• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

3) Posttest

Berikut ini peneliti mendeskripsikan pengalaman pembelajaran selama tiga pertemuan berdasarkan observasinya.

i. Pertemuan Pertama

Pada tanggal 15 Februari, peneliti mulai pertemuan pertama. Tanggapan dari anak-anak saat akan memulai pembelajaran sangat positif dan sangat bersemangat “hore hari ini kita belajar dan tidak

ngaur-ngauran lagi” ekpresi spontan ini karena mereka menganggap

kegiatan wawancara yang pernah dilakukan itu tidak penting“ngaur”. Anak-anak sangat senang melihat media pembelajaran dan ada rasa penasaran akan pembelajaran Bahasa Indonesia dengan menggunakan media.

Peneliti memulai pembelajaran dengan membuat kesepakatan dan memperkenalkan media pembelajaran. Kesepakatannya yaitu menjaga area kerja dan media belajar dengan baik, dan yang kedua adalah kesepakatan kelas “yang satu bicara yang lain mendengarkan”. Peneliti menyiapkan area kerja dan memperkenalkan media tersebut kepada siswa sesuai dengan langkah pembelajaran Montessori. Berikut adalah gambar area kerja siswa.

Gambar 4. 9 Area Kerja Siswa

Seorang anak yang bernama D berkata“aku tahu kita akan

belajar tiga dimensi” dan yang lain pun juga ikut mengatakan “tiga dimensi”. Artinya bahwa sebelum memperkenalkan media ini, anak

sudah mengetahui bentuk-bentuk simbol yang dilihatnya.

Peneliti memperkenalkan simbol-simbol dengan bertanya jawab, “Bentuk apa saja yang teman-teman lihat?”. Jawaban setiap anak sangat bervariasi, ada yang mengatakan lingkaran, bola, piramida, prisma, persegi panjang, segitiga, bulan sabit, dan bahkan ada anak yang mengidentifikasi bentuk lubang kunci. Berdasarkan jawaban mereka peneliti melihat bahwa anak sudah mengenal bentuk-bentuk geometrik meskipun yang disebutkan kebanyakan adalah bentuk geometrik 2 dimensi. Reaksi anak juga bervariasi saat melihat media tersebut, ada yang langsung memegangnya, ada yang mengambil dan melihatnya beberapa saat, dan ada anak yang sama sekali tidak menunjukan reaksi apapun.

Gambar 4.10 Anak Melihat dan Memegang Bola Merah Pembelajaran dimulai dengan sebuah pengantar berupa permainan. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk menghantar anak agar memahami konsep bahwa segala sesuatu yang ada mempunyai nama. Siswa diminta untuk mengambil benda yang ada di dalam

kelas yang belum mempunyai nama. Namun, siswa datang dengan membawa benda yang sudah ada namanya seperti sepatu, bola, penghapus, dan papan tulis kecil. Anak-anak tidak memahami kalimat perintah yang dikatakan. Meskipun, anak tidak melakukan apa yang diperintahkan namun peneliti melanjutkan kegiatan dengan bertanya “Benda apa saja yang dibawa? anak menyebutkan nama dari benda-benda kemudian peneliti bertanya “apakah ada benda yang belum mempunyai nama? anak menjawab “semua sudah diberi nama” lalu menyimpulkan bahwa segala sesuatu mempunyai nama.

Aktivitas lain yang dilakukan yaitu meminta anak untuk menyebutkan nama benda-benda disekitar kelas. Pertanyaan ini langsung dijawab dengan menyebutkan semua benda yang ada di kelas. Kemudian, memperkenalkan simbol kata benda yaitu piramida hitam. Pengantar piramida berupa cerita dengan menggunakan gambar piramida. Ada anak yang sudah mengetahui cerita tersebut dan ada yang belum. Saat mendengarkan cerita ada anak yang bertanya “Mengapa warna hitam sebagai simbol kata benda?”. Lalu peneliti menceritakan tentang zat karbon di alam yang warnanya hitam sudah ada sejak zaman dulu sama seperti kata benda. Ketika anak semuanya telah paham tentang kata benda, peneliti mengulang kembali dengan pertanyaan.

