95LAPORAN PEREKONOMIAN INDONESIA 2016 Bab 7
LAPORAN PEREKONOMIAN INDONESIA 2016 Bab 7
Boks 7.1.
96
7.1. Kebijakan amnesti Pajak
Sebagai sumber pendapatan negara terbesar, realisasi penerimaan pajak masih berada di bawah potensinya. Berdasarkan data dari Kementerian Keuangan dan BPS, rata-rata rasio pajak terhadap PDB sepanjang tahun 2000 sampai dengan tahun 2015 sebesar 11,5%. Rasio tersebut masih lebih rendah dibandingkan potensi rasio pajak terhadap PDB yang mencapai 21.5%.1
Kondisi tersebut tidak terlepas dari pengaruh tingkat kepatuhan terhadap pajak di Indonesia yang masih rendah. Berdasarkan data BPS, jumlah penduduk Indonesia yang bekerja tercatat lebih dari 120 juta orang dan lebih dari 3,5 juta perusahaan yang beroperasi di Indonesia. Di sisi lain, data Wajib Pajak (WP) yang terdaftar di Kementerian Keuangan baru sebanyak 30 juta WP yang terdiri dari WP Orang Pribadi (OP) Karyawan, WP Non-Karyawan, dan WP Badan masing-masing tercatat sekitar 22,3 juta, 5,2 juta dan 2,5 juta. Sementara itu, WP yang menyampaikan Surat Pemberitahuan Tahunan (SPT) pada tahun 2015 hanya sekitar 60% dari total jumlah WP terdaftar. Hal ini menunjukkan masih rendahnya kepatuhan terhadap pelaksanaan kewajiban perpajakan.
Beberapa data juga mengindikasikan adanya potensi dana milik WNI di luar negeri yang bersifat illicit dan belum dikenakan pajak. Global Financial Integrity (GFI) mengklasifikasikan pergerakan uang antar negara sebagai
illicit apabila dana tersebut diperoleh, ditransfer, atau
digunakan secara ilegal. Dari hasil studi oleh Kar dan Spanjers (2015), Indonesia menempati urutan kesembilan negara dengan jumlah dana illicit tertinggi yang berada di luar negeri. 2 Akumulasi illicit financial outflows dari Indonesia periode 2004-2013 mencapai 181 miliar dollar AS (Tabel 1). Secara rata-rata, illicit financial outflows dari Indonesia mencapai 18 miliar dollar AS per tahunnya. Motivasi utama dari adanya Illicit financial outflows adalah penghindaran pajak (tax evasion).
Meningkatnya kebutuhan pembiayaan pembangunan di tengah masih terbatasnya penerimaan pajak mendorong pemerintah untuk mengoptimalkan potensi pajak melalui penerapan kebijakan amnesti pajak (AP). Program AP dimulai pada 1 Juli 2016 sampai dengan 31 Maret 2017. Dalam Undang Undang No.11 tentang Pengampunan Pajak yang disahkan pada tanggal 28 Juni 2016, objek AP adalah
1 IMF (2011). Indonesia: Selected Issue. IMF Country Report No.11/310.
2 Kar and Spanjers (2015). Illicit Financial Flows from Developing Countries 2004-2013. Global Financial Integrity.
kewajiban perpajakan yang belum atau belum sepenuhnya diselesaikan oleh WP, yang terepresentasi dalam harta yang belum pernah dilaporkan dalam SPT Tahunan PPh terakhir. Perhitungan kewajiban perpajakan yang belum atau belum sepenuhnya diselesaikan tersebut dilakukan oleh pemohon AP. Lingkup AP tidak termasuk peningkatan aset yang disebabkan oleh revaluasi. Pemohon AP
diwajibkan membayar uang tebusan yang jumlahnya relatif kecil dengan perhitungan berdasarkan selisih dari hasil perhitungan kewajiban pajak yang belum atau belum sepenuhnya diselesaikan tersebut. Besarnya tarif uang tebusan untuk deklarasi harta di luar negeri dan tidak dialihkan ke dalam negeri ditetapkan sebesar 4% untuk periode pelaporan 1 Juli - 30 September 2016, 6% untuk periode pelaporan 1 Oktober - 31 Desember 2016, dan 10% untuk periode pelaporan 1 Januari - 31 Maret 2017. Tarif uang tebusan untuk deklarasi harta di dalam negeri atau apabila pemohon melakukan repatriasi atas deklarasi hartanya di luar negeri, lebih rendah 50% dibandingkan tarif tebusan untuk deklarasi harta di luar negeri untuk masing-masing periode pelaporan.
