• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kurikulum MA sebelum Tahun 1973: Dominasi Muatan Agama

KARAKTERISTIK KURIKULUM MADRASAH ALIYAH

1. Kurikulum MA sebelum Tahun 1973: Dominasi Muatan Agama

Sebelum tahun 1973, kurikulum madrasah belum muncul secara nasional32, praktis kurikulum madrasah masih ditentukan oleh lembaga madrasah masing-masing, tentunya terjadi perbedaan antara satu dan lainnya. Pada saat itu pun namanya bukan kurikulum melainkan rencana pelajaran33. Seperti rencana pelajaran madrasah Mu’allimin Muhammadiyah Yogyakarta tahun 1959, berbeda dengan rencana pelajaran Pondok Pesantren Modern Gontor Ponorogo Jawa Timur tahun 1958 yang di dalamnya ada KMI (Kulliatul Mu’allimin al-Islamiyah), berbeda pula dengan rencana pelajaran Sekolah Guru P.U.I 6 Tahun 1958. Menurut pemikiran penulis, berbeda pula dengan madrasah-madrasah lain yang muncul saat itu.

Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah Yogyakarta yang menurut Mahmud Yunus didirikan sekitar tahun 1918, awalnya bernama madrasah Muhammadiyah

32

Pada tahun 1950 Barat –Amerika dan Soviet– sudah menggunakan kurikulum yang cukup maju, walaupun tahun 1950 sebagai dekade (dasa warsa) kecaman, konflik dan reformasi dalam kurikulum. Sementara periode kecaman dapat dibedakan menjadi dua pertama, mulai tahun 1950, kedua, setelah Soviet meluncurkan Satelit yang bernama Sputnik pada tahun 1957. Lihat, William F. Pinar et. al., Understanding Curriculum, An Introduction to the Study of Historical and Contemporary Curriculum Discourses (New York: Peter Lang, 2004), 151. Meluncurkan Satelit adalah indikator kemajuan hasil teknologi suatu negara, hal ini tidak terlepas dari kualitas pendidikan, dimana kurikulum memainkan peran penting. Sementara Indonesia baru mengawali sejarahnya dalam bidang kurikulum, begitu jauhnya jarak ketertinggalan Indonesia dengan mereka.

33

Bahkan sering kebanyakan orang mengatakan kurikulum itu masih silabus, lihat A.V. Kelly, The Curriculum Theory and Practice (London: Sage Publication, 2004), 46.

kemudian berganti nama menjadi Qismul-Arqa, selanjutnya bernama Kweekschool

Muhammadiyah, dan akhirnya dipilih nama madrasah Mu’allimin Muhammadiyah sampai sekarang. Di madrasah ini diajarkan mata pelajaran agama dan umum yang perbandingannya seimbang34 –rencana pelajarannya dapat dilihat pada lampiran (tabel 1).

Kemudian Pondok Pesantren Modern Gontor Ponorogo Jawa Timur yang menerapkan sistim KMI. Pesantren ini didirikan pada tahun 1926, kemudian diperbaharui menjadi pondok modern pada tahun 1936 oleh Imam Zarkasyi. Konon Imam Zarkasyi keluaran Normal Islam Padang tahun 1935, dimana sekolah ini merupakan madrasah yang sudah modern, dan menurut catatan Mahmud Yunus adalah muridnya. Isi Rencana pelajaran pesantren ini meliputi ilmu-ilmu Agama, bahasa Arab dan pengetahuan umum35 –isi rencana pelajarannya dapat dilihat pada lampiran (tabel 2).

Sebagai perwakilan madrasah yang ada di jawa Barat adalah Sekolah Guru P.U.I 6 tahun. P.U.I (Persatuan Umat Islam), adalah organisasi gabungan dari Perikatan Umat Islam yang didirikan tahun 1917 oleh Kyai H. A. Halim (Majalengka) dan Al-Ittihadiyatul Islamiyah (A.I.I) yang didirikan oleh Kyai H. A Sanusi di Sukabumi. Didirikannya sekolah Guru, karena menjawab kebutuhan tenaga pengajar di Jawa Barat. Para siswa yang masuk Sekolah Guru P.U.I adalah yang lulus dari Madrasah Tsanawiyah 4 tahun atau lulus dari SMP P.U.I 3 tahun, jadi Sekolah Guru P.U.I setaraf Madrasah Aliyah. Adapun isi rencana pelajaran Sekolah Guru P.U.I ini meliputi mata pelajaran agama dan umum, tetapi masih lebih didominasi pelajaran agamanya36 –isi rencana pelajarannya terlampir pada lampiran (tabel 3).

