• Tidak ada hasil yang ditemukan

Latihan kader merupakan perkaderan HMI yang dilakukan secara sadar, terrencana, sistematis dan kontinu serta memiliki pedoman dan aturan yang baku secara rasional dalam rangka mencapai tujuan HMI, latihan ini berfungsi memberikan kemampuan kepada peserta sesuai dengan tujuan dan target pada masing-masing jenjang latihan. Latihan kader merupakan media formal HMI yang dilaksanakan secara berjenjang. Pada masing-masing jenjang latihan menitikberatkan pada pembentukan watak dan karakter kader HMI melalui transformasi nilai, wawasan dan keterampilan serta motivasi untuk mengaktualisasikan kemampuannya. Latihan kader dalam HMI terdiri dari tiga jenjang yaitu Latihan Kader I (Basic Training), Latihan Kader II (Intermediate Training) dan Latihan Kader III (Advance Training). Setiap jenjang perkaderan memiliki tujuan dan target yang berbeda-beda.

1. Tujuan

a. Latihan Kader I; Terbinanya kepribadian muslim yang berkualitas akademis, sadar akan fungsi dan peranannya dalam berorganisasi serta hak dan kewajibannya sebagai kader umat dan kader bangsa.

b. Latihan Kader II; Terbinanya kader yang mempunyai kemampuan intelektual dan mampu mengelola organisasi serta berjuang untuk meneruskan dan mengemban misi HMI. c. Latihan Kader III; Terbinannya kader pemimpin yang mampu menterjemahkan dan

mentransformasikan pemikiran konsepsional secara profesional dalam perubahan sosial.

2. Target

a. Latihan Kader I:

- Memiliki kesadaran menjalankan ajaran islam dalam kehidupan sehari-hari - Meningkatkan kemampuan akademis

- Memiliki kesadaran berorganisasi

- Memiliki tanggungjawab keumatan dan kebangsaan b. Latihan Kader II:

- Memiliki kesadaran intelektual yang kritis, dinamis, progresif, inovatif dalam memperjuangkan misi HMI.

Pedoman Dasar KOHATI 2016-2018 | 73

c. Latihan Kader III:

- Memiliki kemampuan kepemimpinan yang amanah, fathonah, shidiq dan tabligh serta mampu menterjemahkan dan mentransformasikan pemikiran konsepsional dalam dinamika perubahan sosial.

- Memiliki kemampuan untuk mengorganisir masyarakat dan mentransformasikan nilai-nilai perubahan untuk mencapai masyarakat adil dan makmur yang diridhoi Allah SWT.

KOHATI yang merupakan bagian integral HMI yang berspesialisasi membina dan meningkatkan kualitas HMI-wati dalam merespon isu-isu keperempuanan. Oleh karena itu, pembentukan karakter dan paradigma keperempuanan (muslimah) dan ke-KOHATI-an kader harus dibentuk sejak pertama seorang mahasiswi Islam bergabung dengan organisasi ini, dimana ruang kaderisasi formalnya adalah Basic Training (Latihan Kader I) HMI. Hal ini karena Latihan Khusus KOHATI (LKK) yang merupakan jenjang training internal KOHATI pasca Basic

Training HMI cukup terlambat dalam membentengi karakter dan paradigma keperempuanan

(Muslimah) serta ke-KOHATI-an para HMI-Wati, ini disebabkan oleh gejolak intelektual kader yang diperoleh saat mengikuti Basic Training HMI telah “memaksa” para kader untuk berinteraksi dengan dinamika intelektual yang lebih luas, dimana dinamika intelektual tersebut mengharuskan para kader bersentuhan dengan wacana-wacana keperempuanan yang beragam.

Basic Training HMI adalah ruang yang tepat untuk membentengi HMI-wati dengan memberikan

gambaran awal tentang konsep perempuan dalam perspektif Islam dan ke-KOHATI-an. Hal ini juga penting untuk membentuk paradigma HMI-wan terhadap perempuan yang sesuai dengan perspektif Islam, sehingga HMI-wan dapat memposisikan perempuan (HMI-wati) secara adil dalam ruang organisasi dan ruang sosial yang digelutinya. Pilihan langkah ini tentu saja meniscayakan dua hal, pertama, dibutuhkan niat baik kita bersama untuk menjadikan konsep perempuan dalam perspektif Islam dan ke-KOHATI-an sebagai salah satu materi wajib dalam

Basic Training HMI, dan kedua, dibutuhkan kurikulum materi ke-KOHATI-an dan

keperempuanan yang akan di diterapkan secara seragam dan merata dalam setiap jenjang perkaderan HMI.

