• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.3. Pembahasan

Pada tabel 4.1 menunjukkan bahwa dari data demografi 77 subjek penelitian didaptkan bahwa usia terbanyak pertama pada usia 26 – 35 tahun sebanyak 56 orang (72,7%), usia terbanyak kedua pada usia 36 – 45 tahun sebanyak 17 orang (22,1%), usia terbanyak ketiga pda usia 17 – 25 tahun sebanyak 3 orang (3,9%), dan hanya pada 1 orang (1,3%) pada usia 46 – 55 tahun.

Data demografi pendidikan subjek penelitian didapatkan bahwa pendidikan terbanyak pertama pada SMA sebanyak 44 orang (57,1%), terbanyak kedua sarjana sebanyak 22 orang (28,6%), terbanyak ketiga SMP sebanyak 11 orang (14,3%), dan tidak terdapat pendidikan SD pada subjek penelitian.

RNFL OS

Diagnosa Jumlah p.

Non Glaucoma Glaucoma

n % n % N %

0,0001*

Normal 53 88,3 7 11,7 60 100,0

Borderline 2 40,0 3 60,0 5 100,0

Outside Normal 0 0,0 12 100,0 12 100,0

Total 55 71,4 22 28,6 77 100,0

Data demografi lama pemakaian oral kontrasepsi subjek penelitian didapatkan bahwa lama pemakain terbanyak pertama 3 – 5 tahun sebanyak 50 orang (64,9%), terbanyak kedua 5 – 9 tahun sebanyak 22 orang (28,6%), dan paling sedikit ≥ 10 tahun sebanyak 5 orang (6,5%).

Data demografi dari 77 mata kanan subjek penelitan, visus mata kanan terbanyak dijumpai pada visus hampir normal dan low vision sedang masing – masing sebanyak 28 mata (36,4%),terbanyak ketiga dengan visus normal sebanyak 15 mata (19,5%), dan paling sedikit pada low vision berat sebanyak 6 mata (7,8%). Data demografi dari 77 mata kiri subjek penelitan, visus mata kiri terbanyak pertama dijumpai pada visus hampir normal sebanyak 33 mata (42,9%%), terbanyak kedua pada low vision sedang sebanyak 25 mata (32,5%), terbanyak ketiga dengan visus normal sebanyak 10 mata (13,0%), dan paling sedikit pada low vision berat sebanyak 9 mata (11,7%).

Data demografi dari 77 mata kanan subjek penelitan, dijumpai TIO normal sebanyak 58 mata (75,3%), dan TIO yang meningkat sebanyak 19 mata (24,7%).

Data demografi dari 77 mata kiri subjek penelitan, dijumpai TIO normal sebanyak 60 mata (77,9%), dan TIO yang meningkat sebanyak 17 mata (22,1%).

Data demografi dari 77 mata kanan subjek penelitan, diameter CDR OD terbanyak dijumpai pada diameter 0,1 – 0,4 mm sebanyak 31 mata (40,3%), diikuti dengan diameter 0,5 – 0,6 mm sebanyak 26 mata (33,8%), dan paling sedikit dijumpai pada diameter > 0,6 mm sebanyak 20 mata (26,0%). Data demografi dari 77 mata kiri subjek penelitan, diameter CDR OS terbanyak dijumpai pada diameter 0,5 – 0,6 mm sebanyak 29 mata (37,7%), diikuti dengan diameter 0,1 – 0,4 mm sebanyak 27 mata (35,1%), dan paling sedikit dijumpai pada diameter > 0,6 mm sebanyak 21 mata (27,3%).

Data demografi dari 77 mata kanan subjek penelitan, perubahan RNFL OD terbanyak dijumpai pada normal RNFL sebanyak 63 mata (81,8%), diikuti dengan outside normal RNFL sebanyak 8 mata (10,4%), dan dan paling sedikit borderline RNFL sebanyak 6 mata (7,8%). Data demografi dari 77 mata kiri subjek

penelitan, perubahan RNFL OD terbanyak dijumpai pada normal RNFL sebanyak 60 mata (77,9%), diikuti dengan outside normal RNFL sebanyak 12 mata (15,6%), dan dan paling sedikit borderline RNFL sebanyak 5 mata (6,5%).

