Pelaksanaan Tugas Pokok dan Wewenang Bank Indonesia
3.1. Stabilitas Moneter
3.1.3. Koordinasi dengan Pemerintah
Untuk memperkuat efektivitas kebijakan moneter yang ditempuh, pada triwulan IV-2013 Bank Indonesia terus memperkuat koordinasi kebijakan dengan Pemerintah dalam mengendalikan inflasi. Menindaklanjuti hasil kesepakatan dalam Rakornas IV Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), Pokjanas TPID melakukan koordinasi dengan dengan seluruh TPID melalui forum Rakor Pusat-Daerah. Pelaksanaan Rakor Pusat-Daerah dibagi ke dalam tiga wilayah, yaitu Sumatera, Jawa, dan Kawasan Timur Indonesia (KTI). Dalam kesempatan tersebut dibahas berbagai permasalahan inflasi, khususnya terkait volatile food yang memerlukan penanganan kebijakan oleh Pemerintah Pusat. Selain itu, juga dilakukan High Level Meeting yang merupakan forum pertemuan tertinggi dengan melibatkan pimpinan masing-masing Kementerian/Lembaga dalam anggota Pokjanas TPID. Dalam pertemuan tersebut diputuskan berbagai isu, rencana kerja, serta berbagai rekomendasi kebijakan untuk selanjutnya diimplementasikan dan ditindaklanjuti oleh level teknis.
4 Nomor PER-09/MBU/2013 tahun 2013.
5 No. 15/8/PBI/2013 tanggal 7 Oktober 2013 tentang Transaksi Lindung Nilai kepada Bank. 6 No. 15/17/PBI/2013 (berlaku 3 FebruarI-2014).
Koordinasi kebijakan pengendalian inflasi pada triwulan IV-2013 dan keseluruhan tahun 2013 difokuskan pada upaya penguatan koordinasi dan aspek kelembagaan TPID, peningkatan akses informasi harga, dan upaya meminimalkan dampak kenaikan harga BBM subsidi. Hal ini mengingat pengendalian inflasi selama tahun 2013 dihadapkan pada sejumlah tantangan, baik dari sisi internal seperti gejolak harga pangan dan kenaikan BBM bersubsidi maupun dari sisi ekternal berupa pelemahan nilai tukar Rupiah terkait ketidakpastian kebijakan ekonomi Amerika Serikat yang kemudian memicu
imported inflation.
Berbagai tantangan tersebut membutuhkan penanganan dan kerjasama yang erat antara otoritas fiskal dan otoritas moneter. Berbagai kebijakan telah ditempuh oleh Bank Indonesia untuk meredakan tekanan inflasi melalui koordinasi dengan Pemerintah, baik di tingkat pusat maupun daerah, dalam forum Tim Pengendalian Inflasi (TPI) dan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID). Kerjasama dilakukan mempertimbangkan upaya stabilisasi harga yang efektif membutuhkan koordinasi lintas sektor, lintas kementerian, dan melibatkan aparatur pusat maupun daerah.
Bank Indonesia juga terus melakukan penguatan koordinasi dan konsolidasi kebijakan dengan Pemerintah dalam upaya memperkuat ketahanan ekonomi dalam menghadapi sejumlah tekanan domestik maupun eksternal yang muncul di tahun 2013. Konsolidasi kebijakan dengan Pemerintah dan lembaga terkait dilakukan melalui forum koordinasi “Round Table Policy Dialogue” (RTPD). Forum tersebut merupakan high level meeting, yang beranggotakan Bank Indonesia, sejumlah Kementerian teknis bidang perekonomian, dan Badan Pusat Statistik. Forum ini dibentuk dengan tujuan memberi nilai tambah dalam perumusan kebijakan baik oleh Bank Indonesia maupun Pemerintah melalui dialog dan diskusi bersama.
Koordinasi yang dilakukan melalui RTPD di tahun 2013 secara umum diarahkan untuk menghasilkan kebijakan-kebijakan yang dapat membawa defisit transaksi berjalan ke tingkat yang lebih sehat dan mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Selama 2013, telah diselenggarakan RTPD sebanyak empat kali, membahas berbagai isu ekonomi terkini yang memerlukan penanganan secara lintas Kementerian dan lembaga, termasuk dalam merespons tekanan terhadap Neraca Pembayaran Indonesia (NPI). Dalam RTPD, Bank Indonesia dan Pemerintah memiliki kesamaan pandangan bahwa permasalahan NPI, khususnya defisit transaksi berjalan, tidak hanya dipengaruhi oleh faktor siklikal berupa perlambatan laju perekonomian global dan penurunan harga komoditas namun juga disebabkan oleh masalah struktural seperti lemahnya daya saing ekspor dan tingginya ketergantungan terhadap impor. Dengan demikian, selain memitigasi dampak jangka pendek akibat kondisi global yang tidak kondusif, koordinasi kebijakan juga diperlukan untuk memperkuat struktur ekonomi Indonesia guna meningkatkan daya saing ekspor dan mengurangi tingginya ketergantungan impor. Koordinasi dengan Pemerintah merupakan bagian pelaksanaan tugas Bank Indonesia sejalan dengan amanat Undang-undang Bank Indonesia. Bentuk koordinasi dilakukan dalam kerangka sebagai Pemegang Kas Pemerintah dan pengelola kredit.