Pedoman Dasar KOHATI 2016-2018 | 74

Maka dari itu, Pengurus KOHATI PB HMI periode 2013-2015 berkewajiban merumuskan kurikulum materi ke-KOHATI-an dan keperempuanan untuk dicantumkan dalam setiap jenjang perkaderan HMI. Adapun penjabaran kurikulumnya dapat dilihat pada tabel berikut ini.

Silabus Materi KOHATI dan Keperempuanan pada Training HMI Jenjang

Training

LK 1 LK 2 LK 3

Materi Ke-KOHATI-an dan Perempuan dalam Perspektif Islam

KOHATI dan isu-isu Keperempuanan

Pemantapan dan Analisis Kebijakan berbasis Gerakan Keperempuanan

Alokasi waktu 3 jam 3 jam 3 jam Standar

Kompetensi

Peserta memahami ke-KOHATI-an dan Perempuan dalam Perspektif Islam

Peserta memahami peran KOHATI dalam dinamika gerakan perempuan

Peserta memahami dan menerapkan pola analisis isu-isu gerakan keperempuanan Kompetensi Dasar 1. Peserta dapat mengetahui sejarah KOHATI, tujuan, status, sifat, peran dan fungsi KOHATI baik di internal maupun di eksternal 2. Peserta dapat

memahami sinergitas KOHATI dan HMI 3. Peserta dapat

mengetahui perangkat dan atribut KOHATI 4. Peserta dapat memahami Perempuan dalam Perspektif Islam 1. Peserta dapat memahami peran KOHATI dalam dinamika gerakan perempuan 2. Peserta dapat memahami peran KOHATI dalam merespon isu-isu perempuan kekinian 3. Peserta dapat

memahami arah dan bentuk-bentuk pembinaan KOHATI 1. Peserta dapat memahami dan menganalisis isu keperempuanan secara global dan komprehensif 2. Peserta dapat menganalisis gender dan gender mainstreaming dalam perspektif Islam 3. Peserta dapat memahami keseimbangan peran perempuan di ranah domestik dan ranah publik dalam perspektif Islam Indikator 1. Peserta dapat

menjelaskan latar 1. Peserta dapat menjelaskan peran 1. Peserta dapat menjelaskan dan menganalisis pada

Pedoman Dasar KOHATI 2016-2018 | 75

belakang berdirinya KOHATI

2. Peserta dapat menjelaskan tujuan, status, fungsi, sifat, peran dan KOHATI 3. Peserta dapat menjelaskan sinergitas KOHATI dengan HMI 4. Peserta dapat mengetahui perangkat dan atribut KOHATI 5. Peserta dapat menjelaskan

dinamika dan peran mahasiswa di internal kampus maupun di eksternal 6. Peserta dapat menjelaskan Hakikat Penciptaan Perempuan dalam tinjauan Islam 7. Peserta dapat Menjelaskan Kedudukan Perempuan dalam Perspektif Islam 8. Peserta dapat menjelaskan Peran Perempuan dalam Perspektif Islam KOHATI dalam dinamika gerakan perempuan 2. Peserta dapat menjelaskan peran KOHATI dalam merespon issu-issu keperempuanan kekinian 3. Peserta dapat menjelaskan arah dan bentuk-bentuk pembinaan KOHATI persoalan kebijakan pada isu-isu keperempuanan secara global dan komprehensif 2. Peserta dapat menjelaskan menganalisis gender dan gender mainstreaming dalam perspektif Islam 3. Peserta dapat menjelaskan keseimbangan peran perempuan di ranah domestik dan ranah publik dalam perspektif Islam

Tujuan Menumbuhkan

kesadaran kader akan manfaat eksistensi KOHATI dalam HMI maupun di eksternal dalam merespon isu-isu kemahasiswaan dan kesadaran kader dalam

Meningkatkan

pemahaman akan peran dan fungsi serta arah pembinaan KOHATI dalam merespon isu-isu keperempuanan

