BAB IV. KARAKTERISTIK RESPONDEN PENELITIAN
4.3. Pola Perawatan Penduduk Lansia
4.3.1. Pola perawatan yang dilakukan oleh lansia
Pola perawatan penduduk lansia akan dapat mencerminkan bagaimana kesejahteraan lansia baik secara fisik maupun mental. Sangat penting untuk diketahui pola perawatan yang ideal diterapkan yang disenangi oleh lansia dan juga yang dapat dilakukan oleh keluarga lansia. Dengan demikian pandangan atau harapan baik dari sisi lansianya sendiri dan juga dari keluarga lansia yang akan merawatnya perlu diketahui atau dikaji sehingga pada masa yang akan datang dapat diterapkan pola perawatan yang lebih baik daripada sebelumnya.
1). Pengetahuan tentang Bina Keluarga Lansia (BKL)
Bina Keluarga Lansia (BKL) adalah sebuah kelompok yang terdiri atas keluarga yang memiliki lansia dan lansia tersebut yang berkumpul untuk mendapatkan pengetahuan dan cara-cara atau pola perawatan terhadap lansia yang mereka miliki. Sampai saat ini kelompok BKL dianggap sebagai sebuah kelompok yang ideal untuk mensejahterakan lansia dimana kelompok atau kegiatan ini dilaksanakan atau dikomandani oleh BKKBN (Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional). Untuk mengkaji bagaimana pola perawatan terhadap lansia yang ada selama ini di wilayah penelitian, maka salah satu pertanyaan yang diberikan kepada lansia adalah tentang pengetahuan mereka para lansia tentang BKL. Sebagian besar responden lansia yaitu sekitar 61 persen mereka pernah mendengar tentang BKL. Sisanya hanya 39 persen yang belum pernah mendengar tentang kelompok BKL. Persentase lansia yang pernah mendengar BKL relatif tinggi, hal ini menjadi modal yang sangat penting untuk
mengajak mereka para lansia untuk mengikuti kegiatan BKL tersebut dalam mengelola hari-hari mereka baik untuk bekerja maupun untuk kegiatan lainnya agar mereka dapat mencapai kesejahteraan dalam kehidupan hari tua mereka. Sumber informasi dari mana mereka mendengar tentang BKL tersebut memang bervariasi. Paling banyak mereka mendengar informasi tentang BKL dari sumber informasi dari banjar yang mencapai 49 persen, sisanya ada yang mendengar dari desa, sebanyak 38 dan sisanya dari puskesmas ataupun dari saudara. Selanjutnya responden lansia yang pernah mengikuti BKL atau menjadi anggota BKL hanya sekitar 25 persen dari total responden lansia, atau sekitar 41 persen dari responden lansia yang pernah mendengar tentang BKL. Jadi sekitar 59 persen responden lansia yang pernah mendengar tentang BKL tidak pernah menjadi anggota BKL. Saat penelitian dilakukan hanya sekitar 7 persen dari responden lansia yang masih aktif menjadi anggota BKL sampai sekarang saat penelitian dilakukan, atau sekitar 27 persen dari lansia yang pernah menjadi anggota BKL.
BKL yang mereka ikuti apakah pernah mendapatkan pembinaan dalam 12 bulan atau setahun terakhir ini, juga ditanyakan kepada mereka yang pernah menjadi BKL, dan yang sampai saat ini masih aktif menjadi anggota BKL. Data menunjukkan bahwa mereka yang memperoleh pembinaan sekitar 7 persen dari total responden lansia, dan 100 persen dari lansia yang masih aktif menjadi anggota BKL. Dengan demikian semua responden lansia yang masih aktif mengikuti BKL pernah memperoleh pembinaan dalam jangka waktu 12 bulan terakhir ini. Lembaga yang melakukan pembinaan tehadap lansia tersebut sebagian besar dilakukan oleh PUSKESMAS.
