• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

B. Langkah Penelitian

Desain penelitian ini menggunakan pendekatanReseach and Development. Berkaitan dengan pendekatan penelitian tersebut, Borg & Gall (1979, hlm. 626-

QUANTITATIVE (data dan hasil)

QUALITATIVE (data dan hasil)

636) mengemukakan 10 langkah dalam penelitian perkembanganyaitu: (1) riset awal dan pengumpulan informasi, (2) perencanaan (3) penyusunan format model awal(4) ujilapangan model awal (5) revisi terhadap model utama(6) uji coba model utama (7) revisi model operasional (8) uji lapangan model operasional (9) merevisi produk akhir (10) diseminasi dan impelementasi.

Berdasar tahap-tahap penelitian dan perkembangan sebagaimana diungkap oleh Borg & Gall di atas, peneliti menetapkan langkah pengembangan model bimbingan dan konseling kolaboratif melalui enam tahap utama. Enam tahap tersebut adalah tahap studi pendahuluan, tahap merancang model hipotetik, tahap uji kelayakan model hipotetik, tahap perbaikan model hipotetik, tahap uji lapangan model hipotetik, tahap merancang model akhir.Tahap-tahap pengembangan model bimbingan dan konseling kolaboratif untuk meningkatkan pengendalian diri pada anak usia diniyang dilakukan dalam penelitian ini secara rinci adalah sebagai berikut:

1. Studi Pendahuluan

Tahap pertama dalam pengembangan model bimbingan dan konselingkolaboratif ini adalah tahap studi pendahuluan yang dilakukan melalui dua kegiatan yaitu kajian pustaka dan asesmen kebutuhan yang dilakukan melalui pretest dan wawancara. Kajian pustaka dilakukan dengan tujuan mengkaji konsep bimbingan dan konseling kolaboratif dan pengendalian dirianak usia dini, yang diperoleh melalui buku literatur, jurnal hasil penelitian dan artikel terkait yang diperoleh dari internet. Asesmen kebutuhan dilakukan untuk memperoleh data tentang kondisi objektif pengendalian dirianak usia dini dan kondisi objektif kolaborator, yaitu kepala sekolah, guru dan orang tua dalam memberikan bimbingan untuk mengembangkan pengendalian diri pada anak. Berdasar hasil asesmen, peneliti merancang model awal atau model hipotetik bimbingan dan konseling kolaboratif untuk mengembangkan pengendalian diri pada anak usia dini.

2. Merancang Model Hipotetik

Berdasarkan hasil kajian pustaka tentang bimbingan dan konseling kolaboratif dan konsep pengendalian diri anak usia dini serta berdasar hasil studi pendahuluan tentang kondisi objektif di lapangan, selanjutnya peneliti perancang

model bimbingan dan konseling kolaboratif hipotetik. Pada tahapan ini peneliti menyesuaikan hasil kajian konsep dengan hasil pengamatan dari lapangan, kemudian mendiskripsikan kerangka kerja kolaboratif untuk mengkaji kelayakan model hipotetik. Kegiatan yang dilakukan pada tahap ini adalah:

a. Merancang model hipotetik bimbingan dan konseling kolaboratif. Berdasar analisis konsep teoritis tentang pengendalian diri pada anak usia dini, maka dikembangkan program hipotetik bimbingan dan konseling kolaboratif untuk mengembangkan pengendalian diri pada anak usia dini yang melibatkan guru, kepala sekolah dan orang tua.

b. Validasi dan revisi model. Validasi model dilakukan untuk mengetahui ketepatan model yang mampu mengembangkan pengendalian diri pada anak usia dini. Validasi model ini ditekankan pada validasi isi agar kelayakan operasional dapat dipertanggungjawabkan. Validasi modelbimbingan dan konseling kolaboratif ini dilakukan oleh tiga pakar dalam bidang bimbingan dan konseling dan anak usia dini yaitu :

1) Dr. H. Mubiar Agustin, M.Pd doktor bimbingan dan konseling pada sekolah pasca sarjana UPI dan bekerja sebagai dosen program studi PAUD Universitas Pendidikan Indonesia;

2)Prof. Dr. Slameto, M.Pd., dosen program studi Bimbingan dan Konseling di Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga;

3)Dr. A An Listiana, M.Pd., doktor bimbingan dan konseling pada sekolah pasca sarjana UPI dan bekerja sebagai dosen PGPAUD UPI Bandung.