Ilustrasi di atas menggambarkan bahwa kurikulum madrasah belum seragam. Di tahun mendekati 1970, kurikulum madrasah mulai diarahkan supaya

34

Yunus, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, 272. 35

Yunus, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, 248-249. 36

72

seragam dan bersifat nasional. Seperti keterangan Nur Ahid bahwa kurikulum Madrasah Aliyah sudah muncul sejak 1968, yaitu hasil konferensi kepala Madrasah Aliyah di Semarang, yang pada waktu itu Madrasah Aliyah untuk pelajaran agama dan soal-soal ujian menggunakan bahasa pengantar Bahasa Arab.37 Dengan demikian muatan agamanya saat ini masih dominan.

Perkembangan selanjutnya, dalam rencana pembangunan 8 tahun (1961-1969), yang diserahkan pemerintah kepada MPRS dinyatakan, bahwa madrasah (yang juga memuat pelajaran umum) akan berkembang mengikuti tipe sekolah umum dan akhirnya akan masuk Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Namun dalam Tap MPRS tahun 1960 dan kemudian tahun 1963, menetapkan bahwa madrasah akan tetap berada di bawah Departemen Agama,38 perebutan otoritas yang demikian adalah politis. Dan ada benarnya, ketika Departemen Pendidikan dan Kebudayaan bersikap demikian, karena sebenarnya ruh UU pendidikan No. 4 Tahun 1950 jo. No. 12 tahun 1954 mengabaikan pendidikan madrasah.39 Walaupun mayoritas orang Islam tetap tidak setuju kalau madrasah di bawah otoritas Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.40 Kelihatan sangat jelas bahwa UU pendidikan pertama setelah Indonesia merdeka tidak mengakui keberadaan madrasah sebagai suatu lembaga pendidikan setara sekolah, karena madrasah pada awalnya tidak mengajarkan ilmu umum.

37

Nur Ahid, Problematika Madrasah Aliyah di Indonesia (Kediri: STAIN Kediri Press, 2009), 119.

38

Steenbrink, Pesantren Madrasah Sekolah pada Pendidikan Islam dalam Kurun Modern, 99.

39

Penafsiran Maksum dengan Mastuki, rupanya berbeda, jika Maksum bahwa UU pendidikan yang pertama itu mengabaikan pendidikan madrasah, tetapi Mastuki sebaliknya, UU pendidikan pertama itu mengapresiasi pendidikan Madrasah. Teks lengkap isi UU tersebut adalah, pasal 10 ayat (2) yang menyebutkan, “Belajar di sekolah agama yang mendapat pengakuan Menteri Agama dianggap telah memenuhi kewajiban belajar”. Selanjutnya ayat (3) pasal yang sama menyebutkan, “Kewajiban belajar itu diatur dalam undang-undang tersendiri”. Lihat, Departemen Agama RI, Menelusuri Pertumbuhan Madrasah di Indonesia (Jakarta: Direktorat Jenderal Kelembagaan Agama Islam, 2001), 18. Tetapi yang menjadi masalah undang-undangnya tidak segera direalisasikan.

40

Awal mula terjadinya perebutan otoritas ini jika dianalisis secara jeli sebenarnya disebabkan karena kurikulum, dimana madrasah mengajarkan mata pelajaran umum. Seolah-olah otoritas madrasah hanya sebagai lembaga tafaquh fi> al-di>n saja yang hanya mempelajari ilmu-ilmu agama. Memang pergeseran kurikulum secara umum baik di sekolah maupun madrasah itu syarat dengan sebab politik. Dalam bab 5 William F Pinar dan kawan-kawannya mengatakan kurikulum adalah politik. William menjelaskan banyak term yang terkait dengan ini, seperti sosiologi baru dari kurikulum, teori radikal dan kritik kurikulum, teori kurikulum yang berorientasi politik. Term ini yang berkembang setelah abad 20, tegas William.41 Jika dianalisis politik tidak dapat lepas dari sosial, demikian pula pergeseran kurikulum sebagai langkah dinamisasi pendidikan, juga tidak dapat lepas dari faktor sosial.

