcohol Swab
- Tonometer Schiotz @Precisemed - Ofloxacin ED
- Slit Lamp @Righton
- Optical Coherence Tomography (OCT) Cirrus HD @Optovue - Three mirror lens @VOLK Optical
3.7. METODE PENGUMPULAN DATA
Mengajukan surat permohonan izin pelaksanaan penelitian di bagian Ilmu Kesehatan Mata Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara / Rumah Sakit Universitas Sumatera Utara dan Rumah Sakit Jejaring.
Mengajukan surat izin penelitian “ethical clearance” dari Komite Etika Penelitian Kesehatan Fakultas Kedokteran USU ke tempat penelitian di Rumah Sakit Universitas Sumatera Utara dan Rumah Sakit Mata Medan Baru.
Melakukan pengumpulan data penelitian di poliklinik mata Rumah Sakit Universitas Sumatera Utara dan Rumah Sakit Mata Medan Baru.
3.8. ALUR PENELITIAN DAN CARA KERJA
Populasi : Seluruh wanita yang mengkonsumsi kontrasepsi oral
Kriteria Inklusi
Sampel Penelitian :
Seluruh wanita yang mengkonsumsi kontrasepsi oral ≥ 3 tahun dan dilakukan pemeriksaan di Rumah Sakit Universitas Sumatera Utara dan Rumah Sakit Mata Medan Baru
Diperiksa dengan menggunakan 1. Snellen chart 2. Tonometri Schiotz 3. Slit Lamp
4. Optical Coherence Tomography (OCT) 5. Gonioskopi
Perhitungan Statistik
Kriteria Eksklusi
Pengumpulan Data
Penilaian dan interpretasi dari Snellen chart, Tonometri Schiotz, Slit Lamp, Fundus Camera, Optical Coherence Tomography (OCT), dan Goniskopi dikumpulkan sebagai data penelitian untuk selanjutnya dijadikan sebagai hasil penelitian.
3.9. ANALISA DATA
Melihat gambaran disajikan dalam bentuk tabel uji chi square untuk melihat hasil dari seluruh pemeriksaan.
3.10. PERTIMBANGAN ETIKA
Usulan penelitian ini terlebih dahulu disetujui oleh Bagian Ilmu Kesehatan Mata Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara. Penelitian ini kemudian diajukan untuk disetujui oleh rapat komite etika PPKRM Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.
3.11. PERSONALIA PENELITIAN Peneliti : Faiza Sofia Sari
3. 12. BIAYA PENELITIAN
Biaya penelitian ditanggung oleh peneliti sendiri.
1. Usulan Judul (15 lembar @ 150) x 50 set Rp 112.500 2. Proposal penelitian (55 lembar @ 150) x 50 set Rp 412.500 3. Hasil penelitian (70 lembar @ 150 ) x 50 set Rp 577.500 4. Biaya Administrasi Komite Etik Penelitian FK USU Rp 500.000 5. Biaya Pengolahan Data Statistik Rp 500.000 6. Kertas, tinta printer dan perbanyak fotokopi Rp1.000.000
7. Biaya konsumsi presentasi Rp1.000.000
8. Biaya tak terduga Rp 500.000+
TOTAL Rp4.402.500
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Penelitian ini bersifat studi retrospektif analitik observasional dan metode pengambilan data secara cross sectional yang dilakukan di Rumah Sakit Universitas Sumatera Utara dan Rumah Sakit Mata Medan Baru di Medan.
Jumlah sampel akseptor kontrasepsi oral yang datang dari bulan April 2018 sampai dengan September 2018 sebanyak 77 orang (154 mata). Pada sampel ini dilakukan pemeriksaan visus, segmen anterior, tekanan intaokuli (TIO), diameter CDR, ketebalan RNFL, dan gonioskopi.
