BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
B. Pembahasan
1. Langkah Pengembangan
Peneliti mengembangkan media simbol kata tiga dimensi berbasis metode Montessori dari produk yang sudah ada yaitu wooden symbol
grammar. Penelitian dan pengembangan ini termasuk level 3 karena
meneliti dan menguji produk yang telah ada (Sugiyono, 2017: 44). Peneliti menggunakan langkah pengembangan 7 langkah dari 10 langkah menurut Sugiyono yaitu melakukan identifikasi potensi dan masalah, mengumpulkan informasi, mendesain produk, memvalidasi desain, merevisi desain, melakukan ujicoba lapangan secara terbatas, dan merevisi desain (Sugiyono, 2016: 298-311).
Langkah pertama, ialah mengidentifikasi potensi dan masalah. Identifikasi potensi dan masalah yang dilakukan dengan teknik observasi dan wawancara. Potensi yang ditemukan di sekolah SD Kanisius Eksperimental Mangunan yaitu guru telah mencoba mengaplikasikan media Montessori di kelas III dan hasilnya sangat membantu anak untuk membuat kalimat yang runtut dan juga membantu anak memahami soal cerita matematika. Pemasalahan yang ditemukan yaitu keterbatasan media pembelajaran untuk materi kelas kata yang berkualitas sehingga tidak adanya kontinuitas dalam penggunaan media yang sudah pernah dicoba.
Langkah kedua, ialah mengumpulkan informasi terkait dengan produk yang akan dikembangakan. Ada dua informasi yang dikumpulkan yaitu terkait bahan pembuatan materi album dan bahan pembuatan media. Informasi terkait bahan pembuatan materi album diikumpulkan melalui studi literatur. Hasil yang dari studi literatur ini peneliti menemukan langkah-langkah pembelajaran serta filosofi setiap simbol. Kendala yang dihadapi yaitu dalam proses mengadaptasi tata bahasa, menerjemahkan dan membuat langkah pembelajaran menjadi lebih kontekstual sesuai dengan tata Bahasa Indonesia. Aspek kontekstualitas sangat penting dan merupakan salah satu ciri dari media Montessori yang dikembangkan. Montessori mengemukakan bahwa belajar hendaknya disesuaikan dengan konteks (Lillard dalam Astuti, 2017: 21). Maka, diperlukan penyesuaian dalam tata
Bahasa Indonesia dan dalam penggunaan contoh-contoh yang berkaitan dengan lingkungan sekitar.
Informasi mengenai bahan pembuatan media, didapatkan peneliti melalui survei lapangan. Hasilnya menunjukan bahwa bahan pembuatan media ini sebaiknya terbuat dari bahan kayu mahoni yang relatif lebih ringan dan menarik. Salah satu ciri dari media ini yaitu menarik artinya bahwa setiap media pembelajaran harus mengandung unsur keindahan baik dari warna, bahan, dan bentuk (Montessori, 2003: 81).
Tahap ketiga, yaitu memvalidasi produk kepada 3 ahli yaitu ahli Montessori, ahli Bahasa Indonesia dan Guru. Tujuannya untuk menilai kelebihan dan kekurangan dari produk yang dibuat. Berdasarkan hasil validasi produk ini dinyatakan layak untuk digunakan maka peneliti melanjutkan ke tahap selanjutnya yaitu ujicoba produk secara terbatas.
Tahap keempat ialah, ujicoba lapangan terbatas yang dilaksanakan di SD Kanisius Eksperimental Mangunan dengan subjek penelitian enam orang siswa kelas III. Menurut Piaget, siswa usia kelas III dengan usia antara 7-11 tahun berada pada tahap operasional konkret Pada tahap ini cara berpikir anak terbatas karena masih berdasarkan sesuatu yang konkret (Suparno, 2001: 70). Konkret menurut Trianto (2010: 32) dalam kecenderungan belajar anak usia sekolah dasar mengandung makna bahwa proses belajar beranjak dari hal-hal yang konkret yakni dapat dilihat, didengar, dibaui, diraba, dan diotak-atik dengan penekanan pada pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar. Ujicoba lapangan dilaksanakan sebanyak 3 kali pertemuan yang diawali dengan pretest, pembelajaran dengan media dan diakhiri dengan posttest.