Data demografi dari 77 mata kanan subjek penelitan, ketebalan RNFL OD terbanyak dijumpai pada normal RNFL sebanyak 63 mata (81,8%), diikuti dengan outside normal RNFL sebanyak 8 mata (10,4%), dan dan paling sedikit borderline RNFL sebanyak 6 mata (7,8%).

Data demografi dari 77 orang subjek penelitian, diagnosis terbanyak pertama dijumpai pada non glaucoma sebanyak 50 orang (64,9%), terbanyak kedua glaukoma unilateral sebanyak 10 orang (13,0%), terbanyak ketiga glaukoma bilateral sebanyak 9 orang (11,7%), diikuti dengan hipertensi okuli sebanyak 5 orang (6,5%), dan paling sedikit dijumpai normo tension glaucoma sebanyak 3 orang (3,9%).

Pada tabel 4.2.1 menunjukkan tidak ada hubungan yang signifikan (p = 0,062) antara semua rentang usia akseptor oral kontrasepsi dengan terjadinya glaukoma. Hal ini tidak sejalan dengan penelitian Wang dkk di San Fransisco yang menyebutkan bahwa ada hubungan antara usia akseptor oral kontrasepsi diatas 40 tahun dengan terjadinya glaukoma.

Pada table 4.2.2 menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara lama pemakaian oral kontarsepsi dengan terjadinya glaukoma. Hal ini sejalan dengan penelitian Wang dkk, penelitian Shan Lin dkk, serta Sangeeta dkk bahwa wanita dengan > 3 tahun penggunaan oral kontrasepsi memiliki peluang 2 kali lebih besar terjadinya glaukoma.

Pada tabel 4.2.3 dan 4.2.4 menujukkan adanya hubungan yang signifikan antara penurunan visus akseptor oral kontrasepsi dengan terjadinya glaukoma. Hal ini sejalan dengan penelitian – penelitian sebelumya yang dilakukan oleh Shan Lin dkk dan Alice Goodman bahwa wanita dengan penggunaan oral kontrasepsi >

3 tahun memiliki peluang lebih besar terjadinya glaukoma, dimana penurunan

visus merupakan salah satu tanda awal terjadinya progresivitas dari terjadinya glaukoma.

Pada tabel 4.2.5 dan 4.2.6 menujukkan adanya hubungan yang signifikan antara peningkatan TIO akseptor oral kontrasepsi dengan terjadinya glaukoma.

Hal ini sejalan dengan pelitian Sangeeta dkk bahwa adanya hubungan antara peningkatan TIO dengan pemakain oral kontrasepsi, dimana peningkatan TIO merupakan suatu tanda awal terjadinya progresivitas glaukoma.

Pada tabel 4.2.7 dan 4.2.8 menujukkan adanya hubungan yang signifikan antara diameter CDR akseptor oral kontrasepsi dengan terjadinya glaukoma. Hasil ini sejalan dengan penelitian Wang dkk yang menyebutkan bahwa adanya perubahan CDR pada akseptor oral kontrasepsi, dimana pembeseran CDR tersebut merupkan suatu trias awal terjadinya progresivitas glaukoma.

Pada tabel 4.2.9 dan 4.2.10 menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara perubahan RNFL akseptor oral kontrasepsi dengan terjadinya glaukoma. Hal ini sejalan dengan penelitian Madendag Y dkk yang menyebutkan bahwa adanya perubahan RNFL pada akseptor oral kontrasepsi yang dibandingkan dengan non akseptor oral kontrasepsi.54

Dari seluruh akseptor oral kontrasepsi yang menderita glaukoma sebanyak 22 orang (28,6%), setelah dilakukan tindakan gonisoskopi didapatkan hasil gonioskopi dengan sudut terbuka. Hal ini sejalan dengan penelitian Lee dkk bahwa dengan pemakaian oral kontrasepsi dapat meningkatkan resiko terjadinya suatu glaukoma sudut terbuka.55

