• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kontrol yang Tidak Konsisten

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

B. Temuan Lapangan

3. Kontrol yang Tidak Konsisten

Telah dijelaskan sebelumnya bahwasannya kontrol terhadap pemakaian gawai tidak dilakukan secara konsisten oleh orang tua dikarenakan beberapa faktor sebelumnya yakni kelelahan dan salah satu dari orang tua tidak memberikan modelling yang sesuai. Sehingga proses controlling tersebut hanya berjalan selama dua minggu.

Mengaturnya hp nya itu di jam mbak, biasanya misalnya seharian itu pulang sekolah itu pakai hp nya, itu jadi enggak, jadi jam 7 sampai jam 8. Atau paling gak habis pulang sekolah pegang hp sebentar terus saya habis pulang kerja jualan itu saya ambil. Tapi cuma sebentar mbak bertahannya.(W5/B1)

Mungkin dua mingguan mbak, soalnya kan saya waktu itu kadang habis kerja capek terus lupa minta hp nya gitu

mbak jadi akhirnya sama anaknya malah “kebeneran” diuntung-untungkan (W5/B2)

B. Sikap Menentang oleh Anak

Ketika ibu mengetahui anak menggunakan gawai untuk melihat pornografi seketika itupula ibu mengambil gawai tersebut dan melarang anak menggunakan kembali gawai untuk melihat pornografi. namun anak justru marah-marah dan membentak ibu. Sikap anak yang demikian membingungkan ibu dalam mengontrol sikap anak.

Setelah itu saya ambil hp nya mbak, gak saya perbolehkan hp an anaknya mbak, saya ambil hp nya mbak, tapi anaknya tambah marah-marah. saya bilang, “ibu gak suka kalau kamu hp an untuk lihat begituan”, dia marah-marah mbak. Sampai saya bingung harus bagaimana menghadapi F ini. Akhirnya saya bawa dia ke rumah sakit itu mbak. (W1/B33)

Anak juga sering bermain hingga larut malam sehingga ibu melarangnya. Namun anak seringkali membantah dan bersikap berani pada orang tua. Sehingga anak sulit untuk mendengarkan nasehat dari orangtua. Ibu menyampaikan bahwa sulitnya anak untuk dinasehati juga karena tidak ada rasa segan anak untuk patuh pada orangtua.

Anaknya itu gampang marah mbak dan kakean dulen (kebanyakan main), dan gak manut ke kalau dikasik tau orang tuanya mbak. Apalagi kalau sudah pulang main itu mbak saya susah, soalnya kalau sudah pulang dari main itu anaknya jadi gak patuh, kalau dikasik tahu jangan main itu malah marah-marah mbak.(W1/B9)

Sering mbak, kalau sudah marah gitu anaknya ngamuk – ngamuk dan ngelamak ke oarang tua (marah-marah dan

berani menentang ke orang tua). Kalau dikasik tau jangan suka main itu mesti jawab mbak, “ya sakkarepku” (“ya terserah aku”) gitu mbak.(W1/B10)

Soalnya kalau sudah main itu mbak pulang-pulangnya itu kalau dikasik tau marah-marah, gak nurut mbak. (W1/B11)

Mungkin juga gak ada rasa takut itulo mbak, kalau dikasik tau itu meskipun takut itu tapi terpaksa.(W5/B22)

Anak seringkali mendapat cerita dari guru disekolah tentang bagaimana guru tersebut menerapkan kedisiplinan pada anaknya. Hal tersebut mendorong anak agar ibu juga menerapkan kedisiplinan padanya. Namun saat ibu benar-benar menerapkannya anak justru membentak. Begitupula yang dilakukan anak saat ibu mengontrol jam belajar anak dan juga pemakaian gawai.

Tapi anaknya bilang ibuknya ini kurang disiplin, harusnya kalau aku lihat TV terus itu jagan boleh, iya ibuknya itu kurang jahat, tapi nanti kalau saya disiplinkan saya dibentak. (W5/B22)

Ya itu mbak saya tanyai bisa kah kamu ini F, ayo belajar, “udah besok aja belajarnya aku kalau belajar malam gak paham”kata anak. “Udah sini ibunya biar disiplin ayo mana hp nya”, ujar ibu subyek F, iya ya gitu jawabnya anaknya sambil bentak-bentak mbak. Emang gitu anaknya mbak “doknyengen” (sikap yang tidak menentu) (W5/B3)

C. Kurangnya Keterbukaan Diri ( Self – disclosure ) pada Anak

Anak seringkali menutup diri jika ibu yang terlebih dahulu menanyakan sesuatu kepadanya sehingga ibu menunggu anak yang terlebih dulu untuk bercerita.

Tapi kalau ditanya-tanyai itu anaknya gak mau jadi saya biarkan kalau anaknya mau cerita ya saya dengarkan. (W2/B3)

Iya mbak jadi kalau ditanya-tanyain langsung malah dia tidak cerita tidak terbuka gitulo (W2/B4)

Ibu menjelaskan bahwa anak sudah tidak lagi melihat porno dengan jangka lama waktu lebih dari satu bulan. Kemudian peneliti menanyakan apakah sudah berhenti melihat pornografi jenis gay ibu menjelaskan bahwa ibu belum menanyakan lagi karena anak masih sangat tertutup. Belum mbak, soalnya dia itu kan saat itu sangat tertutup. Tapi kapan nanti saya tanyai lagi (W2/B41) Kan aslinya saya mau tanya itu takutnya anaknya malu, soalnya anaknya itu tertutup (W2/B43)

Anak mulai menunjukan tanda-tanda pubertasa seperti suaranya yang mulai berat. Namun jika ditanyakan kebenaranya oleh ibu anak cenderung menutup-nutupi.namun ibu sudah merasakan perubahan anak bahwa ia sudah mengalami pubertas. Sebaliknya anak justru lebih terbuka pada kakak dengan menanyakan perihal mimpi basah.

