• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pola perawatan Penduduk Lansia Pada Masyarakat Bali.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Pola perawatan Penduduk Lansia Pada Masyarakat Bali."

Copied!
143
0
0

Teks penuh

(1)

Bidang unggulan: Sosial, Ekonomi, dan Bahasa Kode/Nama Bidang Ilmu: 561/Ekonomi Pembangunan

LAPORAN AKHIR PENELITIAN

HIBAH GRUP RISET UDAYANA

JUDUL PENELITIAN

POLA PERAWATAN PENDUDUK LANJUT USIA (LANSIA)

PADA MASYARAKAT BALI

NAMA GRUP RISET: KEPENDUDUKAN

Prof. Dr. Drs. I Ketut Sudibia, SU (0031124819) Dr. A.A. I. N. Marhaeni, SE., MS (0031126264) Dr. I G A Manuati Dewi, SE., MA (0027046203) Dr. Ni Nyoman Yuliarmi, SE., MP (0006076003)

Dibiayai oleh

(2)
(3)

DAFTAR ISI

2.2. Usia Harapan Hidup dan Penduduk Lanjut Usia ... 16

2.3. Lansia dan Dukungan Sosial ... 19

2.4. Pendekatan dan Nilai-nilai Agama Hindu dalam Perawatan Lansia ... 24

2.5. Teori tentang Lansia ... 27

BAB III. METODE PENELITIAN... 30

3.1. Rancangan Penelitian... 30

3.2. Lokasi Penelitian ... 30

3.3. Variabel Penelitian... 31

3.4. Populasi, Sampel, Responden, dan Informan ... 31

3.5. Instrumen Penelitian ... 33

3.6. Metode Pengumpulan Data... 33

3.7.Teknik Analisis Data ... 34

BAB IV. KARAKTERISTIK RESPONDEN PENELITIAN... 35

4.1. Gambaran Umum Daerah Penelitian ... 35

4.2. Karakteristik Responden... 38

4.2.1. Karakteristik responden lansia ... 38

4.2.2. Karakteristik responden keluarga lansia ... 47

4.3. Pola Perawatan Penduduk Lansia ... 54

4.3.1. Pola perawatan yang dilakukan oleh lansia ... 54

4.3.2. Pola perawatan yang dirasakan oleh lansia... 76

4.3.3. Pola perawatan yang diinginkan oleh lansia ... 89

4.3.4. Pola perawatan penduduk lansia yang dilakukan oleh keluarganya ... 99

4.3.5. Pola perawatan penduduk lansia yang diinginkan oleh keluarganya di Masa Depan ... 124

BAB V. SIMPULAN DAN IMPLIKASI KEBIJAKAN... 128

5.1. Simpulan... 128

5.2. Implikasi Kebijakan... 129

DAFTAR PUSTAKA... 131

(4)

Daftar Tabel

Tabel Judul Halaman

1.1 Perkembangan Angka Mortalitas Bayi dan Angka Harapan Hidup Penduduk di Provinsi Bali Menurut Hasil Sensus Penduduk (SP) 1971, 1980, 1990, 2000, dan 2010

4

1.2 Perkembangan Jumlah dan Distribusi Penduduk Lansia di Provinsi BaliBerdasarkan Hasil SP 1971, 1980, 1990, 2000, dan 2010

5

3.1 Jumlah Responden Dirinci Menurut Lokasi Penelitian (Kabupaten/Kota, Kecamatan, dan Desa/Kelurahan)

32

4.1 Distribusi Responden Lansia Menurut Pendidikan (%) 40 4.2 Distribusi Responden Lansia Menurut Umur Lima

Tahunan (%)

42

4.3 Distribusi Responden Keluarga Lansia Menurut Umur, Pada Studi Pola Perawatan Penduduk Lanjut Usia Pada Masyarakat Bali di Kota Denpasar dan Kabupaten Tabanan, 2015

49

4.4 Distribusi Pendidikan Responden Keluarga Lansia, Pada Pola Perawatan Penduduk Lanjut Usia Pada Masyarakat Bali di Kota Denpasar dan Kabupaten Tabanan, 2015

50

4.5 Distribusi Status Perkawinan Responden Keluarga Lansia Pada Pola Perawatan Penduduk Lanjut Usia Pada Masyarakat Bali di Kota Denpasar dan Kabupaten Tabanan, 2015

51

4.6 Distribusi Umur Anak Terakhir Responden Keluarga Lansia,Studi Pola Perawatan Penduduk Lanjut Usia Pada Masyarakat Bali di Kota Denpasar dan Kabupaten Tabanan, 2015

53

4.7 Kegiatan yang dilakukan oleh Lansia agar tetap sehat secara Fisik

57

4.8 Kegiatan yang dilakukan oleh Lansia agar tetap sehat secara Fisik di Kedua Wilayah Penelitian

59

4.9 Usaha yang Dilakukan oleh Lansia Agar Tetap Sehat Secara Fisik Menurut Pendidikan (%)

60

4.10 Kegiatan yang dilakukan oleh Lansia agar tetap sehat secara Psikis

63

4.11 Kegiatan yang dilakukan oleh Lansia agar tetap sehat secara Psikis Menurut Daerah Tempat Tinggal

64

4.12 Usaha yang Dilakukan oleh Lansia Agar Tetap Sehat Secara Psikis Menurut Pendidikan (%)

66

4.13 Kegiatan yang Dilakukan oleh Lansia Agar Tetap Sehat Secara Sosial/Ekonomi

(5)

Tabel Judul Halaman 4.14 Kegiatan yang Dilakukan oleh Lansia Agar Tetap Sehat

Secara Sosial/Ekonomi Menurut Daerah Tempat Tinggal

70

4.15 Usaha yang Dilakukan oleh Lansia Agar Tetap Sehat dari Aspek Sosial Ekonomi menurut Pendidikan (%)

71

4.16 Kegiatan yang dilakukan oleh Lansia agar tetap sehat secara Spiritual

74

4.17 Kegiatan yang dilakukan oleh Lansia agar tetap sehat secara Spiritual menurut Daerah Tempat Tinggal

74

4.18 Usaha yang Dilakukan oleh Lansia Agar Tetap Sehat Secara Spiritual menurut Pendidikan (%)

75

4.19 Jenis Perawatan yang Dipersepsikan Oleh Lansia dari Keluarganya Selama ini

78

4.20 Jenis Perawatan yang Dipersepsikan Oleh Lansia Menurut Kabupaten/Kota

81

4.21 Persepsi Lansia Terhadap Perawatan dari Keluarga 82 4.22 Persepsi Lansia Terhadap Perawatan dari Keluarga

Menurut Kabupaten/Kota

84

4.23 Distribusi Responden Menurut Upaya-upaya yang Dilakukan Dalam Perawatan Fisik Penduduk Lansia, Studi Pola Perawatan Penduduk Lansia Pada

Masyarakat Bali

102

4.24 Hubungan Antara Daerah Tempat Tinggal Dengan Upaya-upaya yang Dilakukan Responden Dalam Perawatan Penduduk Lansia Secara Fisik

105

4.25 Hubungan Antara Tingkat Pendidikan Dengan Upaya-upaya yang Dlakukan Responden Dalam Perawatan Penduduk Lansia Secara Fisik

108

4.26 Hubungan Antara Status Pekerjaan Dengan Upaya-upaya yang Dlakukan Responden Dalam Perawatan

4.29 Hubungan Antara Daerah Tempat Tinggal Dengan Upaya-upaya yang Dilakukan Responden Dalam Perawatan Penduduk Lansia Secara Psikis

(6)

Tabel Judul Halaman 4.30 Hubungan Antara Tingkat Pendidikan Dengan

Upaya-upaya yang Dilakukan Responden Dalam Perawatan Penduduk Lansia Secara Psikis

118

4.31 Hubungan Antara Status Pekerjaan Dengan Upaya-upaya yang Dilakukan Responden Dalam Perawatan Penduduk Lansia Secara Psikis

119

4.32 Hubungan Antara Penghasilan Dengan Upaya-upaya yang Dilakukan Responden Dalam Perawatan Penduduk Lansia Secara Psikis

121

4.33 Distribusi Responden Menurut Upaya-upaya yang Dilakukan Dalam Perawatan Penduduk Lansia dari Segi Sosial/Ekonomi

122

Daftar Gambar

(7)

RINGKASAN

Penelitian tentang “Pola Perawatan Penduduk Lanjut Usia (Lansia) Pada Masyarakat Bali” bertujuan untuk (1) mengetahui pola perawatan penduduk lansia yang dilakukan oleh anaknya selama ini; (2) merumuskan pola perawatan penduduk lansia yang diinginkan oleh anaknya di masa depan; (3) mengetahui pola perawatan yang dirasakan oleh penduduk lansia selama ini; dan (4) merumuskan pola perawatan yang diinginkan oleh penduduk lansia di masa depan. Lokasi penelitian dipilih di dua tempat, yang memiliki ciri yang kontras yaitu di daerah perkotaan dan daerah perdesaan. Daerah perkotaan diwakili oleh Kota Denpasar, sedangkan daerah perdesaan diwakili oleh Kabupaten Tabanan. Dengan memilih lokasi penelitian yang berlatar belakang perkotaan dan perdesaan diharapkan dapat diperoleh gambaran yang lebih komprehensif tentang pola perawatan penduduk lansia pada masyarakat Bali. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian campuran, antara pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Pengambilan sampel dilakukan secara probability sampling, yang diawali dengan melakukan pendataan (listing) terhadap kepala keluarga yang orang tuanya sudah lansia (KK lansia). Jumlah sampel yang diambil sebanyak 150 KK lansia, dan dalam setiap KK lansia akan diambil 2 orang responden, yaitu kepala keluarga dan orang tuanya yang lansia. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan wawancara terstruktur, baik kepada KK maupun orang tuanya yang lansia. Sementara itu data kualitatif tentang perawatan lansia juga dikumpulkan melalui diskusi kelompok terfokus dengan para pemuka adat dan pemuka agama Hindu. Data yang sudah dikumpulkan akan dianalisis secara deskriptif kualitatif dengan menggunakan tabel distribusi frekuensi tunggal dan tabel silang.

