• Tidak ada hasil yang ditemukan

Potret Pembiayaan Kesehatan

5.4. Pembiayaan Kesehatan saat Pandemi COVID-19

Keadaan menjadi semakin pelik karena ketika penulis menuliskan bab ini dunia tengah dilanda pandemik COVID-19, tak terkecuali Indonesia. Indonesia dan seluruh negara tengah berjuang melawan COVID-19. Tidak mudah bagi Indonesia untuk menghadapi pandemi ini. Jika dilihat dari grafik, angkanya terus meningkat dengan tajam.

Positivity rate COVID-19 Indonesia terus mengalami peningkatan selama enam bulan terakhir, bahkan persentasenya mencapai tiga kali lipat daripada yang direkomendasikan WHO. Beberapa negara mengambil langkah cepat dengan memberikan suntikan stimulus ekonomi melawan penyebaran COVID-19, termasuk Indonesia.

Presiden Jokowi menambah alokasi belanja dan pembiayaan dalam APBN TA 2020 sebesar Rp686,20 Triliun untuk stimulus fiskal penanganan COVID-19. Dari total anggaran tersebut, sebanyak Rp598,65 Triliun merupakan biaya Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN), dan Rp87,55 Triliun untuk bidang kesehatan yang terdistribusi ke beberapa K/L. Seluruh APBN difokuskan untuk mengurangi tekanan berat di kuartal II–III 2020. Diharapkan pada kuartal IV 2020 terjadi pemulihan atau pengurangan tekanan. Dengan demikian, masyarakat, dunia usaha, dan daerah bisa melakukan pemulihan kegiatan ekonominya setelah terkena dampak COVID-19. Namun sampai kuartal IV 2020, Indonesia justru dinyatakan resesi karena terjadi penurunan ekonomi secara negatif sampai dua kali berturut-Penerapan SPM

bidang kesehatan tidak dapat terpisah dengan penyelenggaraan program JKN.

turut. Meskipun demikian, angka negatif tersebut mengalami perbaikan pada kuartal terkahir di tahun 2020.

Keputusan Menteri Keuangan No: 6/KM.7/2020 tentang Penyaluran Dana Alokasi Khusus (DAK) Fisik Bidang Kesehatan dan Bantuan Operasional Kesehatan (BOK) dalam rangka pencegahan dan/

atau Penanganan COVID-19 merekomendasikan daerah untuk menggunakan DAK Fisik dan Non-fisik untuk pencegahan dan/

atau penanganan COVID-19 melalui revisi rencana kegiatan. Namun dalam hal lainnya, jika penanganan COVID-19 menggunakan DAK Fisik, ini akan menyebabkan perubahan pada rencana kegiatan yang telah disusun sebelumnya. Hal ini akan dapat berpotensi mengganggu kegiatan di bidang pelayanan kesehatan dasar, pelayanan kesehatan rujukan, dan penguatan intervensi stunting di daerah yang menjadi program Prioritas Nasional 2020.

Pemerintah merasa perlu segera mengambil kebijakan dan langkah luar biasa dalam rangka penyelamatan kesehatan dan perekonomian nasional. Fokusnya adalah pada belanja untuk kesehatan, Jaring Pengaman Sosial (Social Safety Net), dan pemulihan perekonomian, termasuk untuk dunia usaha dan masyarakat yang terdampak, serta menjaga stabilitas sektor keuangan melalui PERPPU. Diperlukan penyesuaian besaran defisit anggaran yang melampaui 3% dari Produk Domestik Bruto (PDB).

Oleh karena itu, perlu relaksasi kebijakan defisit APBN di atas 3%

untuk tiga tahun (pada 2020, 2021, dan 2022). Setelah itu kembali ke disiplin fiskal maksimal defisit 3% mulai 2023. Jumlah pinjaman yang dilakukan dalam rangka pelaksanaan relaksasi defisit tersebut dibatasi maksimal 60% dari PDB. Dengan berlakunya PERPPU ini, besaran belanja wajib (mandatory spending) yang terdapat dalam berbagai undang-undang dapat disesuaikan oleh Pemerintah, antara lain:

1. Anggaran kesehatan sebesar 5% dari APBN di luar gaji, yang diatur dalam UU Kesehatan;

2. Anggaran untuk desa yang bersumber dari APBN sebesar 10%

dari dan di luar Dana Transfer Daerah (DTD) yang diatur dalam Undang-Undang No. 6 Tahun 2014 tentang Desa; dan

3. Besaran Dana Alokasi Umum (DAU) terhadap Pendapatan Dalam Negeri Bersih sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah dan Pemerintahan Daerah.