Penerapan program AP mencatat pekembangan yang positif. Sampai dengan 31 Desember 2016, total dana tebusan pajak cukup besar yakni mencapai Rp107 triliun. Dana tebusan dari AP berhasil meningkatkan penerimaan pajak tahun 2016, khususnya pajak penghasilan nonmigas. Jumlah harta kekayaan yang dideklarasikan tercatat sebesar Rp4.294 triliun, diantaranya merupakan repatriasi sebesar Rp141 triliun (Tabel 2). Jumlah dana tebusan dan harta kekayaan yang dideklarasikan pada periode I AP ini merupakan yang tertinggi dalam sejarah program AP di
Juta dolar AS
Tahun Indonesia Total Negara Berkembang
2004 18.466 465.269 2005 13.290 524.588 2006 15.995 543.524 2007 18.354 699.145 2008 27.237 827.959 2009 20.547 747.026 2010 14.646 906.631 2011 18.292 1.007.744 2012 19.248 1.035.904 2013 14.633 1.090.130 Kumulatif 180.710 7.847.921
Sumber: Kar dan Spanjers, 2015.
LAPORAN PEREKONOMIAN INDONESIA 2016 Bab 7
97
dunia (Grafik 1 dan Grafik 2). Jumlah penerimaan ini jauh lebih besar apabila dibandingkan dengan program Sunset Policy yang diberlakukan pada tahun 2008. Penerapan kebijakan
Sunset Policy hanya menghasilkan tambahan penerimaan
pajak sebesar Rp7,5 triliun.
Dalam jangka pendek, program AP sempat memengaruhi kondisi likuiditas perbankan. Pembayaran tebusan AP membuat sebagian likuiditas perbankan beralih ke Pemerintah secara temporer. Tekanan likuiditas perbankan terlihat pada dinamika penerimaan uang tebusan setiap bulan. Pada periode I program AP, tekanan pada likuiditas perbankan tertinggi pada bulan September 2016 dengan jumlah uang tebusan yang dibayarkan sebesar Rp90 triliun (Tabel 2). Secara keseluruhan, pada periode I uang tebusan yang masuk mencapai Rp97 triliun. Tingginya penerimaan uang tebusan pada periode I 2016 disebabkan oleh banyaknya WP yang memanfaatkan tarif tebusan pada periode I 2016 yang lebih rendah dibandingkan periode berikutnya. Pada periode selanjutnya, jumlah penerimaan
uang tebusan turun signifikan. Sampai dengan 31 Desember 2016 penerimaan uang tebusan secara keseluruhan
mencapai Rp107 triliun, atau bertambah Rp10 triliun dibandingkan posisi akhir periode I.
Program AP juga berpotensi memberikan pengaruh positif pada variabel ekonomi lain. Program AP berhasil menarik dana penduduk yang ditempatkan di luar negeri sehingga meningkatkan likuiditas dalam negeri, memperbaiki posisi investasi internasional Indonesia, dan menguatkan nilai tukar rupiah. Hal ini tercermin pada perpindahan simpanan Overseas Current Account (OCA) di bank ke Nostro, penjualan surat-surat berharga dan divestasi aset luar negeri sepanjang tahun 2016 (Grafik 3). Perpindahan simpanan OCA ke Nostro mencapai posisi tertinggi pada periode September - Desember 2016. Hal yang sama juga terjadi pada pola inflow valuta asing ke rupiah sepanjang tahun 2016. Transaksi inflow valuta asing ke rupiah naik signifikan pada periode September - Desember 2016. Aliran dana yang masuk tersebut selain menambah
Miliar rupiah
Keterangan Jul Ags Sep Periode I Okt Nov Des Periode II Periode I dan II
Uang tebusan pengampunan
dan setoran tunggakan pajak 1.118 6.019 90.020 97.156 779 1.100 7.790 9.669 106.825
Penghentian pemeriksaan
bukti permulaan 1 66 288 354 45 84 256 385 739
Pembayaran tunggakan pajak 987 1.137 941 3.065 - - - - 3.065
Deklarasi repatriasi 41 2.247 127.341 129.628 473 2.020 8.879 11.372 141.000
Deklarasi LN 87 15.750 908.284 924.121 6.751 10.073 72.055 88.879 1.013.000
Deklarasi DN 1.071 71.827 2.529.513 2.602.411 82.061 94.202 361.327 537.589 3.140.000
Total harta 1.199 89.824 3.565.137 3.656.160 89.285 106.295 442.261 637.840 4.294.000
