II TINJAUAN PUSTAKA
2.2. Kriteria dan Indikator Pengelolaan Hutan Alam Lestari
Upaya perbaikan menuju tercapainya sistem pengelolaan hutan produksi lestari merupakan proses yang terus menerus dan berkelanjutan baik pada tataran kebijakan, pengembangan ilmu dan teknologi, pengembangan SDM, maupun penerapan di tingkat unit pengelolaan hutan di lapangan. Sebagai suatu proses yang berkelanjutan, maka diperlukan monitoring dan evaluasi secara berkala, khususnya pada tingkat implementasi di lapangan. Hal ini penting untuk mengetahui bagaimana perkembangan kinerja pelaksanaan pengelolaan hutan alam produksi lestari serta persoalan-persoalan yang dihadapi oleh unit pengelolaan hutan di lapangan sebagai umpan balik bagi perbaikan kebijakan, pengembangan iptek, maupun pengembangan SDM.
Mendoza et al., (1999) dalam bukunya “Panduan Untuk Menerapkan Analisis Multikriteria dalam Menilai Kriteria dan Indikakator” menekankan yang harus dipahami oleh stakeholders adalah memahami prinsip, kriteria dan indikator. Prinsip merupakan suatu kebenaran atau hukum pokok sebagai dasar suatu pertimbangan atau tindakan. Prinsip-prinsip dalam pengelolaan hutan lestari diperlukan sebagai kerangka primer untuk mengelola hutan secara lestari. Prinsip-prinsip tersebut memberikan landasan pemikiran bagi kriteria, indikator dan pengukur. Dicontohkan, agar pengelolaan hutan lestari dapat berlangsung, maka “integritas ekosistem harus dipelihara atau ditingkatkan atau agar
pengelolaan hutan dapat berlangsung, maka kesejahteraan manusia harus terpenuhi.
Kriteria merupakan suatu prinsip atau patokan untuk menilai suatu hal. Oleh karenanya suatu kriteria dapat dilihat sebagai prinsip yang menambah arti dan cara kerja dalam suatu prinsip tanpa membuatnya sebagai suatu pengukur secara langsung. Sedangkan indikator adalah suatu variabel atau komponen ekosistem atau sistem pengelolaan hutan apa saja yang digunakan untuk memperkirakan status kriteria tertentu (Mendoza et al., 1999).
Untuk mendukung upaya perbaikan sistem pengelolaan hutan lestari, Departemen Kehutanan antara lain menetapkan “Kriteria dan Indikator Pengelolaan Hutan Alam Produksi Lestari pada Unit Pengelolaan Hutan” (Keputusan Menhut No. 4795/Kpts-II/2002). Kriteria dan indikator pengelolaan hutan alam lestari (PHAPL) pada unit pengelolaan dalam Keputusan Menhut No. 4795/Kpts-II/2002 ini mengacu pada kriteria ITTO (1998) dengan sejumlah penyederhanaan dan penyesuaian. Kriteria dan indikator PHAPL tersebut meliputi 4 kriteria, yakni kriteria prasyarat, produksi, ekologi, dan sosial yang seluruhnya terdiri 24 indikator.
Banyak bentuk pengelolaan hutan alam dengan kriteria yang dikembangkan untuk mengelola hutan secara lestari. Kriteria-kriteria yang diusulkan terdiri dari 3 komponen utama: (1) sosial dan ekonomi; (2) kegunaan hutan; (3) peraturan dan hukum (Purnomo et al., 2004). Setiap kriteria-kriteria mengandung indikator-indikator yang disesuaikan dengan tujuan pengelolaan hutan alam, sehingga dapat menilai kesesuaian antara manajemen dengan pelaksanaan di lapangan. Indicator pengelolaan hutan digunakan untuk membantu menjelaskan konteks/situasi yang melatarbelakanginya, mengklasifikasi tujuan pengelolaan, mengevaluasi compliace/komponen pengelolaan hutan dengan aturan dan kebijakan serta mengimplementasi suatu perencanaan. Indikator-indikator yang berkembang sebagai respon dari dampak praktek pengelolaan hutan alam perlu dianalisis untuk melihat sensifitasnya sebagai suatu alat melihat keberhasilan atau kegagalan praktek pengelolaan hutan. Analisis sensitivitas dirancang menjadi suatu bentuk model (Armitage, 1998).
Mendoza dan Prabhu (2001), menjelaskan dari pengalaman menunjukkan kesuksesan pengelolaan hutan berbasis masyarakat menjadi
efektif dengan mengkolaborasikan memuat keputusan yang tergantung pada pengertian dan komunikasi.
Efektivitas kolaborasi perencanaan dan pembuat keputusan tergantung pada komunikasi yang baik dan pengertian diantara stakeholders. Pada kenyataannya stakeholders sering berbeda pandangan/prespektif serta dalam menginterprestasikan suatu keadaan. Pluralitas perspektif ini, termasuk dengan posisi penguasa pada legitimasi, menghasilkan definisi masalah yang cukup luas, definisi masalah yang salah, kesalah pahaman dan polarisasi antar stakeholders untuk membantu pluralitas prespektif dari multi-stakeholders, sejumlah peralatan perencanaan telah diusulkan. Peralatan ini dapat dikategorikan kedalam 2 kelas yaitu pendekatan system keras dan pendekatan sistem lunak (Purnomo et al., 2004).