Feez (2010: 24) mengatakan bahwa belajar untuk mengobservasi atau mengamati hingga saat ini menjadi komponen dalam metode Montessori. Demikian juga, dalam proses dan dinamika ini, peneliti sebagai guru bertugas melakukan observasi dalam pembelajaran dengan tujuan untuk melihat apakah media ini berfungsi dengan baik atau sebaliknya, bagaimana reaksi anak saat pembelajaran, dan perkembangan yang dialami anak. Media simbol kata tiga dimensi mempunyai 5 karakteristik yaitu
menarik, bergradasi, auto-education, auto-corection dan kontekstual (Lillard, 1972: 53-64). Selama ujicoba lapangan peneliti dapat mengobservasi dan menemukan 5 karakteristik tersebut. Berdasarkan hasil observasi peneliti menemukan ciri pertama dari media SK3D yaitu menarik. Montessori (2013: 81) mengatakan bahwa setiap media pembelajaran harus mengandung unsur keindahan. Keindahan ini membuat anak tertarik, ketertarikan ini dapat dilihat dari ekspresi spontan anak saat melihat media tersebut. Media ini menarik karena bentuk, warna, dan ukuran yang menimbulkan rasa ingin tahu dan keinginan untuk menggunakannya dalam pembelajaran. Awalnya hanya sekedar untuk bermain namun selanjutnya media ini dapat digunakan untuk belajar kelas kata.
Belajar lebih bermakna jika anak mengalami langsung apa yang dipelajarinya dengan mengaktifkan lebih banyak indra daripada hanya mendengarkan orang atau guru menjelaskan (Trianto, 2010: 29). Hal ini dapat dilihat saat media itu diletakan di karpet, anak secara spontan langsung mengidentifikasi warna dan bentuk simbol dengan indra penglihatan, anak kemudian ingin memegang dan merasakan bentuk-bentuk itu, lalu mengasosiasi dalam pikirannya nama dari bentuk simbol yang dilihat dan dipegangnya sesuai dengan pengetahuan yang sudah ada dan imajinasinya. Disinilah letak karakteristik media Montessori yaitu
bergradasi. Gradasi yang dimaksud adalah rangsangan rasional yang
nampak pada penggunaan alat yang melibatkan beberapa indra (Lillard, 2005: 328). Dengan pengetahuan yang ada, anak dapat menyebutkan nama simbol-simbol dengan tepat sehingga pembelajaran menjadi semakin bermakna dan menarik. Anthony Robins (dalamTrianto 2010: 20) mengatakan bahwa belajar adalah suatu proses aktif di mana siswa membangun (mengkonstruk) pengetahuan baru berdasarkan pada pengalaman atau pengetahuan yang sudah dimilikinya.
Dinamika pembelajaran kelas kata dengan SK3D, juga memunculkan karakteristik dari auto-education. Alat peraga dalam pembelajaran Montessori untuk mengembangkan kemampuan belajar siswa secara mandiri (Montessori dalam Astuti, 2017: 88). Aspek auto-education
muncul ketika melihat simbol-simbol tersebut dan memunculkan pertanyaan. Misalnya “Apa perbedaan simbol kata penghubung dan kata depan? Mengapa warna hitam simbol kata benda?. Pertanyaan-pertanyaan ini muncul dari rasa ingin tahu anak, yang akan membuatnya untuk mencari tahu jawaban yang tepat dan logis menurutnya. Pernyataan ini ditegaskan oleh Wahana (2016:23) ketakjuban manusia telah melahirkan pertanyaan-pertanyaan, pertanyaan ini membuat pengetahuan manusia maju dan berkembang. Ketika anak bertanya maka ia akan berusaha untuk memperoleh jawaban yang jelas. Selain itu, ketika anak membuat kesimpulan dari apa yang ditemukannya, atau dengan sederhana anak mampu membuat definisi atau menjelaskan apa yang dipelajari dengan bahasanya sendiri. Misalnya, simbol kata kerja bola warna merah karena bola selalu bergerah dengan bebas dan aktif sama seperti kata kerja. Media ini, menambah wawasan atau membuka pemahaman baru anak dan hal ini terjadi secara mandiri. Anak menemukannya saat beraktivitas. Misalnya, perubahan konsep anak akan kata sifat menjadi lebih luas. Dalam artian bukan sekadar sifat manusia tetapi sifat atau kualitas dari benda yang ditemukan. Anak menemukannya saat melakukan aktivitas yang menjelaskan tentang kata sifat. Sebagaian besar katakteristik
auto-education ditemukan dalam aktivitas permainan simbol, dan latihan kelas
kata dengan menggunakan kartu-kartu.
Peneliti juga menemukan bahwa pembelajaran media SK3D ini merupakan pengantar dasar bagi anak untuk mengenal simbol kelas kata. Setiap simbol baik bentuk maupun warna mempunyai makna yang sesuai dengan makna kelas kata. Oleh karena itu, agar anak dapat memahami simbol-simbol kelas kata maka guru harus terlibat langsung dalam pembelajaran. Guru menggunakan aktivitas permainan, aktivitas kartu dan cerita untuk menghantar anak pada pemahaman kelas kata. Disinilah muncul bahwa media pembelajaran bahasa berbasis Montessori yaitu SK3D termasuk dalam klasifiksi media akademik (Lillad, 1972: 70-30). Berhubung media ini adalah media akademik maka maka anak hanya dapat
memahami makna di balik simbol geometrik 3 dimensional jika guru terlibat dalam pembelajaran.