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan

1. Tidak terdapat hubungan usia akseptor oral kontrasepsi dengan terjadinya glaukoma.

2. Terdapat hubungan antara lama pemakaian oral kontrasepsi dengan terjadinya glaukoma.

3. Terdapat hubungan antara visus pada akseptor oral kontrasepsi dengan terjadinya glaukoma.

4. Terdapat hubungan antara TIO pada akseptor oral kontrasepsi dengan terjadinya glaukoma.

5. Terdapat hubungan antara diameter CDR pada akseptor oral kontrasepsi dengan terjadinya glaukoma.

6. Terdapat hubungan antara perubahan RNFL pada akseptor oral kontrasepsi dengan terjadinya glaukoma.

7. Penggunaan oral kontrasepsi > 3 tahun memiliki peluang 2 kali lebih besar terjadinya glaukoma.

5.2. Saran

1. Diperlukan penelitian yang sama dengan jumlah sampel yang lebih besar dengan adanya pembanding jenis kontrasepsi yang lain untuk medapatkan hasil yang lebih baik.

2. Diperlukan skrining rutin pemeriksaan mata bagi seluruh akseptor oral kontrasepsi sebagai tindakan preventif terjadinya glaukoma.

3. Bagi wanita yang tajam penglihtannya tidak normal, dianjurkan untuk konsultasi terlebih dahulu ke dokter mata sebelum menggunakan oral kontrasepsi.

DAFTAR PUSTAKA

1. Suratun Maryani S., Hartini T., Rusmiati, Pinem S. Pelayanan Keluarga Berencana dan Pelayanan Kontrasepsi. Jakarta: Trans Info Media. 2013.

2. Pangaribuan L., Lolong D. B., Hubungan Penggunaan Kontrasepsi Pil Dengan Kejadian Hipertensi Pada Wanita Usia 14-59 Tahun di Indonesia Tahun 2013 (Analisis Data RISKESDAS 2013). Jakarta: Media Litbangkes. 2015. 25:2.

3. Purwaningsih E., Kusumah Y. Hubungan Pengetahuan Akseptor KB Pil Oral Kombinasi Dengan Kepatuhan Dalam Mengkonsumsi KB Pil di Desa Karang Kecamatan Delanggu Klaten. Jakarta: Jurnal Involusi Kebidanan. 2014. 4:12-13.

4. Baziad A. Kontrasepsi Hormonal. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. 2008. p1-50.

5. Saifuddin A. B. Dinamika Kependudukan dan Keluarga Berencana. Dalam:

Wiknjosasro H, Saifuddin AB, Rachimhadhi T, penyunting. Ilmu kebidanan.

Edisi ke-3. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. 2006.

p889-903.

6. The American College of Obstetricians and Gynaecologists Committee.

Contraceptives and congenital anomalies. Int J Gynecol Obstret. 1993;

42:316-7.

7. American Academy of Ophthalmology. Glaucoma, in Basic and Clinical Science Course, section 10, 2015. p13-26.

8. Khurana A. K. Glaucoma in Comprehensive Ophthalmology, 4rd Edition, New Age International Limited, Publisher, India, 2007. p205-210.

9. Pusat Data dan Informasi KEMENKES RI. Situasi dan Analisis Glaukoma.

2015. p1-6.

10. Depkes RI. Strategi nasional Penanggulangan Gangguan Penglihatan dan Kebutaan ( PGPK ) untuk mencapai Vision 2020, Perdami 2003. p1-2.

11. Masitha D. S. Hubungan Perubahan Stress Oksidatif Marker Plasma Malonilaldehyde dan Redox Enzyme Gluthation Peroxidase dengan

Progresifitas Syaraf Optik Paska Pemberian Ginkgo Biloba pada Penderita Glaukoma Sudut Terbuka Primer.2013. p1-20.

12. Lisegang T. J., Deutsch T. A., Grand M. G.. Introduction to Glaucoma. In:

Lisegang TJ, ed Glaucoma. Basic and Clinical Science Course. Section 10.

San Fransisco. 2005. p11-4.

13. Graham R. H. Glaucoma, Suspect, Adult. Medscape. 2014. Disitasi pada

tanggal 12 Maret 2018. Available from:

http://emedicine.medscape.com/article/1205421

14. Asbury Vaughan. Glaukoma. Dalam : Oftalmologi Umum. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran ECG; 2010. p. 212-223.

