• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN KEPUSTAKAAN

3.11. Personalia Penelitian

3. 12. BIAYA PENELITIAN

Biaya penelitian ditanggung oleh peneliti sendiri.

1. Usulan Judul (15 lembar @ 150) x 50 set Rp 112.500 2. Proposal penelitian (55 lembar @ 150) x 50 set Rp 412.500 3. Hasil penelitian (70 lembar @ 150 ) x 50 set Rp 577.500 4. Biaya Administrasi Komite Etik Penelitian FK USU Rp 500.000 5. Biaya Pengolahan Data Statistik Rp 500.000 6. Kertas, tinta printer dan perbanyak fotokopi Rp1.000.000

7. Biaya konsumsi presentasi Rp1.000.000

8. Biaya tak terduga Rp 500.000+

TOTAL Rp4.402.500

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Penelitian ini bersifat studi retrospektif analitik observasional dan metode pengambilan data secara cross sectional yang dilakukan di Rumah Sakit Universitas Sumatera Utara dan Rumah Sakit Mata Medan Baru di Medan.

Jumlah sampel akseptor kontrasepsi oral yang datang dari bulan April 2018 sampai dengan September 2018 sebanyak 77 orang (154 mata). Pada sampel ini dilakukan pemeriksaan visus, segmen anterior, tekanan intaokuli (TIO), diameter CDR, ketebalan RNFL, dan gonioskopi.

4.1. Distribusi Karakteristik Umum Subjek Penelitian

Karakteristik Jumlah %

Usia

Lama Pemakaian Oral Kontrasepsi 3 – 5 tahun

Pada table 4.1 diatas menjelaskan bahwa subjek yang berusia 17 – 25 tahun dijumpai pada 3 orang subjek (3,9%), subjek dengan usia 26 – 35 tahun sebanyak 56 orang (72,7%), subjek dengan usia 36 – 45 tahun sebanyak 17 orang (22,1%), dan subjek dengan usia 46 – 55 tahun dijumpai pada 1 orang subjek (1,3%). Subjek dengan pendidikan SD tidak dijumpai pada penelitian ini, subjek dengan pendidikan SMP dijumpai sebanyak 11 orang (14,3%), subjek dengan pendidikan SMA dijumpai sebanyak 44 orang (57,1%), dan subjek penelitian dengan pendidikan sarjana dijumpai sebanyak 22 orang (28,6%). Lama pemakaian kontrasepsi oral 3 – 5 tahun dijumpai sebanyak 50 orang (64,9%) subjek penelitian, lama pemakaian kontrasepsi oral 6 – 9 tahun sebanyak 22 orang Tekanan Intraokuli Dekstra

(28,6%), dan lama pemakaian kontrasepsi oral ≥ 10 tahun dijumpai pada 5 orang (6,5%) subjek penelitian.

Normal visus mata kanan dijumpai sebanyak 15 mata (19,5%), visus mata kanan yang hampir normal dijumpai pada 28 mata (36,4%), visus mata kanan dengan low vision sedang juga dijumpai sebanyak 28 mata (36,4%), dan visus mata kanan dengan low vision berat dijumpai sebanyak 6 mata (7,8%). Normal visus mata kiri dijumpai sebanyak 10 mata (13%), visus mata kiri yang hampir normal dijumpai pada 33 mata (42,9%), visus mata kiri dengan low vision sedang dijumpai sebanyak 25 mata (32,5%), dan visus mata kiri dengan low vision berat dijumpai sebanyak 9 mata (11,7%). Normal TIO dekstra dijumpai sebanyak 58 mata (75,3%) dan TIO dekstra yang meningkat dijumpai pada 19 mata (24,7%).

Normal TIO sinistra dijumpai sebanyak 60 mata (77,9%) dan TIO sisnistra yang meningkat dijumpai pada 17 mata (22,1%).

CDR OD dengan diameter 0,1 – 0,4 mm dijumpai pada 31 mata (40,3%), CDR OD dengan diameter 0,5 – 0,6 mm dijumpai pada 26 mata (33,8%), dan CDR OD dengan diameter > 0,6 mm dijumpai pada 20 mata (26,0%). CDR OS dengan diameter 0,1 – 0,4 mm dijumpai pada 27 mata (35,1%), CDR OS dengan diameter 0,5 – 0,6 mm dijumpai pada 29 mata (37,7%), dan CDR OS dengan diameter > 0,6 mm dijumpai pada 21 mata (27,3%).