Pola perawatan terhadap penduduk lansia dapat ditinjau dari berbagai aspek yang memang dibutuhkan oleh para lansia dan dilakukan oleh mereka. Aspek-aspek tersebut antara lain secara fisik, psikis, sosial/ekonomi, spiritual yang dilakukan selama ini oleh lansia untuk menjaga agar lansia tetap sehat dan dapat melakukan aktivitas yang diperlukan. Secara fisik dari hasil penelitian yang dilakukan, terdapat beberapa aktivitas yang mereka lakukan seperti mengkonsumsi gizi seimbang, mengatur jadual makan, mengatur asupan makanan sesuai dengan diet yang dianjurkan, menjaga kebersihan diri, menjaga kebersihan lingkungan, pemeriksaan kesehatan secara teratur, memeriksakan diri ke dokter jika sakit, dan berolah raga secara rutin/teratur. Secara rinci kegiatan yang dilakukan oleh lansia untuk menjaga kesehatannya dari aspek fisik disampaikan dalam Tabel 4.7.
Data dalam Tabel 4.7 menunjukkan bahwa berbagai kegiatan sebenarnya telah dilakukan oleh lansia untuk menjaga kesehatan mereka. Hampir 91 persen dari responden lansia memeriksakan diri ke dokter jika sakit. Hal ini berarti para lansia sudah sadar tentang pentingnya menjaga kesehatan jika sakit dengan mendatangi pusat-pusat kesehatan seperti dokter praktek swasta maupun rumah sakit. Kegiatan ini yang paling banyak dilakukan oleh responden lansia untuk menjaga kesehatan mereka secara fisik. Urutan nomor 2 yang mereka lakukan adalah menjaga kebersihan diri yang dilakukan oleh sekitar 83 persen responden lansia. Menjaga kebersihan diri juga merupakan hal yang sangat penting untuk dilakukan dalam menjaga kesehatan penduduk lansia secara fisik.
Tabel 4.7
Kegiatan yang dilakukan oleh Lansia agar tetap sehat secara Fisik
No. Keterangan Ya (%) Tidak (%) Missing (%) Total (%)
1 Mengkonsumsi gizi seimbang 66,7 33,3 0,0 100,0
2 Mengatur jadual makan 68,7 31,3 0,0 100,0
3 Mengatur asupan makan sesuai diet yang dianjurkan
44,0 56,0 0,0 100,0
4 Menjaga kebersihan diri 82,7 17,3 0,0 100,0
5 Menjaga kebersihan
lingkungan
56,7 42,0 1,3 100,0
6 Melakukan pemeriksaan kesehatan secara teratur
34,7 65,3 0,0 100,0
7 Memeriksakan diri ke dokter jika sakit
90,7 9,3 0,0 100,0
8 Berolah raga secara teratur 58,7 41,3 0,0 100,0
Sumber: Data Primer, 2015
Jika dilihat dari 8 aspek yang dinilai hanya 2 aspek yang boleh dikatakan relative sedikit yang dilakukan oleh lansia untuk menjaga kesehatannya yaitu melakukan pemeriksaan kesehatan secara teratur yang dilakukan oleh sekitar sepertiga dari total responden lansia, dan mengatur asupan makan sesuai diet yang dianjurkan sekitar 40 persen dari total responden lansia. Dari data ini juga dapat dilihat bahwa responden hanya sedikit yang melakukan kegiatan preventif untuk menjaga kesehatannya, namun sebagian besar mereka memeriksakan dirinya ke dokter jika sudah menderita kesakitan. Jadi mereka lebih banyak melakukan kegiatan kuratif dibandingkan dengan preventif. Data juga menunjukkan bahwa cukup banyak responden lansia yang melakukan kegiatan yang sangat mendukung kesehatan mereka seperti mengkonsumsi gizi seimbang dan mengatur jadual makan yang dilakukan oleh sekitar dua per tiga dari total responden lansia, suatu persentase yang cukup tinggi. Data tersebut juga
menunjukkan secara umum, bahwa banyak kegiatan yang dilakukan oleh para lansia untuk menjaga kesehatan mereka secara fisik.
