BAB IV : HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
B. Kualitas Pendidikan Agama Islam terhadap Keberagamaan Masyarakat
Melalui data-data yang penulis peroleh, pendidikan agama Islam dan lingkungan tempat tinggal mempengaruhi kualitas keagamaan baik perseorangan maupun masyarakat. Lingkungan yang berada di sekitar Yayasan Perguruan Tinggi Kristen Satya Wacana menjadi sasaran terjadinya misi Kristenisasi berupa
116
pelemahan keimanan umat Muslim dengan menjauhkan umat Muslim dari kebiasaan
melakukan ibadah dan ajaran yang sesuai syari‟at Islam. Berikut beberapa bukti adanya misi Kristenisasi dengan pola pelemahan keimanan umat Muslim di lingkungan Kemiri, Somopuro, Cungkup dan Domas yang penulis dapatkan :
Target yang paling mudah untuk pelemahan keimanan umat muslim yaitu dengan mempengaruhi anak-anak kecil. Para penganut agama non muslim secara perlahan memberi doktrin kepada anak-anak yang belum menguasai pendidikan keagamaan dengan tawaran-tawaran yang menarik. Seperti yang dialami oleh informan pelajar SMP muslim yang sekolah di sekolah Katholik berikut ini :
“aku memilih sekolah di SMP Pangudi Luhur karena kata nenek gampang
kalau sekolah di situ. Keluarga besar nenek kan semuanya beragama Katholik mbak. Aku dari kecil tidak pernah diajari agama sama mama. Katanya di sekolah-sekolah Islam di Salatiga itu anak-anaknya bandel. Kata
om aku kalau sekolah di sekolah Islam nanti diajari jadi teroris.”
(Wawancara dengan Elmo Baskoro, tanggal 2 Maret 2015)
Informasi yang kurang tepat mengenai lembaga pendidikan Islam di Salatiga memberi pengaruh para orang tua dalam memilih pendidikan formal, tanpa menimbang dan memperhatikan akan pentingnya pendidikan agama Islam bagi anaknya.
Doktrin yang berbahaya bagi anak muslim yang masih di bawah umur adalah dengan cara mempengaruhi pikiran anak bahwa agama Islam itu jahat di mata agama lain, dan membujuk anak kecil untuk mengikutinya masuk ke agama Kristen maupun Katholik dengan berbagai cara yang menarik bagi anak kecil, seperti yang diutarakan pelajar SMP berikut ini :
“...aku juga bimbang mbk sama agama Islam. Aku sering diajak om aku pergi ke gereja. Kata om aku yang agamanya Katholik, Islam itu sulit. Orang Islam itu jahat dengan orang Katholik gitu mbak. Kalau sama om aku, aku selalu
117
dikasih uang, dibeliin mainan, aku diajak biar masuk agama Katholik. Tapi aku
kok merasa nyaman kalau dekat dengan orang Islam mbak.” (Wawancara
dengan Elmo Baskoro, tanggal 2 Maret 2015)
Tidak hanya pelajar SMP namun mahasiswa muslimpun diberi doktrin negatif tentang agama Islam melalui pendidikan di Universitas Kristen Satya Wacana sebagai berikut :
“...ya semua yang kuliah di UKSW kan pasti ada mata kuliah agama Kristen.
Sejak awal masuk waktu OSPEK juga udah diajari nyanyian puji-pujian. Kalau yang belum faham ya pasti langsung mikir. Mereka (mahasiswa dan pelajar) itu
di doktrin kalau “Islam itu Jahat”. Sedangkan sekolah yang berbasis Islam itu
terlalu banyak aturan. Makanya mungkin itu juga yang membuat banyak orang
tidak mau sekolah di sekolah yang berbasis Islam.” (Wawancara dengan Setyo
Afandi, tanggal 4 Maret 2015)
Tidak dipungkiri proses kristenisasi itu memang benar adanya didalam lembaga pendidikan yayasan Kristen tersebut. Sasarannya adalah mahasiswa UKSW yang beragama muslim seperti yang dikisahkan oleh seorang mahasiswa UKSW sebagai berikut :
“... sebenarnya semua ajaran itu punya misi tersendiri. Kalau di UKSW pembawa misi yang terlihat banget itu bukan dari pihak yayasannya, tapi dari dosen sama mahasiswa yang dari luar jawa itu lho. Memang dasarnya aku orang cuek ya, kalau bergaul ya sama siapa saja aku oke. Tapi sering itu kalau lagi kumpul sama mahasiswa luar jawa pasti ngajak bahas tentang agama Kristen sama Islam. Ya ngomongin macam-macam lah. Temenku banyak yang ditawari suruh masuk Kristen, ada yang mau dibeliin tanah, rumah, terus dikasih pekerjaan, di kasih kendaraan. Aku juga pernah ditawari mau dikasih
inilah itulah, tapi aku kan orange cuek, gak tak gubris omongane.” (Wawancara
dengan Setyo Afandi, tanggal 4 Maret 2015)
Masyarakat muslim di sekitar Universitas Kristen Satya Wacanapun merasakan dampak negatif terhadap kualitas pendidikan agama Islam, dari hal terkecil sekalipun.
