• Tidak ada hasil yang ditemukan

Fase pra krisis (pre crisis). Komunikasi krisis berkonsentrasi pada menemukan dan mengurangi resiko, dalam fase ini

Menelaah Pandemi Covid-19 di Indonesia dalam Perspektif Komunikasi Krisis

1) Fase pra krisis (pre crisis). Komunikasi krisis berkonsentrasi pada menemukan dan mengurangi resiko, dalam fase ini

pencegahan krisis merupakan prioritas utama agar krisis tidak terjadi. Fase pra krisis melibatkan tiga tahap: (1) signal

detection, (2) prevention, and (3) crisis preperation. Pada fase

sebelum krisis tiba di Indonesia, dan ketika wabah Covid-19 memuncak di Cina (tahap signal detection), pemerintah Indonesia terlihat tidak antisipatif terhadap dampak global virus tersebut, sehingga tidak bisa melakukan tahap kedua, yaitu prevention. Pertama kali kasus diumumkan pada 2 Maret 2020, menandai masa awal krisis dan pemerintah tampaknya belum memiliki cukup persiapan unutk mencegah terjadinya krisis (tahap crisis preparation). Jika dipandang dari perspektif komunikasi krisis, yang menurut Prastya (2013) berarti memberikan respon dengan segera begitu krisis terjadi dengan pesan yang terbuka dan jujur kepada para pemangku kepentingan (stakeholder), baik itu yang terpengaruh secara langsung maupun tidak langsung. Pemerintah bukan hanya tidak siap, bahkan masih menganggap wabah tersebut bukan

sesuatu yang serius, terbukti beberapa pejabat setingkat menteri menanggapinya dengan enteng, bahkan ada yang menanggapi dengan joke. Banyak pihak yang menuding pemerintah juga tidak jujur dengan data orang-orang yang sudah terinfeksi. Pada periode ini publik yang tidak mendapatkan panduan resmi dari pemerintah menjadi kebingungan sehingga bertindak panik, misalnya dengan memborong sembako, ataupun tidak bereaksi dan tetap melakukan kegiatan harian, padahal beresiko tinggi.

2) Fase krisis (crisis event). Fase respons krisis adalah aspek yang paling banyak diteliti dari komunikasi krisis. Selama crisis

event, crisis managers harus menyadari bahwa organisasai

berada dalam krisis dan harus mengambil tindakan yang tepat. Pada fase ini ada dua tahap: (1) crisis recognition dan (2) crisis

containment. Komunikasi dengan stakeholders merupakan

bagian kritis pada fase ini. Organisasi harus berkomunikasi kepada stakeholders melalui kata-kata dan tindakan yang dilakukannya. Jadi pada fase ini yang harus dilakukan pemerintah adalah mengkomunikasikan dengan baik segala hal terkait isu Covid-19 dan tindakan apa yang akan dan sudah dilakukan. Pada fase ini pemerintah pada tanggal 3 Maret 2020 menunjuk Juru Bicara khusus penanganan virus Corona dan pembentukan Gugus tugas penanganan Covid sebagai tindakan yang dilakukan. Hingga saat ini kita masih berada pada fase ini, kebijakan yang diambil pemerintah adalah menetapkan Covid-19 sebagai bencana nasional dan menerapkan kebijakan social distancing pada 14 Maret, publik tidak mampu mencerna karena mereka tidak dibekali pemahaman awal terutama terkait langkah yang harus diambil. Kerumunan di ruang publik tidak bisa begitu saja dihentikan, karena masyarakat belum timbul kesadarannya akan bahaya Covid-19 tersebut. Baru setelah banyak pemberitaan jumlah penderita Covid yang meninggal, mulai timbul ketakutan.

Sekolah, kampus diliburkan diganti dengan belajar/kuliah

online. Kantor pemerintah, dunia bisnis mulai menerapkan

sistem sifting supaya tidak terjadi penumpukan karyawan dalam satu waktu. Mall, Hotel dan tempat hiburan tutup. Ironisnya pada masa ini terjadi ketidaksinkronan antara kebijakan pemerintah pusat dan daerah, yang paling nyata adalah antara Gubernur Jakarta yang mengusulkan kebijakan karantina lokal (local lockdown), akan tetapi tidak disetujui oleh pemerintah pusat. Kondisi ini menjadi viral di media sosial dan makin menajamkan konflik antar dua kubu politik. 3) Pasca Krisis. Komunikasi pasca krisis mencakup periode

waktu setelah krisis dianggap dapat diselesaikan. Fokus pada pengelolaan krisis sudah berakhir, namun pengelolaan dampak krisis terus berlanjut. Mengingat bahwa bisa kesulitan untuk menemukan dengan tepat kapan sebuah krisis berakhir, komunikasi pascakrisis sebagian besar merupakan perpanjangan dari komunikasi respons krisis. Terkait Covid-19 di Indonesia belum sampai pada fase ini karena krisis belum selesai dan wabah belum hilang, akan tetapi pengurangan PSBB dan kebijakan new normal merupakan langkah menuju postcrisis. Tindakan dalam fase pasca krisis akan membantu (a) membuat organisasai memiliki persiapan yang lebih baik untuk krisis berikutnya, (b) meyakinkan kepada stakeholders untuk meninggalkan kesan positif terhadap usaha manajemen krisis yang dilakukan oleh organisasi, dalam hal ini pemerintah (c) melakukan