Normal RNFL OD dijumpai pada 63 mata (81,8%), borderline RNFL OD dijumpai pada 6 mata (7,8%), dan outside normal RNFL OD dijumpai pada 8 mata (10,4%). Normal RNFL OS dijumpai pada 60 mata (77,9%), borderline RNFL OS dijumpai pada 5 mata (6,5%), dan outside normal RNFL OS dijumpai pada 12 mata (15,6%). Non glaucoma dijumpai pada 50 orang subjek penelitian (64,9%), 5 orang subjek penelitian (6,5%) dengan hipertensi okuli, normo tension glaucoma dijumpai pada 3 orang subjek penelitian (3,9%), glaukoma unilateral dijumpai pada 10 orang subjek penelitian (13%), dan 9 orang subjek penelitian (11,7%) dijumpai dengan glaukoma bilateral.

4.2. Hubungan Antar Variabel

Tabel 4.2.1 Hubungan Antar Usia Dengan Diagnosa

Non glaucoma adalah semua akseptor kontrasepsi oral yang tidak menderita glaukoma dan penderita hipertensi okuli. Glaukoma adalah semua akseptor kontrasepsi oral yang menderita Normo Tension Glaucoma, Glaukoma Unilateral, dan Glaukoma Bilateral.

Pada tabel 4.2.1 diatas mejelaskan bahwa subjek penelitian dengan usia 17 – 25 tahun yang tidak glaukoma sebanyak 3 orang (100,0%) dan subjek yang menderita glaukoma tidak dijumpai pada penelitian ini. Subjek penelitian dengan usia 26 – 35 tahun yang tidak glaukoma sebanyak 43 orang (76,8%) dan subjek yang menderita glaukoma sebanyak 13 orang (2,2%). Subjek penelitian dengan usia 36 – 45 tahun yang tidak glaukoma sebanyak 9 orang (52,9%) dan subjek yang menderita glaukoma sebanyak 8 orang (47,1%). Subjek penelitian dengan usia 46 – 55 tahun yang tidak glaukoma tidak glaukoma tidak dijumpai pada penelitian ini, dan subjek yang menderita glaukoma sebanyak 1 orang (100%).

Dari hasil uji chi – square didapatkan p = 0,062, dimana menunjukkan tidak ada hubungan secara statistik antara usia dengan terjadinya glaukoma.

Usia

Tabel 4.2.2 Hubungan Antar Lama Pemakaian Kontrasepsi Oral Dengan Diagnosa

Pada tabel 4.2.2 diatas mejelaskan bahwa subjek penelitian dengan lama pemakaian kontrasepsi oral 3 – 5 tahun yang tidak glaukoma sebanyak 41 orang (82,0%) dan subjek yang menderita glaukoma sebanyak 9 orang (18,0%). Subjek penelitian dengan lama pemakaian kontrasepsi oral 6 – 9 tahun yang tidak glaukoma sebanyak 13 orang (59,1%) dan subjek yang menderita glaukoma sebanyak 9 orang (40,9%). Subjek penelitian dengan lama pemakaian kontrasepsi oral ≥ 10 tahun yang tidak glaukoma sebanyak 1 orang (20,0%) dan subjek yang menderita glaukoma sebanyak 4 orang (80,0%). Dari hasil uji chi – square didapatkan p = 0,001, dimana menunjukkan ada hubungan secara statistik antara lama pemakaian kontrasepsi oral dengan terjadinya glaukoma.

Tabel 4.2.3 Hubungan VOD dengan Diagnosa

Pada tabel 4.2.3 diatas mejelaskan bahwa subjek penelitian dengan VOD yang normal yang tidak glaukoma sebanyak 13 orang (86,7%) dan subjek yang

Lama Pemakaian Kontrasepsi Oral

Diagnosa Jumlah p.

Non Glaucoma Glaucoma

n % n % n %

menderita glaukoma sebanyak 2 orang (13,3%). Subjek penelitian dengan VOD yang hampir normal yang tidak glaukoma sebanyak 25 orang (89,3%) dan subjek yang menderita glaukoma sebanyak 3 orang (10,7%). Subjek penelitian dengan VOD dengan low vision sedang yang tidak glaukoma sebanyak 17 orang (60,7%) dan subjek yang menderita glaukoma sebanyak 11 orang (39,9%). Subjek penelitian dengan VOD dengan low vision berat yang tidak glaukoma tidak dijumpai pada penelitian ini dan subjek yang menderita glaukoma sebanyak 6 orang (100,0%). Dari hasil uji chi – square didapatkan p = 0,0001, dimana menunjukkan ada hubungan secara statistik antara visus mata kanan dengan terjadinya glaukoma.