(8)

POLA PERAWATAN PENDUDUK LANJUT USIA (LANSIA)

PADA MASYARAKAT BALI

Oleh:

I G A Manuati Dewi, Ketut Sudibia, A A I N Marhaeni, Ni Nyoman Yuliarmi Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Udayana, Denpasar, 80232,Telp/Fax : 0361

229508,

Email:[email protected]

Abstrak

Perkembangan penduduk lansia di Provinsi Bali selama empat dasawarsa terakhir (1971-2010) menunjukkan peningkatan hampir tiga kali lipat (380.114/ 137.619), padahal peningkatan jumlah penduduk kurang dari dua kali lipat (3.890.757/ 2.120.091). Salah satu masalah yang muncul dengan semakin meningkatnya jumlah penduduk lansia adalah terkait dengan perawatan penduduk lansia. Sehubungan dengan permasalahan di atas, dapat dikemukakan tujuan penelitian ini adalah untuk: (1) mengetahui pola perawatan penduduk lansia oleh anaknya selama ini; (2) merumuskan pola perawatan penduduk lansia yang diinginkan anaknya di masa depan; (3) mengetahui pola perawatan yang dirasakan oleh penduduk lansia selama ini; dan (4) merumuskan pola perawatan yang diinginkan oleh penduduk lansia di masa depan.

Populasi penelitian ini adalah seluruh kepala keluarga (KK) yang salah satu anggota keluarganya adalah orang tua yang sudah lansia. Orang tua lansia adalah orang tua yang pada saat penelitian ini dilakukan sudah berumur 60 tahun ke atas. Proses penentuan jumlah populasi diawali dengan melakukan listing KK lansia di empat desa, masing-masing dua desa di Kota Denpasar dan dua desa di Kabupaten Tabanan. Berdasarkan hasil listing KK lansia, selanjutnya diambil sampel secara acak yaitu sebanyak 75 KK lansia di Kota Denpasar dan 75 KK lansia di Kabupaten Tabanan. Di setiap sampel KK lansia dipilih dua orang responden, yaitu kepala keluarga (KK) dan penduduk lansia. Pengumpulan data dilakukan dengan metode wawancara terstruktur dan diskusi kelompok terfokus atau focus group discussion (FGD). Data yang telah dikumpulkan dan diedit selanjutnya diproses melalui komputer dan analisis data dilakukan secara deskriptif kualitatif.

Temuan-temuan penelitian ini dapat dikemukakan sebagai berikut: 1). Pola perawatan yang dilakukan oleh keluarga lansia selama ini antara lain berkaitan dengan aspek psikis seperti selalu menjaga perasaan lansia, dari aspek sosial ekonomi seperti menjaga komunikasi yang intens dengan lansia, dari aspek fisik seperti memeriksakan kesehatan lansia jika sakit, dari aspek spiritual yaitu mengajak bersembahyang secara rutin; 2). Pada masa yang akan datang anak tetap menginginkan untuk merawat orang tuanya sebagai bagian dari kewajiban anak kepada orang tua dan anak masih merasa membutuhkan bimbingan orang tua; 3). Lansia merasakan pola perawatan yang diterimanya selama ini sangat memadai antara lain berkaitan dengan perawatan kesehatan, perhatian, cinta kasih, dan dari pemenuhan kebutuhan secara ekonomi; 4). Lansia tetap menginginkan dirinya dirawat oleh keluarga pada masa yang akan datang, karena orang tua merasa nyaman jika dirawat oleh keluarganya dan orang tua menganggap hal itu adalah sebuah bentuk tanggung jawab anak terhadap orang tua. Hasil penelitian memberikan implikasi bahwa pada masa yang akan datang institusi yang terkait diharapkan ikut berperan lebih aktif dalam memberikan KIE (Komunikasi, Informasi, dan Edukasi) tetang pola perawatan lansia yang lebih berkualitas baik dari segi kesehatan fisik, kesehatan non fisik, maupun peningkatan kepedulian masyarakat terhadap kelompok penduduk lansia tersebut.

(9)

THE CARETAKING PATTERNS OF THE ELDERLY

POPULATION IN THE COMMUNITY OF BALI

By:

I G A Manuati Dewi, Ketut Sudibia, A A I N Marhaeni, Ni Nyoman Yuliarmi The Faculty of Economics and Business, University of Udayana, Denpasar,80232,

Phone/Fax : 0361 229508, email:[email protected]

Abstract

The development of the elderly or senior citizens in the Province of Bali over the past four decades (1971-2010) showed an increase almost three-fold (380, 114/137, 619), whereas the increase in population was less than two-fold (3,890,757 / 2,120,091). One of the problems that arise with the increasing number of elderly people is related to the caretaking of the elderly population. In connection with the above problems, it can be stated the objectives of this study, i.e. to: (1) determine the pattern of caretaking of the elderly population by their children all this time; (2) formulate a caretaking patterns of the elderly population which is desired by their children in the future; (3) determine the patterns of care experienced by the elderly population far; and (4) formulate a treatment pattern desired by the elderly population in the future.

The study population was the whole heads of the family (KK) whose ones of their family members are the elderly parents. An elderly parent is a parent who is at the time of this research have been aged 60 years old and above. The process of determining the amount of the population was started with a listing of elderly households in four villages, respectively, two villages in Denpasar and two villages in Tabanan. Based on the results of listing of the elderly households, samples were further taken randomly as many as 75 families of elderly in the city of Denpasar and 75 families of elderly in Tabanan. In each sample of the elderly households, it has been selected two respondents, namely the head of families (KK) and the elderly population. Data collection was conducted by using structured interviews and focus group discussion (FGD). The data that have been collected and edited, then processed by a computer and the data analysis was conducted by descriptive qualitative methods.

The findings of the study can be stated as follows: 1). Patterns of caretaking by the families of the elderly people during this time, among others, related to the psychological aspect, for example, always keep the feeling of the elderly, the social and economic aspects such as keeping the intense communication with the elderly, the physical aspects such as health check if the elderly are sick, the spiritual aspects such as praying together regularly; 2). In the future, the children still want to take care for their parents as part of the obligation of children to parents and they still feel the need for parental guidance; 3). The elderly people feel that the patterns of caretaking they had so far was good enough in terms of health care, attention, love, and of the fulfillment of economic needs; 4). The elderly still wanted to be cared for by their families in the future, because the parents feel comfortable if they are taken care by their own families and the parents think that it is the responsibility of children to their parents. Results of the study implies that in future the relevant institutions are expected to participate more actively in providing CIE (Communication, Information, and Education) to provide good quality patterns of care for the elderly in terms of physical health, non-physical health, as well as awareness-raising society towards the elderly population group.

(10)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Masalah kependudukan tidak hanya dihadapi oleh negara-negara yang sedang berkembang, namun juga dihadapi oleh negara-negara maju.

Negara-negara sedang berkembang menghadapi persoalan kependudukan yang terkait dengan angka kelahiran dan kematian yang tinggi, bahkan ada pula yang menghadapi laju pertumbuhan penduduk yang tinggi, dan jumlah penduduk yang

besar. Di sisi lain, negara-negara maju yang telah berhasil menurunkan angka kelahiran, angka kematian, dan laju pertumbuhan penduduknya, ternyata tidak

luput dari masalah kependudukan. Menurunnya angka kematian memberi petunjuk bahwa angka harapan hidup (life expectancy) penduduk cenderung mengalami peningkatan. Dampak dari angka harapan hidup yang cenderung

meningkat akan berpengaruh terhadap semakin besarnya jumlah penduduk lanjut usia (lansia). Meningkatnya proporsi penduduk lansia di negara-negara maju akan memunculkan masalah baru, karena mereka yang selama ini bekerja di sektor

pemerintah atau swasta sudah pensiun dari pekerjaannya atau produktivitasnya sudah mulai menurun. Secara alamiah kekuatan fisik mereka mulai menurun, dan

(11)

ketergantungan (age dependency burden ratio) mulai bergeser dari anak-anak ke

penduduk lansia.

Indonesia sebagai salah satu negara yang sedang berkembang, sebetulnya

sudah menyadari adanya persoalan kependudukan sejak Indonesia merdeka, meskipun dalam lingkup yang relatif terbatas. Penggarapan masalah kependudukan yang lebih komprehensif dilakukan pada era Orde Baru. Pada masa

itu pemecahan masalah kependudukan dilakukan melalui pendekatan pembangunan integratif, baik secara regional maupun sektoral, terarah, dan

berkesinambungan. Provinsi Bali yang merupakan salah satu provinsi di Indonesia juga tidak tinggal diam, melainkan ikut secara aktif ambil bagian dalam memecahkan berbagai masalah kependudukan yang terjadi di Provinsi Bali. Di

antara berbagai program kependudukan yang diprogramkan pemerintah pada masa itu, program kependudukan yang akan disoroti pada uraian ini adalah program keluarga berencana (KB).