check dan richeck untuk memastikan bahwa krisis

benar-benar telah selesai. Melakukan evaluasi terhadap manajemen krisis, belajar dari krisis dan tindakan-tindakan pasca krisis lainnya, seperti melakukan tindak lanjut komunikasi dengan

stakeholders dan melanjutkan monitoring terhadap isu-isu

Pada institusi pemerintahan, krisis dapat terjadi dan menimbulkan berbagai masalah baik dalam instansi pemerintahan maupun di luar instansi (masyarakat). Menurut definisi dari para ahli, dapat disimpulkan bahwa krisis dapat terjadi tanpa diduga sebelumnya dan memberikan dampak negatif bagi institusi manapun. Krisis dapat terjadi kapan saja, dimana saja dan kapan saja (Sari & Nugrahani, 2019).

Terdapat empat kategori besar dalam merespon krisis, menurut Liu & Levenshus (2012); Coombs (1995; 2010) dalam Putri et.al (2019), yaitu menyangkal (deny), mengurangi (diminish), membangun kembali (rebuild), dan memperkuat (reinforce). Strategi penyangkalan (deny) lebih baik digunakan untuk mengatasi rumor atau isu. Seandainya yang terjadi bukan rumor atau isu melainkan sesuatu yang nyata/real maka jangan sekali-sekali melakukan penyangkalan, karena akan menimbulkan krisis kepercayaan. Hal ini yang terjadi pada awal kasus Covid mengemuka. Strategi pengurangan (diminish) dapat dimanfaatkan untuk menangani krisis yang disebabkan oleh kecelakaan atau riwayat masa lalu. Strategi untuk membangun kembali (rebuild) biasanya digunakan untuk mengantisipasi krisis, jadi jangan sampai tidak punya daya antisipasi terhadap krisis di masa depan. dan strategi

reinforce meliputi pemberian kompensasi, permintaan maaf,

tindakan korektif, dan pemberian keuntungan.

Setelah menganalisis komunikasi krisis dalam kasus pandemi Covid-19, ada beberapa hal yang sebaiknya dilakukan oleh pemerintah, yang paling utama adalah pemerintah mengubah pola komunikasinya. Pertama, membangun koordinasi dan sinergi antara pemerintah pusat dan daerah, sehingga tidak terkesan jalan sendiri-sendiri yang mengakibatkan penanganan krisis menjadi tidak komprehensif. Kedua, supaya masyarakat tidak mudah termakan isu hoax yang banyak beredar di media sosial

maka pemerintah harus menjadi sumber paling kuat dan dominan terkait informasi mengenai Covid-19 pada ruang publik, baik ruang publik fisik maupun ruang publik media (dengan memaksimalkan semua platform media) tentunya dengan informasi akurat serta valid. Ketiga, sebaiknya media mainstream kembali kepada fungsi utamanya untuk memberikan informasi terkait Covid-19 yang mencerdaskan dan memberikan pencerahan kepada masyarakat dengan tidak menonjolkan kepentingan ekonomi politiknya.

Daftar Pustaka

Coombs, W. Timothy; Holladay, Sherry. J. 2010 “The Handbook of

Crisis Communication” Singapore: Blackwell Publishing Ltd.

Coombs, W. Timothy. 2015. “Ongoing crisis communication :

planning, managing, and responding”. US: Sage Publications,

Inc

Kompas.com. 2020. Diunduh pada tanggal 1 Juli 2020 jam 07.05. Liu, B. F., & Levenshus, A. B. 2012. “Crisis Public Relations for

Government Communicators”. In M. Lee, G. Neeley, & K. Stewart (Red.), The Practice of Government Public Relations (pp. 101-124). US: CRC Press.

Prastya, N. M. 2013. “Media Social dan Peran Manajerial Public Relations (Studi Kasus Terhadap Peran Bidang Komunikasi Korporat PT PLN Persero Dalam Penyusunan Kebijakan Terkait Etika Penggunaan Media Social di Lingkungan Perusahaan).” Tesis: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada.

Putri, Astri Wibawanti, Sutopo, Andre Noevi Rahmanto. 2019 “Komunikasi Krisis Kementerian Pertanian Pada Kasus Penggerebekan Gudang Beras PT IBU (Analisis Isi Kualitatif Menggunakan Situational Crisis Communication Theory)”.

Jurnal Studi Komunikasi Dan Media. Vo;. 23 No.1, hal: 53-70

Sari, Fitri Permata. Rah Utami Nugrahani. 2019 “Strategi Tata Kelola Komunikasi Krisis Humas Pemerintahan Kabupaten Kuningan Jawa Barat dalam Menghadapi Krisis” Channel

Jurnal Komunikasi Vol.7 No.2, hal: 89-96

Sellnow, Timothy L. and Matthew W. Seeger 2013 “Theorizing

Crisis Communication”. US: John Wiley & Sons, Inc

Yuliana. 2020 “Coronavirus Desease (Covid-19); Sebuah Tinjauan Literatur”. Journal Wellness and Healthy Magazine Volume 2, Nomer 1, h: 187-192

Gagapnya Manajemen Komunikasi Bencana