Pemerintah tetap melakukan upaya menjaga pengelolaan fiskal secara hati-hati melalui refocusing dan realokasi belanja untuk penanganan COVID-19, melakukan penghematan belanja (belanja K/L dan TKDD) tidak prioritas sesuai dengan perubahan kondisi pada 2020. langkah luar biasa dalam rangka penyelamatan kesehatan dan perekonomian nasional.

5.5. Penutup

Pandemi ini merupakan sesuatu yang tidak pasti (uncertainty), bersifat turbulensi, bahkan terlihat samar. Pandemi tidak hanya merusak derajat kesehatan bangsa, tetapi juga meluluhlantahkan tatanan ekonomi bangsa.

Stimulus anggaran penanganan COVID-19 yang dikeluarkan oleh Kementerian Keuangan RI telah menghabiskan hampir setengah dari APBN TA 2020. Kondisi ini semakin membuktikan bahwa sistem ketahanan kesehatan Indonesia masih belum kuat.

Berdasarkan hal tersebut, kemudian muncul suatu pertanyaan apakah sesungguhnya selama ini tidak terjadi reformasi dasar pada sektor kesehatan di Indonesia.

Reformasi kesehatan bertujuan untuk peningkatan efisiensi, peningkatan kualitas pelayanan kesehatan, pemerataan pelayanan kesehatan, serta mencari inovasi atau sumber pembiayaan baru dalam pelayanan kesehatan. Reformasi menyeluruh program jaminan kesehatan dirasakan krusial karena peraturan pelaksanaan yang berlaku masih bersifat parsial dan tumpang-tindih dan manfaat program yang belum optimal. Diharapkan upaya pemerintah dalam meredefinisi KDK dan Kelas Standar yang akan memulai perencanaan sarana dan prasarana pada 2021 dan akan diimplementasikan pada 2022 dapat memperkuat sistem kesehatan di Indonesia.

Daftar Pustaka

Agustina, Rina. (2019). Universal Health Coverage in Indonesia:

Concept, Progress, and Challenges. The Lancet, 393(10166), pp. 75–102.

Adisasmito, Wiku. (2008). Kebijakan Standar Pelayanan Medik dan Diagnosis Related Group (DRG), Kelayakan

Penerapannya di Indonesia. Jakarta: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia.

Bloom, D.E. and D. Canning. (2005). Health and Economic Growth:

Reconciling the Micro and Macro Evidence. CDDRL

Working Paper No. 42. Available: http://iis-db.stanford.edu/

pubs/20924/BloomCanning_42.pdf Accessed 1 Agustus 2020.

Chongsuvivatwong, Virasakdi. (2011). Health and Health-Care Systems in Southeast Asia: Diversity and Transitions. The Lancet.

Darmawan, Ede Surya. (2009). Obama’s Health Reform. Available:

http://staff.ui.ac.id/system/files/users/edesurya/material/

obamashealthreform.pdf . Reformasi

Depkes. (2004). Fakta Tembakau Indonesia: Data Empiris untuk Strategi Nasional Penanggulangan Masalah Tembakau.

Jakarta: Author.

Fukawa, Tetsuo. (2002). Public Health Insurance in Japan.

Washington: World Bank Institute.

Gottret P, and Schieber G. (2006). Health Financing Revisited:

A Practitioner’s Guide. Available: http://siteresources.

worldbank.org/INTHSD/Resources/topics/HealthFinancing/

HFRFull.pdf.

Global Burden of Disease Health Financing Collaborator Network.

(2018). Trends in Future Health Financing and Coverage:

Future Health Spending and Universal Health Coverage In 188 Countries. The Lancet 2018; 391: 1783–98

Gotama, Indra. (2010). Reformasi Jaminan Sosial Kesehatan (Isu-Isu Kesehatan & Jaminan Kesehatan). Jakarta: Pusat Pembiayaan dan Jaminan Kesehatan Depkes RI.

Ikegami, Naoki. (2004). Japan’s Health Care System: Containing Costs and Attempting Reform. Health Affairs.

Indrayathi PA. (2016). Bahan Ajar Pembiayaan Kesehatan di Berbagai Negara. Denpasar: Program Studi Kesehatan Masyarakat Udayana.

Jaafar, Safurah Noh. (2013). Malaysia Health System Review. Health System in Transation Vol 3 No1.