Program KB secara resmi mulai dilaksanakan di Indonesia, dan demikian pula di Provinsi Bali adalah pada awal tahun 1970-an. Pada periode tersebut

tingkat kelahiran penduduk di Provinsi Bali relatif tinggi, yaitu sekitar 6 kelahiran per wanita (Sudibia, 1992). Angka kelahiran ini menurun dengan tajam selama dua dasawarsa (1967/1970 – 1987/1990), yaitu dari sekitar 6 menjadi 2,3

kelahiran per wanita. Atau selama 20 tahun terakhir telah terjadi penurunan angka kelahiran sebesar 61,7 persen di Provinsi Bali. Penurunan angka kelahiran yang

(12)

Penurunan angka kelahiran yang demikian tinggi di Provinsi Bali terutama

didukung oleh tingginya partisipasi masyarakat dalam program KB. Hal ini terlihat dari peningkatan proporsi peserta KB aktif dari 35,08 persen (1976/1977)

menjadi 46,01 persen (1979/1980), dan naik lagi secara tajam menjadi 84,82 persen (1969/1990) (Laporan tahunan BKKBN Provinsi Bali). Keberhasilan Bali meraih partisipasi masyarakat untuk mengikuti program KB tidak terlepas dari

pendekatan yang digunakan oleh pemerintah, yang populer dengan sebutan “KB

Sistem Banjar”.

Berbeda dengan sistem pemerintahan pada era Orde Baru yang lebih dikenal dengan sistem pemerintahan sentralistis, maka pada era Reformasi dikenal dengan sistem pemerintahan desentralisasi. Pada era desentralisasi, pelaksanaan program

KB mengalami pengendoran, karena kelembagaan program KB sudah berubah dengan berbagai variasi. Ada yang berbentuk kantor KB tersendiri, ada yang digabung dengan instansi pemberdayaan perempuan, ada yang digabung dengan

instansi kependudukan dan catatan sipil, ada pula yang digabung dengan beberapa instansi lain seperti instansi tenaga kerja dan transmigrasi, kependudukan dan

catatan sipil, serta pemberdayaan perempuan. Dengan adanya kelembagaan KB yang sangat bervariasi pada tingkat kabupaten/kota, telah mengakibatkan terjadinya kesulitan koordinasi dalam pelaksanaan program KB. Pada akhirnya

hal ini berdampak pada sulitnya menurunkan angka kelahiran pada era desentralisasi, sehingga hasil SDKI 2002/2003 dan SDKI 2007 menunjukkan

(13)

BPS, 2008). Bahkan yang lebih parah adalah meningkatnya angka kelahiran

menjadi 2,3 kelahiran per wanita pada hasil SDKI 2012 (BPS, 2013).

Pembicaraan di atas, lebih banyak mengupas tentang kelahiran atau

fertilitas, dan sama sekali belum menyentuh tentang mortalitas. Ukuran mortalitas yang akan dibahas berikut ini adalah angka mortalitas bayi (infant mortality rate), yang menggambarkan banyaknya kematian anak yang berumur kurang dari satu

tahun per 1000 kelahiran hidup pada tahun tertentu. Angka mortalitas bayi umumnya berkorelasi negatif dengan usia harapan hidup; artinya makin rendah

angka mortalitas bayi suatu daerah akan makin panjang usia harapan hidup penduduk di daerah tersebut, dan demikian pula sebaliknya. Hubungan antara angka mortalitas bayi dan usia harapan hidup penduduk Provinsi Bali dapat

diikuti pada Tabel 1.1.

Tabel 1.1

Perkembangan Angka Mortalitas Bayi dan Angka Harapan Hidup Penduduk di Provinsi Bali Menurut Hasil Sensus Penduduk

(SP) 1971, 1980, 1990, 2000, dan 2010

Sensus Penduduk Angka Mortalitas Bayi Angka Harapan Hidup

SP 1971 130 48,27

SP 1980 92 55,37

SP 1990 51 64,33

SP 2000 36 68,05

SP 2010 20 72,67

Sumber: Putrawan (2012).

(14)

terungkap bahwa angka mortalitas bayi mengalami penurunan dari 130 menjadi

92 kematian per 1000 kelahiran hidup. Pada periode yang sama, angka harapan hidup justru menunjukkan peningkatan dari 48,27 tahun menjadi 55,37 tahun.

Selanjutnya jika diperhatikan hasil SP 2010, terungkap bahwa angka kematian bayi cenderung turun menjadi 20 kematian per 1000 kelahiran hidup. Sementara itu, di pihak lain angka harapan hidup cenderung semakin meningkat menjadi

72,67 tahun. Berdasarkan hasil pembahasan singkat di atas, dapat disimpulkan bahwa antara angka mortalitas bayi dan angka harapan hidup.terdapat hubungan

yang negatif.

Semakin meningkatnya angka harapan hidup penduduk akan membawa konsekuensi bertambah besarnya jumlah maupun proporsi penduduk yang

tergolong lansia. Batasan penduduk lansia yang digunakan dalam penelitian ini adalah penduduk yang berumur 60 tahun ke atas. Penduduk lansia dapat dirinci ke dalam kelompok-kelompok umur berikut ini: 60-64, 65-69, 70-74, dan≥75 tahun.

Gambaran tentang jumlah dan distribusi penduduk lansia menurut kelompok umur dapat diikuti pada Tabel 1.2.

Tabel 1.2

Perkembangan Jumlah dan Distribusi Penduduk Lansia di Provinsi Bali Berdasarkan Hasil SP 1971, 1980, 1990, 2000, dan 2010

Umur SP 1971 SP 1980 SP 1990 SP 2000 SP 2010

60-64 59,062 71,942 80,590 95,239 123,214

65-69 29,235 37,995 51,669 69,864 101,301

70 -74 26,590 39,006 46,359 54,631 70,608

≥75 22,732 41,029 51,896 56,140 84,991

(15)

Data pada Tabel 1.2 memberikan informasi bahwa jumlah penduduk lansia

pada tahun 2010 berlipat ganda hampir tiga lipat (380.114/137.619), sementara jumlah penduduk Bali hanya berlipat ganda hampir dua kali lipat (3.890.757/

2.120.091). Semakin cepatnya peningkatan jumlah penduduk lansia di Provinsi Bali akan menimbulkan berbagai masalah tidak semata-mata terkait dengan pemenuhan kebutuhan yang bersifat konsumtif atau kegiatan-kegiatan yang

bersifat produktif atau sosial. Namun demikian yang lebih penting adalah pemeliharaan atau perawatan penduduk lansia agar mereka tetap sehat dan

berumur panjang, serta dapat menjalani sisa kehidupan dengan aman dan nyaman. Secara grafis perkembangan jumlah penduduk lansia di Provinsi Bali selama periode 1971-2010 dapat diikuti pada Gambar 1.1.

Dalam masyarakat Bali dikenal adanya ajaran “catur guru”, yang meliputi

(1) guru swadhyaya; (2) guru wisesa; (3) guru pengajian; dan (4) guru rupaka yang wajib dihormati oleh setiap orang.Guru swadhyayaadalah bakti atau hormat

kepada Tuhan Yang Maha Esa, sementara guru wisesa adalah bakti atau hormat kepada pemerintah, guru pengajian adalah bakti atau hormat kepada guru di

sekolah, dan guru rupakaadalah bakti atau hormat kepada orang tua (Sudarsana, 2005). Terkait dengan penelitian ini, pembahasan “catur guru” akan difokuskan

padaguru rupaka. Setiap orang/anak tidak hanya bakti atau hormat kepada orang

(16)

Gambar 1.1 Jum

umlah Penduduk Lansia Hasil SP 1971-2010 di

g digambarkan di atas sejalan dengan salah sadbahwa ibu dan ayah sebagai leluhur adalah si

hingga dengan demikian ibu dan ayah patut me -anak atau keturunannya (Suprapti dkk, 2014; esarnya jasa orang tua dan leluhur serta banyakn

bila anak berbakti kepada orang tua atau kti kepada orang tua atau leluhur sudah merupa

g anak kepada orang tua atau leluhurnya lam kitab Manawa Dharmasastra yang meny

dilahirkan dari perkawinan terhormat, dan jika SP 1980 SP 1990 SP 2000 SP 2010

(17)

melakukan hal-hal yang berguna maka akan dapat menebus dosa-dosa 10 tingkat

leluhurnya dan 10 tingkat keturunannya (Puja dan Rai Sudharta, 2004). Keturunan wajib berbakti kepada leluhurnya dan leluhur wajib mencurahkan kasih sayang

kepada keturunannya. Kalau keturunan berbakti kepada leluhurnya maka bakti itu juga akan dapat mengurangi dosa-dosa leluhurnya. Begitu pula, kalau leluhur mencurahkan kasih sayang dan kepada keturunannya maka hal itu akan menebus

dosa-dosa keturunannya. Akhirnya dapat disimpulkan bahwa antara leluhur dan keturunannya.terdapat jalinan hubungan yang sangat erat.

Sementara itu, sejalan dengan keberhasilan program KB yang digambarkan di atas maka ukuran besarnya keluarga mengalami pergeseran dari keluarga besar menjadi keluarga kecil. Di samping itu keberhasilan pembangunan serta merta

membawa perubahan pada pengetahuan, sikap, dan perilaku dari masyarakat tradisional ke masyarakat modern. Berbagai perubahan yang dipaparkan di atas berpengaruh pula terhadap pandangan yang selama ini mengutamakan pendidikan

anak laki-laki, kini juga memberikan peluang yang sama terhadap pendidikan anak-anak perempuan. Kemajuan pendidikan generasi muda ternyata berdampak

pula terhadap pekerjaan yang mereka inginkan; mereka bukannya melanjutkan kegiatan yang selama ini digeluti orang tuanya, melainkan berusaha untuk mendapatkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih menjanjikan di tempat lain (Sudibia,

2004). Dengan adanya berbagai pergeseran di atas, baik pengetahuan, sikap, perilaku, maupun pekerjaan tentunya akan berpengaruh pula terhadap pola

perawatan penduduk lanjut usia dikaitkan dengan azas “catur guru”, khususnya

(18)

Kondisi yang disebutkan terakhir tentunya akan menyebabkan

persoalan-persoalan dilematis, antara kewajiban untuk memelihara/merawat orang tuanya dan di sisi lain mereka juga harus bekerja di tempat lain untuk menghidupi diri

atau keluarganya. Hal ini bukanlah masalah sederhana, karena berkaitan erat dengan kelangsungan hidup orang tuanya maupun keluarga anak itu sendiri (jika sudah berkeluarga). Untuk memecahkan masalah-masalah dilematis seperti

diungkapkan di atas, maka penelitian tentang “Pola Perawatan Penduduk Lanjut

Usia (Lansia) Pada Masyarakat Bali’ sangat mendesak untuk dilakukan.