Perkembangan selanjutnya, sebelum Madrasah Aliyah muncul, lembaga pendidikan setingkat dengan MA yang didirikan oleh pemerintah adalah Sekolah Guru Agama Islam (SGAI) yang didirikan tahun 1950. Lulusan SGAI dipersiapkan untuk menjadi guru di Sekolah Dasar. Sedangkan guru yang mengajar di sekolah menengah, pemerintah mendirikan Sekolah Guru dan Hakim Agama Islam (SGHA) dan Pendidikan Hakim Islam Negeri (PHIN), lulusan dari sini juga diperuntukan mengajar di SGAI dan tenaga panitera pengadilan agama.42 Sekolah-sekolah seperti ini termasuk sekolah-sekolah kedinasan, yang lulusannya siap pakai terutama untuk mengajar. Dan sebutan yang dipakai juga sekolah bukan madrasah. Sekolah-sekolah seperti ini memang didirikan oleh Departemen Agama sendiri dan dipersiapkan untuk mengajar agama Islam, baik itu di sekolah umum seperti SD atau sekolah menengah.

41

William F Pinar et. al. , Understanding Curriculum, An Introduction to the Study of Historical and Contemporary Curriculum Discourses (New York: Peter Lang, 2004), 243. Kita secara umum dapat melihat betapa pentingnya pendidikan untuk mencapai tujuan politik. Sesungguhnya eksponen pertama yang memunculkan teori pendidikan, Plato sendiri, menggambarkan perhatian kita untuk hal ini dan mengakui pendidikan sebagai kunci untuk mencapai bentuk masyarakat, dia menginginkan hal itu terjadi. Nasihat dia sesungguhnya didasarkan pada mesin sosial dari banyak bentuk yang terjadi masa itu. Lihat, Kelly, The Curriculum Theory and Practice, 14.

42

74

Sebenarnya sebelum didirikan SGAI dan lain-lain, madrasah sudah cukup banyak di masyarakat. Dimana mereka hidup dengan swadaya masyarakat bahkan perorangan. Maka tidak heran ketika madrasah bisa eksis dengan dirinya sendiri artinya tanpa bantuan pemerintah, keadaan ini terjadi jauh sebelum Indonesia merdeka. Namun munculnya peraturan Menteri Agama No. 1 tahun 1950, madrasah swasta sudah mulai mendapatkan bantuan materiil maupun bimbingan dari pemerintah. Akhirnya pada tahun 1967, madrasah swastapun banyak dinegerikan. Yaitu menjadi Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN), Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN), dan Madrasah Aliyah Agama Islam Negeri (MAAIN).43 Tidak ketinggalan Pendidikan Guru Agama (PGA), pada saat ini PGA 4 tahun, pun banyak dinegerikan.44 Kemudian dalam rangka pembinaan madrasah tahun ajaran 1958/1959 diadakan Madrasah Wajib Belajar (MWB)45 salah satu bentuk madrasah yang dicetuskan oleh KH. Moh. Ilyas, dimana ketika itu beliau menjadi Menteri Agama.

Setidaknya ada 4 bentuk Institusi Madrasah Aliyah, pertama, Madrasah Aliyah Umum, dasar munculnya madrasah ini adalah Peraturan Menteri Agama No. 1 tahun 1946, tanggal 19 Desember 1946. Dalam Permen tersebut salah satunya dimuat bahwa dalam madrasah itu hendaknya diajarkan juga pengetahuan umum setidak-tidaknya; a) Bahasa Indonesia, Berhitung, Membaca dan Menulis dengan huruf latin di madrasah tingkat rendah, b) Ilmu-ilmu tentang Bumi, Sejarah, Kesehatan,

43

Baca, Hasbullah, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, Lintasan Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan, 177-178.

44

Pada tahun 1967, banyak PGA dinegerikan. Penegerian PGA ditetapkan dengan Keputusan Menteri Agama (KMA), seperti KMA No. 13 Tahun 1967 tentang pembentukan PGAN Isinu Gorontalo Propinsi Sulawesi Utara, KMA No. 15 Tahun 1967 tentang pembentukan PGAN 4 tahun Pemangkat Propinsi Kalimantan Barat, dll, cukup banyak KMA tentang penegerian PGA menjadi PGAN, lihat Departemen Agama RI, Himpunan Peraturan Perundangan Produk Departemen Agama RI tahun 1967 (Jakarta: Biro Hukum dan Humas Depag RI, 1983), 56-57, 60-61.

