• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

2.3. Lansia dan Dukungan Sosial

Kemunduran kondisi fisik dan psikologis, khususnya, dapat mempengaruhi aktivitas sehari-hari (activity of daily living) para lansia.Activity of daily living merupakan kegiatan-kegiatan yang dibutuhkan seseorang dalam rangka menyelenggarakan kehidupannya secara mandiri (Bozo et al., 2009). Kelompok peneliti ini juga menjelaskan bahwa para lansia, terutama yang tergolong pada kelompok tidak potensial, cenderung tergantung pada orang lain dalam melakukan aktivitas sehari-harinya. Kegiatan-kegiatan dasar yang tidak

dapat dilakukan secara mandiri seperti makan, mandi, berpakaian, serta buang air, dapat menjadi pemicu munculnya ketidakberdayaan, sehingga akhirnya dapat menimbulkan stres atau depresi.

Kebutuhan akan bantuan orang lain menyebabkan para lansia perlu memperoleh dukungan secara sosial. Bozo et al. (2012) mengemukakan bahwa dukungan sosial diperlukan terutama dalam kaitannya dengan ketidakberdayaan fungsional lansia dalam melaksanakan kebutuhan fisik sehari-hari. Dukungan semacam ini pada umumnya lebih mudah diperoleh pada masyarakat yang bersifat kolektivis yang dicirikan oleh lebih kentalnya ikatan kekeluargaan/kekerabatan, dibandingkan dengan pada budaya individualis dengan gaya hidup yang cenderung mengutamakan kepentingan individu.

Terdapat variasi antar peneliti tentang definisi dukungan sosial. Secara mendasar, dukungan sosial merefleksikan informasi tentang persepsi terhadap terpenuhinya kebutuhan akan perlindungan, dukungan, dan umpan balik (Dewi, 2013) atau dukungan yang diterima melalui proses komunikasi dan interaksi sosial dengan pihak seperti teman, rekan kerja, dan keluarga/kerabat (Lobburi, 2012). Weiss (1974) (dalam Cutrona & Russel, 1987) mengemukakan bahwa terdapat enam komponen dukungan sosial yakni:

1. Guidance: hubungan yang memungkinkan individu untuk memperoleh nasehat atau informasi yang diperlukan.

2. Reliable alliances: jaminan tentang adanya keberadaan seseorang yang dapat diandalkan bantuannya.

3. Reassurance of worth: perolehan pengakuan atas kemampuan, keahlian, dan penghargaan dari orang lain.

4. Opportunity of nurturance: perasaan dibutuhkan oleh orang lain (salah satu aspek hubungan interpersonal).

5. Attachment: perolehan rasa aman karena adanya kedekatan emosional. Sumber dukungan ini dapat berasal dari pasangan hidup, kerabat atau teman dekat.

6. Social integration: perasaan tentang keterlibatan dalam suatu kelompok yang memungkinkan dapat membagi minat serta melakukan aktivitas yang sama. Dukungan semacam ini memungkinkan individu memperoleh rasa nyaman, aman, senang, serta rasa memiliki identitas.

Sementara itu, menurut Safrino (2002) dukungan sosial dapat dibedakan menjadi empat bentuk yakni:

1. Dukungan emosional: melibatkan ekspresi rasa simpati dan perhatian terhadap individu yang menyebabkan timbulnya rasa nyaman, dicintai, dan diperhatikan. 2. Dukungan penghargaan: melibatkan ekspresi yang berupa pernyataan setuju

dan penilaian positif terhadap ide-ide, perasaan, dan performa orang lain. 3. Dukungan instrumental: melibatkan bantuan langsung, misalnya bantuan

keuangan atau bantuan dalam mengerjakan tugas-tugas tertentu.

4. Dukungan informasi: dapat berupa saran, pengarahan, atau umpan balik tentang pemecahan masalah.

Menurut Wadsworth dan Owens (2007), dukungan sosial dicirikan oleh tindakan-tindakan yang menunjukkan ketanggapan terhadap kebutuhan orang lain.

Kelompok peneliti ini mengkategorikan dukungan sosial ke dalam dua kategori umum yakni yang bersumber dari pekerjaan dan nonpekerjaan. Berhubung responden utama dalam studi ini adalah lansia yang notabene tidak bekerja atau tidak lagi bekerja (pensiun), maka dukungan sosial difokuskan pada dukungan yang bersumber dari aspek nonpekerjaan, yaitu teman, pasangan, dan/atau anggota keluarga yang lain.

