• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEOR

1. Kurikulum 2013

2. Pembelajaran tematik merupakan salah satu model dalam pembelajaran terpadu yang merupakan suatu sistem pembelajaran yang dapat memberikan pengalaman yang bermakna kepada siswa.

3. Media pembelajaran merupakan sarana atau sumber yang dapat digunakan untuk menyampaikan atau menyalurkan pesan guru atau pendidik kepada anak didiknya sehingga dapat membangkitkan semangat peserta didik.

4. Video pembelajaran adalah alat atau sumber belajar yang dapat menumbuhkan minat siswa dalam mengikuti pembelajaran.

BAB II

LANDASAN TEORI

Bab ini diuraikan tentang landasan teori, yaitu (1) kajian pustaka, (2) kerangka berpikir, (3) penelitian yang relevan, dan (4) pertanyaan penelitian. A. Kajian Pustaka

Kajian pustaka memaparkan tentang Kurikulum 2013, media pembelajaran, video pembelajaran dan pembelajaran di Sekolah Dasar.

1. Kurikulum 2013

Dalam subbab kurikulum 2013 dijelaskan tentang hakikat kurikulum 2013, keunggulan kurikulum 2013, pembelajaran tematik terpadu di SD, pendekatan saintifik dalam pembelajaran tematik terpadu, pembelajaran berbasis masalah dalam pembelajaran Kurikulum 2013 dan penilaian otentik.

a. Hakikat Kurikulum 2013

Kurikulum 2013 disusun untuk menyempurnakan kurikulum sebelumnya serta merupakan langkah lanjutan pengembangan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) dan KTSP yang mencakup kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan secara terpadu. Dalam Kurikulum 2013, sudah tidak lagi menggunakan standar kompetensi (SK) sebagai acuan dalam mengembangkan kompetensi dasar (KD). Sebagai gantinya, Kurikulum 2013 menyusun kompetensi inti (KI). Kompetensi Inti memuat kompetensi sikap spiritual, sikap sosial, pengetahuan, dan keterampilan yang dikembangkan ke dalam Kompetensi Dasar (KD). Kurikulum 2013 adalah sebuah kurikulum yang dikembangkan untuk

meningkatkan dan menyeimbangkan kemampuan soft skills dan hard skills yang berupa sikap, keterampilan, dan pengetahuan (Fadlillah, 2014).

Sejalan dengan definisi tersebut, Yani (2014:54) mengungkapkan bahwa Kurikulum 2013 adalah kurikulum yang sarat dengan pendidikan karakter. Berdasarkan beberapa uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kurikulum 2013 adalah kurikulum lanjutan yang mencakup kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan secara terpadu. Dalam Kurikulum 2013 istilah pembelajaran terpadu dikenal sebagai pembelajaran tematik integratif dengan pendekatan saintifik. b. Keunggulan Kurikulum 2013

Kurikulum 2013 yang diterapkan oleh Pemerintah terdapat beberapa keunggulan. Menurut Mulyasa (2013:163-164), ada beberapa keunggulan Kurikulum 2013 dibandingkan kurikulum sebelumnya yaitu.

1) Kurikulum 2013 menggunakan pendekatan yang bersifat alamiah (kontekstual), karena berangkat, berfokus, dan bermuara pada hakekat peserta didik untuk mengembangkan berbagai kompetensi sesuai dengan potensinya masing-masing.

2) Kurikulum 2013 berbasis karakter dan kompetensi boleh jadi mendasari pengembangan kemampuan-kemampuan lain.

3) Ada bidang-bidang studi atau mata pelajaran tertentu yang dalam pengembangannya lebih tepat menggunakan pendekatan kompetensi, terutama yang berkaitan dengan keterampilan.

Setiap Kurikulum yang diterapkan oleh pemerintah pasti ada keunggulannya masing-masing, begitu juga dengan Kurikulum 2013. Kurikulum

2013 merupakan Kurikulum yang baru diterapkan oleh pemerintah. Untuk jenjang Sekolah Dasar, Kurikulum 2013 lebih menekankan kepada siswa. Siswa banyak terlibat dalam setiap kegiatan pembelajaran, seperti: siswa melakukan kegiatan ilmiah diluar kelas. Dalam kegiatan ini, guru hanya berperan sebagai fasilitator sehingga siswa dapat mengembangkan setiap pengetahuan yang diperolehnya secara mandiri.

c. Pembelajaran Tematik Terpadu di SD

Berikut ini akan diuraikan tentang definisi pembelajaran tematik dan kelebihan pembelajaran tematik.

