PEDOMAN
DASAR KOHATI
Korps HMI-Wati
Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam
Periode 2016-2018
Pedoman Dasar KOHATI
Analisis Tujuan KOHATI
Tafir Status, Sifat, Fungsi dan Peran KOHATI
Tata Kerja KOHATI
Lambang dan Mars
KOHATI
Bagan Struktur KOHATI
Pola Perkaderan KOHATI
Platform Gerakan KOHATI
Landasan Gerakan KOHATI
Program Kerja Nasional
Rekomendasi MUNAS
KOHATI XXII
Kurikulum Perkaderan
KOHATI
Konsideran Musyawarah Nasional KOHATI Ke XXII
Pekanbaru, Riau Jalan Sultan Agung No 25A Manggarai, Jakarta Selatan
Phone: 0813 4709 9868 / 0812 8036 3985
Pedoman Dasar KOHATI 2016-2018 | 1
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI ... 1
PEDOMAN DASAR KOHATI ... 2
ANALISIS TUJUAN KOHATI ... 16
TAFSIR, STATUS KOHATI ... 18
TAFSIR SIFAT, FUNGSI DAN PERAN KOHATI ... 19
TATA KERJA KOHATI ... 21
PENJELASAN LAMBANG KOHATI ... 22
MARS KOHATI ... 23
BAGIAN STRUKTUR ... 25
POLA PERKADERAN KOHATI ... 26
PLATFORM GERAKAN KOHATI ... 32
LANDASAN GERAKAN KOHATI ... 35
PROGRAM KERJA NASIONAL ... 47
REKOMENDASI MUNAS KOHATI KE XXII HMI ... 53
KRITERIA FORMARUER/KETUM KOHATI PB HMI PERIODE 2013-2015 ... 54
KURIKULUM LATIHAN KHUSUS KOHATI ... 55
KURIKULUM MATERI KOHATI PADA LATIHAN KADER HMI ... 72
KURIKULUM TRAINING FOR TRAINER (TFT) ... 79
MANUAL JADWAL KURIKULUM TFT KOHATI HMI ... 88
KURIKULUM UPGRADING KOHATI ... 89
KURIKULUM LATIHAN PRA NIKAH ... 99
KURIKULUM KEWIRAUSAHAAN... 104
KURIKULUM LATIHAN SENSITIVE GENDER (LKSG) ... 110
Pedoman Dasar KOHATI 2016-2018 | 2
PEDOMAN DASAR KOHATI
MUKADIMAH
Sesungguhnya agama Islam adalah ajaran yang hak dan sempurna yang diridhoi oleh Allah SWT untuk mengatur kehidupan umat manusia sesuai fitrahnya sebagai khalifah di muka bumi niscaya kewajiban mengabdikan diri semata-mata kehadirat-Nya.
Di sisi Allah SWT, manusia baik laki-laki maupun perempuan mempunyai derajat yang sama, yang membedakan hanyalah ketakwaannya, yakni sejauhmana istiqamah mengimani dan mengamalkan ajaran-ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari.
“Perempuan adalah tiang negara, bila kaum perempuannya baik (berahlak karimah) maka negaranya baik dan bila perempuannya rusak (amoral) maka rusaklah negara itu (Sya’ir Arab)”.
Dalam rangka memaknai peran strategis tersebut, maka HMI-Wati dituntut untuk menguasai ilmu agama, IPTEK serta keterampilan yang tinggi dengan senantiasa menyadari fitrahnya.
Perempuan sebagai salah satu elemen masyarakat harus memainkan peran strategis dalam mewujudkan masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT. Sebagai salah satu strategi perjuangan dalam mewujudkan mission HMI, diperlukan sebuah wadah yang menghimpun segenap potensi dalam wacana keperempuanan. Dalam rangka mencapai tujuan tersebut, HMI membentuk Korps HMI-Wati (KOHATI) yang berpedoman pada Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga HMI.
Untuk menjabarkan operasionalisasi KOHATI tersebut dibuat Pedoman Dasar KOHATI sebagai berikut :
BAB I
KETENTUAN UMUM 1. Korps HMI-Wati selanjutnya disingkat KOHATI.
2. KOHATI PB HMI, selanjutnya disebut KOHATI PB adalah Kepengurusan KOHATI yang berada di tingkat PB HMI.
Pedoman Dasar KOHATI 2016-2018 | 3
3. KOHATI BADKO HMI, selanjutnya disebut KOHATI BADKO adalah kepengurusan KOHATI yang berada di tingkat HMI BADKO.
4. KOHATI HMI Cabang, selanjutnya disebut KOHATI Cabang adalah kepengurusan KOHATI yang berada di tingkat HMI Cabang .
5. KOHATI HMI KORKOM, selanjutnya disebut KOHATI KORKOM adalah kepengurusan KOHATI yang berada di tingkat HMI KORKOM.
6. KOHATI HMI Komisariat, selanjutnya disebut KOHATI Komisariat adalah kepengurusan KOHATI yang berada di tingkat HMI Komisariat.
7. Pedoman Dasar KOHATI, selanjutnya disingkat PDK adalah pedoman wajib yang menjadi sumber referensi operasional KOHATI yang tidak boleh bertentangan dengan AD dan ART HMI.
BAB II
NAMA, WAKTU DAN TEMPAT Pasal 1
Nama
KOHATI adalah singkatan dari Korps HMI-wati
Pasal 2
Waktu dan Tempat Kedudukan
KOHATI didirikan pada tanggal 2 Jumadil Akhir 1386 H bertepatan dengan tanggal 17 September 1966 M pada Konggres VIII di Solo, dan berkedudukan di tempat kedudukan HMI.
BAB III
TUJUAN, STATUS DAN SIFAT Pasal 3
Tujuan
Pedoman Dasar KOHATI 2016-2018 | 4
Pasal 4
Status 1. KOHATI merupakan salah satu badan khusus HMI.
2. Secara struktural, Pengurus KOHATI berstatus ex-officio pimpinan HMI, diwakili oleh Ketua Umum, Ketua Bidang, Sekretaris Umum dan Bendahara Umum.1
Pasal 5
Sifat
KOHATI bersifat semi-otonom
BAB IV
FUNGSI DAN PERAN Pasal 6
Fungsi
1. KOHATI berfungsi sebagai Bidang Pemberdayaan Perempuan.
2. KOHATI berfungsi sebagai organisasi mahasiswi.
Pasal 7
Peran
KOHATI berperan sebagai Pembina dan Pendidik HMI-Wati untuk menegakkan dan mengembangkan nilai-nilai ke-Islaman dan ke-Indonesiaan.
BAB V KEANGGOTAAN
Pasal 8
Anggota KOHATI adalah Mahasiswi yang telah lulus Latihan Kader I (LK I)
1
Di HMI Setingkat, Ketua umum menjadi Ketua Bidang Pemberdayaan Perempuan, Sekretaris Umum menjadi wakil sekretaris umum, bendahara umum menjadi wakil bendahara umum, dan ketua bidang menjadi departemen pemberdayaan perempuan.
Pedoman Dasar KOHATI 2016-2018 | 5
BAB VI
STRUKTUR ORGANISASI Pasal 9
Kepemimpinan
1. Kepemimpinan organisasi di pegang oleh KOHATI PB, KOHATI Cabang dan KOHATI Komisariat.
2. Untuk memudahkan tugas-tugas KOHATI PB, dibentuk KOHATI BADKO. 3. Untuk memudahkan tugas-tugas KOHATI Cabang di bentuk KOHATI KORKOM.
Pasal 10
Kekuasaan
1. Musyawarah KOHATI adalah instansi pengambilan keputusan tertinggi di KOHATI.
2. Musyawarah KOHATI merupakan forum laporan pertanggungjawaban pengurus, evaluasi dan proyeksi, perumusan Program Kerja KOHATI dan pemilihan serta penetapan Formatur/Ketua Umum dan dua (2) Mide Formatur.
a. Di tingkat Nasional diselenggarakan Musyawarah Nasional (MUNAS) KOHATI yang merupakan rangkaian dari Kongres HMI.
b. Di tingkat Daerah diselenggarakan Musyawarah Daerah (MUSDA) KOHATI BADKO yang merupakan rangkaian dari MUSDA HMI BADKO.
c. Di tingkat Cabang diselenggarakan Musyawarah KOHATI Cabang yang merupakan rangkaian dari Konferensi HMI Cabang.
d. Di tingkat KORKOM diselenggarakan Musyawarah KOHATI KORKOM yang merupakan rangkaian dari Musyawarah KORKOM.
e. Di tingkat Komisariat diselenggarakan Musyawarah KOHATI Komisariat yang merupakan rangkaian dari Rapat Anggota Komisariat.
