• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kontribusi Program Jaminan Kesehatan Nasional Terhadap Perbaikan Indikator Kesehatan

Konsep Asuransi Sebagai Bagian

3.2. Peran dan Posisi Skema Jaminan Kesehatan dalam Sistem Kesehatan

3.2.2. Kontribusi Program Jaminan Kesehatan Nasional Terhadap Perbaikan Indikator Kesehatan

Dalam rangka mengukur kontribusi Jaminan Kesehatan Nasional atau skema Asuransi Sosial terhadap indikator kesehatan, subbab ini akan menekankan telaah kasus yang terdiri dari lima dimensi utama, antara lain cakupan kepesertaan, pertumbuhan fasilitas kesehatan, akses peserta terhadap layanan kesehatan, konsumsi layanan kesehatan, dan pembiayaan.

3.2.2.1. Cakupan Kepesertaan

Dimensi kepesertaan merupakan proksi yang sering kali digunakan secara praktik untuk menilai seberapa komprehensif program jaminan kesehatan yang dikelola sudah menjangkau target sasaran, yaitu seluruh rakyat Indonesia.

Gambar 3.5.

Tren Cakupan Kepesertaan JKN 2014-2018

Dewan Jaminan Sosial Nasional. (2020). Statistik JKN 2014-2018. Jakarta.

Buku Statistik JKN 2014-2018 menunjukkan bahwa secara umum terjadi peningkatan kepesertaan JKN di semua segmen. Secara spesifik, pertumbuhan segmen Penerima Bantuan Iuaran (PBI) APBD dan Pekerja Bukan Penerima Upah/PBPU (sektor informal) telah meningkat sekitar 240% dan 242% dari tahun 2014 hingga 2018, sedangkan keanggotaan Pekerja Penerima Upah/PPU (sektor formal) sekitar 105% untuk periode lima tahun (Statistik JKN 2014-2018, 2020).

3.2.2.2. Fasilitas Kesehatan

Parameter kedua yang menjadi tolak ukur adalah bagaimana skema Jaminan atau Asuransi Kesehatan Sosial dapat mendorong pertumbuhan fasilitas kesehatan, baik pada tingkat layanan primer maupun rujukan (rumah sakit).

Gambar 3.6. menunjukkan bahwa fasilitas kesehatan swasta (Dokter Praktik Perorangan, Klinik Pratama, dan Rumah Sakit) secara umum meningkat secara konsisten selama lima tahun terakhir penyelenggaraan program JKN. Hal ini secara implisit menyiratkan peran penting sektor swasta dalam kerangka Sistem Kesehatan Nasional, khususnya konteks penyelenggaraan program Jaminan Kesehatan. Pertumbuhan fasilitas kesehatan ini menjadi proksi penting yang perlu diperhatikan untuk menjamin bahwa permintaan layanan kesehatan dapat terbentuk karena kemampuan membayar (melalui skema pembiayaan JKN). Tanpa adanya ketersediaan sisi suplai, permintaan tidak akan mampu didorong.

3.2.2.3. Akses

Akses terhadap layanan kesehatan merupakan faktor yang penting dalam menilai fungsi negara untuk menjamin hak asasi kebutuhan dasar kesehatan.

Gambar 3.6.

Tren Pertumbuhan Fasilitas Kesehatan Primer dan

Rujukan 2014-2018

Dewan Jaminan Sosial Nasional. (2020). Statistik JKN 2014-2018. Jakarta.

Gambar 3.7.

Tren Peningkatan Akses Layanan Kesehatan 2014-2018

Dewan Jaminan Sosial Nasional. (2020). Statistik JKN 2014-2018. Jakarta.

Gambar 3.7. secara keseluruhan menunjukkan terjadi peningkatan akses orang (peserta) yang signifikan untuk layanan kesehatan dari 2014 hingga 2018 di semua jenis layanan dan kelompok kepesertaan.

Meskipun tampaknya total akses orang ke fasilitas kesehatan didominasi oleh mereka yang terdaftar di keanggotaan kelas 1, fakta menunjukkan bahwa peningkatan akses yang signifikan ditemukan di antara mereka yang berada di keanggotaan kelas ketiga, baik dalam kasus perawatan primer dan rumah sakit.

3.2.2.4. Konsumsi

Aspek lain yang menjadi tolak ukur seberapa tinggi pemanfaatan layanan kesehatan dari peserta Jaminan Kesehatan Nasional adalah angka konsumsi layanan dari tahun ke tahun pada setiap kelompok tingkat pendapatan atau regional.

Gambar 3.8.

Tren Peningkatan Konsumsi Layanan Kesehatan

2014-2018

Dewan Jaminan Sosial Nasional. (2020). Statistik JKN 2014-2018. Jakarta.

