BAB II. GAMBARAN UMUM UMAT KRISTIANI DI LINGKUNGAN St
C. Laporan Hasil Pembahasan, dan Kesimpulan Penelitian
1. Laporan Hasil, dan Pembahasan Penelitian
Sesuai dengan rencana awal bahwa penelitian telah dilaksanakan pada 24-31 Mei 2007 dan wawancara 5-10 Juni 2007 di lingkungan St. Ignatius Loyola Cokrodiningratan Paroki Jetis. Semula jumlah responden yang direncanakan adalah 50 responden yang akan mengisi angket. Tetapi dalam kenyataannya peneliti hanya berhasil mengumpulkan data quesioner, 42 responden.
Untuk wawancara yang direncanakan ádalah 10 responden namun yang berhasil diwawancarai ádalah 7 orang dan jumlah responden yang mengisi angket maupun yang diwawancarai mengalami pengurangan. Hal ini disebabkan karena kesulitan untuk menentukan waktu yang tepat untuk wawancara baik dari peneliti maupun dari responden sendiri. Karena wawancara bersifat cross check dan sebagai pendukung dari penelitian angket maka peneliti mewawancarai responden yang telah mengisi angket. Selanjutnya data atau informasi yang akan dilaporkan berikut ini adalah hasil penelitian yang diperoleh dari hasil penyebaran angket dalam bentuk tabel yang kemudian di-cross check melalui wawancara.
Adapun pembahasan hasil penelitian diuraikan sesuai dengan urutan variabel-variabel yang diteliti.
a. Pemahaman dan Pemaknaan Umat di Lingkungan St. Ignatius Loyola Cokrodiningratan tentang Siapa Maria
Tabel 2. Pemahaman dan Pemaknaan Umat tentang Maria (N=42)
No Pertanyaan Jawaban responden Jumlah
responden yang menjawab dalam angka Jumlah responden yang menjawab dalam % (1) (2) (3) (4) (5)
Sahabat dalam doa 10 23,8
Bunda Pengantara doa 13 31
Maria itu?
Pilihan lain:
Bunda penolong abadi
1 2,4
Jumlah 42 100
Pernah 31 73,8
2. Pernahkah anda mengalami mukjizat setelah berdoa pada Allah dengan perantaraan Maria melalui Devosi Maria?
Tidak Pernah 11 26,2
Jumlah 42 100
Dalam keadaan sakit 7 16,7 Dalam Bahaya: Kecelakaan, maut, Bencana alam. 6 14,2 Dalam menghadapi masalah: Kegagalan, ketakutan, kecemasan, masalah keluarga 6 14,2
Pada saat berelasi dengan orang lain baik yang dikenal maupun tidak , musuh atau sahabat
2 4,8
Saat berdoa 3 7,1
3. Jika jawaban anda pernah mengalami mukjizat, silahkan anda sharing secara singkat! (Kapan, dimana dan bagaimana itu terjadi)
Dalam kehidupan sehari-hari
3 7,1
Jumlah 42 100
Untuk menggali variabel Pemahaman dan pemaknaan umat tentang siapa Maria maka berikut ini adalah interpretasi data hasil penelitian yang terangkum dalam tabel dan ditambah dengan hasil wawancara dengan responden. Data menunjukkan bahwa umat di lingkungan St. Ignatius Loyola Cokrodiningratan memaknai kesetiaan iman Maria sesuai dengan dogma Gereja yang memberikan tempat istimewa bagi bunda Maria dalam kehidupan iman umat. Dari 42 responden ada 18 orang yang mengatakan bahwa Maria adalah bunda Allah (Tabel 2).