Pedoman Dasar KOHATI 2016-2018 | 6
Pasal 11
Peserta Musyawarah 1. Peserta Musyawarah terdiri dari utusan dan peninjau.
a. Utusan adalah peserta musyawarah yang mempunyai hak suara dan hak bicara;
b. Peninjau adalah peserta musyawarah yang mempunyai hak bicara.
2. Peserta Munas KOHATI adalah :
a. Utusan, terdiri dari Pengurus KOHATI Cabang Penuh masing-masing 1 (satu) orang peserta
b. Peninjau, yang terdiri dari :
(1) Seluruh Pengurus KOHATI PB ;
(2) 2 (dua) orang Pengurus KOHATI Badko;
(3) 1 (satu) orang Pengurus KOHATI Cabang Penuh;
(4) 1 (satu) orang Pengurus KOHATI Cabang Persiapan;
(5) 1 (satu) orang bidang pemberdayaan Perempuan HMI Cabang.
3. Peserta MUSDA KOHATI adalah :
a. Utusan, terdiri dari Pengurus KOHATI Cabang Penuh masing-masing 1 (satu) orang peserta.
b. Peninjau, terdiri dari :
(1) Seluruh Pengurus KOHATI BADKO;
(2) 1 (satu) orang Pengurus KOHATI Cabang Penuh;
(3) 1 (satu) orang Pengurus KOHATI Cabang Persiapan;
Pedoman Dasar KOHATI 2016-2018 | 7
4. Peserta Musyawarah KOHATI Cabang terdiri dari :
a. Utusan, terdiri dari Pengurus KOHATI Komisariat Penuh masing-masing 1 (satu) orang peserta.
b. Peninjau, yang terdiri dari:
(1) Seluruh Pengurus KOHATI Cabang;
(2) 1 (satu) orang Pengurus KOHATI Komisariat Penuh;
(3) 1 (satu) orang Pengurus KOHATI Komisariat Persiapan;
(4) 1 (satu) orang bidang Pemberdayaan Perempuan KOHATI Komisariat.
c. Kohati Cabang yang tidak memiliki Kohati Komisariat dapat meminta utusan dari bidang pemberdayaan perempuan komisariat penuh masing-masing 1 (satu) peserta.
5. Peserta Musyawarah KOHATI KORKOM terdiri dari :
a. Utusan, terdiri dari Pengurus KOHATI Komisariat Penuh masing-masing 1 (satu) orang peserta.
b. Peninjau, terdiri dari :
(1) Seluruh Pengurus KOHATI KORKOM ;
(2) 1 (satu) orang Pengurus KOHATI Komisariat Penuh;
(3) 1 (satu) orang Pengurus KOHATI Komisariat Persiapan;
(4) 1 (satu) orang bidang Pemberdayaan Perempuan KOHATI Komisariat.
6. Peserta Musyawarah KOHATI Komisariat seluruh anggota Kohati komisariat.
Pasal 12
Prosedur Pengambilan Keputusan
1. Setiap keputusan KOHATI dilakukan secara musyawarah mufakat, apabila tidak tercapai hasil mufakat maka akan dilakukan voting.
2. Yang dimaksud dengan tingkatan pengambilan keputusan secara berjenjang terdiri atas: Musyawarah KOHATI, Rapat Pleno, Rapat Presidium dan Rapat Harian.
Pedoman Dasar KOHATI 2016-2018 | 8 3. Penyusunan rencana kerja operasional diputuskan dalam Rapat Bidang dan Rapat Kerja.
Pasal 13
Penetapan Ketua Umum KOHATI
1. Penetapan Ketua Umum KOHATI dilaksanakan dalam Musyawarah KOHATI.
2. Bila Ketua Umum KOHATI tidak dapat menjalankan tugasnya dan/atau melakukan pelanggaran terhadap aturan-aturan organisasi, maka dapat dipilih Pejabat Ketua Umum dalam Rapat Pleno KOHATI.
Pasal 14
Personalia Pengurus KOHATI
1. Formatur/Ketua Umum menyusun struktur kepengurusan KOHATI dan dibantu oleh 2 (dua) orang Mide Formatur.
2. Formasi Pengurus KOHATI PB, KOHATI BADKO, KOHATI Cabang, KOHATI KORKOM dan KOHATI Komisariat terdiri dari Ketua Umum, Ketua Bidang, Sekretaris Umum, Wakil Sekretaris Umum, Bendahara Umum, Wakil Bendahara Umum, dan Departemen-Departemen.
3. Formasi Pengurus KOHATI sekurang-kurangnya terdiri dari Ketua, Sekretaris dan Bendahara.
4. Struktur Pengurus KOHATI terdiri ;
a. KOHATI PB, yang memiliki garis instruksi dan garis koordinasi terhadap seluruh tingkatan KOHATI di bawahnya.
b. KOHATI BADKO, yang memiliki garis koordinasi ke KOHATI PB dan seluruh tingkatan KOHATI di bawahnya.
c. KOHATI Cabang, yang memiliki garis instruksi terhadap seluruh KOHATI Komisariat dan garis koordinasi ke KOHATI BADKO dan KOHATI PB.
d. KOHATI KORKOM memiliki garis koordinasi terhadap KOHATI Komisariat dan KOHATI Cabang.
Pedoman Dasar KOHATI 2016-2018 | 9
e. KOHATI Komisariat memiliki garis intruksi terhadap seluruh anggota HMI-Wati di Komisariat dan garis koordinasi kepada KOHATI Cabang.
Pasal 15
Kriteria Pengurus2
1. Yang dapat menjadi Ketua Umum/ Pengurus KOHATI PB adalah HMI-Wati yang pernah menjadi Pengurus KOHATI Cabang dan/atau Pengurus KOHATI BADKO/KOHATI PB, berprestasi dan telah lulus LKK dan LK III (Pasal 45,46, dan 47 ART HMI)
2. Yang dapat menjadi Ketua Umum/ Pengurus KOHATI BADKO adalah HMI-Wati yang pernah menjadi Pengurus KOHATI Komisariat, Pengurus KOHATI Cabang dan/atau KOHATI BADKO, berprestasi dan telah lulus LKK dan LK III.
3. Yang dapat menjadi Ketua Umum KOHATI/Pengurus KOHATI Cabang adalah HMI-Wati yang pernah menjadi pengurus KOHATI Komisariat/Bidang Pemberdayaan Perempuan HMI Komisariat, KOHATI Korokom dan/atau KOHATI Cabang, berprestasi dan telah lulus LKK dan LK II.
4. Yang dapat menjadi Ketua Umum/Pengurus KOHATI KORKOM adalah HMI-Wati yang pernah menjadi pengurus KOHATI Komisariat/bidang pemberdayaan perempuan, KOHATI KORKOM, berprestasi dan telah lulus LK I dan atau LKK.
5. Yang dapat menjadi Ketua Umum/Pengurus KOHATI Komisariat adalah HMI-Wati yang pernah menjadi pengurus KOHATI Komisariat, berprestasi dan telah lulus LK I dan LKK.
2
Calon Ketua Umum Kohati dan Pengurus Kohati adalah HMI-Wati yang sudah melewati proses dan jenjang perkaderan, dan pernah menjadi pengurus Kohati sebelumnya, Kecuali bagi Kohati Komisariat.
Jika para calon Ketua Umum Kohati Komisariat/Kohati Korkom tidak ada yang lulus LKK, maka yang bersangkutan wajib mengikuti LKK maksimal 3 (tiga) bulan setelah terpilih menjadi formateur.
Jika para calon ketua Umum Kohati Cabang tidak ada yang lulus LK II dan LKK, aka yang bersangkutan diwajibkan mengikuti LK II dan LKK maksimal 3 (tiga) bulan setelah terpilih menjadi formateur.
