• Tidak ada hasil yang ditemukan

Potret Pembiayaan Kesehatan

5.2. Pembiayaan Kesehatan di Negara-Negara Lain

World Bank (2019) menyebutkan tiga pilar utama yang harus dikedepankan dalam pembiayaan Kesehatan, yaitu kecukupan (sufficiency), pengalokasian anggaran yang efisien dan efektif (efficiency and effectiveness), dan pembiayaan kesehatan yang keberlanjutan (sustainability). Sistem pembiayaan kesehatan sangat bervariasi di tiap negara. Hal ini bergantung pada bagaimana kemampuan pemerintah menyediakan fasilitas pelayanan kesehatan dan asuransi kesehatan di negaranya.

Selain itu, perbedaan karakteristik penduduk, pendapatan negara, ekonomi, dan geografis juga menjadi faktor yang diperhitungkan bagi suatu negara dalam menentukan sistem pembiayaan kesehatan. Beberapa negara di dunia telah memiliki pengalaman tersendiri untuk mencapai UHC, misalnya Malaysia, Thailand, Taiwan, Jepang, Amerika Serikat, dan Inggris.

5.2.1. Malaysia

Malaysia memberikan peran yang lebih besar kepada sektor swasta dalam hal pelayanan kesehatan. Malaysia juga mulai mengembangkan bidang kesehatan sebagai daya tarik wisata/

medical tourism (Chongsuvivatwong, Virasakdi, et al., 2011).

Pemerintah Malaysia sudah mewajibkan tabungan hari tua bagi para pegawai sejak 1951. Warga juga dijamin oleh Employee Provident Fund (EPF), sedangkan Social Security Organization (SOSCO) menjamin warga yang mendapat kecelakaan kerja atau pensiunan yang cacat. (Purwoko, 2014).

Sistem pembiayaan kesehatannya terdiri dari kesehatan publik (promotif dan preventif) dan kesehatan privat (kuratif dan rehabilitatif). Sumber dana kesehatan publik berasal dari pajak, anggaran pendapatan negara, SOSCO, dan EPF. Sementara itu, dana kesehatan privat berasal dari iuran dari masyarakat. 1 RM per bulan untuk mendapatkan pelayanan kesehatan dari dokter umum dan 5 RM untuk pelayanan dari dokter spesialis. Sistem pembiayaan kesehatan ini tidak termasuk untuk penyakit berat yang membutuhkan biaya pengobatan yang tinggi (katastropik).

(Jaafar, Safurah Noh, et al., 2013).

Malaysia memberikan peran yang lebih besar kepada sektor swasta dalam hal pelayanan kesehatan.

Pajak untuk alat kesehatan dan obat-obatan dibebaskan untuk menekan biaya operasional pelayanan kesehatan. Praktik dokter dibatasi di satu tempat pada fasilitas pelayanan kesehatan baik milik pemerintah atau swasta, untuk menjaga mutu layanan. Meskipun demikian, pemerintah tetap menjamin pendapatan yang tinggi bagi dokter sebagai apresiasi bagi profesi medis. Klaim pembiayaan kesehatan di rumah sakit menggunakan sistem Global Budget (WHO, 2005).

5.2.2. Thailand

Thailand membutuhkan waktu hampir setengah dekade untuk mencapai UHC. Berbagai sistem pembiayaan telah diuji, berawal dari sistem out of pocket sampai dengan sistem pembiayaan prospektif (Indrayathi PA, 2016). Setelah kebijakan UHC diperkenalkan pada April 2002, perlindungan kesehatan sosial dibagi ke dalam tiga skema pembiayaan, yaitu Social Health Insurance for Formal Private Sector (sekitar 15%) untuk menjamin pegawai swasta, Civil Servant Medical Benefit Scheme (7%) untuk menjamin menjamin pegawai negeri beserta anggota keluargnya, dan UHC Scheme (sekitar 76%) melalui National Health Security Office/NSHO (Health Resource Survey, 2012).

NHSO merupakan lembaga independen yang mengelola “sistem 30 Baht”, yaitu sistem yang menjamin peserta mendapat pelayanan kesehatan komprehensif dengan membayar 30 Baht (Rp 7.000) per bulan. NHSO berada di bawah otoritas dari Minister of Public Health. NHSO akan mengeluarkan budget tahunan untuk kapitasi, HIV, penyakit metabolik, gagal ginjal, dan gangguan jiwa. Budget tahunan akan dibagikan untuk pasien rawat jalan dan rawat inap, kegiatan promotif dan preventif, vaksin, high-cost accident, diabetes, kegawatdaruratan, rehabilitasi untuk pasien cacat, pengobatan tradisional, mutu layanan dan preliminary assistance.

Selain itu, NHSO juga menjalin kerja sama dengan pemerintah lokal (dengan sharing beban 20-50%) untuk upaya promotif dan preventif. (Adisasmito, 2008).

