OBLIGASI I BW PLANTATION TAHUN 2010 DENGAN TINGKAT BUNGA TETAP JANGKA WAKTU DAN JATUH TEMPO
KOMITMEN DAN KONTINJENSI
IX. KEGIATAN DAN PROSPEK USAHA
5. Lahan Perkebunan
TBS (produksi) (1) 116.144 151.876 239.504 282.058 353.139 174.566 161.600 TBS (diproses) (2) 95.297 128.528 205.084 289.574 401.039 202.575 167.810
CPO(2) 21.923 29.984 47.149 66.824 91.382 46.339 38.663
PK(2) 4.025 5.424 8.308 11.803 14.581 7.806 6.760 Total(2) 25.948 35.408 55.457 78.627 105.963 54.145 45.423 (1) tidak termasuk lahan plasma
(2) dari TBS yang dihasilkan kebun inti Perseroan, lahan Plasma dan pembelian dari pihak ketiga
Jumlah produksi dan tingkat produksi CPO dan PK Perseroan dan Anak Perusahaan telah meningkat secara signifikan dari tahun 2007 hingga 2009, terutama disebabkan oleh meningkatnya area TM dan sebagian besar TM masuk ke usia Prima dan mendekati usia Prima.
5. Lahan Perkebunan
Pendahuluan
Pada tanggal 30 Juni 2010, Perseroan memiliki tujuh perkebunan kelapa sawit di Indonesia dengan luas lahan 92.733 hektar, yang terdiri dari 42.063 hektar dengan sertipikat HGU, 64 hektar dengan sertipikat HGB, dan 50.606 hektar sisanya dengan Ijin Lokasi. Pada tanggal 30 Juni 2010, Perseroan mengelola lahan yang telah ditanami seluas 46.048 hektar, yang terdiri atas 42.632 hektar kebun inti Perseroan dan 3.416 hektar di bawah Program Plasma. Dari lahan yang telah tertanam tersebut, 15.270 hektar merupakan lahan dengan TM yang terdiri 14.511 hektar lahan inti dan 759 hektar lahan Plasma. Dari seluruh perkebunan Perseroan terdiri atas dua kebun yang memiliki lahan yang mayoritas TM dan tiga kebun TBM yang baru ditanami sebagian dan sedang dikembangkan. Sebagian besar lahan Perseroan merupakan tanah yang datar atau sedikit miring dengan biaya pengembangan yang lebih murah dibandingkan lahan yang berbukit-bukit.
BLPBLP merupakan perkebunan TM di Kalimantan Tengah dengan lahan seluas 8.877 hektar. Penanaman di BLP dimulai sejak tahun 1997. Pada tanggal 30 Juni 2010, BLP telah menanam seluas 8.724 hektar, di mana 6.094 hektar merupakan TM. Pada tanggal 30 Juni 2010, BLP juga mengelola tambahan 1.309 hektar di bawah Program Plasma dimana 607 hektar lahan TM.
PKS Perseroan yang pertama yang berlokasi di lahan perkebunan BLP, memiliki kapasitas pengolahan sekitar 270.000 ton TBS per tahun dan mulai beroperasi sejak bulan September 2004.
BHLBHL merupakan perkebunan TM di Kalimantan Tengah dengan lahan seluas 12.846 hektar. Penanaman di BHL dimulai sejak tahun 1998. Pada tanggal 30 Juni 2010, BHL telah menanami seluas 12.063 hektar , di mana 7.917 hektar merupakan TM. BHL juga mengelola lahan TM seluas 152 hektar di bawah Program Plasma.
PKS Perseroan yang kedua yang berlokasi di lahan perkebunan BHL memiliki kapasitas pengolahan sekitar 360.000 ton TBS per tahun. PKS tersebut telah beroperasi sejak bulan Maret 2008.
ADSADS merupakan perkebunan TBM di Kalimantan Tengah dengan lahan seluas 5.465 hektar. Penanaman di ADS dimulai sejak tahun 2006. Pada tanggal 30 Juni 2010, ADS telah menanami seluas 5.122 hektar, dimana 500 hektar merupakan TM.
WJUWJU merupakan perkebunan TBM di Kalimantan Tengah dengan lahan seluas 12.490 hektar. Penanaman di WJU dimulai sejak tahun 2007. Pada tanggal 30 Juni 2010, WJU telah menanami seluas 3.576 hektar.
