• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II. KATEKESE SEBAGAI UPAYA PENDAMPINGAN

A. Katekese Model SCP untuk kaum muda katolik di Asrama Putri

2. Langkah-langkah Shared Christian Praxis (SCP)

Katekese model Shared Christian Praxis (SCP) merupakan salah satu pilihan yang akan digunakan untuk kegiatan pendampingan iman kaum muda katolik di Asrama Putri St. Theresia Kabanjahe. Katekese model SCP, memiliki lima langkah yang saling berkesinambungan antara langkah pertama sampai dengan langkah kelima. Oleh karena itu pemandu atau fasilitator pendampingan iman kaum muda hendaknya memperhatikan kelima langkah tersebut dan mengusahakan supaya proses pelaksanaannya bisa berjalan sesuai dengan langkah-langkahnya.

Sumbernya adalah pengalaman hidup kaum muda yang diinterpretasikan dengan Tradisi dan Visi Kristiani diolah secara bersama dan direfleksikan secara kritis oleh kaum muda yang hasilnya nanti akan mengarah pada suatu tindakan konkrit berdasarkan Visi Kristiani.

Dalam SCP, langkah awal disebut langkah 0, dikenal dengan pemusatan aktivitas. Dalam tahap ini, sarana yang digunakan adalah berbagai simbol, cerita bermakna, foto, poster, kaset, drama, film, video dan lain-lain.

a. Langkah Pertama: Pengungkapan pengalaman hidup faktual

Adapun tujuan dari langkah pertama ini adalah menyadari dan mengungkapkan pengalaman peserta sendiri (Sumarno, 2005: 19). Dalam hal ini peserta berusaha memperkaya keyakinannya sebagai subyek katekese, yaitu bahwa kaum muda juga berhak menentukan dan mengatur kehidupanya sendiri. Isi ungkapan pengalaman ini lebih pada pengalaman peserta sendiri, persoalan atau permasalaha dalam bidang sosial, ekonomi dan budaya yang terdapat dalam masyarakat maupun gabungan dari keduanya (Sumarno, 2005: 19).

Hal penting yang mau diungkap disini adalah pengalaman hidup yang sungguh nyata atau dialami oleh peserta. Setiap persoalan yang mereka alami diungkapkan secara unik, tergantung persoalan yang melatarbelakanginya. Maka unsur dialog menjadi penting dan perlu ditekankan dan bahwa pengalaman yang sudah dibagikan kepada semua peserta tidak boleh ditanggapi sebagai suatu laporan (Sumarno, 2005: 19). Bila itu dilakukan bisa berakibat peserta lain menjadi tidak berani mengungkapkan pengalamannya.

Oleh karena itu diharapkan setiap peserta yang mengikuti jalannya kegiatan katekese mampu menjadi pendengar yang baik, yang mampu memberikan kesempatan kepada kaum muda yang lain untuk mengungkapkan segala persoalannya ataupun pengalamannya dengan lancar. Dalam langkah yang pertama ini, idealnya semua peserta dapat berdialog bersama secara perorangan namun tidak tertutup kemungkinan adanya peserta yang sulit untuk berdialog. Bila kemungkinan ini terjadi, bukan berarti langkah pertama menjadi gagal karena berbicara atau tidak bukan merupakan ukuran utama untuk menilai keberhasilan, karena berkomunikasi bisa dilakukan dengan berbagai macam cara dan salah satunya adalah diam dan diam tidak sama dengan tidak terlibat (Sumarno, 2005: 19).

Relevansi langkah pertama katekese model SCP bagi kaum muda adalah, mereka dapat membagikan pengalaman hidupnya kepada peserta lain. Peserta yang lain mendengarkan dan mempunyai kesempatan untuk berempati dan menimba pengalaman peserta lain sehingga dapat saling memperkaya.

b. Langkah Kedua: Refleksi kritis atas sharing pengalaman hidup faktual Dalam langkah pertama, peserta diberi kesempatan mengungkapkan seluruh pengalamannya yang aktual, selanjutnya dalam langkah kedua ini peserta diajak untuk memperdalam saat refleksi dan mengantar peserta pada kesadaran kritis akan pengalaman hidup dan tindakannya yang meliputi: pemahaman kritis sosial, kenangan analitis sosial, imajinasi kreatif dan sosial (Sumarno, 2005: 20). Mendalami pengalamannya melalui sebuah refleksi kritis, peserta tidak hanya tahu dan mengungkapkan persoalannya saja, namun melalui persoalan-persoalan

tersebut kaum muda akhirnya diharapkan mampu berefleksi yang mengantarnya sampai pada suatu kesadaran kritis atas persoalan-persoalan yang ada.

