BAB II. KATEKESE SEBAGAI UPAYA PENDAMPINGAN
C. Pendampingan Iman Kaum Muda
2. Tujuan Pendampingan Iman Kaum Muda
Selain pengertian di atas, kita juga akan melihat apakah tujuan dari pendampingan. Pendampingan dilaksanakan dengan tujuan sebagai berikut:
a) Pertama, tujuan pendampingan mencakup segala daya dan segi hidup kaum muda: budi, hati, kehendak, sikap, kecakapan, perbuatan, perilaku, hidup. Pendampingan bukan menghasilkan orang-orang teorotis, tetapi juga praktis. Sebaliknya, tujuan pendampingan itu tidak hanya “menciptakan” kaum muda-mudi yang hanya dapat melaksanakan sesuatu dan bersikap praktis-praktis saja, tetapi juga mengetahui latar belakang hal yang dilakukan dan alasan-alasannya yang lebih dalam.
b) Kedua, tujuan pendampingan memberi tekanan khusus kepada latihan penguasaan metode dan kecakapan. Pendampingan yang dimaksudkan adalah bukan untuk sekedar memuaskan keinginan tahu, tetapi pengembangan daya pikir, daya cari, daya kreatif. Pendampingan
bermaksudkan mengembangkan ilmu, menambah pengetahuan, dan mendapatkan informasi baru.
c) Ketiga, tujuan pendampingan jangkauannya tidak hanya terbatas pada lingkup pribadi dan kelompok yang terbatas, tetapi mencakup lingkup sosial dan ada dampaknya bagi masyarakat. Pendampingan juga bertujuan untuk menempa orang muda menjadi para muda-mudi yang mampu berperan demi kemajuan masyarakat (Mangunhardjana, 1986a: 26).
Atas dasar ketiga tujuan di atas, kita dapat menarik kesimpulan, akan pentingnya pendampingan iman kepada kaum muda. Selain semakin mendekatkan mereka dengan Tuhan, pendampingan juga bertujuan membantu kaum muda untuk mewujudnyatakan imannya akan Yesus Kristus melalui tindakan nyata kepada sesama dalam hidupnya. Kaum muda yang dapat terlibat dalam mengatasi permasalahan sosial yang ada di tengah masyarakat, baik dengan memberikan sumbangan pemikiran ataupun terlibat langsung. Bertanggung jawab terhadap tugas yang diembannya, menjalin relasi dengan sesama tanpa membeda-bedakan dan mengambangkan talenta yang dimilikinya.
3. Pengertian iman
Setiap orang yang hidup di dunia ini mempunyai iman dan kepercayaan mereka masing-masing. Banyak sekali agama tetapi hanya satu yang dimuliakan oleh berbagai agama itu yaitu Tuhan, agama merupakan sarana untuk mendekatkan umat kepada Tuhan dalam iman mereka.
Iman berarti bertemu dengan Allah dan hidup dalam kesatuan dengan-Nya. Iman bukanlah pertama-tama berarti menerima aturan, khususnya untuk bidang moral, melainkan menghayati hidup secara otonom dan bertanggung jawab dalam kesatuan pribadi dengan Allah. (KWI, 1996: 15).
Dalam hal ini iman akan Tuhan bukanlah karena suatu keterpaksaan, misalnya karena berbagai macam aturan yang ada didalamnya melainkan dipilih
dengan bebas. Iman itu bersifat teologis, karena obyek iman itu ialah Tuhan sendiri, sedangkan Yesus Kristus merupakan kepenuhan Sabda Tuhan (Goretti, 1999: 1). Iman berakar dalam ajaran yang kokoh. Orang tidak bisa percaya tanpa mengetahui apa yang dipercayai, oleh sebab itu agama harus membawa umatnya untuk sampai kepada iman yang benar, karena iman bukanlah hanya pengenalan akan perwahyuan Ilahi, tetapi juga persatuan hidup yakni hidup Ilahi. Hidup dalam iman itu membebaskan seseorang dari kegelapan ke terang, dari perbudakan setan dan dosa ke kebebasan anak-anak Allah (Goretti, 1999: 2).