SSSSSS merupakan perkebunan TBM di Kalimantan Timur dengan lahan seluas 21.991 hektar. Penanaman di SSS dimulai sejak tahun 2008. Pada tanggal 30 Juni 2010, SSS telah menanami seluas 13.147 hektar.
SSS juga mengelola 1.955 hektar TBM melalui Program Plasma
SMSSMS merupakan perkebunan baru di Kalimantan Barat dengan lahan seluas 10.000 hektar. Penanaman di SMS direncanakan dimulai tahun 2010.
AKMAKM merupakan perkebunan baru di Kalimantan Barat dengan lahan seluas 21.000 hektar. Penanaman di AKM direncanakan dimulai tahun 2010.
Kepemilikan Lahan Perkebunan
Pada tanggal 30 Juni 2010 Perseroan memiliki lahan dalam bentuk sertipikat Hak Guna Usaha (HGU) pada BHL, BLP, ADS dan SSS.
Tabel berikut ini menyajikan komposisi lahan pada tanggal 30 Juni 2010 di mana Perseroan memiliki (i) sertipikat HGU, (ii) Non-HGU terdiri atas: a) Ijin Lokasi yang mana diharapkan Perseroan untuk mendapat sertipikat HGU dan b) sertipikat HGB.
(dalam hektar)
Hak Guna Usaha Non-Hak Guna Usaha
Telah Ditanami Belum Ditanami(1) Telah Ditanami Belum Ditanami (1) Total
Perseroan (2) - - - 64 64
BLP 8.724 153 - - 8.877
BHL 12.063 783 - - 12.846
ADS 5.122 343 - - 5.465
SSS 13.147 1.728 - 7.116 21.991
WJU - - 3.576 8.914 12.490
SMS 10.000 10.000
AKM 21.000 21.000
Total 39.056 3.007 3.576 47.094 92.733
(1) Di luar lahan yang telah ditanami. Termasuk area yang tidak dapat ditanami karena diperlukan untuk jalan, perumahan, gedung lahan pembibitan dan PKS seluas 64 hektar di BLP.
(2) HGB.
Produksi
Tanaman kelapa sawit memerlukan iklim tropis yang lembab dengan temperatur antara 24 hingga 32°C sepanjang tahun, sinar matahari yang cukup dan curah hujan yang cukup. Dengan demikian, wilayah geografis yang ideal untuk mengembangkan tanaman kelapa sawit adalah antara 10° lintang utara dan 10° lintang selatan dari ekuator.
Minyak kelapa sawit dihasilkan dari buah yang dihasilkan tanaman kelapa sawit dalam tandan yang dikenal dengan TBS. Tiap TBS mengandung antara 1.000 hingga 3.000 biji buah dan beratnya rata-rata dapat mencapai antara 5 hingga 40 kilogram tergantung usia dari tanaman sawit tersebut. Buah kelapa sawit terdiri dari mesocarp (yang menghasilkan CPO) dan inti sawit (PK). PK dapat diproses lebih lanjut untuk menghasilkan PKO, tetapi Perseroan tidak melakukan hal ini sendiri, melainkan menjual PK kepada
Tingkat produksi dari kebun kelapa sawit bergantung pada berbagai faktor, termasuk:
• Kualitas dari material tanaman;
• Kondisi tanah dan iklim;
• Kualitas manajemen perkebunan, yang meliputi tambahan agronomi seperti pupuk; dan
• Waktu panen yang tepat dan pengolahan TBS.
Usia ekonomis normal tanaman kelapa sawit biasanya 25 tahun dan dapat diperpanjang hingga 35 tahun untuk varietas hibrida unggul. Tanaman kelapa sawit mencapai usia menghasilkan secara komersial sekitar tiga tahun setelah ditanam di kebun kelapa sawit. Produksi tanaman kelapa sawit yang baru menghasilkan relatif rendah sekitar 6 hingga 10 ton TBS per hektar. Seiring dengan bertambahnya usia tanaman kelapa sawit, produksinya juga meningkat. Umumnya tanaman kelapa sawit mencapai usia Prima pada tahun ketujuh atau kedelapan hingga usia 18 tahun. Tanaman yang memasuki usia prima mencapai puncak produksinya pada usia 9 sampai usia 13 tahun. Setelah itu, produksinya mulai menurun hingga usia 25 tahun. Produksi tanaman kelapa sawit yang telah berada di usia Prima biasanya berkisar antara 26 hingga 33 ton TBS per hektar. Perseroan memperkirakan produksi TBS akan terus meningkat seiring dengan peningkatan usia tanam Perseroan di luar dari pada faktor-faktor eksternal seperti perubahan cuaca.