Selain itu, muncul karakteristik lain yaitu auto-correction. Pengendali kesalahan (control of error) adalah semua jenis indikator yang dapat menyatakan atau menunjukkan kepada kita apakah yang kita lakukan sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai atau belum (Lillard, 1972: 63).
Auto-correction dari media SK3D berbeda-beda bergantung pada kelas kata
dan simbol yang digunakan, aktivitas dengan simbol, kartu pengendali kesalahan dan juga guru.
Gambar 4. 15 Aktivitas dengan Kartu Pengendali Kesalahan
Aksi menggulingkan bola mengingatkan anak akan kata kerja yang aktif dan dapat bergerak kemana-mana. Bentuk piramida, warna, ukuran mengingatkan anak kata benda, kata sifat dan kata ganti sedangkan jembatan mengingatkan anak akan kata penghubung dan kata depan. Jadi, ketika anak melakukan kesalahan dalam simbol dan fungsi kata maka yang muncul dalam pikirannya ada beberapa kemungkina, pertama, warna, bentuk, atau filosofi dari setiap simbol. Dalam hal ini, setiap anak menemukan pengendali kesalahan secara berbeda-beda. Namun secara umum Kartu dengan pengendali kesalahan dapat digunakan anak untuk melihat hasil kerjanya. Pengendali kesalahan juga bisa terletak pada guru, misalnya saat guru menggunakan three period lesson untuk melihat kembali pemahaman anak akan apa yang dipelajari. Jika ada anak yang belum paham maka guru akan mengulangnya atau meminta anak yang sudah paham untuk membantunya.
kata benda kata sif at
kata kerja k ata y ang meny atak an ak s i k ata y ang menunjuk an nama s es eorang, hewan, tempat dan benda
k ata y ang menjelas k an k ata benda lari Inang buku cantik besar masak
Gambar 4.16 Aktivitas Three Period Lesson
Karakteristik tambahan untuk media SK3D yaitu kontekstual. Ciri kontekstual itu terlihat dari bahan media yaitu dari kayu mahoni yang relatif ringan sehingga mudah dibawa kemana-mana dan dapat digunakan oleh siswa. Kontekstualitas juga terletak pada penggunaan contoh-contoh kelas kata yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari. Selain itu, bentuk simbol juga sangat familiar dengan anak dan sesuai dengan konteks sehingga mudah diasosiasi dan dikenal. Karakteristik media ini membuat pembelajaran menjadi lebih kontekstual. Dalam hal ini, guru harus menyesuaikan dengan kebutuhan siswa, keadaan dan situasi tempat proses pembelajaran berlaku. Hamdani (2011: 19) menegaskan bahwa kaidah dalam strategi pembelajaran yang paling baik bergantung pada situasi dan kondisi tempat proses pengajaran itu berlaku. Peneliti menemukan bahwa langkah pembelajaran dalam album khususnya untuk pembelajaran kata keterangan, kata depan, dan kata penghubung, sebaiknya diajarkan dalam konteks kalimat. Alasannya, karena kelas kata tersebut akan terlihat maknanya jika berada dalam kalimat. Kelas kata ini termasuk dalam kata tugas, seperti yang dijelaskan Mulyono (2013: 28) bahwa kata tugas hanya memiliki fungsi untuk memperluas atau merangkaikan kata dan bagian kalimat. Dengan demikian, funginya akan terlihat lebih jelas jika mencontohkannya dalam kalimat. Berbeda dengan kata benda, kata sifat dan kata kerja yang bisa menggunakan contoh kata saja.
Peneliti melihat bahwa anak sudah menggunakan kata-kata tersebut untuk berkomunikasi sehari-hari oleh karena itu sangat penting untuk mengaitkan apa yang dipelajari dengan pengalaman nyata. Senada dengan yang dikatakan Muslich (2007: 41) relating adalah bentuk belajar dalam konteks kehidupan nyata atau pengalaman nyata anak. Pembelajaran bahasa
Ini simbol kata kerja
pun harus dikaitkan atau bertitik pangkal pada pengetahuan bahasa anak yang telah dimilikinya. Anak belajar berbahasa dari lingkungan yang menggunakan bahasa tersebut (Slamet, 2014: 3). Naom Chomski dalam Slamet (2014: 6) juga berpendapat bahwa semua manusia mempunyai kemampuan bawaan untuk berbahasa. Dengan bekal pengetahuan bahasa yang ada pada anak, guru bertugas untuk mengembangkan penguasaan dan keterampilan berbahasa mereka. Perkembangan bahasa anak pada periode usia sekolah dasar ini meningkat dari bahasa lisan ke bahasa tulis (Slamet, 2014: 7).
