• Tidak ada hasil yang ditemukan

85LAPORAN PEREKONOMIAN INDONESIA 2016 Bab 6

Dalam dokumen BAGIAN II PEREKONOMIAN DOMESTIK (Halaman 56-62)

Bulan Kebijakan AP

Januari

- Premium turun Rp350/l menjadi Rp6.950/l (non Jamali) dan solar turun Rp1.050/l menjadi Rp 5.650/l - Pertamax turun sebesar Rp200/l, Pertamax Plus Rp500/l, Pertamina Dex Rp650/l.*

- Tarif Tenaga Listrik (TTL) turun dari 1.509/KwH menjadi 1.409/KwH.** - LPG 12 kg turun sebesar Rp5.600/tabung atau Rp467/kg (Jakarta). - Tarif Antar Kota Antar Provinsi (AKAP) dan lintas propinsi turun sebesar 5%. - Harga rokok masing-masing naik sebesar 0,71; 0,99; dan 0,74% (mtm).***

Februari

- Pertamax Plus dan Pertamax masing-masing turun sebesar Rp200/l dan Pertamina Dex turun Rp300/l.* - TTL turun dari 1.409/KwH menjadi 1.392/KwH.**

- Penurunan batas atas dan batas bawah tarif angkutan udara sebesar 5%. - Harga rokok masing-masing naik sebesar 0,83; 1,45; dan 1,31% (mtm).***

Maret

- Pertamax, Pertamax Plus dan Pertamina Dex turun tiga kali masing-masing sebesar Rp200/l per penurunan. Pertalite turun satu kali sebesar Rp200/l.*

- TTL turun dari 1.392/KwH menjasi 1.355/KwH.**

- Harga rokok masing-masing naik sebesar 0,76; 0,64; dan 1,32% (mtm).***

April

- Premium dan Solar turun sebesar Rp500/l menjadi masing-masing Rp6.450/l (non Jamali) dan Rp5.150/l. - TTL turun dari 1.355/KwH menjadi 1.343/KwH.**

- Tarif AKAP, Penyeberangan Lintas Propinsi, Angkutan Dalam Kota, dan Taksi masing-masing turun sebesar 3,5%; 3,38%; 0,76%, dan 2,74% (mtm)

- Kenaikan Passenger Service Charge (PSC) di 7 Bandara rata-rata sebesar 34%. - Harga rokok masing-masing naik sebesar 0,62; 0,61; dan 0,47% (mtm).***

Mei

- Pertamax, Pertamax Plus, dan Pertalite turun sebesar Rp200/l, serta Pertamina Dex turun sebesar Rp300/l.* - TTL naik dari 1.343/KwH menjadi 1.354/KwH.**

- Penurunan tarif Angkutan Penumpang Laut sebesar 0,27% (mtm). - Harga rokok masing-masing naik sebesar 1,18; 0,82; dan 0,79% (mtm).*** Juni - TTL naik dari 1.354/KwH menjadi 1.365/KwH.**- Harga rokok masing-masing naik sebesar 0,50; 0,41; dan 0,26% (mtm).***

Juli - Penurunan subsidi solar sebesar Rp500/l.- TTL naik dari 1.365/KwH menjadi 1.413/KwH.**

- Harga rokok masing-masing naik sebesar 0,36; 0,32; dan 0,41% (mtm).*** Agustus - TTL turun dari 1.413/KwH menjadi 1.410/KwH.- Harga rokok masing-masing naik sebesar 0,36; 0,32; dan 0,41% (mtm).***

September - Dexlite naik sebesar Rp200/l.*- TTL naik dari 1.410/KwH menjadi 1.458/KwH.**

- Harga rokok masing-masing naik sebesar 0,91; 1,01; dan 1,17% (mtm).***

Oktober

- Dexlite naik sebesar Rp200/l.*

- TTL naik dari 1.458/KwH menjadi 1.460/KwH.**

- Tarif tol ruas Prof. Dr. Ir. Sedyatmo rata-rata naik sebesar Rp1.000 untuk tiap golongan. - Harga rokok masing-masing naik sebesar 0,52; 0,63; dan 1,04% (mtm).***

November - Pertamax dan Pertamax Plus naik sebesar Rp250 dan Rp150/l.*- TTL naik dari 1.460/KwH menjadi 1.462/KwH.**

- Harga rokok masing-masing naik sebesar 0,56; 0,63; dan 0,63% (mtm).***

Desember - Pertamax Plus dan Pertamax Turbo naik sebesar Rp50/l. Pertamax, Dexlite, dan Pertalite naik sebesar Rp150/l.*- TTL naik dari 1.462/KwH menjadi 1.472/KwH.** - Harga rokok masing-masing naik sebesar 0,98; 0,84; dan 0,96% (mtm).***

* Harga BBM merupakan harga di DKI Jakarta

** Tarif Tenaga Listrik (TTL) merupakan tarif listrik rumah tangga untuk pelanggan daya di atas 1300 VA non-subsidi. *** Rokok terdiri dari jenis rokok kretek, kretek filter, dan putih.