Tabel berikut menampilkan area dan profil usia dari tanaman kelapa sawit Perseroan pada tanggal 30 Juni 2010. Perseroan mengklasifikasikan tanaman yang berusia 4 tahun hingga di bawah 8 tahun sebagai tanaman Muda, tanaman berusia 8 hingga 18 tahun sebagai tanaman Prima, dan tanaman dengan usia di atas 18 tahun sebagai tanaman Tua. Dalam prakteknya, tanaman kelapa sawit akan tetap produktif hingga tanaman tersebut tumbuh terlalu tinggi untuk dapat dipanen secara efisien. “Tanaman Belum Menghasilkan” (TBM) adalah tanaman kelapa sawit yang berusia 1 hingga 3 tahun. Perseroan mengukur periode waktu ini sejak tanaman kelapa sawit diambil dari kebun pembibitan dan ditanam di kebun kelapa sawit.
(dalam hektar)
Pada tanggal 30 Juni 2010
TM
Muda Prima Tua Jumlah TM TBM Jumlah
BLP 910 5.184 - 6.094 2.630 8.724
Pada tanggal 30 Juni 2010, sekitar 34,0% dari lahan yang telah ditanami di perkebunan Perseroan terdiri dari TM. Sebagai tambahan, sebagian besar dari TM ini berada dalam usia Prima. Rata-rata usia TM adalah 10,3 tahun di BLP dan 9,9 tahun di BHL. Pada tanggal 30 Juni 2010 rata-rata usia untuk seluruh TM Perseroan adalah 9,8 tahun.
Penanaman
Perseroan membutuhkan sekitar 200 benih untuk dapat memperoleh jumlah kecambah yang mencukupi untuk menanami 1 hektar lahan, dengan mempertimbangkan thinning dan seleksi yang diperlukan sebelum penanaman untuk memastikan hanya tanaman kelapa sawit yang baik yang ditanam. Perseroan membeli sebagian besar kebutuhan bibit, yang terdiri dari material bibit hibrida unggul, dari ASD De Costa Rica, S.A. di Kosta Rika, juga dari Pusat Penelitian Kelapa Sawit (dahulu Marihat), PT Socfindo dan PT Sampoerna Agro Tbk. di Indonesia. Perseroan berencana untuk meningkatkan proporsi benih lokal di masa datang.
Biasanya bibit-bibit tersebut diambil sendiri oleh pegawai Perseroan dari kebun benih di Indonesia, dan pengemasan serta pengiriman bibit-bibit tersebut diawasi secara ketat. Setelah tiba di tempat pra-pembibitan Perseroan, benih-benih tersebut langsung ditanamkan di kantong pra-pembibitan di mana benih-benih tersebut dirawat sekitar 3 bulan. Setelah itu kecambah-kecambah tersebut dipindahkan ke dalam kebun pembibitan, dengan tanah yang telah diseleksi, disaring, dan dicampur dengan pupuk, di mana kecambah-kecambah tersebut dirawat selama 7 hingga 24 bulan sebelum kecambah-kecambah tersebut siap untuk ditanam di kebun kelapa sawit. Perseroan telah memiliki persediaan kecambah yang memadai untuk rencana penanaman tahun 2010 dan 2011. Perseroan juga telah memesan benih yang diperlukan untuk rencana penanaman lahan inti dan rencana penanaman lahan Plasma hingga tahun 2011.
Perseroan biasanya menanam tanaman kelapa sawit muda dengan pola segitiga dengan jarak sekitar 8,8 meter, yang hasilnya adalah populasi tanaman sekitar 148 pohon per hektar. Pola tanam segitiga memungkinkan pemanfaatan nutrisi tanah dan ketersediaan ruang serta cahaya untuk pertumbuhan mahkota tanaman sawit yang lebih besar.