Jika peserta memiliki kesadaran kritis terhadap semua persoalan yang dialami atau dirasakannya, diharapkan ini akan membawa dirinya kepada tindakan dalam rangka mengupayakan perubahan di asrama, keluarga, Gereja dan masyarakat. Oleh karena itu refleksi kritis mutlak diperlukan, supaya praxis keluar lebih terarah dan memiliki tujuan yang jelas yaitu demi perubahan diri kearah yang lebih positif.

Pada langkah kedua ini terdapat tiga perspektif yang harus diperhatikan oleh peserta : Pertama, akal budi kritis dalam mengevaluasi masa sekarang, yang direfleksikan adalah praxis pengalaman faktual yang telah dikomunikasikan, tekanannya adalah mengetahui apa yang terjadi pada saat ini dan tidak hanya tinggal diam dan menerima begitu saja. Peserta memperdalam, mempertajam dan mengolah pengalamannya sampai kepada proses yang dialektis dan refleksi dari pengalaman hidup. Kedua, ingatan kritis untuk menyingkap masa lalu dan masa sekarang. Interpretasi kritis dan kreatif, praxis faktual dipahami sebagai “teks” yang harus dirafsirkan lalu diberi arti sesuai dengan situasi zaman sekarang, baik sebagai pribadi maupun sosial sehingga peserta menyadari bahwa pengalaman itu sungguh-sungguh menjadi pengalaman personal. Ketiga, imaginasi kreatif menghadapi masa depan dan masa sekarang, artinya peserta diajak memiliki wawasan yang jauh lebih maju dari pengalaman-pengalaman sebelumnya, karena ada ungkapan yang mengatakan bahwa “pengalaman adalah guru yang terbaik”

disinilah proses kreatifitas itu dimunculkan untuk melahirkan hal-hal yang baru dan lebih baik dari sebelumnya (Sumarno, 2005: 16).

Relevansi langkah kedua katekese model SCP bagi kaum muda adalah mengajak kaum muda untuk lebih mendalami pengalaman hidupnya. Mengajak peserta untuk mengedepankan pengalaman hidup karena semua merupakan pengalaman yang sungguh membekas dan menjadi kenangan terindah dalam hidup.

c. Langkah Ketiga: mengusahakan supaya Tradisi dan Visi Kristiani lebih terjangkau.

Mengusahakan supaya Tradisi dan Visi Kristiani terjangkau. Langkah ketiga ini bisa disebut dengan penggalian pengalaman iman kristiani. Langkah ini bertujuan untuk mengkomunikasikan nilai-nilai Tradisi dan Visi Kristiani agar lebih terjangkau dan lebih mengena untuk kehidupan peserta yang kontekstual dan berasal dari latar belakang kebudayaan mereka yang berbeda. Tradisi Kristiani yang diungkapkan ialah perwahyuan diri dan kehendak Allah pada manusia yang muncak dalam misteri hidup dan karya Yesus Kristus, serta mengungkapkan tanggapan manusia atas perwahyuan Allah. Sifat perwahyuan Ilahi yang dialogal, menyejarah, normatif, seperti terungkap dala Kitab Suci, dogma, pengajaran Gereja, liturgi, spiritualitas, devosi, seni dalam Gereja, kegiatan pendampingan dan kehidupan jemaat beriman.

Peran pendamping pada langkah ini ialah menafsirkan. Dalam menafsirkan, pendamping menghormati Tradisi dan Visi Kristiani seperti hal yang otentik dan normatif. Tafsiran yang diberikan bertujuan untuk memberikan

informasi dan membantu peserta memahami nilai-nilai Tradisi dan Visi Kristiani yang ada. Dalam menafsirkan ini pendamping menggunakan metode yang tepat, seperti diskusi kelompok dan memanfaatkan produk-produk audio-visual atau media lainnya. Pendamping bersikap tidak mendikte tetapi menghantarkan peserta ketingkat kesadaran. Pendamping tidak mengulang-ulang rumusan dan tidak bersikap sebagai guru. Tafsiran dari pendamping mengikutsertakan kesaksian iman, harapan dan hidupnya sendiri. Pendamping juga mempunyai persiapan yang matang dan studi sendiri (Sumarno, 2010: 21).