Sebagai Bunda Allah Maria sungguh mempunyai peran dalam hidup umat. Sekitar 10 orang dari 42 orang responden memahami bahwa Maria adalah sahabat dalam doa baik dalam situasi suka maupun duka. Selain sebagai sahabat dalam doa umat di lingkungan St. Ignatius Loyola Cokrodiningratan memaknai kehadiran Maria
sebagai pengantara doa dan sekaligus sebagai penolong yang setia. Pemaknaan kesetiaan iman Maria muncul dalam setiap pergulatan hidup umat. Seperti halnya yang diungkapkan oleh Responden IV yang diwawancarai, mengatakan:
Kalau saya membaca dalam injil Lukas 1: 39-45 waktu Maria mengunjungi Elisabet: “siapakah aku ini sehingga ibu Tuhanku datang mengunjungi aku”, dengan itu saya berkeyakinan bahwa Maria adalah Ibu Tuhan dan saya hanya berpedoman dengan injil Tuhan ketika saya mengajarpun saya tekankan bahwa Maria adalah bunda Tuhan. Bunda Maria adalah manusia biasa dan sekaligus sebagai ibu Tuhan.
Selain Maria dipandang sebagai Ibu, penolong dan pengantara doa, ada juga yang memandang Maria sebagai sumber inspirasi dalam hidup terutama dalam menghadapi dan menjalani hidupnya. Berikut ini adalah ungkapan responden II yang mengatakan:
Maria adalah inspirasi saya, dan Maria adalah seorang ibu bagi saya. Seperti ibu saya sendiri, saya omong-omong dan saya rasakan ada komunikasi di dalamnya. Ketika saya menyampaikan doa seperti ibu saya waktu masih hidup. Cara memandang umat terhadap sosok Maria tenyata membawa pengaruh dalam hidup mereka masing-masing. Pengaruh itu semakin nyata ketika mereka mengalami suatu perubahan dalam hidup yang dimulai dengan karya tangan Allah sendiri melalui mujizat. Mujizat dalam pengertian ini tidak serta merta berarti suatu peristiwa yang ajaib, besar dan menggemparkan tetapi lebih pada pengalaman yang dapat membuat orang berubah dari yang tidak percaya menjadi percaya, dari yang mudah putus asa menjadi orang yang sangat bersemangat dalam menjalani hidup. Seperti yang diungkapkan oleh responden I sebagai berikut:
...kalau dalam arti mujizat yang luar biasa di luar kemampuan manusia, saya merasa belum. Tetapi kalau itu hanya pada suatu perubahan, saya sudah pernah mengalami. Ya, saya lebih menerima itu karena saya bisa sungguh-sunguh merasakan anugerah, yang membuat saya mengalami suatu perubahan.
Dan, ketika umat ditanya mengenai mujizat doa setelah berdoa, sebagian besar mereka mengalaminya dalam hidup sehari-hari. Dari 42 responden 31 responden yang mengalami mujizat. Mujizat yang dimaksud bukanlah peristiwa yang besar dan ajaib, melainkan dalam arti yang sederhana misalnya suka cita dalam hidup sehari-hari, mengalami perubahan sikap dari yang tidak baik berubah menjadi lebih baik, mengalami kesembuhan atau sembuh dari sakit, semakin mencintai sesama dengan tulus, bebas dari kecelakaan dan bencana. Berikut ini adalah contoh pengalaman dari responden I V yang pernah mengalami mujizat:
...yang pertama kali, waktu istri saya melahirkan anak ke-3 itu seharusnya operasi, tapi selama 3 bulan terakhir, ternyata istri saya melahirkan dengan selamat tanpa operasi. Yang kedua saya berkali-kali mengalami musibah dalam pesawat terbang dan kecelakaan dengan mobil tetapi tetap selamat. Sekarang ke mana saja saya selalu membawa rosario dan berdoa jalan, entah di mobil, pesawat, kereta api lebih-lebih pada waktu saya sakit hepatitis dan akhirnya dokter mengatakan saya sembuh.