1.2 Permasalahan Penelitian

Bertolak dari uraian pada latar belakang dapat dirumuskan beberapa

masalah penelitian sebagai berikut.

1) Bagaimanakah pola perawatan penduduk lansia yang dilakukan oleh anaknya selama ini?

2) Bagaimanakah pola perawatan penduduk lansia yang diiinginkan anaknya di masa depan?

3) Bagaimanakah pola perawatan yang dirasakan oleh penduduk lansia selama ini?

4) Bagaimanakah pola perawatan yang diinginkan oleh penduduk lansia

di masa depan?

1.3 Tujuan Penelitian

(19)

2) Untuk merumuskan pola perawatan penduduk lansia yang diinginkan

oleh anaknya di masa depan.

3) Untuk mengetahui pola perawatan yang dirasakan oleh penduduk

lansia selama ini.

4) Untuk merumuskan pola perawatan yang diinginkan oleh penduduk lansia di masa depan.

1.4 Manfaat Penelitian 1) Manfaat Akademik

Manfaat penelitian ini tidak hanya dimaksudkan untuk menambah khasanah ilmu pengetahuan terkait dengan pola perawatan penduduk

lansia, akan tetapi juga untuk menganalisis nilai-nilai kearifan lokal yang selama memiliki peranan penting dalam perawatan penduduk lansia pada masyarakat Bali.

2) Manfaat Praktis

Secara praktis, hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan

masukan yang sangat berharga bagi para pembuat kebijakan (policy maker) dalam menyusun kebijakan-kebijakan sosial terutama yang terkait dengan pola perawatan penduduk lansia pada masyarakat Bali di

masa depan.

1.5 Urgensi Penelitian

Kemajuan pembangunan yang dicapai oleh pemerintah pada masa yang

(20)

khususnya program KB. Pelaksanaan program KB di Provinsi Bali telah berhasil

menurunkan fertilitas dan mortalitas bayi. Angka fertilitas total berhasil diturunkan dari sekitar 6 kelahiran menjadi 2,3 kelahiran per wanita selama

periode 1970-2012. Begitu pula angka mortalitas bayi berhasil diturunkan dari 130 kematian menjadi 20 kematian per 1000 kelahiran hidup selama periode 1971-2010. Sementara itu, di pihak lain angka harapan hidup penduduk

mengalami peningkatan secara signifikan, dari sekitar 46,27 tahun menjadi 72,67 tahun selama periode 1971-2010. Sebagai konsekuensi dari meningkatnya angka

harapan penduduk, maka jumlah penduduk lanjut usia (60 tahun ke atas) juga meningkat pesat. Selama kurun waktu sekitar 40 tahun (1971-2010), penduduk lanjut usia (lansia) telah meningkat hampir tiga kali lipat, yaitu dari 137.619 orang

pada tahun 1971 menjadi 380.114 orang pada tahun 2010.

Meningkatnya jumlah penduduk lansia, akan menimbulkan berbagai permasalahan, karena peningkatan jumlah lansia tidak sekedar hanya terkait

dengan kebutuhan yang bersifat fisik, tetapi juga kebutuhan psikis, sosial, maupun spiritual. Apalagi penduduk lansia adalah tergolong penduduk rentan, berbagai

penyakit mulai menghampirinya seperti tulang keropos (osteoporosis), kelumpuhan, darah tinggi, jantung koroner, stroke, demikian pula pendengaran dan penglihatannya mulai terganggu.

Kemajuan pembangunan telah serta merta mengubah pola kehidupan dalam masyarakat, dari masyarakat tradisional ke masyarakat modern. Masyarakat

(21)

anak-anak cenderung bekerja sesuai dengan aspirasi mereka. Bahkan

kemungkinan besar mereka akan bekerja jauh dari tempat tinggal orang tuanya. Sementara itu, orang tuanya yang selama ini telah melahirkan, memelihara,

membesarkan, dan mendidiknya, telah menjadi penduduk lansia dengan berbagai permasalahan hidup. Padahal dalam masyarakat Bali dikenal adanya ajaran “catur

guru”, yang salah satunya adalah guru rupaka (orang tua), artinya anak wajib

bakti atau hormat pada orang tuanya. Bakti atau hormat pada orang tua bukan semata-mata pada saat orang tuanya masih hidup, namun juga setelah orang

tuanya meninggal (menjadi leluhur) kewajiban bakti tersebut tetap dilakukan. Berangkat dari fenomena dilematis seperti di atas, maka sangat mendesak dilakukan penelitian tentang pola perawatan penduduk lansia pada masyarakat

(22)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Keberadaan Penduduk Lanjut Usia

Penduduk lanjut usia (lansia) muncul sebagai tantangan sosial-ekonomi terbesar di seluruh belahan dunia (Novak et al., 2015). Pengaruh keberadaan

lansia terhadap kondisi dan kebijakan sosial-ekonomi serta luaran individu merupakan salah satu isu penting di sebagian besar negara-negara sedang

berkembang (Tae-jeong & Hewings, 2013; Vidovicova, 2014). Hal ini disebabkan pertumbuhan penduduk lansia di negara-negara sedang berkembang semakin cepat─pada tahun 2050 penduduk lansia di dunia diproyeksikan mencapai 2

milyar orang, dua pertiganya terdapat di kelompok negara ini, seperti yang dikemukakan oleh Chand dan Tung (2014). Oleh karena itu, menurut kelompok penulis ini, negara-negara sedang berkembang akan memiliki waktu yang lebih

pendek untuk melakukan penyesuaian dan pengembangan infrastruktur serta kebijakan yang diperlukan untuk menanggulangi pertumbuhan penduduk

lansianya.

Undang-undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan menyatakan bahwa lansia adalah seseorang yang karena usianya mengalami perubahan

biologis, fisik, kejiwaan, dan sosial. Keberadaan penduduk lansia erat kaitannya dengan terminologi proses penuaan (aging). Dalam kaitan dengan itu, Geller dan

(23)

mental, dan sosial. Arking (2006) (dalam Dalgaard & Strulik, 2014) menyatakan

bahwa penuaan didefinisi sebagai hilangnya fungsi intrinsik, kumulatif, dan progresif yang pada akhirnya mengarah pada kematian. Dijelaskan bahwa

penuaan individu sebaiknya lebih dipandang sebagai kejadian yang tergantung pada proses, dibanding kejadian, yang tergantung pada waktu. Artinya, bisa jadi seseorang yang berumur 65 tahun berada pada kondisi kesehatan yang lebih baik

dibandingkan dengan orang lain yang berusia 50 tahun. Studi tentang lansia menjadi menarik karena adanya diversitas pada kelompok penduduk ini

(http://us.sagepub.com). Diberikan contoh bahwa para peneliti tertarik untuk mengetahui mengapa seseorang yang telah berumur 70 masih bisa menduduki jabatan presiden, sedangkan orang lain yang berusia sama sudah menjalani

perawatan di tempat penitipan lansia. Dengan demikian, disimpulkan bahwa penuaan tidak berkaitan dengan “jam biologis” (biological clock) sebagai mekanisme yang mengendalikan aktivitas fisiologis organisme yang berubah

secara harian, mingguan, tahunan, atau siklus reguler lainnya.

Saat ini, Indonesia termasuk dalam lima besar negara dengan jumlah

penduduk lansia terbanyak di dunia, yakni mencapai 18,1 juta jiwa atau 7,6 persen dari jumlah penduduk, dan diproyeksikan oleh Bappenas akan mencapai 36 juta orang pada tahun 2025 (http://www.buk.kemkes.go.id). Kondisi ini menyebabkan

Indonesia dikategorikan sebagai negara berstruktur penduduk tua yang pada akhirnya membawa konsekuensi pada peningkatan kebutuhan pelayanan terhadap

(24)

Menurut Sutikno (2011), jumlah penduduk lansia di Indonesia pada tahun

2025 dibandingkan dengan keadaan pada tahun 1990 akan mengalami kenaikan sebesar 414 persen, yang mana kondisi ini merupakan kenaikan paling tinggi di

seluruh dunia. Mengacu pada Departemen Kesehatan (2003) peneliti ini mengadakan komparasi antar negara-negara di dunia tentang kenaikan tersebut pada periode yang sama yaitu Kenya (347%); Brazil (255%); India (242%); China

(220%); Jepang (129%); Jerman (66%); dan Swedia (33%). Jika diadakan komparasi antar provinsi di Indonesia, dari kelompok tiga besar provinsi yang

memiliki proporsi penduduk lansia tertinggi, Bali menempati urutan kedua yaitu mencapai 10,51 persen, disusul oleh Provinsi Jawa Timur (10,35%), sedangkan Daerah Istimewa Yogyakarta berada pada urutan teratas (13,65%) (BPS

Indonesia, 2005).

