BAB IV. KARAKTERISTIK RESPONDEN PENELITIAN
4.3. Pola Perawatan Penduduk Lansia
4.3.2. Pola perawatan yang dirasakan oleh lansia
Selain apa yang dilakukan oleh lansia itu sendiri untuk menjaga dirinya agar tetap sehat dari berbagai aspek, keluarga dimana lansia tersebut tinggal juga memberikan perawatan kepada lansia tersebut. Bagaimana perasaan lansia atau penilaian lansia tentang pola perawatan yang telah diberikan oleh keluarganya menjadi hal yang sangat penting untuk dikaji. Apakah konsep hutang kepada leluhur atau orang tua tetap menjadi landasan keluarga lansia untuk merawat lansia yang mereka miliki sebagai kewajiban untuk membayar hutang (Rna) yang dimiliki sebagai anak. Hal ini ditanyakan kepada responden lansia bagaimana mereka merasakan pola perawatan dari keluarga mereka. Responden lansia ditanyakan apakah para lansia merasakan bahwa keluarga mereka memberikan perawatan yang memadai. Data menunjukkan bahwa sekitar 96 persen responden
kepada mereka, dan hanya sekitar 4 persen yang merasakan bahwa keluarga mereka tidak memberikan perawatan yang memadai selama ini. Data ini menunjukkan bahwa sebagian besar keluarga lansia memberikan perawatan yang memadai kepada lansia yang ada dalam keluarga mereka. Hal ini dapat dikatakan mereka masih menganggap bahwa kewajiban merawat orang tua harus dilakukan sebagai bagian dalam membayar hutang (Rna) kepada orang tua (leluhur). Hanya sangat sedikit lansia yang menyatakan bahwa keluarga mereka tidak memberikan perawatan yang memadai selama ini. Ada beberapa alasan yang mereka katakana kenapa keluarga tidak memberikan perawatan yang memadai kepada lansia tersebut antara lain: 1). Anak atau menantu tidak perhatian/cuek mereka katakan kepada lansia yang bersangkutan; 2) mereka merasa masih mampu mengurus diri mereka sendiri. Bagi lansia yang merasa masih mampu mengurus diri mereka sendiri tidak atau belum memerlukan perawatan dari keluarganya sehingga keluarga lansia kurang memberikan perawatannya kepada lansia tersebut. Ada satu alasan mungkin yang perlu mendapatkan perhatian adalah alasan yang disampaikan oleh lansia adalah keluarga yaitu anak atau menantu tidak perhatian atau cuek kepada lansia, namun belum diketahui kenapa hal itu dapat terjadi. Apakah karena anak atau menantu sibuk bekerja sehingga tidak dapat merawat lansia sepenuhnya, itu tetap ada kemungkinannya. Dengan untuk dapat mengetahui alasan tersebut secara lebih baik, maka sangat penting dilakukan wawancara mendalam untuk mengetahui informasi tersebut secara lebih baik. Namun demikian secara umum bahwa lansia merasa bahwa keluarga mereka
mengurus lansia secara memadai selama ini. Berikut disampaikan berbagai jenis perawatan yang dirasakan oleh lansia yang diberikan oleh keluarganya.
