75LAPORAN PEREKONOMIAN INDONESIA 2016 Bab 5
5.3. STRUKTUR PASAR VALAS DOMESTIK
Penguatan nilai tukar rupiah pada tahun 2016 juga diikuti perkembangan positif di pasar valas domestik. Volume transaksi valas tercatat meningkat dari rata-rata 4,5 miliar dolar AS per hari pada tahun 2015 menjadi 5 miliar dolar AS per hari pada tahun 2016, atau meningkat sebesar 10% (Grafik 5.11). Perkembangan ini cukup positif di tengah kondisi kinerja ekspor Indonesia yang belum kuat. Data menunjukkan peningkatan transaksi valas domestik mendorong pangsa transaksi valas terhadap arus perdagangan internasional meningkat dari rata-rata 1,6% pada tahun 2015 menjadi 1,8% terhadap arus perdagangan internasional di tahun 2016.
Perkembangan positif lain dari volume transaksi valas ialah peningkatan volume transaksi valas terjadi di seluruh jenis pasar yakni pasar spot, pasar forward, dan pasar swap. Di pasar spot, rata-rata harian volume transaksi meningkat sebesar 15% dari 2,9 miliar dolar AS per hari di tahun 2015 menjadi 3,1 miliar dolar AS per hari pada 2016 (Grafik 5.11).
Volume transaksi forward juga meningkat dari rata-rata per hari sebesar 0,21 miliar dolar AS pada 2015 menjadi 0,23 miliar dolar AS pada 2016. Sementara di pasar swap, rata-rata harian volume transaksi swap meningkat 17% dari 1,4 miliar dolar AS per hari tahun 2015 menjadi 1,7 miliar dolar AS pada tahun 2016.
Di pasar spot, peningkatan volume transaksi terjadi pada pelaku dalam negeri dan pelaku luar negeri. Pelaku dalam negeri mencatatkan peningkatan volume transaksi (beli dan jual) sebesar 6,7% dari 568 milliar dolar AS menjadi 606 milliar dolar AS. Peningkatan volume transaksi yang signifikan terutama pada transaksi individu yang naik sebesar 400% dari 23 miliar dolar AS pada 2015 menjadi 115 miliar dolar AS pada 2016. Peningkatan volume transaksi individu antara lain dipengaruhi program Amnesti Pajak. Sementara itu, pelaku luar negeri juga meningkatkan volume transaksi spot sebesar 6,9% mencapai 130 miliar dolar AS. Peningkatan volume transaksi spot oleh pelaku luar negeri terutama dalam bentuk pasokan valas sebagai dampak dari meningkatnya arus masuk modal investasi ke Indonesia.
Di pasar derivatif, peningkatan volume transaksi juga terjadi baik yang bersumber dari pelaku dalam negeri maupun pelaku luar negeri. Volume transaksi yang dilakukan oleh pelaku dalam negeri meningkat dari 314 miliar dolar AS pada tahun 2015 menjadi 340 miliar dolar AS. Peningkatan terbesar terjadi pada transaksi swap sebesar 55%, transaksi
forward naik sebesar 12%, diikuti transaksi spot yang
naik sebesar 3%. Sementara itu, transaksi derivatif yang dilakukan oleh pelaku luar negeri juga meningkat dari 151 miliar dolar AS menjadi 197 miliar dolar AS. Kenaikan itu terkait permintaan hedging pada triwulan IV 2016 seiring dengan peningkatan tekanan depresiasi rupiah. Dari perkembangan ini, komposisi pasar derivatif di pasar valas domestik meningkat dari 36% total transaksi pada tahun 2015 menjadi sebesar 38% (Grafik 5.12).
Peningkatan pasar derivatif juga tidak terlepas dari pengaruh positif kebijakan Bank Indonesia untuk memberikan fleksibilitas pelaku pasar dalam melakukan transaksi lindung nilai. Di pasar forward, kebijakan Bank Indonesia telah menambah fleksibilitas pelaksanaan transaksi forward melalui penyelesaian transaksi secara
netting dalam bentuk unwind, early termination dan rollover. Peningkatan pasar derivatif juga dipengaruhi
penerapan ketentuan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaan utang luar negeri, termasuk untuk korporasi nonbank yang memiliki utang luar negeri yang diwajibkan untuk melakukan lindung nilai. Ketentuan ini mendorong porsi pembelian valas korporasi di instrumen derivatif
Grafik 5.15. Perkembangan Transaksi Valas Domestik
0 0,5 1,0 1,5 2,0 2,5 4,0 3,0 3,5 4,5 5,0 Miliar dolar AS
2013 I II2014III IV I II2015III IV I II2016III IV
I II III IV 1,3 0,2 0,2 0,2 0,2 0,2 0,2 0,2 0,2 0,2 0,2 0,2 0,2 0,2 0,2 0,2 0,3 1,4 1,4 1,2 1,3 1,3 1,3 1,6 1,6 1,8 1,6 1,6 1,1 1,1 1,1 1,0 3,1 3,3 2,9 3,0 3,0 3,0 2,8 2,8 3,0 3,2 3,1 3,1 2,3 2,3 2,7 2,8
Spot Forward Swap Option
Sumber: Bank Indonesia, diolah
76
Bab 5 LAPORAN PEREKONOMIAN INDONESIA 2016meningkat menjadi 19% pada 2016 dari 18% pada 2015 (Grafik 5.13).
