• Tidak ada hasil yang ditemukan

A. PENDAHULUAN

Perempuan merupakan salah satu subjek kehidupan yang penting, maka dari itu diperlukan upaya-upaya untuk meningkatkan peran dan fungsi perempuan dalam berbagai aspek kehidupan guna terwujudnya suatu kondisi yang ideal menuju kemakmuran bangsa. Korps HMI–wati merupakan wadah perempuan HMI untuk berproses dan berkiprah, berupaya dengan segenap potensi dan asanya berjuang serta berikhtiar mewujudkan muslimah berkualitas insan cita seperti yang termaktub dalam Pedoman Dasar KOHATI. perannya paling utama adalah sebagai pencetak dan pembina muslimah sejati untuk menegakkan dan mengembangkan nilai-nilai ke-Islaman dan ke-Indonesiaan.

KOHATI dalam upaya memberikan kontribusi bagi kehidupan berbangsa dan bernegara sebagai pioneer penggerak kesetaraan gender dalam pandangan Islam terus melakukan berbagai macam upaya yang pada akhirnya terwujud dalam terbinanya muslimah berkualitas insan cita yang diridhoi Allah SWT. Karena sudah digariskan bahwa keberadaan Islam merupakan cahaya bagi semua makhluk ciptaan-Nya tanpa terkecuali, Al-Qur’an dan Al Hadits adalah solusi dari semua kebimbangan dan kerisauan bagi semua.

Perempuan memiliki andil peran besar dalam kehidupan bermasyarakat. Namun serignkali mengalami pro kontra dari banyak kalangan mengenai peran domestik dan publik membuat peran perempuan harus mampu menyeimbangkan antara peran publik dengan domestik, dan hal ini menjadi tantangan sekaligus beban bagi perempuan, semestinya tidak ada lagi diskriminasi terhadap perempuan. Islam pun memandang bahwa pada dasarnya perempuan mempunyai peran yang sama dengan laki-laki, sebagaimana dijelaskan dalam QS. Al-Hujurat ayat: 13 yang artinya “Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu adalah orang-orang yang paling taqwa”.

Dari ayat tersebut dapat dijelaskan bahwa antara laki-laki dan perempuan mempunyai kesempatan yang sama untuk menjadi insan kamil di hadapan Sang Pencipta. Sesuai dengan fungsinya, KOHATI merupakan pembawa misi HMI dalam menyentuh dan menyikapi persoalan perempuan dan anak. Namun bukan itu saja, perempuan harus bisa berperan aktif disegala bidang kehidupan masyarakat, baik dari bidang pendidikan, ekonomi, sosial, politik, teknologi, swadaya masyarakat agar misi pengabdian dapat terealisasi.

Sebagai organisasi mahasiswa, KOHATI harus memberikan pengaruh untuk mewujudkan muslimah yang berkualitas insane cita, tentunya hal itu dilakukan dengan memahami konteks persoalan perempuan Indonesia hari ini. Masalah yang begitu kompleks diperlukan

Pedoman Dasar KOHATI 2016-2018 | 48

upaya yang tekun dan terus menerus untuk melakukan usaha-usaha untuk mencari solusi atas permasalahan yang ada, berkaca dari kondisi perempuan Indonesia hari ini sebagaimana digambarkan :

1. Indonesia adalah Negara berkembang 237.556.363 juta terdiri dari 119.507.580 laki-laki dan 118.048.783 perempuan (BPS 2010)

2. Jumlah penduduk miskin 30.02 juta jiwa/31.02 % (BPS 2011) turun 0.84 % dari data 2010 31.02 juta jiwa/13.33 % (233.740 rb/7 ribuan/hari).

3. Upah pekerja perempuan lebih rendah dari laki-laki di hampir semua sektor kehidupan, dengan perbandingan 46 : 60 %.

4. Data BPS terakhir menunjukan 75.69 % perempuan Indonesia berumur 15 tahun ke atas hanya hanya berpendidikan tamat SMP dan 30.70 hanya berpendidikan tingkat SD, sementara angka partisipasi pendidikan perempuan juga sangat rendah, SMA (18.59%), diploma (2,7 %) dan universitas (3,02%).

5. Data Komnas Perempuan, dalam 1 hari ada 12buruh migrant perempuan tewas di negeri orang, 1600 perempuan di PHK, 20 perempuan dijual untuk komoditi seks dan tenaga kerja, 100 juta ibu-ibu berhutang Rp.30.00, 48 ibu meninggal melahirkan, 4 hari = 1 perempuan bunuh diri. 32 perempuan Indonesia miskin (70 %)

6. Perempuan Buta Aksara sebesar 12,28 %, sedangkan laki-laki 5,48 %. 7. 248 per 100.00 kelahiran perempuan meninggal karena melahirkan