Sumber: Diolah dari Dashboard Statistik Amnesti Pajak, Kementerian Keuangan
Tabel 2. Perkembangan Realisasi Pengampunan Pajak
Grafik 7.12 Perbandingan Dana Tebusan pada Program TA Negara-negara di Dunia
Sumber: Dashboard Statistic TA-DJP dan Center for Indonesia Taxation Analysis, diolah 0 20 40 60 80 100 120 1993 1997 2001 2003 2004 2006 2009 2012 2014 2015 2016
Irlandia India Italia Afrika
Selatan Jerman Belgia Italia Spanyol Australia Chili Indonesia
Triliun rupiah
Grafik 1. Perbandingan Dana Tebusan pada Program amnesti Pajak Negara‑negara di Dunia
Grafik 7.13 Perbandingan Deklarasi Harta pada Program TA Negara-negara di Dunia
Sumber: Dashboard Statistic TA- DJP dan Center for Indonesia Taxation Analysis, diolah Triliun rupiah 0 500 1.000 1.500 2.000 2.500 3.000 3.500 4.000 4.500 1993 2003 2009 2012 2014 2015 2016 Irlandia Afrika
Selatan Italia Spanyol Australia Chili Indonesia Grafik 2. Perbandingan Deklarasi Harta pada Program amnesti
LAPORAN PEREKONOMIAN INDONESIA 2016 Bab 7
98
likuiditas dalam negeri, juga memperbaiki posisi investasi internasional Indonesia pada semester II 2016.3 Selain itu, meningkatnya pasokan valas tersebut juga turut berdampak pada penguatan rupiah.4
Pemanfaatan dana repratriasi memerlukan dukungan ketersediaan instrumen penempatan yang memadai. Instrumen penempatan dana berdenominasi rupiah antara lain terdiri dari investasi pada Surat Berharga Negara (SBN), pasar saham, sektor perbankan seperti deposito berjangka (time deposit) dan sertifikat deposito (negotiable certificate
of deposit/NCD), obligasi korporasi, reksadana, sukuk dan
3 Lihat Bab 4 Neraca Pembayaran Indonesia 4 Lihat Bab 5 Nilai Tukar
instrumen lainnya. Adapun instrumen dalam valuta asing yang tersedia cukup beragam baik yang diterbitkan oleh pemerintah seperti global bond maupun yang diterbitkan korporasi seperti direct investment, refinancing utang luar negeri, debt to equity swap, dan back-to-back loan. Peluang untuk menampung dana repatriasi juga cukup besar pada obligasi yang bertenor lebih panjang seperti obligasi infrastruktur. Adapun guna memudahkan pelaku dana repatriasi melakukan lindung nilai di perbankan domestik, Bank Indonesia telah memberi tambahan kemudahan dalam transaksi plain vanilla seperti forward melalui penyelesaian transaksi secara netting untuk
unwind, early termination, rollover dan structured product
seperti call spread option.
Ke depan, program AP berpotensi meningkatkan basis penerimaan pajak untuk tahun-tahun selanjutnya dengan didukung reformasi di bidang perpajakan. Tebusan dan deklarasi harta dari pengampunan pajak mengindikasikan besarnya potensi penerimaan ke depan, baik dari WP
existing maupun menjaring WP yang sebelumnya belum
terdaftar. Meskipun demikian, dampak AP terhadap peningkatan kapasitas fiskal pemerintah dalam jangka panjang akan lebih optimal apabila secara signifikan dapat menaikkan dan memperluas basis penerimaan pajak. Untuk itu program AP harus disertai dengan reformasi perpajakan yang meliputi penguatan dan perluasan basis data perpajakan baik internal maupun eksternal melalui dukungan teknologi informasi, penyempurnaan regulasi, perbaikan administrasi, penguatan kapasitas dan peningkatan efektivitas penegakan hukum.
Grafik 7.14 Perkembangan Transaksi dari OCA ke Nostro
Sumber: Bank Indonesia Juta dolar AS 0 500 1.000 1.500 2.000 2.500 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 2015 2016
Transaksi OCA ke Nostro Inflows Valas
Grafik 3. Perkembangan Transaksi dari OCa ke Nostro dan
BaB 8
Keterangan gambar:
Di tengah tingginya ketidakpastian pasar keuangan global, stabilitas sistem