15. The Ophthalmic News and Education Network American Academy of Ophthalmology. Primary Open-Angle Glaucoma-Asia Pacific. 2013. Disitasi pada tanggal 12 Maret 2018. Available from: http://one.aao.org/topic-detail/primary-openangle-glaucoma--asia-pacific

16. Gupta P. D., Kaid Johar, Nagpal, Vasavada M. Sex hormone receptors in eye.

Ophthalmic Physiol Opt 2005;50(3):274-284.

17. Miguel C. P., Sikha Ghosh, Yugang Wang, Julio Escribano, Annakaisa Herrala, Pirkko Vihko. Sex steroid metabolism takes place in human ocular cells. Br J Ophthalmol 2003;87:1324-1328

18. Goodman Alice. Oral Contraceptives linked to glaucoma. Medscape. 2013.

Disitasi pada tanggal 12 Maret 2018. Available from:

https://www.medscape.com/viewarticle/814659

19. Preidt Robert. „The Pill‟ Tied to Raised Risk of Galucoma. WebMD. 2013.

Disitasi pada tanggal 12 Maret 2018. Available from:

https://www.webmd.com/sex/birth-control/news/20131118/the-pill-tied-to-raised-risk-of-glaucoma

20. Bahnwra S., Ahluwalia K. The association of oral contraceptive pills with increase in intraocular pressure: Time for pharmacovigilance to step in.

JPharmacol. 2015. Disitasi pada tanggal 12 Maret 2018. Available from:

http://www.jpharmacol.com/temp/JPharmacolPharmacother6151-7407665_203436.pdf

21. Hartanto H. Keluarga Berencana. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan. 2010.

22. Mohammad N. S,, Nazli R., Khan M. A., et all. Effect of Combined Oral Contraceptive pills on Lipid Profile, Blood Pressure and Body Mass Index in Women of Child Bearing Age. Khyber Medical University Journal. 2013: 5:

22-26.

23. Widodo F. Efek Pemakaian Pil Kontrasepsi Kombinasi Terhadap kadar Glukosa Darah. Surabaya: Fakultas Kedokteran Universitas Wijaya Kusuma Surabaya. 2013.

24. Mochtar R. Sinopsis Obstetri: Kontrasepsi. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. 1998. Hal 255-336

25. Speroff L. A Clinical Guide for Contraception. Second Edition. Williams &

Wilkins A Waverly Company. 1992. Page 25-118

26. Stubblefield P. G., Carr-Ellis S., Kapp N. 2007 ; Family Planning, on Berek &

Novak‟s Gynecology; 14th ed.; Lippincott Williams & Wilkins; p. 247 - 312.

27. American Academy of Ophthalmology. Fundamentals and Principles of Ophthalmology in Basic and Clinical Science Course. Chapter 9. 2014-2015 28. Goel Manik et all. Aqueous Humor Dynamics : A Review. University of

Miami, USA. 2010.

29. Shaffer Becker. Aqueous Humor Formation in Diagnosis and Therapy of the Glaucomas. 8th Edition. Mosby Inc. 2009.

30. Barton K., Hitchings R. A. Medical Management of Glaucoma. Springer Healthcare. 2013.

31. Remington L. A. Clinical Anatomy of the Visual System. Second Edition.

Missouri: Elsevier, 2005.

32. Shahidullah M. Mechanism of Humor Aqueos Secretion, Its Regulation and Relevance to Glaucoma. USA, 2011. P12-22

33. Silva A. Giampani. Anatomy of Ciliary Body, Ciliary Processes, Anterior Chamber Angle and Collector Vessels. Licensee Intech. 2013.

34. Phillpin H., Shah P. The next step: Detailed Assesment of an Adult Glaucoma Patient. Community Eye Health Journal. 2012. 25 (79 & 80): p50-53

35. Kansky J. J. Glaucoma in Kansky JJ., Clinical Ophthalmology 8th edition.

Butterworth International Edition. London. 2016. p372-376

36. Cantor B. L., Rapuano C., Cioffi G. Americans Academy of Ophthalmology:

Glaucoma. Section 10. San Fransisco: 2014-2015. p. 73-83.