Identifikasi dan ketegorisasi komponen pengelolaan hutan. Proses partisipatori dimulai dengan eksplorasi visi, perspektif, tujuan dan perhatian stakeholders. Selanjutnya Purnomo et al., (2004) membagi komponen pengelolaan hutan menjadi 3 fase yaitu :
1. Fase sosial dan ekonomi
2. Fase kegunaan lingkungan hutan 3. Fase aturan dan hukum
Interaksi dan hubungan inter-komponen (fase 2). Pengelolaan hutan dibagi dalam 3 kategori: (1) sosial dan ekonomi; (2) kegunaan hutan dan lingkungan; (3) aturan dan hukum. Pada tahap ini, stackeholder diberi pertanyaan untuk menentukan subkomponen yang dikategorikan pada fase 1.
stockeholders dan partisipan modeling juga ditanyai untuk mereview subelement
fase 1. ketika indikator-indikator non spesik dispesifikasikan, hal itu menjadi perlu untuk mengidentifikasi indikator pusat yang dapat digunakan sebagai fokus strategis dalam perkembangan skenario alternatif untuk diidentifikasi pada fase 3. Selama proses pemodelan, fasilitator mengasumsikan peran pasif melalui penyediaan lingkungan informal dan comfortable bagi stackeholder untuk berinteraksi, tukar pikiran tentang opini, dan mengekspresikan persepsi pada pengelolaan komunitas hutan. Analisis indikator performan : Indikator kunci untuk ketiga komponen adalah kepastian hukum, jumlah tegakan dan tutupan lahan dan penghasilan dan kewajiban/pajak masyarakat. Dua indikator lainnya adalah
tingkat kesadaran dan partisipasi masyarakat dan forest concessionaire revenue (Purnomo et al., 2004).
Purnomo et al., (2003), dalam “Collaborative modelling to suport
forest management” menjelaskan ada 3 fase dalam proses pemodelan
kolaboratif yaitu : Fase I: Identifikasi komponen manejemen hutan. Fase ini membagi komponen pengelolaan hutan ke dalam 3 kategori umum: (1) sosial dan ekonomi; (2) kegunaan hutan dan lingkungan; (3) aturan dan hukum. Fase I ini (proses pemodelan kolaborasi, digunakan untuk memahami perspektif stakeholder dari pengelolaan hutan. Fase II: Hubungan intern antara komponen. Pembagian lategori serupa dengan fase I. Partisipan menerima kepastian hukum, yang merupakan kunci indikator hubungan yang melibatkan hukum dan aturan hutan. Kepastian hukum (certainly law) merupakan level transparansi, persistensi, dan enforcement hukum yang diterima oleh semua stakeholder. Hokum yang jelas juga mempengaruhi kualitas aturan kegunaan hutan, pendapatan masyarakat, dan investasi pajak hutan di sektor lain. Fase ini untuk mendirikan hubungan antara komponen kunci menggunakan diagram causal
loop. Hal ini menawarkan cara terbaik untuk mengintegrasikan perspektif
stakeholder yang berbeda, dan menawarkan suatu basis untuk menyetujui indikator performance pengelolaan hutan.
Proses pemodelan kolaborasi adalah cara positif bagi stakeholder untuk mengeksprsikan pandangan dan ketertarikan mereka dalam mengelola hutan. Proses ini membantu partisipan mempercayai bahwa penerimaan tujuan respektif membutuhkan kolaborasi, termasuk pembagian biaya (costs) dan manfaat pengelolaan hutan. Proses ini merupakan cara terbaik untuk mengharmoniskan ketertarikan stakeholder. Pendekatan pemodelan kolaboratif ini dapat melengkapi suatu metode untuk perbedaan persepsi stakeholder, menekan sebab akibat (kausalitas), dan untuk mengusulkan skenario pengelolaan hutan (Purnomo et al., 2003).
Fase III: Indikator Performan Model. Indikator pada fase ini terdiri dari: (1) kepastian hukum; (2) tegakan dan penutup lahan hutan; (3) pendapatan masyarakat; (4) pajak. Indikator ini digunakan untuk memprediksikan trend masa depan. Hasil proses pemodelan: (1) konsultasi publik; (2) kolaborasi pengelolaan hutan; (3) Public Hearing.
Ada 6 indikator penting berdasarkan prioritas: (1) pendapatan masyarakat; (2) Forest standing stock and cover; (3) hukum yang jelas; (4) kesadaran dan partisipasi masyarakat; (5) pajak; (6) forest concessionare
revenue (Mendoza dan Prabhu, 2000).
Indikator pengelolaan hutan digunakan untuk membantu menjelaskan konteks/situasi yang melatarbelakanginya, mengklasifikasi tujuan pengelolaan, mengevaluasi compliace dengan aturan dan kebijakan serta mengimplementasi suatu perencanaan. Indicator juga digunakan untuk mengakses akibat dan efektifitas hasil pengelolaan dan meningkatkan pengertian bagaimana hutan dan fungsi sosial hutan (Anonimous, 2004). Beberapa kriteria dan indikator yang diusulkan oleh Armitage (1998), seperti tersaji pada Tabel 1.
Tabel 1. Kriteria dan Indikator oleh Armitage (1998)