Peneliti, kemudian menjelaskan simbol berikutnya yaitu simbol kata sifat. Saat meletakan piramida hitam dan piramida biru tua di karpet anak-anak langsung mengatakan bahwa bentuknya sama, tetapi ukuran dan warnanya berbeda. Lalu, peneliti menggunakan beberapa kertas origami sebagai pengantar. “Jenis kata apakah kertas?” anak-anak menjawab “kata benda”, maka di mana harus diletakan? mereka menjawab “di dekat piramida hitam”. Ini menunjukan bahwa anak sudah paham simbol kata benda. Lalu, peneliti melakukan trik sederhana yang membuat anak bingung. Peneliti meminta salah seorang anak untuk memberikan kepadanya kertas origami. Kemudian, anak memberikan origami oranye tetapi

peneliti mengatakan “Bukan itu”. Reaksi anak pada saat itu bingung dan heran, lalu bertanya secara spontan “kertas yang mana?” kemudian, peneliti menjawab kertas warna biru. Anak lalu paham bahwa kata biru membuat ia mengerti benda yang sesorang inginkan. Peneliti pun dapat menjelaskan dengan mudah kepada anak bahwa kata biru tadi menunjukan kata sifat yang kita simbolkan dengan piramida biru tua. Bentuknya sama karena termasuk satu keluarga kata benda.

Gambar 4. 11 Aktivitas Kata Sifat

Siswa diminta untuk menyebutkan contoh kata sifat. Peneliti juga menemukan bahwa anak-anak sepertinya mempunyai pemahaman bahwa kata sifat itu berkaitan dengan sifat seseorang. Pembelajaran dengan media ini membuka pemahaman anak yang baru bahwa kata sifat itu adalah kata yang menyatakan sifat, ciri-ciri kata benda (auto-education).

Menarik pada simbol kata kerja yaitu bola merah, anak-anak rupanya sangat menyukai bentuk ini. Kegiatan menggulingkan bola merah yang dibandingkan dengan menggulingkan piramida hitam sangat efektif. Anak memberi kesimpulan bahwa bola merah itu mudah bergerak ke mana-mana tidak seperti piramida hitam yang tidak mudah bergerak. Dengan demikian, ketika peneliti mengatakan bahwa bola merah adalah simbol kata kerja dan saat ditanya alasannya anak menjawab bahwa karena bola itu bergerak seperti saat kita bekerja harus bergerak (auto-education). Anak kemudian menuliskan contoh kata kerja, kata benda, tetapi tidak menuliskan kata sifat karena kemungkinan masih belum paham.

kertas origami

Kertas

merah biru pink

Kegiatan penutup yaitu mengecek pemahaman anak dengan menggunakan three period lesson. Dengan menggunakan Three

period lesson peneliti dapat menilai pemahaman siswa.

Langkah-langkah three period lesson dapat dilihat pada album halaman atau pada bab II halaman 23.

ii. Pertemuan Kedua

Pertemuan kedua dilaksanakan pada hari Kamis, 22 Februari 2018 dengan materi pembelajaran kata depan, kata keterangan, kata penghubung dan kata ganti. Pembelajaran diawali dengan review materi kata benda, kata sifat dan kata kerja. Peneliti menggunakan kartu-kartu, kemudian anak-anak secara berkelompok mengerjakannya. Peneliti melakukan observasi saat anak-anak sedang mengerjakannya. Pada kelompok laki-laki 2 anak pada awalnya tertarik tetapi kemudian, tidak mengerjakannya dan membiarkan temannya bekerja sendiri. Setelah mengerjakan peneliti memberi kartu dengan pengendali kesalahan untuk dicek oleh anak sendiri hasil pekerjaan mereka.

Gambar 4. 12 Hasil Kerja Kelompok

Peneliti menemukan bahwa anak sudah memahami kata kerja dan kata benda serta mampu memasangkan kartu sesuai dengan tempatnya. Anak juga sudah menemukan kata kunci dari kedua jenis kata. Kata benda berkaitan dengan nama “segala sesuatu mempunyai nama” dan kata kerja berkaitan dengan aksi atau tindakan. Dalam hal ini, anak sudah mampu membuat definisi sendiri dan menemukan kesalahan mereka dengan bantuan pengendali kesalahan.