Melalui doa kepada bunda Maria dan melalui pengalaman-pengalaman kecil yang menghibur, menyembuhkan dan bahkan yang menyelamatkan, bagi mereka merupakan suatu mujizat yang mereka terima dari Allah. Kesederhanaan mereka menerima suatu mujizat melalui hal-hal yang kecil dan biasa menjadikan iman mereka juga semakin realis dan kontekstual.
b. Bentuk-bentuk devosi Maria yang dirasa membantu umat di lingkungan St. Ignatius Loyola dalam membangun kualitas hidup beriman
Tabel 3. Bentuk-bentuk Devosi Maria (N=42)
No Pertanyaan Jawaban responden Jumlah responden yang menjawab dalam angka Jumlah responden yang menjawab dalam % (1) (2) (3) (4) (5)
Sering sekali 3 7,1
Sering 22 52,4
Kadang-kadang 7 16,7 4. Seringkah anda berdoa
dengan perantaraan Bunda Maria? Tidak Pernah 10 23,8 Jumlah 42 100 Pagi hari 5 11,9 Siang hari 0 0 Malam hari 24 57,1
Tidak ada waktu khusus
10 23,8 5. Kapan anda menyediakan
waktu khusus untuk devosi Maria? Pilihan lain: 1. Dalam keadaan tenang 2. Pada sore hari di setiap bulan Mei dan Oktober 3 7,1 1. Jumlah 42 100 Sering sekali 12 28,6 Sering 13 31 Kadang-kadang 15 35,7 6 Apakah berdevosi kepada
Maria sering dilakukan bersama-sama di
lingkungan anda? Tidak Pernah 2 4,8
Ziarah ke Gua Maria 2 4,8 Doa Rosario
bersama/pribadi
30 71,4 7 Apa bentuk devosi Maria
yang dirasa paling membantu anda dalam memperkembangkan kehidupan beriman?
Doa Novena 10 23,8
2. Jumlah 42 100
Keistimewaan Maria, nyata dalam kehadirannya di dunia sebagai Bunda Allah. Umat kristiani mengimani keistimewaan itu sebagai dogma yang diajarkan oleh Gereja. Untuk mengetahui lebih dalam mengenai keistimewaan Maria di dalam kehidupan umat kristiani, penulis mengadakan penelitian sederhana terhadap umat Kristiani di lingkungan St. Ignatius Loyola Cokrodiningratan-Yogyakarta. Berdasarkan data hasil penelitian yang dikumpulkan melalui angket dan wawancara, penulis menemukan data-data yang cukup memberikan gambaran tentang penghayatan iman umat terhadap Maria sebagai sosok orang kudus yang memiliki keistimewaan.
Ketika para responden ditanya mengenai frekuensi berdoa dengan perantaraan Maria, dari angket diperoleh data ada 3 orang yang menjawab sering sekali, 22 orang mengatakan sering, 7 orang mengatakan kadang-kadang dan 10 orang mengatakan
tidak pernah. Sedangkan dari hasil wawancara ada 2 orang yang menjawab sering sekali, 4 orang menjawab sering dan 1 orang menjawab tidak sering. Berdasarkan data di atas, penulis dapat memahami situasi kehidupan beriman umat di lingkungan St. Ignatius Loyola Cokrodingratan, terutama dalam penghayatan imannya pada Bunda Maria. Frekuensi umat dalam berdoa dengan perantaraan Bunda Maria cukup beragam. Artinya, umat sendiri sebagian besar memiliki sikap pada Bunda Maria seperti yang diharapkan oleh Gereja. Berdoa dengan perantaraan Bunda Maria merupakan bentuk penghargaan yang tinggi dari umat.
Meskipun demikian, tidak semua anggota umat berdoa dengan perantaraan Bunda Maria. Dari 42 responden ada 10 orang yang mengatakan tidak pernah berdoa dengan perantaraan Bunda Maria. Artinya, bagi mereka yang tidak pernah berdoa dengan perantaraan Bunda Maria, ada beberapa kemungkinan alasan, misalnya seperti yang diungkapkan oleh responden I dan II yang diwawancarai. Mereka mengatakan:
Saya lebih enjoy berdoa dengan perantaraan Hati Kudus Yesus dari pada devosi pada Bunda Maria (Responden 1).