Iman juga merupakan pertemuan manusia dengan Allah, dimana manusia menyerahkan dirinya kepada Allah yang memberi dan menjumpai manusia. Iman merupakan sikap batin terhadap Allah yang telah menyerahkan diri-Nya kepada manusia melalui Yesus Putera-Nya. Iman adalah jawaban pribadi manusia terhadap sapaan kasih Allah yang terwujud dalam pribadi Yesus Kristus, hubungan cinta antara manusia dengan Tuhan. Manusia menyerahkan seluruh hidupnya kepada Tuhan, karena manusia mengalami cinta dari Tuhan.
Iman juga merupakan sikap hati seseorang yang bersifat pribadi dan dapat diungkapkan secara langsung kepada Tuhan. Iman merupakan keterlibatan pada “seseorang atau sesuatu”. Iman adalah keterlibatan yang kita buat bagi orang lain, kelompok dan jemaat. Dan rasa kepercayaan dalam keterlibatan itu. Iman berhubungan dengan yang transenden (sesuatu yang mengatasi diri yang merasuki hidup kita) maupun jemaat, di mana kita menjadi anggota. Iman adalah cara berada dalam hubungan seseorang atau jemaat, dengan sesama, dengan masalah dengan rekan-rekan hidup kita (Shelton, 1987:54-55).
Berbicara mengenai iman tidak terlepas dari wahyu, karena dilihat dari pihak Allah yang menjumpai dan memberikan diri-Nya kepada manusia. Wahyu merupakan pertemuan Allah dengan manusia. Pengertian iman dalam pandangan dogmatis pertama-tama bertitik tolak dari pengertian wahyu. Konsili Vatikan II tentang Wahyu Ilahi (Dei Verbum), merumuskan wahyu sebagai berikut:
“Dalam kebijakan dan kebijaksanaan-Nya Allah berkenan mewahyukan Diri-Nya (bdk.Ef 1:9). Berdsarkan kehendak ini, manusia melalui Kristus, sabda yang menjadi daging, di dalam Roh Kudus, menemukan jalan kepada Bapa dan mengambil bagian dalam kodrat Ilahi (bdk. Ef 2:81; 2 Pt 1:4). Maka dengan wahyu ini Allah yang tak kelihatan (bdk. Kol 1:15 ; 1 Tim 1:17), karena cinta kasih-Nya yang melimpah ruah, menyapa manusia sebagai sahabat (bdk.kel 33:11 ;Yoh 15:14-15) dan bergaul dengan mereka ke dalam persekutuan-Nya (Hardawiryana, 1993: 318).
Dari artikel di atas, wahyu berbicara tentang kebaikan Allah yang menyapa manusia secara terlebih dahulu. Setelah kita mengetahui tentang wahyu, baru kemudian kita berbicara tentang iman. Di sini iman diartikan sebagai tanggapan manusia atas wahyu yang disampaikan oleh Allah. Hal ini dapat kita lihat dalam kutipan berikut ini:
Kepada Allah yang mewahyukan harus diberikan ketaatan iman (bdk. Rom. 16:26; Rom. 1:5; 2 Kor. 10:5-6). Dengannya manusia secara bebas menyerahkan seluruh dirinya kepada Allah, sambil mempersembahkan ketaatan akal budi dan kehendak sepenuhnya kepada Allah pewahyu dan menyetujuinya dengan rela wahyu yang diberikan-Nya. (Hardawiryana, 1993: 320).
