• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kontrol Terhadap Aksi Rahasia

PERAN EKSEKUTIF

Bab 11 Kontrol Terhadap Aksi Rahasia

Tindakan rahasia memunculkan isu akuntabilitas berkenaan dengan paling tidak dua alasan. Pertama, karena sifat rahasia tindakan ini, lembaga legislatif memiliki kesulitan untuk memberikan pengawasan (sekalipun jika anggota legislatif mengetahuinya.). Meskipun begitu, ada kepentingan parlemen yang absah terhadap

Kotak No. 23:

Definisi Aksi Rahasia (AS)

‘Aktivitas khusus berarti kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan untuk mendukung tujuan-tujuan kebijakan luar negeri nasional di luar negeri yang direncanakan dan dijalankan agar supaya peranan Pemerintah Amerika Serikat tidak diketahui atau terlihat oleh publik, dan fungsi-fungsi yang mendukung ke- giatan-kegiatan diatas, kecuali tindakan-tindakan yang tidak dimaksudkan untuk mempengaruhi proses politik Amerika Serikat, opini publik, kebijakan-kebijakan dan tidak melibatkan kegiatan diplomatik atau pengumpulan dan membuat informasi intelijen atau fungsi-fungsi pendukung yang berhubungan dengannya.’

tindakan yang dilakukan oleh pegawai negara yang menggunakan uang rakyat. Kedua, adanya dimensi etika. Menurut sejarah, sejumlah program tindakan penyamaran menggunakan strategi dan teknik kontroversial. Fakta bahwa sifat kegiatan ini tersembunyi dan biasanya illegal menurut hukum negara di mana kegiatan ini dilakukan mengandung godaan untuk penyelewengan yang besar. Karenanya, jauh lebih penting bagi para politisi untuk membuat aturan dasar tentang apa yang diperbolehkan (sebagai contoh, kepatuhan terhadap hukum hak asasi internasional) dan bertanggung jawab atas pemberian wewenang untuk tindakan penyelewengan.

Ada beberapa preseden yang dapat dikemukakan di sini. Satu dari sedikit model yang ada adalah otorisasi bagi menteri terkait Inggris di mana, saat otoritas tersebut diberikan, menjadi dasar hukum di dalam hukum Inggris untuk tindakan-tindakan yang dilakukan di luar negeri oleh badan intelijen yang seharusnya melanggar hukum sipil atau pidana (lihat Kotak No. 24).

Refleksi atas kedua kasus tersebut menjadi begitu penting. Pertama, tidak ada persyaratan hukum untuk memperoleh otorisasi menteri kapanpun tindakan seperti itu dilaksanakan. Kesulitan kedua menyangkut aspek legalitas. Untuk alasan yang sangat jelas, negara mungkin mencari pengecualian di dalam sistem hukumnya dari kewajiban ekstra-teritorial untuk berbagai aksi rahasia, jelas karena tindakan tersebut akan melanggar sistem hukum negara di mana tindakan itu dilakukan. Meskipun begitu, ada hukum yang tidak seharusnya dilanggar atau diabaikan – yaitu hukum internasional tentang hak asasi manusia.

Kotak No. 24:

Wewenang Tindak Rahasia di Luar Negeri (Inggris)

7(1) Jika, diluar pasal ini, seseorang akan bertanggung jawab di dalam wilayah negara Inggris untuk tindakan apapun yang

103

Hak dan kewajiban berdasarkan hukum yang berasal dari bagian hukum ini tergolong dapat diterapkan secara universal, yakni penerapannya tidak dipengaruhi oleh faktor-faktor domestik. Hukum hak asasi internasional memuat jaminan-jaminan hukum universal yang melindungi individu dan kelompok terhadap tindakan-tindakan oleh pemerintah yang menghalangi kebebasan dan martabat dasar manusia.9 Hal ini menjadi semakin jelas, khususnya dalam kasus

ECHR, dimana negara-negara mungkin bertanggung jawab tidak hanya mengenai pelanggaran hak asasi yang dilakukan di wilayah dilakukan diluar wilayah Kepulauan Inggris, ia tidak akan terlalu terbebani tanggung jawab jika tindakan itu atas dasar otorisasi yang diberikan Menteri Luar Negeri dibawah pasal ini (…)7(3) Menteri Luar Negeri tidak boleh memberikan otorisasi ber- dasarkan pasal ini kecuali dia dapat diyakinkan bahwa:a. tindakan apapun yang mungkin dilakukan didasarkan pada wewenang atau, bila terbukti, tindakan-tindakan yang dilakukan dalam operasi tersebut bersifat penting dalam memenuhi tugas Dinas Intelijen; dan b. jika ada peraturan yang meyakinkan yang diberlakukan untuk memastikan:i. bahwa tidak ada apapun yang akan dilakukan berdasarkan otorisasi yang ada yang dapat melebihi keperluan Dinas Intelijen; danii.bahwa, sepanjang tindakan tersebut bergantung pada otorisasi yang diberikan, sifat dan dampak yang mungkin ditimbulkan se- harusnya dipertimbangkan, dengan merujuk pada tujuan-tujuan dilakukannya kegiatan tersebut; dan c. bahwa ada pengaturan yang meyakinkan yang diberlakukan dibawah pasal 2(2)(a) diatas yang berkenaan dengan pengungkapan informasi yang diperoleh karena pasal ini dan bahwa informasi apapun diperoleh sebagai hasil dari cara apapun yang dilakukan yang didasarkan otorisasi harus sesuai dengan pengaturan tersebut diatas.

mereka sendiri, tetapi juga di wilayah yuridiksi lain, atau dimana pelanggaran tersebut berasal dari atau hasil dari tindakan para pejabat, dimanapun terjadinya.

