• Tidak ada hasil yang ditemukan

Langkah Pendahuluan dalam Persiapan Program Latihan

BAB Vi KESIMPULAN DAN REKOMENDAS

Bagan 2.1. Langkah Pendahuluan dalam Persiapan Program Latihan

Bagan 2.1.: Langkah pendahuluan dalam persiapan program Latihan dan Pengembangan

Bagan 2.2. memperlihatkan langkah pendahuluan yang perlu dipersiapkan, yaitu penilaian dan identifikasi kebutuhan-kebutuhan, menentukan sasaran-sasaran latihan dan pengembangan, kemudian

Penilaian dan Identifikasi kebutuhan- kebutuhan Prinsip-Prinsip Belajar Isi Program Sasaran –sasaran Latihan dan Pengembangan

60

ditentukan isi program pelatihan dan prinsip-prinsip pelatihan atau prinsip pembelajarannya.

Selanjutnya Lulewicz (1995:85-86) mengemukakan bahwa program pelatihan harus didesain dengan kebutuhan khusus dari organisasi dan relawannya, oleh karena itu pertanyaan mendasar dalam rangka membuat program pelatihan adalah:

1. Apa masalah kebutuhan program yang akan dihasilkan atau apa tujuan dari program pelatihan?

2. Standar/acuan apa bagi kinerja relawan?

3. Keterampilan apa yang perlu dikuasasi relawan saat ini? 4. Apakah pelatihan merupakan suatu solusi atau metode yang

tepat?

5. Jika demikian, apa sasaran pendidikan yang akan dijalankan program pelatihan?

6. Apa metode pelatihan terbaik untuk mencapai hasil yang diinginkan tersebut?

7. Apakah kebutuhan-kebutuhan relawan dan organisasi harus diakui dalam rangka mengembangkan suatu program pelatihan?

8. Apa sumber daya organisasi yang diperlukan? 9. Apakah sumber daya relawan akan diperlukan?

10. Apakah pengeluaran sumber daya untuk melatih relawan akan memberikan hasil yang diharapkan?

11. Sekali lagi apakah pelatihan merupakan solusi atau metode yang tepat?

Jawaban terhadap pertanyaan tersebut akan menjadi faktor yang diperhitungkan dalam proses perencanaan strategi organisasi dan operasional. Hanya jika pertanyaan tersebut muncul dan selama jawaban perencanaan strategis dan operasional mampu mengidentifikasi dan mengalokasi sumber-sumber yang dibutuhkan organisasi secara efektif untuk memberikan kualitas program yang akan mencapai misi dan tujuannya. Keberhasilan suatu program pelatihan akan tergantung pada organisasi dalam mengidentifikasi sumber dan potensia yang ada dan bagaimana menyesuaikannya secara tepat dengan peluang-peluang yang ada baik untuk pelatihan jangka pendek atau jangka panjang. Perencanaan dengan cara demikian akan mampu membedakan antara keberhasilan atau kegagalan suatu organisasi dengan jalannya program relawan.

Selanjutnya dalam merancang program pelatihan yang efektif Lulewicz (1995: 86) menyatakan terdapat tahap-tahap untuk rencana program pelatihan relawan yang efektif adalah sebagai berikut:

1. Mengetahui tujuan organisasi dalam proses perencanaan strategis

2. Mengetahui program berjalan-relawan yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan organisasi

3. Mengetahui sumber-sumber organisasi yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan program

4. Mengetahui sumber-sumber relawan yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan program pelatihan dan organisasi

62

Saat tujuan-tujuan organisasi, pemrograman, dan relawan telah diketahui, deskripsi posisi kerja dan standar kinerja masing-masing program dan beragam tugas relawan dalam setiap program harus dikembangkan. Hal-hal tersebut harus sudah dilakukan sebelum mengetahui kebutuhan dan sumber-sumber relawan dapat dipenuhi. Ketika pekerjaan tersebut telah terpenuhi, lihat aplikasi dan wawancara untuk relawan akan membantu menentukan posisi yang paling tepat bagi relawan dalam organisasi dan membantu memperjelas pelatihan dan pengembangan yang sesuai bagi relawan dengan kepemimpinan atau memperluas peluang dalam organisasi.