Jika para calon ketua umum Kohati Badko tidak ada yang lulus LK III, maka yang bersangkutan diwajibkan mengikuti LK III maksimal 3 (tiga) bulan setelah terpilih menjadi formateur.
Jika ppengurus Kohati mulai tingkat Komisriat s/d Pengurus Besar ada yang belum menyelesakan jenjang training seuai pasal 15 PDK, maka yang bersangkutan diwajibkan menyelesaikan jenjang training maksimal 3 (tiga) bulan setelah dilantik.
Pedoman Dasar KOHATI 2016-2018 | 10
Pasal 16
Pengesahan dan Pelantikan Pengurus KOHATI
1. Di tingkat PB HMI, KOHATI PB disahkan dan dilantik oleh Ketua Umum PB HMI.
2. Di tingkat BADKO HMI, KOHATI BADKO disahkan dan dilantik oleh Ketua Umum BADKO HMI.
3. Di tingkat HMI Cabang, KOHATI Cabang disahkan dan dilantik oleh Ketua Umum HMI Cabang.
4. Di tingkat KOHATI KORKOM , KOHATI KORKOM disahkan dan dilantik oleh Ketua Umum HMI KORKOM.
5. Di tingkat KOHATI Komisariat disahkan dan dilantik oleh Ketua Umum HMI Komisariat.
BAB VII
WEWENANG DAN TANGGUNG JAWAB Pasal 17
KOHATI PB
1. KOHATI PB adalah penanggung jawab masalah KOHATI di tingkat Nasional.
2. KOHATI PB bertanggung jawab dalam Musyawarah Nasional KOHATI dan menyampaikan laporan kerja kepada Kongres HMI.
3. KOHATI PB berkewajiban memberikan laporan kerja dan tanggapan kepada Kohati Badko dan Kohati Cabang.
Pasal 18
KOHATI BADKO
1. KOHATI BADKO adalah perpanjangan tangan Kohati PB ditingkatan regional yang bertugas mengkoordinir kegiatan-kegiatan Kohati di wilayah koordinasinya.
2. KOHATI BADKO bertanggung jawab dalam Musyawarah daerah Kohati Badko dan menyampaikan laporan kepada Musyawarah Daerah Badko serta wajib menyampaikan tembusan laporan kepada Kohati PB.
Pedoman Dasar KOHATI 2016-2018 | 11
3. KOHATI BADKO berkewajiban memberikan hasil Musyawarah Kohati Badko dan struktur kepengurusan Kohati Badko kepada BadkoHMI dengan tembusan PB HMI dan Kohati PB.
4. KOHATI BADKO berkewajiban memberikan laporan kerja dan tanggapan kepada Kohati Cabang dalam forum Pleno Kohati Badko.
5. Apabila Kohati Badko tidak menyampaikan laporan kerja sebagaimana dimaksud pada ayat 3 (tiga) maka Kohati PB dapat memberikan teguran.
Pasal 19
KOHATI CABANG
1. KOHATI Cabang adalah penanggung jawab Kohati ditingkat HMI Cabang setingkat.
2. KOHATI Cabang bertanggung jawab dalam Musyawarah Kohati Cabang dan memberikan laporan kerja kepada Konferensi HMI Cabang.
3. KOHATI Cabang berkewajiban memberikan hasil Musyaarah Kohati Cabang dan struktur kepengurusan Kohati Cabang kepada HMI Cabang dengan tembusan PB HMI, Kohati PB dan Kohati Badko.
4. KOHATI Cabang berkewajiban menyampaikan laporan kerja secara tertulis minimal 6 (enam) bulan sekali kepada Kohati Badko melalui forum pleno dengan tembusan Kohati PB.
5. KOHATI Cabang berkewajiban menyampaikan laporan kerja dan tanggapan kepada Kohati Komisariat/bidang Pemberdayaan Perempuan dalam forum Pleno.
6. Apabila Kohati Cabang tidak memberikan laporan kerja sebagaimana dimaksud pada ayat 5 (lima) maka Kohati PB dapat memberikan teguran.
7. KOHATI Cabang wajib memberikan tanggapan terhadap laporan kerja kepada KOHATI BADKO.
8. KOHATI Cabang wajib menyampaikan laporan dan informasi kerja secara tertulis minimal 6 bulan sekali kepada KOHATI PB dengan tembusan kepada KOHATI BADKO.
Pedoman Dasar KOHATI 2016-2018 | 12
9. Dalam hal KOHATI Cabang tidak menyampaikan laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (5) KOHATI PB dapat memberikan teguran.
Pasal 20
KOHATI KORKOM
1. KOHATI KORKOM adalah perpanjangan tangan Kohati Cabang di HMI Korkom setingkat yang bertugas mengkoordinir kegiatan-kegiatan Kohati Komisariat di wilayah koordinasinya.
2. KOHATI KORKOM bertanggung jawab dalam Musyawarah Kohati Korkom dan memberikan laporan kerja kepada Musayawarah Korkom.
3. KOHATI KORKOM berkewajiban memberikan hasil Musyawarah Kohati Korkom dan struktur kepengurusan Kohati Korkom kepada HMI Korkom dengan tembusan HMI Cabang dan Kohati Cabang.
4. KOHATI KORKOM berkewajiban menyampaikan laporan kerja secara tertulis minimal 6 (enam) bulan sekali kepada Kohati Cabang melalui forum pleno.
5. Apabila Kohati Korkom tidak menyampaikan laporan kerja sebagaimana dimaksud pada ayat 4 (empat) maka Kohati Cabang dapat memberikan teguran.
Pasal 21
KOHATI KOMISARIAT
1. KOHATI Komisariat adalah penanggung jawab Kohati di HMI Komisariat setingkat.
2. KOHATI Komisariat bertanggung jawab dalam Musyawarah Kohati Komisariat dan menyampaikan laporan kerja kepada Rapat Anggota Komisariat.
3. Kohati Komisariat berkewajiban memberikan hasil musyawarah Kohati komisariat dan struktur kepengurusan Kohati Komisariat kepada HMI Komisariat dengan tembusan HMI Cabang dan Kohati Cabang.
Pedoman Dasar KOHATI 2016-2018 | 13
4. Kohati Komisariat berkewajiban menyampaikan laporan kerja secra tertulis minimal 6 (enam) bulan sekali kepada anggota komisariat dengan tembusan Kohati Korkom dan Kohati Cabang.
5. Apabila Kohati Komisariat tidak Menyampaikan laporan kerja sebagaimana dimaksud pada ayat 4 (empat) maka Kohati Cabang dapat memberikan teguran.
BAB VIII
ADMINISTRASI DAN KESEKRETARIATAN Pasal 22
Pedoman Administrasi dan Surat Menyurat KOHATI
1. Administrasi dan surat menyurat KOHATI disesuaikan dengan Pedoman Administrasi dan Kesekretariatan yang berlaku di HMI.
2. Untuk surat intern (dalam) dengan kode : Nomor surat/A/Sek/KHI/Bulan Hijriah/Tahun Hijriah
3. Untuk surat ekstern (keluar) dengan kode : Nomor surat/B/Sek/KHI/Bulan Hijriah/Tahun Hijriah.
4. Khusus surat keluar instansi HMI ditandatangani oleh Ketua Umum dan Sekretaris Umum KOHATI atau Ketua Umum dan Wakil Sekretaris Umum atau Ketua Bidang dan Sekretaris Umum.
Pasal 23
Atribut KOHATI
1. Yang termasuk dalam atribut KOHATI adalah Mars, Badge, Gordon, dan Stempel.
2. Stempel KOHATI menggunakan lambang HMI dan hanya digunakan pada surat menyurat KOHATI.
3. Mars KOHATI dinyanyikan di acara-acara Formal dan Non Formal KOHATI
Pedoman Dasar KOHATI 2016-2018 | 14
BAB IX KEUANGAN
Pasal 24
Keuangan
1. Sumber dana KOHATI diperoleh dari dana yang halal dan tidak mengikat.
2. Akuntabilitas dan Transparansi keuangan wajib disesuaikan dengan Pedoman Keuangan dan Harta Benda yang berlaku di HMI.