Berdasarkan data yang telah dikumpulkan juga dapat dilihat perbandingan usaha-usaha yang dilakukan oleh para lansia di kedua daerah penelitian untuk untuk mengetahui semangat mereka dalam mengusahakan kehidupan mereka menjadi lebih nyaman dalam kehidupannya.
Berikut disampaikan data berbagai usaha yang telah dilakukan oleh responden lansia dalam menjaga kesehatan mereka secara fisik di kedua wilayah penelitian. Jawaban yang disampaikan dalam Tabel 4.8 adalah responden yang menjawab“ya”pada semua pertanyaan tersebut.
Data yang ditampilkan dalam Tabel 4.8 bervariasi di antara kedua kabupate/kota tersebut. Ada kegiatan-kegiatan yang dilakukan lebih baik di Kota Denpasar, demikian pula ada yang lebih baik dilakukan oleh lansia di Kabupaten Badung. Untuk kegiatan mengkonsumsi gizi seimbang jauh lebih tinggi persentase lansia di Kota Denpasar yang melalukan kegiatan tersebut. Sebaliknya untuk kegiatan mengatur jadwal makan jauh lebih banyak dilakukan oleh lansia yang ada di Kabupaten Tabanan. Demikian pula kegiatan untuk mengatur asupan makan sesuai dengan diet yang dianjurkan juga persentasenya lebih rendah di Kota Denpasar dibandingkan dengan di Kabupaten Tabanan. Ada kemungkinan kedua kegiatan ini dilakukan lebih sedikit di Kota Denpasar dibandingkan dengan di Kabupaten Tabanan karena memang tidak ada atau sedikit lansia yang perlu melakukan kegiatan tersebut misalnya karena kesehatannya cukup terjamin. Demikian pula aktivitas melakukan pemeriksaan kesehatan secara teratur juga
dilakukan lebih sedikit oleh lansia di Kota Denpasar dibandingkan dengan lansia di Kabupaten Tabanan. Kondis ini ada juga kemungkinannya berkaitan dengan kondisi kesehatan mereka, karena mereka merasa sehat lalu kegiatan tersebut tidak dilakukan.
Tabel 4.8
Kegiatan yang dilakukan oleh Lansia agar tetap sehat secara Fisik di Kedua Wilayah Penelitian
No. Keterangan Denpasar Tabanan
N % N % 1 Mengkonsumsi gizi seimbang 62 82,7 38 50,7 2 Mengatur jadual makan 47 62,7 66 88,0 3 Mengatur asupan makan sesuai
diet yang dianjurkan
21 28,0 45 60,0 4 Menjaga kebersihan diri 68 90,7 56 74,7 5 Menjaga kebersihan lingkungan 56 74,7 29 38,7
6 Melakukan pemeriksaan
kesehatan secara teratur
16 21,3 36 48,0 7 Memeriksakan diri ke dokter jika
sakit
69 92,0 67 89,3 8 Berolah raga secara teratur 50 66,7 38 50,7 Sumber: Data Primer, 2015
Secara umum memang masih rendah keinginan masyarakat untuk melakukan aktivitas pemeriksaan kesehatan diri secara teratur jika tidak sangat diperlukan misalnya akibat sakit, Jika masih sehat atau tidak ada keluhan apapun umumnya rendah keinginan untuk memeriksakan kesehatan. Jika sakit maka mereka akan datang ke pusat kesehatan misalnya untuk memeriksakan diri dan mencari pengobatan. Data untuk kegiatan ini lebih banyak dilakukan oleh lansia di Kota Denpasar dibandingkan dengan di Kabupaten Tabanan. Delapan aktivitas yang dilakukan oleh lansia untuk menjaga kesehatan lansia secara fisik, 5 aktivitas diantaranya dilakukan lebih banyak oleh lansia di Kota Denpasar, sedangkan 3 aktivitas lainnya lebih banyak dilakukan oleh lansia di Kabupaten Tabanan.
Kondisi ini juga mencerminkan bahwa lansia di Kota Denpasar secara umum lebih banyak persentasenya yang melakukan kegiatan untuk menjaga kesehatan mereka secara fisik dibandingkan dengan lansia di Kabupaten Tabanan.