“... ya otomatis yen UKSW gowo misi kristenisasi. Sak pungguhku yen Kemiri, Somopuro Kidul sing keno misine kui. Cah nom sing ngingu kirik. Kelemahan dalam segi keimanan terjadi erosi lan diinceng urusan weteng, kui paling rawan. Sing tuwa-tuwa wae berat leh ngurusi apa maneh sing cah nom.
118
Masalahe kui warga yen ngaji yo mung ngrungokke ceramah, moco buku ora ngoceki opo isine. InsyaAllah yen Domas iseh aman.”
“... ya otomatis apabila UKSW membawa misi kristenisasi. Setau saya Kemiri, Somopuro Kidul itu yang sudah menjadi korban misi tersebut. Anak muda yang memlihara anjing. Kelemahan dalam segi keimanan terjadi erosi dan yang menjadi sasaran adalah urusan perut (ekonomi) itu yang paling rawan. Yang tua-tua saja berat mengurusinya apalagi yang anak muda. Masalahnya itu warga yang ngaji (mempelajari ilmu agama Islam) hanya mendengarkan ceramah, membaca buku tanpa memahami maknanya. InsyaAllah kalau Domas
masih aman.” (Wawancara dengan K.H. M. Kharis, tanggal 29 Maret 2015) Misi kristenisasi kini dikaitkan dengan kegiatan pendidikan non formal terutama bagi anak-anak kecil. Cara mereka adalah memberi pengaruh terhadap pikiran anak-anak melalui lagu, bacaan, doa-doa, maupun majalah. Menyita waktu anak-anak supaya tidak ada kesempatan belajar ilmu agama di Masjid-masjid setempat.
“Sebetulnya terget mereka yang paling mudah itu anak-anak kecil. Lewat bimbingan belajar apa kegiatan bermain itu lho dek. Aku bisa cerita karena aku sudah membuktikan sendiri. Keponakanku sendiri pernah dek, diajak sama mahasiswa UKSW belajar katanya. Mereka berkelompok dek, ngajak anak- anak kecil mainan bersama, belajar bersama. Setiap pertemuan itu anak-anak kecil dikasih makanan yang sekiranya bisa menarik buat anak-anak kecil, ya.. seperti permen, coklat, banyak lah. Sistem belajare itu, mereka ngajari anak- anak kecil nyanyi-nyanyi pakai bahasa Inggris, kan kalau anak-anak kecil belum mudeng sama lagu asing seperti itu. Terus diajari doa-doa pakai bahasa Indonesia sama Inggris. Nah, kalau sudah selesai anak-anak kecil itu dikasih majalah kecil gitu, disuruh bawa pulang, dibaca sendiri. Pernah buku keponakanku tak pinjem, aku penasaran tak baca. Ternyata isine itu ya tentang pendidikan agama Kristen. Ya memang kemasane kelihatane menarik, ada gambar-gambarnya, tapi kalau dibaca bener-bener ternyata isine menjurus ke situ. Kalau lewat lagu, majalah kan anak seumuran PAUD, TK gampang banget nyantel, karena daya ingat anak masih bagus banget. Nah, lewat cara seperti itu ternyata mereka memberi pengaruh kepada anak-anak kecil.” (Wawancara dengan Sdr. Anto, tanggal 4 September 2015)
“Pendidikan agama Islam anak-anak menurun yang pertama karena adanya les atau bimbingan belajar itu. Itu menghancurkan generasi muslim dengan tidak mengenalkan Masjid. Kalau di sini warga Kristen hanya memberi bantuan
119
C. Pengaruh Masyarakat terhadap Pemahaman dan Keberagamaan