BAB X
PEMBENTUKAN, PEMBEKUAN DAN PEMBUBARAN KOHATI Pasal 25
Pembentukan KOHATI
1. Pembentukan KOHATI di tingkat PB HMI, BADKO HMI, HMI Cabang, KORKOM HMI dan HMI Komisariat diputuskan pada forum pengambilan keputusan tertinggi HMI setingkat.
2. Status KOHATI HMI disesuaikan dengan status HMI setingkat.
3. Pembentukan KOHATI Komisariat dilakukan minimal memiliki 10 orang HMI-Wati.
Pasal 26
Pembekuan KOHATI
1. Yang dimaksud dengan pembekuan KOHATI adalah penghentian kegiatan KOHATI pada tingkatan tertentu di HMI.
2. KOHATI dapat dibekukan oleh HMI apabila tidak menyelenggarakan kegiatan-kegiatannya.
3. KOHATI Cabang dapat dibekukan oleh HMI Cabang setingkat apabila tidak menyelenggarakan LKK dua tahun berturut-turut.
4. Apabila KOHATI dibekukan, maka untuk mengisi masalah keperempuanan dapat dikembalikan fungsinya kepada bidang Pemberdayaan Perempuan di HMI setingkat.
Pedoman Dasar KOHATI 2016-2018 | 15
5. Pembekuan KOHATI BADKO dan KOHATI Cabang diputuskan pada putusan tertinggi HMI setingkat.
Pasal 27
Pembubaran KOHATI
Pembubaran KOHATI secara nasional hanya dapat dilakukan dalam Kongres HMI atas usulan Munas KOHATI.
BAB XI
KETENTUAN TAMBAHAN Pasal 28
1. Bagan struktur kepengurusan organisasi, administrasi dan surat menyurat Kohati dijelaskan tersendiri dalam lampiran yang merupakan bagian tidak terpisah dalam PDK.
2. Penjabaran analisis tujuan, status, sifat, fungsi dan peran KOHATI dirumuskan tersendiri yang merupakan lampiran bagian yang tidak terpisah dalam PDK ini.
3. PDK hanya dapat dirubah melalui forum Musyawarah Nasional Kohati.
4. Hal-hal yang belum di atur dan belum jelas akan di atur dalam aturan tambahan yang tidak terpisah dalam PDK.
Pedoman Dasar KOHATI 2016-2018 | 16
Lampiran 1
ANALISIS TUJUAN KOHATI
Pembentukan KOHATI dilandaskan pada kebutuhan pengembangan misi HMI secara luas dan kebutuhan adanya pembinaan HMI-wati yang lebih intens. Awal berdirinya kohati merumuskan tujuan yaitu meningkatkan kualitas dan peranan HMI-wati. Oleh karena itu, kualitas dan peranan HMI-Wati perlu didorong dan ditingkatkan. Seiring perkembangan zaman, tujuan Kohati mengalami perubahan yaitu “Terbinanya Muslimah Berkualitas Insan Cita” berdasarkan rumusan tujuan tersebut, Kohati memposisikan dirinya sebagai bagian integral dalam mencapai tujuan HMI (5 kualitas insan cita), yang berspesialisasi pada pembinaan HMI-wati untuk menjadi muslimah berkualitas insan cita.
Eksistensi Kohati menjadi sangat penting, karena merupakan“laboratorium hidup” yang mewujudkan HMI-wati berkualitas untuk menghadapi masa depan cemerlang. HMI-wati dituntut untuk memiliki kualitas sebagai seorang putri bagi kedua orang tuanya, istri bagi suaminya, ibu bagi anaknya kelak serta kualitas terbaik sebagai anggota masyarakat.
proses pembinaan di Kohati diarahkan untuk meningkatkan kualitas dan peranannya sebagai bagian integral HMI. Aktivitas HMI-wati tidak saja di Kohati dan HMI, tetapi juga dalam dunia mahasiswa, masyarakat luas terutama dalam merespon dan mengantisipasi masalah keperempuanan dan anak. Dengan demikian, maka jelas bahwa tugas Kohati adalah melakukan akselerasi pencapaian tujuan HMI.
Dalam menjalankan peranannya dengan baik, Kohati harus membekali HMI-Wati dengan meningkatkan kualitas dan peranannya, sehingga memiliki watak dan kepribadian yang teguh, kemampuan intelektual, kemampuan profesional dan mandiri.
Suatu organisasi harus memiliki tujuan yang jelas, sehingga setiap usaha dan aktifitas yang dilakukan organisasi dapat dilaksanakan dengan teratur dan terarah.
Tujuan organisasi kohati dipengaruhi oleh motivasi dasar berdiri, status dan fungsinya dalam totalitas di manapun berada. Dalam totalitas perkaderan HMI, Kohati merupakan bagian integral yang tidak dapat dipisahkan dalam mencapai tujuan HMI yaitu terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi, yang bernafaskan islam dan bertanggungjawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT.
Pedoman Dasar KOHATI 2016-2018 | 17
SKEMA ANALISIS TUJUAN KOHATI Analisa Tujuan Kohati
Analisa
Bagan analisa tujuan Kohati diatas bertujuan untuk menggambarkan hubungan tujuan Kohati dan HMI secara menyeluruh, sehingga setiap perangkat organisasi dapat menjalankan aktifitas dan mengembangkan kreatifitas HMI-Wati secara terarah dan berkesinambungan.
Peranan
HMI sebagai organisasi mahasiswa dan organisasi kader, melakukan Kegiatan pembinaan anggotanya melalui upaya secara terus menerus dan terarah dengan tujuan terciptanya kader sebagai insan akademis, pencipta dan pengabdi yang bernafaskan Islam, serta bertanggung jawab dalam melaksanakan peranannya di masyarakat.
Dari bagan di atas dapat terbaca bahwa peran Kohati diarahkan pada pembinaan dan peningkatan kualitas baik akhlak, intelektual, keterampilan, kepemimpinan, keorganisasian, persiapan keluarga yang sejahtera, serta beberapa kualitas lain yang menjadi kebutuhan. Atas dasar itu, Di lingkup kegiatan HMI dan lingkup kehidupan bermasyarakat peranan Kohati diarahkan untuk mempersiapkan HMI-Wati agar mampu berperan secara optimal, baik dalam peran sebagai puteri, istri, ibu dan anggota masyarakat yang bertanggung jawab dalam memperjuangkan nilai-nilai ke-Islaman, ke-Indonesiaan, keperempuanan dan anak.
(1) PUTRI
Kualitas, dan Peranan HMI
WATI (2) ISTRI (3) IBU (4) ANGGOTA MASYARA-KAT
dalam perjuangan untuk mencapai tujuan HMI pada umumnya dan bidang keperempuana n khususnya Insan akademis, pencipta dan pengabdi yang berna-faskan Islam masyarakat adil makmur yang diredhoi Allah swt. Agama Keperempuanan Pembinaan keluarga bahagia Kesehatan Pendidikan human relation organisasi Meningkatkan
Pedoman Dasar KOHATI 2016-2018 | 18
Lampiran 2
TAFSIR, STATUS KOHATI
Status adalah sekumpulan hak dan kewajiban yang dimiliki seseorang atau institusi dalam melakukan hak-hak dan kewajiban sesuai dengan kedudukannya. Dalam organisasi status merupakan pengakuan dan petunjuk terhadap eksistensi lembaga juga petunjuk dimana sebuah organisasi berspesialisasi. Lahirnya sebuah status didasarkan pada kebutuhan pengembangan organisasi dan mempermudah pencapaian tujuan organisasi.
Status Kohati adalah Badan Khusus HMI yang berspesialisasi membina HMI-Wati untuk meningkatkan kualitas dan peranan Kohati dalam usaha mencapai tujuan HMI pada umumnya dan Bidang Keperempuanan pada khususnya.
Perkembangan Permasalahan keperempuanan di masyarakat perlu di respon HMI melalui Kohati.dalam hal ini, Kohati memposisikan diri sebagai ujung tombak untuk mengantisipasi dan mempelopori terjawabnya persoalan-persoalan keperempuanan dan anak.