Thailand menerapkan sistem pelayanan kesehatan rujukan, dari Primary Care Unit (PCU) untuk upaya promotif-preventif, hingga jenjang berikutnya, yaitu rumah sakit distrik (rumah sakit sekunder dan tersier, serta rumah sakit pendidikan). Thailand juga mempunyai semacam balai pengobatan (health center) yang memberikan penugasan kepada SDM Kesehatan dan Non-kesehatan terlatih untuk memberikan pelayanan Non-kesehatan yang berkualitas bagi masyarakat khususnya di pedesaan. Pada tahun 201 data menunjukkan bahwa kunjungan ke health center mencapai 54%, lebih tinggi dibanding tahun 2000 yang hanya mencapai 46,1%. Hal ini menunjukkan adanya peningkatan kemudahan akses masyarakat terhadap layanan kesehatan. Thailand dinilai sudah tidak lagi memiliki masalah dalam hal akses layanan pada fasilitas

Thailand dan tersier, serta rumah sakit pendidikan).

layanan kesehatan tingkat lanjut (Indrayathi PA, 2016). Thailand mulai membangun pusat medis dengan spesialisasi tertentu, seperti kardiologi, onkologi, neurologi, neonatal, gastrointestinal, ortopedi, dan optometry. (Futuready, 2016).

5.2.3 Taiwan

Sejak tahun 1995, Taiwan memiliki asuransi sosial wajib (mandatory) yang disebut National Health Insurance (NHI). Asuransi sosial ini memiliki sistem pembayaran tunggal (single payer) yang dijalankan oleh pemerintah. Dana bersumber dari premi yang berbasis pajak gaji (payroll tax) dan anggaran pemerintah (Bhisma Murti, 2010; Jui-fen&Rachel Lu, 2014). Pendapatan lainnya berasal dari sumber lain, seperti denda atas tunggakan pembayaran premi, kontribusi lotre kesejahteraan masyarakat, dan cukai rokok (Jui-fen & Rachel Lu,2014).

Sepuluh bulan setelah peluncuran NHI, 92,3% masyarakat Taiwan sudah terdaftar dalam program ini (Jui-fen & Rachel Lu, 2014). Administrator NHI bekerja sama dengan sebagian besar provider kesehatan milik pemerintah dan swasta sehingga masyarakat dengan mudah mendapatkan pelayanan kesehatan yang sama (Bisma Murti,2010).

Ketika ada warga yang tidak membayar premi tepat waktu, pemberitahuan akan sesegera mungkin dikirimkan. Taiwan memiliki warga yang cukup taat hukum sehingga tingkat kepatuhan sangat tinggi (Dr. Ching-chuan Yeh,2012).

5.2.4. Jepang

Sejak tahun 1927, Jepang sudah memulai jaminan kesehatan bagi para pekerja sektor swasta, tetapi manfaatnya masih kurang komprehensif (Fukawa, Tetsuo, 2002). Setelah Perang Dunia II, Jepang berupaya meningkatkan sistem kesehatan, termasuk asuransi kesehatannya. Pada tahun 1954 ditetapkan subsidi untuk asuransi kesehatan sebesar 1 Miliar Yen. Hal ini bertujuan untuk memenuhi UHC yang akhirnya tercapai pada tahun 1961. Sejak tahun 1973 penduduk lansia sudah tidak membayar iuran (Ikegami, Naoki, et al., 2004).

Pada tahun 1984 pemerintah mengeluarkan suatu kebijakan bahwa masyarakat wajib membayar seluruh pengobatan sebesar 10%. Kemudian pada tahun 1997 terjadi peningkatan sebesar 20%

dan sejak tahun 2003 hingga kini terus terjadi peningkatan hingga 30%. Namun, peningkatan tersebut tidak berlaku untuk seluruh masyarakat. Cost-sharing asuransi kesehatan yang berlaku saat ini adalah: 1. Umur ≥75 tahun membayar 10%; 2. Umur 70-75 tahun membayar 20%; 3. Usia wajib belajar–70 tahun membayar 30 %; dan 4. Anak yang belum sekolah membayar 30% (Fukawa, Tetsuo, 2002).

Berbagai macam asuransi yang dikelola pemerintah di antaranya adalah National Health Insurance, Mutual Aid Insurance, dan Sejak tahun 1995,

Taiwan memiliki Dunia II, Jepang berupaya meningkatkan sistem kesehatan, termasuk asuransi kesehatannya.

Advanced Eldery Medical Service System. Semua sistem asuransi memberlakukan pelayanan kesehatan yang sama. Harga perawatan medis berdasarkan rekomendasi The Central Social Insurance Medical Council yang ditentukan oleh pemerintah. Harga obat berdasarkan standar yang ditetapkan pemerintah. Jaminan kesehatan di Jepang tidak mengenal sistem rujukan sehingga peserta bebas memilih layanan kesehatan baik di klinik dokter maupun langsung ke rumah sakit (Pernando, Anggara, 2015).