8. Data kemenkes di tahun 2010 kasus HIV/AIDS 22.726 /55 % adalah perempuan.

9. Perempuan terkena kanker serviks lebih dari 500.000 orang dan sebesar 270.000 meninggal.

10. Kuota 30 % perempuan dalam politik tidak tercapai.

11. Jumlah pengusaha wanita Indonesia hanya 0,1 dari jumlah penduduk Indonesia.

Kondisi di atas tidak seharusnya terjadi, karena hari ini, atas nama perjuangan perempuan sebelumnya telah memiliki banyak hal, antara lain :

- Kebebasan yang luas dalam kesamaan untuk menuntut ilmu. - Kebebasan untuk menentukan langkah dalam mencapai cita-cita. - Bebas mengambil peran di masyarakat

- Bebas mengambil peran pembangunan di berbagai bidang. - Kebebasan akses terhadap terhadap fasilitas kesehatan

Pedoman Dasar KOHATI 2016-2018 | 49

Atas dasar kondisi diatas, maka peran KOHATI harus senantiasa diwujudkan dalam karya untuk menjadi solusi atas kondisi yang ada, sehingga di masa depan akan ada perempuan Indonesia yang cerdas dan mandiri serta jauh dari tindakan diskriminasi. KOHATI memiliki misi untuk bersinergi dengan misi HMI dalam mewujudkan masyarakat adil makmur yang di ridhoi Allah SWT.

Untuk merealisasikan misi tersebut, KOHATI harus mampu membangun jaringan dan bekerjasama dengan organisasi lain, baik Nasional maupun Internasional. Dengan demikian semua program yang direncanakan dapat terlaksana dengan baik. Oleh karena itu, perlu kiranya dibuat program kerja nasional yang diharapkan mempu menjawab permasalahan-permasalahan aktual yang terjadi di Masyarakat.

2. PERMASALAHAN

Permasalahan yang dihadapi dalam upaya pencapaian sasaran Program Kerja Nasional KOHATI adalah:

a. Internal Organisasi

1) Substansi perangkat-perangkat organisasi (AD/ART dan Pedoman Dasar KOHATI) tidak dipahami secara mendalam untuk dilaksanakan.

2) Kurangnya semangat pengabdian dan pengembangan HMI-Wati terhadap aktifitas KOHATI

3) Menurunnya pemaknaan insan akademis.

4) Kurangnya koordinasi, konsolidasi dan sosialisasi program kohati pada setiap tingkatan.

5) HMI dan KOHATI mulai kurang diminati oleh mahasiswa di perguruan tinggi, apalagi di perguruan tinggi Besar.

6) Tidak terwujud sinergitas yang baik antara KOHATI dengan organisasi induknya (HMI), sehingga menjadi sulit untuk aktualisasi aktivitas-aktivitas KOHATI karena sering tidak mendapat dukungan dari HMI.

7) Terjadinya perubahan orientasi kader dari semangat belajar dan mengabdi ke wilayah politis.

Pedoman Dasar KOHATI 2016-2018 | 50

b. Eksternal organisasi

1) Peran perempuan selalu menjadi persoalan diskriminasi dan disepelekan dalam aktivitas di berbagai aspek kehidupan.

2) Minimnya apresiasi terhadap kerja-kerja kaum perempuan di masyarakat

3) Pemberian makna yang kurang dengan pengabdian dan peran perempuan dalam kehidupan rumah tangga, keluarga, masyarakat dalam berbangsa dan bernegara. 4) Kurangnya sosialisasi dan publikasi yang optimal dan efektif di setiap instansi

maupun ranah publik.

3. FUNGSI PROGRAM KERJA NASIONAL

Program kerja Nasional KOHATI berfungsi sebagai berikut:

a. Sebagai pedoman dan rujukan dalam penyelenggaraan program KOHATI secara Nasional selama 1 (satu) periode kepengurusan. Yang dimaksudkan sebagai bagian dari upaya kita secara bersama-sama memberikan pembinaan dan arahan KOHATI dalam menjalankan tugas dan amanah yang diembannya agar tercipta sebuah sistem yang baik dan terarah untuk menunjang kader KOHATI yang berkualitas dengan kapasitas yang memang kemudian patut diperhitungkan.

b. Sebagai sarana memotivasi kader-kader KOHATI di seluruh Indonesia agar semakin aktif terlibat dalam setiap proses perkaderan, baik LKK, LK I, LK II, LK III atau pelatihan-pelatihan yang kiranya dapat menunjang kemajuan kualitas dari kader tersebut.

c. Program kerja Nasional KOHATI merupakan pedoman pokok dalam setiap tingkatan KOHATI guna menyusun dan menjalankan program kerja.

d. Fungsi koordinasi dan kontrol terhadap penjabaran PKN kepada setiap Cabang menjadi tanggung jawab KOHATI badko HMI.