Secara internal, Kohati melakukan pembinaan Kohati melalui aktivitas maupun pelatihan. Pembinaan tersebut tentunya tidak terlepas dari rangkaian aktivitas perkaderan HMI. Adapun bentuk aktivitas dan pelatihan tersebut dijelaskan tersendiri dalam pedoman pembinaan Kohati.
Dalam struktur kepengurusan HMI, Kohati berstatus Ex-officio, yang berarti Kohati juga menjabat dalam struktur kepengurusan HMI setingkat, yang di wakili oleh Ketua Umum, Sekretaris Umum, Bendahara Umum, dan Ketua Bidang. Masing-masing jabatan tersebut menempati posisi Ketua Bidang, Wakil Sekretaris, Wakil Bendahara dan Departemen. Jabatan ex-officio diharapkan dapat mendukung kegiatan Kohati dalam forum pengambilan keputusan di HMI.
Secara eksternal, setiap aktivitas dan gerakan kohati senantiasa membawa misi HMI dalam merespon persoalan keperempuanan dan anak serta mengawal kebijakan dan agenda yang pro perempuan dan anak. Untuk merespon persoalan dan mengawal kebijakan tersebut, kohati bekerjasama dan berjejaring dengan organisasi mahasiswa,organisasi perempuan dan elemen lainnya
Pedoman Dasar KOHATI 2016-2018 | 19
Lampiran 3
TAFSIR SIFAT, FUNGSI DAN PERAN KOHATI Sifat
Semi otonom merupakan sifat dari kohati, yang berarti bahwa kohati memiliki spesifikasi khusus dalam aktifitas dan kegiatannya. Di internal HMI, Kohati merupakan sebuah bidang pemberdayaan perempuan yang memiliki hak dan kewajiban serta posisinya sama dengan bidang-bidang lain di HMI. Kohati sebagai bidang mempunyai kebijakan dan forum pengambilan keputusan tersendiri yang diatur oleh pedoman dasar kohati yang merupakan penjabaran dari konstitusi HMI. Sedangkan di eksternal HMI, Kohati adalah suatu organisasi mahasiswi yang memiliki atribut organisasi yang digunakan dalam melaksanakan aktivitas di luar hmi untuk memperjuangkan misi HMI.
Peran
Peran adalah suatu sikap atau perilaku yang diharapkan oleh banyak orang atau sekelompok orang terhadap seseorang atau institusi yang memiliki aspek dinamis dari status atau kedudukan tertentu.
Kohati sebagai institusi memiliki peran sebagai Pembina dan Pendidik HMI-Wati untuk menegakkan dan mengembangkan nilai-nilai ke-Islaman dan ke-Indonesiaan. Maka Kohati mempunyai tugas dan tanggung jawab sebagai wadah peningkatan dan pengembangan potensi HMI-wati di semua bidang untuk akselerasi tercapainya tujuan HMI.
Fungsi
Fungsi adalah suatu aspek khusus dari suatu tugas tertentu yang tergolong pada jenis yang sama berdasarkan sifat, pelaksanaan atau pertimbangan yang lainnya.
Kohati sebagai badan khusus HMI secara internal berfungsi sebagai Bidang Pemberdayaan Perempuan. Sedangkan secara eksternal Kohati berfungsi sebagai organisasi mahasiswi. Adapun Operasionalisasi fungsi kohati diwujudkan melalui dua aspek kinerja, yakni:
a. Internal
Dalam hal ini Kohati menjadi wadah pendidikan dan pelatihan bagi para HMI-Wati untuk membina, mengembangkan dan meningkatkan potensi serta perannya dalam berbagai bidang khususnya keperempuanan dan anak melalui pendidikan, pelatihan dan aktivitas-aktivitas lain dalam kepengurusan HMI.
Pedoman Dasar KOHATI 2016-2018 | 20
b. Eksternal
Dalam hal ini Kohati merupakan pembawa misi HMI di setiap forum-forum keperempuanan dengan tujuan memperluas keberadaan HMI di semua aspek dan level kehidupan. Secara khusus keterlibatan HMI-Wati pada wilayah eksternal merupakan pengembangan dari kualitas pengabdian masyarakat yang dimilikinya.
Dengan kata lain fungsi Kohati adalah wadah aktualisasi dan pemacu seluruh potensi-potensi HMI-Wati serta mendorong HMI-Wati untuk berinteraksi secara optimal dalam setiap aktivitas HMI, juga menjadikan ruang gerak HMI dalam masyarakat menjadi lebih luas.
Pedoman Dasar KOHATI 2016-2018 | 21
Lampiran 4
TATA KERJA KOHATI Pengurus KOHATI menjalankan tugasnya sebagai berikut :
1. Ketua Umum adalah penanggungjawab dan koordinator umum dalam menjalankan tugas-tugas intern dan ekstern organisasi yang bersifat umum.
2. Sekretaris Umum adalah penanggungjawab dan koordinator kegiatan dalam bidang administrasi dan kesekertariatan, data dan pustaka, serta hubungan dengan pihak eksternal.
3. Wakil Sekretaris Umum adalah bertugas atas nama sekretaris umum untuk kegiatan bidang dan membantu ketua bidang.
4. Bendahara Umum adalah penanggungjawab dan koordinator kegiatan di bidang keuangan dan perlengkapan organisasi.
5. Wakil Bendahara Umum bertugas atas nama Bendahara Umum dalam pengadaan peralatan administrasi, keuangan dan perlengkapan organisasi.
6. Bidang Pendidikan dan Latihan bertugas sebagai koordinator operasional program kerja di bidang pendidikan dan pelatihan. (tingkat Kohati PB).3
7. Bidang Pengelolaan Sumber Daya Organisasi bertugas sebagai koordinator operasional program kerja di bidang pengembangan sumber daya organisasi.(tingkat Kohati PB).
8. Bidang Hubungan Antar Lembaga bertugas sebagai koordinator operasional program kerja di bidang hubungan antar lembaga. (tingkat Kohati PB).
9. Bidang Kajian dan Advokasi; Kemahasiswaan dan Keperempuan bertugas sebagai koordinator operasional program kerja di bidang kajian keperempuanan (tingkat Kohati PB).
10. Di tingkat Kohati Badko s/d Kohati Komisariat terdapat 2 (dua) bidang yaitu Bidang Internal dan Bidang Eksternal.4
11. Departemen-Departemen:
a. Departemen Pendidikan dan Latihan
b. Departemen Pengembangan Sumber Daya Organisasi. c. Departemen Hubungan Antar Lembaga
d. Departemen Kajian dan Advokasi
e. Departemen Administrasi dan Keskretariatan f. Departemen Sumber Dana dan Logistik
3
Di tingkat Kohati PB terdapat 4 (empat) Bidang mengingat ruang lingkup kerjanya yang luas, sedangkan di tingkat Kohati Badko s/d Kohati Komisariat hanya terdapat 2 (dua) bidang.
4
Untuk departemen di HMI setingkat termaktub dalam 2 (dua) bidang sebagai berikut :
Dept. Pendidikan dan pelatihan keperempuanan (Pendidikan dan latihan, pengelolaan sumber daya organisasi)
Dept. Hubungan Antar Lembaga (Hubungan Antar Lembaga, Kajian kemahasiswaan dan perempuan). Bagan struktur terlampir
Pedoman Dasar KOHATI 2016-2018 | 22
PENJELASAN LAMBANG KOHATI Bentuk dan lambang KOHATI sebagai berikut :
B A
C D E
F
Makna lambang Kohati
A. Bulan bintang, warna hijau, warna hitam, keseimbangan warna hijau dan hitam, warna putih, puncak tiga. Maknanya sebagaimana yang tercantum dalam lambang HMI
B. Melati berarti lambang kasih sayang yang suci dan tulus. C. Penyangga berarti lambang perempuan sebagai tiang Negara. D. Tiga kelopak bunga berarti lambang tri darma perguruan tinggi. E. Buku terbuka berarti lambang Al-Quran sebagai dasar utama. F. Tulisan KOHATI berarti singkatan Korps HMI-Wati.
