• Tidak ada hasil yang ditemukan

Landasan teori ini mendeskripsikan konsep-konsep yang berkaitan dengan topik dalam penelitian, yaitu pembelajaran sastra

1. Kurikulum Pembelajaran Sastra di SMA a Kurikulum dan Silabus

Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional (2003: 4), menjelaskan, bahwa kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan. Menurut Smith (1959: 3), kurikulum merupakan rangkaian dari pengalaman potensial dalam mendisiplinkan anak, dan merupakan pengalaman anak di bawah bimbingan sekolah. Adapun menurut Taylor (dalam Nasution, 1993: 10), kurikulum merupakan usaha untuk mencapai hasil yang diinginkan di dalam maupun di luar sekolah.

Lebih rinci, Richards (2001: 2) menjelaskan, bahwa kurikulum merupakan prinsip yang berfokus pada pembedaan antara pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai yang dipelajari siswa; pengalaman yang diberikan kepada siswa; dan bagaimana pengalaman belajar direncanakan, disampaikan, diukur, serta dievaluasi. Sementara itu Nana Syaodih (2002: 4), menyatakan bahwa kurikulum merupakan segala bentuk aktivitas pendidikan yang dilakukan demi tercapainya tujuan pendidikan, yang berkenaan dengan penguasaan pengetahuan, pengembangan pribadi, kemampuan sosial, dan kemampuan bekerja.

Beberapa batasan kurikulum yang telah diuraikan mengisyaratkan bahwa kurikulum merupakan sesuatu yang mendeskripsikan tentang proses yang berkait antara satu dengan lainnya, tentang bagaimana cara mendesain, merevisi, melaksanakan dan mengevaluasi suatu proses kegiatan pembelajaran. Kurikulum merupakan pedoman tentang bagaimana pembelajaran direncanakan, dilakukan, dan bagaimana hasil belajar diukur atau dievaluasi.

Pada kenyataannya di lapangan, kurikulum itu meliputi pengalaman yang direncanakan maupun yang tidak direncanakan, atau yang disebut dengan “kurikulum tersembunyi” (hidden curriculum). Meskipun dalam suatu sekolah itu kurikulumnya sama, pada dasarnya semua siswanya memiliki kurikulumnya sendiri, yang merupakan reaksi terhadap kurikulum formal yang diberlakukan.

Berdasarkan adanya kurikulum tersembunyi (hidden curriculum) tersebut, aktualisasi pada masing-masing siswa dalam pembelajaran menjadi berbeda-beda. Misalnya, bagaimana agar dirinya menjadi juara, bagaimana agar dirinya mampu bekerjasama dengan teman-temannya dalam menyelesaikan tugas guru, juga bagaimana agar dirinya disenangi oleh guru dan teman-temannya, dan sebagainya.

Berdasarkan beberapa definisi kurikulum yang telah diuraikan di atas, dapat

dijelaskan bahwa setidaknya kurikulum itu mengandung lima hal pokok, yaitu: (1) analisis kebutuhan siswa (need analysis); (2) tujuan (goal setting); (3) rencana silabus

(syllabus design); (4) metode (methode); dan (5) evaluasi (evaluation). Dapat disimpulkan bahwa kurikulum adalah pedoman pembelajaran yang berisi tentang tujuan, bahan pelajaran, proses pembelajaran, dan cara penilaian, yang dirancang berdasarkan kebutuhan para siswa dalam belajar.