37. Allen M. Y., Higginbotham E. J. Primary Open-Angle Glaucoma, dalam Glaucoma Science and Practice. NewYork : Thieme. 2003; 153-160.

38. Siregar H. K., Sari M. D., Sihotang A. D. Pengaruh Stress Oxidative Marker Superoxide Dismutase Pada Akuos Humor Penderita Galukoma Primer.

Medan: Repsitory USU. 2017

39. Kooner K. S. Primary Open Angle Glaucoma. In : Clinical Pathway of Glaucoma. NewYork : Thieme. 2000. h. 23-51.

40. James B., Chew C., Bron A. Glaukoma. Dalam : Oftalmologi. Jakarta : Penerbit Erlangga; 2010.

41. Morrison J. C., Freedo T.F., Toris C. B. Anatomy and Physiology of Aqueous Humor Formation.. In : Glaucoma Science and Practice. NewYork: Thieme . 2003.

42. Ilyas S., Yulianti S. R. Ilmu Penyakit Mata. Jakarta: Badan Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 2012. p 46-51.

43. Maheswari R., Choudari N. S., Singh, M. D. Tonometry and Care of Tonometers. J Current Glau Prac. 2012. P. 124-130

44. Ilyas S. Pemeriksaan Anatomi dan Fisiologi Mata Serta Kelainan Pada Pemeriksaan Mata. Dalam : Ilmu Penyakit Mata. Jakarta: Badan Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 2007.

45. Stampler, L. R. et all. Beckers-Shaffer‟s Diagnosis And Therapy Of The Glaucomas. 8th Edition. 2009. P.47-55

46. American Optometric Association. Optometric Clinical Practice Guideline:

Care of the Patient with Open Angle Glaucoma. 2011.

47. Diestelhorst J. S., Hughes G. M. Open Angle Glaucoma. American Academy of Family Physician. 2016. p. 1937-1950

48. Simmon, et all . Introduction to Glaucoma: Terminology, epidemiology, and Hereditary. In: Tanaka, S., ed Glaucoma. Singapore : American Academy of Ophthalmology.2007.

49. Jackson T. L. Moorfields Manual of Ophthalmology 1st edition. China:

Elsevier. 2008.

50. Sivakumar B., Ramamoorthy S., Samuel P. J., Ramnath S. Variations in Intraocular pressure (IOP) during different phases of Menstrual cycle among healthy young population. IOSJournlas. 2016: 15: 18-23.

51. Karmel, Miriam. Galucoma in Women: The Estrogen Conncetion. AAO Article. 2013. Disitasi pada tanggal 14 Maret 2018. Available from:

https://www.aao.org/eyenet/article/glaucoma-in-women-estrogen-connection 52. Kurtul B. E., Inal B., Ozer P. A., Kabatas E.U. Impact of Oral Contraceptive

Pills on Central Corneal Thickness in Young Women. Indian Jounal of Pharmacology by Wolters Kluwer – Medknow. 2016. Disitasi pada tanggal 14

Maret 2018. Available from:

https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5155467/

53. Moschos M. M., Nitoda E. The impact of combined oral contraceptives on ocular tissues: a review of ocular effects. Int J Ophthalmol. 2017. Disitasi pada tanggal 1 Oktober 2018. Available from:

https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5638984/pdf/ijo-10-10-1604.pdf

54. Madendag Y, et all. The Effect of oral contraceptive pills on the macula, the retinal nerve fiber layer, and choroidal thickness. Medical Science Monitor.