Penggunaan Lambang
A. Lambang Kohati digunakan untuk badge/lencana Kohati yang pemakaiannya di baju dengan perbandingan 2:3.
B. Badge Kohati digunakan pada acara-acara seremonial Kohati dan acara resmi organisasi di luar Kohati.
C. Lambang Kohati tidak dipergunakan sebagai lambang pada bendera, kop surat dan stempel Kohati.
Pedoman Dasar KOHATI 2016-2018 | 23
MARS KOHATI MARS KOHATI
M. Syafei ATM Lirik: Ida Ismail P.Rahardjo _ _ _ 5 5 ___ ___ 1 1 1 2 1 2 ___ 3 . 1 1 2 ___ ___ 3 3 4 3 2 1 ___ 2 . . 5 5
Wahai H M I - wa – ti semu - a Sadar - lah kewa ji - ban mul -ya Pembi-
___ ___ 2 2 2 3 2 3 ___ 4 . 2 3 4 5 5 4 4 ___ 5 . . 5 5
na pendidik tu - nas mu - da Tiang ne – ga - ra ja - ya Himpun-
___ ___ 1 1 1 2 1 2 ___ 3 . 1 1 2 ___ ___ 3 3 4 3 2 1 ___ 2 . . 5 5
kan keku - a – tan se – ge - ra Ji - wa - i semangat pahla -wan Tuntut
___ ___ 2 2 2 3 2 3 ___ 4 . 2 5 4 3 3 4 2 ___ 1 . . 7 1
il – mu serta a - mal - kan Untuk ke - ma - nu - sia - an Ja
___ 2 . 5 1 2 ___ 3 . 1 2 3 4 3 2 6 ___ 5 . . 6 7
ya - lah Ko - ha - ti pe – ngawal pan - ji Is - lam Derap-
1 . 7 6 5 4 3 , 6 5 4 3 ___ 2 . . 5 5
kan lang - kah per- juang – an Ku - at – kan I - man Maju-
___ ___ 3 . 1 3 3 4 ___ 6 . . 6 6
Pedoman Dasar KOHATI 2016-2018 | 24
1 1 1 2 1 2
. 5
lah tabah H - M – I - wa - ti Ha - ra - pan bang – sa Membi-
2 1 7 6 5 3 1 . 6 6 7 5 1 . 0
Pedoman Dasar KOHATI 2016-2018 | 25 BAGAN STRUKTUR BENDAHARA UMUM SEKRETARIS UMUM KETUA BIDANG INTERNAL KETUA BIDANG EKSTERNAL WAKIL BENDAHARA UMUM WAKIL SEKRETARIS UMUM INTERNAL WAKIL SEKRETARIS UMUM EKSTERNAL WAKIL KETUA BIDANG INTERNAL WAKIL KETUA BIDANG EKSTERNAL DEPARTEMEN: Administrasi dan Kesekretariatan DEPARTEMEN: Pendidikan dan Latihan DEPARTEMEN Hubungan Antar Lembaga DEPARTEMEN Kajian dan Advokasi DEPARTEMEN: Sumber Dana dan Logistik DEPARTEMEN: Pengembangan Sumber Daya Organisasi KETUA UMUM
Pedoman Dasar KOHATI 2016-2018 | 26
Pedoman Surat Menyurat Kohati disesuaikan dengan Pedoman Administrasi dan Keekretariatan yang beraku di HMI.
POLA PERKADERAN KOHATI
A. Pendahuluan
Muslimah berkualitas insan cita merupakan tujuan organisasi kohati yang harus di tanamkan dalam setiap sanubari kader HMI-Wati. muslimah bukanlah sekedar perspektif dari orang yang beriman dan bertaqwa melaksanakan segala perintah-Nya serta menjauhi segala larangan-Nya akan tetapi juga dilatih untuk selalu bersabar dan ridho terhadap ujian dalam dunia fana. Sebagai salah satu ciri khas perempuan muslimah adalah identitas menutup aurat yang di tanamkan dan di laksanakan oleh setiap kader bukan karena perintah agama saja namun juga di sadari atas kesadaran yang dimiliki sebagai seorang muslimah yang memegang teguh agama-Nya.
Intelektual menjadi salah satu target pembinaan kohati yang utama. karena intelektual merupakan suatu kumpulan kemampuan seseorang untuk memperoleh ilmu pengetahuan dan mengamalkannya dalam hubungannya dengan lingkungan dan masalah-masalah yang timbul (gunarsa,1991). Seorang kader HMI-Wati dituntut untuk unggul dalam segi intelektual danmumpuni dalam segi penguasaan disiplin ilmu yang di gelutinya. Sebagai laboratorium hidup yang selalu mengasah setiap potensi yang dimiliki kader HMI-Wati, kohati dalam melakukan pembinaan tentunya berdasarkan kurikulum yang sesuai dengan perkembangan zaman dan mampu menjawab kebutuhan kader HMI-Wati.
Kohati sebagai bagian integral HMI merupakan kelompok intelektual muda perempuan yang bertanggung jawab untuk membina dan mengembangkan potensi HMI-Wati agar memiliki pola pikir integral dan utuh, khususnya di bidang kemahasiswaan dan keperempuanan.
Pola Pembinaan kader hmi wati dimaksudkan bukan hanya sekedar mencetak seorang muslimah yang memiliki intelektual cerdas namun juga mencetak kader profesional dalam bidang dan disiplin ilmu yang di gelutinya. Sikap Professional dalam hal ini berarti bahwa kader HMI Wati memiliki kompetensi dalam suatu pekerjaan dan Mampu menguasai ilmu pengetahuannya secara mendalam.kader hmi wati harus mampu melakukan kreatifitas dan inovasi atas bidang yang di gelutinya serta harus berfikir positif dengan menjunjung tinggi etika dan integritas profesi sehingga mampu menjawab tantangan zaman dan kebutuhan dunia kerja. Peningkatan hard skill dan soft skill melalui berbagai pelatihan sehingga diharapkan menghasilkan kader HMI Wati yang mampu bersaing dalam dunia kerja yang semakin ketat persaingannya.
Tantangan zaman yang berbeda dalam kehidupan masa kini dengan kehidupan masa lampau pada saat kohati di dirikan tentunya membutuhkan pola pembinaan yang berbeda pula. Mandiri sebagai salah satu sikap yang di prioritaskan dalam pola pembinaan hmi wati
Pedoman Dasar KOHATI 2016-2018 | 27
merupakan Sikap untuk tidak menggantungkan keputusan kepada orang lain. Dengan adanya sikap mandiri tersebut di harapkan kader hmi wati mempunyai prinsip teguh dalam memegang kebenaran sesuai dengan keyakinan prinsip keislaman yang menjadi prinsip hidup.
Dengan demikian target pola pembinaan kohati adalah terbinanya muslimah yang memiliki kapasitas intelektual yang mumpuni, profesional dalam bidang keilmuan yang di geluti dan mandiri serta teguh memegang prinsip dalam menjawab tantangan zaman. Dalam mewujudkan pola pembinaan kohati dibutuhkan pedoman pelatihan sebagai acuan dalam pembinaan Kohati.
B. Arah Pembinaan KOHATI
Terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi yang bernapaskan islam dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang di ridhoi allah swt (termaktub dalam pasal 4 AD HMI) merupakan Arah pola pembinaan kohati. Arah pembinaan Kohati merupakan petunjuk hendak kemana pembinaan Kohati ditujukan. Kohati sebagai bagian integral dari hmi tentunya turut melakukan proses perkaderan sebagai wujud terhadap kader hmi wati. Wujud nyata pola pembinaan yang dilakukan sebagaimana termaktub pada pasal 4 AD HMI beserta tafsir penjelasannya, yaitu upaya meningkatkan kualitas dan peran HMI-Wati sebagai anak, istri, ibu dan anggota masyarakat yang profesional adalah persiapan mencapai tujuan HMI dalam jangka panjang seperti tertera pada analisis tujuan Kohati.
C. Pola Dasar Pembinaan KOHATI
Kohati sebagai bidang pemberdayaan perempuan fokus pada pembinaan HMI-Wati. Pembinaan HMI-Wati harus senantiasa selaras dengan perkaderan HMI. Pola dasar perkaderan HMI telah membahas rekruitmen kader, pembentukan kader dan pengabdian kader. Dalam pola dasar tersebut Kohati ditempatkan sebagai salah satu wadah pembentukan kader.