1) Definisi Pembelajaran Tematik

Dalam pelaksanaan kurikulum 2013, pembelajaran untuk tingkat SD/MI sederajat melaksanakan pembelajaran tematik terpadu. Sebagaimana tercantum dalam salinan lampiran Permendikbud No. 65 tahun 2013 tentang standar proses bahwa pembelajaran tematik terpadu di SD/MI/SDLB disesuaikan dengan tingkat perkembangan siswa.

Menurut Rusman (2011:254), pembelajaran tematik merupakan salah satu model dalam pembelajaran terpadu (integrated instruction) yang merupakan suatu sistem pembelajaran yang memungkinkan siswa, baik secara individual maupun kelompok, aktif menggali dan menemukan konsep serta prinsip-prinsip keilmuan secara holistik, bermakna, dan autentik.

Sedangkan menurut Trianto (2010), model pembelajaran tematik merupakan pendekatan pembelajaran yang memungkinkan peserta didik (individual/kelompok) aktif mencari, menggali, dan menemukan konsep.

Sejalan dengan pengertian diatas, Majid (2014) mengungkapkan bahwa pembelajaran tematik adalah pembelajaran yang dirancang berdasarkan tema-tema tertentu.

Dari beberapa pengertian di atas, dapat penulis simpulkan bahwa pembelajaran tematik merupakan salah satu model dalam pembelajaran terpadu yang merupakan suatu sistem pembelajaran yang dapat memberikan pengalaman yang bermakna kepada siswa. Pembelajaran tematik dapat dikatakan sebagai pembelajaran yang mengintegrasikan berbagai mata pelajaran atau sejumlah disiplin ilmu melalui pemaduan area isi/materi, keterampilan, dan sikap ke dalam suatu tema tertentu sehingga dapat memberikan pengalaman belajar yang bermakna bagi siswa.

2) Karakteristik Pembelajaran Tematik Terpadu

Suatu pembelajaran dapat dikatakan sebagai pembelajaran tematik terpadu apabila memiliki karakteristik-karakteristik tertentu. Karakteristik tersebut adalah berpusat pada siswa, memberikan pengalaman langsung, pemisahan mata pelajaran tidak begitu jelas, menyajikan konsep dari berbagai mata pelajaran, bersifat fleksibel, menggunakan prinsip belajar sambil bermain dan menyenangkan (Trianto, 2010:91).

Sehubungan dengan hal tersebut diungkapkan pula oleh Depdikbud (dalam Trianto, 2010:93-94) bahwa pembelajaran tematik sebagai bagian dari pembelajaran terpadu memiliki beberapa karakteristik atau ciri-ciri, yaitu: holistik, bermakna, otentik, dan aktif.

3) Kelebihan dan Kekurangan Pembelajaran Tematik

Pembelajaran tematik terpadu dalam penerapannya memiliki beberapa kelebihan. Adapun kelebihan pembelajaran tematik terpadu menurut Majid (2014:92-93) antara lain sebagai berikut.

a) menyenangkan karena berangkat dari minat dan kebutuhan anak didik

b) memberikan pengalaman dan kegiatan belajar-mengajar yang relevan dengan tingkat perkembangan dan kebutuhan anak didik

c) hasil belajar dapat bertahan lama karena lebih berkesan dan bermakna

d) mengembangkan keterampilan berpikir anak didik sesuai dengan persoalan yang dihadapi

e) menumbuhkan keterampilan sosial melalui kerjasama

f) memiliki sikap toleransi, komunikasi, dan tanggap terhadap gagasan orang lain

g) menyajikan kegiatan yang bersifat nyata sesuai dengan persoalan yang dihadapi dalam lingkungan anak didik.

Selain kelebihan yang dimiliki, menurut Indrawati (dalam Trianto, 2010:90), pembelajaran tematik juga memiliki keterbatasan atau kekurangan, terutama dalam pelaksanaannya, yaitu pada perencanaan dan pelaksanaan evaluasi yang lebih banyak menuntut guru untuk melakukan evaluasi proses, guru harus melakukan pengamatan kepada masing-masing siswa untuk melakukan evaluasi.

d. Pendekatan Saintifik dalam Pembelajaran Tematik

Berikut ini akan diuraikan tentang definisi pendekatan saintifik dan langkah-langkah pendekatan saintifik.