Dari kutipan di atas dapat dikatakan bahwa iman merupakan jawaban manusia atas wahyu yang disampaikan oleh Allah. Iman merupakan jawaban bebas manusia dengan uluran tangan dan bantuan Allah serta pertolongan Roh Kudus. Iman sebenarnya berpangkal dari Allah. Iman tidak akan pernah ada tanpa wahyu. Ada keterkaitan antara keduanya. Dalam upaya menyempurnakan iman,
karya Roh Kudus berperan sangat besar. Mengenai peranan Karya Roh Kudus dalam menyempurnakan iman, KV II dalam Konstitusi tentang Wahyu Ilahi (Dei Verbum) menyatakan sebagai berikut:
“Supaya orang dapat percaya sedemikian itu perlulah rahmat Allah yang mendahului serta menolong, dan bantuan batin Roh Kudus, yang harus menggerakkan hati dan membalikkannya kepada Allah, membuka mata budi dan memberikan kepada semua rasa dalam menyetujui dan mempercayai kebenaran (Hardawiryana, 1993: 320).
Antara wahyu yang disampaikan oleh Allah dan iman yang dinyatakan oleh manusia terjadi proses komunikasi yang mendalam antara Allah dan manusia. Pada akhirnya manusia diajak untuk memasuki kehidupan Ilahi. Proses komunikasi tersebut merupakan usaha manusia dan juga sekaligus rahmat Allah. Allah secara istimewa membantu dan mengundang manusia agar mampu menjawab ajakan Allah (DV, art 6). Iman adalah penyerahan diri kepada Allah, yang telah mewahyukan diri dan rencana-Nya untuk menyelamatkan dunia.
4. Pengertian pendampingan iman
Mengingat kedua pengertian di atas maka dapat disimpulkan bahwa pendampingan iman adalah pendampingan yang bertolak atas iman akan Tuhan. Pendampingan yang Kristosentris: berpusat pada Kristus, artinya pendampingan yang mengajak pesertanya untuk semakin mengenal dan mendekatkan diri kepada Kristus.
Pendampingan iman juga bertujuan untuk membantu peserta melihat kembali hal-hal yang “kurang” dalam masalah iman dalam waktu-waktu lalu dan merefleksikannya setelah itu berusaha memperbaikinya menjadi lebih baik, serta mewujudnyatakannya dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian tujuan
pendampingan iman tercapai ketika iman dapat diwujudnyatakan di tengah-tengah masyarakat. Konkritnya seperti membantu sesama yang sedang mengalami musibah; bencana alam ataupun masalah di tengah masyarakat serta sesama yang mengalami kesusahan.
Kaitannya dengan pendampingan iman kaum muda adalah, dengan pemahaman iman dan sikap iman ditanamkan sejak dini, maka iman mereka akan berkembang dan hidup lebih baik, daripada bila ditanamkan saat mereka sudah dewasa. Kegiatan pendampingan iman yang di laksanakan di Asrama Putri Santa Theresia juga bermaksud untuk mengembangkan kemampuan komunikasi, refleksi dan aksi para penghuninya agar mereka juga memiliki ketulusan, baik secara pribadi maupun sebagai kelompok dalam menanggapi Sabda Allah.
Komunikasi berarti mentransfer ataupun menyampaikan, dengan berkomunikasi mereka dapat memahami apa itu iman dan kepada siapa mereka beriman serta mengetahui ajaran-ajaran iman itu, sehingga mereka bisa sampai pada pengalaman akan iman tersebut. Dengan mengalami sendiri maka mereka akan menunjukkan sikap iman tersebut kepada kehidupan nyata di tengah-tengah masyarakat. Refleksi menghantarkan mereka menemukan jejak Tuhan dalam setiap pengalaman yang mereka alami sepanjang perjalanan hidupnya. Aksi adalah tanda atau bukti yang dilakukan manusia terhadap sikap iman sehingga sampai kepada tahap mensyukuri. Apabila mereka sudah mampu bersyukur kepada Allah maka mereka juga mulai mampu mewujudkan syukurnya melalui perbuatan atau tindakan ataupun mempertanggungjawabkan imannya lewat perbuatan baik kepada masyarakat sekitar yang membutuhkan.