Dukungan dari pasangan (oleh Watkins et al., 2012 disebut sebagai “the closest significant other”), atau anggota keluarga lain, akan dapat membantu para lansia dalam menghadapi dan menanggulangi hambatan-hambatan yang dihadapi baik dari segi fisik, fisiologis, maupun psikologis. Dilihat dari dukungan pasanganpun, terdapat beberapa variasi seperti yang dikemukakan oleh Peeters dan Le Blanc (2001). Dijelaskan bahwa dukungan pasangan ini dapat dikategorikan menjadi dukungan emosional (empati, kasih sayang, dan kepercayaan); penilaian (penyaluran informasi yang relevan sebagai evaluasi diri); dan instrumental (bantuan praktis).

Lansia membutuhkan dukungan keluarga akibat penurunan kemandirian mereka yang terutama disebabkan oleh kondisi fisik yang menurun. Dukungan keluarga merupakan informasi verbal, non-verbal, saran, bantuan nyata, dan tingkah laku dari orang-orang yang akrab berupa kehadiran, kepedulian, kesediaan, dan hal-hal yang dapat memberikan keuntungan emosional serta meningkatkan fisik lansia, sehingga mendorong mereka untuk mandiri dalam pemenuhan aktivitas sehari-hari (Kuntjoro, 2002) (dalam Khulaifah, dkk, 2012).Hasil studi kelompok peneliti ini terhadap lansia yang tinggal bersama

anak-anaknya di Desa Sembayat Timur, Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik, menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang positif antara dukungan keluarga dengan kemandirian lansia dalam pemenuhan aktivitas sehari-hari. Berarti, semakin tinggi dukungan yang diberikan oleh keluarga (termasuk anak-anaknya), semakin tinggi pula tingkat kemandirian lansia dalam melaksanakan kegiatan harian mereka. Sebaliknya, semakin rendah dukungan yang diberikan oleh keluarga, maka tingkat kemandirian lansia dalam melaksanakan aktivitas sehari-hari akan semakin rendah.

Pada studi yang dilakukan oleh Departemen Sosiologi, Universitas Airlangga pada Tahun 2013, disebutkan bahwa terdapat 4 kelompok dukungan keluarga. Pertama, dukungan emosional antara lain berupa ungkapan empati, kasih sayang, dan kepedulian. Kedua, dukungan penghargaan lewat ungkapan hormat dan dorongan untuk hidup sehat dan beraktivitas. Ketiga, dukungan instrumental, meliputi bantuan langsung yang bersifat nyata dan dalam bentuk materi. Keempat, dukungan informatif yang mencakup meminta nasehat, petunjuk, saran/umpan balik dalam menyelesaikan permasalahan keluarga. Dalam definisi lansia dan jenis dukungan ini tersirat bahwa dukungan keluarga direfleksikan melalui upaya perawatan keluarga baik terhadap fisik maupun emosional lansia.

Selain terjadinya defisiensi pada kondisi fisik dan psikologis, lansia juga mengalami perubahan psikososial yang sifatnya beragam bergantung pada kepribadian individu yang bersangkutan (http://repository.usu.ac.id). Tidak jarang seseorang merasa sulit untuk menyesuaikan diri dengan masa pensiun setelah

sekian lama aktif bekerja, misalnya. Selain itu, menurut Andrioni dan Schmidt (2011), lansia merupakan kelompok rentan yang seringkali mengalami masalah terkait dengan isolasi sosial, kesehatan yang buruk, kondisi keuangan yang buruk, ketersediaan makanan yang tidak layak, dan kesepian. Kesepian biasanya disebabkan oleh meninggalnya pasangan hidup, ketiadaan teman, dan tempat tinggal yang terpisah engan anaak-anak. Sejalan dengan itu, van Marrewijk dan Becker (2004) juga mengemukakan bahwa meningkatnya jumlah penduduk lansia di suatu negara akan menimbulkan masalah selain berhubungan dengan naiknya biaya kesehatan, juga berdampak buruk pada kondisi personal lansia seperti rendahnya rasa percaya diri dan tidak memungkinkannya pencapaian determinasi diri. Maka dari itu, dibutuhkan penanganan atau perawatan dengan pola tertentu agar lansia dapat mencapai kehidupan yang sejahtera seperti yang diamanatkan oleh Undang-undang Nomor 13 Tahun 1998.

2.4. Pendekatan dan Nilai-nilai Agama Hindu dalam Perawatan Lansia