Prosespenuaan penduduk dapat diukur melalui tiga besaran yakni pertumbuhan umur median penduduk, pertumbuhan indeks penuaan, dan

pertumbuhan persentase penduduk lansia (Novak et al., 2015). Pertama, umur median merupakan umur yang membagi penduduk menjadi dua kelompok sama

besar─separuh penduduk lebih muda dan separuh lebih tua dari umur median. Kedua, indeks penuaan merupakan rasio antara penduduk yang lebih tua (umur 65 tahun atau lebih) dengan penduduk yang lebih muda (umur 0-14 tahun) dikalikan

(25)

2.2. Usia Harapan Hidup dan Penduduk Lanjut Usia

Angka harapan hidup global meningkat hampir sebesar 20 persen selama 50 tahun belakangan ini (Oster et al., 2013). Naiknya angka harapan hidup

merupakan faktor utama penuaan penduduk (Novak et al., 2015). Tingginya proporsi penduduk lansia di suatu wilayah sejalan dengan naiknya usia harapan hidup (life expectancy). Semakin tinggi usia harapan hidup, terdapat

kecenderungan semakin besar proporsi penduduk lansia di suatu wilayah. Salah satu sebab utama meningkatnya usia harapan hidup di suatu wilayah/negara

adalah meningkatnya pendapatan perkapita penduduknya (Dalgaard & Strulik, 2014). Selanjutnya dijelaskan bahwa kondisi ini memunculkan gagasan “kemakmuran mengarah pada umur panjang” (prosperity leads to greater

longevity). Selain itu, usia harapan yang tinggi adalah sebagai konsekuensi dari meningkatnya kondisi kesehatan masyarakatnya. Kondisi kesehatan masyarakat yang tinggi menyebabkan penduduknya dapat bertahan hidup relatif lebih lama

dibandingkan dengan kelompok masyarakat dengan taraf kesehatan yang lebih rendah.

Jika dikaitkan dengan proporsi penduduk lansia di Indonesia, hal ini dapat mencerminkan bahwa kondisi kesehatan penduduk Indonesia relatif lebih baik dibandingkan dengan negara-negara yang memiliki proporsi penduduk lansia

yang lebih rendah. Sejalan dengan itu, dapat juga dinyatakan bahwa kondisi kesehatan penduduk Provinsi Bali lebih baik dari pada provinsi lain di Indonesia

(26)

Secara umum, kondisi di berbagai negara menunjukkan bahwa terdapat

berbedaan angka harapan hidup menurut jenis kelamin, dimana perempuan berumur lebih panjang dibandingkan dengan laki-laki (Clark & Peck, 2012).

Dijelaskan bahwa perbedaan gaya hidup menjadi salah satu penyebab terjadinya kondisi ini. Merokok dan mengkonsumsi minuman keras, menyebabkan laki-laki cenderung lebih pendek umurnya dibandingkan dengan perempuan karena

perilaku tersebut dapat menyebabkan berbagai penyakit seperti kanker, kerusakan paru-paru, dan sakit jantung. Laki-laki juga dikatakan lebih terpengaruh secara

emosional oleh tekanan sosial-ekonomi dibandingkan perempuan. Jika laki-laki mengalami masalah dalam hidupnya, mereka cenderung menyimpannya sendiri─tidak berbagi dengan orang lain untuk meringankan beban tersebut.

Selain itu, perempuan memiliki keunggulan secara biologis dibandingkan laki-laki karena pengalaman menstruasi dan reproduksi.

Selain meningkatnya angka harapan hidup, menurut Chand dan Tung

(2014), meningkatnya jumlah penduduk lansia juga disebabkan oleh penurunan angka kelahiran dan penurunan angka kematian yang menggantikan penurunan

kelahiran. Dijelaskan bahwa penyebab turunnya angka kelahiran antara lain disebabkan oleh meningkatnya status sosial perempuan, perluasan ketersediaan mekanisme pengendalian kelahiran, meningkatnya akses terhadap pendidikan

tinggi untuk kaum perempuan, meningkatnya biaya perawatan anak, serta melemahnya norma atau nilai yang menekankan pentingnya keluarga besar.

(27)

Perempuan yang bekerja cenderung memiliki akses yang lebih luas terhadap

pengetahuan tentang kesehatan dan upaya meningkatkan kesejahteraan hidup. Sementara itu, “baby boom” kohor, terutama di negara maju, yang saat ini

mencapai usia sekitar 65 tahun, tidak diikuti oleh kohor yang lebih muda, sehingga proporsi mereka menjadi besar. Usia harapan hidup mereka tinggi karena pada fase awal transisi demografi saat mana mereka dilahirkan, angka

kematian bayi cenderung turun sebelum angka kelahiran, mengalami menurun. Jumlah penduduk lansia yang relatif tinggi, terutama yang berada pada

kelompok tidak potensial, memerlukan penanganan secara “lebih mengkhusus”

dibandingkan dengan mereka yang termasuk ke dalam kategori potensial. Berdasarkan Undang-undang Nomor 13 Tahun 1998 tentang Kesejahteraan

Penduduk Lanjut Usia, dinyatakan bahwa penduduk lansia (seseorang berusia 60 tahun ke atas) dibedakan menjadi dua kelompok yaitu Lanjut Usia Potensial dan Lanjut Usia Tidak Potensial (Suprapti, dkk, 2014). Lanjut Usia potensial adalah

lanjut usia yang masih mampu melakukan pekerjaan dan/atau kegiatan yang dapat menghasilkan barang dan/atau jasa, sedangkan Lanjut Usia Tidak Potensial adalah

lanjut usia yang tidak berdaya mencari nafkah, sehingga hidupnya bergantung pada bantuan orang lain. Sementara itu, mengacu pada Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Notoatmojo (2007) (dalam Sutikno, 2011), lansia meliputi:

1. Usia pertengahan (middle age), kelompok usia 45-59 tahun. 2. Usia lanjut (elderly), kelompok usia 60-70 tahun.

3. Usia lanjut tua (old), kelompok usia 75-90 tahun.

(28)

Pada hakikatnya, menjadi tua merupakan proses alamiah, yang berarti

seseorang telah melalui tiga tahap kehidupannya yaitu masa kanak-kanak, masa dewasa, dan masa tua, yang mana ketiga tahap tersebut berbeda baik secara

biologis maupun psikologis (http://repository.usu.ac.id). Secara biologis, pada masa tuanya, seseorang akan mengalami kemunduran secara fisik, misalnya pada pendengaran, penglihatan, serta organ tubuh yang lain. Secara psikologis,

hambatan akan dialami akibat kemunduran daya ingat (fungsi kognitif). Menurut Dalgaard dan Strulik (2014), kondisi ini disebut sebagai proses akumulasi defisit

(process of deficit accumulation) yang mengacu pada pendekatan reduksionis yang menyatakan bahwa organisme menua karena terjadinya proses penuaan organ tubuh yang diakibatkan oleh penuaan jaringan dan sel tubuh. Secara umum

Nugroho (2002) (dalam Sutikno, 2011) mengemukakan bahwa perubahan-perubahan yang terjadi pada lansia meliputi perubahan-perubahan fisik, mental, psikososial, dan spiritual.

2.3. Lansia dan Dukungan Sosial

Kemunduran kondisi fisik dan psikologis, khususnya, dapat mempengaruhi aktivitas sehari-hari (activity of daily living) para lansia.Activity of daily living merupakan kegiatan-kegiatan yang dibutuhkan seseorang dalam

rangka menyelenggarakan kehidupannya secara mandiri (Bozo et al., 2009). Kelompok peneliti ini juga menjelaskan bahwa para lansia, terutama yang

(29)

dapat dilakukan secara mandiri seperti makan, mandi, berpakaian, serta buang air,

dapat menjadi pemicu munculnya ketidakberdayaan, sehingga akhirnya dapat menimbulkan stres atau depresi.

Kebutuhan akan bantuan orang lain menyebabkan para lansia perlu memperoleh dukungan secara sosial. Bozo et al. (2012) mengemukakan bahwa dukungan sosial diperlukan terutama dalam kaitannya dengan ketidakberdayaan

fungsional lansia dalam melaksanakan kebutuhan fisik sehari-hari. Dukungan semacam ini pada umumnya lebih mudah diperoleh pada masyarakat yang bersifat

kolektivis yang dicirikan oleh lebih kentalnya ikatan kekeluargaan/kekerabatan, dibandingkan dengan pada budaya individualis dengan gaya hidup yang cenderung mengutamakan kepentingan individu.

Terdapat variasi antar peneliti tentang definisi dukungan sosial. Secara mendasar, dukungan sosial merefleksikan informasi tentang persepsi terhadap terpenuhinya kebutuhan akan perlindungan, dukungan, dan umpan balik (Dewi,

2013) atau dukungan yang diterima melalui proses komunikasi dan interaksi sosial dengan pihak seperti teman, rekan kerja, dan keluarga/kerabat (Lobburi,

2012). Weiss (1974) (dalam Cutrona & Russel, 1987) mengemukakan bahwa terdapat enam komponen dukungan sosial yakni:

1. Guidance: hubungan yang memungkinkan individu untuk memperoleh

nasehat atau informasi yang diperlukan.

2. Reliable alliances: jaminan tentang adanya keberadaan seseorang yang

(30)

3. Reassurance of worth: perolehan pengakuan atas kemampuan, keahlian,

dan penghargaan dari orang lain.

4. Opportunity of nurturance: perasaan dibutuhkan oleh orang lain (salah

satu aspek hubungan interpersonal).

5. Attachment: perolehan rasa aman karena adanya kedekatan emosional. Sumber dukungan ini dapat berasal dari pasangan hidup, kerabat atau

teman dekat.

6. Social integration: perasaan tentang keterlibatan dalam suatu kelompok

yang memungkinkan dapat membagi minat serta melakukan aktivitas yang sama. Dukungan semacam ini memungkinkan individu memperoleh rasa nyaman, aman, senang, serta rasa memiliki identitas.

