1. Metode Kuadrat Terkecil
Metode kuadrat terkecil ini digunakan pada model prakiraan pasar yaitu untuk menentukan persamaan garis regresi berdasarkan data yang ada.
Analisa regresi merupakan penelaahan hubungan fungsional dua variabel atau lebih untuk mencari bentuk persamaan yang sesuai dan berguna dalam meramal keadaan atau kejadian dari perubahan variabel tertentu (Dayan, 1984). Analisa regresi terdiri dari dua macam yaitu regresi linear dan non linear. Di dalam analisa regresi akan dibedakan dua jenis variabel yaitu variabel bebas atau prediktor dan variabel tidak bebas atau respon.
Menurut Dayan (1984) metode kuadrat terkecil berpangkal pada kenyataan bahwa jumlah pangkat dua (kuadrat) memiliki jarak antara titik-titik dengan garis regresi yang dicari harus sekecil mungkin. Permasalahan yang terdiri dari sebuah variabel bebas X dan variabel tidak bebas Y dimana model regresi linear untuk populasi dalam persamaan Y = mx + b telah dapat diduga maka penaksiran parameter-parameter regresi dapat dilakukan dengan menggunakan rumus:
m = Koefisien regresi (Kemiringan/Slope)
b = Titik perpotongan dengan garis Y (Intercept)
Pengukuran ketepatan model yang digunakan akan diuji dengan koefisien determinasi (r2) yang menunjukkan persentase dari total variasi yang dapat dijelaskan oleh model tersebut. Nilai koefisien berkisar antara 0 sampai dengan 1. Perhitungan koefisien determinasi menggunakan persamaan berikut:
2. Metode Perbandingan Eksponensial
Metode perbandingan eksponensial ini digunakan pada model lokasi, yaitu untuk perhitungan nilai setiap alternatif lokasi berdasarkan nilai kriteria pada setiap lokasi dan bobot atau tingkat kepentingan setiap kriteria yang digunakan, hasil dari metode ini adalah nilai akhir setiap lokasi. Menurut Assauri (1993), terdapat tiga metode pemilihan lokasi pabrik yaitu berdasarkan keunggulan komparatif, perbandingan biaya dan analisis ekonomi. Metode perbandingan eksponensial (MPE) merupakan bentuk metode pengambilan keputusan yang dapat digunakan dalam pemilihan lokasi berdasarkan pada keunggulan komparatif. Asumsi dasar yang digunakan adalah pengambilan keputusan harus mempunyai kemampuan untuk dapat menentukan derajat kepentingan relatif kriteria dan pilihan keputusan.
Metode perbandingan eksponensial digunakan sebagai pembantu bagi individu pengambil keputusan untuk menggunakan rancang bangun model yang telah terdefinisi dengan baik pada setiap tahapan proses. Menurut Manning (1984) tahapan yang dilakukan dalam melaksanakan teknik MPE adalah:
1) Menulis alternatif
2) Menentukan kriteria-kriteria penting dalam pengambilan keputusan 3) Mengadakan penelitian terhadap setiap kriteria
4) Mengadakan penilaian terhadap semua alternatif pada masing-masing kriteria
5) Menghitung nilai dari setiap alternatif
6) Memberikan jenjang kepada alternatif dengan didasarkan pada nilai masing-masing
Perhitungan nilai untuk masing-masing alternatif adalah sebagai berikut:
( )
Vij Bj NKi=∑
Keterangan :
Nki = Nilai keputusan alternatif i Vij = Nilai kriteria j pada alternatif i Bj = Bobot kriteria j, Bj > 0
3. Deviasi Standar dan Varians
Deviasi standar dan varians ini digunakan untuk menganalisa tingkat resiko dari investasi yang akan ditanam berdasarkan kemungkinan aliran kas yang terjadi. Angka koefisien varians digunakan untuk mengukur resiko investasi, angka ini akan sangat berguna untuk melihat bila usulan yang dikaji berbeda baik nilai yang diharapkan maupun deviasi standarnya.