Kegiatan yang dilakukan oleh lansia untuk menjaga dirinya agar tetap sehat secara fisik juga dapat ditinjau menurut pendidikan lansia tersebut. Secara rinci hubungan antara usaha-usaha yang dilakukan lansia agar tetap sehat secara fisik menurut pendidikan disajikan dalam Tabel 4.9.
Tabel 4.9
Usaha yang Dilakukan oleh Lansia Agar Tetap Sehat Secara Fisik Menurut Pendidikan (%)
No Upaya yang dilakukan keluarga agar lansia tetap sehat secara fisik
Tingkat Pendidikan Rendah Menengah Tinggi
1 Mengkonsumsi gizi seimbang 62,1 71,9 83,3
2 Mengatur jadwal makan 75,9 59,6 50,0
3 Mengatur asupan makanan sesuai dengan diet yang dianjurkan
51,7 35,1 16,7
4 Menjaga kebersihan dirinya 78,2 89,5 83,3
5 Menjaga kebersihan lingkungan 47,1 70,2 83,3
6 Melakukan pemeriksaan kesehatan secara teratur
37,9 31,6 16,7
7 Memeriksakan diri ke dokter jika sakit
89,7 91,2 100,0
8 Berolahraga secara rutin 42,5 78,9 100,0
Sumber : Data Primer, 2015
Data Tabel 4.9 menunjukkan bahwa keterkaitan antara upaya-upaya yang dilakukan oleh lansia agar tetap sehat secara fisik dengan pendidikan yang dimiliki oleh lansia terlihat sangat bervariasi kondisinya. Untuk kegiatan mengkonsumsi gizi seimbang terlihat hubungan yang nyata atau konsisten dilihat dari pendidikan lansia tersebut. Semakin tinggi pendidikan responden lansia
seimbang. Kondisi ini dapat mencerminkan bahwa pendidikan lansia mempengaruhi aktivitas lansia untuk mengkonsi gizi seimbang di dalam menjaga dirinya agar tetap sehat secara fisik. Untuk aktivitas mengatur jadwal makan, ternyata terlihat kondisi yang sebaliknya, artinya semakin tinggi pendidikan responden lansia, maka semakin rendah persentase mereka yang mengatur jadwal untuk makan. Ada kemungkinan hal ini berkaitan dengan aktivitas yang dimiliki oleh lansia yang sangat terkait dengan pendidikan mereka. Semakin tinggi pendidikan ada kemungkinan mereka masuk pasar kerja, sehingga untuk mengatur jadwal makan yang ketat mungkin akan agak sulit, dan mereka mungkin merasa bahwa tidak terlalu perlu atau belum diperlukan untuk mengatur jadwal untuk makan. Kapan ada kesempatan dan meresa membutuhkan makanan, mereka dapat melakukannya.
Senada dengan variabel sebelumnya mengatur asupan makanan sesuai dengan diet yang dianjurkan juga memiliki hubungan terbalik dengan pendidikan lansia. Semakin tinggi pendidikan lansia, terlihat semakin rendah persentase mereka yang mengatur asupan makanan sesuai dengan diet yang dianjurkan. Jadi besar kemungkinan mereka belum perlu atau tidak perlu melakukan kegiatan untuk mengatur asupan makanan untuk diet, karena mereka masih sehat. Untuk kegiatan menjaga kesehatan diri dan kesehatan lingkungan secara umum juga terlihat ada hubungannya dengan pendidikan yang dimiliki oleh lansia. Semakin tinggi pendidikan lansia, maka semakin tinggi persentase lansia yang melakukan kegiatan tersebut. Untuk kegiatan melakukan pemeriksaan kesehatan secara teratur memiliki hubungan terbalik dengan pendidikan lansia. Semakin tinggi
pendidikan lansia semakin rendah persentase mereka yang melakukan pemeriksaan kesehatan secara teratur. Kondisi ini kemungkinan dapat dijelaskan bahwa mereka mungkin merasa tidak perlu melakukan kegiatan seperti itu karena masih merasa sehat. Kondisi atau penjelasan ini diperkuat dengan fenomena hubungan antara pendidikan dengan kegiatan melakukan pemeriksaan diri ke dokter jika sakit, dimana hubungannya terlihat positif. Semakin tinggi pendidikan responden lansia, semakin tinggi persentase lansia yang memeriksakan dirinya ke dokter jika sakit. Jadi mereka lebih bersifat kuratif bukan preventif. Jika sakit mereka akan datang ke dokter untuk memeriksakan dirinya. Demikian pula kegiatan untuk berolah raga terlihat juga hubungan yang positif dengan pendidikan yang mereka miliki. Semakin tinggi pendidikan lansia, semakin tinggi pula persentase lansia yang berolah raga. Hubungan-hubungan yang terlihat antara pendidikan lansia dengan aktivitas yang dilakukan untuk menjaga kesehatan secara fisik dapat dipahami dan dilakukan oleh lansia.