Sebagai pemegang Kas Pemerintah, Bank Indonesia terus berupaya memberikan layanan terbaik. Salah satunya melalui pengembangan sistem aplikasi Bank Indonesia Government electronic Banking (BIG-eB). Sistem aplikasi ini merupakan sarana elektronik yang disediakan khusus oleh Bank Indonesia kepada Pemerintah untuk memfasilitasi pelaksanaan transaksi secara elektronik dan online.
Di sisi lain, Pemerintah juga mengembangkan Sistem Perbendaharaan dan Anggaran Negara (SPAN) yang mengintegrasikan tiga proses utama di Kementrian Keuangan yaitu Perencanaan dan Pelaksanaan Anggaran, serta Akuntansi dan Pelaporan.
Pada awal tahun 2014, BIG-eB dan SPAN akan terkoneksi satu sama lain sehingga diharapkan pengelolaan rekening Pemerintah menjadi lebih efektif dan efisien.
Sampai dengan akhir 2013 Bank Indonesia mengelola berbagai rekening Giro Pemerintah yaitu: a. Rekening Giro Pemerintah dalam rupiah seperti Rekening Kas Umum Negara (RKUN) dan
Rekening Penempatan
b. Rekening Giro Pemerintah dalam valas seperti Rekening Kas Umum Negara dalam valas dan Rekening Penempatan dalam valas:
Sebagai pengelola kredit, koordinasi dengan Pemerintah diperlukan terkait dengan pelaksanaan tugas Bank Indonesia dalam mengelola Surat Utang Pemerintah (SUP) dan menyelesaikan risk sharing skim kredit tertentu.
3.1.4. Pengelolaan Utang Luar Negeri
3.1.4.1. Posisi Utang Luar NegeriPerkembangan posisi utang luar negeri Indonesia per Desember 2013 adalah sebesar USD264,1 miliar, menunjukkan utang luar negeri Indonesia pada 2013 berada dalam tren melambat. Utang luar negeri Indonesia pada Desember 2013 yang tercatat sebesar USD264,1 miliar, tumbuh 4,6% dibandingkan dengan posisi akhir 2012 yang tercatat sebesar USD252,4 miliar. Pertumbuhan tersebut lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan utang luar negeri tahun 2012 sebesar 12,0%. Perlambatan pertumbuhan utang luar negeri tergambar pada dinamika setiap triwulan selama 2013. Pada triwulan I-2013, pertumbuhan utang luar negeri masih tercatat 11,2% (yoy), namun kemudian tumbuh dalam tren melambat menjadi 8,0% (yoy) pada triwulan II-2013, 7,0% (yoy) pada triwulan III-2013, dan 4,6% (yoy) pada triwulan IV-2013.
Perlambatan pertumbuhan utang luar negeri Indonesia terjadi baik pada utang luar negeri sektor swasta maupun sektor publik. Utang luar negeri Indonesia pada Desember 2013 terdiri dari utang luar negeri sektor publik sebesar USD123,5 miliar (46,8% dari total utang luar negeri) dan utang luar negeri sektor swasta sebesar USD140,5 miliar (53,2% dari total utang luar negeri). Dengan posisi tersebut, utang luar negeri sektor publik terkontraksi 2,0% dibandingkan dengan pertumbuhan 6,3% pada 2012. Sementara itu, utang luar negeri sektor swasta pada periode yang sama tumbuh 11,3% (yoy), juga lebih lambat dibandingkan dengan pertumbuhan pada 2012 sebesar 18,3%. Dalam rangka memenuhi azas transparansi dan akuntabilitas pengelolaan data utang sektor publik, Bank Indonesia dan Kementerian Keuangan menerbitkan publikasi bersama (Joint Publication) Statistik Utang Sektor Publik Indonesia (SUSPI), yang terdiri dari data utang Pemerintah, Bank Indonesia dan BUMN, baik utang domestik maupun utang luar negeri. SUSPI merupakan joint program antara World Bank dan IMF dalam rangka penyediaan data utang sektor publik di setiap negara sesuai standar internasional yang comparable.
3.1.4.2. Penarikan dan Pembayaran Utang Luar Negeri
Berdasarkan Undang-undang, Bank Indonesia melakukan penatausahaan penarikan utang luar negeri Pemerintah. Penarikan utang luar negeri ini selain ditujukan untuk membiayai proyek tertentu, juga diperlukan untuk membiayai defisit APBN, dan pengelolaan portofolio utang, serta melakukan pembayaran utang luar negeri Pemerintah yang jatuh waktu.
Pada triwulan IV-2013, jumlah penarikan utang luar negeri Pemerintah yang ditatausahakan oleh Bank Indonesia mencapai USD1,7 miliar. Sebagian besar merupakan penarikan utang yang berasal dari pinjaman yang diberikan oleh kelompok Multilateral yakni sebesar USD1,2 miliar.
Sementara itu, jumlah pembayaran utang luar negeri Pemerintah yang jatuh waktu dilaksanakan berdasarkan perintah pembayaran dari Kementerian Keuangan. Pada triwulan IV-2013, realisasi pembayaran utang luar negeri Pemerintah tercatat sebesar USD970 juta yang terdiri dari USD803 juta untuk pembayaran pokok dan USD167 juta pembayaran bunga pinjaman.
Aspek penting dalam pembayaran utang luar negeri adalah terlaksananya pembayaran cicilan pokok dan bunga yang aman, akurat dan tepat waktu. Oleh karena itu, Bank Indonesia harus dapat menjamin ketersediaan valuta asing yang diperlukan Pemerintah untuk keperluar pembayaran utang tersebut.