Jamison, Dean. (2013). Global Health 2035: A World Converging within A Generation. Available: https://www.thelancet.com/

article/S0140-6736(13)62105-4/fulltext.

Maeda, Akiko. (2014). Universal Health Coverage for Inclusive and Sustainable Development: A Synthesis of 11 Country Case Studies. Washington D.C: World Bank Publications

Mahendradhata, Y., Trisnantoro, L., Listyadewi, S., Soewondo, P., Marthias, T., Harimurti, P., and Prawira, J. (2017). The Republic of Indonesia Health System Review. Health Systems in Transition Vol. 7 No. 1 2017.

Murti, Bhisma. (2010). Strategi untuk Mencapai Cakupan Universal Pelayanan Kesehatan di Indonesia. fk.uns.ac.id/index.php/

download/file/36.

OECD. (2015). Health at a Glance 2015: OECD Indicators. Paris: OECD Publishing. Available: http://dx.doi.org/10.1787/health_

glance-2015-en.

Pear, Robert. (2012). Health Law Critics Prepare to Battle over Insurance Exchange Subsidies. Available: http://www.

nytimes.com/2012/07/08/.

PT. (Persero) Asuransi Kesehatan Indonesia. (1997). Program

Jaminan Kesehatan Bagi Peserta Wajib. Jakarta. Available:

http://repository.usu.ac.id/bitstream/ 123456789/31023/3/

Chapter%20II.pdf.

Pernando, Anggara. (2015). Ini Beda Jaminan Kesehatan Nasional RI dan Jepang. Ampshare Article.

Purwoko, Bambang. (2014). Sistem Jaminan Sosial di Malaysia:

Suatu Tata Kelola Penyelenggaraan Program yang Berbasis pada Pelembagaan yang Terpisah. E-Journal Widya Ekonomika. ISSN 2338-7807. Vol 1 No 1. 2014.

Rachel Lu, Jui-fen. (2014). Universal Health Coverage Assessment Taiwan. Available: http://gnhe.org/blog/wp-content/

uploads/2015/05/GNHE-UHC-assessment_Taiwan-1.pdf.

Setyawan Budi. (2018). Health Financing System. Fakultas

Kedokteran Universitas Muhammadiyah Malang. Vol 2 No 4.

Trisnantoro, Laksono. (2014). Universal Health Coverage and

Medical Industry in 3 Southeast Asian Countries. Available:

https://www.researchgate.net/publication/274896095.

Vicini, James; Stempel, Jonathan. (2012). US Top Court Upholds Healthcare Law in Obama Triumph. Available http://

www.reuters.com/article/usa-healthcare-court-idUSL2E8HS4WG20120628.

World Health Organization. (2005). Achieving Universal Health Coverage: Developing the Health Financing System.

Technical Brief for Policy-Makers. Number 1, 2005. World Health Organization, Department of Health Systems Financing, Health Financing Policy.

World Health Organization. (2010). The World Health

Report-Health Systems Financing: The Path to Universal Coverage.

Available: http://www.who.int/whr/en/index.html.

Yeh, Ching-chuan. Access and Cost: What the U.S. Health Care System Can Learn from Other Countries. Available: https://

www.help.senate.gov/imo/media/doc/Yeh1.pdf.

GLOSARIUM

Activity Based Costing : Metodologi akuntasi biaya yang menghitung semua biaya kegiatan yang ada untuk mendukung terlaksananya suatu program.

Akses : Kemampuan untuk mendapatkan paket layanan kesehatan dengan kualitas tertentu, dengan menimbang kemampuan finansial individu serta memproses informasi kesehatan.

Anggaran : Bagian dari APBN yang dialokasikan untuk sektor kesehatan yang melibatkan semua kementerian dan lembaga terkait.

Asuradur : Perusahaan asuransi jiwa yang memberikan pertanggungan dan mengadakan perjanjian tanggung-menanggung dengan pemegang polis.

Asuransi Kesehatan : Suatu instrumen sosial yang ditujukan untuk mengartikulasikan prinsip gotong royong atau solidaritas masyarakat dalam bidang pelayanan kesehatan.

Biaya Pelayanan

Kedokteran : Dana yang dikeluarkan untuk pengobatan dan pemulihan kesehatan pasien.

Biaya Kesehatan : Sejumlah dana yang perlu disiapkan dalam menyelenggarakan dan atau memanfaatkan pelayanan kesehatan untuk memenuhi kebutuhan individu, keluarga, kelompok, dan masyarakat.