Relevansinya, peserta dihadapkan pada nilai-nilai Tradisi dan Visi Kristiani untuk dikomunikasikan dengan pengalaman hidupnya, sehingga pengalamannya sungguh menjadi pengalaman iman yang diharapkan mengarahkan dirinya ke arah hidup yang lebih baik.

d. Langkah Keempat : Menerapkan Iman Kristiani Dalam Situasi Konkrit Langkah ini bertujuan untuk mengkomunikasikan nilai-nilai Tradisi dan Visi Kristiani agar lebih terjangkau dan lebih mengena untuk kehidupan peserta yang kontekstual dan berasal dari latar belakang kebudayaan mereka yang berbeda. Tradisi Kristiani yang diungkapkan ialah perwahyuan diri dan kehendak Allah pada manusia yang muncak dalam misteri hidup dan karya Yesus Kristus, serta mengungkapkan tanggapan manusia atas perwahyuan Allah.Pada langkah ke empat ini peserta dan seorang fasilitator berdasarkan nilai-nilai Tradisi dan Visi Kristiani, berusaha menemukan bagi dirinya sendiri makna baru yang memiliki arti dan hendak dikembangkan dalam kehidupannya sendiri (Sumarno, 2005: 20).

Tujuannya adalah mengajak peserta untuk menemukan nilai hidup yang hendak digarisbawahi berdasarkan nilai Tradisi dan Visi Kristiani, sikap-sikap pribadi yang picik hendak dihilangkan dan nilai-nilai baru yang lebih positif hendak dikembangkan. Peserta mengintegrasikan nilai-nilai hidup mereka dalam Tradisi dan Visi Kristiani serta mempersonalisasikan dan memperkaya dinamika Tradisi dan Visi Kristiani.

Pada langkah ini peserta mendialogkan hasil pengolahan mereka pada langkah pertama dan kedua dengan kedua isi pokok pada langkah ketiga. Yang diolah pada langkah ini adalah bagaimana nilai-nilai Tradisi dan Visi Kristiani meneguhkan, mengkritik atau mempertanyakan perihal Tradisi dan Visi Kristiani dan mengundang mereka melangkah pada kehidupan yang lebih baik dengan semangat, nilai dan iman yang baru demi terwujudnya Kerajaan Allah. Pada langkah ini yang didialogkan adalah sikap, perasaan, instuisi, persepsi, evaluasi dan penegasannya yang menyatakan kebenaran, nilai serta kesadaran yang diyakini. Cara yang digunakan dalam mendialogkan antara lain menggunakan tulisan, penjelasan, simbol atau ekspresi artistik dan sebagainya. Dalam langkah ini yang paling dihindari adalah adanya subyektivisme yang mengatakan bahwa pendapat peserta tertentu yang paling benar dan obyektivisme yang mengatakan bahwa tafsiran pendamping sebagai kebenaran satu-satunya.

Peran pendamping adalah menghormati kebebasan dan hasil penegasan peserta, termasuk peserta yang menolak tafsiran pendamping. Pendamping meyakini bahwa peserta mampu mempertemukan nilai pengalaman hidup dan visi mereka dengan Tradisi dan Visi Kristiani. Relevansi langkah keempat katekese

model SCP bagi kaum muda ini adalah peserta memperoleh tambahan pengetahuan lewat tafsir yang diberikan pendamping.

e. Langkah Kelima: Keterlibatan Baru Demi Makin Terwujudnya Kerajaan Allah Di Dunia

Kekhasan dalam langkah kelima, peserta diajak menentukan suatu keputusan konkrit untuk melakukan sesuatu yang lebih positif dari apa yang dipahami, dihayati, direfleksikan secara kreatif dan bertanggung jawab di tengah masyarakat (Groome, 1997: 34). Dengan demikian terjadi pertobatan personal dan menyeluruh dalam berbagai bidang. Sedangkan dimensi sosialnya meliputi komitmen kepada yang miskin dan tertindas demi terwujudnya Kerajaan Allah di tengah masyarakat (Groome, 1997: 36-37).

Hal pokok yang mendasari setiap keputusan pribadi maupun bersama untuk melakukan tindakan adalah perwahyuan Allah sendiri dalam sejarah kehidupan manusia dan kemudian manusia wajib menggapinya dengan sikap iman yang dewasa yaitu sesuai dengan Tradisi Gereja sepanjang sejarah dan Visi Kristiani (Groome, 1997: 49). Maka seorang fasilitator harus mampu merumuskan pertanyaan-pertanyaan operasional yang membantu peserta, terakhir mengusahakan supaya peserta sampai pada keputusan terakhir dan berdoa bersama untuk mendoakan keputusannya (Sumarno, 2005: 22). Relevansi langkah kelima katekese model SCP bagi kaum muda adalah, mengajak peserta membuat niat konkrit sebagai wujud usaha menghidupi iman Kristiani, serta sebagai wujud pertobatan nyata kaum muda dalam hidup sehari-hari.

B. Usulan Program Pendampingan Iman Kaum Muda di Asrama Putri St.

Dokumen terkait