• Tidak ada hasil yang ditemukan

PT Sawit Sukses Sejahtera (“SSS”) (a) Riwayat Singkat

OBLIGASI I BW PLANTATION TAHUN 2010 DENGAN TINGKAT BUNGA TETAP JANGKA WAKTU DAN JATUH TEMPO

KOMITMEN DAN KONTINJENSI

VIII. KETERANGAN TENTANG PERSEROAN DAN ANAK PERUSAHAAN PERSEROAN

4. PT Sawit Sukses Sejahtera (“SSS”) (a) Riwayat Singkat

SSS, berkedudukan hukum di Jakarta, adalah suatu perseroan terbatas yang didirikan berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia didirikan dengan Akta Pendirian No. 625, tanggal 8 Mei 1995 yang diperbaiki dengan Akta No.55, tanggal 13 Oktober 1997, keduanya dibuat di hadapan Poerbaningsih Adi Warsito, SH, Notaris di Jakarta, dan kemudian diubah kembali dengan Akta No.22, tanggal 5 Pebruari 1999, dibuat oleh Irawan Soerodjo, SH, Notaris di Jakarta, dan terakhir kali diubah kembali dengan Akta No.3 tanggal 3 Mei 1999, dibuat di hadapan Harra Mieltuani Lubis, SH, CN., pengganti dari Irawan Soerodjo, SH, Notaris di Jakarta, akta-akta mana telah memperoleh pengesahan dari Menteri Kehakiman Republik Indonesia berdasarkan Surat Keputusan No. C-10393 HT.01.01.TH.99 tanggal 2 Juni 1999, didaftarkan di Kantor Pendaftaran Perusahaan dengan No. 2609/BH0905/XII/2000 tanggal 12 Desember 2000 dan diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia No. 27 tanggal 3 April 2001, Tambahan No. 2084.

Sejak Perseroan melakukan Penawaran Umum Saham Perdana, SSS telah melakukan perubahan anggaran dasar. Sehingga, Anggaran Dasar SSS terakhir adalah berdasarkan Akta Pernyataan Keputusan Rapat No. 36, tanggal 24 September 2010 yang dibuat dihadapan Muhamman Hanafi, SH, Notaris di Jakarta yang yang sedang dalam proses pengurusan untuk memperoleh Persetujuan dari Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia (“Akta No. 36/2010”). Akta tersebut mengubah Pasal 4 ayat 1 dan ayat 2 yaitu peningkatan modal dasar, modal ditempatkan dan modal disetor SSS.

SSS memiliki kantor dengan alamat Menara Batavia Lantai 18, Jalan KH Mas Mansyur Kav. 126, Jakarta 10220. Kebun SSS berlokasi di Desa Senyiur, Kecamatan Muara Ancalong, Kabupaten Kutai Timur, Propinsi Kalimantan Timur.

(b) Kegiatan Usaha

Kegiatan usaha utama SSS adalah bergerak di bidang perkebunan kelapa sawit. SSS mulai beroperasi secara komersial pada tahun 1997.

(c) Permodalan

Berdasarkan Akta No. 36/2010, susunan permodalan dan pemegang saham SSS adalah sebagai berikut:

No. Nama Pemegang Saham Nilai Nominal Rp. 1.000 per saham %

Nominal (Rp.) Jumlah Saham

Modal Dasar 300.000.000.000 300.000.000

Modal Ditempatkan dan Disetor Penuh

1. Perseroan 281.913.899.000 281.913.899 99,99

2. PT Pranabumi Pratama 1.000 1 0,01

Jumlah Modal Ditempatkan dan Disetor Penuh 281.913.900.000 281.913.900

Saham dalam Portepel 418.086.100.000 418.086.100

(d) Pengurusan dan Pengawasan

Berdasarkan Akta No.17/2008, sampai dengan Prospektus ini diterbitkan susunan anggota Direksi dan Dewan Komisaris SSS adalah sebagai berikut:

Direksi

Direktur Utama : Tjipto Widodo Direktur : Hartono Widodo Direktur : Sudjono Halim Dewan Komisaris

Komisaris : Sardjono Widodo (e) Ikhtisar Keuangan

Tabel berikut ini menggambarkan data keuangan penting dari laporan keuangan SSS untuk periode-periode enam bulan yang berakhir 30 Juni 2010 dan 2009 serta untuk tahun-tahun yang berakhir 31 Desember 2009, 2008 dan 2007. Laporan keuangan untuk periode enam bulan yang berakhir pada tanggal 30 Juni 2010 telah diaudit oleh Kantor Akuntan Publik Mulyamin Sensi Suryanto dengan pendapat Wajar Tanpa Pengecualian dengan paragraf penjelasan mengenai Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 50 (Revisi 2006) tentang Instrumen Keuangan Penyajian dan Pengungkapan dan PSAK No. 55 (Revisi 2006) tentang Instrumen Keuangan Pengakuan dan Pengukuran pada tahun 2010. Laporan keuangan untuk periode enam bulan yang berakhir pada

dan 2007 telah di audit oleh Kantor Akuntan Publik Mulyamin Sensi Suryanto dengan pendapat Wajar Tanpa Pengecualian.