Tabel 4.19
Jenis Perawatan yang Dipersepsikan Oleh Lansia dari Keluarganya Selama ini
No. Keterangan Ya (%) Tidak (%) Total (%)
1 Perawatan yang memadai secara ekonomi
85,3 14,7 100,0
2 Perawatan yang memadai dari segi kesehatan
98,7 1,3 100,0
3 Perhatian yang memadai 98,7 1,3 100,0
4 Cinta kasih yang memadai 98,7 1,3 100,0
5 Penerimaan oleh lingkungan sebagai lansia
98,7 1,3 100,0
6 Memperoleh informasi yang memadai tentang hal-hal positif yang harus dilakukan sebagai lansia
98,7 1,3 100,0
7 Memperoleh dukungan dan motivasi dari keluarga untuk melakukan kegiatan keagamaan
98,7 1,3 100,0
8 Memperoleh perlindungan yang memadai dari keluarga
98,7 1,3 100,0
Sumber: Data Primer, 2015
Secara umum lansia yang menyatakan bahwa keluarganya memberikan perawatan yang memadai kepada mereka memberikan jawaban yang hampir sama untuk seluruh indikator yang ditanyakan kepada mereka. Data dalam Tabel 4.19 menujukkan sekitar 15 persen responden lansia menyatakan bahwa secara ekonomi mereka tidak memperoleh perawatan yang memadai. Namun secara keseluruhan mereka menyatakan bahwa lansia memperoleh perawatan yang memadai dari keluarganya. Satu hal yang mungkin perlu diperdalam adalah pandangan lansia yang menyatakan mereka tidak memperoleh perawatan yang memadai dari segi ekonomi. Ada kemungkinan bahwa keluarga lansia mengalami
persoalan ekonomi atau kondisi ekonomi keluarga lansia yang tidak begitu memadai sehingga tidak mampu memberikan perawatan ekonomi secara memadai seperti yang mereka inginkan atau harapkan. Untuk indikator-indikator selain indikator ekonomi, dapat dilihat hampir semua menyatakan bahwa mereka memperoleh perawatan yang memadai dari keluarganya selama ini. Satu hal yang sangat menarik dari apa yang disampaikan oleh para lansia adalah mengenai dukungan oleh keluarganya untuk berkeluarga lagi terutama bagi mereka yang berstatus janda atau duda. Dari data yang ada sekitar 59 persen responden lansia yang berstatus janda atau cerai. Data menunjukkan bahwa semua responden lansia yang berstatus janda/duda/cerai tidak memperoleh dukungan dari keluarganya untuk berkeluarga atau mencari pasangan hidup lagi. Responden lansia yang diteliti dalam penelitian ini berumur 60 tahun ke atas, dan sebagian besar responden lansia berumur diatas 65 tahun dan bahkan ada yang berumur 80 tahun. Dengan kondisi yang seperti ini kemungkinan keluarganya tidak mendukung lansia untuk berkeluarga lagi, dan ini ditunjukkan oleh 100 persen keluarga responden lansia tidak mendukung hal tersebut. Hal ini juga didukung oleh pernyataan dari lansia sendiri bahwa mereka juga tidak berkeinginan berkeluarga lagi dengan beberapa alasan seperti masih mencintai suami/istrinya yang telah tiada, kasihan anak dan cucunya yang sudah ada sekarang, merasa sudah tua, dan merasa bahagia dengan keadaan yang sekarang.
Ada alasan yang menarik bagi responden yang menjawab keluarga tidak perhatian secara ekonomi antara lain karena masih mampu mencari nafkah sendiri karena masih bekerja atau ada juga yang memiliki tempat kontrakkan sehingga
memperoleh penghasilan. Data juga menunjukkan bahwa sekitar 34 persen responden lansia adalah bekerja, sehingga memperoleh penghasilan sendiri, sehingga keluarga mungkin tidak perlu memberikan perhatian dari segi ekonomi yang sangat serius seperti lansia yang tidak bekerja. Ada juga kemungkinan lansia masuk pasar kerja atau terpaksa bekerja karena keluarganya tidak memberikan perhatian secara ekonomi yang memadai kepada mereka. Untuk itu informasi yang lebih mendalam tentang hal ini perlu untuk digali melalui kegiatan wawancara mendalam.
Pola perawatan yang dirasakan oleh responden lansia dapat juga dilihat dari segi daerah tempat tinggal yaitu di Kota Denpasar dan Kabupaten Tabanan, apakah polanya sama. Jumlah responden di kedua tempat tersebut adalah sama yaitu masing-masing 75 orang, sehingga total responden lansia sebanyak 150 orang. Dalam Tabel 4.17 persentase responden lansia yang memberikan jawaban ya terhadap pertanyaan yang diajukan dihitung dari total 75 orang lansia dari masing-masing kabupaten/kota. Data berikut ini menunjukkan informasi di kedua daerah penelitian tentang pola perawatan yang dirasakan oleh lansia.