...pengalaman doa pribadi dengan keluarga saya yang beda agama (campur) membuat saya jarang untuk berdoa dengan perantaraan bunda Maria. Namun saya sendiri punya kerinduan untuk berdoa.... (Responden II)
Bagi anggota umat yang sering atau sering sekali berdoa dengan perantaraan Bunda Maria, berdasarkan data yang diperoleh, penulis dapat melihat bahwa ada 24 orang berdoa pada waktu malam hari setelah melakukan aktifitas harian. Mereka merasa perlu mensyukuri apa yang telah diberikan Allah pada hari ini. Ada 5 orang yang berdoa pada Allah dengan perantaraan Bunda Maria pada pagi hari sebagai wujud persiapan untuk menjalani waktu satu hari itu. Ada juga yang menjawab tidak ada waktu khusus dalam berdoa dengan perantaraan Bunda Maria. Dan, ada juga
yang berdoa dengan perantaraan Bunda Maria hanya pada bulan Mei dan Oktober, di mana bulan Mei dan Oktober merupakan kesempatan yang ditetapkan oleh Gereja sebagai bulan khusus devosi sekaligus penghormatan kepada Bunda Maria sebagai Bunda Allah. Umat Kristiani di lingkungan St. Ignatius Loyola Cokrodiningratan cukup akrab dengan kegiatan doa rosario.
Ini menunjukkan bahwa mereka memahami posisi Maria dalam Gereja. Hal ini nampak dalam tanggapan mereka ketika ditanya soal doa bersama di lingkungan. Hal ini semakin nyata dalam ungkapan responden III, yang mengatakan:
...sejak kecil saya sudah mengalami doa rosario bersama di lingkungan pada bulan Mei dan Oktober. Dari pengalaman itu, saya melihat umat di lingkungan ini cukup antusias dan itu sangat membantu dan mendukung perkembangan iman.
Tetapi ada juga yang memahami bahwa devosi kepada Bunda Maria hanya dilakukan oleh umat Kristiani pada bulan Mei dan Oktober saja. Hal ini diungkapkan oleh responden IV yang mengatakan:
“Devosi Maria itu...kan pada bulan Mei dan Oktober aja, ya udah toh, itu aja”. Berdoa dengan perantaraan Bunda Maria dapat dilakukan secara pribadi maupun bersama-sama.
Suatu kebiasaan yang baik manakala iman dihayati dalam kebersamaan dan diperdalam dalam kehidupan doa pribadi. Dilihat dari data yang ada, penulis melihat bahwa umat cenderung untuk berdoa bersama, baik di Lingkungan maupun di Paroki. Ada 12 orang yang menjawab sering sekali berdoa di lingkungan. 13 orang yang lain mengatakan sering berdoa dengan perantaraan Bunda Maria di Lingkungan atau di Paroki. Dan, ada 15 orang yang mengatakan kadang-kadang. Serta, 2 orang yang lainnya mengatakan tidak pernah berdoa bersama-sama. 2 orang responden ini mempunyai alasan yang cukup masuk akal. Adapun alasan itu disampaikan oleh responden I dan II adalah:
...untuk doa pribadi dan doa lingkungan saya jarang melakukannya karena keluarga saya bukan keluarga Katolik yang utuh (campur),...situasi keluarga kurang mendukung....(Responden II)
...waktu tidak memungkinkan saya untuk ikut doa bersama di lingkungan, yang biasanya malam hari, karena fisik yang sudah tua ... (responen VII)
Berdoa, menurut hemat penulis bukan semata-mata pilihan, melainkan suatu aktivitas hidup seorang beriman di mana relasi antara dirinya dengan Allah dan sesamanya perlu seimbang. Begitupun dalam berdoa dengan perantaraan Bunda Maria, kebersamaan menjadi sesuatu yang dapat menumbuhkan iman kepercayaan secara lebih mendalam. Memang tidak semua orang merasakan hal yang sama, tetapi belajar dari Yesus sendiri bahwa kebersamaan menjadi ciri khas putra-putri Allah yang sama-sama berjuang di dunia. Tetapi penulis sendiri tidak memaksakan bahwa yang baik adalah doa bersama dan kurang baik adalah doa pribadi.
