• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V. HASIL DAN PEMBAHASAN

D. KORELASI RANK SPEARMAN

Analisis selanjutnya yang dilakukan adalah analisis mengenai adanya pengaruh tingkat penerapan metode Six Sigma pada tingkat motivasi kerja karyawan. Untuk melihat pengaruh tingkat penerapan Six Sigma pada tingkat motivasi kerja karyawan di PT GOODYEAR INDONESIA maka terlebih dahulu dilihat hubungan antara tingkat motivasi pribadi, tingkat kopensasi kerja, suasana kerja dan hubungan kerja terhadap tingkat penerapan Six Sigma. Variabel tersebut merupakan indikator tingkat motivasi kerja karyawan.

Berdasarkan hasil uji Rank Spearman, terdapat hubungan antara tingkat penerapan Six Sigma dengan tingkat motivasi pribadi. Hasil uji tersebut berada pada tingkat kepercayaan 99% (α = 0.1%) dengan hubungan positif dan dalam pengujian 2 sisi. Artinya, semakin tinggi penerapan Six Sigma maka semakin tinggi pula tingkat motivasi pribadi karyawan, sebaliknya semakin rendah penerapan Six Sigma maka semakin rendah pula tingkat motivasi pribadi karyawan. Hubungan tersebut cukup kuat yaitu sebesar 62,6% (lihat Lampiran 2).

Hal yang sama juga terjadi pada tingkat penerapan Six Sigma dengan tingkat kompensasi kerja. Hasil uji Rank Spearman menyatakan bahwa terdapat hubungan antara penerapan Six Sigma dengan tingkat kompensasi kerja. Hasil uji tersebut berada pada tingkat kepercayaan 99% (α = 0.1%) dengan hubungan positif dan dalam pengujian 2 sisi. Artinya, semakin tinggi penerapan Six Sigma maka semakin tinggi pula tingkat kompensasi kerja karyawan, sebaliknya semakin rendah penerapan Six Sigma maka semakin rendah pula tingkat kompensasi kerja karyawan. Hubungan tersebut cukup kuat yaitu sebesar 55,5% (lihat Lampiran 2).

Berdasarkan uji Rank Spearman, terdapat hubungan antara penerapan Six Sigma dengan suasana kerja di perusahaan. Hasil uji tersebut berada pada tingkat kepercayaan 99% (α = 0.1%) dengan hubungan negatif dan dalam pengujian 2 sisi. Artinya, semakin tinggi penerapan Six Sigma maka semakin tidak kondusif suasana kerja di PT GOODYEAR INDONESIA, sebaliknya semakin rendah tingkat penerapan Six Sigma maka semakin kondusif suasan kerja di perusahaan. Hubungan tersebut cukup kuat yaitu sebesar 57,9% (lihat Lampiran 2).

Hasil uji Rank Spearman menyatakan bahwa terdapat hubungan antara penerapan Six Sigma dengan hubungan kerja karyawan. Hasil uji tersebut berada pada tingkat kepercayaan 99% (α = 0.1%) dengan hubungan positif dan dalam pengujian 2 sisi. Artinya, semakin tinggi penerapan Six Sigma maka semakin baik pula hubungan antara karyawan dengan pimpinan maupun dengan sesama karyawan, sebaliknya semakin rendah penerapan Six Sigma maka semakin tidak baik (harmonis) pula hubungan karyawan dengan pimpinan maupun dengan sesama keryawan. Hubungan tersebut cukup kuat yaitu sebesar 52,9% (lihat Lampiran 2). Gambar 3 di halaman berikut ini menjelaskan mengenai hubungan antara Six Sigma dengan keempat variabel motivasi tersebut.

48 50 52 54 56 58 60 62 64 Koefisien Korelasi Six Sigma - Motivasi Pribadi Six Sigma - Kompensasi Kerja Six Sigma - Suasana Kerja Six Sigma - Hubungan Kerja

Gambar 3. Hasil Korelasi Rank Spearman Terhadap Variabel Motivasi

Kerja Karyawan

Jika diranking kuat-lemahnya hubungan antara dua variabel, maka berdasarkan Tabel 10, hubungan variabel yang paling kuat adalah hubungan antara tingkat penerapan Six Sigma dengan tingkat motivasi pribadi. Persentase koefisien hubungan tersebut sebesar 62,6%. Selanjutnya yang memiliki hubungan terkuat kedua, ketiga, dan keempat berturut-turut sebagai berikut: Six Sigma dan

suasana kerja sebesar 57,9%, Six Sigma dan kompensasi kerja sebesar 55,5% dan Six Sigma dan suasana kerja sebesar 52,9%.