2017. Disitasi pada tanggal 1 Oktober 2018. Available from:

https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5708262/pdf/medscimonit-23-5657.pdf

55. Lee A. J., Mitchell P., Rochtchina E., Healey P. R. Female reproductive factors and open angle glaucoma: the blue mountains eye study. 2003. Disitasi

pada tanggal 1 Oktober 2018. Avilable from:

https://bjo.bmj.com/content/bjophthalmol/87/11/1324.full.pdf

3 5-Apr Maisyarah 38 4 7 6/24 6/38 16 22 0.20 0.50 1 3 4

4 10-Apr Linawati 29 3 3 6/9.5 6/9.5 13 15 0.50 0.60 1 1 1

5 18-Apr Mariana 45 4 10 6/38 6/24 21 18 1.00 0.50 3 1 4

6 20-Apr Meryna 31 2 4 6/7.5 6/9.5 14 12 0.40 0.60 1 1 3

7 24-Apr Yenny 33 3 5 6/19 6/19 15 14 0.80 0.80 1 1 1

8 25-Apr Sari Dewi 33 2 3 6/15 6/15 12 14 0.60 0.50 1 1 1

9 26-Apr Yanita 28 3 3 6/6 6/6 13 12 0.10 0.10 1 1 1

10 30-Apr Ayuni 30 3 4 6/7.5 6/12 13 13 0.40 0.40 1 2 1

11 2-May Laila 23 3 5 6/7.5 6/9.5 22 23 0.50 0.20 1 1 2

12 2-May Widia 27 3 3 6/6 6/6 16 15 0.30 0.30 1 1 1

13 2-May Diah Sari 34 3 5 6/24 6/12 17 14 0.50 0.30 1 1 1

14 2-May Nurhafni 45 3 8 6/24 6/19 21 21 0.50 0.50 1 1 2

15 8-May Paramita 28 3 3 6/30 6/30 14 15 0.60 0.60 1 1 1

16 8-May Dina Wahyuni 29 3 4 6/12 6/12 12 13 0.30 0.30 1 1 1

17 8-May Miranda 28 4 3 6/19 6/15 14 15 0.50 0.50 1 1 1

18 8-May Putri Aisyah 29 4 5 6/12 6/12 14 13 0.30 0.30 1 1 1

19 13-May Fitriana 33 3 7 6/9.5 6'9.5 16 14 0.20 0.30 1 1 1

20 14-May Verany 31 3 3 6/7.5 6/7.5 13 14 0.40 0.30 1 1 1

21 16-May Miranti 29 4 4 6/12 6/9.5 12 15 0.10 0.20 1 1 1

22 17-May Suyanti 31 2 6 6/19 6/24 15 14 0.50 0.50 1 1 1

23 21-May Yulianawati 38 3 5 6/30 6/19 22 15 0.40 0.70 2 1 4

24 23-May Rosinta 36 3 9 6/9.5 6/19 12 13 0.30 0.50 1 1 1

25 30-May Fitria 27 4 3 6/48 6/19 28 14 1.00 0.30 3 1 4

26 31-May Rentina 32 4 7 6/60 5/60 28 32 1.00 1.00 3 3 4

27 4-Jun Elisa 34 2 6 6/19 6/12 15 17 0.30 0.10 1 1 1

28 7-Jun Marniah 35 2 3 6/48 6/48 16 15 0.80 0.90 1 1 1

29 11-Jun Siska Wardani 36 4 7 6/38 6/24 23 18 0.80 0.70 2 1 1

30 21-Jun Zarina 35 3 4 6/24 6/19 16 17 0.90 0.80 1 1 2

31 25-Jun Mutiara 32 3 5 6/24 6/30 16 15 0.70 0.60 1 1 1

32 2-Jul Annisa 27 4 3 6/15 6/19 14 16 0.50 0.50 1 1 1

33 6-Jul Putri Astari 29 4 3 6/6 6/7,5 16 16 0.50 0.40 1 1 1

41 19-Jul Salbiah 35 4 8 6/60 6/48 26 23 1.00 1.00 2 3 5

1. 17-25 thn 1. Normal 1. Normal 1. Normal

2. 26-35 thn 2. Hapir normal 2. Borderline 2. HO

3. 36-45 thn 3. Low vision sedang 3. Outside normal 3. NTG

4. 46-55 thn 4. Low vision berat 4. GU

5. GB

Frequency Table

28 36.4 36.4 92.2

21 27.3 27.3 100.0

Usia (tahun) * Diagnosa

% wit hin Usia (tahun)

% wit hin Diagnosa Count

% wit hin Usia (tahun)

% wit hin Diagnosa Count

% wit hin Usia (tahun)

% wit hin Diagnosa Count

% wit hin Usia (tahun)

% wit hin Diagnosa Count

% wit hin Usia (tahun)

% wit hin Diagnosa minimum expected count is .29.

a.

