Landasan teori ini mendeskripsikan konsep-konsep yang berkaitan dengan topik dalam penelitian, yaitu pembelajaran sastra
METODOLOGI PENELITIAN
E. Teknik Pengumpulan Data
1. Macam-macam Teknik yang Digunakan
Sumber data penelitian ini terdiri dari berbagai macam jenis, meliputi: dokumen, tempat, aktivitas, dan manusia sebagai narasumber. Berdasarkan berbagai macam sumber data tersebut, digunakan berbagai teknik untuk mengumpulkan data guna menjawab masalah penelitian.
Teknik yang digunakan meliputi teknik yang bersifat interaktif dan noninteraktif (Goetz LeComte, dalam Sutopo, 2002: 58). Teknik noninteraktif meliputi: analisis dokumen (content ana lysis), dan kuesioner terbuka (open-ended questionnaire), sedangkan teknik interaktifnya meliputi: wawancara mendalam (in-depth interviewing), observasi berperan (participant observation). Penjelasannya sebagai berikut.
a. Analisis Dokumen (Content Analysis)
Moleong (1990: 161) menjelaskan, bahwa semua dokumen yang berkaitan dengan topik penelitian, dapat dimanfaatkan untuk menguji, menafsirkan, dan bahkan untuk
meramalkan data dalam penelitian. Dengan teknik analisis dokumen diharapkan dapat ditangkap informasi tentang subjek yang diteliti mengenai pembentukan dan pengalihan perilaku serta polanya yang berlangsung melalui komunikasi verbal (Noeng Muhadjir, 1996: 49).
Kegiatan dalam menganalisis dokumen, oleh Yin (dalam Sutopo, 2002: 69), disebut dengan content analysis, sebab dalam kegiatan itu peneliti bukan sekedar mencatat isi penting yang tersurat dalam dokumen, tetapi juga memahami makna yang tersirat dalam dokumen dengan sikap hati-hati, teliti, dan kritis.
Menurut Yin (2000: 106), dokumen dapat digunakan secara bersamaan dengan sumber informasi yang lain seperti wawancara dan pengamatan atau observasi apabila semua bukti yang dikumpulkan dalam penelitian menghasilkan gambaran yang konsisten
b. Kuesioner Terbuka (Open-ended Questionnaire)
Langkah awal pengumpulan data dalam penelitian ini adalah pemberian kuesioner terbuka kepada guru sastra dan siswanya di sekolah yang diteliti. Kuesioner terbuka ini, berisi daftar pertanyaan dengan kesempatan jawaban yang bersifat terbuka. Pertanyaan yang diajukan sudah disertai alternatif jawaban, namun disediakan ruang untuk jawaban bebas, atau alasan mengapa menjawab demikian, dapat pula untuk menyampaikan hal- hal lain yang dirasa penting dan berkaitan dengan pertanyaan. Berdasarkan jawaban yang beragam dari informant, dapat dipilih fokus permasalahan yang perlu dikaji dengan lebih rinci dan mendalam dengan teknik yang lain (Sutopo, 2002: 71).
Tujuan dari penggunaan teknik kuesioner terbuka ini untuk mendapatkan informasi yang luas dengan cara yang cepat, karena teknik ini memungkinkan peneliti untuk mendapatkan data awal sebelum memasuki lapangan. Melalui teknik ini tidak dilakukan penilaian angka atau scoring system, karena posisinya bukan merupakan teknik pengumpulan data pokok (utama), hanya penunjang pada awal pengumpulan data (Sutopo, 2002: 71).
Disadari bahwa melalui teknik kuesioner terbuka ini tidak dapat diperoleh informasi yang mendalam tentang masalah yang diteliti, karena itu, data yang diperoleh selanjutnya dikembangkan dan dikaji secara mendalam melalui teknik lain, yaitu observasi berperan, analisis dokumen, wawancara mendalam.
c. Wawancara Mendalam (In-depth Interviewing)
Menurut Yin (2000: 108), wawancara mendalam merupakan teknik pengumpulan data yang esensial dalam studi kasus. Menurut Sutopo (2002: 59), wawancara mendalam merupakan wawancara yang dilakukan dengan lentur dan terbuka, tidak berstruktur ketat, tidak dalam suasana formal, dan dilakukan berulang pada informan yang sama. Pertanyaan dalam wawncara mendalam berbentuk open-ended, berisi tentang fakta dari peristiwa atau aktivitas, dan opini. Informant dapat mengemukakan pendapatnya, kemudian pendapat atau proposisi dari informant digunakan sebagai dasar bagi penelitian selanjutnya (Yin, 2000: 109).