Iya mbak, tapi kalau saya bertanya ke anaknya itu, tidak jujur, tapi kan dari suaranya itu sudah terlihat mbak. (W2/B25)

Sekarang suaranya sudah besar, sudah lama mbak aslinya, hanya dia gak cerita, saya pernah tanya, le kamu sudah mimpi basah ta? Gak tau-gak tau (nada dengan

mengulang dan nadanya menekan seperti

menyembunyikan sesuatu) kan kadang ya dikasih tahu sama gurnya tapi kalau saya tanyai kamu sudah mimpi basah, gak tau aku, kamu sudah mimpi basah ya gak tau aku, kan aku belum mimpi basah. Jadi kalau ditanya-tanyai itu gak mau. (W2/B26)

Ketika menerapkan pada anak tentang pemahaman moral melalui video, anak cenderung bersikap acuh. Namun ibu melihat ada keresahan yang dirasakan anak namun tidak bisa disampaikannya.

Saya bilang gini lo le akibatnya kalau lihta-lihat begituan, gusti Allah nanti ngehukum gini-gini, iya ya bun, awalnya dia kayak cuek begitu mbak. Tapi mungkin kayaknya dia juga mikir mbak. Gitu itu masih malu kayak ada yang rahasia gitu, gak bisa terbuka.(W4/B13)

Tapi ya gitu mbak gak sampai selesai mbak Cuma separuh liat videonya. Apa gitu itu karena anaknya masih malu atau gimana gitu itu mbak. Soalnya F itu termasuk anak yang tertutup mbak. (W4/B18)

Begitupula saat memantau penggunaan gawai anak, anak justru menerapkan fitur penguncian pada gawainya sehingga orang lain tidak bisa melihatnya. Justru hal tersebut menimbulkan kecurigaan pada ibu tentang sikap anak.

Tapi kadnag dia protes ngapain saya lihat-lihta hpnya, kalau sekarng dikunci lagi mbka, jadi kadang kalau anknya itu ditutup-tutupi, jadi kalau saya minta itu alasannya, hp nya dices, abterainya habis, gitu mbak, jadi saya curiga kayak ada yang ditutup-tututpi.(W5/B38) Terus kadang disiram mbak celananya, direndam begitu mbak, kan biasanya baunya sudah beda kan mbak, tapi kayaknya udah disiram mbak, solanya anaknya itu malu mbak, tertutup gitu mbak (W5/B49)

D. Komunikasi Satu Arah

Kecenderungan anak bermain gawai terus menerus dikarenakan kurangnya interaksi komunikasi dengan anak. sehingga anak mengalihkan diri pada bermian

gawai. Komunikasi yang dilakukan oleh anak dan orangtua lebih sering komunikasi satu arah. Karena keadaaan fisik orangtua yang lelah sehingga dalam berkomunikasi menjadi tidak fokus. Komunikasi yang tidak tersampaikan informasinya adalah komunikasi satu arah.

Ya kadang kalau saya gak lagi capek terus kalau anaknya juga waktu pas hatinya, tapi kalau sudah pegang hp itu ya sibuk sama hpnya, saya bilang le jangan pegang hp gitu kan ada ibuk disini, terus dia bilang, ibunya ngantuk gitu (W5/B7).

Berkomunikasi dengan anak dilakukan oleh ibu hanya dengan menasehati anak dan jarang membicarakan ketertarikan yang disenangi anak.

Enggak mbak, Cuma saya biasaya ngasih tau jangan kayak anak perempuan atau saya kasih tau jangan bertengkar saja sama mabknya, ya seringnya sih ngasih tau begitu gak pernah sampai kesitu mbak, (W5/B8)

Berbeda komunikasi ibu dengan kakak subyek yang dapat bercanda bersama. Namun ibu baru menyadari bahwa dirinya jarang mengajak bercanda anak. Karena ibu membandingkan dengan kakka subyek yang lebih terbuka tidak sepeerti halnya subyek yang cenderung tertutup.

Kalau mbaknya itu kdang masih saya bercandain mbak, tapi kalau ini kok enggak ya mbak, saya kok baru nyadar ya mbak, gimana gitu itu mbak? (W5/B9)

Iya kadang gitun mbak, ini gimana ceritanya F, ya ini itu gini ceritanya bun, oh iya-iya. Iya mbak, memang saya sadari kalau saya kurang guyon (bercanda) sama F, kenapa ya (W5/B10)

Iya mbak, kalau sama mbaknya itu enggak mbak (maksudanya sering bercanda bersama), jadi kalau mbaknya itu memang lebih terbuka mbka sama saya, ap ay misalnya gak suka itu langsung diomongkan, ibuknya itu jangan gini-gini, terus kadang-kadang, kalau anaknya ada msalah saya dikasik tau, kalau sama adiknya ini enggak mbak.(W5/B11)

Dokumen terkait