Tabel 4.2.4 Hubungan VOS dengan Diagnosa

Pada tabel 4.2.4 diatas mejelaskan bahwa subjek penelitian dengan VOS yang normal yang tidak glaukoma sebanyak 9 orang (90,0%) dan subjek yang menderita glaukoma sebanyak 1 orang (10,0%). Subjek penelitian dengan VOS yang hampir normal yang tidak glaukoma sebanyak 31 orang (93,9%) dan subjek yang menderita glaukoma sebanyak 2 orang (6,1%). Subjek penelitian dengan VOS dengan low vision sedang yang tidak glaukoma sebanyak 14 orang (56,0%) dan subjek yang menderita glaukoma sebanyak 11 orang (44,0%). Subjek penelitian dengan VOS dengan low vision berat yang tidak glaukoma sebanyak 1 orang (11,1%) dan subjek yang menderita glaukoma sebanyak 8 orang (88,9%).

Dari hasil uji chi – square didapatkan p = 0,0001, dimana menunjukkan ada hubungan secara statistik antara visus mata kiri dengan terjadinya glaukoma.

VOS

Tabel 4.2.5 Hubungan TIOD dengan Diagnosa

Pada tabel 4.2.5 diatas mejelaskan bahwa subjek penelitian dengan normal TIOD yang tidak glaukoma sebanyak 50 orang (86,2%) dan subjek yang menderita glaukoma sebanyak 8 orang (13,8%). Subjek penelitian dengan peningkatan TIOD yang tidak glaukoma sebanyak 5 orang (26,7%) dan subjek yang menderita glaukoma sebanyak 14 orang (73,7%). Dari hasil uji chi – square didapatkan p = 0,0001, dimana menunjukkan ada hubungan secara statistik antara TIOD dengan terjadinya glaukoma.

Tabel 4.2.6 Hubungan TIOS dengan Diagnosa

Pada tabel 4.2.6 diatas mejelaskan bahwa subjek penelitian dengan normal TIOS yang tidak glaukoma sebanyak 53 orang (88,3%) dan subjek yang menderita glaukoma sebanyak 11 orang (11,7%). Subjek penelitian dengan peningkatan TIOS yang tidak glaukoma sebanyak 2 orang (11,8%) dan subjek yang menderita glaukoma sebanyak 15 orang (88,2%). Dari hasil uji chi – square didapatkan p = 0,0001, dimana menunjukkan ada hubungan secara statistik antara TIOS dengan terjadinya glaukoma.

TIOD Diagnosa Jumlah p.

Non Glaucoma Glaucoma

n % n % n %

0,0001*

Normal 50 86,2 8 13,8 58 100,0

Meningkat 5 26,7 14 73,7 19 100,0

Total 55 71,4 22 28,6 77 100,0

TIOS Diagnosa Jumlah p.

Non Glaucoma Glaucoma

n % n % n %

0,0001*

Normal 53 88,3 7 11,7 60 100,0

Meningkat 2 11,8 15 88,2 17 100,0

Total 55 71,4 22 28,6 77 100,0

Tabel 4.2.7 Hubungan CDR OD dengan Diagnosa

Pada tabel 4.2.7 diatas mejelaskan bahwa subjek penelitian dengan diameter CDR OD 0,1 – 0,4 mm yang tidak glaukoma sebanyak 22 orang (71,0%) dan subjek yang menderita glaukoma sebanyak 9 orang (29,0%). Subjek penelitian dengan diameter CDR OD 0,5 – 0,6 mm yang tidak glaukoma sebanyak 24 orang (92,3%) dan subjek yang menderita glaukoma sebanyak 2 orang (7,7%).

Subjek penelitian dengan diameter CDR OD > 0,6 mm yang tidak glaukoma sebanyak 9 orang (45,0%) dan subjek yang menderita glaukoma sebanyak 11 orang (55,0%). Dari hasil uji chi – square didapatkan p = 0,002, dimana menunjukkan ada hubungan secara statistik antara diameter CDR OD dengan terjadinya glaukoma.