Pada umumnya, salah satu bagian penting dari kurikulum itu, disebut dengan silabus, atau kurikulum dalam arti sempit. Richards (2001: 2) menjelaskan, bahwa silabus adalah pemilihan dan pengorganisasian topik yang disusun sebagai materi pembelajaran. Sejalan dengan itu, Djemari Mardapi (2004: 1), menambahkan bahwa silabus adalah susunan teratur materi pembelajaran untuk mata pelajaran tertentu pada kelas atau semester tertentu. Komponennya meliputi: identifikasi mata pelajaran, jenjang sekolah,

kelas, semester, standar kompetensi, kompetensi dasar, materi pokok, pengalaman belajar, alokasi waktu, dan sumber acuan. Komponen dalam silabus tersebut pada umumnya disusun dalam bentuk matrik berdasarkan urutan penyajiannya, dengan tujuan agar hubungan antarkomponen dalam silabus dapat terlihat dan dapat dipahami dengan jelas.

Pada umumnya, pendidikan itu tidak bisa lepas dari masyarakat pendukungnya. Oleh karena itu, seiring dengan perkembangan zaman, kurikulum juga berubah selaras dengan perubahan tatanan kehidupan pada masyarakat pemiliknya. Dalam perubahan itu, diupayakan adanya penyempurnaan demi memenuhi tuntutan perkembangan zaman.

Dilatarbelakangi oleh perubahan masyarakat Indonesia yang dipicu oleh tatanan kehidupan dunia yang baru, pemerintah melakukan diversifikasi kurikulum, agar pendidikan dapat melayani keberagaman kemampuan sumber daya, siswa, sarana belajar, dan budaya daerah (Balitbang Depdiknas, 2001: 7). Menurut Sarwiji Suwandi (2003: 2), diversifikasi kurikulum tersebut diharapkan mampu menjamin berhasilnya pendidikan yang bermutu, demokratis, dan berdaya saing tinggi, yang ditandai dengan kemampuan sekolah sebagai suatu lembaga pendidikan untuk menghasilkan lulusan yang mampu berpikir global, namun tetap bertindak dengan karakteristik dan potensi lokal (think globally but act locally). Kualitas hasil pendidikan yang demikian itu, diharapkan dapat dipertanggungjawabkan baik secara lokal, nasional, maupun global.

Kurikulum 2004 yang berbasis kompetensi, menganut konsep Manajemen Berbasis Sekolah (School Based Ma nagement). Menurut Dornseif (1996: 9), konsep tersebut merupakan manajemen desentralisasi. Manajemen desentralisasi pendidikan di Indonesia, ditandai dengan pendelegasian kewenangan dari pusat kepada sekolah, agar

sekolah lebih responsif terhadap kebutuhan siswa dan tuntutan perkembangan zaman. Sesuai dengan konsep tersebut, sekolah diberikan keleluasaan untuk mengatur dan melaksanakan berbagai kebijakan dalam pengelolaan pendidikan.

Menurut Mulyasa (2003: 11), Manajemen Berbasis Sekolah (School Ba sed Mana gement) merupakan salah satu upaya pemerintah untuk mencapai keunggulan masyarakat dalam penguasaan ilmu dan teknologi. Firdaus M. Yunus (2004: 100) menjelaskan, bahwa konsep tersebut mengisyaratkan adanya sistem pendidikan lokalitas masyarakat agar siswa tidak tersingkir dari akar kebudayaannya.

Selaras dengan konsep Manajemen Berbasis Sekolah (School Ba sed Mana gement) itu, Kurikulum 2004 menuntut pencapaian hasil belajar berupa kompetensi yang mengarah pada life skill education. Untuk itu, pembelajaran lebih berorientasi pada aspek pragmatis yang menekankan pada pencapaian keterampilan hidup (life skill) yang bermanfaat bagi siswa di masa depan. Selain itu, Kurikulum 2004 juga menuntut adanya peningkatan mutu pendidikan dengan penciptaan iklim pembelajaran yang kondusif bagi terlaksananya pembelajaran yang fleksibel sesuai dengan potensi sekolah (Mulyasa, 2002: 27).