Menumbuhkan

kesadaran kader HMI-Wan dan HMI-Wati dalam menyikapi persoalan perempuan dan analisa keseimbangan peran perempuan dan

laki-Pedoman Dasar KOHATI 2016-2018 | 76

membangun relasi bersama antara laki-laki dan perempuan dalam perspektif Islam

laki di ranah domestik dan ranah publik

Deskripsi - Memberikan

kesadaran kepada kader HMI-wan dan HMI-wati terkait keberadaan

KOHATI, sejarah KOHATI, peran dan fungsi KOHATI serta perangkat organisasi. - Memberikan kesadaran kepada peserta tentang dinamika dan peran KOHATI dalam dinamika kemahasiswaan - Memberikan kesadaran paradigm berpikir tentang Perempuan dalam Perspektif Islam Memberikan pemahaman kepada peserta terkait peran dan fungsi serta arah pembinaan KOHATI dalam merespon isu-isu keperempuanan

Memberikan

pemahaman kepada peserta tentang peran perempuan dan kesimbangan peran di ranah domestik dan ranah publik dalam merespon isu-isu kekinian

Pokok Bahasan 1. Sejarah berdirinya KOHATI

2. Tafsir Tujuan, sifat, status, fungsi dan peran KOHATI 3. Perangkat dan atribut KOHATI 4. Sinergitas KOHATI dan HMI 5. Dinamika gerakan Mahasiswa 6. Perempuan dalam Perspektif Islam

1. Peran dan fungsi KOHATI di Eksternal

2. Arah pembinaan KOHATI

3. Peran KOHATI dalam merespon isu-isu keperempuanan kekinian

1. Analisis isu-isu dan gerakan

keperempuanan 2. Peran perempuan

dalam ranah publik

Metode Ceramah, diskusi/FGD, tanya jawab

Ceramah, diskusi/case

study tanya jawab

Ceramah, diskusi/case

study, tanya jawab

Penilaian - Keaktifan dan kualitas

- Keaktifan dan kualitas

- Keaktifan dan kualitas

Pedoman Dasar KOHATI 2016-2018 | 77

tanggapan/sanggaha n

- Kemampun

mereview materi dan Presentasi

- Test Obejektif dan penugasan

tanggapan/sanggaha n

- Kemampun

mereview materi dan Presentasi

- Test Obejektif dan penugasan tanggapan/sanggaha n - Kemampun mereview materi dan Presentasi - Test Obejektif dan

penugasan Sumber/referensi  AD & ART HMI,

 PDK,  Sejarah KOHATI  Annimarie Schimmel: Jiwaku adalah wanita, Mizan,Bandung, 1998  Engineer, Asghar Ali:

Hak-hak perempuan dalam islam,LSPA

dan Yayasan Bentang Budaya, Yogyakarta, 1997

 Hasyim, Syafiq:

Hal-hal yang tak terpikirkan tentang isu-isu kepermpuanan dalam islam, Mizan,

Bandung, 2001  Husein Muhammad:

Fiqh

Perempuan:Refleksi Kias atas wacana agama dan gender,

RAHIMA DAN LKIS,Yogyakarta,200 1

 Husein Muhammad,

Islam Agama Ramah Perempuan,Yogyakar

ta: LKis, 2004

 Komaruddin Hidayat,

Gender Issues In Islamic Studies, UIN

Syarif Hidayatullah, 2013

 M. Alfan Alfian,

Sejarah HMI

1963- AD & ART HMI,  PDK,  Sejarah KOHATI  Annimarie Schimmel: Jiwaku adalah wanita, Mizan,Bandung, 1998  Engineer, Asghar Ali:

Hak-hak perempuan dalam islam,LSPA

dan Yayasan Bentang Budaya, Yogyakarta, 1997

 Hasyim, Syafiq:

Hal-hal yang tak terpikirkan tentang isu-isu kepermpuanan dalam islam, Mizan,

Bandung, 2001  Husein Muhammad:

Fiqh

Perempuan:Refleksi Kias atas wacana agama dan gender,

RAHIMA DAN LKIS,Yogyakarta,200 1

 Husein Muhammad,

Islam Agama Ramah Perempuan,Yogyakar

ta: LKis, 2004

 Komaruddin Hidayat,

Gender Issues In Islamic Studies, UIN

Syarif Hidayatullah, 2013

 M. Alfan Alfian,

Sejarah HMI

1963- AD & ART HMI,  PDK,

 Sejarah KOHATI  Husein Muhammad:

Fiqh

Perempuan:Refleksi Kias atas wacana agama dan gender,

RAHIMA DAN LKIS,Yogyakarta,20 01   M. Alfan Alfian, Sejarah HMI 1963-1966 , Jakarta  Sarinah Sadli, Berbeda tetapi Setara; Pemikiran tentang kajian Perempuan, Jakarta: Kompas, 2010  Muhammad Salman Ghanim, Kritik Ortodoksi; tafsir ayat ibadah, Politik, dan Feminisme,Yogyakar

ta: LKis  Komaruddin

Hidayat, Gender Issues In Islamic Studies, UIN Syarif

Hidayatullah, 2013  Nasaruddin Umar:

Argumentasi

kesetaraan gender perspektif Al-Qur’an

 Sachiko Murata, The

Pedoman Dasar KOHATI 2016-2018 | 78

1966 ,Jakarta: Kompas,2013

 Masdar F Mas’udi:

Islam dan hak reproduksi

perempuan, PPPM dan Mizan, Bandung, 1999  NDP  Nasaruddin Umar: Argumentasi kesetaraan gender perspektif Al-Qur’an

 Sachiko Murata, The

Tao of Islam, Mizan,

Bandung  Zaitun Subhan, Menggagas Fiqih Pemberdayaan Perempuan, Jakarta : el-KAHFI, 2008  Yusuf Qardlawi,dkk, Ketika wanita menggugat Islam, Jakarta, 2004

 Dan buku-buku yang relevan dengan materi pokok 1966 , Jakarta: Kompas, 2013  Sarinah Sadli, Berbeda tetapi Setara; Pemikiran tentang kajian Perempuan, Jakarta: Kompas, 2010

 Dan buku-buku yang relevan dengan materi pokok

 Masdar F Mas’udi:

Islam dan hak reproduksi

perempuan, PPPM dan Mizan, Bandung, 1999

 Nasaruddin Umar:

Argumentasi

kesetaraan gender perspektif Al-Qur’an

 Sachiko Murata, The

Tao of Islam, Mizan,

Bandung  Zaitun Subhan, Menggagas Fiqih Pemberdayaan Perempuan, Jakarta : el-KAHFI, 2008  Yusuf Qardlawi,dkk, Ketika wanita menggugat Islam, Jakarta, 2004 Bandung  Zaitun Subhan, Menggagas Fiqih Pemberdayaan Perempuan, Jakarta : el-KAHFI, 2008  Yusuf Qardlawi,dkk, Ketika wanita menggugat Islam,Jakarta, 2004

 Dan buku-buku yang relevan dengan materi pokok

Pedoman Dasar KOHATI 2016-2018 | 79

KURIKULUM

TFT (TRAINING FOR TRAINER)

Sejak awal berdirinya, KOHATI telah menampakkan kualitas kader yang dapat diandalkan. Ini dibuktikan dengan tampilnya alumni KOHATI dan HMI-wati di berbagai wilayah/daerah dalam memberikan konstribusi bagi terlaksananya agenda-agenda pembaharuan, dimana KOHATI tidak sekedar mengisi kekosongan atau mewarnai proses-proses yang terjadi namun lebih dari itu HMI-wati telah mampu menjadi pelaku utama dalam menggerakkan perubahan kearah yang lebih baik.

Namun jika dicermati dengan kritis sebaran kader berkualitas tersebut seakan menjadi alasan untuk merasa besar semata, tidak menjadi pemicu bagi perbaikan kelembagaan dan perbaikan sistem perkaderan KOHATI sebagai upaya peningkatan kualitas kader dan lembaga agar sinergis dengan zaman yang terus bergerak maju. Prestasi tersebut tak lebih dari alasan untuk merasa cukup dengan apa yang telah diperbuat dan dihasilkan. Akibatnya upaya perbaikan kelembagaan dan perbaikan sistem perkaderan menjadi terabaikan yang berimplikasi pada kondisi kelembagaan dan perkaderan tersebut mengalami degradasi yang cukup mengkhawatirkan. Akhirnya kematangan intelektualitas dan spritualitas selaku muslimah berkualitas insan cita yang seyogyanya menjadi ciri khas lembaga ini juga tidak tergambar jelas dalam diri setiap kader.