4.2.8. Tabel Hubungan CDR OS Dengan Diagnosa

Pada tabel 4.2.8 diatas mejelaskan bahwa subjek penelitian dengan diameter CDR OS 0,1 – 0,4 mm yang tidak glaukoma sebanyak 24 orang (88,9%) dan subjek yang menderita glaukoma sebanyak 3 orang (11,1%). Subjek penelitian dengan diameter CDR OS 0,5 – 0,6 mm yang tidak glaukoma sebanyak 23 orang (79,3%) dan subjek yang menderita glaukoma sebanyak 6 orang

CDR OD

Diagnosa Jumlah p.

Non Glaucoma Glaucoma

n % n % n %

Non Glaucoma Glaucoma

n % n % n %

(27,7%). Subjek penelitian dengan diameter CDR OS > 0,6 mm yang tidak glaukoma sebanyak 8 orang (38,1%) dan subjek yang menderita glaukoma sebanyak 13 orang (61,9%). Dari hasil uji chi – square didapatkan p = 0,0001, dimana menunjukkan ada hubungan secara statistik antara diameter CDR OS dengan terjadinya glaukoma.

Tabel 4.2.9 Hubungan RNFL OD dengan Diagnosa

Pada tabel 4.2.9 diatas mejelaskan bahwa subjek penelitian dengan normal RNFL OD yang tidak glaukoma sebanyak 54 orang (85,7%) dan subjek yang menderita glaukoma sebanyak 9 orang (14,3%). Subjek penelitian dengan borderline RNFL OD yang tidak glaukoma sebanyak 1 orang (16,7%) dan subjek yang menderita glaukoma sebanyak 5 orang (83,3%). Subjek penelitian dengan outside normal RNFL OD yang tidak glaukoma tidak dijumpai pada penelitian ini dan subjek yang menderita glaukoma sebanyak 8 orang (100,0%). Dari hasil uji chi – square didapatkan p = 0,0001, dimana menunjukkan ada hubungan secara statistik antara perubahan RNFL OD dengan terjadinya glaukoma.

RNFL OD

Diagnosa Jumlah p.

Non Glaucoma Glaucoma

n % n % N %

0,0001*

Normal 54 85,7 9 14,3 63 100,0

Borderline 1 16,7 5 83,3 6 100,0

Outside Normal 0 0,0 8 100,0 8 100,0

Total 55 71,4 22 28,6 77 100,0

4.2.10. Tabel Hubungan RNFL OS Dengan Diagnosa

Pada tabel 4.2.10 diatas mejelaskan bahwa subjek penelitian dengan normal RNFL OS yang tidak glaukoma sebanyak 53 orang (88,3%) dan subjek yang menderita glaukoma sebanyak 7 orang (11,7%). Subjek penelitian dengan borderline RNFL OD yang tidak glaukoma sebanyak 2 orang (40,0%) dan subjek yang menderita glaukoma sebanyak 3 orang (60,0%). Subjek penelitian dengan outside normal RNFL OD yang tidak glaukoma tidak dijumpai pada penelitian ini dan subjek yang menderita glaukoma sebanyak 12 orang (100,0%). Dari hasil uji chi – square didapatkan p = 0,0001, dimana menunjukkan ada hubungan secara statistik antara perubahan RNFL OS dengan terjadinya glaukoma.

4.3. Pembahasan

Pada tabel 4.1 menunjukkan bahwa dari data demografi 77 subjek penelitian didaptkan bahwa usia terbanyak pertama pada usia 26 – 35 tahun sebanyak 56 orang (72,7%), usia terbanyak kedua pada usia 36 – 45 tahun sebanyak 17 orang (22,1%), usia terbanyak ketiga pda usia 17 – 25 tahun sebanyak 3 orang (3,9%), dan hanya pada 1 orang (1,3%) pada usia 46 – 55 tahun.

Data demografi pendidikan subjek penelitian didapatkan bahwa pendidikan terbanyak pertama pada SMA sebanyak 44 orang (57,1%), terbanyak kedua sarjana sebanyak 22 orang (28,6%), terbanyak ketiga SMP sebanyak 11 orang (14,3%), dan tidak terdapat pendidikan SD pada subjek penelitian.

RNFL OS

Diagnosa Jumlah p.