Sementara itu, dengan tujuan agar kurikulum memiliki relevansi dengan pembangunan dan kebutuhan masyarakat, pemerintah mengeluarkan kebijakan link & match, yang mengaitkan antara pendidikan dengan dunia usaha dan industri. Dengan kebijakan tersebut diharapkan produk pendidikan sesuai dengan tuntutan kebutuhan dari berbagai sektor pembangunan, akan tenaga ahli dan terampil sesuai dengan jumlah, mutu, dan sebarannya (Mulyasa, 2003: 10).

Dengan kebijakan link & match dari penerintah dewasa ini, diharapkan agar pembelajaran menjadi lebih akomodatif terhadap situasi, dan tuntutan siswa, serta lebih dinamis dengan tuntutan perkembangan zaman. Dinamika tersebut diperlukan untuk memenuhi kepentingan masyarakat yang bersifat futuristik, sesuai dengan kebutuhan masa yang akan datang.

Kurikulum 1994 merupakan kurikulum yang lebih menekankan pada ketuntasan materi. Berbeda dengan itu, Kurikulum 2004 lebih menekankan pada pengembangan kompetensi siswa dalam melakukan tugas-tugas dengan standar performansi tertentu (Nurhadi, 2005: 19). Konsekuensinya, dalam Kurikulum 2004 diperlukan pengembangan silabus dan sistem penilaian yang menjadikan siswa mampu mendemonstrasikan pengetahuan dan keterampilannya sesuai dengan standar performansi yang ditetapkan.

Sejalan dengan itu, model evaluasi yang diterapkan harus dapat mengukur semua aspek kompetensi secara menyeluruh. Menurut Zamroni (2005: 43), model evaluasi akhir yang berpusat pada Garis-garis Besar Program Pengajaran (GBPP) seperti dalam Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional (EBTANAS), tidak lagi sesuai, karena lebih mengarahkan siswa pada pengembangan kognitif saja. Dalam EBTANAS, tes apresiasi dan pemecahan masalah (problem solving) dengan uji kinerja otentik (authentic performance) tidak terealisasikan. Selain itu, untuk menghadapi EBTANAS, pada umumnya guru lebih cenderung melaksanakan pembelajaran yang berorientasi pada ujian (teaching for testing). Hal itu dilakukan para guru, karena didorong oleh pandangan dan penilaian masyarakat bahwa keberhasilan siswa dalam menempuh EBTANAS, merupakan bukti keberhasilan pendidikan yang diselenggarakan oleh suatu sekolah.

Tanpa disadari sesungguhnya hal itu telah menyebabkan tuntutan kurikulum menjadi terabaikan.

Dalam perkembangannya, pada tahun pelajaran 2003/ 2004 diberlakukan Ujian Akhir Nasional (UAN) sebagai pengganti EBTANAS. Soal-soal dalam UAN tidak lagi hanya berbentuk pilihan ganda, tetapi juga tes essai dan ujian praktik. Selain itu, juga ada ketentuan standar nilai mati. Meskipun ada penolakan dari sebagian masyarakat mengenai ketentuan standar nilai mati tersebut, kebijakan pemerintah mengenai pelaksanaan UAN telah berpengaruh positif terhadap semangat siswa untuk belajar dengan lebih sungguh-sungguh.

Dalam dunia pendidikan pada umumnya, perubahan orientasi pembelajaran dari berorientasi pada materi menjadi berorientasi pada kompetensi, sangatlah berarti bagi perkembangan pembelajaran dewasa ini. Khususnya dalam pembelajaran sastra, perubahan lain yang besar pengaruhnya adalah adanya penyetaraan status pembelajaran sastra dengan pembelajaran bahasa. Dalam kurikulum yang berlaku saat ini, sastra bukan lagi sekedar materi sisipan dalam pembelajaran bahasa. Apresiasi sastra mendapatkan pintu khusus, sejajar dengan empat keterampilan berbahasa lainnya. Status baru tersebut memberi peluang bagi guru sastra untuk dapat meningkatkan kualitas pembelajarannya, yang pada umumnya dipandang belum optimal oleh masyarakat.

