• Tidak ada hasil yang ditemukan

Langkah Pertama

Dalam dokumen Cinta di Dalam Gelas (Halaman 34-36)

Langkah Pertama

MARYAMAH duduk di depan papan catur dan rampak berusaha memberanikan diri. Dengan ragu ia menjulurkan tangannya dan meraih beberapa butir pion. Digenggamnya kuat-kuat para prajurit balok satu umpan peluru itu.

Selanjutnya, aku kewalahan diberondongnya dengan pertanyaan. Sering kali ia memejamkan mata untuk membenam-benamkan pengetahuan baru ke dalam kepalanya. Ia kewalahan, namun penuh tekad. Sebuah kekuatan besar dari dalam dirinya seakan menggerakkannya dengan dahsyat untuk menguasai catur yang ia anggap biang keladi kesusahan hidupnya.

Pada malam keempat, ia tersenyum berseri-seri dan menjentikkan sebiji pion. Matanya menyapu setiap bidak catur seakan buah-buah catur itu tersepuh emas. Malam itu, untuk pertama kalinya, Maryamah binti Zamzami bisa bermain catur.

Tapi, aku selalu unggul atas Maryamah. Sebabnya, Maryamah melecut buah catur sesuka perasaannya. Ia mengumbar para perwira, dan menempati kotak-kotak kosong semau-maunya. Ia merayakan euforia telah pandai melangkahkan buah catur. Ia tak peduli lawan mengintai rajanya atau ingin menelan hidup-hidup menterinya. Pion- pion dilepaskan seperti melepas anak ayam dari kandang. Maka, tak lebih dari 3 menit, kepala rajanya terpenggal. Setiap itu terjadi, ia terkekeh-kekeh dan tak sedikit pun mengambil pelajaran. Ia bercatur dengan kecenderungan bunuh diri. Ia membiarkan saja rajanya terkepung dan tak mengindahkan moralitas menang. Anehnya, ia amat berhati-hati jika menggerakkan benteng. Sikap Maryamah sangat misterius. Barangkali, sejak catur ditemukan orang berabad-abad lampau, baru kali ini ada pecatur macam dia.

Sesuai saran dari Nochka, kucatat dengan teliti gerakan Maryamah di dalam diagram, lalu kukirimkan padanya. Juga, kutanyakan tingkah Maryamah yang ganjil itu. Dua hari kemudian aku mendapat kabar darinya.

“Sungguh menarik. Sampai tak tidur aku mempelajarinya.”

Apa pula ini? Kata hatiku.

“Belum pernah kulihat hal semacam ini. Ada energi dari setiap langkahnya. Ada pula pola pertahanan yang unik.”

Aku terkejut. Pandangan seorang grand master rupanya tak sama dengan pandang seorang awam. Di mataku, tindakan Maryamah adalah serampangan. Grand master berpendapat lain.

“Bukan, bukan serampangan. Dia menggerakkan buah catur sesukanya karena

untuk pertama kalinya ia bisa menjadi pengendali. Ia bisa menentukan nasib para perwira, dan senang bisa menjadi penentu kapan rajanya akan hidup atau mati. Ia merayakan kebebasan. Mungkin lantaran sekian lama hidupnya tertekan. Gerakan teliti bentengnya adalah mekanisme naluriahnya untuk bertahan. Papan catur adalah refleksi

hidupnya.”

Aku takjub dan bertanya, apa yang harus kulakukan.

“Tak ada, dan belum ada pula yang bisa kuajarkan. Latihan saja terus dan biarkan saja dia kalah. Lambat laun dia akan menemukan teknik untuk melindungi

perwiranya. Kuperkirakan itu akan terjadi segera. Jika itu terjadi, rajamu akan tumbang.”

Peluk

Disebabkan karena kau terlalu malu

Dengan penuh gengsi kau berbalik dia pun berlalu Rasakan itu olehmu, sekarang baru aku tahu

Bahwa semua keindahan di dunia ini berkelabat dengan cepat dan hukum-hukum Tuhan ditulis sebelum telepon dibuat

Orang-orang indah yang kautemukan di pasar, stasiun, terminal, dan lingkungan Kekasih, kemewahan mutiara brana, kemilau galena dan intan berlian

Semuanya akan meninggalkanmu Kecuali secangkir kopi

Dia ada di situ, tetap di situ, hangat, dan selalu dapat dipeluk

Mozaik 14

Kopi Berdasarkan Cara Memegang Gelas

SEPERTI musim, hati Sersan Kepala Zainuddin sedang kemarau. Kepala polisi itu dongkol benar lantaran persis seperti musim pula maling sepeda kambuh lagi. Tahun lalu Sersan Kepala tak berhasil membongkar kasus serupa dan masyarakat terang- terangan mengeluh padanya. Pencuri itu sangat lihai. Sersan Kepala bahkan telah minta bantuan Detektif M. Nur, tapi tetap tak bisa membekuk pencuri itu.

Sepeda yang hilang sebenarnya tak banyak, paling hanya 3 atau 4 ekor, tapi itu sudah merupakan skandal besar bagi kampung kami yang kecil. Lebih besar dari skandal seorang politisi yang memalsukan ijazah dan mengaku pernah naik haji tempo hari. Usut punya usut, ijazahnya dibuat oleh tukang pelat nomor sepeda motor, dan ia bahkan seumur hidupnya tak pernah naik pesawat.

Semalam satu sepeda hilang lagi dari lapangan parkir MPB (Markas Pertemuan Buruh) waktu maskapai timah memutar film untuk kaum kuli. Pemilik sepeda adalah Muhairi, seorang pria berusia 45 tahun dan belum kawin. Kenyataan bahwa lelaki itu seorang bujang lapuk, bahkan belum pernah pacaran---selalu kukatakan, bahwa hidup ini mengerikan kadang-kadang---dan sepeda itu merupakan hartanya yang paling berharga, warisan bapak tirinya pula, membuat hati Sersan Kepala semakin terluka.

.

Sersan Kepala adalah polisi yang jujur dan disayangi warga. Ia orang Melayu dan pada dasarnya susah menemukan orang Melayu yang mau menjadi polisi atau tentara. Tak tahu apa sebabnya. Perkara sepeda ini membuat kepala Sersan Kepala pening dan penyakit ambeiennya makin parah. Padahal ia sudah mau pensiun dan pada majelis warung kopi yang budiman ia selalu mengatakan bahwa ia ingin pensiun dengan tenang dan meninggalkan kantor polisi bersama reputasinya yang harum. Lalu, katanya selalu, ia ingin segera membuka warung kopi.

Jika sudah bicara soal rencana membuka warung kopi itu, berjam-jam ia tak berhenti, sampai mau muntah saking bosan mendengarnya. Ia bicara tentang nama warung kopinya, jumlah pelayannya, dan lokasinya. Ia bicara tentang bagaimana akan lapang hatinya karena nongkrong berlama-lama sambil main catur dan minum kopi di warungnya sendiri. Ia tak peduli telah menceritakan hal itu pada orang yang sama berpuluh-puluh kali. Membuka warung kopi adalah resolusi hidupnya.

Sersan Kepala sering minta saran padaku untuk nama warung kopinya. Setiap kusampaikan usulku, matanya berbinar-binar. Dari sekian banyak nama, dia suka dua: Warung Kopi Tiga Tuntutan Rakyat atau Warung Kopi Sayangku Manisku. Kedua nama

Dalam dokumen Cinta di Dalam Gelas (Halaman 34-36)