45

Masa belajar MWB ini 8 tahun. Kurikulumnya, merupakan kurikulum pengajaran terpadu antara aspek keagamaan, pengetahuan umum, dan ketrampilan. Departemen Agama RI, Problematika Madrasah (Jakarta: Direktorat Jenderal Dapartemen Agama RI, 2001), 9. Mengomentari lama belajar 8 tahun, hal ini jauh sebelum ada wajar 9 tahun yang diberlakukan pada tahun 1994, Departemen Agama sudah lebih dulu. Adapun kurikulum terpadu ini karena mengembangkan kemampuan otak atau akal, hati atau perasaan, dan tangan kecekatan. Kurikulum model ini disebut pada masa sekarang ”Life Skills”.

Tumbuh-tumbuhan dan Alam, di madrasah lanjutan.46 Walaupun madrasah tetap menjadi tempat pendidikan yang mengajarkan ilmu pengetahuan agama Islam sebagai pokok pengajarannya. Jumlah jam pengajaran untuk pengetahuan umum sekurang-kurangnya 30% dari jumlah jam pengajaran seluruhnya. Ketentuan untuk mengajarkan pengetahuan umum 30% dari seluruh jam pengajaran dilatarbelakangi oleh saran Panitia Penyelidik Pengajaran yang mengamati bahwa di madrasah-madrasah jarang sekali diajarkan pengetahuan umum yang sangat berguna bagi kehidupan sehari-hari. Kekurangan pengetahuan umum akan menyebabkan orang mudah diombang-ambingkan oleh pendapat yang kurang benar dan pikiran kurang luas. Dikarenakan dalam kurikulumnya porsi pengetahuan umum lebih banyak daripada pengetahuan agama, maka disebut Madrasah Aliyah umum.47

Kedua, Madrasah Aliyah Program Khusus (MAPK)/Madrasah Aliyah

Keagamaan, latar belakang munculnya madrasah ini adalah antisipasi terhadap menurunnya kemampuan bidang agama pada lulusan Madrasah Aliyah setelah menjadi madrasah dengan beban kurikulum 70% umum dan 30% agama (Kurikulum Madrasah 1975 hasil SKB tiga menteri). Terlebih setelah munculnya UU Sisdiknas No. 2 Tahun 1989 yang menyamakan kurikulum madrasah dengan sekolah, yang membedakan hanya jumlah pelajaran ciri khas agama. Kekhawatiran masyarakat akan makin kekurangan ahli agama (kyai/ulama) menjadi alasan utama dibukanya MAPK ini.48 Dalam rangka mengantisipasi krisis ulama ini, maka Munawir Sjadzali ketika menjadi Menteri Agama (1983-1993) mendirikan Madrasah Aliyah Program

46

Lihat, Nur Ahid, Problematika Madrasah Aliyah di Indonesia, 67 47

Madrasah Aliyah Umum, sebenarnya dibedakan dari sisi content kurikulumnya. Di MA umum ini pelajaran umum lebih dominan dibanding pelajaran agamanya. Yang lazim disebut 30% mata pelajaran agama dan 70% mata pelajaran umum, bahkan pada Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), dan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) mata pelajaran agama hanya dua jam pelajaran per minggu. Sebagai bahan perbandingan, lihat, Departemen Agama RI, Problematika Madrasah, 7. Di buku ini disebutkan madrasah adalah bentuk lembaga pendidikan Islam yang sudah modern karena mengajarkan mata pelajaran umum.

48

Husni Rahim, Madrasah dalam Politik Pendidikan di Indonesia (Jakarta: Logos Wacana Ilmu dan Pemikiran, 2005), 176.