Kedua kelompok, menyadari bahwa mereka kurang paham dengan kata sifat. Demikian, seorang anak berkata “Kami belum

paham kata sifat”. Seperti yang dijelaskan peneliti sebelumnya,

bahwa anak memahami kata sifat hanya sebatas sifat manusia saja. Peneliti menggunakan pemahaman ini untuk mengantar anak bahwa benda-benda mempunyai sifat, ciri-ciri yang membedakannya. Peneliti bertanya dengan menyebut nama anak “Inang termasuk

jenis kata apa? serentak anak menjawab “kata benda”. Nah, seperti

apa Inang? spontan anak menjawab “cantik dan baik”. Lalu, anak diminta untuk membaca fungsi kata sifat yaitu menjelaskan atau mendeskripsikan kata benda. Kemudian peneliti bertanya “kata

benda itu terdiri dari apa saja?” anak menjawab orang, hewan, tanaman, benda. Nah, kita telah menemukan kata sifat dari benda “orang” hewan pun mempunyai sifat atau ciri-ciri. Anak sangat

paham ketika penjelasan itu berakhir sehingga mereka langsung mengambil kertas dan menuliskan sifat-sifat dari anjing. Aktivitas ini, dilakukan oleh anak secara mandiri. Pemahaman anak semakin luas tentang kata sifat. Ini menunjukan bahwa media ini membantu anak untuk memahami kelas kata.

Materi berikutnya adalah kata depan dan kata penghubung. Sekali lagi anak sudah paham dengan bentuknya. Bahkan, ada yang mengatakan keduanya seperti jembatan. Ketika, peneliti bertanya

tentang fungsi jembatan anak-anak menjawab untuk

menghubungkan sungai, jalan yang putus sehingga bisa digunakan oleh orang. Peneliti menggunakan pemahaman anak untuk menjelaskan tentang kata depan dan kata penghubung yang termasuk pada partikel penyatuan. Pada poin ini menunjukan ciri kontekstual dari pembelajaran dengan media montesorri yaitu menggunakan kata-kata yang sudah diketahui anak atau sesuai dengan konteks anak.

Kemudian, peneliti bertanya “Apa itu kata depan?” ada anak yang menjawab kata yang berada di depan. Lalu, “Apa itu kata

penghubung” anak juga bisa menjawab kata yang menghubungkan.

Ada anak yang bertanya “lalu apa bedanya antara kata depan dan

kata penghubung jika simbolnya juga seperti jembatan?” peneliti

tidak memberi jawaban tetapi melakukan permainan sehingga anak menemukan perbedaan itu sendiri dan konsep pemikiran mereka. Peneliti meminta seorang anak untuk meletakan pensil pada meja “Angger tolong letakan pensil ini diiiiii atas meja, Okka letakan

pensil itu diiiiiii depanmu, lalu Okka pergi keeeee depan pintu”.

Kata yang yang ditarik panjang yaitu ke dan di adalah contoh kata depan. Anak-anak langsung mengingat pembelajaran kata depan dengan gurunya yaitu di, ke, dari. Anak kemudian menuliskan kalimat yang terdapat kata di, ke dan dari. Lalu, membuktikan dengan kartu definisi kelas kata “kata depan berada di depan kata benda. Ada anak yang menulis aku pergi ke sekolah. Peneliti meminta anak untuk membuktikan bahwa kata depan berada di depan kata benda. Anak menuliskan contoh beberapa kalimat yang menggunkan kata depan.

Pada aktivitas kata penghubung peneliti, juga menggunakan aktivitas permainan tanya jawab. Peneliti mengambil satu kertas dan pensil lalu bertanya apa ini? Salah satu anak menjawab “pensil dan kertas? Kata apa yang menghubungkan pensil dan kertas? kata “dan”. Lalu peneliti bertanya “Sifra pilih pensil atau kertas? Sifra menjawab “Pensil”. Kata apa yang menghubungkan pertanyaan tadi? kata “atau”. Anak menunjukan ekspresi mengangguk yang berarti bahwa anak telah paham kata depan dan kata penghubung.

Peneliti, mengulang kambali dengan menggunakan three

period lesson tetapi ada anak bernama O yang mengalami kesulitan

dalam menjawab, ia mengatakan bahwa ia tidak tahu. Di antara semua anak peneliti melihat bahwa O kurang semangat dalam belajar. Meskipun, ia ada bersama teman-temannya sehingga harus didampingi secara personal.

Pada pertemuan kedua ini, peneliti menemukan bahwa media pembelajaran ini membantu anak untuk memahami kelas kata. Aktivitas mandiri yang dilakukan oleh anak dengan menggunakan kartu dan simbol 3 dimensi sangat menarik dan memfasilitasi anak untuk berpikir. Anak juga dapat mengoreksi kesalahannya sendiri.

iii. Pertemuan Ketiga

Pertemuan ketiga dilaksanakan pada hari Jumat, 23 Februari 2018 bertempat di ruang pameran SD Kanisius Eksperimental Mangunan. Salah satu subjek dari penelitian bernama A tidak mengikuti pembelajaran dari awal karena sering datang terlambat. Hal ini terjadi selama 3 kali pertemuan sehingga peneliti mengalami kesulitan dalam mengatur waktu yang sangat terbatas untuk mengajarinya.