Data yang ditunjukkan oleh data pada Tabel 4.20 menunjukkan bahwa lansia yang berada di Kota Denpasar hampir seluruh butir pertanyaan yang ditanyakan kondisinya 100 persen, yang menyatakan bahwa ya. Hal ini berarti responden lansia di Kota Denpasar mempersepsikan atau merasakan perawatan yang diberikan oleh keluarganya dalam segala segi sudah memadai. Kondisi lansia di Kota Denpasar sedikit lebih baik persepsi yang disampaikan dibandingkan dengan lansia di Kabupaten Tabanan. Hanya satu variabel yang
dipersepsikan oleh responden di Kabupaten Tabanan lebih baik dibandingkan dengan Kota Denpasar yaitu berkaitan dengan persepsi lansia tentang perawatan dari sisi ekonomi. Responden lansia di Kabupaten Tabanan sedikit lebih tinggi persentasenya yang menyatakan bahwa mereka menerima perawatan yang memadai dari segi ekonomi. Variabel lainnya dipersepsikan oleh responden lansia di Kabupaten Tabanan lebih rendah daripada responden di Kota Denpasar. Data secara umum menunjukkan persepsi lansia di Kota Denpasar lebih tinggi pada semua variabel yang lainnya. Secara umum dapat disimpulkan bahwa lansia mempersepsikan bahwa mereka menerima perawatan yang memadai dari keluarga dan anak-anak mereka.
Tabel 4.20
Jenis Perawatan yang Dipersepsikan Oleh Lansia Menurut Kabupaten/Kota
No. Persepsi lansia tentang pola perawatan yang dirasakan oleh lansia
Denpasar Tabanan
N % N % 1 Perawatan yang memadai secara
ekonomi
61 81,3 67 89,3 2 Perawatan yang memadai dari segi
kesehatan
75 100,0 73 97,3 3 Perhatian yang memadai 75 100,0 73 97,3 4 Cinta kasih yang memadai 75 100,0 73 97,3 5 Penerimaan oleh lingkungan sebagai
lansia
75 100,0 73 97,3 6 Memperoleh informasi yang
memadai tentang hal-hal positif yang harus dilakukan sebagai lansia
75 100,0 73 97,3
7 Memperoleh dukungan dan motivasi dari keluarga untuk melakukan kegiatan keagamaan
75 100,0 73 97,3
8 Memperoleh perlindungan yang memadai dari keluarga
75 100,0 73 97,3 Sumber: Data Primer, 2015
Lebih lanjut dalam penelitian ini juga ditanyakan apakah responden lansia merasa bahagia dengan perawatan yang telah diberikan oleh keluarganya selama ini. Data hasil penelitian menunjukkan bahwa lebih dari 97 persen responden lansia menyatakan merasa bahagia dengan perawatan yang telah diberikan oleh keluarganya selama ini, dan hanya sekitar 3 persen yang menyatakan tidak. Jawaban responden lansia cukup konsisten dengan pertanyaan berikut yang disampaikan yaitu apakah mereka merasa ada yang kurang dari perawatan selama ini yang diberikan oleh keluarganya, sekitar 97 persen juga menyatakan tidak artinya mereka merasakan tidak ada yang kurang dari perawatan yang selama ini diberikan oleh keluarganya dan hanya sekitar 3 persen yang menjawab ya atau lansia masih ada yang merasakan kekurangan dari perawatan yang diterimanya selama ini dari keluarganya. Alasan yang diajukan oleh lansia kenapa mereka merasakan seperti itu antara lain karena: 1) keluarga kurang perhatian kepada lansia, 2). Seringkali lansia merasa sakit hati karena perkataan keluarganya; dan 3). tidak mendapatkan kasih sayang dari anak. Secara rinci jawaban responden lansia tentang hal tersebut disampaikan berikut ini.