76

Khusus (MAPK), dengan kurikulum kebalikan dari kurikulum hasil SKB, yakni 70% pelajaran agama dan 30% pelajaran umum –menurut penulis ketika masa ini MAPK menggunakan kurikulum 1984– plus pengajaran Bahasa Arab dan Inggris secara intensif. Dengan usaha seperti ini maka output IAIN secara kualitatif dapat ditingkatkan, dan yang penting lagi adalah dalam rangka mengantisipasi krisis ulama. Tujuan utama dibukanya Madrasah Aliyah Program Khusus (MAPK) adalah: a) untuk memenuhi kebutuhan tenaga ahli bidang agama Islam sesuai dengan tuntutan pembangunan nasional dalam rangka peningkatan mutu pendidikan pada Madrasah Aliyah, b) untuk menyiapkan lulusan agar memiliki kemampuan dasar yang diperlukan bagi pengembangan diri sebagai ulama yang intelek, c) menyiapkan lulusan sebagai calon mahasiswa IAIN atau PTAI lainnya termasuk calon mahasiswa al-Azhar Mesir. Lama belajar MAPK ini sama dengan program Madrasah Aliyah yang lain yaitu tiga tahun, hanya saja diselenggarakan dengan sistem pesantren/berasrama (boording school).49 Banyak tanggapan orang yang mengatakan bahwa kualitas output MAPK cukup baik.50

Munculnya Keputusan Menteri Agama (KMA) No. 371 tahun 1993, restrukturisasi madrasah dilakukan lagi yaitu dengan merubah MAPK menjadi Madrasah Aliyah Keagamaan (MAK). Secara substansial antara MAPK dengan MAK tidak ada perbedaan yang berarti kecuali beban kurikuler agak lebih berat

49

Depag RI, Satuan Pendidikan Madrasah Aliyah Keagamaan (Jakarta: Direktorat Jenderal Pembinaan dan Kelembagaan Agama Islam, 2001), 8. Adapun Visi Madrasah Aliyah Keagamaan (MAK) adalah penguasaan ilmu pengetahuan khusus tentang ajaran agama Islam (tafaquh fi al-di>n) yang diperlukan untuk melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi dan mampu beradaptasi dengan anggota masyarakat serta memiliki kemampuan memasuki dunia kerja. Sedang Misinya adalah; 1) memberikan kemampuan ilmu ke-Islaman bagi tamatan untuk melanjutkan pendidikan, 2) menyiapkan umat untuk menjadi masyarakat belajar pada masa yang akan datang, 3) menyiapkan tamatan yang mampu menginternalisasi nilai-nilai Islam dalam kehidupan masyarakat. Lihat, Departemen Agama RI, Madrasah Aliyah Keagamaan (Jakarta: Direktorat Jenderal Kelembagaan Agama Islam, 2001), 10.

50

Dari MAPK Ciamis, sebanyak 13 orang 79 orang lulusannya diterima langsung di Universitas al-Azhar Cairo (Mesir), 56 orang di IAIN dan 10 orang lainnya belum diketahui nasibnya, lihat, Departemen Agama RI, Badan Litbang Agama, Laporan Penelitian Evaluasi Sistem Penyelenggaraan dan Pengelolaan Pendidikan pada Madrasah Aliyah Program Khusus (MAPK) (Jakarta: Puslitbang Pendidikan Agama, 1992/1993), 40.

ketimbang MAK. Dari segi operasional, MAPK didukung proyek, sedang MAK tidak. Disamping itu dengan KMA No. 371 tahun 1993, kanwil Departemen Agama juga diberikan kewenangan untuk membuka MAK sesuai kebutuhan MA. Yang melaksanakan bukan hanya MAN tetapi juga MAS. Dengan demikian jumlah MAK semakin banyak dan massif. Tetapi sayang pertambahan jumlah MAK ini tidak diimbangi dengan dana, sarana prasarana, dan Sumber Daya Manusia (SDM) yang memadai. Akibatnya kualitas MAK menurun, lama kelamaan semakin buruk, tingkat kepercayaan masyarakat untuk memasukan anaknya ke MAK juga semakin menurun. Akhirnya banyak MA yang undur diri dari penyelenggaraan MAK ini akibat tidak dapat murid.51 Mendengar cerita MAK yang demikian, sebenarnya penyelenggaraan madrasah substansinya adalah kualitas, baik kualitas sarana prasarana, kurikulum, SDM guru maupun dana yang memadai. Dengan kualitas ini akan menghasilkan

outcome yang berkualitas pula dan masyarakat juga tertarik.

