Pelaksanaan Tugas Pokok dan Wewenang Bank Indonesia
3.2. Stabilitas Sistem Perbankan
3.2.5. Program Keuangan yang Inklusif (Financial Inclusion)
Sebagai upaya meningkatan akses pada layanan keuangan bagi masyarakat, Bank Indonesia melaksanakan kegiatan keuangan inklusif, bersinergi dengan berbagai pemangku kepentingan dari dalam negeri dan luar negeri.
3.2.5.1. Digital Financial Services (DFS) / Layanan Keuangan Digital
Program ini bertujuan memperluas akses layanan sistem pembayaran dan keuangan terbatas kepada masyarakat unbanked, yang dilakukan tidak melalui kantor fisik bank, namun menggunakan sarana teknologi dan/atau jasa pihak ketiga.
Dalam mengimplementasikan program DFS tersebut, Bank Indonesia melaksanakan pilot project dengan melibatkan lima bank peserta yakni Bank Mandiri, BRI, Bank CIMB Niaga, BTPN dan BSHB. Selain itu, proyek tersebut mengikutsertakan dua Telco, yaitu: Indosat dan XL Axiata. Pilot project yang dilaksanakan pada Mei s.d November 2013 dilakukan di lima provinsi yaitu Provinsi Jawa Barat (Bandung, Bogor, Cirebon, Indramayu, & Sumedang), Sumatera Selatan (Ogan Hilir & Banyuasin), Jawa Tengah (Purworejo, Kebumen), Jawa Timur (Banyuwangi), Bali (Karangasem, Gianyar, Jembarana & Tabanan). Berdasarkan evaluasi, animo masyarakat terhadap program tersebut cukup tinggi yang ditunjukkan dengan peningkatan pembukaan rekening tabungan dan e-money, serta peningkatan jumlah transaksi.
3.2.5.2. Edukasi Keuangan
Untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pengelolaan keuangan, produk dan jasa perbankan, Bank Indonesia melakukan berbagai kegiatan edukasi keuangan. Sasaran edukasi keuangan tersebut cukup beragam, meliputi pelajar, Tenaga Kerja Indonesia dan kelompok masyarakat tertentu lainnya (Petani, Nelayan, UMKM, Pegawai Negeri). Upaya lain yang dilakukan adalah dengan memasukkan materi edukasi keuangan ke dalam kurikulum nasional (SMA) serta kurikulum dasar pelatihan TKI. Selain itu, Bank Indonesia juga melakukan pelatihan (trainingfor
trainers) kepada para pendidik.
Selama 2013, telah dilaksanakan berbagai kegiatan sebagai berikut: 1. Program Edukasi kepada pelajar SD dan SMP/setingkat:
a. Penandatanganan Nota Kesepahaman dengan Kanwil Kemenag Jabar di tingkat Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) di wilayah Jabar.
b. Penyempurnaan bahan ajar bagi pelajar MI dan MTs.
c. Kegiatan training for trainers kepada para pendidik (MI dan MTs) di wilayah Jawa Barat. d. Penyusunan buku ensiklopedi perbankan.
2. Program Edukasi kepada pelajar SMA/setingkat:
a. Penandatanganan Nota Kesepahaman dengan Kanwil Kemenag Jabar untuk edukasi Kebanksentralan di tingkat Madrasah Aliyah (MA) di wilayah Jabar.
b. Penyusunan buku pedoman guru ekonomi.
c. Pengintegrasian pendidikan kebanksentralan (termasuk pendidikan keuangan) dalam kurikulum nasional 2013.
d. Kegiatan training for trainers kepada para pendidik MA di wilayah Jawa Barat.
3. Program Edukasi kepada mahasiswa, telah dilakukan Edukasi keuangan kepada mahasiswa di lima Wilayah : USU Medan (Sumatera Utara), UNM Malang (Jawa Timur), Universitas Mulawarman (Kalimantan Timur), Universitas Udayana (Denpasar), dan Universitas Haluoleo Kendari (Sulawesi Tenggara).
4. Program Edukasi perbankan dan kewirausahaan kepada Tenaga Kerja Indonesia (TKI), telah dilakukan:
a. Kegiatan training for trainers dalam rangka edukasi keuangan kepada TKI dengan menggunakan modul World Bank.
b. Edukasi keuangan kepada TKI di enam wilayah kantong TKI (Kupang, Malang, Ungaran, Sidoarjo, Tangerang, dan Bekasi).
5. Program Edukasi kepada kelompok masyarakat tertentu, meliputi:
a. Pembina petani (Tim Pangan Desa) dan Pengurus Lembaga Keuangan Desa (LKD) seluruh Provinsi Jawa Timur bekerjasama dengan Kementerian Pertanian dan Badan Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Timur.
b. Nelayan bekerjasama dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan di wilayah Belitung Timur – Provinsi Lampung, Aceh Tenggara – Provinsi Aceh, dan Bitung – Provinsi Sulawesi Utara. c. Masyarakat di wilayah perbatasan Kalimantan Barat-Malaysia (Entikong) kerjasama dengan
Kementerian Ekonomi dan UMKM.
d. Masyarakat dan aparat pemerintah pegawai negeri di wilayah perbatasan dan masyarakat di kepulauan terluar bekerjasama dengan Dirjen Bea Cukai, dan TNI – Angkatan Laut di Kabupaten Atambua (NTT), Kabupaten Nunukan (Kalimantan Utara), Kepulauan Seribu (DKI Jakarta), dan Pulau Jemaja, Pulau Tarempa, Pulau Laut/Sekatung, dan Pulau Subi.
e. Pembahasan modul edukasi keuangan kepada petani bekerjasama dengan Kementerian Pertanian.