Menurut Soeharto (1997), deviasi standar adalah pengukuran variabilitas distribusi berdasarkan ilmu statistik, sedangkan varians adalah pangkat dua dari deviasi standar dengan rumus sebagai berikut:
( ) ( )
(CF)xt = Aliran kas untuk kemungkinan ke-x, periode t (CF) t = Nilai aliran kas yang diharapkan
(P)xt = Probabilitas kemungkinan aliran kas terjadi CV = Koefisien varians
NP = Nilai yang diharapkan
4. Pembiayaan Konvensional a. Net Present Value (NPV)
Nilai bersih saat ini yang diperoleh dengan jalan mendiskontokan selisih antara jumlah kas yang keluar dan kas yang masuk tiap-tiap tahun dengan satu tingkat persentase bunga yang telah ditentukan sebelumnya.
Persamaan yang digunakan:
( )
Kriteria yang diambil jika BCR >1 maka proyek diterima, BCR<1 maka proyek tidak dapat diterima sedangkan jika BCR=1 proyek tersebut berada pada titik impas, pada kondisi ini pemilik proyek tidak mendapatkan laba dari hasil usahanya dan tidak mengalami kerugian atas usaha yang dijalankannya.
c. Internal Rate of Return (IRR)
IRR adalah suku bunga (i*) yang menyebabkan nilai NPV sama dengan nol, sehingga nilai sekarang dari aliran uang tunai yang masuk sama dengan nilai sekarang dari nilai yang keluar. IRR dapat dinyatakan pula sebagai tingkat hasil atas investasi bersih. Persamaan IRR adalah sebagai berikut:
Tingkat suku bunga i1 adalah tingkat suku bunga yang menyebabkan NPV1 positif sedangkan i2 adalah tingkat suku bunga yang menyebabkab NPV2 negatif . Kriteria IRR adalah tingkat suku bunga yang berlaku (i) jika i* > i, maka proyek tersebut layak.
d. Pay Back Period (PBP)
PBP adalah jangka waktu untuk pengembalian investasi awal, keputusan yang diambil berdasarkan kriteria waktu. Nilai PBP didapatkan dari persamaan berikut:
Dimana t adalah tahun proyek pada saat arus kas kumulatif (AKK) bernilai negatif dan t+1 adalah tahun proyek ketika AKK bernilai positif.
e. Break Even Point (BEP)
BEP adalah suatu analisa yang bertujuan untuk menemukan satu titik dimana pengeluaran sama dengan pendapatan. Hasil BEP akan menunjukkan besarnya pendapatan yang sama dengan pengeluaran atau dengan kata lain impas yaitu keadaan dimana tidak untung dan tidak rugi sehingga apabila lebih dari angka atau titik tersebut maka mulai mendapatkan keuntungan. Perumusan BEP dengan pendekatan biaya sama dengan pendapatan adalah sebagai berikut:
⎟⎟⎠
5. Pembiayaan Syariah
a. Pembiayaan Mudharabah
Menurut Zulkifli (2003), pada pembiayaan mudharabah, bank bertindak sebagai penyedia dana seluruhnya sedangkan nasabah hanya menyediakan keterampilan usaha dan manajemen. Pengembalian dana usaha dan porsi bagi hasil kedua belah pihak dilakukan dengan menghitung keuntungan yang ingin diperoleh pihak bank, kemudian menghitung nisbahnya. Cara penghitungan penetapan nisbah bagi hasil pembiayaan mudharabah dapat dilihat pada rumus berikut:
Md
Pada pembiayaan musyarakah, bank dan nasabah sama-sama memiliki kontribusi dana modal. Pengembalian dana usaha dan porsi bagi hasil antara kedua pihak dilakukan sesuai dengan porsi modal yang ditanamkan (Zulkifli, 2003). Cara penghitungan penetapan nisbah bagi hasil pembiayaan musyarakah dapat dilihat dari rumus berikut:
PM PM : Persentase penyertaan modal (%) Op : Omzet penjualan (Rp)
c. Pembiayaan Murabahah
Pada pembiayaan murabahah, bank bertindak sebagai pihak penjual kepada nasabah dengan membelikan suatu barang yang pembayarannya dapat ditangguhkan atau dicicil (Zulkifli, 2003). Dalam
pembiayaan ini, bank menetapkan tingkat keuntungannya di muka, yang disebut dengan profit margin. Cara perhitungan harga jual dan fasilitas angsurannya dapat dilihat pada rumus berikut:
)
t : Jangka waktu pembayaran (tahun)