4.1. Distribusi Karakteristik Umum Subjek Penelitian
Karakteristik Jumlah %
Usia
Lama Pemakaian Oral Kontrasepsi 3 – 5 tahun
Pada table 4.1 diatas menjelaskan bahwa subjek yang berusia 17 – 25 tahun dijumpai pada 3 orang subjek (3,9%), subjek dengan usia 26 – 35 tahun sebanyak 56 orang (72,7%), subjek dengan usia 36 – 45 tahun sebanyak 17 orang (22,1%), dan subjek dengan usia 46 – 55 tahun dijumpai pada 1 orang subjek (1,3%). Subjek dengan pendidikan SD tidak dijumpai pada penelitian ini, subjek dengan pendidikan SMP dijumpai sebanyak 11 orang (14,3%), subjek dengan pendidikan SMA dijumpai sebanyak 44 orang (57,1%), dan subjek penelitian dengan pendidikan sarjana dijumpai sebanyak 22 orang (28,6%). Lama pemakaian kontrasepsi oral 3 – 5 tahun dijumpai sebanyak 50 orang (64,9%) subjek penelitian, lama pemakaian kontrasepsi oral 6 – 9 tahun sebanyak 22 orang Tekanan Intraokuli Dekstra
(28,6%), dan lama pemakaian kontrasepsi oral ≥ 10 tahun dijumpai pada 5 orang (6,5%) subjek penelitian.
Normal visus mata kanan dijumpai sebanyak 15 mata (19,5%), visus mata kanan yang hampir normal dijumpai pada 28 mata (36,4%), visus mata kanan dengan low vision sedang juga dijumpai sebanyak 28 mata (36,4%), dan visus mata kanan dengan low vision berat dijumpai sebanyak 6 mata (7,8%). Normal visus mata kiri dijumpai sebanyak 10 mata (13%), visus mata kiri yang hampir normal dijumpai pada 33 mata (42,9%), visus mata kiri dengan low vision sedang dijumpai sebanyak 25 mata (32,5%), dan visus mata kiri dengan low vision berat dijumpai sebanyak 9 mata (11,7%). Normal TIO dekstra dijumpai sebanyak 58 mata (75,3%) dan TIO dekstra yang meningkat dijumpai pada 19 mata (24,7%).
Normal TIO sinistra dijumpai sebanyak 60 mata (77,9%) dan TIO sisnistra yang meningkat dijumpai pada 17 mata (22,1%).
CDR OD dengan diameter 0,1 – 0,4 mm dijumpai pada 31 mata (40,3%), CDR OD dengan diameter 0,5 – 0,6 mm dijumpai pada 26 mata (33,8%), dan CDR OD dengan diameter > 0,6 mm dijumpai pada 20 mata (26,0%). CDR OS dengan diameter 0,1 – 0,4 mm dijumpai pada 27 mata (35,1%), CDR OS dengan diameter 0,5 – 0,6 mm dijumpai pada 29 mata (37,7%), dan CDR OS dengan diameter > 0,6 mm dijumpai pada 21 mata (27,3%).
Normal RNFL OD dijumpai pada 63 mata (81,8%), borderline RNFL OD dijumpai pada 6 mata (7,8%), dan outside normal RNFL OD dijumpai pada 8 mata (10,4%). Normal RNFL OS dijumpai pada 60 mata (77,9%), borderline RNFL OS dijumpai pada 5 mata (6,5%), dan outside normal RNFL OS dijumpai pada 12 mata (15,6%). Non glaucoma dijumpai pada 50 orang subjek penelitian (64,9%), 5 orang subjek penelitian (6,5%) dengan hipertensi okuli, normo tension glaucoma dijumpai pada 3 orang subjek penelitian (3,9%), glaukoma unilateral dijumpai pada 10 orang subjek penelitian (13%), dan 9 orang subjek penelitian (11,7%) dijumpai dengan glaukoma bilateral.
4.2. Hubungan Antar Variabel
Tabel 4.2.1 Hubungan Antar Usia Dengan Diagnosa
Non glaucoma adalah semua akseptor kontrasepsi oral yang tidak menderita glaukoma dan penderita hipertensi okuli. Glaukoma adalah semua akseptor kontrasepsi oral yang menderita Normo Tension Glaucoma, Glaukoma Unilateral, dan Glaukoma Bilateral.
Pada tabel 4.2.1 diatas mejelaskan bahwa subjek penelitian dengan usia 17 – 25 tahun yang tidak glaukoma sebanyak 3 orang (100,0%) dan subjek yang menderita glaukoma tidak dijumpai pada penelitian ini. Subjek penelitian dengan usia 26 – 35 tahun yang tidak glaukoma sebanyak 43 orang (76,8%) dan subjek yang menderita glaukoma sebanyak 13 orang (2,2%). Subjek penelitian dengan usia 36 – 45 tahun yang tidak glaukoma sebanyak 9 orang (52,9%) dan subjek yang menderita glaukoma sebanyak 8 orang (47,1%). Subjek penelitian dengan usia 46 – 55 tahun yang tidak glaukoma tidak glaukoma tidak dijumpai pada penelitian ini, dan subjek yang menderita glaukoma sebanyak 1 orang (100%).