Berbagai model pelatihan telah banyak dikembangkan. Model- model pelatihan itu antara lain adalah: model pelatihan keterampilan kerja, model strategi pelatihan, model lima langkah model tujuh langkah, model sembilan langkah, dan model pelatihan partisipatif (Soedjana, 2001:18). Gambaran umum tentang model-model pelatihan tersebut akan diuraikan sebagai berikut.

Model pelatihan keterampilan kerja (skill tarining for the job) yang dikembangkan oleh Gensi (1966). Model ini mencakup empat langkah kegiatan yang ditempuh dalam penyelenggaraan pelatihan, yaitu:

1. Pertama, mengkaji alasan penyelenggaraan pelatihan dan menetapkan program pelatihan. Dalam langkah ini dilakukan penelaahan faktor-faktor penyebab tentang perlunya pelatihan. Kegiatan lainnya mencakup identifikasi kebutuhan, penentuan tujuan pelatihan, analisis isi latihan, dan pengorganisasian program pelatihan.

2. Kedua, merancang tahapan pelaksanaan pelatihan. Kegiatannya mencakup penentuan pertemuan- pertemuan baik formal maupun informal selama pelatihan, dan pemahaman terhadap masalah-masalah yang dihadapi para peserta pelatihan.

3. Ketiga, memilih strategi sajian yang efektif. Kegiatannya mencakup pemilihan dan penentuan jenis-jenis sajian, pengkondisian lingkungan termasuk di dalamnya penggunaan saran belajar dan alat bantu, serta pemilihan dan penetapan media interaksi.

4. Melaksanakan program pelatihan dan menilai hasil pelatihan. Kegiatannya meliputi transformasi pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai berdasarkan program pelatihan, serta evaluasi tentang perubahan tingkah laku peserta setelah mengikuti program pelatihan. (Soedjana, 2001:18-19)

Otto dan Glaser (1970), dalam Soedjana (2001:19), mengemukakan Model Pengembangan Strategi Pelatihan. Model ini terdiri atas lima langkah kegiatan. Pertama, menganalis masalah pelatihan. Kedua, merumuskan dan mengembangkan tujuan-tujuan pelatihan. Ketiga, memilih bahan pelatihan, media belajar, metode dan teknik pelatihan. Keempat, menyusun kurikulum dan unit, mata pelatihan, dan topik bahasan dalam pelatihan. Kelima, melakukan penilaian terhadap hasil pelatihan.

Parker mengembangkan Model Rancang Bangun Pelatihan dan Evaluasi (Training Design and Evaluation Model) sebagaimana dimuat Soedjana dalam buku “Metode dan Teknik Pembelajaran Partisipatif” (2001:19). Model ini terdiri dari tujuh tahapan kegiatan. Ketujuh tahapan kegiatan itu adalah: (1) menganalisis kebutuhan-kebutuhan

64

pelatihan, (2) merumuskan tujuan-tujuan pelatihan, (3) merancang kurikulum pelatihan, (4) merancang atau memilih metode dan teknik pelatihan, (5) merancang pendekatan untuk penilaian pelatihan, (6) melaksanakan program pelatihan, dan (7) melakukan pengukuran terhadap hasil pelatihan. Tahapan-tahapan tersebut merupakan kegiatan berangkai dan berurutan.

Berdasarkan beberapa model pelatihan yang telah dikemukakan sebelumnya, Soedjana (2001: 22-230) mengemukakan suatu model yang dinamakan Model Pelatihan Partisipatif (Participatory Training Model). Model pelatihan ini mencakup 10 langkah kegiatan berurutan yang dapat dilihat pada bagan 2.2

Langkah pertama, rekrutmen peserta pelatihan.

Kegiatan ini berkaitan dengan pendaftaran calon dan seleksi peserta didik (peserta pelatihan). Persyaratan peserta mencakup jumlah dan mutu calon peserta pelatihan. Jumlah peserta pelatihan ditentukan sesuai dengan kebutuhan dan daya dukung pelatihan, serta karakteristik internal dan karakteristik eksternal. Menurut Soedjana (2001:230) yang termasuk dalam karakteristik internal berkaitan dengan kebutuhan, minat, pengalaman, tugas/pekerjaan, latar belakang pendidikan, dan lain sebagainya. Sedangkan yang termasuk dalam karakteristik eksternal, yaitu menyangkut lingkungan keluarga, pergaulan, status sosial ekonomi, cara belajar, dan pemilikan sumber- sumber belajar. Persyaratan tersebut dapat dilakukan secara tertulis atau tidak tertulis.

Dokumen terkait