Hasil Assesment dari semua masalah dan kebutuhan lembaga baik ditingkatan komisariat sampai pada level Pengurus Besar pada dasarnya tidaklah jauh berbeda. Walaupun memiliki model dan kualitas persoalannya masing-masing sesuai dengan konteks pada setiap daerah dan tingkatan struktur, sehingga dibutuhkan kecerdasan teoritis dan kecerdasan metodologi dalam mencermati dan mengatasi problem tersebut yang tentu saja membutuhkan tenaga dan kesadaran ekstra untuk mengembalikan dan mengawal titah kelembagaan ini kepada tujuan yang melandasi dibentuknya lembaga KOHATI yang kita cintai.

Secara internal, KOHATI menghadapi kekurangan tenaga pelatih (trainers) dalam menjawab kebutuhan rutinitas pelaksanaan Latihan Khusus KOHATI (LKK) dan kegiatan-kegiatan informal KOHATI di berbagai wilayah. Kuantitas dan kualitas trainers KOHATI terasa tak mampu mengimbangi jumlah kader dan kebutuhan pelaksanaan Latihan Khusus KOHATI (LKK) dan kegiatan informal yang terus berkembang. Pada titik lain, pelaksanaan Training For

Pedoman Dasar KOHATI 2016-2018 | 80

pelaksanaannya dan hal ini berakibat pada tidak seragamnya kapasitas trainers yang dihasilkan dari setiap pelaksanaan program Training For Trainers (TFT).

Hal ini mewajibkan Pengurus Besar KOHATI periode 2013-2015 menginisiasi pelaksanaan

Training For Trainers yang diharapkan dapat menjawab kebutuhan ketersediaan trainers pada

setiap pelaksanaan Latihan Khusus KOHATI (LKK) dan kegiatan informal lainnya sekaligus dapat dijadikan contoh dalam pelaksanaan Training For Trainers (TFT) untuk mengawali proses penyeragaman pelaksanaan Training For Trainers (TFT) yang dilaksankan oleh lembaga KOHATI pada setiap jenjangnya. Sementara itu, kurangnya pemahaman tentang tema-tema ke Islaman, keperempuanan, bahkan ke-KOHATI-an serta dominasi budaya asing dalam pembentukan paradigma kader telah menjadi faktor utama yang menjadi pemicu terkikisnya karakter kemuslimahan KOHATI yang terus menurun.

Dari asumsi ini, Pengurus Besar KOHATI berkesimpulan bahwa pembentukan karakter dan paradigma keperempuanan (muslimah) dan ke-KOHATI-an kader harus dibentuk sejak pertama seorang mahasiswi Islam bergabung dengan organisasi ini, dimana ruang kaderisasi formalnya adalah Basic Training (Latihan Kader I) HMI. Hal ini karena Latihan Khusus KOHATI (LKK) yang merupakan jenjang training internal KOHATI pasca Basic Training HMI cukup terlambat dalam membentengi karakter dan paradigma keperempuanan (Muslimah) serta ke-KOHATI-an para HMI-wati, ini disebabkan oleh gejolak intelektual kader yang diperoleh saat mengikuti

Basic Training HMI telah “memaksa” para kader untuk berinteraksi dengan dinamika intelektual

yang lebih luas, dimana dinamika intelektual tersebut mengharuskan para kader bersentuhan dengan wacana-wacana keperempuanan yang beragam.

Karena itu, Basic Training HMI adalah ruang yang tepat untuk membentengi kader KOHATI dengan memberikan gambaran awal tentang konsep perempuan dalam perspektif Islam dan ke-KOHATI-an. Hal ini juga penting untuk membentuk cara pandang kader HMI (HMI-wan) terhadap perempuan yang sesuai dengan perspektif Islam, sehingga kader HMI-wan dapat memposisikan perempuan (HMI-wati) secara adil dalam ruang organisasi dan ruang sosial yang digelutinya. Pilihan langkah ini tentu saja meniscayakan dua hal, pertama, dibutuhkan niat baik kita bersama untuk menjadikan konsep perempuan dalam perspektif Islam dan ke-KOHATI-an sebagai salah satu materi wajib dalam Basic Training HMI, dan kedua, dibutuhkan kurikulum

Pedoman Dasar KOHATI 2016-2018 | 81

materi ke-KOHATI-an dan keperempuanan yang akan di diterapkan secara seragam dan merata dalam setiap jenjang perkaderan HMI.