1) Definisi Pendekatan Saintifik

Implementasi Kurikulum 2013 dalam pembelajaran dengan pendekatan saintifik adalah proses pembelajaran yang dirancang sedemikian rupa agar peserta didik secara aktif mengonstruk konsep, hukum atau prinsip melalui tahapan- tahapan mengamati (untuk mengidentifikasi atau menemukan masalah), merumuskan masalah, mengajukan atau merumuskan hipotesis, mengumpulkan data dengan berbagai teknik, menganalisis data, menarik kesimpulan dan mengkomunikasikan konsep, hukum atau prinsip yang “ditemukan” (Hosnan, 2014).

Pembelajaran dengan pendekatan saintifik pada dasarnya dapat memberikan pengalaman kepada peserta didik untuk memperoleh pengetahuan berdasarkan metode ilmiah secara mandiri. Pembelajaran dengan menggunakan pendekatan saintifik menekankan pada keterlibatan peserta didik dalam berbagai kegiatan yang memungkinkan mereka untuk secara aktif mengamati, menanya, mencoba, menalar, mengkomunikasikan dan membangun jejaring (Mulyasa, 2014).

Berdasarkan beberapa uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa pendekatan saintifik adalah pendekatan pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk melakukan penyelidikan ilmiah dengan proses mengamati,

mencoba, menalar, mengkomunikasikan dan mengembangkan pengetahuannya sendiri.

2) Langkah-langkah Pendekatan Saintifik

Ada beberapa langkah dalam pendekatan saintifik yang dapat digunakan saat pembelajaran. Menurut Yani (2014:125-126), ada lima langkah pendekatan saintifik pada Kurikulum 2013 yaitu.

a) Mengamati yaitu kegiatan peserta didik diperoleh untuk memperoleh dunia nyata melalui berbagai alat indera penglihatan, pembau, poendengar, pengecap dan peraba. Proses mengamati dapat dilakukan melalui kegiatan observasi lingkungan, menonton video, mengamati gambar, membaca tabel dan grafik data, menganalisi peta, membaca buku, mengengar radio, menyimak cerita, dan berselancar mencari informasi yang ada di media masa atau dan jejaring internet.

b) Menanya yaitu kegiatan peserta didik untuk menyatakan secara eksplisit dan rasional apa yang ingin diketahuinya baik yang berkenaan dengan suatu objek, peristiwa, suatu proses tertentu. Dalam kegiatan menanya, peserta didik mengajukan pertanyaan kepada guru, nara sumber, atau kepada peserta didik lainnya.

c) Mengeksperimen/mencoba yaitu kegiatan yang berupa mengumpulkan data melalui kegiatan observasi, wawancara atau uji coba di laboratorium. Kegiatan mengumpulkan data dapat dilakukan dengan cara membaca buku, mengumpulkan data sekunder, observasi lapangan, uji coba, wawancara, menyebarkan kuesioner.

d) Mengasosiasikan/mengolah informasi yaitu kegiatan peserta didik untuk mengkritisi, menilai, membandingkan, interpretasi data atau mengajukan pendapatnya berdasarkan data hasil penelitian. Secara khusus, aerti mengasosiasi dapat diartikan dengan proses membandingkan antara data yang telah diperolehnya dengan teori yang telah diketahuinya sehingga dapat ditarik kesimpulan dan atau ditemukannya pronsip dan konsep penting. Kegiatan mengasosiasi dapat berupa kategori, dan menyimpulkan dari hasil analisis data e) Mengkomunikasikan yaitu kegiatan peserta didik untuk menyampaikan hasil temuannya di hadapan orang lain. Kegiatan mengkomunikasikan dapat dilakukan secara lisan maupun tulisan yang dapat dibantu oleh perangkat Teknologi Informasi dan Komunikasi. Artinya, peserta didik dapat menyampaikan dalam forim diskusi kelas atau diunggah (upload) di internet. e. Pembelajaran Berbasis Masalah dalam Kurikulum 2013

Berikut ini akan diuraikan tentang definisi pembelajaran berbasis masalah dan langkah-langkah pembelajaran berbasis masalah.