Tabel 4.21
Persepsi Lansia Terhadap Perawatan dari Keluarga
No Persepsi lansia terhadap perawatan yang diberikan oleh keluarga
Persen
1 Merasa bahagia 97,3
2 Merasa ada yang kurang 2,7
3 Merasa bahwa perawatan yang diberikan menjadi tanggung jawab keluarga
98,7
4 Keluarga merasa keberatan merawat lansia sehari-hari 1,3
5 Sering merasa kesal/tidak enak hati atas sikap yang ditunjukkan keluarga
3,3
6 Ada keluarga lain yang ikut merawat lansia 93,3
Data dalam Tabel 4.21 menunjukkan jawaban yang konsisten antara pertanyaan yang satu dengan pertanyaan yang lainnya. Untuk pertanyaan yang bermakna positif dijawab oleh responden dengan persentase yang semuanya diatas 93 persen, bahkan untuk persepsi bahwa keluarga menganggap perawatan terhadap lansia adalah menjadi tanggung jawab anak/keluarga hampir 99 persen yang menjawab demikian. Untuk pertanyaan yang bermakna negatif dalam hubungannya dengan perawatan pada lansia dijawab dengan persentase yang sangat rendah seperti responden lansia merasa ada perawatan yang kurang, keluarga merasa keberatan merawat lansia, dan lansia merasa kesal/tidak enak hati atas sikap yang ditunjukkan oleh keluarganya yang kesemuanya memiliki persentase sekitar 3 persen ke bawah. Kondisi ini menunjukkan bahwa lansia sebagian besar mempersepsikan bahwa perawatan yang mereka terima selama ini dari keluarganya sudah bagus, memadai dan sesuai dengan keinginan lansia. Pandangan lansia tentang perawatan yang diterimanya juga dapat dilihat menurut daerah penelitian yaitu Kota Denpasar dan Kabupaten Tabanan dan disampaikan berikut ini.
Data Tabel 4.22 menunjukkan ada sedikit perbedaan persentase jawaban responden lansia menurut tempat tinggal dan hasil ini konsisten dengan hasil sebelumnya, untuk makna yang positif Kota Denpasar memiliki persentase yang lebih tinggi pada semua variabel dibandingkan dengan Kota Denpasar. Demikian sebaliknya pada variabel yang memiliki makna negatif, responden di Kota Denpasar lebih rendah persentasenya menjawab variabel tersebut dibandingkan dengan responden lansia di Kabupaten Tabanan untuk seluruh variabel yang
bermakna negatif. Data ini juga menunjukkan bahwa secara umum lansia yang berada di Kota Denpasar mempersepsikan diri mereka lebih mendapatkan perawatan yang memadai atau sesuai dengan yang diharapkan dibandingkan dengan lansia di Kabupaten Badung.
Tabel 4.22
Persepsi Lansia Terhadap Perawatan dari Keluarga Menurut Kabupaten/Kota
No Persepsi lansia terhadap perawatan yang diberikan oleh keluarga
Denpasar Tabanan
N % N %
1 Merasa bahagia 75 100,0 71 94,7
2 Merasa ada yang kurang 0 0,0 4 5,3
3 Merasa bahwa perawatan yang diberikan menjadi tanggung jawab keluarga
75 100.0 73 97,3
4 Keluarga merasa keberatan merawat lansia sehari-hari
0 0,0 2 2,7
5 Sering merasa kesal/tidak enak hati atas sikap yang ditunjukkan keluarga
1 1,3 4 5,3
6 Ada keluarga lain yang ikut merawat lansia
72 96,0 68 90,7
7 Partisipasi keluarga lain dirasakan tulus ikhlas
72 96,0 68 90,7 Sumber: Data Primer, 2015
Lansia yang menyatakan bahwa tidak ada yang kurang perawatan yang diberikan oleh keluarganya selama ini juga mempunyai beberapa alasan. Beberapa alasan yang disampai antara lain: 1). Anak selama ini sudah memberikan yang terbaik; 2). Anak sudah bertanggung jawab; 3). Anak menyayangi, menghormati, dan merawat dengan baik; 4). Anak bertanggung jawab; 5). Keluarga selalu mendampingi; 6). Perawatan yang diberikan selama ini sudah cukup; 7). Merasa bangga dengan anak dalam merawat; 7). Selalu diperhatikan dan dirawat dengan baik; 8). Selalu memberikan perhatian dan kasih sayang; 8). Selalu
memperhatikan dan merawat; 9). Sudah dilayani dengan baik setiap hari; 10). Sudah sesuai dengan yang diharapkan. Dari beberapa alternatif jawaban yang diberikan oleh lansia tentang alasan-alasan tersebut dapat dilihat yang paling banyak menyatakan perawatan yang diberikan oleh keluarganya selama ini kepada lansia mereka rasakan sudah cukup.