Perkembangan iman seseorang selalu tidak lepas dari campur tangan Allah, karena Dialah yang memberikan iman kepada manusia. Sedangkan manusia menyiapkan ladang untuk menerima curahan iman Allah oleh Roh Kudus ke dunia sehingga iman tersebut dapat berkembang dan berbuah banyak. Untuk menjaga supaya iman manusia lestari, manusia membutuhkan pendampingan yang dapat membantunya memperdalam iman mereka. Untuk itulah pendampingan iman diperlukan, terlebih oleh kaum muda sebagai generasi penerus Gereja yang sedang mengalami pancaroba dan sedang dalam masa pertumbuhan.
B. Kaum Muda
1. Pengertian kaum muda
Setiap manusia yang lahir ke dunia akan tumbuh dan berkembang secara bertahap. Seiring dengan tumbuh dan berkembangnya manusia, sebenarnya ia membutuhkan pendampingan sejak dini supaya hidupnya sejak dini tertata dan imannya berkembang dan teguh. Berkaitan dengan ini, yang akan menjadi prioritas pembahasan adalah manusia muda atau yang sering disebut dengan kaum muda. Kaum muda adalah remaja setingkat SMTA maupun tingkat perguruan tinggi (Shelton, 1998: 15). Dari pandangan mengenai kaum muda di atas dapat disimpulkan, bahwa kaum muda adalah manusia yang kira-kira berumur antara 15 tahun sampai dengan 21 tahun, umumnya sedang menempuh pendidikan setingkat SMTA atau perguruan tinggi. Kaum muda umumnya sedang menghadapi masa penentuan atau pencarian jati diri. Mereka mulai menemukan dan mengambil tanggung jawab pribadi untuk mengarahkan hidup mereka.
Kaum muda perlu dilihat sebagai pribadi yang sedang berada pada taraf perkembangan diri tertentu yang sedang mengalami banyak perubahan, baik dari segi fisik, mental, sosial, maupun psikis dalam perkembangan hidup seorang manusia, dengan kualitas dan ciri tertentu dengan potensi dan kebutuhan tertentu pula (Philip, 1984: 6).
Sedangkan Sri Paus Yohanes Paulus II dalam ajaran apostolik Catechesi
Tradendae (CT) artikel 39, menyebutkan tentang kaum muda sebagai berikut.
Disebutkannya, bahwa masa muda adalah masa di mana seseorang menghadapi periode keputusan-keputusan penting yang pertama. Dalam hal ini masa muda merupakan masa dimana seseorang harus dapat membedakan “yang baik” dan “yang jahat”. Walaupun dalam keseharian mereka mendapat dukungan dari para anggota keluarga dan teman-teman, tetapi mereka tetap harus mengandalkan diri sendiri serta suara hati mereka, dan makin sering memikul tanggung jawab atas masa depan mereka sendiri (Yohanes Paulus II, 1979: 41).
Dekrit Konsili Vatikan II tentang kerasulan awam “Apostolicam Actuocitatem (AA)” art 12 memandang kaum muda sebagai kekuatan yang amat penting dalam masyarakat. Kaum muda sebagai pembawa perubahan dalam masyarakat. Tantangan bagi Gereja adalah bagaimana Gereja bisa ikut menciptakan lingkungan tempat nilai-nilai dasar manusiawi dijunjung, sehingga kaum muda dapat bercermin dan dapat mengolah proses untuk menemukan identitas diri (Konsili Vatikan II, 1993: 357).
Oleh sebab itu masa muda merupakan masa yang paling menentukan bagi kaum muda untuk menentukan arah hidupnya. Apakah dia akan memilih hidup
yang jahat ataukah hidup yang baik (dalam arti dekat dengan Tuhan dan Gereja). Dengan ini kaum muda membutuhkan pendampingan, untuk semakin meyakinkan dan memantapkan hidup dan imannya akan Tuhan.