Selain tiga pakar tersebut, rancangan model bimbingan dan konseling kolaboratif juga dilakukan uji keterbacaan oleh praktisi anak usia dini yaitu Titiek Sugiyati, M.Pd., Dyah Sulistyowati, M.Pd. dan Suni, S.Ag. Ketiga praktisi PAUD berasal dari tiga jenis pendidikan anak usia dini, yaitu mewakili TK, RA (Raudhatul Athfal) dan KB (kelompok bermain)

3. Perbaikan Rancangan Model

Perbaikan rancangan model awal berdasar masukan para pakar bimbingan dan konseling. Berdasar kegiatan validasi diperoleh informasi tentang ketepatan dan kelayakan model. Hasil validasi dari ketiga pakar dan praktisi PAUD kemudian ditindaklanjuti melalui revisi terhadap rancangan model hipotetik.

4. Uji Coba Lapangan

Uji coba lapangan dilakukan untuk menguji kelayakan rancangan model hipotetik. Uji coba terbatas dilakukan di RA Almurtadhlo Salatiga, melibatkan seorang kepala RA, dua orang guru dan 8 siswa. Uji coba model hipotetik dilakukan melalui tiga langkah yaitu, prestes, intervensi atau penerapan model BK dan postes. Langkah tersebut divisualisasikan pada bagan berikut.

Bagan 2. Rancangan Uji Efektivitas Model Bimbingan dan Konseling Kolaboratif

Pretes merupakan kondisi awal pengendalian diri anak sebelum diberikan layananbimbingan dan konseling kolaboratif, tretmen merupakan intervensi berupa layanan bimbingan dan konseling kolaboratif untuk meningkatkan pengendalian diri dan postes merupakan kondisi pengendalian diri anak setelah mendapatkan tretmen berupa penerapan model bimbingan dan konseling kolaboratif.

5. Tahap Perbaikan Model II

Tahap ini merupakan tahap perbaikan model yang sudah diujicobakan. Fokus kegiatan pada tahap ini adalah analisis perubahan skor setelah diberikan perlakuanguna menguji efektivitas model bimbingan dan konseling kolaboratif untuk mengembangkan pengendalian diri. Data yang digunakan untuk revisi model tidak hanya didasarkan pada data pretes dan postes saja melainkan juga mengakomodasi pandangan dari setiap kolaborator. Kegiatan yang dilakukan pada tahap ini adalah:

a. Menganalisis hasil uji kelayakan model hipotetik bimbingan dan konseling kolaboratif

b. Memperbaiki model hipotetik secara kolaboratif

Pretes Treatmen Postes

Bimbingan dan Konseling Kolaboratif

c. Menyusun kembali rancangan model tahap uji satu berdasar hasil analisis data kuantitatif maupun berdasar masukan dan saran dari kolaborator.

Pada tahap ini terjadi beberapa kali perbaikan pada setiap sesi layanan. Perbaikan tersebut didasarkan pada masukan kolaborator dan berdasar hasil observasi peneliti. Aspek yang mengalami perbaikan pada tahap ini meliputi : a. Penggunaan bahasa pada instrumen pengendalian diri.

b. Jenis media yang digunakan pada kegiatan “Peraturan dalam Bermain” dan “

Alternatif Solusi” .

c. Tehnis pelaksanaan kolaborasi antara orang tua dengan guru. d. Media dan cara pengisian jurnal kegiatan orang tua bersama anak. 6. Diseminasi dan Pengembangan Model Akhir

Model yang sudah teruji di lapangan dan sudah mendapatkan masukan darikolabotaror, diseminarkan di Universitas Negeri Padang , dihadiri oleh pakar bimbingan dan konseling Prof Prayitno, dosen bimbingan dan konseling, guru BK di Padang dan sekitarnya dan mahasiswa jurusan Bimbingan dan Konseling. Berdasar hasil seminar selanjutnya disusun model akhir yang sudah disusun melalui beberapa tahap dan sudah mendapatkan masukan dari banyak kalangan.

Tahap pengembangan model tersebut disederhanakan dalam bagan berikut.

Studi Pendahuluan Model Hipotemik - Seminar/Lokakarya - Jurnal Ilmiah Diseminasi & Distribusi Uji Lapangan Pengembang an & Validasi Model Teruji Model Operasional

TAHAPAN KEGIATAN HASIL

- Kajian Literatur - Rancangan Model - Asesmen Kebutuhan - Validasi Isi - Revisi Model - Validasi Empirik - Pelaksanaan - Revisi Model - Uji Efektivitas

Bagan 3. Rangkaian kegiatan pengembangan model bimbingan dan konseling kolaboratif untuk meningkatkan pengendalian diri pada anak usia dini

Dokumen terkait