Sementara itu, menurut Safrino (2002) dukungan sosial dapat dibedakan menjadi empat bentuk yakni:

1. Dukungan emosional: melibatkan ekspresi rasa simpati dan perhatian terhadap

individu yang menyebabkan timbulnya rasa nyaman, dicintai, dan diperhatikan. 2. Dukungan penghargaan: melibatkan ekspresi yang berupa pernyataan setuju

dan penilaian positif terhadap ide-ide, perasaan, dan performa orang lain. 3. Dukungan instrumental: melibatkan bantuan langsung, misalnya bantuan

keuangan atau bantuan dalam mengerjakan tugas-tugas tertentu.

4. Dukungan informasi: dapat berupa saran, pengarahan, atau umpan balik tentang pemecahan masalah.

(31)

Kelompok peneliti ini mengkategorikan dukungan sosial ke dalam dua kategori

umum yakni yang bersumber dari pekerjaan dan nonpekerjaan. Berhubung responden utama dalam studi ini adalah lansia yang notabene tidak bekerja atau

tidak lagi bekerja (pensiun), maka dukungan sosial difokuskan pada dukungan yang bersumber dari aspek nonpekerjaan, yaitu teman, pasangan, dan/atau anggota keluarga yang lain.

Dukungan dari pasangan (oleh Watkins et al., 2012 disebut sebagai “the

closest significant other”), atau anggota keluarga lain, akan dapat membantu para

lansia dalam menghadapi dan menanggulangi hambatan-hambatan yang dihadapi baik dari segi fisik, fisiologis, maupun psikologis. Dilihat dari dukungan pasanganpun, terdapat beberapa variasi seperti yang dikemukakan oleh Peeters

dan Le Blanc (2001). Dijelaskan bahwa dukungan pasangan ini dapat dikategorikan menjadi dukungan emosional (empati, kasih sayang, dan kepercayaan); penilaian (penyaluran informasi yang relevan sebagai evaluasi diri);

dan instrumental (bantuan praktis).

Lansia membutuhkan dukungan keluarga akibat penurunan kemandirian

mereka yang terutama disebabkan oleh kondisi fisik yang menurun. Dukungan keluarga merupakan informasi verbal, non-verbal, saran, bantuan nyata, dan tingkah laku dari orang-orang yang akrab berupa kehadiran, kepedulian,

kesediaan, dan hal-hal yang dapat memberikan keuntungan emosional serta meningkatkan fisik lansia, sehingga mendorong mereka untuk mandiri dalam

(32)

anak-anaknya di Desa Sembayat Timur, Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik,

menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang positif antara dukungan keluarga dengan kemandirian lansia dalam pemenuhan aktivitas sehari-hari. Berarti,

semakin tinggi dukungan yang diberikan oleh keluarga (termasuk anak-anaknya), semakin tinggi pula tingkat kemandirian lansia dalam melaksanakan kegiatan harian mereka. Sebaliknya, semakin rendah dukungan yang diberikan oleh

keluarga, maka tingkat kemandirian lansia dalam melaksanakan aktivitas sehari-hari akan semakin rendah.

Pada studi yang dilakukan oleh Departemen Sosiologi, Universitas Airlangga pada Tahun 2013, disebutkan bahwa terdapat 4 kelompok dukungan keluarga. Pertama, dukungan emosional antara lain berupa ungkapan empati,

kasih sayang, dan kepedulian. Kedua, dukungan penghargaan lewat ungkapan hormat dan dorongan untuk hidup sehat dan beraktivitas. Ketiga, dukungan instrumental, meliputi bantuan langsung yang bersifat nyata dan dalam bentuk

materi. Keempat, dukungan informatif yang mencakup meminta nasehat, petunjuk, saran/umpan balik dalam menyelesaikan permasalahan keluarga. Dalam

definisi lansia dan jenis dukungan ini tersirat bahwa dukungan keluarga direfleksikan melalui upaya perawatan keluarga baik terhadap fisik maupun emosional lansia.

Selain terjadinya defisiensi pada kondisi fisik dan psikologis, lansia juga mengalami perubahan psikososial yang sifatnya beragam bergantung pada

(33)

sekian lama aktif bekerja, misalnya. Selain itu, menurut Andrioni dan Schmidt

(2011), lansia merupakan kelompok rentan yang seringkali mengalami masalah terkait dengan isolasi sosial, kesehatan yang buruk, kondisi keuangan yang buruk,

ketersediaan makanan yang tidak layak, dan kesepian. Kesepian biasanya disebabkan oleh meninggalnya pasangan hidup, ketiadaan teman, dan tempat tinggal yang terpisah engan anaak-anak. Sejalan dengan itu, van Marrewijk dan

Becker (2004) juga mengemukakan bahwa meningkatnya jumlah penduduk lansia di suatu negara akan menimbulkan masalah selain berhubungan dengan naiknya

biaya kesehatan, juga berdampak buruk pada kondisi personal lansia seperti rendahnya rasa percaya diri dan tidak memungkinkannya pencapaian determinasi diri. Maka dari itu, dibutuhkan penanganan atau perawatan dengan pola tertentu

agar lansia dapat mencapai kehidupan yang sejahtera seperti yang diamanatkan oleh Undang-undang Nomor 13 Tahun 1998.

2.4. Pendekatan dan Nilai-nilai Agama Hindu dalam Perawatan Lansia Terdapat wacana bahwa bagi para lansia, perawatan yang tulus ikhlas dari

anak-anaknya akan dirasakan jauh lebih berharga dari pada dukungan berupa materi. “Sewaktu kecil, orangtua yang merawat kita, setelah mereka tua, kitalah

yang harus merawat mereka” (http://telaga.org/audio), tampak sebagai pernyataan

yang menyiratkan bahwa anak memiliki tanggung jawab untuk menjaga kondisi fisik dan psikologis orangtua. Terkait dengan hal ini, terdapat empat pendekatan

(34)

pada tatanan klinik (keperawatan), tidak tertutup kemungkinan untuk diterapkan

di rumah tangga oleh anak-anak dalam merawat orangtuanya. Keempat pendekatan tersebut terdiri dari pendekatan fisik, psikis, sosial, dan spiritual

(http://yh4princ3ss.wordpress.com). Dijelaskan lebih lanjut bahwa pada pendekatan fisik, perawatan dilakukan dengan memperhatikan kesehatan, kebutuhan, serta kejadian-kejadian yang dialami oleh lansia semasa hidupnya.

Kunci pendekatan psikis terletak pada pendekatan edukatif bagi lansia, misalnya anak berperan sebagai pendukung dan “penterjemah” terhadap sesuatu yang asing.

Pendekatan sosial perawatan lansia dilakukan melalui diskusi, tukar pikiran, bercerita, dan rekreasi. Pemberian ketenangan dan kepuasan batin dalam hubungan dengan Tuhan atau agama terkait dengan perawatan melalui pendekatan

spiritual. Keempat jenis pendekatan ini dapat membantu lansia dalam mempertahankan serta membesarkan daya hidup atau semangat hidupnya.

Indonesia sendiri merupakan negara yang masih memiliki kultur keluarga

besar yakni terdiri dari orang tua, anak dan cucu (Ningsi, 2013). Selanjutnya dinyatakan bahwa keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang didalamnya

terdapat kepala keluarga dan beberapa orang yang terkumpul dan tinggal di suatu tempat di bawah suatu atap dalam keadaan saling ketergantungan. Jika dikaitkan dengan keberadaan lansia, kondisi ini bermakna bahwa anak (dan cucu) adalah

orang terdekat yang secara langsung bertanggungjawab untuk merawat orangtuanya, terlebih pada saat orangtua sudah memasuki usia lanjut.

(35)

Bakti, Palembang, menunjukkan adanya pergeseran perilaku anak kandung dalam

merawat orangtuanya yang lansia. Hal ini ditunjukkan oleh lansia yang dititipkan di panti werdha tersebut senantiasa meningkat jumlahnya dari tahun ke tahun.

Apakah hasil studi ini mencerminkan berkurangnya respek terhadap orangtua seperti yang dinyatakan oleh O’Shea (1994), perlu dilakukan penelitian lebih

lanjut. Menurut peneliti ini, respek bisa berkonotasi negatif jika dihubungkan

dengan persepsi terhadap meningkatnya ketergantungan ketika seseorang beranjak tua. Kedua hasil penelitian tersebut menunjukkan adanya kecenderungan

perbedaan pola perawatan oleh anak terhadap orangtuanya yang sudah memasuki usia lanjut.

Sebagai Guru Rupaka, orangtua melahirkan dan membesarkan

anak-anaknya sebagai manusia, sehingga sudah sepatutnya anak memberi perhatian dan dukungan moral agar orangtua tetap bergairah untuk hidup lebih lama, khususnya bagi orangtua yang telah memasuki usia lanjut (http://bali.kemenag.go.id).

Berbakti adalah kewajiban setiap anak terhadap orangtuanya. Dalam pustaka Jawa Kuno berjudulPutra Sasanadiuraikan kewajiban setiap anak untuk menunjukkan

sikap hormat atau sujud bhakti terhadap orangtua (gurunya) serta pantangan-pantangan sekaligus keharusan-keharusan yang mesti dilaksanakan (Sudharta, 1993). Dalam Kitab Taittiriya Upanisad I.11 dinyatakan bahwa ayah dan ibu

adalah sinar suci dalam rumah tangga, oleh karenanya mereka wajar memperoleh bhakti dari keturunannya (Suprapti, dkk, 2014). Dari pernyataan ini secara implisit

(36)

orangtua, anak berkewajiban untuk membalas budi orangtua yang mengadakannya

di dunia ini melalui ketulusikhlasan untuk merawat mereka di hari tuanya.

