Pelaksanaan Tugas Pokok dan Wewenang Bank Indonesia
3.1. Stabilitas Moneter
3.1.2. Pengelolaan Operasi Moneter dan Nilai Tukar
Pada triwulan IV-2013, kebijakan moneter Bank Indonesia juga didukung oleh pengelolaan likuiditas di pasar uang rupiah dan pasar valas melalui operasi moneter rupiah dan valas. Strategi pengelolaan operasi moneter yang dilakukan melalui optimalisasi pengelolaan kecukupan likuiditas rupiah sehingga dapat mengarahkan suku bunga PUAB O/N sebagai sasaran operasional kebijakan moneter yang konsisten dengan upaya memperkuat stabilitas ekonomi.
Secara keseluruhan, likuiditas rupiah di sistem perbankan selama triwulan IV-2013 masih berada dalam kondisi ekses likuiditas sehingga Bank Indonesia secara net melakukan operasi moneter kontraktif. Pada akhir Desember 2013, posisi instrumen operasi moneter tercatat sebesar Rp273,49 triliun, mengalami peningkatan sebesar Rp35,41 triliun (15%) dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar Rp308,90 triliun. Pengelolaan likuiditas di pasar uang rupiah dilakukan melalui instrumen Operasi Pasar Terbuka, antara lain melalui Sertifikat Bank Indonesia Konvensional dan Syariah (SBI/S), Reverse Repo SBN (RR-SBN), Sertifikat Deposito Bank Indonesia (SDBI), Term Deposit (TD) Rupiah, serta melalui instrumen Standing Facilities (SF) yang terdiri dari Deposit Facility (DF/S) dan Lending
Seiring dengan kenaikan BI Rate selama triwulan IV-2013 sebesar 25 bps, suku bunga instrumen operasi moneter juga turut mengalami peningkatan di semua tenor. Suku bunga SBI 9 bulan, sebagai suku bunga instrumen operasi moneter tenor terpanjang, naik sebesar 26 bps menjadi 7,22% pada triwulan IV-2013. Dibandingkan dengan triwulan sebelumnya, slope suku bunga tersebut cenderung lebih curam (Grafik 3.1). Pembentukan slope suku bunga instrumen yang lebih curam tersebut ditujukan untuk memperbaiki term structure suku bunga pasar serta sebagai upaya untuk melakukan “locking” likuiditas ke tenor lebih panjang sebagai bagian dari strategi pengelolaan likuiditas.
Grafik 3.1 Perkembangan Suku Bunga Instrumen Operasi Moneter � � � � � � � ���������� ����������� ���������� ��� ���� ���� ���� ���� ���� ���� ���� ���� ���� ���� ����
Sebagaimana triwulan sebelumnya, DF/S masih menjadi instrumen operasi moneter paling dominan. Posisi DF/S pada triwulan laporan meningkat sebesar Rp11,22 triliun (10%) menjadi Rp127,40 triliun dibandingkan triwulan III-2013. Posisi DF/S yang meningkat di akhir tahun sejalan dengan pola di tahun sebelumnya, dimana hal tersebut mencerminkan perilaku berjaga-jaga pelaku pasar dalam mengantisipasi kebutuhan likuiditas di akhir tahun.
Sebagai upaya untuk menyediakan instrumen pengelolaan likuiditas bagi bank yang lebih fleksibel di tengah penurunan ekses likuiditas namun dengan tenor lebih panjang dari DF/S, Bank Indonesia mengoptimalkan penggunaan instrumen SBI/S, SDBI dan RR SBN. Selama triwulan IV-2013, posisi SBI/S meningkat sebesar Rp27,52 triliun menjadi Rp96,10 triliun; SDBI meningkat sebesar Rp 7,25 triliun menjadi Rp26,52 triliun, sedangkan RR SBN menurun sebesar Rp12,94 triliun menjadi Rp75,15 triliun. Instrumen SBI, SDBI dan RR SBN diharapkan dapat mendukung pendalaman pasar uang dan pasar SBN.