4. SASARAN

Sasaran program kerja Nasional KOHATI PB HMI periode 2015-2017 pada dasarnya merupakan usaha pencapain tujuan HMI dalam jangka waktu tertentu dengan memperhatikan perkembangan kondisi obyektif intern dan ekstern. Adapun sasaran yang ingin dicapai adalah:

a. Meningkatkan pemahaman, pengabdian dan pengalaman nilai-nilai ajaran Islam dalam rangka membentuk kepribadian muslimah yang utuh.

b. Meningkatkan semangat pengabdian dan pengabdian dan pengorbanan dalam rangka mewujudkan cita-cita perjuangan HMI.

Pedoman Dasar KOHATI 2016-2018 | 51

d. Menanamkan semangat belajar dan mengabdi bagi kader

e. Meningkatkan semangat perjuangan dan perubahan terhadap persoalan keperempuanan.

5. PROGRAM KERJA NASIONAL a. Internal

Program Kerja Nasional (PKN) KOHATI dijabarkan dalam 2 (dua) bentuk, antara lain: 1) Mengadakan pembinaan terhadap karakter dan kepribadian para HMI-Wati,

peningkatan wawasan, pengetahuan dan keterampilan serta daya analisis kritis HMI-Wati terhadap berbagai perkembangan permasalahan khususnya keperempuanan. 2) Melakukan pendidikan dan pelatihan untuk meningkatkan kualitas sumber daya

perempuan.

3) Mengaktualisasikan potensi HMI-Wati dalam peningkatan kepedulian terhadap perkembangan dan permasalahan keperempuanan, kerakyatan dan kebangsaan. 4) Meningkatkan pemahaman KOHATI (khususnya ditingkatan Cabang) mengenai

peran, tugas, dan fungsinya dalam kehidupan bermasyarakat. 5) Tertib administrasi melalui pemanfaatan media.

6) Memaksimalkan peran koordinasi, konsolidasi dan sosialisasi di internal KOHATI. 7) Melakukan pemanfaatan media dan pengelolaan sumber daya untuk memudahkan

kerja-kerja organisasi.

8) Mengembalikan khittah perjuangan KOHATI dengan subjek utamanya adalah Mahasiswa.

b. Eksternal

1) Menjalin kerjasama dengan membangun jaringan informasi, kerja dan komunikasi dengan Organisasi Mahasiswa Dan Organisasi Perempuan di tingkat Nasional dan internasional dalam rangka pengembangan wawasan dan solidaritas kemanusiaan. 2) Menjaga dan memelihara komitmen sosial untuk tetap berusaha melakukan

perbaikan kondisi masyarakat sekitar.

3) Menjalin kerjasama dengan berbagai pihak guna peningkatan kualitas masyarakat berbangsa dan bernegara

4) Advokasi aktif terhadap kebijakan pemerintah yang diskriminatif terhadap perempuan

5) Melaksanakan program yang lebih aplikatif dan riil guna peningkatan kualitas bagi kader khususnya terkait dengan masalah kekerasan atau diskriminasi terhadap perempuan.

Pedoman Dasar KOHATI 2016-2018 | 52

7) Berupaya meningkatkan kreativitas kader dan masyarakat guna menunjang kemandirian kader dan masyarakat dalam bidang ekonomi.

8) Mewujudkan perempuan Indonesia yang cerdas dan mandiri. 9) Penguatan eksistensi KOHATI melalui media

10) Melindungi perempuan dan anak dari bahaya pembakaran lahan yang terjadi di Riau pada khususnya dan Indonesia pada umumnya dengan memberikan efek jera terhadap pelaku pembakaran dan pihak-pihak lainnya.

6. PETUNJUK PENJABARAN PKN

Disamping sebagai rujukan kader KOHATI ditingkatan Nasional, penjabaran Program Kerja Nasional (PKN) KOHATI juga harus mencerminkan sinergitas kesatuan yang utuh dengan Program Kerja Nasional (PKN) HMI dan ketentuan-ketentuan lain.

7. EVALUASI PELAKSANAAN

Untuk mengetahui realisasi program dan hasil-hasil yang telah dicapai, penyimpangan-penyimpangan, hambatan penetapan Program Kerja Nasional (PKN) selanjutnya diadakan evaluasi. Kemudian hasil evaluasi tersebut menjadi bahan informasi baru dalam pembuatan PKN selanjutnya sehingga PKN pada periode berikutnya dapat mengena terhadap sasaran yang diharapkan sesuai dengan kebutuhan kader yang ada.

8. PENUTUP

Demikian Program Kerja Nasional (PKN) KOHATI disusun sebagai pedoman atau rujukan penyelenggaraan pembinaan KOHATI ditingkatan Nasional secara menyeluruh. PKN KOHATI ini memberikan peluang bagi perbaikan lembaga kearah yang lebih baik sesuai dengan tujuan didirikannya KOHATI bagi semua.

Akhir kata, semoga keberadaan PKN ini menjadikan KOHATI lebih terarah dan bermakna keberadaannya bagi Negara dan bangsa yang diridhoi Allah SWT.

Pedoman Dasar KOHATI 2016-2018 | 53

REKOMENDASI

MUSYAWARAH NASIONAL KORPS HMI-WATI XXII

Dokumen terkait