Perubahan cara pandang terhadap konsep pembelajaran sastra dalam kurikulum berbasis kompetensi itu, merupakan paradigma baru yang perlu dipahami oleh para pelaku pendidikan, sebagai “ real curriculum” yang merupakan pedoman, dan secara potensial menentukan apa harapan ideal yang perlu terealisasikan. Namun, pada umumnya harapan

ideal itu akan melebihi apa yang dapat dicapai secara aktual di lapangan. Karena itulah, semuanya kembali berpulang pada bagaimana implementasinya di lapangan.

Secara umum penyelenggaraan pendidikan di Indonesia berfungsi untuk pengembangan kemampuan dan pembentukan watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa (UU RI No. 20 Th 2003, Bab II pasal 3). Sejalan dengan itu, kurikulum sebagai pedoman pendidikan merumuskan tujuannya. Adapun tujuan dalam kurikulum berbasis kompetensi tersebut adalah penguasaan seperangkat kompetensi dasar pada peserta didik.

b. Standar Kompetensi

Menurut Harris (1997: 18), definisi kompetensi yang paling awal dalam dunia pendidikan disampaikan oleh Elam (1971), dalam asosiasi konferensi pendidikan guru di Amerika. Kompetensi diartikan sebagai pengetahuan, keterampilan, dan tingkah laku untuk didemonstrasikan oleh pembelajar, yang berhubungan dengan pekerjaan. Untuk mengukur kompetensi peserta didik tersebut dalam proses pembelajaran, dapat dilakukan dengan: (1) menggunakan performansi sebagai sumber utama indikasi; (2) mengambil pada salah satu indikasi dari pengetahuan siswa yang relevan untuk merencanakan, menganalisis, menginterpretasikan atau mengevaluasi situasi dan perilaku; penekanannya pada objektivitas.

Dalam dunia pendidikan Inggris, kompetensi diartikan sebagai pengembangan kemampuan unggul, tingkah laku yang tepat, dan pengalaman kinerja yang sukses dalam kehidupan, termasuk dalam pekerjaan, yang mengimplikasikan berkembangnya tanggung jawab dalam keberagaman peran.

Di Australia, konsep kompetensi terfokus pada pekerjaan yang mencakup kemampuan untuk mentrasfer dan mengaplikasikan pengetahuan pada situasi dan lingkungan yang baru (Harris, 1979: 20).

Menurut Finch & Crunkilton (dalam Mulyasa, 2002: 38), kompetensi adalah kemampuan penguasaan tugas, keterampilan, sikap dan apresiasi untuk menunjang keberhasilan, terkait dengan berbagai ranah kehidupan, termasuk dalam dunia kerja maupun konteks sosial. Sementara itu, menurut Finn (dalam Harris, 1979: 22), istilah kompetensi itu merupakan konsep yang menggambarkan kepedulian pada pengembangan pemuda sebagai warga negara. Menurut Richards (dalam Nurhadi, 2007), istilah kompetensi mengacu kepada perilaku yang dapat diamati yang diperlukan untuk menuntaskan kegiatan sehari-hari dengan berhasil. Istilah tersebut didasarkan pada model rancangan kurikulum yang memperhatikan faktor efisiensi ekonomi dan sosial yang memberikan kemampuan kepada siswa untuk dapat berpartisipasi secara efektif dalam masyarakat.

Menurut Finn (dalam Harris, 1979: 23), kompetensi dapat ditunjukkan melalui kemampuan dan keterampilan seseorang dalam: (1) berbahasa dan berkomunikasi dengan orang lain; (2) logika matematika; (3) pemahaman terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi; (4) pemahaman terhadap kebudayaan; (5) pemecahan masalah; dan (6) hubungan antarpribadi. Sedangkan menurut Mayer (dalam Harris, 1979: 21), kompetensi dapat dilihat melalui kemampuan seseorang dalam: (1) mengorganisasi ide dan informasi; (2) mengekspresikan ide dan informasi; (3) merencanakan aktivitas; (4) bekerja dengan pihak lain dalam tim; (5) menggunakan ide matematika dan teknik; (6) memecahan masalah; dan (7) menggunakan teknologi.