Berdasarkan perkembangan pada triwulan IV-2013 tersebut, posisi instrumen operasi moneter pada akhir 2013 mengalami penurunan dibandingkan dengan posisi 2012. Posisi instrumen moneter akhir tahun 2013 tercatat sebesar Rp273,49 triliun, menurun Rp155,65 triliun (36%) dibanding posisi akhir 2012. Penurunan posisi operasi moneter tersebut antara lain disebabkan oleh mutasi uang kartal terkait dengan kebutuhan kegiatan ekonomi dan transaksi valas Bank Indonesia dalam pengelolaan nilai tukar.
Grafik 3.2 Perkembangan Outstanding Instrumen Operasi Moneter
Dari perkembangan tahunan tersebut, terlihat adanya pergeseran komposisi penggunaan instrumen operasi moneter (Grafik 3.3). Pada 2013, Bank Indonesia berupaya menyediakan instrumen pengelolaan likuiditas yang lebih fleksibel bagi perbankan dalam mengantisipasi risiko terjadinya tekanan dan keketatan likuiditas di pasar uang. Hal ini mengakibatkan komposisi TD menjadi berkurang, bahkan menjadi nihil pada akhir tahun 2013. Sementara itu, komposisi SBI, RR SBN, dan SDBI meningkat masing-masing menjadi sebesar 30%, 23% dan 8%, dengan komposisi DF/S tenor O/N masih relatif tinggi, yaitu sebesar 39%.
���������� ��� ��� ��� � ���� ���� ���� ���� ����� ������ ����� ���� ����� ������ ����� ���� �� ���� ������ ���� ���� ���� ������� ��� ��� Grafik 3.3
Struktur Instrumen Operasi Moneter ������������������������� ���������� ����������������������������������� ������� ��� ����� ��� ���� ��� �������� ������ ��� �� ��� ��� ��� ���� ���
Selain menggunakan instrumen operasi moneter yang dapat mendukung pendalaman pasar uang rupiah, Bank Indonesia juga melakukan kegiatan pengembangan instrumen keuangan serta peningkatan partisipasi pelaku pasar, antara lain melalui penyusunan Mini Master Repurchase
Agreement (Mini-MRA). Implementasi Mini MRA dimaksudkan untuk mendukung pendalaman
pasar uang rupiah dengan cara mendorong penggunaan kontrak standar dalam transaksi repo antar bank sehingga mempermudah dan meminimalkan potensi risiko pelaksanaan transaksi repo antar bank. Pada triwulan IV-2013, pilot project Mini MRA telah disepakati oleh delapan bank. Kesepakatan penggunaan yang dituangkan dalam kontrak perjanjian standar diharapkan akan diikuti oleh perbankan secara luas sehingga market line repo antar bank dapat segera terbentuk dan dapat memperkuat efektivitas transmisi kebijakan moneter Bank Indonesia guna mencapai stabilitas harga.
Pada triwulan IV-2013, Bank Indonesia juga melakukan kerjasama dengan Bank of Japan terkait Cross
Border Liquidity Arrangement. Kerjasama tersebut sebagai bagian dari komitmen Bank Indonesia dan
Bank of Japan untuk mendukung hubungan ekonomi dan finansial antara Indonesia dan Jepang yang telah lama terjalin. Kerjasama Cross Border Liquidity Arrangement antara Bank Indonesia dengan Bank of Japan dilaksanakan dalam rangka meminimalkan potensi terjadinya gangguan likuiditas sistem keuangan, melalui penyediaan likuiditas rupiah dari Bank Indonesia kepada bank komersial domestik dengan underlying asset berupa Japanese Government Bond (JGB). Mekanisme Cross
Border Liquidity Arrangement diberlakukan pada kondisi krisis terkait Protokol Manajemen Krisis
(PMK) Bank Indonesia. Penetapan kondisi krisis diputuskan oleh Forum Koordinasi Stabilitas Sistem Keuangan (FKSSK).
Untuk mewujudkan pasar keuangan Indonesia yang lebih berkembang dan tertata dengan baik, di 2013 Bank Indonesia melanjutkan inisiatif akselerasi pendalaman pasar keuangan. Kegiatan ini sekaligus sebagai lanjutan dari program kerja tahun 2012. Program akselerasi pendalaman pasar keuangan mencakup lima pilar yaitu (i) pilar regulasi dan standarisasi, (ii) pilar pengembangan pasar dan instrumen, (iii) pilar pengembangan infrastruktur dan sistem pasar keuangan, (iv) pilar kelembagaan, serta (v) pilar pemahaman dan edukasi.