Tanaman kelapa sawit umumnya mulai menghasilkan bakal bunga pada usia antara 14 hingga 16 bulan yang nantinya akan berkembang menjadi TBS. Tetapi, Perseroan membuang bakal bunga ini sampai tanaman kelapa sawit mencapai usia 24 bulan, di mana sesudah periode tersebut, bakal bunga dipelihara untuk berkembang menjadi TBS matang sekitar 6 bulan kemudian. Proses pembuangan bakal bunga ini disebut ablation dan dilakukan agar tanaman kelapa sawit pada awalnya lebih berkonsentrasi pada pertumbuhan vegetatif, yang akan menghasilkan tanaman kelapa sawit yang lebih produktif setelahnya.
Dalam periode sebelum produksi, pemeliharaan tanaman kelapa sawit muda sangat penting, dan Perseroan memantau proses ini dengan ketat. Dalam periode ini, Perseroan berupaya untuk memastikan bahwa:
• Pupuk yang diberikan jumlahnya tepat dan terjadwal;
• Area di sekitar tanaman muda bebas dari gulma (tumbuhan pengganggu yang dapat bersaing dengan tanaman kelapa sawit untuk pupuk, air dan sinar matahari);
• Pertumbuhan vegetatif diukur untuk memonitor apakah asupan nutrisi diserap secara efisien;
• Bakal bunga dibuang setiap dua bulan;
• Tanaman/kacangan penutup tanah ditanam untuk melindungi kelembaban lahan dan menghambat pertumbuhan ilalang atau gulma; dan
• Hama dan penyakit tanaman dimonitor secara ketat dan permasalahan yang timbul diatasi secara langsung.
Aplikasi Pemupukan
Perseroan beroperasi secara efisien melalui sistim pemupukan yang berlaku untuk perkebunan Perseroan dan Perseroan membeli kebutuhan pupuk dari Malaysia dan produsen lokal dengan harga dasar dalam mata uang dolar Amerika. Perseroan menggunakan pupuk organik seperti pupuk Urea, rock phospate, muriate potash dan kieserite sebagai pengganti nutrisi untuk penyerapan nutrisi TM. Perseroan melakukan analisa tanah untuk setiap 25 sampai dengan 30 hektar blok TM untuk mendeteksi defesiensi nutrisi dan keseimbangan nutrisi secara keseluruhan. Hasil tersebut digunakan untuk menganulir rekomendasi pupuk untuk setiap blok, hal ini untuk memastikan pengembalian secara maksimum dari investasi pupuk Perseroan. Perseroan melakukan pemupukan hanya dua atau tiga kali dalam satu tahun.
Perseroan juga menggunakan kembali limbah PKS dan janjang kosong (empty fruit bunches) sebagai pengganti pupuk. Perkebunan CPO dan PKS biasanya memproduksi limbah PKS dan janjang kosong dalam jumlah yang besar. Limbah PKS dan janjang kosong adalah bahan yang baik untuk nutrisi tanaman, yang diaplikasikan Perseroan ke perkebunan sebagai pupuk organik. Dengan cara ini Perseroan mengurangi biaya pemupukan dan mengurangi jumlah polusi limbah kepada lingkungan sekitar.
Panen
Panen dilakukan sepanjang tahun dan tidak ada musim panen yang spesifik. Tanaman kelapa sawit menghasilkan buah sepanjang tahun tanpa banyak perubahan, walaupun demikian produksi buah dapat berubah akibat pengaruh perubahan iklim.
Memanen tandan buah pada tingkat kematangan yang tepat sangat penting untuk memaksimalkan produksi. Tujuan dari teknik panen yang baik adalah untuk mencapai jumlah minyak dengan kualitas yang optimal dengan cara yang paling ekonomis. Hal ini melibatkan penentuan titik optimal kematangan ekonomis dari TBS, interval panen yang sesuai, metode pengumpulan buah dan cara buah tersebut dikirimkan ke PKS. Praktek yang diterapkan di lapangan sangat mempengaruhi kualitas akhir minyak kelapa sawit, terutama terkait dengan kandungan FFA, yang menentukan tingkat premi yang dibayarkan untuk aspek kualitas ini. OER yang dicapai PKS sangat dipengaruhi oleh kematangan buah, karena kandungan minyak dari buah meningkat tajam sejak warna TBS berubah dari hitam menjadi oranye kemerahan hingga mencapai kematangan penuh. Pemanen kembali setiap 7 hingga 10 hari ke titik yang sama untuk memeriksa tanaman kelapa sawit dan memanen TBS yang telah matang.