(dalam jutaan Rupiah)

Keterangan Periode-periode enam Tahun-tahun yang berakhir

bulan yang berakhir 31 Desember

30 Juni

2010 2009 2009 2008 2007

Beban Usaha 2.736 3.414 11.078 7.421 4.778

Rugi Usaha (2.736) (3.414) (11.078) (7.421) (4.778)

Rugi Bersih (2.034) (2.926) (11.676) (6.136) (4.270)

Jumlah Aset 313.555 91.297 195.458 66.532 6.450

Jumlah Kewajiban 338.113 105.071 217.984 77.380 11.162

Jumlah Defisiensi modal 24.558 13.774 22.524 10.848 4.712

Periode enam bulan 30 Juni 2010 dibandingkan dengan periode enam bulan 30 Juni 2009

Beban usaha SSS menurun sebesar 19,9% dari Rp 3.414 juta pada periode enam bulan yang berakhir 30 Juni 2009 menjadi Rp 2.736 juta pada periode enam bulan yang berakhir 30 Juni 2010 terutama disebabkan oleh penurunan beban perijinan dan pajak sebesar Rp 27 juta dan biaya asuransi sebesar Rp 80 juta.

Rugi bersih SSS menurun sebesar 30,5% dari Rp 2.926 juta pada periode enam bulan yang berakhir 30 Juni 2009 menjadi Rp 2.034 juta pada periode enam bulan yang berakhir 30 Juni 2010 terutama disebabkan oleh penurunan beban usaha sebesar Rp 677 juta.

Aset bersih SSS meningkat sebesar 243,4% dari Rp 91.297 juta pada tanggal 30 Juni 2009 menjadi Rp 313.555 juta pada tanggal 30 Juni 2010 terutama disebabkan oleh peningkatan saldo pembibitan dan penanaman kelapa sawit serta pembelian aset tetap selama periode enam bulan yang berakhir 30 Juni 2010.

Kewajiban SSS meningkat sebesar 78,3% dari Rp 105.071 juta pada tanggal 30 Juni 2009 menjadi Rp 24.558 juta pada tanggal 30 Juni 2010 terutama disebabkan oleh peningkatan hutang kepada pihak yang mempunyai hubungan istimewa.

Defisiensi modal SSS meningkat sebesar 78,3% dari Rp 13.774 juta pada tanggal 30 Juni 2009 menjadi Rp 24.558 juta pada tanggal 30 Juni 2010 terutama disebabkan oleh rugi bersih yang dialami selama periode dari 30 Juni 2009 hingga 30 Juni 2010.

Tahun 2009 dibandingkan dengan tahun 2008

Beban usaha SSS meningkat sebesar 49,3% dari Rp 7.421 juta pada tahun 2008 menjadi Rp 11.078 juta pada tahun 2009 terutama disebabkan oleh peningkatan biaya gaji dan tunjangan sebesar Rp 2.161 juta.

Rugi bersih SSS meningkat sebesar 90,3% dari rugi Rp 6.136 juta pada tahun 2008 menjadi rugi Rp 11.676 juta pada tahun 2009 terutama disebabkan oleh peningkatan beban usaha sebesar Rp 3.657 juta.

Aset SSS meningkat sebesar 193,8% dari Rp 66.532 juta pada tahun 2008 menjadi Rp 195.458 juta pada tahun 2009 terutama disebabkan oleh peningkatan tanaman belum menghasilkan sebesar Rp 81.367 juta, pembibitan sebesar Rp 2.826 juta dan aset tetap sebesar Rp 6.441 juta.

Kewajiban SSS meningkat sebesar 181,7% dari Rp 77.380 juta pada tahun 2008 menjadi Rp 217.984 juta pada tahun 2009 terutama disebabkan oleh peningkatan hutang kepada pihak yang mempunyai hubungan istimewa sebesar Rp 142.161 juta dan peningkatan hutang usaha sebesar Rp 2.771 juta.

Defisiensi modal SSS meningkat sebesar 107,6% dari Rp 10.848 juta pada tahun 2008 menjadi Rp 22.524 juta pada tahun 2008 terutama disebabkan oleh peningkatan defisit SSS dari penambahan

Tahun 2008 dibandingkan dengan tahun 2007

Beban usaha SSS meningkat sebesar 55,3% dari Rp 4.778 juta pada tahun 2007 menjadi Rp 7.421 juta pada tahun 2008 terutama disebabkan oleh peningkatan biaya gaji dan tunjangan sebesar Rp 2.368 juta.

Rugi bersih SSS meningkat sebesar 43,7% dari rugi Rp 4.270 juta pada tahun 2007 menjadi rugi Rp 6.136 juta pada tahun 2008 terutama disebabkan oleh peningkatan beban usaha sebesar Rp 2.643 juta.

Aset SSS meningkat sebesar 931,5% dari Rp 6.450 juta pada tahun 2007 menjadi Rp 66.532 juta pada tahun 2008 terutama disebabkan oleh peningkatan tanaman belum menghasilkan sebesar Rp 19.176 juta, pembibitan sebesar Rp 11.633 juta dan aset tetap sebesar Rp 12.056 juta.

Kewajiban SSS meningkat sebesar 593,2% dari Rp 11.162 juta pada tahun 2007 menjadi Rp 77.380 juta pada tahun 2008 terutama disebabkan oleh peningkatan hutang kepada pihak yang mempunyai hubungan istimewa sebesar Rp 45.499 juta dan peningkatan hutang usaha sebesar Rp 16.284 juta.

Defisiensi modal SSS meningkat sebesar 130,2% dari Rp 4.712 juta pada tahun 2007 menjadi Rp 10.848 juta pada tahun 2008 terutama disebabkan oleh peningkatan defisit SSS dari penambahan rugi bersih tahun berjalan sebesar Rp 6.136 juta.

5. PT Bumihutani Lestari (“BHL”)