Tanpa bermaksud demikian penulis hendak mengatakan bahwa berdoa dengan perantaraan Bunda Maria perlu dihayati dalam kebersamaan hidup beriman, sehingga tidak menumbuhkan pribadi-pribadi yang jatuh pada pilihan pribadi melulu tanpa diimbangi sikap iman yang dewasa. Kebersamaan dalam berdoa dengan perantaraan Bunda Maria, semakin terasa dalam bentuk-bentuk atau cara berdoa, misalnya dengan ziarah, doa rosario dan novena Salam Maria. Berdasarkan data baik dari angket maupun wawancara, peneliti melihat bahwa ada 4,8 % responden yang merasa terbantu dalam pengembangan hidup beriman oleh kegiatan Ziarah bersama, 71,4% responden terbantu oleh doa rosario baik pribadi maupun bersama-sama dan 20,4 % terbantu oleh doa novena. Dari angka persentasi di atas, dapat dilihat bahwa umat berdoa rosario dalam menghormati Maria sebagai Bunda Pengantara. Doa rosario merupakan bentuk doa yang sederhana namun mampu membawa seseorang pada suatu pengalaman yang berharga, di mana dengan kata yang diulang-ulang
mengajak seseorang untuk hening, diam dan hanya mendengarkan suara Allah. Jika ini telah dilakukan oleh umat maka doa rosario tidak akan jatuh pada suatu pengertian bahwa Bunda Maria adalah tujuan dari doa melainkan sebagai perantara doa.
c. Usaha-usaha yang dilakukan Umat dalam Membangun Kehidupan Berimannya Tabel 4. Usaha Konkret Umat (N=42)
No Pertanyaan Jawaban responden Jumlah responden yang menjawab dalam angka Jumlah responden yang menjawab dalam % (1) (2) (3) (4) (5) Persekutuan 10 23,8 Litugi 9 21,4 Pelayanan 20 47,6
8 Bidang-bidang Usaha apa saja yang dapat mendukung anda dalam membangun
hidup beriman? Pewartaan 3 7,1
Jumlah 42 100
Terlibat dalam koor lingkungan
3 7,1 terlibat dalam doa
lingkungan
22 52,3 mengunjungi orang
sakit
4 9,5 9 Kegiatan-kegiatan apa saja
yang dapat mendukung anda dalam membangun kesetian iman seperti yang diteladankan oleh Bunda Maria?
Mengikuti perayaan Ekaristi
13 31
Jumlah 42 100
Dalam memperkembangkan imannya akan Allah, umat di lingkungan St. Ignatius Loyola Cokrodiningratan tidak berjuang sendiri. Pihak Gereja sungguh-sungguh menolong dengan cara memberikan fasilitas di mana seluruh umat dapat mengekspresikan pengalaman imannya. Berdasarkan hasil penelitian, penulis melihat bahwa sekurang-kurangnya ada empat bidang usaha hidup menggereja yang sungguh-sungguh dijalani oleh umat di lingkungan St. Ignatius Loyola Cokrodiningratan. Bidang-bidang inilah yang memfasilitasi umat untuk memperdalam imannya masing-masing.