Fakta kelembagaan dan kader serta gagasan-gagasan inilah yang mendasari lahirnya perencanaan program TFT yang merupakan training formal KOHATI dengan tujuan (1) Meningkatkan pemahaman dan kemampuan tekhnis (skill) peserta dalam mengelola latihan sehingga dapat menjadi trainer (pelatih) yang berkualitas dalam training-training KOHATI dan HMI, (2) Meningkatkan pemahaman dan kemampuan peserta tentang materi-materi dan tekhnis penyampaian materi pada training KOHATI dan HMI. TFT dilaksanakan oleh KOHATI ditingkat Badko yang diikuti oleh HMI-Wati Cabang yang telah memenuhi syarat dan ketentuan.

Sebagai acuan dalam pelaksanaan TFT, KOHATI PB periode 2013-2015 merumuskan kurikulum Training For Trainer. Adapun penjabarannya dapat dilihat pada silabus materi TFT dalam tabel berikut ini:

NO Komponen Deskripsi

1 Dekonstruksi Paradigma Pendidikan dan Filsafat Pendidikan Islam Alokasi waktu Standar Kompetensi Kompetensi Dasar Indikator Tujuan 4 x 45 Menit

Memahami Paradigma Pendidikan dan Filsafat Pendidikan Islam - Peserta memahami paradigma pendidikan

- Peserta memahami hakikat pendidikan - Peserta memahami filsafat pendidikan - Peserta memahami filsafat pendidikan islam

- Peserta memahami tujuan dan fungsi dekonstruksi paradigma pendidikan

- Peserta dapat menjelaskan paradigma pendidikan - Peserta dapat menjelaskan hakikat pendidikan - Peserta dapat menjelaskan filsafat pendidikan - Peserta dapat menjelaskan filsafat pendidikan islam

- Peserta dapat menjelaskan tujuan dan fungsi dekonstruksi paradigma pendidikan

- Peserta dapat memahami peranan paradigma pendidikan dan filsafat pendidikan islam dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi ditengah kehidupan modern.

Pedoman Dasar KOHATI 2016-2018 | 82 Pokok Bahasan Metode Penilaian Referensi - Paradigma Pendidikan - Hakikat pendidikan - Filsafat pendidikan islam

- Peranan peradigma pendidikan dan filsafat pendidikan islam dalam perkembangan IPTEK

- Tujuan dekonstruksi paradigma pendidikan - Ceramah, FGD, case study dan Brainstorming - Keaktifan dan kualitas tanggapan/sanggahan - Kemampun merevie materi dan Presentasi - Test Obejektif dan penugasan

- NDP HMI

- Dasar – dasar Filsafat Ilmu:

- Kajian terhadap Metode, Epistemologi dan sistem Pendidikan: Fazlur Rahman

- Filsafat Pendidikan Islam : Abd. Rachman Assegaf - Filsafat Pendidikan : Anas Salahudin

- Buku-buku yang relevan dengan materi pokok 2 Andragogi dan Pedagogi

Alokasi waktu Standar Kompetensi Kompetensi Dasar Indikator Tujuan Pokok Bahasan Metode Penilaian 3 x 45 menit

Memahami metode Andragogi dan Pedagogi dalam training - Peserta memahami tentang Andragogi dan Pedagogi . - Peserta mengetahui perbedaan Andragogi dan Pedagogi

- Peserta memahami pentinganya menerapkan Pedidikan Andragogi dan Pedagogi.

-

- Peserta dapat menjelaskan pengertian Andragogi dan Pedagogi - Peserta dapat menjelaskan perbedaan Andragogi dan Pedagogi - Peserta dapat menerapkan andragogi dan pedagogi dalam

pendidikan dan pelatihan

- Peserta dapat memahami dan mampu menerapkan metode Andragogi dan Pedagogi.