2. Identitas Kaum Muda
Kaum muda mulai menyadari akan banyak hal yang mereka temui. Karena kesadaran ini mereka cenderung menolak upaya orang lain untuk membentuk diri mereka. Kaum muda mau mencari dan membentuk pribadinya, identitasnya sendiri. Tetapi itu tidak selalu berarti, bahwa mereka menolak campur tangan dari luar. Kaum muda membutuhkan dan mau menerima bimbingan yang penuh pengertian dari generasi tua, sekaligus juga mengharapkan perlakuan sebagai teman yang sederajat, baik dalam ide ataupun gagasan. Mereka mau dihargai sebagai pribadi yang sedang mempribadi, yang dalam proses mencari identitas dirinya. Begitupun kaum muda yang tinggal di asrama, mereka butuh pendampigan untuk semakin membentuk pribadi mereka menjadi pribadi yang utuh dan berlandaskan iman.
Dalam proses itu, kaum muda umumnya mencari tokoh-tokoh yang dapat menjadi tokoh identifikasi. Diawali dengan meniru tokoh identifikasi itu, lambat-laun mereka sebenarnya membentuk prilaku, sikap dan pandangannya sendiri. Mereka mulai melihat segala sesuatu dengan skala nilainya sendiri, sambil mencari alternatif lain; mereka tidak mau sekedar menyelaraskan diri dengan adat dan norma melainkan mau lebih daripada yang semacam itu. Kaum muda bahkan cenderung menolak kompromi dengan cara memberontak atau melawan situasi “mapan” untuk mengubah masyarakatnya, baik dalam hal tata hidup sosial
maupun tata hidup moral dan tata keagamaan umumnya. Untuk itulah pendampingan besar perannya dalam mengolah pribadi mereka menjadi lebih baik.
Bebas dan lepas yang diinginkan oleh kaum muda tidak lain daripada ketidak terikatan pada aturan-aturan ketat dalam adat dan norma. Bebas dan lepas yang diinginkan mereka tidak lain dari pada dambaannya untuk menentukan sendiri sikap, tindakannya dan masa depannya, terlepas dari kemampuan mereka untuk itu. Mereka mau mendapatkan pengakuan, yang berupa dorongan ego sebagai salah satu dorongan terkuat dalam diri orang muda, dan karena itu membutuhkan kesempatan untuk menyatakan diri dan membuktikan diri bisa berbuat sesuatu. Mereka tidak mau bahwa segalanya ditentukan hanya oleh orang tua, orang dewasa umumnya, dan Gereja saja (http://robertusredi.blogspot.com/. diakses: 2011-05-09. 10.36).
Harapan kaum muda seperti yang disebutkan diatas akan menjadi baik apabila didukung dengan diadakannya pendampingan terlebih dahulu. Pendampingan dapat membantu mereka dalam menentukan bebas dan lepas seperti apa yang akan dipilih dan dijalankan oleh kaum muda itu sendiri. Dengan demikian, bebas dan lepas yang mereka inginkan adalah menentukan sendiri sikap, tindakannya dan masa depannya dalam terang iman.
3. Kaum Muda dan Dewasa Instant
Salah satu sisi penting lainnya yang tidak boleh dikesampingkan dalam upaya membentuk/membangun konsep dasar dalam diri kaum muda ialah, bahwa mereka berada dalam masa transisi/peralihan di tengah masyarakat dan Gereja. Kaum muda mempunyai skala nilai sendiri dan mau memandang persoalan dari berbagai segi. Namun, hal itu bukan berarti bahwa mereka sudah memiliki pegangan yang serba jelas. Sebaliknya, khususnya pada masa remaja, mereka masih sangat labil. Tidak jarang mereka menjadi bingung sendiri menghadapi
gejala-gejala pertumbuhan fisik-biologis, khususnya gejolak-gejolak seksualitas dalam dirinya. Kebingungan ini menjadi semakin rawan berhadapan dengan transisi nilai sosio-budaya yang melanda masyarakat.