Selain secara fisik lansia juga ditanyakan tentang usaha-usaha atau kegiatan yang mereka lakukan agar tetap sehat secara psikis. Hal ini juga ditanyakan kepada responden lansia. Secara psikis juga ada beberapa kegiatan yang mereka lakukan akan tetap sehat. Beberapa kegiatan tersebut disampaikan dalam Tabel 4.10.
Selain lansia menjaga kesehatan secara fisik, lansia juga melakukan kegiatan yang ditujukan untuk menjaga kesehatan dari aspek psikis. Seseorang yang merasa berperan dan dapat berguna bagi orang lain tentunya akan merasa senang dan akan merasa bahwa orang lain membutuhkan dirinya. Demikian pula
yang terjadi pada lansia yang merasa hidupnya masih berguna bagi keluarganya atau orang lain tentu juga akan merasa senang. Menyadari hal tersebut para lansia dalam penelitian ini selalu berusaha untuk memberikan peran dalam keluarganya.
Tabel 4.10
Kegiatan yang dilakukan oleh Lansia agar tetap sehat secara Psikis
No. Keterangan Ya (%) Tidak (%) Total (%)
1 Berusaha berperan dalam keluarga 91,3 8,7 100,0 2 Berusaha berperan dalam memberi
nasehat kepada keluarga lainnya
61,3 38,7 100,0
3 Melakukan kegiatan yang menjadi hobi
40,7 59,3 100,0
Sumber: Data Primer, 2015
Lebih dari 91 persen responden lansia menyatakan bahwa mereka berusaha dalam kesehariannya untuk berperan dalam keluarga, hal ini berarti mereka merasa perlu melakukan sesuatu dalam sisa hidup mereka saat ini sehingga mereka tidak hanya merasa menjadi beban tetapi juga menjadi seseorang yang tetap dibutuhkan dalam keluarga. Oleh karena lansia bagaimanapun juga memiliki pengalaman yang lebih banyak, dan dengan umur yang lebih tua tentulah kearifan yang dimiliki akan lebih tinggi dibandingkan dengan anggota keluarga lainnya khususnya dibandingkan dengan anak-anak ataupun cucu mereka. Dengan kondisi seperti mereka maka mereka juga berusaha berperan dalam memberikan nasehat kepada keluarga lainnya yang dilakukan oleh sekitar 61 persen responden lansia dalam penelitian ini. Selain itu ada juga sekelompok lansia yang masih melaksanakan hobi mereka untuk menjaga kesehatan secara psikis. Kegiatan ini dilaksanakan oleh lansia dalam penelitian ini sekitar 41 persen dari total responden lansia. Data ini juga menunjukkan bahwa meskipun sudah
lansia, namun mereka cukup banyak yang masih melakukan hobi mereka secara rutin. Dengan tetap dapat melaksanakan hobi yang mereka miliki, maka dapat diharapkan mereka akan merasa senang dan kesehatan mereka secara psikis akan dapat terjaga.
Selain secara total apa yang dilakukan oleh lansia untuk menjaga agar dirinya tetap sehat secara psikis, juga dapat dilihat menurut daerah tempat tinggal lansia. Berikut disampaikan perbandingan kondisi lansia menurut daerah tempat tinggal berkaitan dengan usaha-usaha yang dilakukan oleh mereka agar tetap sehat secara psikis.