Selama melakukan ujicoba lapangan terbatas peneliti juga menemukan kesulitan atau kejanggalan. Kejanggalan pertama yang ditemukan, yaitu pada presentasi kata sifat. Menurut definisi kata sifat adalah kata yang menjelaskan kata benda (Diknas, 2009: 156). Sedangkan, kata benda adalah kata yang menunjukan nama orang, benda, dan hewan (Diknas, 2009: 156). Artinya bahwa kata sifat menjelaskan kualitas dari orang, benda, hewan, dll. Namun, siswa mengalami kesulitan untuk menerima bahwa kata sifat juga menjelaskan kata benda yang lain selain sifat-sifat manusia. Peneliti melihat bahwa istilah “sifat” yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia untuk jenis kata sifat menimbulkan atau menyempitkan persepsi anak akan jenis kata tersebut. Namun, sisi positif dari media ini dengan menggunakan konsep keluarga kata benda membantu anak untuk memahami dan merubah perspektif bahwa kata sifat itu menjelakan semua yang mempunyai nama.
Kejanggalan dan kesulitan kedua, berkaitan dengan simbol kata depan dan kata penghubung yaitu jembatan pink dan hijau. Keduanya disimbolkan dengan jembatan sehingga peneliti mengalami kesulitan untuk menjelaskan konsep tersebut agar anak paham perbedaan fungsi dari keduanya.
Gambar 4. 17 Simbol Kata Depan dan Kata Penghubung
Peneliti akhirnya, merubah cara presentasi dengan
menggunakancontoh kalimat yang biasanya digunakan anak sehari-hari. Cara presentasi ini lebih mempermudah anak dapat memahami bahwa kata-kata ini yang disebut yang disebut kata-kata depan dan kata-kata penghubung daripada menjelaskan kedua simbol tersebut. Anak menyimpulkan bahwa kata depan karena letaknya di depan dan kata penghubung untuk menghubungkan kata-kata.
Gambar 4. 18 Aktivitas Kata Penghubung
Gambar 4. 19 Aktivitas Kata Depan
Kejanggalan yang sama terjadi pada kata keterangan dan kata ganti, guru sebaiknya mengajarkannya dalam konteks kalimat atau aktivitas permainan. Cara ini akan lebih efektif karena kata keterangan mempunyai makna jika digabungkan dengan kata sifat atau kata kerja dalam kalimat.
Dalam tata bahasa Inggris Montessori mengklasifikasi kata kerja, kata keterangan dan kata ganti dalam satu keluarga (Feez, 2010: 121).
Gambar: Balok pink
mawar Kamboja mawar dan Kamboja
Gambar aktivitas kata penghubung
Inang makan di kantin
Gambar: jembatan/bulan sabit hijau
Dalam pembelajaran Bahasa Indonesia kata keterangan digunakan untuk menerangkan kata yang bukan kata benda (Diknas, 2009: 157). Artinya bahwa kata keterangan ini bisa menerangkan kata sifat, kata kerja, dll.
Gambar 4. 20 Simbol Kata Keterangan, Kata Sifat, dan Kata Kerja
Gambar 4.21 Aktivitas Kata Keterangan
Konsep keluarga kata kerja menjadi berubah sehingga peneliti tidak memperkenalkanya sebagai keluarga tetapi membuatnya saling berhubungan satu dengan lain. Kesulitan dan kejanggalan ini, menuntut kreativitas guru dan kemampuannya untuk menyusun strategi pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan anak dan fleksibel jika harus dirubah. Seorang guru Montessori mempunyai peran dalam mempersiapkan lingkungan bagi anak, guru harus terbuka terhadap segala proses kehidupan dan perubahan yang terjadi pada anak (Lillard, 1972: 51).
Berkaitan dengan produk album sebagai panduan untuk guru terjadi beberapa perubahan khususnya pada presentasi kata depan, kata ketarangan, dan kata penghubung. Peneliti juga menambahkan satu jenis kartu yaitu kartu definisi kelas kata. Kartu ini dapat digunakan sebagai latihan dengan cara mencocokan dengan kartu kelas kata, dan kartu gambar simbol. Selain itu, peneliti juga menambahkan lembar kerja siswa (LKS) yang dapat digunakan untuk aktivitas di rumah.
Gambar: Bola oranye
Angger anak yangpalingcerdas
Gambar: Piramida biru tua simbol kata
Gambar 4. 22 Lembar Kerja Siswa
Hasil produk akhir dari media ini yaitu simbol kata 3 dimensi, album Montessori, dan kartu-kartu aktivitas.
Gambar 4. 23 Produk Akhir