Perseroan melatih pemanen untuk memastikan hanya TBS matang yang dipanen untuk memastikan kualitas dan produksi yang optimal. Penilaian kematangan TBS dilakukan berdasarkan kombinasi dari observasi warna buah dan adanya minimum 2 atau 3 buah yang terlepas dari tandan dan jatuh ke tanah di bawah tanaman kelapa sawit yang akan dipanen. TBS matang dipanen secara manual, menggunakan sabit atau pahat yang diletakkan di ujung batang perancah yang digunakan untuk memotong tandan dari pohon. Perseroan menerapkan prosedur berikut ini untuk memanen.
• Daun palem harus dipangkas dan ditumpuk rapi membentuk huruf U di sekeliling tanaman kelapa sawit antar baris;
• Semua TBS yang matang dan buah yang terlepas, termasuk yang menyangkut di dasar batang daun, harus dipanen, dikumpulkan dan ditumpuk dengan rapi di tempat pengumpulan; dan
• Tangkai TBS harus dipotong pendek karena tangkai yang panjang akan mengganggu proses pemuatan dan menyerap sedikit minyak pada proses pengolahan.
Perseroan selalu berupaya untuk memperbaiki efisiensi dan produktifitas dalam memanen TBS, dan mengurangi biaya produksi, melalui sejumlah inisiatif, meliputi penggunaan sistem mekanisasi. Kegiatan pemanen yang cukup berat adalah pengumpulan TBS yang telah dipotong dan buah-buah yang terlepas dari tandannya ke tempat pengumpulan. Perseroan telah menerapkan sistem mekanisasi pengumpulan TBS dengan menggunakan traktor mini yang dilengkapi dengan scissors lift gandeng. Dengan sistem ini, TBS yang dipanen dimasukkan ke dalam scissors lift gandeng, yang membawa TBS ke truk di tempat pengumpulan di jalur masuk kebun. Truk kemudian mengantar TBS ke PKS. Hal ini memperbaiki efisiensi dan mengurangi beban fisik bagi pemanen dalam mengumpulkan hasil panen dari dasar pohon ke titik pengumpulan, sehingga akan meningkatkan produktifitas dari pemanen. Perseroan telah menerapkan proses mekanisasi ini sejak tahun 2007 untuk lahan TM. Sejak awal tahun 2008 Perseroan sudah mengimplementasikan bin transport system untuk mengirimkan TBS dari tempat pengumpulan ke PKS pada perkebunan BLP. Sistem ini tidak saja mengurangi jumlah truk yang digunakan, tetapi juga mengurangi penanganan ganda TBS yang dapat meningkatkan OER ketika TBS diproses. Perseroan juga menerapkan sistem panen “blok”, di mana pemanen ditempatkan di area-area tertentu di kebun secara tetap sebagai cara untuk meningkatkan efisiensi pengumpulan hasil panen.
Perseroan mewajibkan seluruh TBS yang dipanen untuk dikirimkan ke PKS menggunakan truk dalam waktu 24 jam sejak dipanen, dan untuk diproses dalam waktu 48 jam sejak dipanen. Hal ini karena kualitas dari CPO sangat tergantung kepada kesegaran dari hasil panen dan meminimalkan peningkatan kandungan FFA, yang mengurangi kualitas CPO yang diekstraksi. Perseroan menunjuk pihak ketiga untuk menyediakan sejumlah pekerja kontrak yang dipekerjakan untuk proses panen. Perseroan juga mengadakan kontrak dengan pihak ketiga untuk sebagian kecil pekerjaan transportasi TBS, terutama untuk lahan di bawah Program Plasma.
TM Prima biasanya menghasilkan sekitar 24 hingga 30 ton TBS per hektar per tahun. Umumnya, Perseroan dapat mengekstraksi sekitar 20% hingga 24% dari TBS berdasarkan berat. Perseroan dapat memisahkan sekitar 4,0% hingga 5,5% dari TBS berdasarkan berat, dalam pemrosesan CPO. Perseroan menggunakan tandan buah kosong untuk menutupi tanah sebagai pupuk organik agar menyuburkan dan meningkatkan kualitas tanah.