Tabel 4.11
Kegiatan yang dilakukan oleh Lansia agar tetap sehat secara Psikis Menurut Daerah Tempat Tinggal
No. Keterangan Denpasar Tabanan
N % N % 1 Berusaha berperan dalam keluarga 73 97,3 64 85,3 2 Berusaha berperan dalam memberi
nasehat kepada keluarga lainnya
45 60,0 47 62,7 3 Melakukan kegiatan yang menjadi
hobi
32 42,7 29 38,7 Sumber: Data Primer, 2015
Data yang terlihat pada Tabel 4.11 memperlihatkan pola yang sama antara lansia yang ada di Kota Denpasar dengan lansia yang ada di Kabupaten Tabanan. Berusaha berperan dalam keluarga memiliki persentase tertinggi yang berarti kegiatan tersebut paling banyak dilakukan oleh lansia untuk menjaga kesehatan mereka secara psikis. Kegiatan yang paling sedikit dilakukan oleh mereka adalah melakukan kegiatan yang menjadi hobi, hal ini terjadi baik pada lansia di Kota Denpasar maupun di Kabupaten Tabanan. Secara umum persentase lansia di Kota
Denpasar lebih tinggi persentasenya yang melakukan kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan usahanya untuk menjaga kesehatan secara psikis.
Selain berdasarkan daerah tempat tinggal, usaha yang dilakukan oleh lansia agar tetap sehat secara psikis juga dapat dianalisis menurut tingkat pendidikan lansia. Data yang menunjukkan hubungan antara pendidikan lansia dengan usahanya agar tetap sehat secara psikis disampai dalam Tabel 4.12. Ada 3 kegiatan yang dilakukan oleh lansia agar tetap sehat secara psikis yang dapat dihubungkan dengan pendidikan mereka. Berusaha berperan dalam keluarga yang dilakukan lansia memiliki hubungan yang jelas dengan tingkat pendidikan mereka dengan arah hubungan yang positif. Semakin tinggi pendidikan lansia semakin tinggi persentase lansia yang berusaha berperan dalam keluarga. Kondisi ini ada kemungkinan berkaitan dengan peran lansia dalam bidang ekonomi. Dengan pendidikan yang semakin tinggi, ada kemungkinan penghasilan yang juga semakin tinggi, sehingga akan lebih besar peran mereka dalam keluarga, demikian sebaliknya. Usaha dalam memberikan nasehat dalam keluarga juga terlihat berkaitan dengan pendidikan lansia meskipun sedikit ada fluktuasi pada pendidikan sedang. Namun secara umum juga ada hubungan yang positif antara pendidikan lansia dengan usaha mereka untuk berperan dalam memberikan nasehat kepada keluarga lainnya. Satu variabel yang terlihat kondisinya berbalik adalah melakukan kegiatan yang menjadi hobi dengan tingkat pendidikan lansia. Polanya terlihat seperti huruh U terbalik yaitu meningkatnya pendidikan dari pendidikan renah ke pendidikan sedang meningkatkan persentase lansia yang melaksanakan kegiatan sebagai hobi, namun pada pendidikan tinggi persentase
lansia yang melaksanakan kegiatan yang menjadi hobi terlihat menurun dengan drastis jika dibandingkan dengan lansia yang berpendidikan sedang atau menengah. Hal ini juga ada kemungkinan dengan kesibukan dalam pasar kerja bagi lansia yang berpendidikan tinggi, sehingga tidak dapat melakukan kegiatan yang menjadi hobi mereka. Secara rinci hubungan tersebut dapat dilihat dalam Tabel 4.12.