5.2.5. Amerika Serikat

Asuransi Kesehatan di Amerika Serikat mengalami perkembangan yang cukup panjang. Dimulai dari 1798 pendirian US Marine Hospital Service sehingga para pelaut mendapatkan pelayanan kesehatan dengan pemotongan upah yang dilakukan setiap bulan.

Pada 1847 berdiri suatu organisasi asuransi kesehatan pertama di Massachusetts-Boston, kemudian diikuti oleh pendirian organisasi asuransi kesehatan lainnya. Pada 1937 rumah sakit mulai membuka kegiatan asuransi kesehatan dengan mendirikan Blue Cross Assocation. Para dokter lalu kemudian mendirikan Blue Shield Association pada 1946.

Selanjutnya Medicare dan Medicaid OASDI (Old-Age, Survivors, and Disability Insurance) diundangkan pada 14 Agustus 1935 di Amerika Serikat. Medicare adalah sistem asuransi bagi usia lanjut, penderita cacat, dan penderita gagal ginjal yang dijalankan oleh Pemerintah Federal. Medicaid OASDI merupakan sistem asuransi bagi masyarakat miskin yang dijalankan oleh Pemerintah Federal dan Negara Bagian. Namun, banyak penduduk yang tidak terlindungi oleh kedua asuransi ini. Pada 1965 ditambahkan program OASDHI (Old-age, Survivors, Disability, and Health Insurance) (PT. Asuransi Kesehatan Indonesia,1997).

Karena timbul masalah pembiayaan kesehatan pada 1973 dan untuk meminimalkan penambahan conventional health insurance, Pemerintah Amerika Serikat membentuk Health Maintenance Organization (HMO) melalui undang-undang (Trisnantoro L, 2014). HMO adalah organisasi pelayanan kesehatan yang bersifat pre-paid (dibayar di muka), bertanggung jawab memberikan pelayanan kesehatan komprehensif (preventif, promotif, kuratif, dan rehabilitatif) terhadap populasi tertentu yang telah terdaftar sebagai peserta dengan membayar sejumlah uang yang dihitung berdasarkan kapitasi atau per bulan per orang.

Pada 1970 diperkenalkan DRGs yang pertama kali diterapkan di rumah sakit Negara Bagian New Jersey. Pembayaran berdasarkan DRGs diberlakukan untuk Program Medicare pada 1983 dan Program Medicaid pada 1984 (Adisasmito, 2008).

Sistem kesehatan di Amerika Serikat menerapkan sistem asuransi

Sistem kesehatan di Amerika Serikat menerapkan

asuransi atau tidak. Hal ini menyebabkan biaya operasional kesehatan di Amerika Serikat semakin besar, premi meningkat setiap tahun, mutu pelayanan kesehatan diragukan, dan unnecessary utilization meningkat. Tingginya biaya kesehatan berdampak pada produk domestik bruto di Amerika Serikat (Trisnantoro L, 2014).

Berdasarkan The US Censuss Beureau 2009 tercatat sebanyak 16,9%

dari total populasi penduduk Amerika Serikat tidak memiliki asuransi kesehatan (Trisnantoro L, 2014). Hal ini memicu pelaksanaan reformasi dalam sektor kesehatan. Pada 2010 dibuat kebijakan melalui Patient Protection Affordable Care Act (PPACC). Reformasi kesehatan tersebut tetap memberi kesempatan kepada asuransi kesehatan dan pemberi pelayanan kesehatan swasta untuk beroperasi dengan regulasi yang lebih ketat dan subsidi pemerintah yang lebih besar yang diperuntukkan bagi warga miskin. (Bhisma, 2010).

5.2.6. Inggris

Inggris memperkenalkan asuransi kesehatan nasional sejak tahun 1911 dan saat ini telah mencapai UHC. Sistemnya dikenal dengan National Health Service (NHS), yaitu suatu sistem kesehatan yang dikelola oleh pemerintah dan sebagian besar dananya bersumber dari pajak umum (tax-funded). NHS memberikan hampir semua jenis pelayanan kesehatan secara gratis, kecuali pembayaran obat yang diresepkan (prescription drug), pengobatan gigi, dan mata.

NHS melakukan efisiensi biaya yang bertujuan untuk memperbaiki pelayanan kesehatan. Inggris juga memberi kesempatan bagi warganya untuk membeli pelayanan kesehatan tambahan melalui asuransi swasta. Ada beberapa faktor yang memengaruhi Inggris bertransisi menuju UHC. Pertama, tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi sehingga meningkatkan kemampuan warga negara untuk membayar premi. Kedua, pertumbuhan sektor formal sehingga memudahkan pengumpulan kontribusi (revenue collection). Faktor selanjutnya adalah ketersediaan tenaga terampil dalam pengelolaan sistem asuransi kesehatan nasional, kemampuan pengumpulan (pooling) dana dan integrasi berbagai skema asuransi kesehatan, serta efektivitas regulasi pemerintah (WHO, 2005).