Dari berbagai batasan istilah kompetensi yang berasal dari negara-negara Barat tempat konsep tersebut muncul pertama kalinya, Kurikulum 2004 merumuskan batasan istilah kompetensi dengan pengertian perpaduan antara pengetahuan, keterampilan, nilai dan sikap yang diharapkan dapat direfleksikan oleh siswa dalam kebiasaan berpikir dan bertindak sehingga siswa mampu menemukan jati dirinya, bersikap, dan berbuat sesuatu yang dapat bermanfaat demi menunjang keberhasilan hidupnya di tengah-tengah masyarakat di masa yang akan datang. Mengacu pada batasan istilah tersebut, dapat dikatakan bahwa penguasaan kompetensi siswa merupakan suatu tolok ukur dalam menentukan kualitas daya saing lulusan dari setiap lembaga pendidikan untuk mampu berkiprah dalam dunia kerja.

Menurut Zamroni (2005: 46), dalam Kurikulum 2004, terdapat Standar Kompetensi yang bermuara pada terbentuknya manusia yang berkualitas, mencintai bangsanya, jujur, siap bekerja keras, percaya diri, memiliki sikap persaudaraan, sehat jasmani dan rohani, cerdas dan terampil.

Sejalan dengan batasan pengertian Standar Kompetensi tersebut, ditetapkan Standar Kompetensi dalam pembelajaran sastra di SMA, yaitu: (1) Siswa mampu mendengarkan dan memahami serta menanggapi berbagai ragam karya sastra berupa puisi, cerita pendek, novel, dan drama; (2) Siswa mampu mengungkapkan pikiran, pendapat, gagasan dan perasaan dalam berbagai wacana lisan, puisi, cerpen, novel dan drama; (3) Siswa mampu membaca dan memahami berbagai teks sastra melalui membaca dan menganalisis puisi, cerita pendek, hikayat, novel Indonesia dan terjemahan, drama dan esai; dan (4) Siswa mampu mengungkapkan pikiran, pendapat, gagasan, dan perasaan

dalam berbagai bentuk tulisan sastra, baik puisi, cerita pendek, novel, drama, resensi dan esai (Kurikulum 2004, 2003: 10).

Djemari Mardapi (2005: 5) menyampaikan, bahwa standar kompetensi dalam kurikulum masih bersifat umum, sehingga perlu dijabarkan menjadi sejumlah kompetensi dasar yang disebut dengan kemampuan minimal. Kompetensi Dasar itu merupakan kompetensi minimal dalam mata pelajaran tertentu yang harus dimiliki, atau dapat dilakukan dan ditampilkan oleh siswa (Kurikulum 2004, 2003: 28). Berdasarkan kompetensi minimal itulah dapat dirumuskan silabus sebagai pedoman pembelajaran.

Selanjutnya, untuk mengukur ketercapaian kompetensi dasar, diperlukan suatu indikator yang merupakan karakteristik, tanda-tanda, perbuatan, atau respon, yang harus dapat dilakukan atau ditampilkan oleh siswa, untuk menunjukkan bahwa siswa tersebut telah memiliki kompetensi dasar tertentu (Kurikulum 2004, 2003: 27). Menurut Djemari Mardapi (2005: 80), indikator tersebut merupakan acuan bagi guru sebagai pelaksana program pembelajaran untuk menentukan soal ujian. Indikator tersebut juga merupakan pedoman bagi pengukuran tingkat pencapaian belajar siswa. Karena itu, indikator sebaiknya dirumuskan dengan kata kerja yang operasional agar dapat diukur tingkat ketercapaiannya.

2. Pembelajaran Sastra yang Apresiatif di SMA