Pada pertemuan ketiga ini, materi yang diajarkan yaitu kata ganti dan kata keterangan dengan menggunakan simbol piramida ungu dan bola oranye. Sebelum mulai pembelajaran siswa D mengambil inisiatif untuk menanyakan ke teman-temannya nama dari simbol-simbol tersebut. Peneliti mengamati bahwa siswa sudah mengenal simbol dari setiap jenis kata, dan senang melakukan aktivitas ini.

Review dilakukan oleh anak sendiri tanpa bantuan guru. Ini

menunjukan bahwa pembelajaran dengan media ini menimbulkan ketertarikan dan kemandirian siswa untuk belajar. Ketika ada siswa yang tidak mengingat nama simbol tersebut teman-teman yang lain membantu mengingatkan nama dari simbol tersebut. Letak dari ciri media Montessori yaitu bergradasi bisa dilihat dari level dan kemampuan anak-anak yang berbeda-beda. Beberapa anak sudah mampu mendefinisikan kata ganti dan menyebutkan contoh kata ganti yang sering kali digunakan. Namun, ketika mengajarkan tentang kata keterangan yang fungsinya menerangkan kata kerja atau kata sifat.

Peneliti melihat bahwa anak masih mengalami kesulitan dan beberapa kali harus mengulang karena menukarbalikan simbol.

Peneliti, menyadari bahwa untuk mengajarkan kelompok partikel dan penyatuan siswa harus diajarkan dalam konteks kalimat. Jika hanya menggunakan contoh kata-kata saja, anak mengalami kesulitan untuk memahaminya. Pada pertemuan ketiga ini, waktunya sangat singkat bagi anak untuk memahami konsep kedua jenis kata khususnya kata keterangan.

Berdasarkan dinamika pembelajaran tiga pertemuan ini, peneliti menemukan bahwa media Montessori simbol kata tiga dimensi dan aktivitas pembelajarannya membantu siswa untuk memahami konsep kelas kata. Aktivitas ini juga membantu siswa untuk mendefinisikan setiap jenis kata sesuai dengan pemahaman dan bahasanya sendiri. Buktinya ketika siswa ditanya tentang apa yang dipahami, siswa menjawab dengan bahasanya sendiri misalnya, “kata benda itu

pokoknya segala sesuatu yang mempunyai nama yang ada di bumi baik yang kelihatan maupun yang tak kelihatan”. Ada juga yang

mengatakan bahwa kata ganti itu fungsinya menggantikan kata benda atau nama yang melakukan suatu tindakan. Kata sifat fungsinya membantu kata benda karena bentuknya sama, jika tidak ada kata sifat kita tidak bisa mengerti benda apa yang kita inginkan tidak bisa dibayangkan. Ada 7 kelas kata yang dipelajari selama tiga pertemuan dengan alokasi waktu 45 menit. Di antaranya lima orang siswa hadir tepat waktu sehingga dapat mengikuti dinamika pembelajaran dengan baik sedangkan satu siswa selama tiga pertemuan datang setelah pembelajaran telah dimulai sehingga kurang mampu mengenal dan memahami pebelajaran dengan baik.

Media Simbol kata tiga dimensi termasuk dalam kategori

academic material oleh karena itu agar siswa mampu memahami materi

maka siswa harus mengikuti kegiatan pembelajaran. Jika tidak maka siswa tersebut tidak mungkin mengenal simbol-simbol yang ada.

Dengan demikian, akan mempengaruhi hasil belajar dan pemahamannya.

3) Posttest

Setelah melakukan pembelajaran, siswa kemudian diberi

posttest. Setiap siswa menjawab soal ada yang 3 menit ada yang 5

menit dan ada yang 15 menit. Saat mengerjakan soal, peneliti mengamati bahwa ada siswa yang mengalami kesulitan dan kemudian mendekati peneliti untuk bertanya dan ada siswa yang mengerjakannya dengan penuh percaya diri. Soal posttest dapat dilihat pada lampiran 4.2 halaman 144, sedangkan lembar hasilnya dapat dilihat pada lampiran 4.4 halaman 146. Berikut ini adalah hasil rekapitulasi skor dari setiap siswa, angka 1 jika jawabannya benar dan 0 jika salah.

Tabel 4. 15 Rekapitulasi Nilai Posttest

Dokumen terkait