Sementara itu, laju pembangunan dan modernisasi serta derasnya arus komunikasi media massa, kemudahan-kemudahan dalam kontak antar suku dan bangsa telah menggoyahkan tata nilai dan norma-norma lama. Kaum muda cenderung melepaskan nilai-nilai tradisional yang acapkali disamakan begitu saja dengan kekolotan, dan sering dengan mudah mengambil alih apa saja yang “berbau barat”. Kecenderungan itu lebih kuat lagi melanda kaum muda, bahkan seringkali tanpa sikap kritis, baik terhadap nilai-nilai tradisional adat maupun terhadap hal-hal baru yang tanpa pikir mereka terima begitu saja. Di tempat yang masyarakatnya masih menghormati nilai-nilai tradisional dan nilai-nilai adat biasanya nilai-nilai ini masih mengikat mereka sehingga terkadang cukup menghambat dalam berhubungan dengan nilai-nilai Kristiani.
Menghadapi transisi yang membingungkan ini, kaum muda dituntut untuk bersikap dewasa. Mereka harus menjadi dewasa secara instant. Hal ini bukan saja melampaui batas kemampuan mereka, melainkan juga keliru sebenarnya. Sebab dengan demikian, kaum muda semata-mata dipandang sebaga dewasa, pra-orang tua. Pandangan dan tuntutan semacam ini tidak memberi peluang bagi kaum muda untuk menjadi dirinya sendiri, atau menemukan identitasnya sendiri. Konsep kedewasaan sudah digariskan oleh orang tua secara normatif. Dengan ukuran inilah orang-orang muda sering dinilai kaum tua sebagai yang serba kurang; kurang mampu, kurang pengetahuan agama, kurang penghayatan iman,
kurang bermoral, kurang bertanggung jawab, dan sebagainya (http://robertusredi.blogspot.com/. diakses: 2011-05-09. 10.36).
Pribadi kaum muda seperti telah diungkapkan, sangatlah umum. Mereka ingin mencari jati diri mereka sendiri dan banyak hal lain yang ingin mereka ketahui dan pelajari sendiri. Bila kaum muda tidak mendapatkan pendampingan yang memadai, dapat kita lihat ekses-eksesnya seperti membuat “geng”, menjadi pecandu miras (minuman keras), terjerumus narkoba ataupun ikut-ikut menjalani “seks bebas”. Usaha-usaha yang dilakukan untuk mengatasi masalah-masalah itu tentu untuk membantu dan membuat agar mereka bisa menjalani “hidup bermanfaat” bagi masyarakat sekitar (Mangunhardjana, 1986a: 24).
4. Perkembangan dan Permasalahan Kaum Muda
Permasalahan yang dialami oleh kaum muda cukup banyak, dan permasalahan itu antara lain disebabkan oleh adanya perkembangan yang mereka alami dalam diri mereka, yakni perubahan dari masa anak-anak menuju masa dewasa. Perubahan yang membawa masalah tersebut antara lain adalah:
a. Pertumbuhan Fisik Kaum Muda
Pertumbuhan fisik pada kaum muda berbeda-beda, ada yang pertumbuhannya cepat ada yang lambat, ada pula yang terlalu cepat atau terlalu kecil, tinggi atau pendek, sehingga perbedaan itu terkadang menimbulkan kegelisahan dan kesulitan bagi kaum muda. Berkat pertumbuhan fisik tersebut anak laki-laki semakin menampakkan dirinya sebagai seorang pria dan perempuan, semakin menampakkan dirinya sebagai wanita. Mereka sering gelisah
antara lain karena kadang-kadang perkembangan itu tidak sesuai dengan keinginan mereka.