Sumber: Kementerian ESDM, Pertamina, PLN, dan BPS

86

Bab 6 LAPORAN PEREKONOMIAN INDONESIA 2016

Sejalan dengan dinamika harga minyak dunia yang rendah dan nilai tukar yang menguat, Pemerintah juga menurunkan tarif angkutan. Pemerintah pada Februari 2016 menurunkan batas atas dan batas bawah tarif angkutan udara sebesar 5%.6 Sepanjang periode April hingga Juli 2016, Pemerintah juga menurunkan tarif angkutan umum yang terdiri dari angkutan laut, kereta api, angkutan antar kota, angkutan penyeberangan lintas antar provinsi, serta angkutan dalam kota dan taksi. Rata-rata penurunan tarif angkutan umum mencapai 3%.7 Kebijakan terkait penyesuaian tarif angkutan pada gilirannya menyebabkan turunnya kontribusi inflasi angkutan pada 2016, terutama kontribusi angkutan dalam kota dan angkutan antar kota (Grafik 6.9).

6 Peraturan Menteri Perhubungan No.PM 14 Tahun 2016 tanggal 21 Januari 2016 7 Penurunan tarif angkutan penumpang laut diatur dalam Peraturan Menteri

Perhubungan No. PM 38 Tahun 2016 tanggal 1 April 2016. Penurunan tarif Kereta Api diatur dalam Peraturan Menteri Perhubungan No PM 35 Tahun 2016 tanggal 1 April 2016. Penurunan tarif angkutan antar kota antar provinsi dan lintas provinsi serta anjuran agar Pemerintah Daerah melakukan penyesuaian tarif angkutan penumpang umum dan tarif penyeberangan diatur dalam Surat Edaran Menteri Perhubungan No SE 15 Tahun 2016 tanggal 1 April 2016.

Grafik 6.9. Kontribusi Inflasi Terkait Tarif Angkutan terhadap Inflasi IHK

Grafik 6.14. Kontribusi Inflasi Terkait Tarif Angkutan

Sumber: BPS, diolah Persen 2014 2015 2016 -0,1 0,0 0,1 0,2 0,3 0,4 0,5 0,6

BaB 7

Keterangan gambar:

Untuk mendorong pemulihan ekonomi, Pemerintah memberikan stimulus fiskal melalui belanja untuk pembangunan infrastruktur. Perbaikan infrastruktur diyakini akan menjadi landasan yang kuat bagi peningkatan daya saing dan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Fiskal

Kebijakan fiskal 2016 diarahkan untuk

memperkuat stimulus bagi perekonomian guna memitigasi risiko dari pertumbuhan ekonomi global yang belum kuat, sambil tetap menjaga prospek kesinambungan fiskal. Strategi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2016 ditujukan kepada upaya memperkuat kualitas belanja ke sektor yang lebih produktif dan disertai upaya memperkuat struktur penerimaan pajak. Berbagai upaya pemerintah, termasuk dengan menurunkan target penerimaan pajak menjadi lebih realistis dan melakukan konsolidasi belanja pada semester II 2016, dapat menjaga kredibilitas prospek kesinambungan fiskal. Defisit APBN 2016 terkendali di level 2,5% dari Produk Domestik Bruto (PDB) dan utang pemerintah tetap di level yang sehat yakni 27,8% dari PDB.

90

Bab 7 LAPORAN PEREKONOMIAN INDONESIA 2016

Asumsi Makro 2015 2016

APBN APBN-P Realisasi APBN APBN-P Realisasi

Pertumbuhan ekonomi (persen, yoy) 5,8 5,7 4,8 5,3 5,2 5,0

Inflasi (persen, yoy) 4,4 5,0 3,4 4,7 4,0 3,1

Nilai tukar (rupiah per dolar AS) 11.900 12.500 13.395 13.900 13.500 13.307

Rata-rata suku bunga SPN 3 bulan (persen per tahun) 6,0 6,2 6,0 5,5 5,5 5,7

Harga minyak internasional-ICP (dolar AS per barel) 105 60 49,2 50 40 40

Lifting minyak Indonesia (ribu barel per hari) 900 825 778 830 820 829

Lifting gas Indonesia (ribu barel setara minyak per hari) 1.248 1.221 1.195 1.155 1.150 1.184