Tabel 10. Koefisien Korelasi antara Dua Variabel

Hubungan 2 Variabel Koefisien Korelasi Sumber Motivasi

Six Sigma - Motivasi Pribadi 62,6% 62,6% Internal

Six Sigma - Kompensasi Kerja 55,5%

Six Sigma - Suasana Kerja 57,9%

Six Sigma - Hubungan Kerja 52,9%

57,9%. Eksternal

Jika dianalisis berdasarkan sumber motivasi, hubungan yang kuat tetap ada pada hubungan antara tingkat penerapan metode Six Sigma dengan tingkat motivasi pribadi atau motivasi yang bersumber dari dalam diri karyawan (internal) yaitu sebesar 62, 6%. Faktor motivasi yang berasal dari luar karyawan (eksternal) menunjukkan hubungan yang lebih lemah yaitu hanya 57,9%. Kondisi tersebut dapat dilihat dalam gambar 4.

55 56 57 58 59 60 61 62 63 Koefisien Korelasi Six Sigma - Motivasi Pribadi Six Sigma - Kompensasi Kerja, Suasana Kerja, Hubungan

Gambar 4. Hasil Koefisien Korelasi Motivasi Internal dan Eksternal

Secara umum, uji Rank Spearman menyatakan bahwa terdapat hubungan antara tingkat penerapan Six Sigma dengan tingkat motivasi kerja karyawan. Hasil uji tersebut berada pada tingkat kepercayaan 99% (α = 0.1%) dengan hubungan

positif dan dalam pengujian 2 sisi. Artinya, semakin tinggi penerapan Six Sigma maka semakin tinggi pula motivasi kerja karyawan, sebaliknya semakin rendah penerapan Six Sigma maka semakin rendah pula motivasi kerja karyawan. Hubungan tersebut cukup kuat yaitu sebesar 54,6% (lihat Lampiran 2).

Hasil ini menunjukkan bahwa bila penerapan Six Sigma dilakukan secara tepat dan lebih baik, maka motivasi kerja karyawan akan meningkat. Hipotesis awal dari penelitian ini, yaitu adanya hubungan antara penerapan Six Sigma dengan tingkat motivasi kerja karyawan bernilai benar.

Tabel 10 menunjukkan bahwa antara penerapan metode Six Sigma dengan sumber motivasi internal maupun eksternal memiliki hubungan positif, sama halnya jika analisis terhadap hubungan motivasi kerja (tidak dibedakan internal maupun eksternal) dan penerapan metode Six Sigma juga menunjukkan hubungan positif. Namun demikian, jika dibedakan berdasarkan sumber motivasi, hubungan yang kuat ada pada hubungan antara penerapan metode Six Sigma dengan sumber motivasi internal, dengan nilai hubungan 62,6%, sedangkan hubungan antara penerapan metode Six Sigma dengan sumber motivasi eksternal hanya memiliki kekuatan hubungan sebesar 57,9%.

Hal tersebut juga menunjukkan bahwa dalam menyelesaikan tugas-tugas kantor dengan metode Six Sigma, karyawan PT GOODYEAR INDONESIA, Tbk berdasarkan atas keinginan karyawan sendiri. Padahal, tingkat motivasi pribadi (internal) karyawan masih rendah tetapi secara umum tingkat motivasi kerja karyawan cukup tinggi. Artinya, penerapan Six Sigma dapat digunakan untuk membangkitkan motivasi internal pekerja agar lebih optimal dalam melakukan pekerjaannya. Hal ini sesuai dengan teori Maslow mengenai motivasi, dimana motivasi dapat timbul ketika terjadi pemenuhan kebutuhan pekerja. Dalam hal ini, responden terlihat lebih membutuhkan pengakuan atas prestasi dan penghargaan personal.

Perusahaan dapat memanfaatkan momen penerapan Six Sigma untuk merangsang karyawan agar berprestasi, dengan cara memberikan tantangan dalam proyek-proyek Six Sigma. Tentunya, agar dicapai hasil yang maksimal,

perusahaan harus mengaitkan hasil proyek tersebut sebagai prestasi kerja dengan “track record” pekerja yang bersangkutan. Dengan demikian, keberhasilan proyek akan menjadi penentu promosi karyawan dan dengan sendirinya, karyawan akan merasa dihargai prestasinya.

Dokumen terkait