Ketika penulis bertanya kepada umat di lingkungan St. Ignatius Loyola Cokrodiningratan tentang bidang usaha Gereja yang sungguh mendukung dalam memperkembangkan kehidupan imannya, ada sekitar 10 orang menjawab bidang persekutuan, 9 orang menjawab bidang liturgi, 20 orang menjawab bidang pelayanan dan 3 orang menjawab bidang pewartaan. Berdasarkan data-data itu, penulis menafsirkan bahwa kekhasan dari umat di lingkungan ini adalah dalam hal pelayanan. Umat di lingkungan ini kebanyakan terbantu oleh bidang pelayanan. Memang perlu diakui bahwa masing lingkungan bahkan paroki, masing-masing mempunyai kekuatan dan kelemahannya masing-masing-masing-masing. Dalam konteks ini, lingkungan Cokrodiningratan mempunyai kekuatan di bidang pelayanan. Dalam praktek hidup beriman, penulis melihat bahwa antar bidang usaha dengan kegiatan sepertinya kurang konsisten. Berdasarkan data diatas, ketika jemaat di lingkungan ini ditanya kegiatan yang dapat mendukung mereka dalam membangun kesetiaan iman seperti yang diteladankan oleh Bunda Maria, dari 42 responden, ada 22 orang yang menjawab kegiatan doa, 13 orang yang lain menjawab perayaan Ekaristi, 3 orang yang lainnya lagi menjawab terlibat dalam koor lingkungan dan 4 orang yang lainnya menjawab dalam kegiatan kunjungan kepada orang sakit.
d. Faktor penghambat yang dihadapi umat dalam membangun kehidupan beriman Tabel 5. Faktor Penghambat yang dihadapi Umat (N=42)
No Pertanyaan Jawaban responden Jumlah responden yang menjawab dalam angka Jumlah responden yang menjawab dalam % (1) (2) (3) (4) (5)
10 Apa faktor penghambat yang anda hadapi dalam rangka belajar dari
Kurang pengetahuan dan pemahaman tentang devosi Maria
Sarana yang kurang Tidak ada
4 9,5 kesempatan/waktu
untuk berdoa kepada Maria
3 7,1 Tempat ziarah sulit
dijangkau
3 7,1 kesetiaan iman Maria
guna membangun kehidupan beriman?
Tidak disiplin waktu atau tidak konsisten
2 4,8 Jumlah 42 100 Malas 24 57,1 Lingkungan tidak mendukung 3 7,1 Membosankan, berdoa
kepada bunda masia
2 4,8
Persoalan ekonomi 8 19
11 Persoalan apa saja yang kerap kali anda hadapi dalam rangka belajar dari kesetiaan iman Maria guna meningkatkan kehidupan beriman?
Pilihan lain 1. Bila
mempunyai ujub baru rajin berdoa 2. Sulit untuk rendah hati seperti Bunda maria. 3. bila saya mengalami ketakutan 4. Kesibukan kerja 5. Tidak mengisi 5 11,9 Jumlah 42 100 Tegar 11 26,2
Mudah putus asa 2 4,8
Mencari dukungan 2 4,8
12 Bagaimana sikap anda dalam menghadapi berbagai persoalan hidup?
Sabar
Bersyukur dalam doa
27 64,3
Jumlah 42 100
Dalam proses membangun kehidupan iman yang secara khusus penghayatan doa dengan perantaraan Maria, umat di lingkungan St. Ignatius Loyola Cokrodiningratan tidak pernah lepas dari faktor penghambat. Adapun faktor-faktor penghambat yang kerap kali mereka hadapi antara lain pengetahuan yang kurang mendalam tentang devosi Maria, sarana dan prasarana yang kurang menunjang, kesempatan untuk berdoa (waktu), tempat Ziarah yang sulit dijangkau, sikap yang kurang disiplin (ketekunan berdoa).