Non Glaucoma Glaucoma

n % n % N %

0,0001*

Normal 53 88,3 7 11,7 60 100,0

Borderline 2 40,0 3 60,0 5 100,0

Outside Normal 0 0,0 12 100,0 12 100,0

Total 55 71,4 22 28,6 77 100,0

Data demografi lama pemakaian oral kontrasepsi subjek penelitian didapatkan bahwa lama pemakain terbanyak pertama 3 – 5 tahun sebanyak 50 orang (64,9%), terbanyak kedua 5 – 9 tahun sebanyak 22 orang (28,6%), dan paling sedikit ≥ 10 tahun sebanyak 5 orang (6,5%).

Data demografi dari 77 mata kanan subjek penelitan, visus mata kanan terbanyak dijumpai pada visus hampir normal dan low vision sedang masing – masing sebanyak 28 mata (36,4%),terbanyak ketiga dengan visus normal sebanyak 15 mata (19,5%), dan paling sedikit pada low vision berat sebanyak 6 mata (7,8%). Data demografi dari 77 mata kiri subjek penelitan, visus mata kiri terbanyak pertama dijumpai pada visus hampir normal sebanyak 33 mata (42,9%%), terbanyak kedua pada low vision sedang sebanyak 25 mata (32,5%), terbanyak ketiga dengan visus normal sebanyak 10 mata (13,0%), dan paling sedikit pada low vision berat sebanyak 9 mata (11,7%).

Data demografi dari 77 mata kanan subjek penelitan, dijumpai TIO normal sebanyak 58 mata (75,3%), dan TIO yang meningkat sebanyak 19 mata (24,7%).

Data demografi dari 77 mata kiri subjek penelitan, dijumpai TIO normal sebanyak 60 mata (77,9%), dan TIO yang meningkat sebanyak 17 mata (22,1%).

Data demografi dari 77 mata kanan subjek penelitan, diameter CDR OD terbanyak dijumpai pada diameter 0,1 – 0,4 mm sebanyak 31 mata (40,3%), diikuti dengan diameter 0,5 – 0,6 mm sebanyak 26 mata (33,8%), dan paling sedikit dijumpai pada diameter > 0,6 mm sebanyak 20 mata (26,0%). Data demografi dari 77 mata kiri subjek penelitan, diameter CDR OS terbanyak dijumpai pada diameter 0,5 – 0,6 mm sebanyak 29 mata (37,7%), diikuti dengan diameter 0,1 – 0,4 mm sebanyak 27 mata (35,1%), dan paling sedikit dijumpai pada diameter > 0,6 mm sebanyak 21 mata (27,3%).

Data demografi dari 77 mata kanan subjek penelitan, perubahan RNFL OD terbanyak dijumpai pada normal RNFL sebanyak 63 mata (81,8%), diikuti dengan outside normal RNFL sebanyak 8 mata (10,4%), dan dan paling sedikit borderline RNFL sebanyak 6 mata (7,8%). Data demografi dari 77 mata kiri subjek

penelitan, perubahan RNFL OD terbanyak dijumpai pada normal RNFL sebanyak 60 mata (77,9%), diikuti dengan outside normal RNFL sebanyak 12 mata (15,6%), dan dan paling sedikit borderline RNFL sebanyak 5 mata (6,5%).

Data demografi dari 77 mata kanan subjek penelitan, ketebalan RNFL OD terbanyak dijumpai pada normal RNFL sebanyak 63 mata (81,8%), diikuti dengan outside normal RNFL sebanyak 8 mata (10,4%), dan dan paling sedikit borderline RNFL sebanyak 6 mata (7,8%).

Data demografi dari 77 orang subjek penelitian, diagnosis terbanyak pertama dijumpai pada non glaucoma sebanyak 50 orang (64,9%), terbanyak kedua glaukoma unilateral sebanyak 10 orang (13,0%), terbanyak ketiga glaukoma bilateral sebanyak 9 orang (11,7%), diikuti dengan hipertensi okuli sebanyak 5 orang (6,5%), dan paling sedikit dijumpai normo tension glaucoma sebanyak 3 orang (3,9%).

Pada tabel 4.2.1 menunjukkan tidak ada hubungan yang signifikan (p = 0,062) antara semua rentang usia akseptor oral kontrasepsi dengan terjadinya glaukoma. Hal ini tidak sejalan dengan penelitian Wang dkk di San Fransisco yang menyebutkan bahwa ada hubungan antara usia akseptor oral kontrasepsi diatas 40 tahun dengan terjadinya glaukoma.