Selain daripada itu mereka juga mengalami permasalahan-permasalahan yang tidak ringan misalnya tentang seks dan pergaulan dengan lawan jenis. Dewasa ini masalah berkaitan dengan ini sangatlah banyak. Hal ini disebabkan karena kurangnya pendampingan yang di berikan sejak dini terhadap mereka. Kalaupun mereka merasa sudah siap untuk melakukan hubungan seks, tetapi dampak-dampak yang ditimbulkan oleh hubungan sex belumlah mereka ketahui atau sadari sepenuhnya. Mereka belum sanggup bertanggung jawab atas kelangsungan hidup perkawinan yang akan mereka jalani (Mangunhardjana, 1986a: 12).
b. Perkembangan Mental dan Intelektual Kaum Muda
Mangunhardjana dalam bukunya “Pendampingan Kaum Muda” mengungkapkan bahwa perkembangan mental kaum muda nampak pada gejala-gejala perubahan dalam perkembangan intelektual, perubahan cara berfikir, yakni dari cara berfikir anak-anak menjadi cara berfikir dewasa. Kaum muda mulai berfikir lebih kritis dan mulai menggali tentang diri mereka sendiri dan berusaha pula menemukan panggilan hidupnya dan siapakah diri mereka sebenarnya. Maka tidak mengherankan bila banyak kaum muda yang sering berkhayal perihal pilihan hidupnya, sehingga terkadang hal ini menyebabkan keresahan dan kekhawatiran mereka sendiri (Mangunhardjana, 1986a: 13).
Sejalan dengan perkembangan fisik yang cepat, kemampuan intelektual mereka juga berkembang. Mereka mulai mengembangkan kemampuan berpikir
abstrak. Mereka bahkan mulai mampu berpikir melampaui kehidupannya, baik dalam dimensi ruang maupun waktu. Berpikir abstrak ini sering disebut sebagai berpikir formal operasional.
Berkembangnya kemampuan berpikir formal operasional pada kaum muda ditandai dengan tiga hal, yaitu: mereka mulai mampu melihat tentang kemungkinan-kemungkinan; mereka mampu berpikir ilmiah: dari mulai merumuskan masalah, membatasi masalah, menyusun hipotesa, mengumpulkan dan mengolah data sampai dengan menarik kesimpulan; mereka mampu memadukan ide-ide secara logis, dan memadukan ide-ide tersebut ke dalam kesimpulan yang logis. (http://robertusredi.blogspot.com/. diakses: 2011-05-09. 10.36).
c. Perkembangan Emosional Kaum Muda
Perkembangan emosional ada hubungan yang erat dengan perkembangan fisik. Ketika terjadi perubahan fisik hormon-hormon dalam tubuh mereka, secara psikologis terjadi pula perubahan-perubahan emosional yang tidak stabil, terkadang memuncak dan kadang lemah sekali. Perkembangan emosional nampak dalam kecakapan mereka dalam menggunakan kata-kata dalam pergaulan hidupnya sehari-hari dan semangat yang membara, perpindahan gejolak hati yang cepat, muncullah sikap-sikap masa bodoh, keras kepala, dan tingkah laku yang sering aneh.
Melalui pemikiran yang abstrak dan kritis kaum muda mulai memiliki keinginan untuk menggali dan menemukan identitas dirinya, membentuk gambaran diri yang utuh baik keberadannya dalam keluarga maupun di dalam
masyarakat. Karena itu pula kaum muda kerap nampak mengambil berbagai cara bertingkah laku, entah untuk mengatasi atau sekedar menghindari dan melupakannya (Mangunhardjana, 1986a: 13).
d. Perkembangan Sosial Kaum Muda
Dalam masa perkembangan menuju usia dewasa, pergaulan kaum muda tidak hanya berhenti pada komunitas keluarga, akan tetapi juga dalam lingkup sekitarnya (berkaitan dengan meluasnya relasi dengan orang lain). Maka pada usia yang demikian kaum muda harus pandai-pandai memilih pergaulan, karena teman pergaulan biasanya sangat berpengaruh terhadap perkembangan mereka. Dalam lingkup formal kaum muda dapat berinteraksi dengan teman sebaya