Tabel 4.12
Usaha yang Dilakukan oleh Lansia Agar Tetap Sehat Secara Psikis Menurut Pendidikan (%)
No Upaya yang dilakukan keluarga untuk menjaga lansia agar tetap sehat secara psikis
Tingkat Pendidikan Rendah Menengah Tinggi
1 Berusaha berperan dalam keluarga 90,8 91,2 100,0
2 Berusaha berperan dalam memberikan nasehat dalam keluarga lainnya
64,4 52,6 100,0
3 Melakukan kegiatan yang menjadi hobi 40,2 43,9 16,7 Sumber : Data Primer, 2015
Selain kesehatan secara fisik maupun psikis, lansia juga perlu melakukan hal-hal yang dapat menjaga kesehatan mereka dari aspek sosial/ekonomi. Dari aspek sosial/ekonomi ini banyak hal yang dilakukan oleh lansia yang dapat diidentifikasi dalam penelitian ini. Partisipasi lansia di bidang sosial/ekonomi dapat diartikan mereka akan dapat memanfaatkan waktu yang mereka miliki untuk kegiatan-kegiatan baik yang mendatangkan uang maupun kegiatan-kegiatan sosial yang umumnya memiliki frekuensi yang tinggi di Provinsi Bali. Data yang berhasil dikumpulkan menunjukkan bahwa sekitar 34 persen responden lansia dalam status bekerja, dan sebagian besar dari mereka yang bekerja memperoleh penghasilan di bawah 2 juta rupiah per bulan. Kondisi ini menunjukkan bahwa
kemungkinan besar memang mereka membutuhkan pekerjaan tersebut untuk kelangsungan hidup mereka, meskipun mungkin sudah ada yang menanggung kehidupan mereka. Berikut disampaikan berbagai kegiatan yang mereka lakukan untuk menjaga kesehatan lansia secara sosial/ekonomi.
Tabel 4.13
Kegiatan yang Dilakukan oleh Lansia Agar Tetap Sehat Secara Sosial/Ekonomi
No. Keterangan Ya (%) Tidak (%) Total (%)
1 Berusaha menjaga komunikasi dengan keluarga
96,0 4,0 100,0
2 Berkumpul dengan teman sebaya 76,0 24,0 100,0
3 Berpartisipasi dalam kegiatan sosial kemasyarakatan
40,7 59,3 100,0
4 Berpartisipasi dalam kegiatan ekonomi produktif
34,0 66,0 100,0
5 Berekreasi (jalan pagi, nonton film, jalan-jalan)
54,7 45,3 100,0
Sumber: Data Primer, 2015
Data dalam Tabel 4.13 menunjukkan bahwa lansia melakukan berbagai kegiatan agar mereka tetap sehat secara sosial/ekonomi. Hal yang paling banyak dilakukan oleh responden lansia adalah berusaha menjaga komunikasi dengan keluarga yang dilakukan oleh hampir semua lansia. Hal ini berarti mereka memandang bahwa komunikasi dengan keluarga menjadi hal yang sangat penting bagi kehidupan mereka saat ini. Data juga menunjukkan bahwa sebagian besar responden lansia yaitu sekitar 66 persen adalah tidak bekerja, hal ini juga berarti bahwa secara ekonomi sebagian besar responden lansia akan tergantung dari keluarga mereka, meskipun mungkin mereka memiliki simpanan untuk membiayai kehidupan mereka, namun dalam kondisi mereka yang sudah lansia saat ini tentu keberadaan keluarga menjadi sangat penting. Dengan demikian
menjaga komunikasi dengan keluarga mereka lakukan agar mereka merasa sehat secara sosial/ekonomi, dan ini dilakukan oleh hampir seluruh lansia. Dapat juga disimpulkan bahwa dalam kondisi yang sudah lansia, maka keberadaan keluarga menjadi sangat penting. Sebagian responden lansia juga menyatakan bahwa berkumpul dengan teman sebaya juga merupakan kegiatan yang dapat dipandang sebagai kegiatan untuk dapat menjaga kesehatan mereka secara sosial/ekonomi. Dengan teman sebaya mereka dapat memperoleh dan membagikan pengalaman yang mereka miliki yang dapat berguna bagi orang lain, demikian sebaliknya. Berolah raga seperti berjalan di pagi hari, jalan-jalan, ataupun menonton film merupakan kegiatan yang juga cukup banyak dilakukan oleh lansia dalam