2.5. Teori Tentang Lansia

Kegunaan utama teori dalam sebuah studi adalah untuk menjelaskan dan

memprediksi (Neuman, 2000). Dijelaskan bahwa secara umum terdapat dua makna tentang kegunaan penjelas dari sebuah teori, yakni penjelasan teoritis

(theoretical explanation) sebagai argumen logis yang menjelaskan mengapa sesuatu terjadi dan penjelasan biasa (ordinary explanation) untuk menjelaskan sesuatu, sehingga dapat bermakna keilmuan. Sementara itu memprediksi

merupakan suatu kegiatan untuk menyatakan sesuatu akan terjadi. Dalam penelitian ini, teori digunakan untuk menjelaskan guna menyajikan struktur studi

dan memedomani pengembangan pertanyaan riset (pokok masalah).

Teori tentang proses penuaan (baca:lansia), pada umumnyaa dikelompokkan ke dalam tiga kategori, yakni Teori Biologis, Teori Psikologis,

dan Teori Sosiologis (National Concil of Elderly, 1994). Teori Biologis dibagi menjadi tiga yakni Teori Radikal Bebas, Teori Cross-Link, dan Teori Imunologis. Pertama, Teori Radikal Bebas menyatakan bahwa proses penuaan diakibatkan

oleh adanya pengaruh radikal bebas dimana proses metabolisme oksigen merupakan sumber radikal bebas yang terbesar. Kedua, Teori Cross-Link

menyatakan bahwa rigiditas tubuh disebakan oleh terjadinya reaksi kimia yang menimbulkan senyawa antara molekul-molekul yang normal menjadi terpisah. Ketiga, Teori imunologis menyatakan bahwa penuaan terjadi karena adanya

(37)

untuk membedakan proteinnya sendiri dengan protein asing. Akibatnya, sistem

imun menyerang dan menghancurkan jaringannya sendiri pada kecepatan yang meningkat secara bertahap.

Teori Psikologis juga dikelompokkan menjadi tiga kategori yakni Teori pembebasan (Disengagement Theory), Teori Aktivitas (Activity Theory); dan Teoi Kontinuitas (Coninuity Theory). Pertama, Teori Pembebasan menyatakan

bahwa orang yang menua cenderung menarik diri dari peran yng biasanya dan terikat pada aktivitas yang lebih introspeksi dan berfokus pada diri sendiri. Kedua,

Teori Aktivitas mempostulasi bahwa lansia dengan keterlibatan yang lebih besar, memiliki semangat dan kepuasan hidup yang lebih tinggi, penyesuaian serta kesehatan mental yang lebih positif dari pada lansia yang kurang terlibat secara

sosial. Ketiga, Teori Kontinuitas adalah merupakan teori perkembangan yang menyatakan bahwa kepribadian seseorang tetap sama dan perilaku akan lebih mudah diprediksi seiring dengan terjadinya proses penuaan. Teori ini juga pada

dasarnya dirancang untuk menjelaskan proses penuaan yang berhasil/sukses. Teori Sosiologis dikelompokkan menjadi Teori Modernisasi, Teori

Politikal Ekonomi, dan Teori Stratifikasi Sosial. Pertama, Teori Modernisasi menjelaskan cara dengan mana perubahan sosial mempengaruhi posisi lansia. Masyarakaat yang lebih modern, cenderung meletakkan lansia pada posisi yang

lebih periperal yang sedikit banyak diakibatkan oleh keberadaan keluarga luas yang cenderung memisahkan orangtua dengan anak-anaknya. Kedua, Teori

(38)

Sosial menjelaskan bahwa usia, seperti halnya jenis kelamin dan suku bangsa,

bertindak sebagai alat untuk mengatur kehidupan sosial masyarakat. Dalam studi ini, Teori Aktivitas digunakan sebagai acuan. Teori ini dipilih sebagai pedoman

karena studi ini dilakukan untuk melakukan pengkajian tentang keberadaan penduduk lansia dalam melakukan aktivitasnya baik secara fisik, psikis, sosial-ekonomi, maupun spiritualnya. Melalui pengkajian ini diharaapkan dapat

(39)

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Rancangan Penelitian

Secara garis besar rancangan penelitian dapat dibagi menjadi tiga, yaitu rancangan penelitian kuantitatif, kualitatif, dan campuran (mixed methods)

(Creswell, 2010). Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah rancangan penelitian campuran (mixed methods), yang merupakan kombinasi antara pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Dalam rancangan

penelitian campuran ini di samping dikumpulkan data kuantitatif juga dikumpulkan data kualitatif.

Penelitian dengan rancangan penelitian campuran dilakukan secara bersamaan dengan tujuan saling melengkapi gambaran hasil studi mengenai fenomena yang diteliti dan untuk memperkuat analisis penelitian. Penelitian ini

menggunakan metode kuantitatif yang merupakan pendekatan utama (metode primer) dan secara bersama-sama dengan metode kualitatif yaitu sebagai pelengkap (metode sekunder). Penelitian campuran seperti yang diungkapkan di

atas disebut juga penelitian tidak berimbang atau concurrent embedded (Sugiyono, 2012).

3.2 Lokasi Penelitian

Penelitian akan dilakukan di dua wilayah, yaitu wilayah perkotaan dan

(40)

wilayah perdesaan diwakili oleh Kabupaten Tabanan. Pemilihan kedua wilayah

ini dilakukansecara purposive,dengan dasar pertimbangan bahwa kedua wilayah ini memiliki angka harapan hidup yang menduduki peringkat pertama dan kedua.

Menurut BPS (2014), angka harapan hidup tertinggi pada tahun 2013 dicapai oleh Kabupaten Tabanan, dengan angka harapan hidup 74,91 tahun, sedangkan Kota Denpasar menduduki tempat kedua dengan angka harapan hidup 73,46 tahun.

3.3 Variabel Penelitian

Secara garis besar variabel penelitiannya mencakup dua jenis variabel, yaitu yang berkaitan dengan (1) karakteristik responden meliputi umur, jenis kelamin, tempat tinggal, pendidikan, status pekerjaan, pekerjaan responden, dan

lapangan pekerjaan responden; (2) perawatan lansia, lebih dijabarkan lagi ke dalam variabel-variabel yang menggambarkan kondisi fisik, psikis, sosial, dan spiritual.

3.4 Populasi, Sampel, Responden, dan Informan

Populasi penelitian ini adalah seluruh kepala keluarga (KK) yang salah satu anggota keluarganya adalah orang tuanya yang sudah lansia. Orang tua lansia adalah orang tua yang pada saat penelitian ini dilakukan sudah berumur 60 tahun

ke atas. Untuk menyederhanakan istilah KK yang salah satu anggota keluarganya adalah orang tuanya yang sudah lansia, selanjutnya diringkas dengan KK lansia.

(41)

tersedia, sehingga menyulitkan dalam pengambilan sampel secara acak (random).

Cara yang ditempuh untuk mengatasi masalah di atas adalah melakukan listing terhadap KK lansia di dua desa dari satu kecamatan terpilih, untuk Kabupaten

Tabanan dan Kota Denpasar. KK lansia yang diambil sebagai sampel berjumlah 150 KK lansia yang didistribusikan secara merata di dua kabupaten/kota, yaitu 75 KK lansia di Kabupaten Tabanan dan 75 KK lansia di Kota Denpasar.

Pengambilan sampel KK lansia (di Kabupaten Tabanan dan Kota Denpasar) dilakukan secara random berdasarkan hasil listing di masing-masing lokasi

penelitian.

Selanjutnya, berdasarkan sampel terpilih dilakukan wawancara terstruktur terhadap responden penelitian, dari setiap KK yang terpilih sebagai sampel akan

diambil dua responden penelitian, yaitu seorang KK dan seorang orang tua lansia. Rincian responden di masing lokasi penelitian dapat diikuti pada Tabel 3.1.

Tabel 3.1

Jumlah Responden Dirinci Menurut Lokasi Penelitian (Kabupaten/Kota, Kecamatan, dan Desa/Kelurahan)

Lokasi Penelitian Responden Penelitian (Orang)

Kabupaten/

Kota Kecamatan Desa/Kelurahan KK Lansia Total

Denpasar Denpasar Timur

Sumerta

75 75 150

Dangin Puri

Tabanan

Penebel Buruan

75 75 150

Jegu

(42)

Selain penentuan responden, dalam penelitian ini juga akan ditentukan

informan kunci yang diambil dari tokoh-tokoh masyarakat, seperti pemuka adat dan pemuka agama Hindu. Penentuan informan kunci ini dimaksudkan untuk

menggali informasi yang bersifat kualitatif, untuk melengkapi hasil penelitian secara kuantitatif.

3.5 Instrumen Penelitian

Dalam penelitian akan digunakan tiga jenis instrumen penelitian, yaitu daftar pertanyaan, panduan diskusi, dan tape recorder. Daftar pertanyaan atau kuesioner dibuat secara rinci yang ditujukan kepada responden penelitian untuk

menggali informasi terkait dengan karakteristik responden, dan informasi tentang pola perawatan lansia yang berkaitan kondsi fisik, psikis, sosial, dan spiritual.

Sementara itu, panduan diskusi dan tape recorder, digunakan pada saat pengumpulan data melalui diskusi kelompok terfokus (focus group discussion). Kegiatan diskusi kelompok terfokus adalah salah satu cara untuk mengumpulkan

data penelitian yang bersifat kualitatif.

3.6 Metode Pengumpulan Data

Dalam penelitian ini digunakan beberapa cara pengumpulan data, yang dimaksudkan agar data yang dikumpulkan betul-betul dapat digunakan untuk

memberikan gambaran yang lebih realistis terhadap obyek yang sedang diteliti. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini antara lain

(43)

1) Wawancara terstruktur, adalah wawancara yang dilakukan melalui tatap muka

langsung dengan responden dan menggunakan daftar pertanyaan atau kuesioner yang telah disiapkan sebelumnya.