3.2.5.3. Program TabunganKu
Program perluasan akses layanan keuangan bagi masyarakat juga dikukan melalui program kemu dahan dalam menabung yang diberi nama program TabunganKu. Program tersebut disambut positif oleh masyarakat, sebagaimana ditunjukan dari jumlah rekening dan nominal TabunganKu yang terus meningkat. Pada November 2013, jumlah rekening TabunganKu dan Basic Saving Account lainnya tercatat sebanyak 10.853.834 rekening, meningkat sebesar 7.218.215 rekening dibandingkan akhir tahun 2012 (3.635.619 rekening). Jumlah tersebut melampaui target 2013 sebanyak 3 juta rekening. Sementara dari sisi nominal, jumlah nominal TabunganKu dan Basic Saving Account lainnya tercatat sebesar Rp18,14 triliun, meningkat Rp14,20 triliun dari Desember 2012 (Rp3,94 triliun). Adapun rata-rata saldo rekening tabunganKu dan Basic Saving Account adalah sebesar Rp1.671.249,17 per rekening.
Guna meningkatkan jangkauan program TabunganKu, Bank Indonesia melakukan beberapa upaya diantaranya dengan menyempurnakan fitur TabunganKu. Selain itu, saat ini sedang diupayakan penggunaan TabunganKu untuk mendukung program Bantuan Siswa Miskin (BSM). Bank Indonesia juga akan mengkampanyekan Hari Rajin Menabung bersama dengan perbankan di beberapa wilayah.
3.2.5.4. Kampanye Gerakan Menabung
Guna mendukung kegiatan edukasi keuangan dan program TabunganKu, Bank Indonesia juga melakukan Kampanye Gerakan Menabung. Selama 2013, Bank Indonesia telah melaksanakan kampanye ini di sembilan wilayah kerja Kantor Perwakilan Wilayah Dalam Negeri Bank Indonesia. Bank Indonesia juga mendorong perbankan untuk mendukung hari Rabu sebagai Hari Rajin Menabung dan bersama dengan perbankan melaksanakan kampanye Gerakan Menabung di berbagai daerah.
3.2.5.5. Financial Identity Number (FIN) Survey
Untuk menyediakan database unbanked people yang dapat diakses oleh institusi keuangan, Bank Indonesia melaksanakan survei pembentukan FIN. Kegiatan ini telah dilaksanakan sejak tahun 2012 dan dilanjutkan pada tahun 2013.
Di 2013, Bank Indonesia dan Kementerian Dalam Negeri mencapai kesepakatan untuk memanfaatkan database FIN dalam rangka pemanfaatan e-KTP. Kesepakatan tersebut dituangkan dalam Nota Kesepahaman antara Gubernur Bank Indonesia dengan Manteri Dalam Negeri. Untuk melengkapi database FIN, Bank Indonesia juga melakukan penjajagan pemanfaatan data masyarakat miskin dari Kementrian Sosial dan data yang berasal dari Baseline survey (a.l. menggunakan data TabunganKu,
MPS, Profil UMKM, data G2P, data Kementerian Terkait) serta Comprehensive survey (a.l. menggunakan
data UMKM Binaan BI, Profil UMKM baru). Selain itu, Bank Indonesia juga mengembangkan aplikasi FIN.
3.2.5.6. Pengembangan Sistem Informasi Harga Komoditi
Pengembangan Sistem Informasi Harga Komoditi bertujuan untuk mempermudah masyarakat dalam memperoleh informasi harga komoditi, sehingga dapat dipergunakan untuk meningkatkan taraf hidupnya dan mendukung perluasan akses layanan keuangan.
Di 2013, Bank Indonesia melakukan identifikasi dan penjajakan pengembangan Sistem Informasi Harga Komoditi. Ke depan, sistem informasi ini akan diselaraskan dengan Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) yang sebelumnya telah diimplementasikan Bank Indonesia di beberapa daerah dalam rangka pengendalian inflasi.
3.2.5.7. Kerjasama dengan Pemangku Kepentingan Terkait
Dalam rangka pengembangan program keuangan inklusi, Bank Indonesia telah melaksanakan koordinasi dan kerjasama dengan pemangku kepentingan terkait. Beberapa kegiatan koordinasi dan kerjasama yang telah dilakukan selama 2013 meliputi:
a. Penyelenggaraan Workshop APEC on Financial Inclusion di Jakarta pada tanggal 26-27 Februari 2013 dan di Manado pada tanggal 23-24 Mei 2013.
b. Kontribusi dalam pelaksanaan Finance Ministers and Central Banks Deputies Meeting dan Senior
Official Meeting APEC 2013 khususnya terkait topik financial inclusion.
c. Penyusunan Joint Ministerial Statement (JMS) APEC 2013 dengan memasukan materi financial
inclusion hasil pembahasan workshop APEC. JMS telah disepakati para Menteri Keuangan APEC member economies sehingga financial inclusion tetap menjadi agenda prioritas pembahasan
APEC berikutnya.
d. Penandatanganan Nota Kesepahaman antara dengan TNP2K dalam rangka pengembangan keuangan inklusif.
e. Penjajagan kerjasama Government to Person (G2P) dengan Kementerian Sosial dan Bappenas dalam rangka perluasan program MPS melalui Program Keluarga Harapan (PKH).
f. Kerjasama dengan IFC – World Bank dalam rangka kegiatan “Launching the Digital Financial
Inclusion initiative with the Forum on Product Innovations for Financial Inclusion” yang telah
dilaksanakan di Jakarta pada tanggal 12 November 2013.