Dalam periode laporan, Bank Indonesia juga meluncurkan instrumen structured product baru untuk mendukung upaya pendalaman pasar valas. Instrumen structured
product ditujukan untuk memberikan opsi instrumen
derivatif selain forward, swap, dan option kepada pelaku pasar. Penambahan opsi instrumen derivatif terutama untuk mendorong pelaku pasar melakukan transaksi
Grafik 5.16. Komposisi Derivatif dan Spot Persen
Deriva�f Spot
2013 I II2014III IV I II2015III IV I II2016III IV
I II III IV 0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100
Sumber: Bank Indonesia, diolah
67,4 32,6 68,1 31,9 63,7 36,3 65,5 34,5 67,9 32,1 64,5 35,5 68,2 31,8 68,3 31,7 67,0 33,0 65,8 34,2 60,7 39,3 64,3 35,7 62,1 37,7 61,3 38,7 63,1 36,9 62,4 37,6
Grafik 5.12. Komposisi Transaksi Derivatif dan Spot
lindung nilai atas eksposur valas. Instrumen structured
product valas ini dikenal sebagai call spread option.2 Biaya lindung nilai dengan call spread option relatif lebih rendah dibandingkan dengan biaya pada transaksi valas forward, meskipun rentang nilai tukar yang dilindungi lebih terbatas. Penambahan opsi instrumen derivatif diharapkan juga dapat mendorong pelaku pasar semakin mampu mengelola risiko currency mismatch sehingga menjadi efisien dan memperkuat kedalaman sekaligus ketahanan pasar valuta asing.
2 Call spread option adalah gabungan beli dan jual call option yang dilakukan secara simultan dalam satu kontrak transaksi dengan nominal yang sama namun dengan strike price yang berbeda.
22 12 12 12 14 14 17 18 19 78 88 88 88 86 86 83 82 81 0 20 40 60 80 100
Grafik 5.17. Porsi Volume Transaksi Derivatif oleh Korporasi Persen
Deriva�f Spot
2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016
Sumber: Bank Indonesia, diolah
BaB 6
Keterangan gambar:
Aktivitas pasar tempat terbentuknya harga. Inflasi pada 2016 tercatat rendah dan terkendali dalam kisaran sasaran. Rendahnya inflasi tersebut tidak lepas dari konsistensi kebijakan moneter dan koordinasi solid Bank Indonesia dan Pemerintah mengendalikan inflasi.
Inflasi
Inflasi pada 2016 menurun dan berada pada rentang sasaran 4,0±1%. Perkembangan positif tersebut dipengaruhi inflasi inti yang terkendali seiring permintaan agregat yang terkelola, tekanan eksternal yang minimal, serta ekspektasi inflasi yang menurun. Inflasi administered prices juga turun dipengaruhi penurunan harga bahan bakar minyak sejalan kondisi harga minyak dunia yang rendah. Selain itu, inflasi volatile food cukup terkendali meskipun sedikit meningkat dipengaruhi dampak fenomena La Nina. Inflasi yang rendah pada berbagai komponen tidak terlepas dari dampak positif konsistensi kebijakan moneter Bank Indonesia dan koordinasi yang solid dengan Pemerintah melalui Tim Pemantauan dan Pengendalian Inflasi (TPI) di tingkat pusat dan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) di tingkat daerah.
80
Bab 6 LAPORAN PEREKONOMIAN INDONESIA 2016Inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) pada 2016 tercatat cukup rendah yakni 3,02% sehingga berada dalam rentang sasaran inflasi sebesar 4,0±1% (Grafik 6.1). Perkembangan inflasi 2016 tersebut lebih rendah dibandingkan dengan kondisi pada 2015 sebesar 3,35%. Inflasi yang rendah juga tergambar pada dinamika inflasi bulanan sepanjang tahun 2016, yang bahkan lebih kecil dibandingkan dengan pola historisnya. Perbedaan inflasi bulanan hanya terlihat pada April 2016 yang mencatat deflasi akibat turunnya harga bahan bakar minyak dan melimpahnya hasil panen beberapa komoditas pangan strategis. Secara keseluruhan, inflasi IHK pada 2016 merupakan inflasi terendah dalam 7 tahun terakhir.
Tekanan inflasi IHK yang rendah dipengaruhi penurunan inflasi di hampir seluruh komponen inflasi. Inflasi inti cukup terkendali dipengaruhi permintaan agregat yang terkelola, tekanan eksternal yang minimal, serta ekspektasi inflasi yang menurun. Inflasi kelompok administered prices juga turun antara lain akibat harga minyak dunia yang masih rendah. Selain itu, inflasi volatile food cukup terkendali di tengah gejala La Nina yang berisiko meningkatkan inflasi kelompok pangan.
Secara umum, inflasi yang rendah di berbagai komponen tidak terlepas dari dampak positif konsistensi kebijakan moneter yang ditempuh Bank Indonesia dalam
mengendalikan inflasi sesuai dengan sasaran. Koordinasi Bank Indonesia dengan Pemerintah yang semakin solid dalam pengendalian inflasi melalui Tim Pemantauan dan Pengendalian Inflasi (TPI) di tingkat pusat dan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) di tingkat daerah, juga berperan dalam pencapaian inflasi yang rendah pada 2016.