Sampai dengan akhir 2013, Bank Indonesia telah menyusun strategi pendalaman pasar keuangan berdasarkan pemetaan kondisi pasar keuangan dan hasil diskusi dengan pemangku kepentingan terkait. Selain itu, Bank Indonesia juga melakukan koordinasi dengan Dewan Syariah Nasional (DSN)-Majelis Ulama Indonesia (MUI) dalam rangka inisiasi penyusunan fatwa terkait repo syariah antarbank, sekaligus sebagai edukasi dan sharing informasi kepada DSN-MUI mengenai mekanisme repo syariah.
Bank Indonesia melakukan survei kepada perusahaan dan bank untuk mendukung finalisasi kajian pengembangan instrumen Medium Term Notes dan Commercial Paper. Selain itu juga dilakukan evaluasi pengaturan kegiatan Trustee guna mengidentifikasi peluang pengembangan ke depan. Evaluasi dilakukan dengan melibatkan perbankan yang menjalankan fungsi Trust dan deposan yang menjadi target klien kegiatan Trustee.
Selain itu, Bank Indonesia juga melakukan penelitian terhadap kegiatan sekuritisasi aset lembaga pembiayaan dan upaya pengembangan pasar secondary mortgage facility. Kegiatan tersebut mencakup pula survei kepada lembaga pembiayaan yang tersebar di lima kota besar di Indonesia. Stabilitas nilai tukar rupiah memerlukan dukungan pasar keuangan yang sehat khususnya pasar valuta asing domestik untuk menjaga kelangsungan kegiatan ekonomi nasional. Sementara itu, kapasitas
pasar valas domestik saat ini belum memadai untuk menyerap risiko ketidakpastian pergerakan nilai tukar. Sebagian besar kebutuhan valas dihadapi pembeli valas terbesar yaitu BUMN, adalah belum adanya payung hukum bagi pelaksanaan transaksi lindung nilai. Terkait hal tersebut, Bank Indonesia berkoordinasi dengan Kementerian Keuangan (Kemenkeu) dan Kementerian Negara (Kemeneg) BUMN terkait dengan pemenuhan kebutuhan valas BUMN. Sebagai tindak lanjut hasil koordinasi dimaksud, telah dilakukan :
1. Penerbitan Peraturan Menteri BUMN4 yang memberi kepastian hukum bagi perusahaan milik negara untuk melakukan transaksi hedging atau lindung nilai dalam rangka memitigasi risiko pasar yang dihadapi.
2. Perbitan Peraturan Bank Indonesia5 yang mengatur transaksi lindung nasabah bank (perorangan dan perusahaan, termasuk BUMN).
3. Penerbitan Peraturan Bank Indonesia6 yang merupakan penyempurnaan ketentuan terkait Transaksi Swap Lindung Nilai Kepada Bank Indonesia. Transaksi Swap Lindung Nilai kepada Bank Indonesia adalah transaksi swap beli bank dalam valuta asing terhadap Rupiah, dalam rangka lindung nilai yang dilakukan antara bank dengan BI. Penyediaan instrumen swap lindung nilai bagi pelaku pasar domestik tersebut merupakan upaya Bank Indonesia dalam memperdalam pasar valas domestik dimana instrumen swap jangka menengah-panjang masih terbatas. Hal ini ditujukan untuk meminimalkan risiko nilai tukar dan mendukung kegiatan investasi di Indonesia.
Payung hukum tersebut diharapkan dapat mendorong pelaku ekonomi melakukan lindung nilai terhadap kegiatan ekonomi maupun investasinya sehingga kelangsungan kegiatan ekonomi tetap berjalan di tengah gejolak pergerakan nilai tukar. Dalam jangka panjang, transaksi lindung nilai baik melalui transaksi swap atau forward yang dilakukan oleh pelaku ekonomi dapat mendukung pendalaman pasar valuta asing domestik.