Ketiga, Madrasah Aliyah Program Ketrampilan adalah Madrasah Aliyah yang diberi tambahan program ekstrakurikuler dalam berbagai bidang ketrampilan yang terstruktur. Output dari program ini membekali siswa yang tidak dapat melanjutkan ke perguruan tinggi agar dapat memasuki dunia kerja dengan bekal ketrampilan tertentu. Madrasah Aliyah Program Ketrampilan ini mempunyai visi dan misi, dimana visi madrasah ini adalah menyiapkan sumber daya manusia yang terampil, mandiri, religious, dan berwawasan ke depan. Sedang misi yang merupakan sesuatu yang tidak dapat dipisahkan dari madrasah ini adalah menumbuhkan dan mengembangkan kesadaran global bagi siswa. Dengan proyeksi ini, siswa diharapkan memiliki motivasi untuk memandang jauh ke depan dan meyakini mampu berbuat

51

Di MAK Yogyakarta, penerimaan siswa baru tahun 2004, hanya mendapat 6 orang siswa. Data keseluruhan jumlah siswa MA 2003-2004 secara nasional juga menunjukkan bahwa siswa yang mengambil program MAK hanya 2,8% (6.246 siswa) saja dari keseluruhan siswa MA yang berjumlah 223.729 siswa. Demikian juga, dari sekitar 300 MA penyelenggara MAK sekitar, 100 buah diantaranya tidak lagi membuka program keagamaan karena tidak ada atau minimnya pendaftar, lihat, EMIS Depag RI Tahun 2004.

78

banyak di dalamnya.52 Adapun sasaran utama dari program ini adalah; a) siswa Madrasah Aliyah yang berasal dari keluarga yang tak mampu dari segi pembiayaan, b) siswa yang menjadikan Madrasah Aliyah sebagai terminal/tidak melanjutkan ke Perguruan Tinggi, siswa yang telah tamat menjadi pencari kerja.53 Ketrampilan yang diberikan pada madrasah ini mulai dari program pendidikan ketrampilan (vocational life skills) yang bertujuan membekali siswa untuk siap bekerja dan mampu menciptakan usaha sendiri (mandiri), memberi dorongan kepada mereka (alumni) dari siap mencari kerja menjadi siap mencipta kerja. Program Madrasah Aliyah Program Ketrampilan dimulai tahun 1989 –kurikulum tahun 1984– dengan bantuan UNDP/UNESCO, awal mula dibuka dengan ketrampilan menjahit, reparasi radio/tv, dan otomotif. Walaupun demikian hebatnya Depag merekayasa lembaga madrasah, tetapi lulusan madrasah belum juga sama secara politis, buktinya lulusan madrasah masih kesulitan untuk diterima di instansi pemerintah, perusahaan-perusahaan yang ada di Indonesia baik pribumi maupun asing, dan juga masih kesulitan untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi di lembaga-lembaga pendidikan negeri yang dikelola Depdikbud (saat itu).

Keempat, Madrasah Aliyah Model, adalah madrasah yang mempunyai

program agar sebuah madrasah menjadi madrasah yang baik dari semua unsurnya, agar dapat dijadikan percontohan bagi madrasah-madrasah di sekitarnya. Oleh karenanya, madrasah harus memenuhi persayaratan sebagai sekolah, yaitu memiliki manajemen madrasah yang baik, SDM yang berkualitas, kelengkapan sarana dan prasarana pendidikan dan bantuan pendidikan yang memadai serta keunggulan kualitas lulusannya. Oleh karena itu, program ini diharapkan dapat berfungsi sebagai agen perubahan (agent of change) dalam dunia pendidikan Islam (madrasah). Tujuan umum pengembangan Madrasah Aliyah Model mengacu kepada Tujuan Pendidikan

52

Departemen Agama RI, Madrasah Aliyah Program Ketrampilan (Jakarta: Direktorat Jenderal Kelembagaan Agama Islam Departemen Agama RI, 2001), 4 - 5.

53

Husni Rahim, ”Anatomi Madrasah di Indonesia”, dalam Edukasi, Jurnal Penelitian Agama dan Keagamaan, Vol 2, No. 2, 2004, 40-41.