BPJS Kesehatan : Administrator dari Jaminan Kesehatan Nasional yang

mengumpulkan kontribusi dari pemerintah, perusahaan swasta, dan rumah tangga menjadi satu kumpulan nasional dan membeli layanan kesehatan dari penyedia publik dan swasta.

Diagnostic Related : Cara pembayaran dengan biaya satuan per diagnosis.

Efektif : Dapat memberi hasil; berhasil guna.

Efektivitas : Pencapaian target atau outcome dari suatu kegiatan atau intervensi kesehatan sesuai dengan apa yang direncanakan.

Efisiensi : Kemampuan mencapai target dengan baik dan tepat dengan tidak membuang waktu, tenaga, dan biaya.

Ekuitas : Kondisi atau keadaan yang adil, tidak parsial, dan fair.

Fee for Services : Metode pembayaran jasa ditetapkan setelah pelayanan kesehatan yang diberikan.

Flat Rate : Besaran biaya per episode ketika sakit bersifat tetap.

Health Maintenance

Organization : Organisasi pelayanan kesehatan yang bersifat pre-paid (dibayar di muka), bertanggung jawab memberikan pelayanan kesehatan komprehensif (preventif, promotif, kuratif, dan rehabilitatif) terhadap populasi tertentu yang telah terdaftar sebagai peserta dengan membayar sejumlah uang yang dihitung berdasarkan kapitasi atau per bulan per orang.

Inflasi : Kemerosotan nilai uang karena banyak dan cepatnya uang beredar sehingga menyebabkan kenaikan harga barang.

Jaminan Kesehatan

Nasional : Reformasi pembiayaan kesehatan yang berupaya mengatasi tiga pilar pembiayaan kesehatan, yakni pengumpulan pendapatan, penggabungan, dan pembelian.

Kapitasi : Sistem pembayaran di muka per bulan kepada FKTP berdasarkan jumlah peserta yang terdaftar tanpa memperhitungkan jenis dan jumlah pelayanan kesehatan yang diberikan.

Kebutuhan : Seluruh pengeluaran yang diperlukan untuk menghasilkan peningkatan kesehatan secara maksimal.

Medicaid OASDI : Sistem asuransi bagi masyarakat miskin yang dijalankan oleh Pemerintah Federal dan Negara Bagian.

Medicare : Sistem asuransi bagi usia lanjut, penderita cacat, dan penderita gagal ginjal yang dijalankan oleh Pemerintah Federal.

Medium Term Expenditure

Framework : Kerangka penganggaran jangka menengah yang bersifat komprehensif, dengan lembaga pemerintah yang dapat

menghubungkan seluruh rencana pengeluaran dengan kebijakan prioritas dalam kerangka fiskal (terkait dengan kondisi ekonomi makro dan perkiraan pendapatan negara) yang biasanya disusun untuk tiga tahun.

Missing Middle : Jumlah orang yang sedikit terdaftar di UHC dengan kuintil kekayaan Q2-Q3 dibandingkan orang di kuintil lainnya.

Out of Pocket : Besaran dana yang digunakan oleh pemakai jasa pelayanan kesehatan berasal dari kantong pribadi individu.

Pengeluaran Katastropik : Pengeluaran medis dari rumah tangga melebihi 10% dari total pengeluaran rumah tangga.

Pengumpulan Pendapatan : Fungsi yang merujuk pada bagaimana negara mengumpulkan dan memobilisasi dana.

Ratio of Cost to Charges : Penetapan biaya khusus untuk industri kesehatan.

Skema Asuransi Sosial : Suatu program asuransi yang hanya ditujukan untuk masyarakat miskin atau kurang mampu.

Skema Pembiayaan

Pelayanan Kesehatan : Komponen struktural dari sistem pembiayaan pelayanan kesehatan, yakni pengaturan pembiayaan sehingga seseorang mampu

memperoleh pelayanan kesehatan.

Time Driven Activity Based

Costing : Perhitungan biaya berdasarkan aktivitas yang mengatasi beberapa kelemahan pada metode Activity Based Costing (ABC).

Tobit : Model yang mengestimasi pengaruh faktor lingkungan terhadap skor efisiensi.

Traditional Costing : Metodologi akuntansi biaya yang menghitung biaya keseluruhan pada suatu program dengan tingkat persentase tertentu.

Universal Health Coverage : Sistem kesehatan yang memastikan setiap warga dalam populasi memiliki akses yang adil terhadap pelayanan kesehatan promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif bermutu dengan biaya terjangkau.