Program Penanaman Kembali
Perseroan umumnya melakukan penanaman kembali ketika produksi ekonomis di bawah 13 hingga 15 ton TBS per hektar per tahun, tergantung pada harga CPO yang berlaku saat itu. Hal ini biasanya dilakukan pada saat usia tanaman kelapa sawit sekitar 25 tahun. Perseroan belum melakukan program penanaman kembali di masa lalu dan memperkirakan tidak akan melakukannya dalam waktu dekat karena tanaman kelapa sawit Perseroan belum mencapai akhir dari usia ekonomisnya dan tidak ada tanaman kelapa sawit Perseroan yang berusia di atas 13 tahun pada tanggal 30 Juni 2010.
Pengolahan Minyak Kelapa Sawit
Fitur yang menarik dari tanaman kelapa sawit adalah menghasilkan dua jenis minyak: CPO dari mesocarp buah, dan PKO dari inti sawit. Perseroan saat ini menjual PK dan tidak mengolah PK menjadi PKO.
Perseroan menghasilkan CPO dan PK di PKS yang berlokasi di area perkebunan Anak Perusahaan Perseroan. Perseroan mengoperasikan dua PKS. Pada tanggal 30 Juni 2010, Perseroan memiliki kapasitas pengolahan CPO sebesar 105 ton TBS per jam atau sekitar 630.000 TBS per tahun, di kedua PKS Perseroan yang berlokasi di BLP dan BHL.
Tabel berikut menampilkan total TBS yang diolah untuk tiap periode yang diindikasikan, dan dibedakan berdasarkan TBS yang dihasilkan dari kebun Perseroan, Program Plasma dan TBS yang dibeli dari pihak ketiga. Pengolahan TBS oleh Perseroan dilakukan sejak PKS mulai beroperasi secara komersial pada bulan September 2004.
Tabel berikut ini menyajikan produksi Perseroan berdasarkan produk (termasuk produksi TBS yang dihasilkan lahan Plasma dan dibeli dari pihak ketiga) untuk:
(dalam ton)
Tabel berikut ini menyajikan rata-rata OER Perseroan per produk (termasuk produksi TBS yang dihasilkan lahan Plasma dan dibeli dari pihak ketiga) untuk:
(dalam persentase)
Perseroan berupaya untuk meningkatkan OER dengan mengimplementasikan prosedur pengendalian kualitas untuk mengurangi kehilangan minyak baik pada saat pengiriman TBS dari kebun ke PKS dan
Perseroan memiliki kapasitas yang memadai untuk semua TBS yang dipanen dari kebun pada saat periode puncak panen, yang biasanya terjadi di kuartal ketiga tiap tahun. Tingkat utilisasi PKS Perseroan berfluktuasi dimana penting untuk memiliki kapasitas pengolahan yang memadai guna memenuhi permintaan saat periode puncak panen. Maka, tingkat utilisasi aktual Perseroan lebih tinggi dibandingkan rata-rata tingkat utilisasi tahunan pada saat periode puncak panen. Di periode lainnya, tingkat utilisasi aktual Perseroan sering lebih rendah.
Proses Produksi
TBS dari perkebunan diangkut ke PKS dengan menggunakan truk angkutan TBS. TBS yang diterima PKS ditempatkan pada Stasiun Penerimaan TBS. Selanjutnya TBS tersebut di bawa ke stasiun rebusan dengan menggunakan lori-lori (kereta pengangkutan/cage), di stasiun rebusan TBS direbus dan diberikan tekanan/pressure bersamaan dengan lori-lori tersebut. Setelah matang TBS dibawa ke Thresher ( stasiun bantingan) untuk dipisahkan antara buah yang terlepas (loose fruit) dengan janjang kosong (empty bunch). Janjang kosong akan dibawa ke tempat penampungan kemudian janjang kosong tersebut akan digunakan sebagai pupuk di kebun Perseroan.
Buah yang terlepas (loose fruit) dari janjangnya selanjutnya masuk proses pencacahan (digesting) pada stasiun digester. Setelah buah dicacah dilanjutkan ke stasiun screwpress untuk dipisahkan antara minyak, serabut dan kernel. Minyak yang dihasilkan dari stasiun screwpress ini dimurnikan dan dipisahkan dari kotoran pada stasiun proses pemurnian minyak dimana hasilnya adalah CPO dan limbah. Serabut dari proses screwpress dibawa ke tungku pemanas (boiler) dan digunakan sebagai bahan bakar. Kernel dari stasiun screwpress dilanjutkan ke stasiun proses pengumpulan kernel (kernel recovery) untuk dipisahkan antara inti kernel, cangkang dan serabut. Untuk serabut dan kernel dibawa ke tungku pemanas (boiler) dan digunakan sebagai bahan bakar. Kernel yang telah dipisahkan dikumpulkan secara tersendiri.