Sebagai bagian dari hukum hak asasi manusia internasional, Per- janjian Internasional Hak Sipil dan Politik (ICCPR)10 dan Konvensi

Melawan Penyiksaan dan kekejian yang tidak manusiawi lainnya dan perlakuan atau hukuman merendahkan martabat manusia lainnya (CAT)11 seharusnya secara khusus lebih diperhatikan jika

berkenaan dengan perilaku tindakan rahasia oleh badan intelijen. Khususnya, hal ini merupakan hak atas kehidupan (pasal 6, ICCPR), hak untuk tidak menerima penyiksaan atau perlakuan atau hukuman yang keji, tidak manusiawi atau tidak bermartabat (Pasal 7, ICCPR) dan hak atas kebebasan dan rasa aman sese- orang (Pasal 9, ICCPR) yang tidak bisa dilanggar oleh tindakan rahasia intelijen. Dua praktik ilegal seharusnya disebutkan yang secara langsung berhubungan hal telah disebutkan sebelumnya, misalnya pembunuhan tanpa pengadilan dan perlakuan penyik- saan/merendahkan martabat manusia.

Apapun tujuan dan kebaikan dari suatu tindakan rahasia, pem- bunuhan tanpa pengadilan seperti pembunuhan musuh oleh agen intelijen (di luar negeri) jelas-jelas memrupakan pelanggaran hak atas kehidupan yang ditunjukkan dalam ICCPR. Karena hak atas kehidupan adalah anugerah bagi setiap manusia karena ke- manusiaannya, merendahkan kemanusiaan seorang manusia tidak boleh terjadi (Pasal 4 (2) ICCPR). Pada saat penulisan materi ini, 152 negara mengambil bagian dalam perjanjian ini.12

Praktik tradisional yang ilegal lainnya terhubung dengan tindakan penyamaran meliputi teknik interogasi yang menjadi pelanggaran hak untuk tidak mengalami penyiksaan atau perlakuan tidak bermartabat (Pasal 7, ICCPR).

105 Kotak No. 25:

Penyiksaan

Pasal 1 Konvensi Penyiksaan mendefinisikan kejahatan penyiksaan sebagai berikut:‘Untuk maksud dari Konvensi ini, istilah ‘penyiksaan’ berarti tindakan apapun yang karenanya dapat menimbulkan luka parah atau penderitaan, apakah secara mental atau fisik, yang secara sengaja dikenakan pada seseorang untuk tujuan-tujuan seperti mendapatkan darinya ataupun pihak ketiga informasi ataupun pengakuan, meng- hukumnya karena suatu tindakan dimana ia atau orang ketiga lakukan atau dicurigai telah melakukan, atau mengintimidasi dengan cara apapun, saat rasa sakit atau penderitaan di- kenakan oleh atau disebabkan oleh pejabat publik atau orang lain yang bertindak dengan kapasitas resmi. Hal ini tidak termasuk rasa sakit ataupun penderitaan yang muncul dari, sanksi hukum, baik bersifat inheren maupun dari penerapan sanksi tersebut’.

Sumber: Konvensi terhadap Penyiksa dan Perlakuan dan Hukuman Keji, Tidak manusiawi, atau Tidak Bermartabat lainnya, G.A. Res 39/46,39 U.N. G.A.O.R. Supp. (No. 51) at 197,U.N. Doc. A/39/51 (1984), diberlakukan mulai 26 Juni 1986.

Contoh-contoh teknik interogasi yang melanggar hak ini telah diberikan dalam keputusan terkenal Sidang Eropa Hak Asasi Manusia. Sidang tersebut mencantumkan:

Berdiri menghadap dinding (wall-standing): memaksa tahanan untuk diam sepanjang beberapa jam dalam posisi berdiri, yang dijelaskan oleh orang-orang yang mengalaminya sebagai “elang yang terentang menempel dinding, dengan jemari diatas kepala menempel ke dinding, paha terentang dan kaki ke belakang, yang membuat mereka berdiri diatas jemari kaki dengan menahan beban tubuh pada jemari tangan’;

pemakaian penutup kepala (hooding): mengenakan kantung berwarna milik angkatan laut atau hitam di menutupi kepala tahanan dan, sedikitnya saat permulaan, memakainya sepanjang waktu kecuali saat interogasi;

penyiksaan dengan suara (subjection to noise): sepanjang waktu interogasi, menahan tahanan di suatu ruangan dengan suara yang keras dan mendesis terus menerus;

pengurangan waktu tidur (sleep deprivation): sepanjang waktu interogasi, mengurangi waktu tidur tahanan; dan

pengurangan makan dan minum (deprivation of food and drink): tahanan mengalami kurang makan dan minum ditengah-tengah dan sepanjang interogasi.13

Penggunaan informasi untuk hukum yang diperoleh melalui penyiksaan dilarang oleh hukum internasional (lihat Bab 12). Biasanya standar hukum untuk operasi domestik lebih tinggi dibandingkan dengan operasi diluar negeri. Jika kita abaikan hal ini, eksekutif memainkan peran yang penting dalam mengawasi ‘sisi hukum tindakan rahasia badan intelijen’ – eksekutif seharusnya, selain hal-hal lainnya, mengawasi kepatuhan terhadap peraturan hak asasi manusia. Contoh berikut dari Hukum Badan Intelijen Australia mendokumentasikan pentingnya hal tersebut terutama berkenaan dengan keterlibatan eksekutif jika berhubungan dengan kegiatan penyamaran (lihat Kotak No. dibawah)

Kotak No. 26:

Legalisasi Pengendalian Menteri terhadap Kegiatan Rahasia (Australia)

Pasal 6 Fungsi-fungsi ASIS