Dari hasil uji chi – square didapatkan p = 0,062, dimana menunjukkan tidak ada hubungan secara statistik antara usia dengan terjadinya glaukoma.
Usia
Tabel 4.2.2 Hubungan Antar Lama Pemakaian Kontrasepsi Oral Dengan Diagnosa
Pada tabel 4.2.2 diatas mejelaskan bahwa subjek penelitian dengan lama pemakaian kontrasepsi oral 3 – 5 tahun yang tidak glaukoma sebanyak 41 orang (82,0%) dan subjek yang menderita glaukoma sebanyak 9 orang (18,0%). Subjek penelitian dengan lama pemakaian kontrasepsi oral 6 – 9 tahun yang tidak glaukoma sebanyak 13 orang (59,1%) dan subjek yang menderita glaukoma sebanyak 9 orang (40,9%). Subjek penelitian dengan lama pemakaian kontrasepsi oral ≥ 10 tahun yang tidak glaukoma sebanyak 1 orang (20,0%) dan subjek yang menderita glaukoma sebanyak 4 orang (80,0%). Dari hasil uji chi – square didapatkan p = 0,001, dimana menunjukkan ada hubungan secara statistik antara lama pemakaian kontrasepsi oral dengan terjadinya glaukoma.
Tabel 4.2.3 Hubungan VOD dengan Diagnosa
Pada tabel 4.2.3 diatas mejelaskan bahwa subjek penelitian dengan VOD yang normal yang tidak glaukoma sebanyak 13 orang (86,7%) dan subjek yang
Lama Pemakaian Kontrasepsi Oral
Diagnosa Jumlah p.
Non Glaucoma Glaucoma
n % n % n %
menderita glaukoma sebanyak 2 orang (13,3%). Subjek penelitian dengan VOD yang hampir normal yang tidak glaukoma sebanyak 25 orang (89,3%) dan subjek yang menderita glaukoma sebanyak 3 orang (10,7%). Subjek penelitian dengan VOD dengan low vision sedang yang tidak glaukoma sebanyak 17 orang (60,7%) dan subjek yang menderita glaukoma sebanyak 11 orang (39,9%). Subjek penelitian dengan VOD dengan low vision berat yang tidak glaukoma tidak dijumpai pada penelitian ini dan subjek yang menderita glaukoma sebanyak 6 orang (100,0%). Dari hasil uji chi – square didapatkan p = 0,0001, dimana menunjukkan ada hubungan secara statistik antara visus mata kanan dengan terjadinya glaukoma.
Tabel 4.2.4 Hubungan VOS dengan Diagnosa
Pada tabel 4.2.4 diatas mejelaskan bahwa subjek penelitian dengan VOS yang normal yang tidak glaukoma sebanyak 9 orang (90,0%) dan subjek yang menderita glaukoma sebanyak 1 orang (10,0%). Subjek penelitian dengan VOS yang hampir normal yang tidak glaukoma sebanyak 31 orang (93,9%) dan subjek yang menderita glaukoma sebanyak 2 orang (6,1%). Subjek penelitian dengan VOS dengan low vision sedang yang tidak glaukoma sebanyak 14 orang (56,0%) dan subjek yang menderita glaukoma sebanyak 11 orang (44,0%). Subjek penelitian dengan VOS dengan low vision berat yang tidak glaukoma sebanyak 1 orang (11,1%) dan subjek yang menderita glaukoma sebanyak 8 orang (88,9%).
Dari hasil uji chi – square didapatkan p = 0,0001, dimana menunjukkan ada hubungan secara statistik antara visus mata kiri dengan terjadinya glaukoma.
VOS
Tabel 4.2.5 Hubungan TIOD dengan Diagnosa
Pada tabel 4.2.5 diatas mejelaskan bahwa subjek penelitian dengan normal TIOD yang tidak glaukoma sebanyak 50 orang (86,2%) dan subjek yang menderita glaukoma sebanyak 8 orang (13,8%). Subjek penelitian dengan peningkatan TIOD yang tidak glaukoma sebanyak 5 orang (26,7%) dan subjek yang menderita glaukoma sebanyak 14 orang (73,7%). Dari hasil uji chi – square didapatkan p = 0,0001, dimana menunjukkan ada hubungan secara statistik antara TIOD dengan terjadinya glaukoma.