Sumber: Kementerian Keuangan

Tabel 7.1. asumsi Makro

Arah kebijakan fiskal 2016 ditujukan untuk memperkuat stimulus bagi perekonomian domestik, sambil tetap menjaga kredibilitas prospek kesinambungan fiskal. Arah kebijakan ditempuh guna merespons risiko perekonomian global yang masih tinggi, termasuk pertumbuhan ekonomi yang belum kuat dan harga komoditas yang rendah. Pemerintah menerjemahkan arah kebijakan dalam Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) 2016 melalui strategi optimalisasi penerimaan pajak dan memperkuat kualitas belanja ke sektor yang produktif dan prioritas, termasuk dengan meningkatkan belanja infrastruktur. Strategi tersebut ditopang upaya menjaga kesinambungan pembiayaan sehingga dapat mengendalikan risiko fiskal dalam jangka menengah dan panjang.

Dalam perkembangannya pada semester I 2016, strategi kebijakan fiskal untuk memperkuat stimulus menghadapi tantangan. Penerimaan pajak dalam negeri hingga semester I 2016 belum sesuai harapan akibat harga komoditas yang masih rendah dan perbaikan perekonomian domestik yang belum kuat. Sementara itu, realisasi belanja Pemerintah hingga akhir semester I 2016 tercatat cukup besar yakni 44,3% dari target. Kondisi ini pada gilirannya menyebabkan defisit APBN 2016 pada semester I 2016 telah mencapai 1,9% PDB.

Pada semester II 2016, Pemerintah menempuh langkah konsolidasi, baik dari sisi penerimaan maupun sisi belanja, guna tetap menjaga kredibilitas prospek kesinambungan fiskal. Dari sisi penerimaan, Pemerintah menurunkan target penerimaan pajak menjadi lebih realistis, sambil tetap berupaya mengoptimalkan berbagai potensi yang ada, termasuk dengan menempuh program amnesti pajak. Dalam perkembangannya, program amnesti pajak berhasil mengumpulkan tebusan pajak sebesar Rp107 triliun pada akhir 2016. Dari sisi belanja, Pemerintah lebih mengutamakan belanja ke sektor yang produktif dan prioritas antara lain untuk belanja infrastruktur, ketahanan pangan, pendidikan dan kesehatan.

Konsolidasi fiskal yang ditempuh Pemerintah berhasil mengarahkan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanjan Negara -Perubahan (APBN-P) 2016 tetap aman sehingga tetap menjaga kredibilitas prospek kesinambungan fiskal. Realisasi defisit APBN-P 2016 tercatat 2,5% dari PDB, lebih rendah dari realisasi tahun sebelumnya sebesar 2,6% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Capaian tersebut turut menjaga posisi utang pemerintah akhir 2016 tetap rendah dan dalam level yang sehat yakni 27,8% dari PDB.

7.1. DINaMIKa FISKaL 2016

Kebijakan fiskal 2016 secara umum diarahkan untuk memperkuat stimulus kepada perekonomian, dengan tetap menjaga prospek kesinambungan fiskal. Arah kebijakan tersebut pada satu sisi ditujukan untuk mengantisipasi kondisi siklikal ketidakpastian ekonomi global yang masih tinggi. Pada sisi lain, arah kebijakan bertujuan untuk terus memperkuat struktur perekonomian guna meningkatkan kapasitas dan memperkuat daya saing perekonomian. Dalam implementasinya, stimulus fiskal yang ditempuh Pemerintah tidak hanya dengan meningkatkan jumlah belanja, tetapi juga aspek kualitas belanja dengan mengalokasikan lebih banyak belanja negara ke sektor yang produktif dan prioritas, seperti belanja infrastruktur. Arah kebijakan fiskal pada awalnya diejawantahkan dalam beberapa asumsi dan target di APBN 2016 yang ditetapkan pada November 2015. APBN 2016 antara lain mengasumsikan harga minyak dunia masih tinggi sebesar 50 dolar AS per barel. Asumsi ini kemudian berkontribusi pada asumsi pertumbuhan ekonomi dan inflasi Indonesia 2016 yang masing-masing diperkirakan sebesar 5,3% dan 4,7% (Tabel 7.1). Dengan beberapa asumsi tersebut, APBN 2016 memperkirakan penerimaan dalam negeri akan mencapai Rp1.820,5 triliun, meningkat 21,8% dibandingkan dengan realisasi 2015. Dalam asumsi yang sama, belanja negara diarahkan sebesar Rp2.095,7 triliun, meningkat 16,6% dibandingkan dengan realisasi 2015 (Tabel 7.2). Secara

91

Dalam dokumen BAGIAN II PEREKONOMIAN DOMESTIK (Halaman 56-62)

Dokumen terkait