41 9 50 minimum expected count is 1.43.

a.

13 2 15 minimum expected count is 1.71.

a.

9 1 10 minimum expected count is 2.57.

a.

50 8 58

Computed only f or a 2x2 table a.

0 cells (.0%) hav e expected count less than 5. The minimum expected count is 5.

43.

b.

53 7 60

Computed only f or a 2x2 table a.

1 cells (25.0%) hav e expect ed count less than 5. The minimum expected count is 4.

86.

b.

22 9 31 minimum expected count is 5.71.

a.

22 9 31 minimum expected count is 6.00.

a.

54 9 63 minimum expected count is 1.71.

a.

53 7 60 minimum expected count is 1.43.

a.

Usia (tahun) * VOD

Grouping Variable: Diagnosa a.

11.4% 40.9% 36.4% 11.4% 100.0%

33.3% 64.3% 57.1% 83.3% 57.1%

0 1 4 1 6

19.5% 36.4% 36.4% 7.8% 100.0%

100.0% 100.0% 100.0% 100.0% 100.0%

Count

Expected Count

% wit hin Usia (tahun)

% wit hin VOD Count

Expected Count

% wit hin Usia (tahun)

% wit hin VOD Count

Expected Count

% wit hin Usia (tahun)

% wit hin VOD Count

Expected Count

% wit hin Usia (tahun)

% wit hin VOD

Usia (tahun) * VOS

minimum expected count is .47.

a.

Crosstab

7 13 6 1 27

3.5 11.6 8.8 3.2 27.0

25.9% 48.1% 22.2% 3.7% 100.0%

70.0% 39.4% 24.0% 11.1% 35.1%

3 18 17 6 44

5.7 18.9 14.3 5.1 44.0

6.8% 40.9% 38.6% 13.6% 100.0%

30.0% 54.5% 68.0% 66.7% 57.1%

0 2 2 2 6

13.0% 42.9% 32.5% 11.7% 100.0%

100.0% 100.0% 100.0% 100.0% 100.0%

Count

Expected Count

% wit hin Usia (tahun)

% wit hin VOS Count

Expected Count

% wit hin Usia (tahun)

% wit hin VOS Count

Expected Count

% wit hin Usia (tahun)

% wit hin VOS Count

Expected Count

% wit hin Usia (tahun)

% wit hin VOS minimum expected count is .70.

a.

77 12 3 15 5.43 2.478

77 17 12 29 17.21 4.827

77 20 12 32 17.18 4.820

77 .88 .12 1.00 .5578 .25501

77 .89 .11 1.00 .5473 .24282

77 Lama oral kontrasepsi

TIO OD TIO OS CDR OD CDR OS Valid N (listwise)

Tempat/Tanggal Lahir : Medan, 24 Januari 1989 Jenis Kelamin : Perempuan

Agama : Islam

Alamat : Jalan Darussalam No 4a Medan

No Telp : 081260294000

Riwayat Pendidikan : SD Percobaan Negeri Medan Tahun 2001 SMP Negeri 1 Medan Tahun 2004 SMA Negeri 1 Medan Tahun 2007 Fakultas Kedokteran USU Tahun 2012 Riwayat Pekerjaan : Dokter Internsip RS TK II Putri Hijau Tahun

2014 - 2015

Dosen Fakultas Kedokteran USU

Perkupulan Profesi : Anggota Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Medan Anggota Muda PERDAMI Cabang Sumatera Utara

Data Orangtua

Nama Ayah : Prof. dr. H. Aslim D Sihotang, SpM-KVR Tempat/Tanggal Lahir : Sidikalang, 8 Maret 1944

Pekerjaan : Dosen Fakultas Kedokteran USU

Agama : Islam

Alamat : Jalan Darussalam No 4a Medan

Nama Ibu : Hj. Meilina Hutabarat

Tempat/Tanggal Lahir : P. Siantar, 7 Mei 1956

Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga

Agama : Islam

Alamat : Jalan Darussalam No 4a Medan

Dokumen terkait