1. Kualifikasi HMI-Wati
a. Kemampuan Intelektual: HMI-Wati harus memiliki pengetahuan (knowledge) kecerdasan (intelectuality) dan kebijaksanaan (wisdom) dan berupaya menyiapkan diri untuk memiliki kemampuan profesionalsesuai dengan bidang yang dipilihnya. b. Kemampuan Kepemimpinan: HMI-wati mempunyai wawasan yang luas dalam
masalah keorganisasian meliputi kemampuan menjadi pemimpin yang “Uswatun Hasanah”. HMI-Wati memiliki kemampuan komunikasi, public speaking, human relations termasuk etiket dan tata sopan santun dalam pergaulan antar manusia. c. Kemampuan Manajerial: HMI-wati memiliki wawasan yang luas dalam masalah
manajemen, khususnya manajemen organisasi, meliputi tata adminisrasi, tata keuangan dan lain-lain, sesuai dengan dasar POAC.
d. Kemandirian: HMI-Wati memiliki kemampuan intelektual, emosional, spiritual serta ketahanan mental dalam menjawab persoalan keorganisasian dan masyarakat. (berkaitan dengan kemandirian pribadi dan ekonomi).
Pedoman Dasar KOHATI 2016-2018 | 28
2. Perkaderan KOHATI
Perkaderan Kohati merupakan sekumpulan aktivitas pembinaan yang terintegrasi dalam upaya mencapai tujuan HMI umumnya dan tujuan Kohati khususnya. HMI-Wati harus mengikuti seluruh rangkaian perkaderan, baik yang bersifat formal yaitu LK I, LK II ,dan LK III serta LKK dan TFT maupun yang bersifat non formal.
SKEMA POLA DASAR PEMBINAAN KOHATI
Bermitra dengan organisasi mahasiswa dan organisasi perempuan
Proses Kaderisasi HMI-Wati melalui kegiatan Kohati, baik untuk individu HMI-Wati maupun kelompok.
1. Kaderisasi individu dilakukan melalui penugasan-penugasan untuk menjalankan roda organisasi Kohati, baik internal maupun eksternal
- Internal: melakukan peningkatan kualitas dan peranan HMI-Wati.
- Eksternal: berpartisipasi diberbagai aktivitas eksternal dengan membawa misi HMI.
2. Kaderisasi kelompok dilakukan melalui forum perkaderan formal dan non-formal Kohati, yaitu:
a. Forum perkaderan formal : 1) LKK 2) TFT Individu InternalHMI Eksternal HMI (partisipatif) Peningkatan kualitas dan peranan. Pembinaan Kelompok Bermitra dengan organisorganisasiasi perempuan Forum kajian Pelatihan Tujuan HMI
Pedoman Dasar KOHATI 2016-2018 | 29
b. Perkaderan Non Formal 1) Latihan Pranikah 2) Latihan Kewirausahaan 3) Latihan Publik Speaking 4) Latihan Kader Sensitif Gender 5) Latihan Kesehatan Reproduksi 6) Latihan Advokasi
7) Up-Grading c. Forum kajian
Forum Kajian sebagai salah satu cara pembinaan kader yang dilakukan secara berkelompok,Hal di maksudkan untuk memberikan asupan nutrisi berupa wacana dan pemahaman tentang keperempuanan, gender,keislaman dan keorganisasian serta hal-hal yang bersifat menjadi kebutuhan kader hmi wati secara khusus dan kader hmi secara umum. Materi yang di sampaikan dalam forum kajian ini bertujuan untuk meningkatkan hard skill dan soft skill kader hmi. d. Bermitra organisasi dengan organisasi mahasiswa dan organisasi perempuan
Bermitra dengan organisasi mahasiswa dan organisasi perempuan mutlak di lakukan dalam mengembangkan organisasi dalam hal ranah eksternal. Karena dengan berjejaring kohati bisa menjadi alat pencapai tujuan hmi dalam menyikapi persoalan keperempuanan dan anak. Dewasa ini jaringan dan komunikasi dengan mitra organisasi eksternal sangat berguna terutama dalam persoalan teknis berkaitan dengan dukungan massa ketika mengadakan aksi solidaritas dan mengadakan berbagai pelatihan.
D. Pelaksanaan
a. Manajemen Latihan
Perkaderan kelompok dilaksanakan dengan fungsi manajemen yang rapi, POAC (Planning, Organizing, Actuating, Controlling)
Nama Pelaksana Peserta Intensitas
LKK KOHATI
Cabang
HMI-Wati yang telah lulus LK I dan LK II
1 x per periode
TFT KOHATI
BADKO
HMI-Wati yang telah lulus LK I, LK II dan LKK
Pedoman Dasar KOHATI 2016-2018 | 30
b. Organisasi Latihan.
Ada dua komponen organisasi latihan yaitu
Organizing Committee (OC)
1. OC adalah unsur organisasi yang berfungsi sebagai pelaksana operasional latihan meliputi administrasi, keuangan dan teknis lapangan.
2. OC dibentuk oleh Pengurus Kohati.
Steering Committee (SC)
1. SC sebagai unsur organisasi latihan berfungsi sebagai pengarah
2. SC bertugas merencanakan dan mempersiapkan substansi latihan meliputi kurikulum, penceramah/narasumber, dll serta mengawasi dan mengarahkan jalannya pelatihan.
3. SC ditunjuk dan ditetapkan oleh Pengurus Kohati.
Tim Instruktur
Tim Instruktur terdiri dari :
1. Master of Training. 2. WakilMaster of Training. 3. Instruktur.
Tugas tim instruktur ini disesuaikan dengan Pedoman Pengelolaan Latihan yang ada di HMI.
E. PENDEKATAN
Pendekatan yang digunakan selama latihan agar antara peserta dengan peserta dan peserta dengan instruktur berlangsung proses.
a. Ta’aruf (saling mengenal)
Berkenalan dan memperkenalkan diri sedalam-dalamnya mengenai latar belakang pendidikan, keluarga, sosial budaya dan lingkungan serta adat-istiadat masing-masing. Sehingga dengan demikian diharapkan tumbuh rasa kasih sayang dengan memiliki rasa ukhuwah antara sesama berdasarkan ke cintaan kepada Allah SWT.
b. Tafahum (saling bersepaham)
Memahami kelebihan dan kelemahan masing-masing dengan berusaha memulai dari diri sendiri untuk bersikap introspektif akan kekurangan, kesalahan atau kekhilafan masing-masing di samping upaya menumbuhkan suasana saling mengingatkan.
c. Ta’awun (saling menolong)
Pedoman Dasar KOHATI 2016-2018 | 31
d. Takaful (saling berkesinambungan)
Terjalin berkesinambungan antara rasa dan rasio/intuisi serta kesamaan ide pemikiran kedalam hubungan yang dialogis dan harmonis di samping terciptanya suasana yang kondusif antara peserta dengan instruktur.
F. SISTEM EVALUASI
Evaluasi dimaksudkan untuk melihat indikator keberhasilan pelatihan, yaitu melihat apakah sumber daya organisasi telah dijalankan secara efektif dan efisien dalam mencapai tujuan pelatihan. Dengan demikian melalui evaluasi dapat dipastikan, apakah kegiatan pelatihan berjalan sebagaimana yang telah direncanakan.
Evaluasi latihan dilakukan melalui tiga tahapan, antara satu dan yang lain saling berkaitan. Tahapan awal evaluasi dilakukan terhadap input latihan dengan maksud untuk mengetahui sejauh mana pemahaman awal dan kesiapan peserta untuk mengikuti pelatihan (screening dan pre test). Tahapan kedua, pelaksanaan evaluasi dilaksanakan pada saat training berlangsung dan pada tahap ketiga evaluasi melalui post test.
G. PENUTUP
Kaderisasi Kohati merupakan bagian kaderisasi HMI, yang berarti setiap HMI-Wati harus mendapatkan kesempatan untuk mengikuti pelatihan-pelatihan kohati. Hal tersebut mengacu kepada misi utama Kohati untuk meningkatkan kualitas HMI-Wati, oleh karena itu tujuan pelatihan-pelatihan dalam Kohati adalah untuk memperkaya kemampuan soft skills HMI-Wati.