Perbaikan Operasional
Perseroan telah mampu untuk meningkatkan kinerja secara substansial melalui implementasi sejumlah inisiatif, yang meliputi:
• Pengendalian biaya yang ketat dan penekanan yang lebih besar pada belanja modal;
• Implementasi prosedur sampel daun dan tanah untuk membantu dalam rekomendasi penggunaan pupuk untuk memperbaiki keseimbangan nutrisi;
• Memperbaiki pengelolaan air mentah yang menghasilkan air bersih yang digunakan untuk boiler dan juga mengurangi biaya penggunaan bahan kimia;
• Standar pemeliharaan yang ketat untuk seluruh mesin-mesin, kendaraan dan peralatan Perseroan;
• Memperbaiki pemeliharaan PKS;
• Menggunakan berbagai inovasi dan perbaikan untuk meningkatkan efisiensi dan mengurangi biaya produksi; dan
• Mengimplementasikan program daur ulang bebas sampah yang melibatkan sejumlah inisiatif seperti penggunaan effluent dari PKS sebagai pupuk di sejumlah area sebagai bagian dari program pemeliharaan lingkungan.
Tabel berikut menyajikan sejumlah informasi dan indikator kinerja kunci dari BLP dan BHL dan lahan Plasma untuk periode yang diindikasikan, dengan mengeluarkan produksi yang terkait dengan TBS dari pihak ketiga.
Tahun-tahun yang berakhir 31 Desember Periode-periode
enam bulan
yang berakhir
30 Juni
2005 2006 2007 2008 2009 2009 2010
BLP Lahan ditanami (ha) 5.333 6.094 7.333 7.988 8.724 8.555 8.724
Lahan TM (ha) 5.184 5.184 5.333 5.333 5.333 5.333 6.094
Rata-rata usia lahan TM (tahun) 6,3 7,3 8,2 9,2 10,2 9,7 10,3
Produksi TBS (ton) 51.774 69.411 108.069 128.884 153.631 83.819 64.869
Produksi (ton TBS per hektar) 10,0 13,4 20,3 24,2 28,8 15,7 10,6
BHL
Lahan ditanami (ha) 7.542 7.917 10.005 12.063 12.063 12.063 12,063
Lahan TM (ha) 6.898 6.898 6.898 7.068 7.542 7.542 7.917
Rata-rata usia lahan TM (tahun) 5,6 6,6 7,6 8,5 9,2 8,8 9.9
Produksi TBS (ton) 64.370 82.465 131.435 153.175 197.612 90.445 94.898
Produksi (ton TBS per hektar) 9,3 12,0 19,1 21,7 26,2 12,0 12,0
Sebagai hasil dari inisiatif-inisiatif yang diambil Perseroan dan profil kematangan dari kebun Perseroan, rata-rata produksi BLP meningkat dari 10,0 ton TBS per hektar pada tahun 2005 menjadi 28,8 ton TBS per hektar pada tahun 2009, yang merupakan peningkatan sebesar 188,0%. Untuk periode enam bulan yang berakhir 30 Juni 2010, rata-rata produksi BLP adalah sebesar 10,6 ton TBS per hektar, atau menurun 32,5% dibanding periode enam bulan yang berakhir 30 Juni 2009 yang sebesar 15,7 ton TBS per hektar. Demikian juga dengan rata-rata produksi BHL yang meningkat dari 9,3 ton TBS per hektar pada
Sebagai hasil dari inisiatif-inisiatif yang diambil Perseroan dan profil kematangan dari kebun Perseroan, rata-rata produksi BLP meningkat dari 10,0 ton TBS per hektar pada tahun 2005 menjadi 28,8 ton TBS per hektar pada tahun 2009, yang merupakan peningkatan sebesar 188,0%. Untuk periode enam bulan yang berakhir 30 Juni 2010, rata-rata produksi BLP adalah sebesar 10,6 ton TBS per hektar, atau menurun 32,5% dibanding periode enam bulan yang berakhir 30 Juni 2009 yang sebesar 15,7 ton TBS per hektar. Demikian juga dengan rata-rata produksi BHL yang meningkat dari 9,3 ton TBS per hektar pada