Nasional seperti termaktub dalam UU Sisdiknas No. 2 Tahun 1989. Sedang secara khusus, madrasah bertujuan menghasilkan keluaran (output) pendidikan yang memiliki keunggulan dalam, a) keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT, b) nasionalisme dan patriotisme yang tinggi, c) wawasan IPTEK yang luas dan mendalam, d) motivasi dan komitmen yang tinggi untuk mencapai prestasi dan keunggulan, serta memiliki kepribadian yang kokoh, e) kepekaan sosial dan kepemimpinan, dan f) disiplin yang tinggi dan kondisi fisik yang prima.54 Tujuan di atas dijadikan dasar untuk merumuskan fungsi madrasah Model, a) sebagai percontohan bagi madrasah satelit di sekitarnya dalam bidang mutu kelembagaan, kurikulum, proses dan outcome pembelajaran yang optimal, b) sebagai pusat kegiatan belajar mengajar atau pusat sumber belajar yang inovatif, yang didukung sarana prasarana pendidikan yang lengkap dan memadai, serta memiliki sumber daya manusia yang berkualitas, Islami dan populis, yang dapat memberikan kesempatan bagi madrasah lain memanfaatkan fasilitas yang tersedia bagi peningkatan mutu madrasah di lingkungannya yang bergabung dalam Kelompok Kerja Madrasah (KKM), dan c) sebagai pusat pemberdayaan yang dapat menumbuhkan sikap mandiri bagi madrasah dan masyarakat di lingkungannya.55 Madrasah Model untuk Madrasah Aliyah dimulai tahun 2000 yang dikembangkan oleh DMAP (Development of Madrasah Aliyah Project), berarti kurikulum yang dipakai suplemen tahun 1999. Dari Madrasah Aliyah Model ini hendaknya akan muncul madrasah yang bertarap nasional dan internasional, terlebih kurikulumnya sama dengan sekolah umum yang sederajat. Sehingga akan mengurangi image masyarakat yang beranggapan bahwa madrasah adalah lembaga pendidikan nomor dua setelah sekolah.

Kelima, Madrasah Aliyah Diniyah, muncul dari bentuknya yang sederhana berupa pengajian di masjid-masjid, langgar dan surau. Pada mulanya hanya mengajarkan ilmu-ilmu agama dan bahasa Arab. Dalam perkembangan selanjutnya,

54

Departemen Agama RI, Development of Madrasah Aliyah Project (Jakarta: Direktorat Jenderal Kelembagaan Agama Islam, 2002), 2-3.

55

80

sebagaian di madrasah diberikan mata pelajaran umum dan sebagaian lainnya tetap mengkhususkan ilmu-ilmu agama dan bahasa Arab.56 Madrasah Diniyah dibentuk dengan Keputusan Menteri Agama No. 13 tahun 1964, yang meliputi Diniyah Awaliyah, W ustho dan Aliyah.57 Madrasah Diniyah yang di dalamnya termasuk Madrasah Aliyah Diniyah bertujuan untuk berkembangnya kemampuan peserta didik dalam memahami, menghayati dan mengamalkan nilai-nilai agama yang menyerasikan penguasaannya dalam ilmu pengetahuan, teknologi dan seni.58 Pendidikan keagamaan berfungsi mempersiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memahami dan mengamalkan nilai-nilai ajaran agamanya dan/atau menjadi ahli ilmu agama. Pendidikan keagamaan bertujuan untuk terbentuknya peserta didik yang memahami dan mengamalkan nilai-nilai ajaran agamanya dan/atau menjadi ahli ilmu agama yang berwawasan luas, kritis, kreatif, inovatif, dan dinamis dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa beriman, bertakwa dan berakhlak mulia.59 Madrasah Aliyah Diniyah (Diniyah Ulya) berdiri di dalam pondok pesantren ada pula yang berdiri di luar pondok pesantren. Pengelola Madrasah Diniyah sebagaian besar yayasan, organisasi keagamaan maupun perorangan. Dengan demikian Madrasah Diniyah adalah merupakan lembaga pendidikan yang berbasis masyarakat. Madrasah Diniyah sebenarnya sudah muncul sejak dulu, bahkan sebelum Indonesia merdeka Madrasah Diniyah ini sudah muncul, dalam bentuk non formal. Adapun kurikulum Madrasah Diniyah mulai muncul secara nasional sejak dikeluarkannya Peraturan Menteri Agama No. 3 Tahun 1983, di sini juga disebut

56

Departemen Agama RI, Pondok Pesantren dan Madrasah Diniyah Pertumbuhan dan Perkembangannya (Jakarta: Direktorat Jenderal Kelembagaan Agama Islam, 2003), 22.

57

Karel A. Steenbrink, Pesantren Madrasah Sekolah, Pendidikan Islam dalam Kurun

Dokumen terkait