1) Definisi Pembelajaran Berbasis Masalah

Dalam Kurikulum 2013, pembelajaran yang dilakukan oleh guru mengacu pada rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang sudah disiapkan oleh guru sebelum mengajar. Kegiatan dalam RPP tersebut memuat 2 hal yang penting dalam menjalankan kegiatan pembelajaran sesuai dengan Kurikulum 2013, yaitu: pembelajaran berbasis masalah dan pembelajaran berbasis proyek. Guru dapat memilih salah satu atau menggabungkan kedua pembelajaran tersebut.

Dalam penelitian ini, peneliti mengambil pembelajaran berbasis masalah. Pembelajaran berbasis masalah atau Problem-based Learning adalah pembelajaran yang dapat dikolaborasikan dengan pembelajaran saintifik. Problem-based Learning memungkinkan bagi peserta didik untuk aktif dan berani mengajukan solusi dai masalah yang sedang dihadapi (Yani, 2014).

Sejalan dengan pengertian di atas, Mulyasa (2014) mengungkapkan bahwa pembelajaran berbasis masalah merupakan model pembelajaran yang bertujuan merangsang peserta didik untuk belajar melalui berbagai permasalahan nyata dalam kehidupan sehari-hari, dihubungkan dengan pengetahuan yang dipelajarinya.Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran berbasis masalah merupakan sebuah model pembelajaran yang menyajikan masalah sehingga dapat merangsang siswa untuk belajar.

2) Langkah-langkah Pembelajaran Berbasis Masalah

Langkah-langkah pembelajaran dalam project-based learning adalah sebagai berikut (Mulyasa, 2014).

a) Mengorientasi peserta didik pada masalah. Tahap ini dilakukan untuk memfokuskan peserta didik (mengamati) masalah yang menjadi objek pembelajaran.

b) Mengorganisasikan kegiatan pembelajaran. Pengorganisasian pembelajaran merupakan salah satu kegiatan agar peserta didik menyampaikan berbagai pertanyaan (menanya) terhadap masalah yang disajikan.

c) Membimbing penyelidikan mandiri dan kelompok. Pada tahap ini peserta didik melakukan percobaan (mencoba) untuk memperoleh data dalam rangka menjawab atau menyelesaikan masalah yang dikaji.

d) Mengembangkan dan menyajikan hasil karya. Peserta didik menghubungkan data yang ditemukan dari percobaan dengan berbagai data lain dari berbagai sumber (mengkomunikasikan).

e) Analisis dan evaluasi proses pemecahan masalah. Setelah peserta didik mendapat jawaban terhadap masalah yang ada, selanjutnya dianalisis dan dievaluasi.

f. Penilaian Otentik

Salah satu hal yang tidak boleh dilupakan dalam pembelajaran adalah penilaian. Dalam kurikulum 2013, penilaian yang dipakai adalah penilaian otentik. Kunandar (2013:35-36) mengungkapkan pendapat bahwa penilaian autentik adalah kegiatan menilai siswa yang menekankan pada apa yang seharusnya dinilai, baik proses maupun hasil dengan berbagai instrumen penilaian yang disesuaikan dengan tuntutan kompetensi yang ada di Standar Kompetensi (SK) atau Kompetensi Inti (KI) dan Kompetensi Dasar (KD).

Menurut Nurgiyantoro (2011:23), penilaian otentik merupakan penilaian terhadap tugas-tugas yang menyerupai kegiatan membaca dan menulis sebagimana halnya di dunia nyata dan di sekolah. Tujuan penilaian itu adalah untuk mengukur berbagai keterampilan dalam berbagai konteks yang mencerminkan situasi di dunia nyata dimana keterampilan-keterampilan tersebut digunakan.

Berdasarkan uraian di atas, penulis dapat menyimpulkan bahwa penilaian otentik adalah penilaian yang dilakukan selama maupun sesudah proses pembelajaran. Penilaian otentik menjadi salah satu ciri dalam implementasi kurikulum 2013. Penilaian otentik dilaksanakan untuk memperoleh nilai proses dan hasil pembelajaran yang meliputi tiga aspek atau ranah yaitu kognitif, sikap/afektif, dan psikomotor.

Dokumen terkait