Wawancara mendalam ini dilakukan dengan tujuan untuk memperoleh data tentang mekanisme pelaksanaan proses pembelajaran, dan kualitas capaian tujuan dari
d. Pengamatan atau Observasi Berperan (Participant Observation)
Observasi adalah teknik pengumpulan data yang digunakan untuk menggali data dari sumber yang berupa tempat, aktivitas, benda atau rekaman gambar. Observasi terhadap berlangsungnya proses pembelajaran sastra di sekolah dilakukan dengan teknik berperan pasif dengan cara formal maupun nonformal.
Menurut Moleong (1990: 125-126), melalui teknik observasi berperan pasif dapat dilihat dan dapat dites kebenaran terjadinya suatu peristiwa atau aktivitas. Sebab teknik observasi memungkinkan peneliti untuk mengamati dan mencatat perilaku dan peristiwa sebagaimana adanya, sehingga dapat mengecek bias. Melalui teknik tersebut, peneliti juga mampu memahami situasi yang rumit dan perilaku manusia yang kompleks.
Demi menjaga reliabilitas penelitian, observasi dilakukan berulang-ulang, baik secara formal maupun informal. Dalam observasi, peneliti mendatangi lokasi penelitian, namun sama sekali tidak berperan sebagai apapun selain sebagai pengamat pasif, meskipun peneliti hadir dalam konteksnya (Sutopo, 2002: 66).
Tujuan observasi berperan pasif dalam penelitian ini adalah untuk mengumpulkan data mengenai pelaksanaan proses pembelajaran sastra yang apresiatif di sekolah, yang melibatkan aktivitas siswa dan guru di dalamnya.
2. Cara Pencatatan Data
Setiap selesai penggalian data di lapangan, data yang diperoleh segera dideskripsikan dalam bentuk catatan lapangan (fieldnote). Menurut Bogdan & Biklen (1982: 4), catatan lapangan adalah catatan tertulis tentang apa yang didengar, dilihat,
dialami, dan dipikirkan peneliti dalam rangka pengumpulan data dan refleksi terhadap data dalam penelitian kualitatif.
Catatan lapangan (fieldnote) berisi kumpulan data mentah yang selanjutnya direduksi dan dianalisis. Secara lengkap, catatan lapangan (fieldnote) disusun berdasarkan bentuk kegiatannya, yang memuat tiga bagian, yaitu: (1) identitas; (2) deskripsi data, dan (2) refleksi.
Deskripsi dalam catatan lapangan disusun dengan pendekatan fenomenologis, yaitu cara berpikir yang memungkinkan seseorang untuk membuat pengertian akan berbagai hal yang dialaminya. Deskripsi tersebut merupakan usaha dengan keterbukaan pikiran untuk merumuskan objek yang diteliti, melalui penelusuran pada objek untuk menemukan dan menafsir berbagai hubungan di antaranya tanpa memisahkan dari struktur utama dalam konteksnya (Sutopo, 2002: 4).
Deskripsi dibuat berdasarkan pengamatan yang bersifat global, yang bukan sekedar pengamatan verbal mengenai apa yang terlihat dan terdengar, tetapi merupakan tanggapan perasaan dan renungan peneliti, terhadap peristiwa yang terjadi pada saat observasi, dengan tafsir dalam berbagai makna kontekstualnya. Adapun refleksi adalah catatan yang berisi pemikiran peneliti yang bersifat subjektif, dan tekanannya pada spekulasi, perasaan, kesan, prasangka peneliti, dan masalah yang muncul dalam pemikiran. Refleksi peneliti inilah yang dapat memandu langkah penelitian pada kegiatan yang lebih kemudian, karena dalam refleksi disusun suatu rekomendasi untuk perbaikan pelaksanaan penelitian.
sesuatu yang meragukan dalam penelitian (Moleong, 1990: 156-159); dan (3) refleksi teori, yaitu usaha untuk meluruskan kembali apabila ada gagasan peneliti yang mempengaruhi tanggapan, atau asumsi yang diajukan (Sutopo, 2002: 76). Termasuk dalam refleksi teori adalah refleksi etis dan konflik, yaitu refleksi tentang perlu tidaknya perlindungan informant akibat informasi yang diberikan, dan konflik yang dihadapi dalam penelitian serta kemungkinan bentuk penyajian laporan yang dipandang tepat dan aman.