Pada table 4.2.2 menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara lama pemakaian oral kontarsepsi dengan terjadinya glaukoma. Hal ini sejalan dengan penelitian Wang dkk, penelitian Shan Lin dkk, serta Sangeeta dkk bahwa wanita dengan > 3 tahun penggunaan oral kontrasepsi memiliki peluang 2 kali lebih besar terjadinya glaukoma.

Pada tabel 4.2.3 dan 4.2.4 menujukkan adanya hubungan yang signifikan antara penurunan visus akseptor oral kontrasepsi dengan terjadinya glaukoma. Hal ini sejalan dengan penelitian – penelitian sebelumya yang dilakukan oleh Shan Lin dkk dan Alice Goodman bahwa wanita dengan penggunaan oral kontrasepsi >

3 tahun memiliki peluang lebih besar terjadinya glaukoma, dimana penurunan

visus merupakan salah satu tanda awal terjadinya progresivitas dari terjadinya glaukoma.

Pada tabel 4.2.5 dan 4.2.6 menujukkan adanya hubungan yang signifikan antara peningkatan TIO akseptor oral kontrasepsi dengan terjadinya glaukoma.

Hal ini sejalan dengan pelitian Sangeeta dkk bahwa adanya hubungan antara peningkatan TIO dengan pemakain oral kontrasepsi, dimana peningkatan TIO merupakan suatu tanda awal terjadinya progresivitas glaukoma.

Pada tabel 4.2.7 dan 4.2.8 menujukkan adanya hubungan yang signifikan antara diameter CDR akseptor oral kontrasepsi dengan terjadinya glaukoma. Hasil ini sejalan dengan penelitian Wang dkk yang menyebutkan bahwa adanya perubahan CDR pada akseptor oral kontrasepsi, dimana pembeseran CDR tersebut merupkan suatu trias awal terjadinya progresivitas glaukoma.

Pada tabel 4.2.9 dan 4.2.10 menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara perubahan RNFL akseptor oral kontrasepsi dengan terjadinya glaukoma. Hal ini sejalan dengan penelitian Madendag Y dkk yang menyebutkan bahwa adanya perubahan RNFL pada akseptor oral kontrasepsi yang dibandingkan dengan non akseptor oral kontrasepsi.54

Dari seluruh akseptor oral kontrasepsi yang menderita glaukoma sebanyak 22 orang (28,6%), setelah dilakukan tindakan gonisoskopi didapatkan hasil gonioskopi dengan sudut terbuka. Hal ini sejalan dengan penelitian Lee dkk bahwa dengan pemakaian oral kontrasepsi dapat meningkatkan resiko terjadinya suatu glaukoma sudut terbuka.55

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan

1. Tidak terdapat hubungan usia akseptor oral kontrasepsi dengan terjadinya glaukoma.

2. Terdapat hubungan antara lama pemakaian oral kontrasepsi dengan terjadinya glaukoma.

3. Terdapat hubungan antara visus pada akseptor oral kontrasepsi dengan terjadinya glaukoma.

4. Terdapat hubungan antara TIO pada akseptor oral kontrasepsi dengan terjadinya glaukoma.

5. Terdapat hubungan antara diameter CDR pada akseptor oral kontrasepsi dengan terjadinya glaukoma.

6. Terdapat hubungan antara perubahan RNFL pada akseptor oral kontrasepsi dengan terjadinya glaukoma.

7. Penggunaan oral kontrasepsi > 3 tahun memiliki peluang 2 kali lebih besar terjadinya glaukoma.

5.2. Saran

1. Diperlukan penelitian yang sama dengan jumlah sampel yang lebih besar dengan adanya pembanding jenis kontrasepsi yang lain untuk medapatkan hasil yang lebih baik.

2. Diperlukan skrining rutin pemeriksaan mata bagi seluruh akseptor oral kontrasepsi sebagai tindakan preventif terjadinya glaukoma.

3. Bagi wanita yang tajam penglihtannya tidak normal, dianjurkan untuk konsultasi terlebih dahulu ke dokter mata sebelum menggunakan oral kontrasepsi.

DAFTAR PUSTAKA

1. Suratun Maryani S., Hartini T., Rusmiati, Pinem S. Pelayanan Keluarga Berencana dan Pelayanan Kontrasepsi. Jakarta: Trans Info Media. 2013.