2) Diskusi Kelompok Terfokus adalah diskusi yang dilakukan dengan menghadirkan para informan kunci, yang terdiri atas pemuka adat, pemuka agama, dan para peneliti. Agar diskusi betul-betul terarah, jumlah peserta

diskusi kelompok terfokus berkisar antara 7 sampai dengan 10 orang. Untuk menjamin kelancaran diskusi para peneliti dilengkapi dengan panduan diskusi

dan alat perekam diskusi (tape recorder).

3.7 Teknik Analisis Data

Data yang telah dikumpulkan akan diedit atau diperiksa, untuk

mengurangi kemungkinan terjadinya kesalahan selama pengumpulan data lapangan. Setelah edting data dilakukan, langkah berikutnya adalah melakukan data entry dengan komputer. Jika semua data sudah dimasukkan dan dinyatakan

bersih dari kesalahan, proses selanjutnya adalah pengolahan data dengan SPSS PC+. Melalui beberapa fase pengolahan data seperti di atas, selanjutnya

ditentukan teknik analisis data yang digunakan mengupas masalah penelitian. Penelitian ini tergolong penelitian campuran, sehingga analisis yang digunakan

(44)

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1. Gambaran Umum Daerah Penelitian

Bali yang hanya memiliki luas wilayah 5.636,66 km2 atau0,29 per sen

dari luas wilayah Indonesia, sudah cukup dikenal sebagai salah satu destinasi wisata baik untuk wisatawan domestic maupun mancanegara . Wilayah Bali

terbagi dalam enam wilayah daratan (pulau), yaitu Pulau Bali sebagai pulau terbesar, Pulau Nusa Penida, Pulau Nusa Ceningan, Pulau Nusa Lembongan, Pulau Serangan, dan PulauMenjangan. Sementara jika dilihat dari posisinya,

Provinsi Bali secara astronomis terletak pada 8°03’40” - 8°50’48” Lintang Selatan dan 114°25’53” - 115°42’40” BujurTimur. Berbatasan dengan Laut Bali

di sebelah utara, Samudra Indonesia di sebelah selatan, Selat Bali di sebelah barat serta Selat Lombok di sebelah timur.

Secara administrasi, Provinsi Bali terbagi menjadi 8 Kabupaten, 1

Kota, 57 Kecamatan, 716 Desa/Kelurahan, dan secara adat terdiri dari 1.48 8 Desa Pekraman, dan 3.625 Banjar Pekraman. Jika dilihat berdasarkan luas wilayahnya, Kabupaten Buleleng merupakan kabupaten terluas dengan wilayah

seluas 1.365,88 km2, diikuti Kabupaten Jembrana 841,80 km2, Karangasem 839,54 km2,Tabanan 839,33 km2, Bangli 520,81 km , Badung 418,52 km2,

Gianyar 368,00 km2, Klungkung 315,00 km2 dan terkecil adalah Kota Denpasar dengan luas wilayah sebesar 127,78 km2.

(45)

yang tinggi (pro growth), sehingga mampu menciptakan lapangan kerja (pro

job), yang pada gilirannya meningkatkan kesejahteraan masyarakat/menurunkan tingkat kemiskinan (pro poor) dengan tetap menjaga kualitas lingkungan (pro

environment) sehingga dapat mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan (sustainable development). Untuk itu arah kebijakan pembangunan daerah Bali dijabarkan dalam 8 (delapan) Prioritas pembangunan diantara 8 prioritas

pembangunan tersebut antara lain adalah: Penanggulangan kemiskinan dan pengurangan pengangguran, dengan langkah nyata yang telah diambil antara lain

program beasiswa masyarakat miskin, Jaminan Kesehatan Bali Mandara (JKBM), Bedah rumah, dan bursa kerja (job fair). Sedangkan di bidang pendidikan dan kesehatan telah dilakukan peningkatan akses dan mutu layanan

pendidikan dan kesehatan masyarakat. Peningkatan mutu layanan pendidikan diwujudkan melalui peningkatan kualitas pendidik, mengembangkan sekolah berbasis teknologi informasi dan komunikasi (ITC) dan pembangunan SMA Bali

Mandara yang merupakan sekolah unggulan dengan menampung siswa berprestasi yang berasal dari keluarga kurang mampu (Bali Membangun, 2013).

Lebih lanjut dijelaskan jumlahpenduduk Bali tahun 2010 hasil Sensus Penduduk (SP2010) mencapai 3.890.757 orang atau meningkat rata-rata sebesar 2,14 persen per tahun jika dibandingkan hasil Sensus Penduduk tahun

2000 yang mencapai 3.146.999 orang. Bila dirinci menurut jenis kelamin maka jumlah penduduk laki –laki tahun 2010 sebanyak 1.961.348 orang dan

(46)

788.589 orang atau 20,27 persen dari total penduduk Bali diikuti Kabupaten

Buleleng dengan total penduduk mencapai 624.125 orang atau 16,04 dari total penduduk Bali.

Jumlah penduduk berdasarkan atas umur sebagian besar berada pada distribusi umur 20-59 tahun (58,12%), kemudian diikuti oleh rentang umur 0-19 tahun (33,36%) dan yang paling kecil adalah yang tergolong umur lanjut usia

(lansia), yaitu penduduk yang berumur 60 tahun keatas (8,52%) (Tabel 6.7.5, Bali Membangun 2013). Walaupun jumlah penduduk lansia Bali paling sedikit

diantara kelompok umur lainnya, namun perhatian terhadap lansia terutama terkait dengan kesejahteraan yang meliputi pemenuhan sandang dan pangan, dan kesehatan serta perhatian keluarga sangat mendukung keberadaaan dari lansia

tersebut. Lansia merasa berada dalam kondisi nyaman sangat ditentukan oleh dukungan dari keluarga dan lingkungan serta keiklasan keluarga yang merawat lansia tersebut, terutama bagi lansia yang tidak produktif lagi. Pada lansia yang

tergolong masih produktif, untuk memenuhi kebutuhan hidup masih dapat berusaha sendiri dari pekerjaan yang ditekuni selama ini.

Berdasarkan Data Bali Membangun (2013), dari laju pertumbuhan penduduk, ternyata laju pertumbuhan penduduk tertinggi terjadi di Kabupaten Badung, yaitu 4,62 persen diikuti Kota Denpasar 4,01persen, Jembrana 1,22

persen dan Kabupaten Gianyar sebesar 1,80 persen. Kepadatan penduduk Bali tahun 2010 mencapai 690,26 jiwa/km2, dimana kepadatan tertinggi terdapat

(47)

penduduk yang tinggi sudah semestinya diikuti dengan penyediaan infrastruktur

yang memadai termasuk pelayanan publik yang memenuhi pelayanan prima seperti layanan kesehatan, pendidikan dan layanan sosial lainnya.

Dilihat dari tingkat pendidikan, secara umum ditunjukkan bahwa jumlah lulusan SD tahun 2013 mencapai 66.115 orang dengan rincian 33.252 orang laki-laki dan 32.863 orang perempuan. Sementara jika dibandingkan dengan

tahun 2012, maka jumlah lulusan tahun 2013 mengalami peningkatan hampir 2 kali lipat. Jumlah murid SLTP tahun 2013 sebanyak 193.406 orang atau

meningkat hingga 7,96 persen dibandingkan tahun 2012 yang berjumlah 179.152 orang. Peningkatan jumlah anak yang melanjutkan di tingkat SLTP ini berdampak pada capaian APK SLTP, dimana pada tahun 2013 tercatat sebesar

107. Jumlah lulusan SMU pada tahun 201 3 sebanyak 26.234 orang atau meningkat jika dibandingkan tahun 2012 yang mencapai 25.177 orang. Capaian angka partisipasi kasar untuk tingkat SMU/SMK/MA tahun 2013 sebesar 92,40

lebih baik jika dibandingkan dengan tahun 2012 yang hanya 87,44. Angka partisipasi kasar untukt ingkat SMU/SMK/MA diharapkan akan mencapai 100

pada tahun 2015.

4.2. Karakteristik Responden

4.2.1. Karakteristik Responden Lansia

Responden dalam penelitian ini ada 2 jenis yaitu responden lansia dan keluarga lansia. Dalam tulisan ini akan dibahas tentang beberapa karakteristik

Gambar

Tabel 3.1Jumlah Responden Dirinci Menurut Lokasi Penelitian (Kabupaten/Kota,
Tabel 4.1Distribusi Responden Lansia Menurut Pendidikan (%)
Tabel 4.2Distribusi Responden Lansia Menurut Umur Lima Tahunan (%)
Tabel 4.3
+7

Referensi

Dokumen terkait

Keluarga memiliki peran yang penting dalam perawatan lansia agar kualitas hidup lansia senantiasa terjaga.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran peran keluarga

Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif yang bertujuan untuk mengetahui gambaran peran keluarga dalam perawatan lansia menurut budaya melayu dan

Kesimpulan: Terdapat pengaruh tingkat pengetahuan dan dukungan keluarga terhadap perilaku perawatan hipertensi pada lansia di Puskesmas Bumiayu Brebes.. Kata kunci :

Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif yang bertujuan untuk mengetahui gambaran peran keluarga dalam perawatan lansia menurut budaya melayu dan

Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif yang bertujuan untuk mengetahui gambaran peran keluarga dalam perawatan lansia menurut budaya melayu dan

keluarga dalam perawatan lansia pada budaya melayu dan mandailing.. 1.4.2

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran peran keluarga dalam perawatan lansia menurut budaya melayu dan mandailing dikelurahan Labuhanbilik kecamatan panai

Sedangkan para Lansia yang tinggal dan mendapat perawatan kesehatan di Panti Werda mempunyai hubungan komunikasi yang buruk dengan keluarga (mean 1,99), tetapi