Jika dihubungkan dengan kondisi sosial masyarakat khususnya bagi umat Hindu merawat orang tua adalah sebuah kewajiban sebagai sebuah cara untuk membayar hutang (Rna) kepada orang tua atau leluhur. Dalam penelitian ini juga dikaji dengan menanyakan apakah perawatan terhadap lansia yang mereka miliki menjadi tanggungjawab keluarganya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sekitar 99 persen menyatakan ya, artinya merawat orang tua/lansia memang menjadi tanggung jawab keluarga mereka, hanya 1 persen yang menyatakan sebaliknya bahwa merawat orang tua adalah bukan tanggung jawab keluarga. Pertanyaan ini dijawab secara konsisten oleh para responden lansia dengan pertanyaan berikutnya, dimana sekitar 99 persen responden lansia juga menyatakan bahwa keluarga mereka tidak merasa berkeberatan dalam merawat lansia yang mereka miliki, dan hanya 1 persen juga yang merasa berkeberatan dalam merawat orang tuanya yang sudah lansia. Oleh karena keluarga lansia yang hanya merasa bahwa merawat orang tua mereka bukanlah tanggung jawabnya, maka terlihat juga jawabannya bahwa mereka merasa berkeberatan dalam merawat orang tuanya. Meskipun demikian jawaban seperti ini hanya disampaikan oleh hanya 1 persen responden lansia.
Ada hal yang menarik terlihat dalam hasil penelitian ini dimana hal ini ditunjukkan oleh sikap yang ditunjukkan oleh lansia kepada keluarga yang merawatnya. Sekitar 3 persen responden lansia menyatakan bahwa mereka sering merasa kesal/tidak enak hati atas sikap yang ditunjukkan oleh keluarga yang merawat mereka. Namun demikian tetap jauh lebih banyak yaitu sekitar 97 persen responden lansia tidak merasa kesal atas sikap yang ditunjukkan oleh keluarga yang merawat ini. Jawaban ini juga konsisten dengan jawaban-jawaban yang lainnya, seperti jawaban bahwa keluarga responden lansia menganggap bahwa merawat orang tua sebagai kewajibannya untuk membayar hutang (Rna) kepada leluhur atau orang tua, sehingga sikap mereka akan secara tulus merawat lansia. Kondisi ini tentu saja tidak akan menyebabkan responden lansia merasa kesal, sehingga sebagian besar responden lansia menyatakan tidak pernah kesal atas sikap yang ditunjukkan keluarga yang merawatnya, karena sikap keluarga yang merawatnya sesuai dengan harapan lansia. Lansia yang merasa kesal atas sikap yang ditunjukkan oleh keluarganya sering berkaitan dengan masalah kesehatan dan kebersihan.