2. Pangaribuan L., Lolong D. B., Hubungan Penggunaan Kontrasepsi Pil Dengan Kejadian Hipertensi Pada Wanita Usia 14-59 Tahun di Indonesia Tahun 2013 (Analisis Data RISKESDAS 2013). Jakarta: Media Litbangkes. 2015. 25:2.

3. Purwaningsih E., Kusumah Y. Hubungan Pengetahuan Akseptor KB Pil Oral Kombinasi Dengan Kepatuhan Dalam Mengkonsumsi KB Pil di Desa Karang Kecamatan Delanggu Klaten. Jakarta: Jurnal Involusi Kebidanan. 2014. 4:12-13.

4. Baziad A. Kontrasepsi Hormonal. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. 2008. p1-50.

5. Saifuddin A. B. Dinamika Kependudukan dan Keluarga Berencana. Dalam:

Wiknjosasro H, Saifuddin AB, Rachimhadhi T, penyunting. Ilmu kebidanan.

Edisi ke-3. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. 2006.

p889-903.

6. The American College of Obstetricians and Gynaecologists Committee.

Contraceptives and congenital anomalies. Int J Gynecol Obstret. 1993;

42:316-7.

7. American Academy of Ophthalmology. Glaucoma, in Basic and Clinical Science Course, section 10, 2015. p13-26.

8. Khurana A. K. Glaucoma in Comprehensive Ophthalmology, 4rd Edition, New Age International Limited, Publisher, India, 2007. p205-210.

9. Pusat Data dan Informasi KEMENKES RI. Situasi dan Analisis Glaukoma.

2015. p1-6.

10. Depkes RI. Strategi nasional Penanggulangan Gangguan Penglihatan dan Kebutaan ( PGPK ) untuk mencapai Vision 2020, Perdami 2003. p1-2.

11. Masitha D. S. Hubungan Perubahan Stress Oksidatif Marker Plasma Malonilaldehyde dan Redox Enzyme Gluthation Peroxidase dengan

Progresifitas Syaraf Optik Paska Pemberian Ginkgo Biloba pada Penderita Glaukoma Sudut Terbuka Primer.2013. p1-20.

12. Lisegang T. J., Deutsch T. A., Grand M. G.. Introduction to Glaucoma. In:

Lisegang TJ, ed Glaucoma. Basic and Clinical Science Course. Section 10.

San Fransisco. 2005. p11-4.

13. Graham R. H. Glaucoma, Suspect, Adult. Medscape. 2014. Disitasi pada

tanggal 12 Maret 2018. Available from:

http://emedicine.medscape.com/article/1205421

14. Asbury Vaughan. Glaukoma. Dalam : Oftalmologi Umum. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran ECG; 2010. p. 212-223.

15. The Ophthalmic News and Education Network American Academy of Ophthalmology. Primary Open-Angle Glaucoma-Asia Pacific. 2013. Disitasi pada tanggal 12 Maret 2018. Available from: http://one.aao.org/topic-detail/primary-openangle-glaucoma--asia-pacific

16. Gupta P. D., Kaid Johar, Nagpal, Vasavada M. Sex hormone receptors in eye.

Ophthalmic Physiol Opt 2005;50(3):274-284.

17. Miguel C. P., Sikha Ghosh, Yugang Wang, Julio Escribano, Annakaisa Herrala, Pirkko Vihko. Sex steroid metabolism takes place in human ocular cells. Br J Ophthalmol 2003;87:1324-1328

18. Goodman Alice. Oral Contraceptives linked to glaucoma. Medscape. 2013.

Disitasi pada tanggal 12 Maret 2018. Available from:

https://www.medscape.com/viewarticle/814659

19. Preidt Robert. „The Pill‟ Tied to Raised Risk of Galucoma. WebMD. 2013.

Disitasi pada tanggal 12 Maret 2018. Available from:

https://www.webmd.com/sex/birth-control/news/20131118/the-pill-tied-to-raised-risk-of-glaucoma

20. Bahnwra S., Ahluwalia K. The association of oral contraceptive pills with increase in intraocular pressure: Time for pharmacovigilance to step in.