Peningkatan soft skills HMI-wati bertujuan untuk menjadikan kader hmi wati sebagai sosok anak muda yang siap menghadapi masa depan dengan seluruh multiperan yang harus dihadapinya secara simultan, sosok yang “fulltime professional”, sekaligus “fulltime leader”, “fulltime director”, “fulltime secretary”, “fulltime wife”, “fulltime mother” dan lain-lain.
Pedoman Dasar KOHATI 2016-2018 | 32
PLATFORM GERAKAN KOHATI
A. PENDAHULUAN
Berbicara tentang platform gerakan Kohati adalah rencana kerja, pernyataan sekelompok orang tentang prinsip atau kebijakan.dasar atau tempat dimana sistem operasi kerja berbicara tentang landasan umum gerak eksternal kohati. Di samping platform gerakan juga berbicara tentang suatu paradigma, yaitu mengarahkan sudut pandang masyarakat akademis.
platform dianggap penting bagi suatu gerakan organisasi untuk mempengaruhi aspek gerak maupun aspek pemikiran HMI-Wati secara berkesinambungan sejalan dengan proses terbentuknya sejarah HMI yang tidak terpisahkan dengan visi ke-Islaman, ke-Intelektualan dan ke-Indonesian. Mengingat di era global ini, masalah keperempuanan menjadi isu sentral dan diskursus yang intens dibicarakan. Dengan munculnya berbagai gerakan dari pemerhati perempuan membuktikan bahwa kesenjangan antara laki-laki dan perempuan di bidang IPOLEKSOSBUD masih terjadi.
Kohati sebagai bagian integral dari HMI yang mempunyai peran strategis untuk merespon problem (Mahasiswi pada khususnya dan Perempuan pada umumnya), salah satunya adalah problem sosial bernama ketidakadilan yang banyak menimpa kaum perempuan karena ketimpangan pola relasi antar individu di masyarakat. Dengan demikian persoalan keperempuanan yang merupakan masalah sosial, harus mendapatkan perhatian serius dari HMI untuk merealisasikan cita-citanya yaitu “Mewujudkan masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT”.
Dalam upaya menjawab tantangan tersebut, Kohati membentuk dasar kebijakan yang terformulasi secara integral dan komprehensif, sehingga gerakan yang dilakukan dapat mengenai sasaran dengan tepat.
Arahan yang jelas dalam pergerakan Kohati adalah menanamkan ideologi gerakan perempuan (hegemoni ideologi) sebagai salah satu cara mewujudkan masyarakat adil, demokratis, egaliter dan beradab sebagai prototipy masyarakat madani (civil society). Konsekuensinya, kaum perempuan dituntut untuk menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi serta keterampilan yang mendukung, artinya HMI-Wati harus memiliki keseimbangan dalam kemandirian intelektual serta ketegasan dalam bersikap dengan landasan berpijak yang jelas. Beberapa pemaparan di bawah ini merupakan sistematisasi yang dibuat untuk memainkan peran strategisnya pada pergerakan Kohati.
Pedoman Dasar KOHATI 2016-2018 | 33
A. PENGERTIAN
Gerakan Kohati adalah tindakan kolektif secara sadar dan terorganisir sebagai akselerasi pencapaian tujuan HMI dengan meningkatkan kapasitas, kualitas dan peranan HMI-Wati.
B. TUJUAN
Tujuan gerakan Kohati adalah Terbinanya muslimah (HMI-Wati) berkualitas insan cita.
C. TARGET
Mencetak kader Responsif dan partisipatif serta proaktif dalam merespon permasalahan mahasiswi, HMI-Wati pada khususnya dan Perempuan pada umumnya menuju terciptanya masyarakat adil makmur.
Adapun sasaran dan target adalah sebagai berikut: - Mahasiswi
- Kader HMI-Wati dan HMI-Wan. - Civitas Akademika
- Cendikiawan Muslim - Masyarakat umum
- Penentu Kebijakan baik legislatif, eksekutif maupun yudikatif. - Stake holder lainnya
D. ISU UTAMA/MAIN ISSUE
Isu utama (Main Issue) yang hendak ditawarkan sebagai wacana gerakan Kohati adalah : - Ke-Islaman.
- Ke-Intelektualan - Ke-perempuanan - Ke-Indonesiaan
Dengan turunan wacana dan spesifikasi gerak sebagai berikut:
1. KE-ISLAMAN
a. Mengkaji ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits yang membahas tentang perempuan, terutama melakukan kajian secara mendalam terhadap hadist –hadist misoginis.
b. Menyikapi adanya pemahaman (isu keperempuanan dalam perspektif islam) keperempuanan yang mengatasnamakan Islam yang keluar dari jalur hukum Islam untuk mengantisipasi pemahaman-pemahaman yang merusak aqidah umat islam.
Pedoman Dasar KOHATI 2016-2018 | 34
2. KE-INTELEKTUALAN
a. Kohati melakukan kegiatan akademis yang sesuai dengan Tri Darma Perguruan Tinggi. b. HMI-Wati berfikir kritis, bersikap dan bertindak analitis, sistematis, kreatif, inovatif dan
bertanggung jawab.
3. KE-PEREMPUANAN
a. Menanggapi problem keperempuanan secara cerdas berdasarkan perspektif Islam (Socio Cultural)
b. Meningkatkan life skill, bargaining position HMI-Wati dan perempuan secara umumnya.
c. Membentuk karakter HMI-Wati
4. KE-INDONESIAAN
Pedoman Dasar KOHATI 2016-2018 | 35 LANDASAN GERAKAN
A. LANDASAN FILOSOFIS
Secara epistemologi Perempuan berasal dari kata per-empu-an ”ahli/mampu”, jadi perempuan merupakan seorang yang mampu melakukan sesuatu. Wanita berasal dari bahasa Jawa ”wani ditata” yang artinya ”orang yang bisa diatur”. Selain itu, dalam bahasa Sanskerta kata wanita berasal dari kata ”wan” dan ”ita” yang berarti ”yang dinafsui”.
Secara ontologi perempuan adalah makhluk ciptaan Allah yang secara alamiah memiliki organ reproduksi yakni memiliki vagina, payudara, kelenjar susu dan rahim serta dapat mengalami menstruasi, hamil (mengandung), melahirkan dan menyusui. Sedangkan laki-laki adalah makhluk ciptaan Allah yang memiliki penis, jakun, testis dan sperma serta berpotensi untuk membuahi lawan jenisnya. organ dan sistem reproduksi ini adalah kodrat dari Allah yang tidak bisa dipertukarkan satu sama lain.
Secara aksiologi perempuan merupakan makhluk ciptaan Allah yang memiliki sifat memelihara bagi penghuni alam semesta lainnya. Dan salah satu sifat yang menjadi fitrahnya adalah sifat ke-ibu-an yang telah tertanam secara alamiah. Dalam sifat ke-ibu-an seorang perempuan memiliki sifat-sifat Allah yakni Rahman dan Rahim. Inilah yang merupakan sifat ke-Ilahi-an pada perempuan.
Sesuai dengan makna filosofi diatas maka kata perempuan lebih tepat digunakan karena mengandung konotasi yang positif (amelioratif). Sedangkan kata wanita tidak digunakan karena cenderung berkonotasi negatif (pejoratif) dan lebih diposisikan sebagai objek.
B. LANDASAN TEOLOGIS
a. Hakikat Penciptaan Manusia
Q.S. Al-Mukminun:12-14;
12. dan Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. 13. kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). 14. kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. kemudian Kami jadikan Dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta yang paling baik.
Pedoman Dasar KOHATI 2016-2018 | 36 Q.S. Al-Hajj :5
5. Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), Maka (ketahuilah) Sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur- angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (adapula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya Dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya. dan kamu Lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah.
b. Kedudukan Manusia
1) Penerima perjanjian primordial.
Laki-laki dan perempuan sama-sama mengemban amanah menerima perjanjian primordial dengan Allah sebagaimana disebutkan dalam QS. Al- A’raf :172
172. dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah aku ini Tuhanmu?" mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuban kami), Kami menjadi saksi". (kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya Kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)",
2) Jin dan Manusia diciptakan Allah untuk menyembah kepada-Nya.