Jika dilihat sepintas, konsumsi total layanan kesehatan tampak dominan di Pulau Jawa dan beberapa provinsi dengan kapasitas fiskal yang lebih tinggi atau populasi padat. Namun jika ditinjau lebih detail, pertumbuhan konsumsi dari tahun ke tahun mengungkapkan fakta lain. Secara keseluruhan, keberadaan JKN telah berdampak pada peningkatan konsumsi perawatan rawat jalan primer lebih dari dua kali lipat di hampir seluruh provinsi di Indonesia dalam jangka waktu lima tahun. Lebih jauh lagi, tren peningkatan pemanfaatan di bagian Timur Indonesia (misalnya Papua dan Maluku) meningkat lebih dari sepuluh kali lipat dibandingkan status awal pada 2014.

3.2.2.5. Pembiayaan Kesehatan

Sebagaimana fungsi utama dari Universal Health Coverage dalam menciptakan perlindungan finansial bagi rakyat Indonesia, pengeluaran out of pocket dari pasien sering kali digunakan pada tingkat global sebagai komparasi sejauh mana skema jaminan sosial yang diselenggarakan mampu menurunkan pengeluaran mandiri dari masyarakat atas akses layanan Kesehatan.

Gambar 3.9. secara prinsip menunjukkan bahwa share pembiayaan domestik khususnya BPJS Kesehatan dalam program Jaminan Kesehatan mengalami peningkatan yang konsisten dari tahun ke tahun selama lima tahun penyelenggaraan program JKN.

Sebaliknya, pengeluaran mandiri masyarakat cenderung menurun cukup signifikan, yaitu sekitar 10% dalam lima tahun terakhir. Hal ini menjadi salah satu tolak ukur penting dalam mewujudkan fungsi Universal Health Coverage, terutama dalam menjamin perlindungan finansial masyarakat terhadap akses layanan Kesehatan.

3.3. Penutup

Secara umum Bab ini mengejawantahkan kaitan prinsip dasar asuransi sebagai salah satu instrumen dalam pembiayaan kesehatan, terutama dalam pembiayaan kesehatan Upaya Kesehatan Perorangan (UKP). Hal ini secara lugas disampaikan pada Perpres No. 72 Tahun 2012 tentang Sistem Kesehatan Nasional dengan pembiayaan pelayanan kesehatan masyarakat yang merupakan barang publik menjadi tanggung jawab pemerintah, sedangkan untuk pelayanan kesehatan perorangan pembiayaannya bersifat privat, kecuali pembiayaan untuk masyarakat miskin dan tidak mampu menjadi tanggug jawab pemerintah.

Dalam praktiknya mandat dari peraturan perundangan yang ada, termasuk UU No. 40 Tahun 2004 Tentang SJSN, UU No. 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan, hingga Perpres No. 72 Tahun 2012 Tentang Sistem Kesehatan Nasional diterjemahkan melalui penyelenggaraan program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).

Semangat utama dalam implementasi program ini antara lain terkait dengan salah satu fungsi Universal Health Coverage (UHC), khususnya dalam menjamin perlindungan sosial masyarakat atas

Gambar 3.9.

Tren Pembiayaan Program Jaminan Kesehatan 2014-2018

National Health Account.

(2018) Kementerian Kesehatan.

Peran program JKN dalam sistem kesehatan khususnya berfungsi sebagai salah satu instrumen pembiayaan kesehatan. Dalam bab ini ditinjau dari beberapa aspek penting, antara lain cakupan kepesertaan, fasilitas Kesehatan, akses, konsumsi, dan pembiayaan.

Secara umum, penyelenggaraan program JKN selama lima tahun telah mendorong banyak reformasi positif terutama meningkatkan akses masyarakat terhadap layanan kesehatan serta penurunan pengeluaran mandiri masyarakat saat mengakses layanan.

Daftar Pustaka

Dewan Jaminan Sosial Nasional. (2020). Buku Statistik JKN 2014-2018. Jakarta: author.

National Health Account. (2018) Kementerian Kesehatan.

Peraturan Presiden No. 18 Tahun 2020 Tentang RPJMN 2020-2024.

Peraturan Presiden nomor 72 tahun 2012 Tentang Sistem Kesehatan Nasional.

Rejda, George. E., and M. J. Mc.Namara. (2011). Principles of Risk Management and Insurance: Twentieth Edition. London:

Pearson

Stempel, Jeffrey W. (2012). Principles of Insurance Law, Fourth Edition. Carolina: Academic Press.

Thabrany, H. (2001). Asuransi Kesehatan di Indonesia. Depok:

Universitas Indonesia.

Undang Undang No. 2 Tahun 1992 Tentang Asuransi.

Undang Undang No. 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan.

Undang Undang No. 40 Tahun 2004 Tentang Sistem Jaminan Sosial.

Vaughan, Emmett J., & Therese M. Vaughan. (2003). Fundamentals of Risk and Insurance. Pennsylvania: Wiley.

Peran program JKN dalam sistem kesehatan khususnya berfungsi sebagai salah satu instrumen pembiayaan kesehatan.

Sebagai salah satu komponen