Tabel 4.2.6 Hubungan TIOS dengan Diagnosa
Pada tabel 4.2.6 diatas mejelaskan bahwa subjek penelitian dengan normal TIOS yang tidak glaukoma sebanyak 53 orang (88,3%) dan subjek yang menderita glaukoma sebanyak 11 orang (11,7%). Subjek penelitian dengan peningkatan TIOS yang tidak glaukoma sebanyak 2 orang (11,8%) dan subjek yang menderita glaukoma sebanyak 15 orang (88,2%). Dari hasil uji chi – square didapatkan p = 0,0001, dimana menunjukkan ada hubungan secara statistik antara TIOS dengan terjadinya glaukoma.
TIOD Diagnosa Jumlah p.
Non Glaucoma Glaucoma
n % n % n %
0,0001*
Normal 50 86,2 8 13,8 58 100,0
Meningkat 5 26,7 14 73,7 19 100,0
Total 55 71,4 22 28,6 77 100,0
TIOS Diagnosa Jumlah p.
Non Glaucoma Glaucoma
n % n % n %
0,0001*
Normal 53 88,3 7 11,7 60 100,0
Meningkat 2 11,8 15 88,2 17 100,0
Total 55 71,4 22 28,6 77 100,0
Tabel 4.2.7 Hubungan CDR OD dengan Diagnosa
Pada tabel 4.2.7 diatas mejelaskan bahwa subjek penelitian dengan diameter CDR OD 0,1 – 0,4 mm yang tidak glaukoma sebanyak 22 orang (71,0%) dan subjek yang menderita glaukoma sebanyak 9 orang (29,0%). Subjek penelitian dengan diameter CDR OD 0,5 – 0,6 mm yang tidak glaukoma sebanyak 24 orang (92,3%) dan subjek yang menderita glaukoma sebanyak 2 orang (7,7%).
Subjek penelitian dengan diameter CDR OD > 0,6 mm yang tidak glaukoma sebanyak 9 orang (45,0%) dan subjek yang menderita glaukoma sebanyak 11 orang (55,0%). Dari hasil uji chi – square didapatkan p = 0,002, dimana menunjukkan ada hubungan secara statistik antara diameter CDR OD dengan terjadinya glaukoma.
4.2.8. Tabel Hubungan CDR OS Dengan Diagnosa
Pada tabel 4.2.8 diatas mejelaskan bahwa subjek penelitian dengan diameter CDR OS 0,1 – 0,4 mm yang tidak glaukoma sebanyak 24 orang (88,9%) dan subjek yang menderita glaukoma sebanyak 3 orang (11,1%). Subjek penelitian dengan diameter CDR OS 0,5 – 0,6 mm yang tidak glaukoma sebanyak 23 orang (79,3%) dan subjek yang menderita glaukoma sebanyak 6 orang
CDR OD
Diagnosa Jumlah p.
Non Glaucoma Glaucoma
n % n % n %
Non Glaucoma Glaucoma
n % n % n %
(27,7%). Subjek penelitian dengan diameter CDR OS > 0,6 mm yang tidak glaukoma sebanyak 8 orang (38,1%) dan subjek yang menderita glaukoma sebanyak 13 orang (61,9%). Dari hasil uji chi – square didapatkan p = 0,0001, dimana menunjukkan ada hubungan secara statistik antara diameter CDR OS dengan terjadinya glaukoma.
Tabel 4.2.9 Hubungan RNFL OD dengan Diagnosa
Pada tabel 4.2.9 diatas mejelaskan bahwa subjek penelitian dengan normal RNFL OD yang tidak glaukoma sebanyak 54 orang (85,7%) dan subjek yang menderita glaukoma sebanyak 9 orang (14,3%). Subjek penelitian dengan borderline RNFL OD yang tidak glaukoma sebanyak 1 orang (16,7%) dan subjek yang menderita glaukoma sebanyak 5 orang (83,3%). Subjek penelitian dengan outside normal RNFL OD yang tidak glaukoma tidak dijumpai pada penelitian ini dan subjek yang menderita glaukoma sebanyak 8 orang (100,0%). Dari hasil uji chi – square didapatkan p = 0,0001, dimana menunjukkan ada hubungan secara statistik antara perubahan RNFL OD dengan terjadinya glaukoma.