Lansia yang menjadi responden dalam penelitian ini tidak hanya dirawat oleh anak atau menantunya yang ada di keluarga dimana mereka tinggal, ada juga keluarga lainnya yang ikut berpartisipasi dalam merawat lansia. Hal ini dijawab oleh sekitar 93 persen responden yang menyatakan bahwa ada keluarga lainnya yang juga ikut berpartisipasi dalam merawat lansia yang bersangkutan. Sisanya sekiyat 7 persen responden lansia menyatakan tidak ada orang lain lagi yang berpartisipasi merawat mereka selain keluarganya yang sekarang merawatnya
dimana lansia itu tinggal. Keluarga-keluarga yang disebutkan oleh responden lansia yang ikut berpartisipasi dalam merawat mereka antara lain adik kandung/saudara, adik ipar, cucu, menantu, anak yang sudah menikah keluar, keponakan, dan sepupu. Lansia yang dirawat oleh mereka itu hampir semuanya menyebutkan tidak hanya 1 orang yang juga ikut berpastisipasi dalam merawat lansia, namun 2 sampai 3 orang yang juga berpartisipasi dalam merawat mereka, seperti kombinasi antara keponakan, adik, dan ipar; atau ada juga yang dirawat oleh sepupu, dan keponakan; atau menantu, cucu, dan anak. Demikian juga kombinasi-kombinasi lainnya yang mencerminkan hampir semua lansia boleh dikatakan memiliki keluarga besar yang juga ikut berpartisipsi dalam merawat mereka. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh keluarga lainnya tersebut dalam partisipasinya merawat lansia tersebut ada berbagai macam aktivitas, dan keluarga yang ikut membantu tersebut juga membantu dalam berbagai kegiatan. Kegiatan-kegiatan yang dibantu oleh mereka tersebut antara lain Kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan kesehatan lansia, kebersihan badan dari lansia, pola makan yang sebaiknya dilakukan oleh lansia, membantu membelikan perlengkapan atau kebutuhan lansia, memberikan saran kepada lansia, membuatkan makanan, mengajak makan bersama, membantu membuatkan sesajen, mengajak jalan-jalan, mengantar berolah raga, mengantar ke dokter disaat sedang sakit, membantu merawat di saat sedang sakit, menyuapi lansia di saat sedang sakit.
Berbagai kombinasi kegiatan-kegiatan itulah yang dilakukan oleh keluarga lainnya dalam berpartisipasi merawat lansia selama ini. Data yang ada menunjukkan paling banyak keluarga tersebut membantu merawat lansia pada
saat lansia tersebut sedang sakit. Selain itu juga mereka banyak membantu lansia untuk menyiapkan makanan atau mengantarkan makanan kesukaan lansia tersebut. Data juga menunjukkan bahwa responden lansia merasakan bahwa semua (100 persen) keluarga lain yang juga berpartisipasi dalam merawat lansia tersebut dilakukan secara tulus. Responden lansia juga merasakan bahwa keluarga lain tersebut yang ikut berpartisipasi dalam merawat lansia juga menganggap bahwa tugas tersebut adalah kewajiban sebagai penerus/anggota keluarga. Dengan memperhatikan data dari hasil penelitian yang telah disampaikan tersebut dapat disimpulkan bahwa keeratan kekeluargaan masih sangat kental di Bali khususnya bagi umat Hindu, sehingga mereka menganggap bahwa merawat orang tua adalah kewajiban sebagai anak untuk membayar hutang (Rna) kepada leluhur atau orang tua. Hal ini tentulah sangat menyenangkan atau membahagiakan orang tua karena masih memiliki harapan bahwa di masa depan anak akan tetap merawat mereka sampai akhir hayat. Kondisi ini juga menunjukkan bahwa meskipun Bali mengalami perkembangan atau kemajuan di segala bidang, dan dengan kemajuan teknologi informasi dimana dunia ini seolah-olah tanpa batas, namun kondisi sosial dan kekerabatan penduduk Bali khususnya umat Hindu dalam merawat orang tua masih tetap terjaga dengan baik. Hal ini tentu sebuah kondisi yang sangat ideal mengingat lansia akan merasakan ketenangan dan kebersamaan dalam menghadapi hari tua mereka jika orang yang merawatnya adalah orang orang yang dekat dan yang mereka kenal dengan baik.