Dari 42 responden yang mengisi angket, sekitar 71 % responden mengatakan bahwa faktor penghambat dalam rangka mendalami iman Maria adalah pengetahuan
yang kurang tentang devosi Maria. Umat yang lain menjawab, faktor penghambat yang kerap muncul adalah rasa malas yang muncul dalam diri sendiri. Selain itu ada juga responden yang menjawab bahwa devosi Maria kini mulai salah kaprah. Berikut ini adalah ungkapan dari seorang responden yang diwawancarai peneliti:
...Saya sudah tidak respek lagi pada ziarah karena ziarah sekarang terlalu ramai sehingga sulit berkonsentrasi. Umat terlalu mementingkan rekreasinya. (Responden I)
Selain alasan di atas, ada alasan lain yang terungkap dari responden yang diwawancarai sehubungan dengan hal-hal yang menghambat perkembangan iman seseorang. Berikut ini adalah hasil wawancara penulis dengan Responden II:
Dari diri saya sendiri sebenarnya tidak ada kendala untuk urusan Gereja. Saya merasa harus terlibat hanya saja lingkungan dan keluarga yang kurang mendukung...ketika saya terlibat banyak di Gereja, suami saya yang bukan Katolik kadang kurang mempercayai, dengan kegiatan di Gereja. Ia sering bertanya kegiatan-kegiatan apa aja kok menyita waktu yang banyak. Dan di lingkungan sendiri ketika saya terlibat di paroki, selalu timbul opini-opini anggapan-anggapan bahwa saya ada tertarik dengan romo paroki atu cari muka pada orang-orang di gereja, padahal sungguh-sungguh saya lakukan itu dengan tulus dan iklas karena memang itulah kemampuan saya dan saya tidak ingin dipuji dan hanya itu yang yang bisa saya lakukan.
Situasi ini seharusnya menjadi keprihatinan bersama. Di mana umat Kristiani sudah merasa tidak tahu ditambah tidak ada dukungan yang positif lagi dari orang-orang di sekitarnya. Perlu ada suatu gerakan dari pihak Gereja untuk membantu umat di lingkungan ini, terutama para keluarga yang perkawinannya campur. Penulis merasa tergugah ketika membaca jawaban angket dan sharing dari para responden yang diwawancarai. Umat di lingkungan St. Ignatius Loyola Cokrodiningratan kurang mendapat pembekalan berupa pengetahuan dan ajaran iman, terutama tentang Maria dan berbagai kegiatan gerejani lainnya.
Faktor-faktor penghambat yang telah disebutkan di atas merupakan faktor penghambat yang kerap dihadapi umat secara bersama-sama. Kemudian ketika umat
di lingkungan St. Ignatius Loyola Cokrodiningratan ditanya mengenai persoalan yang kerap kali dihadapi dalam rangka menumbuhkan kehidupan iman, dalam hal tentang iman Maria, sekitar 50 % dari responden yang mengisi angket menjawab malas. Rasa malas memang cenderung menjadi persoalan masing-masing pribadi manusia yang hendak menjalin komunikasi dengan Allah. Persoalan malas ini memang tidak ada solusinya kecuali umat sendiri secara pribadi mengalahkan rasa malas itu dengan cara berusaha rajin dan disiplin dalam berdoa, terutama ketika berdoa dengan perantaraan Maria. Rasa malas itu juga tidak bisa lepas dari segala persoalan hidup pribadi umat. Persoalan pribadi itu dapat berupa persoalan ekonomi keluarga, relasi, pekerjaan dan lain-lain.
Berikut ini hasil wawancara penulis dengan beberapa responden. Mereka mengatakan alasan yang berbeda-beda: seperti yang diungkapkan oleh responden I, III dan VI yang diwawancarai. Mereka mengatakan:
...devosi itukan bermacam-macam. Kalau di tingkat lingkungan saya tidak mengalami banyak kesulitan tetapi untuk yang khusus ziarah itu loh...mengingat biaya...yang tidak sedikit, transportasi, waktu..dan banyaklah...sehingga saya tidak sempat untuk ziarah. (Responden I)
Dari pribadi saya sebelum devosi kalau kita udah emosi saya merasa saya kurang pantas menghadap bunda Maria. (Responden III)
...Kadang-kadang ada rasa bosan karena doa kita tidak dikabulkan, sering memohon dan tidak dikabulkan. Kadang-kala kita menyalahkan Tuhan dan bunda Maria.... ( Responden VI)
Dalam menghadapi berbagai persoalan itu, umat di lingkungan St. Ignatius Loyola Cokrodiningratan berusaha bersikap sabar dan bersyukur dalam doa. Dari hasil angket dan wawancara, ada umat yang ketika ditanya mengenai sikap