- Perbedaan Andragogi dan Pedagogi

- Teknik pelaksanaan Metode Andragogi dan Pedagogi - Prinsip-prinsip Andragogi dan Pedagogi

Ceramah, simulasi, FGD dan tanya jawab - Keaktifan dan kualitas tanggapan/sanggahan - Kemampun mereview materi dan presentasi - Test objektif dan penugasan

Pedoman Dasar KOHATI 2016-2018 | 83

Referensi

- Etika dan partisipasi diluar forum

Mansour Faqih, Pendidikan Popular: Membangun Kesadaran Kritis Buku-buku yang relevan dengan materi pokok

3 Pola Umum dan Pola Dasar

Training Alokasi waktu Standar Kompetensi Kompetensi Dasar Indikator Tujuan Pokok Bahasan Metode Penilaian Referensi 3 x 45 menit

- Memahami pola dasar pembinaan training - Peserta memahami tujuan training

- Peserta memahami pola dasar training

- Peserta memahami pola pembinaan KOHATI - Peserta memahami penerapan pola dasar training - Peserta dapat menjelaskan tujuan training - Peserta dapat menjelaskan pola dasar training

- Peserta dapat menjelaskan pola pembinaan KOHATI - Peserta dapat menerapkan pola dasar training

- Peserta dapat memahami pola pembinaan dan teknik training KOHATI

- Pengertian pola dasar training dan pola pembinaan KOHATI - Hakikat dan tujuan training KOHATI

Ceramah, simulasi, FGD dan tanya jawab - Keaktifan dan kualitas tanggapan/sanggahan - Kemampun merevie materi dan presentasi - Test objketif dan penugasan

- Konstitusi HMI

- PDK (Pola Pembinaan KOHATI)

- Buku-buku yang relevan dengan materi pokok 4 Teknik Ice Breaking

Alokasi Waktu Standar Kompetensi Kompetensi Dasar

Indikator

3 x 45 menit

Memahami teknik ice breaking

- Peserta memahami hakikat dan tujuan ice breaking - Peserta memahami teknik ice breaking

- Peserta memahami pemilihan ice breaking yang sesuai dengan materi training

- Peserta dapat menjelaskan hakikat ice breaking

- Peserta dapat menjelaskan tujuan dan manfaat ice breaking - Peserta dapat menjelaskan teknik ice breaking

Pedoman Dasar KOHATI 2016-2018 | 84 Tujuan Pokok Bahasan Metode Penilaian Referensi

- Peserta dapat memilih dan menerapkan ice breaking yang sesuai dengan materi training

- Peserta dapat memahami maksud dan tujuan serta teknik ice breaking dalam training

- Pengertian ice breaking

- Tujuan dan manfaat ice breaking - Teknik ice breaking

- Jenis-jenis ice breaking

Ceramah, simulasi, FGD dan tanya jawab - Keaktifan dan kualitas tanggapan/sanggahan - Kemampun merevie materi dan presentasi - Test objektif dan penugasan

Buku-buku yang relevan dengan materi pokok 5 Simulasi penyampaian Kepemimpinan dan Manajemen Organisasi Alokasi Waktu Standar Kompetensi Kompetensi Dasar Indikator Tujuan Pokok Bahasan Metode 4 x 45 menit

Memahami Kepemimpinan dan Manajemen Organisasi (KMO) dan simulasi penyampaiannya

- Peserta memahami tentang karakteristik kepemimpinan - Peserta memahami manajemen organisasi

- Peserta memahami analisis SWOT dalam KMO - Peserta memahami simulasi penyampaian KMO - Peserta dapat menjelaskan karakteristik kepemimpinan - Peserta dapat menjelaskan manajemen organisasi - Peserta dapat menjelaskan analisis SWOT dalam KMO

- Peserta dapat melakukan/mempraktekkan simulasi penyampaian KMO

- Peserta dapat membuat matriks analisis SWOT dalam KMO Peserta dapat memahami karakteristik kepemimpinan dan manajemen organisasi dan dapat menerapkan analisis SWOT dalam KMO

- Pengertian dan Karakteristik Kepemimpinan - Pengertian manajemen dan organisasi - Analisis SWOT

- Teknik membuat matriks analisis SWOT dalam KMO Ceramah, simulasi, FGD/case study dan tanya jawab

Pedoman Dasar KOHATI 2016-2018 | 85

Penilaian

Referensi

- Keaktifan dan kualitas tanggapan/sanggahan - Kemampun merevie materi dan presentasi - Test objektif dan penugasan

Konstitusi HMI, buku-buku yang relevan dengan materi pokok 6 Teknik Fasilitasi Alokasi waktu Standar Kompetensi Kompetensi Dasar Indikator Tujuan Pokok Bahasan Metode Penilaian Referensi 3 x 45 menit

Memahami teknik fasilitasi dalam training

- Peserta dapat memahami teknik-teknik fasilitasi training

Dokumen terkait