JPharmacol. 2015. Disitasi pada tanggal 12 Maret 2018. Available from:

http://www.jpharmacol.com/temp/JPharmacolPharmacother6151-7407665_203436.pdf

21. Hartanto H. Keluarga Berencana. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan. 2010.

22. Mohammad N. S,, Nazli R., Khan M. A., et all. Effect of Combined Oral Contraceptive pills on Lipid Profile, Blood Pressure and Body Mass Index in Women of Child Bearing Age. Khyber Medical University Journal. 2013: 5:

22-26.

23. Widodo F. Efek Pemakaian Pil Kontrasepsi Kombinasi Terhadap kadar Glukosa Darah. Surabaya: Fakultas Kedokteran Universitas Wijaya Kusuma Surabaya. 2013.

24. Mochtar R. Sinopsis Obstetri: Kontrasepsi. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. 1998. Hal 255-336

25. Speroff L. A Clinical Guide for Contraception. Second Edition. Williams &

Wilkins A Waverly Company. 1992. Page 25-118

26. Stubblefield P. G., Carr-Ellis S., Kapp N. 2007 ; Family Planning, on Berek &

Novak‟s Gynecology; 14th ed.; Lippincott Williams & Wilkins; p. 247 - 312.

27. American Academy of Ophthalmology. Fundamentals and Principles of Ophthalmology in Basic and Clinical Science Course. Chapter 9. 2014-2015 28. Goel Manik et all. Aqueous Humor Dynamics : A Review. University of

Miami, USA. 2010.

29. Shaffer Becker. Aqueous Humor Formation in Diagnosis and Therapy of the Glaucomas. 8th Edition. Mosby Inc. 2009.

30. Barton K., Hitchings R. A. Medical Management of Glaucoma. Springer Healthcare. 2013.

31. Remington L. A. Clinical Anatomy of the Visual System. Second Edition.

Missouri: Elsevier, 2005.

32. Shahidullah M. Mechanism of Humor Aqueos Secretion, Its Regulation and Relevance to Glaucoma. USA, 2011. P12-22

33. Silva A. Giampani. Anatomy of Ciliary Body, Ciliary Processes, Anterior Chamber Angle and Collector Vessels. Licensee Intech. 2013.

34. Phillpin H., Shah P. The next step: Detailed Assesment of an Adult Glaucoma Patient. Community Eye Health Journal. 2012. 25 (79 & 80): p50-53

35. Kansky J. J. Glaucoma in Kansky JJ., Clinical Ophthalmology 8th edition.

Butterworth International Edition. London. 2016. p372-376

36. Cantor B. L., Rapuano C., Cioffi G. Americans Academy of Ophthalmology:

Glaucoma. Section 10. San Fransisco: 2014-2015. p. 73-83.

37. Allen M. Y., Higginbotham E. J. Primary Open-Angle Glaucoma, dalam Glaucoma Science and Practice. NewYork : Thieme. 2003; 153-160.

38. Siregar H. K., Sari M. D., Sihotang A. D. Pengaruh Stress Oxidative Marker Superoxide Dismutase Pada Akuos Humor Penderita Galukoma Primer.

Medan: Repsitory USU. 2017

39. Kooner K. S. Primary Open Angle Glaucoma. In : Clinical Pathway of Glaucoma. NewYork : Thieme. 2000. h. 23-51.

40. James B., Chew C., Bron A. Glaukoma. Dalam : Oftalmologi. Jakarta : Penerbit Erlangga; 2010.

41. Morrison J. C., Freedo T.F., Toris C. B. Anatomy and Physiology of Aqueous Humor Formation.. In : Glaucoma Science and Practice. NewYork: Thieme . 2003.

42. Ilyas S., Yulianti S. R. Ilmu Penyakit Mata. Jakarta: Badan Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 2012. p 46-51.

43. Maheswari R., Choudari N. S., Singh, M. D. Tonometry and Care of Tonometers. J Current Glau Prac. 2012. P. 124-130

44. Ilyas S. Pemeriksaan Anatomi dan Fisiologi Mata Serta Kelainan Pada Pemeriksaan Mata. Dalam : Ilmu Penyakit Mata. Jakarta: Badan Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 2007.

45. Stampler, L. R. et all. Beckers-Shaffer‟s Diagnosis And Therapy Of The Glaucomas. 8th Edition. 2009. P.47-55

46. American Optometric Association. Optometric Clinical Practice Guideline:

Care of the Patient with Open Angle Glaucoma. 2011.

Care of the Patient with Open Angle Glaucoma. 2011.

Dokumen terkait