RNFL OD
Diagnosa Jumlah p.
Non Glaucoma Glaucoma
n % n % N %
0,0001*
Normal 54 85,7 9 14,3 63 100,0
Borderline 1 16,7 5 83,3 6 100,0
Outside Normal 0 0,0 8 100,0 8 100,0
Total 55 71,4 22 28,6 77 100,0
4.2.10. Tabel Hubungan RNFL OS Dengan Diagnosa
Pada tabel 4.2.10 diatas mejelaskan bahwa subjek penelitian dengan normal RNFL OS yang tidak glaukoma sebanyak 53 orang (88,3%) dan subjek yang menderita glaukoma sebanyak 7 orang (11,7%). Subjek penelitian dengan borderline RNFL OD yang tidak glaukoma sebanyak 2 orang (40,0%) dan subjek yang menderita glaukoma sebanyak 3 orang (60,0%). Subjek penelitian dengan outside normal RNFL OD yang tidak glaukoma tidak dijumpai pada penelitian ini dan subjek yang menderita glaukoma sebanyak 12 orang (100,0%). Dari hasil uji chi – square didapatkan p = 0,0001, dimana menunjukkan ada hubungan secara statistik antara perubahan RNFL OS dengan terjadinya glaukoma.
4.3. Pembahasan
Pada tabel 4.1 menunjukkan bahwa dari data demografi 77 subjek penelitian didaptkan bahwa usia terbanyak pertama pada usia 26 – 35 tahun sebanyak 56 orang (72,7%), usia terbanyak kedua pada usia 36 – 45 tahun sebanyak 17 orang (22,1%), usia terbanyak ketiga pda usia 17 – 25 tahun sebanyak 3 orang (3,9%), dan hanya pada 1 orang (1,3%) pada usia 46 – 55 tahun.
Data demografi pendidikan subjek penelitian didapatkan bahwa pendidikan terbanyak pertama pada SMA sebanyak 44 orang (57,1%), terbanyak kedua sarjana sebanyak 22 orang (28,6%), terbanyak ketiga SMP sebanyak 11 orang (14,3%), dan tidak terdapat pendidikan SD pada subjek penelitian.
RNFL OS
Diagnosa Jumlah p.
Non Glaucoma Glaucoma
n % n % N %
0,0001*
Normal 53 88,3 7 11,7 60 100,0
Borderline 2 40,0 3 60,0 5 100,0
Outside Normal 0 0,0 12 100,0 12 100,0
Total 55 71,4 22 28,6 77 100,0
Data demografi lama pemakaian oral kontrasepsi subjek penelitian didapatkan bahwa lama pemakain terbanyak pertama 3 – 5 tahun sebanyak 50 orang (64,9%), terbanyak kedua 5 – 9 tahun sebanyak 22 orang (28,6%), dan paling sedikit ≥ 10 tahun sebanyak 5 orang (6,5%).
Data demografi dari 77 mata kanan subjek penelitan, visus mata kanan terbanyak dijumpai pada visus hampir normal dan low vision sedang masing – masing sebanyak 28 mata (36,4%),terbanyak ketiga dengan visus normal sebanyak 15 mata (19,5%), dan paling sedikit pada low vision berat sebanyak 6 mata (7,8%). Data demografi dari 77 mata kiri subjek penelitan, visus mata kiri terbanyak pertama dijumpai pada visus hampir normal sebanyak 33 mata (42,9%%), terbanyak kedua pada low vision sedang sebanyak 25 mata (32,5%), terbanyak ketiga dengan visus normal sebanyak 10 mata (13,0%), dan paling sedikit pada low vision berat sebanyak 9 mata (11,7%).
Data demografi dari 77 mata kanan subjek penelitan, dijumpai TIO normal sebanyak 58 mata (75,3%), dan TIO yang meningkat sebanyak 19 mata (24,7%).
Data demografi dari 77 mata kiri subjek penelitan, dijumpai TIO normal sebanyak 60 mata (77,9%), dan TIO yang meningkat sebanyak 17 mata (22,1%).
Data demografi dari 77 mata kanan subjek penelitan, diameter CDR OD
Data demografi dari 77 mata kanan subjek penelitan, diameter CDR OD